AKU MENDENGAR IBU MERTUAKU BERKATA, “DIA TIDAK AKAN INGAT APA-APA.” AKU TETAP TERBARING DI RANJANG RUMAH SAKIT, PURA-PURA BELUM SADAR

Aku tetap memejamkan mata meski seluruh tubuhku terasa kaku.

Suara Raka dan ibunya masih terdengar di dekat ranjang.

“Besok pagi kita pindahkan dia.”

“Pindahkan ke mana?”

“Rumah sakit lain.”

“Kenapa harus dipindahkan?”

“Supaya dokter yang menangani dia sekarang tidak terlalu banyak bertanya.”

Kalimat itu terus berputar di kepalaku.

Dokter terlalu banyak bertanya tentang apa?

Aku berusaha menarik kembali potongan ingatan sebelum aku kehilangan kesadaran. Dapur. Suara pecahan. Seseorang memanggil namaku.

Lalu sesuatu yang dingin.

Aku ingat memegang sebuah gelas.

Air di dalamnya terasa sedikit pahit.

Setelah itu pandanganku berkunang-kunang.

Aku sempat berdiri sambil berpegangan pada meja makan.

Lalu kudengar suara ibu mertuaku.

“Sudah diminum?”

Ingatan itu datang begitu cepat hingga dadaku terasa sesak.

Aku hampir membuka mata.

Namun suara Raka kembali terdengar.

“Kalau dia ingat tentang surat tanah itu bagaimana?”

Ibu mertuaku menjawab tanpa ragu.

“Dia tidak akan ingat.”

Surat tanah.

Jantungku berdetak semakin keras.

Tiba-tiba semuanya menjadi lebih jelas.

Tiga bulan sebelumnya, ayahku meninggal dunia.

Aku adalah anak tunggal. Sebelum meninggal, Ayah meninggalkan sebuah rumah dua lantai di Bekasi, dua ruko kecil di daerah Jatiasih, dan sebidang tanah yang nilainya cukup besar karena tidak jauh dari proyek jalan baru.

Ayah selalu bilang kepadaku bahwa harta bukan sesuatu yang harus diperebutkan.

“Kalau suatu hari Ayah tidak ada,” katanya, “gunakan semua ini untuk hidupmu. Jangan biarkan orang lain menentukan nasibmu.”

Aku tidak pernah menyangka nasihat itu akan menjadi peringatan.

Beberapa minggu setelah pemakaman, Raka mulai berubah.

Ia lebih sering menanyakan sertifikat rumah.

Awalnya aku tidak curiga.

Kami sudah menikah hampir enam tahun. Selama itu, Raka memang tidak selalu menjadi suami yang sempurna, tetapi aku percaya kepadanya.

Ia pernah kehilangan pekerjaan dua tahun sebelumnya dan selama hampir setahun aku menjadi tulang punggung keluarga.

Aku bekerja sebagai supervisor keuangan di sebuah perusahaan distribusi di Jakarta Selatan. Hampir seluruh tabunganku kugunakan untuk membayar cicilan rumah kami dan membantu modal usaha Raka.

Ketika usaha Raka akhirnya mulai berjalan, aku ikut bahagia.

Aku mengira kami sedang membangun kehidupan bersama.

Ternyata mungkin hanya aku yang berpikir seperti itu.

Suara ibu mertuaku terdengar lagi.

“Begitu dia dipindahkan, kita urus semuanya.”

“Notarisnya bagaimana?”

“Sudah ada orangnya.”

Aku merasa tenggorokanku kering.

Notaris.

Surat tanah.

Pemindahan rumah sakit.

Aku mulai memahami sesuatu yang sangat mengerikan.

Mereka tidak hanya berharap aku kehilangan ingatan.

Mereka sudah mempersiapkan sesuatu sebelum aku jatuh.

Aku mendengar pintu kamar dibuka.

“Mas Raka?”

Suara perempuan muda.

Seorang perawat.

Raka langsung menjawab dengan nada normal, bahkan terdengar ramah.

“Iya, Mbak.”

“Pasien akan diperiksa lagi sekitar setengah jam.”

“Oh, baik.”

Perawat itu pergi.

Beberapa detik kemudian ibu mertuaku berkata,

“Kita pulang dulu. Jangan terlalu lama di sini.”

Raka tidak langsung menjawab.

Aku mendengar langkahnya mendekat.

Tangannya menyentuh rambutku.

Dulu sentuhan itu selalu membuatku merasa aman.

Sekarang aku harus menahan diri agar tidak menepisnya.

“Maaf, Nisa,” bisiknya.

Aku tidak tahu apakah ia benar-benar menyesal.

Yang kutahu, beberapa detik kemudian ia meninggalkan kamar bersama perempuan yang melahirkannya dan bersekongkol menghancurkan hidupku.

Begitu pintu tertutup, aku tetap diam hampir lima menit.

Aku takut mereka kembali.

Ketika akhirnya aku membuka mata, napasku langsung terengah.

Air mata yang sejak tadi kutahan mengalir ke pelipis.

Aku mencoba duduk.

Rasa sakit di belakang kepala membuatku hampir jatuh kembali.

Pada saat itulah pintu terbuka.

Seorang dokter laki-laki masuk bersama perawat yang tadi.

Dokter itu tampak berusia sekitar empat puluh tahun.

Ia terkejut melihatku sudah sadar.

“Ibu Nisa?”

Aku buru-buru mengangkat telunjuk ke bibir.

“Tolong,” bisikku. “Jangan panggil suami saya.”

Dokter itu menatapku beberapa detik.

“Ada masalah?”

Aku menarik napas.

“Saya mendengar percakapan mereka.”

Wajah dokter berubah.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang gelas yang rasanya pahit.

Tentang ibu mertuaku.

Tentang rencana memindahkanku.

Tentang surat tanah.

Dokter memperkenalkan dirinya sebagai dokter Bagus.

Ia duduk di samping ranjang dan berkata dengan suara pelan,

“Ibu sebenarnya sudah sadar sebentar tadi pagi.”

Aku terkejut.

“Saya tidak ingat.”

“Itu mungkin karena efek obat dan cedera kepala. Tapi ada hal lain yang perlu Ibu ketahui.”

Ia membuka sebuah map.

“Hasil pemeriksaan darah awal menunjukkan adanya zat sedatif dalam tubuh Ibu.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Obat tidur?”

“Jenisnya mirip obat penenang kuat. Kadarnya cukup tinggi.”

Tanganku langsung dingin.

“Apakah itu bisa membuat saya jatuh?”

“Sangat mungkin. Apalagi kalau Ibu berdiri atau berjalan setelah meminumnya.”

Aku menutup mulut.

Jadi aku tidak hanya mengalami kecelakaan.

Seseorang sengaja membuatku kehilangan kesadaran.

Dokter Bagus melanjutkan,

“Ketika masuk IGD, suami Ibu bilang Ibu terpeleset di dapur.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena rasanya terlalu menyakitkan.

“Tentu saja dia bilang begitu.”

Perawat di samping dokter tampak prihatin.

“Bu, kalau memang ada dugaan tindak pidana, rumah sakit bisa membantu menghubungi polisi.”

Aku diam.

Pikiranku berlari cepat.

Jika polisi datang sekarang, Raka dan ibunya mungkin langsung menyangkal.

Aku belum tahu seberapa jauh rencana mereka.

Aku juga belum tahu siapa lagi yang terlibat.

Aku menatap dokter Bagus.

“Saya ingin mereka tetap berpikir saya kehilangan ingatan.”

Dokter itu mengernyit.

“Itu berisiko.”

“Saya tahu.”

“Kenapa?”

“Karena saya ingin tahu apa yang mereka lakukan terhadap dokumen saya.”

Dokter Bagus terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.

“Saya tidak bisa membiarkan kondisi medis Ibu dimanipulasi. Tapi saya bisa memastikan tidak ada pemindahan tanpa persetujuan Ibu.”

Aku meminta satu hal lagi.

Telepon.

Ponselku tidak ada.

Menurut perawat, barang pribadiku dibawa Raka.

Aku menghafal satu nomor telepon yang jarang sekali kugunakan.

Nomor sepupuku, Dimas.

Ia seorang pengacara.

Kami tidak terlalu dekat beberapa tahun terakhir, tetapi aku tahu satu hal.

Dimas tidak menyukai Raka sejak awal pernikahanku.

Perawat meminjamkan telepon kantor.

Dimas mengangkat pada dering kedua.

“Halo?”

“Mas.”

Sunyi.

“Nisa?”

Suaraku pecah.

“Aku butuh bantuan.”

Kurang dari satu jam kemudian, Dimas tiba.

Aku menceritakan semuanya.

Ia tidak langsung marah seperti yang kubayangkan.

Wajahnya justru menjadi sangat tenang.

Terlalu tenang.

“Dokumen warisan dari Om ada di mana?”

“Sebagian di rumah. Sertifikat asli yang penting ada di safe deposit box bank.”

“Kuncinya?”

“Di dompetku.”

“PIN?”

“Cuma aku yang tahu.”

Dimas menghela napas lega.

“Tapi ada salinan legalisir di rumah,” tambahku.

Ia langsung menatapku.

“Dan tanda tanganmu?”

Aku teringat sesuatu.

Dua minggu sebelumnya, Raka pernah memintaku menandatangani beberapa lembar kosong.

Katanya untuk pengajuan perubahan data perusahaan.

Aku menolak.

Namun satu bulan lalu, ketika mengurus klaim asuransi ayah, aku pernah menandatangani beberapa formulir di rumah.

Aku tidak ingat apakah semua lembar itu benar-benar digunakan.

Wajah Dimas semakin serius.

“Kita cek.”

Malam itu ia pergi ke rumahku.

Bukan sendirian.

Ia membawa seorang teman yang bekerja sebagai penyidik kepolisian, tetapi mereka belum membuat laporan resmi.

Aku tidak tahu apa yang mereka temukan sampai tengah malam.

Dimas menelepon ke telepon kamar.

“Nisa.”

“Ada apa?”

“Kamu harus siap.”

Dadaku berdebar.

“Raka sudah mengajukan surat kuasa atas namamu.”

Aku merasa seolah ditampar.

“Untuk apa?”

“Pengalihan dua ruko dan tanah milikmu.”

Aku menatap dinding kosong.

“Tidak mungkin.”

“Tanda tangan di dokumen itu mirip tanda tanganmu.”

“Itu bukan aku.”

“Aku tahu.”

Dimas melanjutkan,

“Dan ada surat keterangan medis.”

Aku terdiam.

“Surat apa?”

“Surat yang menyatakan kamu mengalami gangguan kognitif berat dan tidak mampu mengambil keputusan keuangan.”

Aku merasa mual.

“Itu dibuat kapan?”

“Tiga hari lalu.”

“Tapi aku baru masuk rumah sakit hari ini.”

“Makanya ini besar.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar memahami rencana mereka.

Mereka tidak sekadar berharap aku lupa.

Mereka sudah menciptakan cerita bahwa aku tidak mampu mengurus diriku sendiri.

Dengan surat medis palsu dan surat kuasa palsu, mereka bisa mengambil kendali atas asetku.

Aku memejamkan mata.

“Ada nama dokter?”

“Ada.”

“Dokter siapa?”

Dimas menyebut nama yang tidak kukenal.

Aku langsung meminta dokter Bagus memeriksanya.

Hasilnya mengejutkan.

Nama dokter itu memang terdaftar sebagai dokter umum.

Tetapi tidak bekerja di rumah sakit tempatku dirawat.

Keesokan paginya, Raka dan ibunya datang.

Aku sudah kembali berbaring seperti pasien kebingungan.

Ketika Raka mendekat, aku membuka mata perlahan.

“Nisa?”

Aku menatapnya lama.

“Siapa kamu?”

Wajahnya langsung berubah.

Ia memandang ibunya.

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Kamu tidak ingat Raka?”

Aku menggeleng.

Raka menggenggam tanganku.

“Aku suamimu.”

Aku menarik tangan perlahan seolah ketakutan.

“Suami?”

“Iya.”

“Kenapa kepalaku sakit?”

“Kamu jatuh.”

“Di mana?”

“Di rumah.”

Aku menatapnya dengan wajah kosong.

“Kenapa aku jatuh?”

Raka terlihat gugup.

Ibunya cepat menyela.

“Kamu terpeleset.”

Aku mengangguk pelan.

Lalu berkata,

“Aku haus.”

Raka langsung mengambil air.

Ia tampak lega.

Mungkin baginya, aku benar-benar tidak ingat apa pun.

Beberapa menit kemudian ibu mertuaku mulai menjalankan rencananya.

“Nisa, nanti kita pindah rumah sakit ya.”

Aku berpura-pura bingung.

“Kenapa?”

“Di sini terlalu ramai.”

Dokter Bagus masuk tepat pada waktunya.

“Maaf, pasien belum bisa dipindahkan.”

Wajah ibu mertuaku menegang.

“Kenapa?”

“Kondisinya belum stabil.”

“Kemarin dokter bilang bisa.”

“Saya dokter penanggung jawabnya. Saya belum pernah mengatakan itu.”

Perempuan itu terdiam.

Aku hampir tersenyum.

Namun permainan baru saja dimulai.

Siangnya, Raka mengeluarkan sebuah map.

“Nisa.”

Aku menatapnya.

“Ada beberapa dokumen.”

“Dokumen apa?”

“Cuma administrasi rumah sakit.”

Ia menyerahkan pulpen.

Di situlah aku melihatnya.

Bukan formulir rumah sakit.

Bagian atas halaman menyebutkan persetujuan pengelolaan aset.

Tanganku hampir gemetar.

“Aku harus tanda tangan di mana?”

Raka menunjuk tempatnya.

Aku pura-pura mencoba.

Lalu sengaja menjatuhkan pulpen.

“Maaf.”

Raka mengambilnya.

Aku melihat ke arah pintu.

Dimas berdiri di sana bersama dua orang polisi berpakaian sipil.

Wajah Raka langsung pucat.

Ibunya berdiri.

“Kalian siapa?”

Dimas masuk.

“Saya pengacara Nisa.”

Raka menatapku.

“Nisa?”

Aku duduk perlahan.

Kali ini tidak ada lagi wajah kebingungan.

Aku menatap langsung ke matanya.

“Administrasi rumah sakit?”

Raka tidak bergerak.

Ibunya membeku.

Aku mengambil dokumen itu.

“Ini surat persetujuan pengalihan aset.”

“Nisa, dengar dulu.”

“Aku ingat semuanya.”

Wajah ibu mertuaku kehilangan warna.

Raka langsung menjatuhkan map.

“Nisa, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan apa?”

Aku menatapnya.

“Obat yang kalian masukkan ke minumanku?”

Ibunya langsung berkata,

“Jangan menuduh sembarangan!”

Dokter Bagus masuk.

“Sampel darah sudah disimpan sebagai bukti medis.”

Ruangan menjadi sunyi.

Dimas kemudian mengeluarkan beberapa fotokopi.

“Dan kami juga menemukan surat kuasa palsu, surat medis palsu, serta proses pengalihan aset yang sudah berjalan.”

Raka menutup wajahnya.

Ibunya masih berusaha bertahan.

“Itu semua untuk keluarga!”

Aku tertawa getir.

“Keluarga?”

“Kamu punya banyak harta. Raka suamimu. Wajar kalau dia mengelolanya.”

“Dengan memalsukan tanda tanganku?”

Perempuan itu tidak menjawab.

Aku menatap Raka.

“Kenapa?”

Matanya merah.

Akhirnya ia duduk.

“Usahaku bangkrut.”

Aku terdiam.

“Apa?”

“Hampir enam bulan.”

Ia mengusap wajah.

“Aku punya utang.”

“Berapa?”

“Delapan miliar.”

Dunia seolah berhenti.

Aku bahkan tidak tahu harus marah atau tertawa.

“Delapan miliar?”

Raka mengangguk.

“Aku pinjam dari banyak orang. Mama tahu.”

Ibu mertuaku memalingkan wajah.

Raka melanjutkan,

“Awalnya aku cuma ingin menjual salah satu ruko. Aku pikir nanti aku ganti.”

“Lalu?”

“Kamu tidak mau.”

“Jadi kalian meracuniku?”

“Aku tidak tahu Mama akan memberi obat sebanyak itu.”

Aku menatap ibu mertuaku.

Ia justru balas menatap tanpa penyesalan.

“Aku cuma ingin kamu tidur. Kamu jatuh sendiri.”

Kalimat itu jauh lebih mengerikan daripada teriakan.

Karena ia mengatakannya begitu tenang.

Seolah hidupku hanyalah hambatan kecil.

Polisi akhirnya membawa keduanya untuk pemeriksaan.

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.

Dokter yang membuat surat medis palsu ternyata menerima uang dari ibu mertuaku.

Notaris yang memproses dokumen juga diperiksa karena mengabaikan banyak prosedur.

Tanda tanganku terbukti dipalsukan.

Sedangkan hasil laboratorium membuktikan adanya obat penenang dalam tubuhku dalam jumlah yang tidak wajar.

Aku menggugat cerai Raka.

Ia beberapa kali mengirim surat dari tahanan.

Sebagian berisi permintaan maaf.

Sebagian berisi cerita bahwa ia sebenarnya mencintaiku.

Aku tidak pernah membalas.

Sampai suatu hari, Dimas datang membawa satu surat lain.

Bukan dari Raka.

Dari ayahku.

Surat itu ditemukan di dalam safe deposit box ketika aku akhirnya cukup sehat untuk pergi ke bank.

Tulisan tangan Ayah memenuhi selembar kertas sederhana.

Nisa, kalau suatu hari kamu membaca surat ini karena sedang merasa dikhianati, ingat satu hal. Harta bisa dicari lagi. Rumah bisa dibangun lagi. Tapi jangan pernah mengorbankan harga dirimu demi mempertahankan seseorang yang sudah memilih menghancurkan kepercayaanmu.

Aku menangis lama setelah membacanya.

Bukan karena harta yang hampir hilang.

Bukan karena pernikahanku berakhir.

Tetapi karena akhirnya aku sadar.

Selama bertahun-tahun aku terlalu sibuk menjaga rumah tangga sampai lupa menjaga diriku sendiri.

Enam bulan kemudian, aku menjual salah satu ruko.

Bukan untuk membayar utang Raka.

Aku menggunakan sebagian uangnya untuk mendirikan sebuah lembaga kecil yang memberi pendampingan hukum awal bagi perempuan korban kekerasan ekonomi dan pemalsuan dokumen keluarga.

Aku menamai lembaga itu Rumah Sadar.

Karena aku pernah terbaring di sebuah ranjang rumah sakit, berpura-pura tidak sadar, sementara dua orang yang paling dekat denganku merencanakan masa depanku tanpa persetujuanku.

Ironisnya, justru ketika mereka mengira aku tidak akan mengingat apa-apa, aku mulai melihat semuanya dengan jauh lebih jelas.

Dan sejak hari itu, aku tidak pernah lagi takut kehilangan orang yang hanya bisa mencintaiku selama aku bisa dimanfaatkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang