BARU 10 MENIT RESMI BERCERAI, MANTAN SUAMIKU SUDAH MERAYAKAN KELAHIRAN ANAK DARI WANITA LAIN.

Maya tidak langsung menjawab.

Di tengah hiruk-pikuk penumpang yang baru tiba di Bandara Juanda, kalimat Sinta terasa seperti suara yang datang dari tempat yang sangat jauh.

“Apa maksudmu, Sin?”

“Mas Dimas pernah menjalani pemeriksaan kesuburan lima tahun lalu.”

Maya mengerutkan kening.

Lima tahun lalu.

Saat itu Rania baru berusia dua tahun, sementara Arka bahkan belum lahir.

“Aku nggak pernah tahu.”

“Menurut dokter, ada catatan pemeriksaan yang menunjukkan jumlah spermanya sangat rendah. Tapi itu belum semuanya. Setelah pemeriksaan lanjutan, dokter menemukan kondisi yang membuat kemungkinan Mas Dimas memiliki anak secara biologis sangat kecil.”

Maya terdiam.

Lalu pandangannya perlahan jatuh kepada Rania dan Arka.

Kedua anak itu berdiri di samping koper, sama sekali tidak memahami percakapan orang dewasa yang sedang terjadi.

Sinta seolah menyadari apa yang sedang dipikirkan kakaknya.

“Mbak, jangan salah paham dulu. Dokter bilang kondisi itu ditemukan setelah Rania lahir. Bisa saja sebelumnya berbeda. Dan Arka juga belum tentu ada hubungannya dengan masalah ini.”

Maya menarik napas panjang.

Ia tidak ingin satu hasil pemeriksaan lama berubah menjadi tuduhan terhadap anak-anaknya sendiri.

“Aku tidak peduli soal itu,” katanya akhirnya. “Yang penting Rania dan Arka adalah anakku.”

“Tapi keluarga Santoso sekarang panik. Mereka mau tes DNA bayi Sherly.”

Maya menutup mata sebentar.

Beberapa jam sebelumnya, Bu Ratna menyebut bayi itu sebagai penerus keluarga Santoso yang sesungguhnya.

Sekarang mereka bahkan belum tahu siapa ayah biologis bayi tersebut.

Ironi itu begitu tajam hingga Maya hampir ingin tertawa.

Namun ia tidak melakukannya.

“Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri.”

“Mbak, Mas Dimas terus menelepon kamu.”

“Aku sudah memblokirnya.”

“Dia pakai nomor orang lain.”

Maya melirik layar ponselnya yang penuh panggilan tak dikenal.

“Jangan kasih tahu aku tinggal di mana.”

“Tenang. Aku nggak akan.”

Maya mengakhiri panggilan.

Rania langsung menarik ujung bajunya.

“Mama, Tante Sinta kenapa?”

“Nggak apa-apa, Sayang.”

“Papa sakit?”

Pertanyaan itu membuat Maya diam sejenak.

“Papa sedang punya masalah yang harus dia selesaikan sendiri.”

Rania mengangguk.

Maya menggandeng kedua anaknya menuju pintu keluar.

Di luar terminal, udara Surabaya terasa lebih panas daripada Jakarta. Namun anehnya, Maya merasa bisa bernapas lebih lega.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak harus memikirkan ke mana Dimas pergi, siapa yang sedang bersamanya, atau kebohongan apa yang akan dibawanya pulang.

Hidupnya sekarang adalah miliknya sendiri.

Namun ketenangan itu hanya bertahan tiga hari.

Pada malam ketiga, ketika Maya sedang menyusun pakaian Arka di rumah baru mereka, bel rumah berbunyi.

Maya melihat kamera pintu.

Tubuhnya langsung menegang.

Dimas berdiri di depan pagar.

Sendirian.

Wajah pria itu sangat berbeda dari terakhir kali Maya melihatnya di pengadilan.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada senyum penuh kemenangan.

Rambutnya berantakan dan matanya merah seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.

Maya tidak membuka pintu.

Ia menekan tombol interkom.

“Kamu ngapain di sini?”

Dimas menatap kamera.

“Aku perlu bicara.”

“Kita sudah tidak punya sesuatu yang perlu dibicarakan.”

“May, tolong.”

Nada suaranya membuat Maya terdiam.

Selama delapan tahun mengenalnya, Maya hampir tidak pernah mendengar Dimas mengucapkan kata itu dengan tulus.

“Tentang anak-anak.”

Maya langsung membuka pagar kecil, tetapi tetap berdiri menghalangi jalan masuk.

“Bicara di sini.”

Dimas menelan ludah.

“Hasil tes DNA sudah keluar.”

Maya tidak mengatakan apa-apa.

“Bayi Sherly bukan anakku.”

Wajah Dimas menegang saat mengucapkannya.

“Aku sudah tahu kemungkinan itu.”

Dimas menatapnya tajam.

“Kamu tahu?”

“Sinta cerita soal pemeriksaan rumah sakit.”

“Sherly mengaku.”

“Ngaku apa?”

Dimas tertawa pendek, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya.

“Dia punya hubungan dengan orang lain.”

Maya menatap mantan suaminya tanpa ekspresi.

Ternyata selama Dimas merasa dirinya sedang mengkhianati Maya, ia sendiri juga sedang dikhianati.

“Siapa?”

Dimas tidak langsung menjawab.

Kemudian rahangnya mengeras.

“Kevin.”

Maya mengenal nama itu.

Kevin Wijaya adalah salah satu investor awal agensi Dimas sekaligus sahabat yang selama bertahun-tahun selalu berada di sisinya.

Pria yang bahkan menjadi saksi dalam beberapa kontrak perusahaan mereka.

“Sherly kenal Kevin dari acara perusahaan. Mereka sudah berhubungan bahkan sebelum aku dekat dengannya.”

Maya mengangguk perlahan.

“Lalu kamu datang ke sini untuk apa?”

Dimas menatap ke dalam rumah.

“Aku mau ketemu Rania dan Arka.”

“Kamu punya jadwal kunjungan sesuai kesepakatan.”

“Aku mau tes DNA mereka.”

Kalimat itu membuat wajah Maya berubah.

Untuk pertama kalinya sejak Dimas datang, kemarahan muncul jelas di matanya.

“Kamu datang jauh-jauh ke Surabaya untuk meragukan anak-anakmu sendiri?”

“Aku cuma ingin kepastian.”

“Delapan tahun kamu menjadi ayah Rania. Empat tahun kamu menjadi ayah Arka. Sekarang setelah perempuan yang kamu pilih membohongimu, kamu datang dan mempertanyakan mereka?”

“May, kamu nggak ngerti situasiku.”

Maya tertawa kecil.

“Aku justru sangat mengerti. Kamu kehilangan kendali. Dan ketika dunia yang kamu bangun runtuh, kamu ingin memastikan semua orang di sekitarmu ikut diperiksa.”

Dimas terdiam.

“Aku berhak tahu.”

“Kalau kamu ingin tes, ajukan melalui pengacara. Jangan pernah mengatakan hal seperti ini di depan anak-anak.”

Maya hendak menutup pagar.

Namun Dimas menahan.

“Aku kehilangan semuanya.”

Maya menatapnya.

“Sherly pergi dari rumah sakit setelah hasil DNA keluar. Kevin menghilang. Beberapa klien besar membatalkan kontrak karena skandal ini bocor ke media. Investor mulai menarik diri.”

“Dan?”

“Ayah masuk rumah sakit karena tekanan darahnya naik. Mama bahkan nggak mau keluar kamar.”

Maya tetap diam.

Dimas menatapnya dengan mata memerah.

“Aku salah, May.”

Kalimat itu datang terlambat.

Terlalu terlambat.

“Aku seharusnya nggak meninggalkan kalian.”

Maya menghela napas.

“Kamu tidak kehilangan kami tiga hari lalu, Dimas.”

Pria itu terdiam.

“Kamu kehilangan kami sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.”

Maya menutup pagar.

Malam itu Dimas berdiri hampir dua puluh menit di luar sebelum akhirnya pergi.

Seminggu kemudian, surat resmi dari pengacara Dimas benar-benar datang.

Permintaan tes DNA untuk Rania dan Arka.

Maya marah, tetapi pengacaranya menyarankan agar ia menyetujuinya.

“Bukan untuk Dimas,” kata pengacaranya. “Untuk menghentikan persoalan ini selamanya.”

Maya akhirnya setuju dengan satu syarat.

Hasil pemeriksaan hanya boleh digunakan untuk kepentingan hukum dan tidak boleh dipublikasikan.

Dua minggu kemudian, tes dilakukan di sebuah laboratorium independen di Surabaya.

Rania bertanya mengapa bagian dalam pipinya harus diusap kapas.

“Cuma pemeriksaan kesehatan,” jawab Maya.

Arka malah tertawa karena merasa geli.

Dimas berdiri beberapa meter dari mereka.

Saat melihat kedua anaknya, wajahnya berubah.

Arka masih membawa dinosaurus yang sama.

Rania terlihat lebih ceria daripada saat mereka tinggal di Jakarta.

Untuk pertama kalinya, Dimas tampaknya menyadari bahwa kehidupan anak-anaknya ternyata tetap berjalan tanpa dirinya.

Hasil tes keluar lima hari kemudian.

Pengacara Maya meneleponnya lebih dulu.

“Bu Maya, hasilnya sudah ada.”

Maya menggenggam ponsel.

“Bagaimana?”

“Probabilitas paternitas untuk kedua anak lebih dari 99,99 persen.”

Maya memejamkan mata.

Bukan karena ia pernah meragukannya.

Namun ada rasa lega karena tidak akan ada seorang pun yang bisa menggunakan keraguan Dimas untuk menyakiti anak-anaknya lagi.

Sore itu, Dimas datang ke kantor pengacara.

Ia membaca hasil tes dalam diam.

Tangannya gemetar.

Rania dan Arka benar-benar anak kandungnya.

Sementara bayi yang selama berbulan-bulan ia banggakan sebagai penerus keluarga ternyata bukan darah dagingnya.

Namun kejutan terbesar justru datang beberapa menit kemudian.

Pengacara Maya mengeluarkan sebuah amplop lain.

“Ada satu hal yang perlu Anda ketahui, Pak Dimas.”

Dimas mengangkat kepala.

“Apa?”

“Ketika proses perceraian berlangsung, Bu Maya meminta audit terhadap aset bersama untuk memastikan tidak ada harta miliknya yang tercampur dengan bisnis Anda.”

Dimas melirik Maya.

“Kenapa baru dibicarakan sekarang?”

“Karena ada transaksi yang sedang diperiksa.”

Pengacara itu meletakkan beberapa dokumen di meja.

Wajah Dimas perlahan kehilangan warna.

Selama hampir dua tahun, sejumlah besar dana agensinya ternyata dipindahkan ke beberapa perusahaan vendor fiktif.

Totalnya lebih dari Rp11 miliar.

Nama yang memberikan persetujuan transaksi adalah direktur keuangan perusahaan.

Kevin Wijaya.

Dimas membalik halaman demi halaman.

“Tidak mungkin.”

“Tim audit sudah mengonfirmasi sebagian rekening penerima.”

“Kevin nggak mungkin melakukan ini.”

Pengacara Maya menatapnya tenang.

“Sebagian dana tersebut digunakan untuk membeli apartemen atas nama Sherly.”

Ruangan mendadak sunyi.

Dimas menatap dokumen itu seperti seseorang yang baru saja melihat seluruh hidupnya dibongkar di depan mata.

Sherly bukan hanya berselingkuh dengan sahabatnya.

Kevin bukan hanya tidur dengan perempuan yang hendak dinikahinya.

Mereka juga telah menggunakan perusahaannya sebagai sumber uang.

Dan semuanya berlangsung tepat di depan matanya.

Maya berdiri.

“Aku harus menjemput anak-anak.”

Dimas menatapnya.

“May.”

Maya berhenti.

“Kenapa kamu nggak bilang dari dulu?”

“Bilang apa?”

“Kalau ada transaksi mencurigakan.”

Maya menatap mantan suaminya lama.

“Aku pernah mencoba.”

Dimas mengernyit.

“Dua tahun lalu aku bilang laporan keuangan perusahaanmu aneh. Kamu bilang aku cuma pegawai marketing yang nggak ngerti bisnis besar.”

Wajah Dimas membeku.

Ia mengingatnya.

Malam ketika Maya menunjukkan beberapa transaksi di laptop.

Dimas bahkan menertawakannya di depan Kevin.

Maya mengambil tasnya.

“Kadang-kadang kehancuran bukan datang karena kita tidak diberi peringatan.”

Ia membuka pintu.

“Tapi karena kita terlalu sombong untuk mendengarnya.”

Enam bulan berlalu.

Kasus penggelapan dana perusahaan memasuki proses hukum.

Kevin akhirnya ditangkap setelah mencoba meninggalkan Indonesia melalui Bali.

Sherly mengembalikan sebagian aset setelah penyidik menemukan bukti aliran dana yang digunakan untuk membiayai gaya hidupnya.

Agensi Dimas tidak bangkrut sepenuhnya, tetapi nilainya jatuh drastis.

Ia menjual dua mobil dan rumah mewahnya untuk menyelesaikan kewajiban perusahaan.

Bu Ratna menghapus seluruh unggahan mengenai “penerus keluarga Santoso”.

Namun internet tidak pernah benar-benar lupa.

Tangkapan layar unggahan itu terus beredar.

Sementara itu, kehidupan Maya justru berjalan ke arah sebaliknya.

Karier barunya berkembang pesat.

Dalam enam bulan, strategi pemasaran yang ia pimpin meningkatkan penjualan wilayah Jawa Timur secara signifikan.

Rania mulai punya banyak teman.

Arka masuk sekolah baru dan hampir setiap sore bermain di halaman rumah.

Suatu Minggu pagi, Maya sedang menyiram tanaman ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Dimas turun.

Kali ini ia datang sesuai jadwal kunjungan.

Tidak ada pakaian mahal.

Tidak ada jam mewah.

Ia membawa dua kotak kecil berisi roti.

Arka langsung berlari.

“Papa!”

Dimas berlutut dan memeluk putranya.

Rania berjalan lebih lambat, tetapi akhirnya ikut mendekat.

Maya berdiri beberapa meter dari mereka.

Ada masa ketika pemandangan itu mungkin akan membuatnya berharap keluarganya bisa kembali utuh.

Sekarang tidak lagi.

Beberapa luka memang bisa dimaafkan.

Tetapi tidak semua yang dimaafkan harus dimiliki kembali.

Sebelum membawa anak-anak pergi makan siang, Dimas mendekati Maya.

“Terima kasih masih membiarkan aku menjadi ayah mereka.”

Maya menatapnya.

“Aku tidak pernah ingin mengambil ayah mereka.”

Dimas menunduk.

“Aku sendiri yang hampir membuang kesempatan itu.”

Maya tidak membantah.

Dimas kemudian tersenyum tipis.

“Aku dengar kamu dipromosikan.”

“Bulan depan mulai.”

“Selamat.”

“Terima kasih.”

Untuk beberapa detik mereka hanya berdiri dalam diam.

Dimas kemudian berkata pelan, “Dulu aku pikir kamu pergi dari Jakarta karena kalah.”

Maya tersenyum.

“Sekarang?”

Dimas melihat rumah sederhana namun nyaman di belakang Maya, bunga-bunga yang ditanam Rania, sepeda kecil Arka di halaman, dan perempuan yang pernah ia anggap tidak akan mampu hidup tanpa dirinya.

“Sekarang aku tahu kamu pergi karena sudah selesai.”

Maya tidak menjawab.

Ia hanya membuka pagar agar Dimas bisa membawa kedua anak mereka keluar.

Ketika mobil itu pergi, ponsel Maya berbunyi.

Sebuah email dari kantor pusat masuk.

Perusahaan menawarkan kepadanya kesempatan memimpin proyek pemasaran regional Asia Tenggara tahun berikutnya.

Maya membaca email itu dua kali.

Lalu tersenyum.

Rania pernah bertanya apakah rumah baru mereka memiliki halaman untuk menanam bunga.

Ternyata bukan hanya bunga yang tumbuh di sana.

Maya juga tumbuh kembali.

Dan untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.

Kemenangan terbesar setelah dikhianati bukanlah melihat orang yang menyakiti kita hancur.

Bukan pula membuat mereka menyesal.

Kemenangan terbesar adalah ketika suatu hari kita mendengar nama mereka, mengingat semua yang pernah terjadi, lalu menyadari bahwa hidup kita sudah begitu penuh sehingga rasa sakit itu tidak lagi memiliki tempat untuk tinggal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang