Untuk pertama kalinya malam itu, aku tersenyum.
Bukan karena akhirnya menemukan cara untuk membalas Aditya. Bukan pula karena aku ingin melihat Arunika Kreasi runtuh. Selama bertahun-tahun, perusahaan itu juga kubangun dengan tenaga, ide, dan malam-malam tanpa tidur.
Aku tersenyum karena akhirnya aku mengerti satu hal.
Selama ini Aditya bukan menyembunyikanku untuk melindungi hubungan kami.

Dia menyembunyikanku karena keberadaanku terlalu berbahaya bagi cerita yang sedang dia jual kepada investor.
Pukul delapan pagi berikutnya, aku bertemu dua orang dari tim due diligence di sebuah kedai kopi di kawasan SCBD. Mereka memperkenalkan diri sebagai Dimas dan Clara, konsultan independen yang ditunjuk Mahardika Capital, calon investor utama Arunika.
Clara langsung membuka laptop.
“Kami ingin memastikan satu hal. Apakah Peta Rasa sepenuhnya milik Arunika Kreasi?”
Aku mengeluarkan salinan kontrak lisensi dari tasku.
“Tidak.”
Dimas membaca halaman pertama, lalu ekspresinya berubah.
Kontrak itu jelas. Peta Rasa adalah metodologi yang kukembangkan sebelum bergabung dengan Arunika. Perusahaan mendapat hak penggunaan selama aku bekerja di sana, tetapi tidak berhak menjual, mengalihkan, mendaftarkan, atau menyatakan metodologi itu sebagai kekayaan intelektual perusahaan tanpa persetujuan tertulisku.
Di halaman terakhir terdapat dua tanda tangan.
Milikku.
Dan milik Aditya.
“Pak Aditya tahu?” tanya Clara.
“Dia yang menandatangani kontraknya.”
Keduanya saling berpandangan.
Dimas kemudian memutar laptopnya ke arahku.
Di layar terlihat bagian investor deck yang semalam kubaca.
Nilai valuasi Arunika sebagian besar dibangun berdasarkan kepemilikan aset intelektual, termasuk Peta Rasa.
Aku menatap angka di bagian bawah slide.
Seratus delapan puluh miliar rupiah.
“Kalau metodologi ini bukan milik perusahaan,” kata Clara hati-hati, “valuasinya bisa berubah cukup signifikan.”
Aku menutup kontrak.
“Lalu kenapa kalian menghubungi saya diam-diam?”
Dimas tidak langsung menjawab.
Clara membuka file lain.
Sebuah struktur transaksi muncul.
Ada nama Arunika Kreasi.
Mahardika Capital.
Dan satu perusahaan lain.
Wibowo Strategic Holdings.
Nama belakang Nadine.
Tenggorokanku terasa kering.
“Wibowo Strategic Holdings milik keluarga Nadine?”
“Sebagian besar,” jawab Dimas. “Mereka menjadi pihak yang memperkenalkan Arunika kepada Mahardika Capital.”
Potongan-potongan kejadian beberapa minggu terakhir tiba-tiba tersusun sempurna.
Nadine bergabung sebagai Director of Strategic Partnership.
Aditya mengaku lajang.
Mereka terus terlihat bersama.
Proyek Langit Timur dipindahkan kepadanya.
Bukan kebetulan.
Aditya sedang membangun citra yang dibutuhkan untuk mendapatkan kepercayaan keluarga Wibowo.
Dan aku adalah bagian dari masa lalunya yang harus dihapus.
Aku bertanya, “Apa yang kalian butuhkan dari saya?”
“Konfirmasi tertulis mengenai kepemilikan Peta Rasa dan dokumen aslinya.”
Aku menatap mereka.
“Aku akan memberikannya. Tapi setelah presentasi investor besok.”
Clara mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena saya ingin mendengar sendiri apa yang akan mereka katakan ketika mengira saya tidak tahu apa-apa.”
Keesokan harinya ruang konferensi utama Arunika berubah seperti panggung.
Tim Mahardika Capital hadir bersama beberapa penasihat hukum. Keluarga Wibowo diwakili ayah Nadine, Bima Wibowo, seorang pengusaha yang namanya cukup dikenal di industri properti.
Aku duduk di barisan belakang.
Seolah aku hanya karyawan biasa.
Aditya berdiri di depan layar dengan setelan abu-abu gelap. Nadine berada di sampingnya.
Mereka terlihat sempurna.
Profesional.
Serasi.
Seperti dua orang yang memang sengaja ditempatkan dalam satu bingkai.
Presentasi berjalan hampir empat puluh menit.
Kemudian sampai pada slide yang kutunggu.
PETA RASA PROPRIETARY CONSUMER INTELLIGENCE SYSTEM.
Aditya berbicara dengan penuh percaya diri.
“Inilah salah satu aset terbesar Arunika. Sistem eksklusif yang kami bangun selama bertahun-tahun dan telah digunakan untuk memenangkan berbagai proyek besar.”
Tanganku dingin.
Aku pernah melihat pria itu gugup sebelum bertemu klien pertama kami.
Aku pernah duduk di lantai apartemennya pukul tiga pagi ketika dia berkata mungkin perusahaan tidak akan bertahan sampai akhir tahun.
Aku yang berkata kepadanya,
“Kita cari jalan.”
Sekarang dia berdiri di sana menjual hasil pikiranku seolah aku bahkan tidak pernah ada.
Seorang investor bertanya, “IP ini sepenuhnya dimiliki Arunika?”
Aditya menjawab tanpa ragu.
“Seratus persen.”
Aku menutup mata sebentar.
Kesempatan terakhirnya baru saja hilang.
Clara berdiri.
“Pak Aditya, sebelum dilanjutkan, ada satu hal yang perlu diklarifikasi.”
Wajah Aditya berubah sedikit.
Clara menatapku.
“Bu Rania, bisa maju?”
Ruangan langsung sunyi.
Aku berjalan ke depan dengan ankle support masih membungkus kaki kananku.
Tatapan Aditya mengeras.
“Apa ini?”
Aku tidak menjawab.
Dimas menyambungkan laptopnya ke layar.
Kontrak lisensi muncul.
Aditya langsung pucat.
Bima Wibowo membungkuk ke depan.
“Apa itu?”
Clara menjelaskan singkat.
Semakin lama dia berbicara, semakin tegang ruangan itu.
Kemudian tanda tangan Aditya diperbesar di layar.
Nadine menoleh kepadanya.
“Adit?”
Aditya bangkit.
“Ini kontrak lama. Konteksnya berbeda.”
Aku akhirnya bicara.
“Konteks bagian mana yang berbeda?”
“Rania, kita bisa bahas internal.”
“Kenapa harus internal? Barusan kamu mengatakan kepada investor bahwa Peta Rasa seratus persen milik perusahaan.”
“Karena secara operasional memang digunakan perusahaan.”
“Digunakan bukan berarti dimiliki.”
Rahangnya menegang.
“Aku tidak pernah berniat mengambil hakmu.”
Aku hampir tersenyum.
“Kamu menghapus namaku dari proyek yang kubangun. Kamu memindahkan kredit pekerjaanku kepada Nadine. Dan sekarang kamu memasukkan metodologiku sebagai aset perusahaan untuk menaikkan valuasi.”
Nadine tiba-tiba berdiri.
“Tunggu. Proyek Langit Timur itu karya Rania?”
Semua orang menoleh kepadanya.
Aku pun terdiam.
Aditya berkata cepat, “Nadine, bukan sekarang.”
Namun Nadine menatapnya dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Kamu bilang strategi dasarnya dibuat tim lama dan aku hanya perlu menyempurnakan.”
Aditya tidak menjawab.
Nadine membuka laptopnya.
Tangannya bergerak cepat.
Beberapa detik kemudian, slide proyek Langit Timur muncul.
Dia melihat metadata dokumen.
Namaku tercantum sebagai pembuat hampir seluruh file utama selama enam bulan terakhir.
Nadine perlahan menutup laptop.
“Kamu bohong kepadaku juga.”
“Nadine, dengarkan dulu.”
“Untuk apa?”
Suara Nadine mulai bergetar.
“Supaya keluargaku percaya sama kamu?”
Bima Wibowo berdiri.
“Apa maksudmu?”
Nadine menatap ayahnya.
“Ayah pikir aku dan Adit sedang dekat, kan?”
Ruangan semakin hening.
Bima tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Nadine tertawa pendek, pahit.
“Pantas.”
Dia menatap Aditya.
“Kamu sengaja membiarkan semua orang berpikir kita punya hubungan.”
“Nadine, aku tidak pernah mengatakan kita pacaran.”
“Justru itu. Kamu tidak pernah mengatakan apa pun. Kamu cuma membiarkan asumsi itu bekerja untukmu.”
Aku menatap Nadine.
Tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang membuat kemarahanku berubah arah.
Selama ini aku menganggap Nadine adalah perempuan yang merebut tempatku.
Padahal mungkin dia juga sedang digunakan.
Aditya mencoba mengambil alih keadaan.
“Kita sedang membicarakan investasi perusahaan. Jangan campurkan masalah pribadi.”
Aku menatapnya.
“Kamu yang mencampurkannya sejak awal.”
Dia menoleh tajam.
Aku melanjutkan.
“Kamu menyembunyikan hubungan kita demi terlihat lajang di depan keluarga calon investor. Kamu memakai kedekatanmu dengan Nadine untuk membuka pintu pendanaan. Kamu memakai metodologiku untuk menaikkan valuasi. Bahkan kamu memakai pekerjaanku untuk membuat direktur baru terlihat berhasil.”
Wajah Aditya kehilangan warna.
Untuk pertama kalinya selama mengenalnya, dia tidak punya jawaban.
Pertemuan dihentikan.
Mahardika Capital meminta waktu untuk mengevaluasi ulang transaksi.
Bima Wibowo keluar tanpa menjabat tangan Aditya.
Nadine pergi bersama ayahnya.
Aku kembali ke mejaku.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Sore itu Aditya masuk ke ruanganku dan mengunci pintu.
“Apa yang kamu inginkan?”
Tidak ada lagi suara lembut.
Tidak ada lagi kalung.
Tidak ada lagi kartu hotel.
Aku menatapnya.
“Tidak ada.”
“Jangan bohong.”
“Aku tidak menginginkan apa pun darimu.”
“Kalau investasi batal, puluhan orang bisa kehilangan pekerjaan.”
Aku mengangguk.
“Benar.”
“Dan kamu tega?”
Aku menatap pria yang selama dua tahun kucintai itu.
Menarik sekali bagaimana seseorang bisa melukai kita berkali-kali, lalu ketika kita berhenti melindunginya, dia menyebut kita kejam.
“Aku tidak membatalkan investasi, Adit. Aku cuma mengatakan siapa pemilik sesuatu yang memang bukan milikmu.”
Dia berjalan mendekat.
“Kita bisa memperbaiki semuanya.”
“Kita?”
“Aku dan kamu.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu masih berpikir masalahnya adalah hubungan kita?”
Dia terdiam.
Aku membuka laci dan mengeluarkan kotak kalung yang kemarin diberikannya.
Kutaruh di meja.
“Hubungan kita selesai sejak kamu bilang masih single di Gunung Pancar.”
“Rania.”
“Yang terjadi setelahnya cuma membuatku sadar bahwa kehilanganmu bukan kerugian terbesar.”
Aku berdiri.
“Kehilangan diriku sendiri demi terus melindungimu jauh lebih buruk.”
Keesokan harinya aku mengajukan pengunduran diri.
Berita tentang masalah investasi menyebar cepat di kantor. Beberapa orang yang sebelumnya menertawakanku mulai menghindari tatapanku.
Ada pula yang meminta maaf.
Aku tidak membutuhkan permintaan maaf mereka.
Dua minggu kemudian, Nadine menghubungiku.
Kami bertemu di sebuah kafe di Kemang.
Dia datang tanpa blazer mahal dan tanpa aura direktur yang selama ini membuat orang-orang segan.
“Aku mau minta maaf,” katanya.
“Kamu tidak tahu.”
“Tapi aku menikmati perhatian itu.”
Aku diam.
Nadine menunduk.
“Aku tahu orang-orang menjodoh-jodohkan kami. Aku juga tahu ada seseorang di kantor yang terluka melihatnya. Aku cuma tidak tahu orang itu kamu.”
Aku mengaduk kopi.
“Kenapa kamu keluar dari Arunika?”
Dia tersenyum tipis.
“Karena ternyata aku juga cuma slide dalam investor deck-nya.”
Kalimat itu membuat kami sama-sama tertawa.
Pahit, tetapi jujur.
Kemudian Nadine mengeluarkan sebuah map.
“Ayah ingin bertemu denganmu.”
“Untuk apa?”
“Keluargaku batal masuk ke Arunika.”
Aku sudah menduganya.
“Tapi Mahardika masih tertarik pada Peta Rasa.”
Tanganku berhenti.
Nadine melanjutkan.
“Mereka tidak mau membeli Arunika lagi. Mereka mau mendanai perusahaan baru yang memiliki teknologi dan metodologi itu secara sah.”
Aku menatapnya.
“Perusahaan baru?”
“Iya.”
“Punya siapa?”
Nadine tersenyum.
“Punya kamu.”
Enam bulan kemudian, aku berdiri di sebuah kantor kecil di kawasan Kuningan.
Tidak semewah Arunika.
Hanya dua belas orang.
Tetapi namaku tertulis jelas di pintu kaca.
RASA LABS.
Mahardika Capital menjadi investor pertama kami. Keluarga Wibowo ikut sebagai mitra strategis minoritas.
Dan Nadine?
Dia menolak jabatan direktur.
Dia memilih menjadi penasihat eksternal.
Katanya kami berdua sudah cukup belajar bahwa jabatan yang diberikan terlalu cepat biasanya menyimpan harga yang tidak terlihat.
Suatu sore, sebuah paket datang ke kantor.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya ada mug hijau tua.
Mug yang retak di meja Arunika.
Seseorang rupanya mengambilnya dari tempat sampah dan memperbaikinya dengan teknik kintsugi sederhana. Garis retaknya kini terlihat jelas, berwarna keemasan.
Di bawahnya masih ada huruf R.
Ada secarik kertas.
Aku mengenali tulisan tangan Aditya.
Aku salah tentang banyak hal. Tapi satu hal yang paling kusesali adalah membuatmu percaya bahwa kamu harus disembunyikan agar bisa dicintai.
Aku membaca kalimat itu sekali.
Kemudian melipat kertasnya.
Aku tidak membalas.
Beberapa bulan sebelumnya mungkin aku akan menangis membaca permintaan maaf seperti itu.
Sekarang tidak.
Aku meletakkan mug tersebut di meja kerjaku.
Bukan sebagai kenangan tentang Aditya.
Melainkan sebagai pengingat tentang diriku sendiri.
Belakangan aku mendengar investasi Arunika akhirnya tetap berjalan, tetapi dengan valuasi jauh lebih rendah. Aditya juga mengundurkan diri dari posisi CEO setelah dewan menemukan beberapa ketidaksesuaian lain dalam dokumen perusahaan.
Aku tidak pernah mencari tahu lebih jauh.
Hidupku sudah bergerak ke tempat lain.
Pada ulang tahun pertama Rasa Labs, kami mengadakan acara kecil di rooftop kantor.
Ketika matahari Jakarta mulai tenggelam di antara gedung-gedung, Nadine berdiri di sampingku sambil membawa dua gelas minuman.
Dia menunjuk mug hijau yang sengaja kubawa ke acara itu.
“Kamu masih simpan?”
Aku mengangguk.
“Kenapa?”
Aku menyentuh garis emas yang menutup retakannya.
Dulu aku mengira benda yang retak harus dibuang karena tidak akan pernah kembali seperti semula.
Ternyata memang benar.
Ia tidak kembali seperti semula.
Ia berubah.
Dan terkadang, justru setelah retakannya terlihat, kita akhirnya tahu bagian mana yang selama ini paling kuat.
Aku tersenyum.
“Karena sekarang aku tahu, Nadine. Yang rusak tidak selalu kehilangan nilai.”
Dia mengangkat gelasnya.
“Kadang malah jadi lebih mahal.”
Kami tertawa.
Di sekeliling kami, dua belas orang yang membangun perusahaan ini sejak hari pertama sedang bercanda, memotret, dan merayakan proyek pertama kami dengan klien nasional.
Namaku tercantum di setiap dokumen yang memang kukerjakan.
Ide setiap orang diberi kredit.
Tidak ada hubungan yang harus disembunyikan.
Tidak ada perempuan yang harus dikecilkan agar seorang laki-laki terlihat lebih besar.
Dan malam itu, sambil memandang lampu-lampu Jakarta mulai menyala satu per satu, aku akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya kupahami sejak lama.
Aku tidak kehilangan seorang pria di Gunung Pancar.
Aku hanya kehilangan kebohongan yang selama dua tahun kusebut cinta.
Dan ternyata, setelah kebohongan itu hilang, hidupku justru punya cukup ruang untuk menjadi milikku sendiri.
