Adrian tidak menunggu pagi.
Pukul dua lewat dua puluh tiga menit, ia masih berdiri di tengah gudang dengan slip klinik yang bergetar di tangannya. Udara malam Surabaya terasa pengap, tetapi telapak tangannya justru dingin.
Empat hari sebelum Rania pergi.
Klinik kandungan.
Nama Rania.
Semakin lama ia menatap kertas itu, semakin sulit baginya menyangkal kemungkinan yang memenuhi kepalanya.
Ia mengambil ponsel dan mencari nama klinik tersebut. Nomornya masih aktif.
Adrian menelepon.
Tidak ada jawaban.
Tentu saja. Saat itu hampir pukul tiga pagi.
Ia duduk di lantai, bersandar pada kardus berisi barang-barang mantan istrinya. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, kenangan tentang Rania datang bukan sebagai sesuatu yang mengganggu, melainkan seperti potongan-potongan bukti yang selama ini sengaja ia abaikan.
Rania yang selalu menunggunya pulang.
Rania yang menjual gelang peninggalan neneknya ketika perusahaan Adrian hampir bangkrut.
Rania yang tidur di kursi rumah sakit ketika Adrian mengalami kecelakaan proyek.
Dan Rania yang pada hari terakhir pernikahan mereka pulang tanpa berteriak, tanpa menuntut penjelasan, tanpa meminta apa pun.
Adrian menutup wajah dengan kedua tangan.
Pagi harinya, sebelum pukul delapan, ia sudah berada di depan klinik.
Namun harapannya mendapatkan jawaban segera kandas.
“Maaf, Pak,” kata petugas administrasi. “Kami tidak dapat memberikan informasi medis pasien tanpa persetujuan yang bersangkutan.”
“Saya suaminya.”
Petugas itu memandang layar komputer.
“Mantan suami, Pak.”
Kalimat sederhana itu terasa seperti tamparan.
Adrian pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Ia mencoba menghubungi nomor lama Rania. Tidak aktif.
Mencari media sosialnya. Tidak ditemukan.
Menghubungi beberapa teman lama. Tidak ada yang mau memberikan informasi.
Akhirnya ia menghubungi Bu Ratih.
Nomor itu masih tersimpan meski tak pernah digunakan selama bertahun-tahun.
Telepon tersambung setelah dering keenam.
“Halo?”
Suara perempuan tua itu membuat Adrian tercekat.
“Bu… ini Adrian.”
Hening cukup lama.
“Ada apa?”
“Saya menemukan slip klinik Rania.”
Tidak ada jawaban.
Adrian berdiri dari kursinya.
“Bu, saya cuma ingin tahu satu hal. Waktu Rania meninggalkan saya… apakah dia hamil?”
Sambungan langsung diputus.
Adrian membeku.
Ia menelepon lagi.
Tidak diangkat.
Justru reaksi itu membuat kecurigaannya berubah menjadi keyakinan.
Siang itu ia memutuskan pergi ke Malang.
Namun sebelum sempat berangkat, sebuah masalah lain menghantamnya.
Direktur keuangan perusahaannya menelepon.
“Pak Adrian, Bapak harus ke kantor sekarang.”
“Ada apa?”
“Ada transaksi yang tidak bisa kami jelaskan.”
Adrian tiba empat puluh menit kemudian.
Di ruang rapat, beberapa dokumen sudah terbuka di layar.
Selama hampir dua tahun, dana perusahaan ternyata dialihkan secara perlahan ke beberapa perusahaan vendor.
Jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah.
Nama salah satu pemegang saham vendor membuat Adrian berdiri dari kursinya.
Bagas Pranoto.
Sahabatnya sendiri.
“Ini tidak mungkin.”
Direktur keuangan menggeser dokumen lain.
“Beberapa persetujuan menggunakan tanda tangan digital Bapak.”
“Saya tidak pernah menyetujui ini.”
“Kami sedang melakukan audit.”
Adrian tiba-tiba teringat Maya.
Kartu kredit.
Dokumen yang sering diminta ditandatangani.
Pertemuan Maya dengan Bagas.
Alasan tentang investasi.
Ia menelepon Maya.
Tidak aktif.
Adrian pulang secepat mungkin.
Lemari pakaian terbuka.
Beberapa koper hilang.
Kotak perhiasan kosong.
Paspor Maya juga tidak ada.
Di atas meja hanya tersisa sebuah kartu akses apartemen yang bukan milik mereka.
Saat itulah Adrian memahami ironi yang begitu kejam.
Enam tahun lalu, ia mengkhianati kepercayaan perempuan yang menemaninya sejak miskin demi perempuan yang terlihat lebih menyenangkan.
Sekarang perempuan itu pergi bersama orang yang selama ini ia anggap saudara.
Persis seperti bagaimana dahulu ia dan Maya mengkhianati Rania.
Tetapi Adrian bahkan tidak memiliki waktu untuk menikmati rasa sakitnya.
Satu hal terus menghantui pikirannya.
Rania.

Dan kemungkinan tentang seorang anak.
Tiga hari kemudian Adrian pergi ke Malang.
Rumah Bu Ratih masih sama, hanya cat pagarnya telah berubah.
Bu Ratih keluar setelah satpam memberitahu ada tamu.
Begitu melihat Adrian, wajahnya langsung mengeras.
“Saya sudah bilang enam tahun lalu, jangan ganggu anak saya.”
“Saya tidak akan lama.”
“Kamu seharusnya tidak datang.”
“Saya cuma mau tahu apakah saya punya anak.”
Mata Bu Ratih berubah.
Adrian melihatnya.
Jawabannya ada di sana.
“Bu…”
“Jangan.”
Suara Bu Ratih bergetar.
“Jangan datang setelah enam tahun lalu memilih perempuan lain lalu sekarang bertanya seolah kamu kehilangan sesuatu.”
“Saya tidak tahu.”
“Itulah masalahmu, Adrian. Kamu tidak pernah mau tahu.”
Adrian menundukkan kepala.
“Saya salah.”
Bu Ratih tertawa pahit.
“Enam tahun terlambat.”
Saat Adrian hendak mengatakan sesuatu, suara seorang anak terdengar dari dalam rumah.
“Nenek, pensil warnaku di mana?”
Tubuh Adrian membeku.
Seorang bocah laki-laki berusia sekitar enam tahun berlari keluar membawa buku gambar.
Rambutnya sedikit berantakan. Kaos birunya penuh noda cat.
Namun bukan itu yang membuat Adrian kehilangan kemampuan berbicara.
Wajah anak itu.
Garis rahangnya.
Bentuk matanya.
Bahkan kebiasaan mengernyitkan alis ketika bingung.
Adrian seperti sedang melihat foto dirinya sendiri ketika kecil.
Bocah itu berhenti ketika melihat orang asing di depan pagar.
“Nenek, siapa Om itu?”
Bu Ratih langsung menarik anak tersebut mendekat.
Adrian merasakan lututnya melemah.
“Siapa namamu?”
Bocah itu memandang neneknya terlebih dahulu.
Bu Ratih tidak menjawab.
“Raka,” katanya polos.
“Raka Sanjaya.”
Adrian menelan ludah.
“Umurmu berapa?”
“Enam tahun.”
Dunia Adrian seperti berhenti.
Kemudian Raka mengatakan sesuatu yang benar-benar menghancurkan pertahanan terakhirnya.
“Om kenal Mama Rania?”
Adrian tidak mampu menjawab.
Rania muncul dari pintu beberapa detik kemudian.
Ia terlihat berbeda.
Rambutnya lebih pendek. Wajahnya lebih matang. Tidak lagi ada kesedihan yang dahulu sering bersembunyi di balik senyumnya.
Ketika melihat Adrian, langkahnya berhenti.
Mata mereka bertemu setelah enam tahun.
Tidak ada kemarahan di wajah Rania.
Justru ketenangan itulah yang terasa paling menyakitkan.
“Masuk, Raka,” katanya.
“Tapi, Ma…”
“Masuk dulu.”
Raka menurut.
Setelah anak itu menghilang, Adrian menatap Rania.
“Dia anakku?”
Rania tidak langsung menjawab.
“Jawab aku.”
“Apa hakmu datang dan menuntut jawaban?”
“Saya ayahnya.”
“Enam tahun lalu kamu bahkan tidak menjadi suami yang layak.”
Adrian terdiam.
Rania menarik napas.
“Hari itu saya datang ke restoran untuk memberitahumu bahwa saya hamil.”
Adrian menutup mata.
Kalimat yang selama beberapa hari ia takutkan akhirnya benar-benar terucap.
“Saya membawa hasil USG dalam kotak kecil. Saya sudah membayangkan kita akan menangis bersama.”
Suara Rania tetap tenang.
“Lalu saya melihat tanganmu menggenggam tangan Maya.”
“Rania…”
“Saya masih bisa memaafkan banyak hal, Adrian. Kemiskinan. Kesibukan. Kegagalan. Bahkan pertengkaran. Tapi saya tidak bisa membesarkan anak saya di rumah yang membuat ibunya merasa tidak berharga.”
“Saya tidak pernah tidur dengan Maya waktu itu.”
Rania tersenyum tipis.
“Pengkhianatan tidak selalu dimulai di tempat tidur.”
Adrian tidak bisa membantah.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang Raka?”
“Saya hampir melakukannya.”
Rania menatap lurus ke matanya.
“Tiga hari setelah saya pergi, kamu datang ke rumah ini. Saya berada di kamar lantai atas. Saya mendengar semuanya.”
Adrian mengingat perkataannya kepada Bu Ratih.
Rania terlalu berlebihan.
Hanya karena melihat dirinya makan bersama Maya.
“Saat itu saya menunggu satu kalimat,” lanjut Rania. “Saya berharap kamu mengatakan kamu menyesal. Saya berharap kamu meminta bertemu saya karena mencintai saya.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi yang saya dengar hanya kemarahan karena saya berani meninggalkanmu.”
Adrian menunduk.
“Saya takut kamu akan menggunakan anak itu untuk memaksaku kembali.”
“Jadi kamu menyembunyikannya?”
“Saya melindunginya.”
Adrian mengangkat wajah.
“Saya ingin mengenalnya.”
Rania diam cukup lama.
“Saya tidak akan melarang jika suatu hari Raka ingin tahu siapa ayah biologisnya. Tapi jangan berharap kamu bisa datang hari ini dan langsung menjadi ayah.”
“Saya siap bertanggung jawab.”
“Tanggung jawab bukan cek.”
Kalimat itu menghantam Adrian tepat pada titik yang paling selama ini ia banggakan.
Rania melanjutkan, “Ayah adalah orang yang hadir ketika anak demam jam dua pagi. Yang mengantar sekolah. Yang mendengarkan cerita tidak penting tentang gambar dinosaurus. Yang menepati janji.”
Adrian tidak memiliki jawaban.
Ia hanya bertanya pelan, “Apakah Raka tahu tentang saya?”
“Belum semuanya.”
Percakapan mereka terputus ketika Raka tiba-tiba muncul membawa sebuah buku gambar.
“Mama.”
Rania menoleh.
“Aku mau tunjukkan ini ke Om.”
Ia membuka halaman bergambar sebuah rumah dengan tiga orang berdiri di depannya.
Seorang perempuan.
Seorang anak.
Dan seorang pria.
Adrian menahan napas.
“Ini siapa?” tanyanya.
Raka menunjuk perempuan.
“Mama.”
Kemudian dirinya sendiri.
“Ini aku.”
Lalu pria tersebut.
“Ini Papa.”
Jantung Adrian seperti diremas.
Namun Rania terlihat gelisah.
“Raka, masuk dulu.”
“Tapi Om belum lihat.”
Anak itu membalik halaman berikutnya.
Di sana terdapat foto kecil yang ditempel dengan selotip.
Seorang pria berkacamata sedang menggendong Raka saat masih balita.
Bukan Adrian.
Raka tersenyum bangga.
“Papa Dimas.”
Adrian menatap Rania.
Rania akhirnya menjelaskan.
Dimas adalah dokter anak yang mengenal Rania dua tahun setelah kelahiran Raka. Mereka menikah setahun kemudian.
Dimas tidak pernah meminta Raka memanggilnya Papa.
Raka sendiri yang melakukannya.
“Dia tahu Raka bukan anak kandungnya?” tanya Adrian.
“Tahu.”
“Dan dia menerima?”
Rania mengangguk.
“Dia tidak pernah merasa sedang menerima kekurangan.”
Kalimat itu membuat Adrian memahami perbedaan terbesar antara dirinya dan pria tersebut.
Dulu Adrian memandang ketidakhadiran anak sebagai kekurangan dalam pernikahannya.
Dimas justru memandang kehadiran Raka sebagai anugerah meski bukan darahnya.
Beberapa bulan setelah pertemuan itu, hidup Adrian berubah total.
Bagas dan Maya akhirnya ditemukan di Bali. Proses hukum terhadap penggelapan perusahaan berlangsung panjang. Sebagian aset berhasil diselamatkan, sebagian lainnya hilang.
Maya mencoba menghubungi Adrian dari tahanan.
Adrian menolak menemuinya.
Bukan karena membenci Maya.
Ia sudah terlalu lelah untuk membenci.
Adrian mulai mengunjungi Raka secara bertahap dengan izin Rania dan Dimas.
Awalnya hanya sebulan sekali.
Kemudian dua minggu sekali.
Ia tidak memperkenalkan diri sebagai ayah.
Bagi Raka, Adrian hanyalah Om Adrian, teman lama Mama.
Suatu sore mereka duduk di taman ketika Raka tiba-tiba bertanya, “Om Adrian dulu sayang Mama?”
Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam.
“Sangat sayang.”
“Terus kenapa sekarang Mama sama Papa Dimas?”
Adrian tersenyum getir.
“Karena dulu Om melakukan kesalahan besar.”
“Kesalahan apa?”
Adrian menatap anaknya.
“Om tidak menjaga orang yang paling berharga ketika masih punya kesempatan.”
Raka mengangguk seolah memahami, lalu kembali bermain.
Setahun kemudian, ketika Raka berusia tujuh tahun, Rania akhirnya menjelaskan siapa Adrian sebenarnya.
Anak itu menangis.
Bukan karena marah.
Ia hanya bingung.
Beberapa hari setelahnya, Raka menemui Adrian.
“Jadi Om Adrian ayah kandungku?”
Adrian mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa baru sekarang?”
Tidak ada jawaban yang bisa membuat masa lalu terdengar lebih baik.
“Karena Ayah melakukan banyak kesalahan.”
Untuk pertama kalinya Adrian menyebut dirinya ayah.
Namun Raka tidak langsung memanggilnya Papa.
Dan Adrian tidak memaksa.
Ia belajar bahwa hubungan darah memberikan hubungan biologis, bukan otomatis memberikan tempat di hati seseorang.
Tempat itu harus dibangun.
Bertahun-tahun kemudian, pada acara kelulusan sekolah dasar Raka, Adrian duduk di deretan belakang.
Di barisan depan ada Rania dan Dimas.
Setelah acara selesai, Raka berlari menghampiri mereka.
Ia memeluk Rania.
Lalu Dimas.
Kemudian berlari menuju Adrian.
“Ayah Adrian, foto bareng.”
Adrian membeku.
Itulah pertama kalinya Raka memanggilnya Ayah.
Matanya langsung panas.
Mereka berfoto berempat.
Tidak seperti keluarga sempurna yang pernah Adrian bayangkan.
Namun mungkin lebih jujur daripada itu.
Malamnya Adrian pulang ke Surabaya seorang diri.
Ia membuka kotak lama milik Rania.
Di dalamnya masih tersimpan slip klinik yang mengubah seluruh hidupnya.
Ia memasukkannya ke dalam bingkai kecil.
Bukan sebagai kenangan tentang anak yang hampir tidak pernah dikenalnya.
Melainkan sebagai pengingat tentang sebuah pelajaran yang terlambat ia pahami.
Uang bisa membeli rumah besar.
Kekuasaan bisa membuat orang menghormatinya.
Nama besar bisa membuka banyak pintu.
Namun tidak satu pun dari semua itu mampu mengembalikan enam tahun pertama kehidupan anaknya.
Tidak mampu mengembalikan perempuan yang pernah mencintainya ketika ia tidak memiliki apa-apa.
Dan tidak mampu menghapus satu siang ketika ia memilih menggenggam tangan yang salah, lalu tanpa sadar melepaskan seluruh kehidupan yang sebenarnya paling berharga baginya.
