Suasana dapur yang biasanya terasa hangat mendadak seperti ruang asing bagiku. Tidak ada yang bergerak. Hanya suara kipas angin dari ruang tengah yang terdengar berputar pelan, sementara mangkuk berisi nasi dingin, kepala ikan, dan tulang itu tergeletak di antara aku dan ibuku seperti sebuah bukti yang tidak mungkin dibantah.
Bu Ratna menatap mangkuk itu beberapa detik, kemudian menarik napas.
“Kamu jangan langsung berpikir macam-macam, Ardi.”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu jelaskan, Bu.”

“Ibu cuma sedang mengajarinya supaya tidak boros.”
Aku hampir mengira salah dengar.
“Tidak boros?”
“Iya. Makanan masih bisa dimakan, kenapa harus dibuang? Zaman Ibu dulu, habis melahirkan juga tidak makan enak setiap hari.”
Sari menunduk. Jemarinya saling meremas di pangkuannya.
Aku menunjuk mangkuk itu.
“Ini bukan soal makan enak. Ini kepala ikan dan tulang sisa.”
“Ibu juga makan apa yang ada.”
“Benarkah?”
Pertanyaanku membuat Ibu terdiam.
Aku berdiri dan membuka lemari makanan. Di sana ada beberapa bungkus biskuit, mi instan, dan kopi. Lalu aku membuka kulkas.
Dadaku langsung terasa panas.
Ada ayam ungkep di wadah tertutup. Ada telur. Ada sayuran. Ada buah, tahu, tempe, bahkan satu kotak makanan yang sepertinya baru dibeli dari rumah makan.
Aku mengambil wadah ayam itu dan meletakkannya di meja.
“Kalau memang hanya ada makanan sisa, ini apa?”
Wajah Ibu menegang.
“Itu untuk makan malam.”
“Untuk siapa?”
“Untuk kita semua.”
Aku tertawa kecil, tetapi tidak ada sedikit pun rasa lucu di dalamnya.
Aku menoleh kepada Sari.
“Kamu tadi boleh mengambil ini?”
Sari tidak menjawab.
“Sari.”
Perlahan ia menggeleng.
Ibu langsung menyela.
“Jangan membesar-besarkan. Dia menyusui, memang harus menjaga makanan. Ibu cuma mengatur.”
“Mengatur sampai dia takut mengambil makanan dari kulkas?”
Ibu terdiam.
Aku kembali duduk di depan Sari.
“Ceritakan semuanya. Tidak usah takut.”
“Mas…”
“Aku suamimu. Kalau ada sesuatu terjadi di rumah ini, aku harus tahu.”
Air mata Sari kembali jatuh.
Awalnya ia masih berusaha melindungi Ibu. Namun setelah beberapa kali aku meyakinkannya, kalimat demi kalimat mulai keluar.
Beberapa hari setelah pulang dari tempat bersalin, Ibu mulai mengatakan bahwa Sari terlalu manja.
Menurut Ibu, perempuan setelah melahirkan tetap harus bergerak supaya tubuhnya cepat pulih.
Awalnya Sari hanya diminta melipat pakaian.
Kemudian mencuci perlengkapan bayi.
Lalu menyapu.
Beberapa hari berikutnya ia mulai diminta mengepel, mencuci piring, bahkan menjemur pakaian.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Sari menatapku dengan mata merah.
“Setiap Mas pulang, Ibu selalu membantu menggendong bayi. Jadi aku pikir Mas melihat semuanya baik-baik saja.”
Aku langsung teringat.
Benar.
Setiap aku pulang kerja, rumah selalu rapi.
Ibu biasanya sedang menggendong cucunya atau duduk di ruang tengah. Sari berada di kamar.
Aku mengira Sari sedang beristirahat.
Ternyata ia masuk kamar karena kelelahan setelah mengurus rumah hampir seharian.
“Bagaimana soal makanan?”
Sari terdiam lebih lama.
“Ibu bilang uang sembilan juta itu bukan khusus untukku.”
Aku menoleh tajam kepada Ibu.
Sari melanjutkan.
“Katanya sebagian untuk biaya rumah karena Ibu tinggal di sini untuk membantu kami. Aku tidak masalah, Mas. Aku benar-benar tidak masalah kalau Ibu membutuhkan uang.”
“Terus?”
“Tapi beberapa minggu terakhir, kalau makan siang aku biasanya diberi nasi dengan tempe atau kuah sayur. Kadang kalau lauk habis, aku disuruh makan sisanya saja.”
Aku menatap mangkuk itu.
“Seperti ini?”
Sari mengangguk.
“Kenapa kamu tadi makan terburu-buru?”
Pertanyaan itu membuatnya menangis lebih keras.
“Aku lapar.”
Dua kata itu menghantamku lebih keras daripada semua penjelasan sebelumnya.
Aku menatap istriku yang baru beberapa minggu melahirkan anak kami.
Perempuan yang setiap malam masih harus bangun berkali-kali untuk menyusui ternyata menjalani hari-harinya dalam keadaan lapar.
“Aku tadi lihat sisa nasi dan ikan di meja. Aku takut dibuang, jadi aku ambil sebelum Ibu pulang.”
Aku menutup mata sesaat.
Aku malu.
Setiap bulan aku menyerahkan uang sembilan juta rupiah dengan perasaan sudah menjadi suami yang bertanggung jawab.
Padahal tanggung jawab tidak bisa sekadar dipindahkan kepada orang lain bersama sebuah amplop.
Aku terlalu sibuk mempercayai tanpa pernah memeriksa.
Ibu tiba-tiba berkata, “Dia berlebihan. Jangan langsung percaya semua omongannya.”
Aku membuka mata.
“Bu, cukup.”
“Ardi, Ibu ini ibumu.”
“Saya tahu.”
“Lalu kamu mau membela istri sampai menyalahkan ibu sendiri?”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku mengambil ponsel.
“Mas, mau apa?” tanya Sari.
Aku membuka aplikasi mobile banking.
Selama ini aku mentransfer sembilan juta setiap awal bulan ke rekening Ibu. Selain itu, kebutuhan rumah seperti listrik, air, susu bayi, popok, dan belanja mingguan sebagian besar tetap kubayar sendiri.
Artinya sembilan juta itu memang hampir sepenuhnya dimaksudkan untuk membantu kebutuhan Sari dan sebagai kompensasi karena Ibu bersedia tinggal bersama kami.
“Bu, uang bulan ini masih ada?”
Ibu mengalihkan pandangan.
“Ya dipakai.”
“Untuk apa?”
“Kebutuhan.”
“Kebutuhan apa?”
“Macam-macam.”
“Berapa yang tersisa?”
Ibu mulai meninggikan suara.
“Kamu sekarang menginterogasi ibu sendiri hanya gara-gara istrimu mengadu?”
Sari langsung berkata, “Mas, sudah. Jangan bertengkar.”
Aku mengangkat tangan pelan.
“Tidak, Sar. Kita harus menyelesaikannya.”
Aku kembali menatap Ibu.
“Bu, saya tidak pernah meminta laporan karena saya percaya. Tapi sekarang saya bertanya. Sembilan juta itu digunakan untuk apa?”
Ibu tetap tidak menjawab.
Aku kemudian teringat sesuatu.
Beberapa minggu terakhir, adikku, Rina, beberapa kali mengunggah foto barang-barang baru. Ponsel baru. Tas baru. Bahkan ia pernah bercerita sedang mencicil motor.
Aku tidak pernah menghubungkannya dengan apa pun.
Sampai saat itu.
“Apakah uang itu diberikan kepada Rina?”
Wajah Ibu berubah.
Aku langsung tahu jawabannya.
“Berapa?”
“Dia adikmu.”
“Berapa, Bu?”
“Dia sedang kesulitan.”
“Berapa?”
Ibu akhirnya menjawab lirih.
“Lima juta.”
Aku terdiam.
“Setiap bulan?”
Ibu tidak menjawab.
Aku mengambil ponsel dan menelepon Rina.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua baru diangkat.
“Kenapa, Mas?”
“Uang lima juta yang Ibu kasih tiap bulan ke kamu itu uang apa?”
Hening.
“Mas tahu dari siapa?”
“Jawab.”
Rina menarik napas.
“Ibu bilang itu uang yang Mas kasih untuk Ibu.”
Aku memejamkan mata.
“Sudah berapa bulan?”
“Dua bulan.”
Sari menatapku.
Aku mengakhiri telepon tanpa berkata banyak.
Ibu mulai menangis.
“Ibu cuma membantu adikmu. Suaminya sedang banyak utang. Masa Ibu diam saja?”
Aku menatapnya lama.
“Kalau Ibu mau membantu Rina, kenapa tidak bilang kepada saya?”
“Kamu pasti tidak kasih.”
“Jadi Ibu mengambil uang untuk istri saya?”
“Itu uang yang kamu berikan kepada Ibu!”
“Untuk merawat Sari.”
Suaraku akhirnya meninggi.
Bayi di kamar tiba-tiba menangis.
Sari refleks berdiri, tetapi aku menahannya.
“Kamu duduk. Aku yang ambil.”
Aku masuk ke kamar dan mengangkat putraku dari tempat tidur kecilnya.
Saat itulah aku melihat sesuatu di samping kasur.
Sebuah kantong plastik berisi roti tawar.
Aku membawanya keluar.
“Ini apa?”
Sari terlihat malu.
“Kalau malam lapar, aku makan itu.”
Aku tidak sanggup berkata apa-apa selama beberapa detik.
Aku menyerahkan bayi kepada Sari, lalu mengambil kunci mobil.
Ibu menatapku.
“Kamu mau ke mana?”
“Membeli makan untuk istri saya.”
Aku membawa pulang sup ayam, ikan, sayur, buah, dan beberapa makanan lain. Aku duduk menemani Sari makan.
Ia makan perlahan kali ini.
Tidak terburu-buru.
Namun setiap kali mengambil lauk, ia masih seperti ragu.
“Ambil saja,” kataku.
“Aku sudah kenyang.”
“Kamu baru makan sedikit.”
Sari tersenyum tipis.
“Aku sudah terbiasa.”
Kalimat itu membuat tenggorokanku tercekat.
Malam itu aku tidak langsung mengambil keputusan.
Aku menunggu sampai bayi tidur.
Kemudian aku mengajak Ibu bicara di ruang tengah.
Aku mengatakan bahwa mulai hari berikutnya, Ibu tidak perlu lagi mengurus Sari.
Aku sudah menghubungi seorang kerabat dari pihak Sari yang bersedia datang beberapa hari, sementara aku mengajukan cuti kerja dan mencari bantuan rumah tangga harian.
Ibu langsung berdiri.
“Jadi kamu mengusir Ibu?”
“Saya tidak mengusir.”
“Lalu apa namanya?”
“Saya meminta Ibu pulang ke rumah Ibu.”
Wajahnya berubah.
“Hanya karena perempuan itu?”
Aku menggeleng.
“Bukan karena Sari. Karena apa yang Ibu lakukan.”
“Ibu membesarkanmu sendirian setelah ayahmu meninggal. Sekarang setelah menikah, kamu memilih istrimu dan membuang ibu?”
Kalimat itu hampir menggoyahkanku.
Hampir.
Aku masih mengingat semua pengorbanannya.
Namun kemudian aku melihat Sari dari kejauhan, duduk di tepi tempat tidur sambil menyusui anak kami dengan wajah pucat.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Berbakti kepada ibu tidak berarti membiarkan ibu menyakiti istriku.
“Bu, saya tetap anak Ibu. Saya tetap akan membantu kebutuhan Ibu seperti sebelumnya. Tapi saya tidak bisa membiarkan Ibu tinggal di sini setelah kejadian ini.”
Ibu menangis.
Ia menelepon Rina.
Tidak sampai satu jam, adikku datang bersama suaminya.
Seperti yang kuduga, suasana menjadi kacau.
Rina menuduh Sari memecah keluarga.
“Cuma gara-gara nasi sisa, Mas sampai mengusir Ibu?”
Aku menatapnya.
“Kalau menurutmu ini cuma nasi sisa, kembalikan sepuluh juta yang kamu terima dari Ibu.”
Rina langsung terdiam.
Suaminya menoleh kepadanya.
“Sepuluh juta apa?”
Rupanya suaminya bahkan tidak tahu.
Pertengkaran baru hampir terjadi.
Namun aku sudah terlalu lelah.
“Aku tidak akan memperpanjang ini. Uang itu tidak perlu dikembalikan sekaligus. Tapi mulai sekarang, jangan pernah meminta uang kepada Ibu dengan mengandalkan uang yang kukirim untuk kebutuhan lain.”
Ibu memandangku dengan kecewa.
Malam itu Rina membawa Ibu pulang.
Aku mengira semuanya selesai.
Ternyata belum.
Dua hari kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Pengirimnya adalah tetangga Ibu.
Ia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
Selama beberapa bulan terakhir, ternyata Ibu sering bercerita bahwa aku memberikan sembilan juta setiap bulan karena Sari “terlalu malas mengurus rumah”.
Di lingkungan keluarga besar, ceritanya bahkan berbeda lagi.
Ibu mengatakan bahwa uang itu adalah gaji yang kuberikan kepadanya karena Sari tidak mampu menjadi istri.
Aku akhirnya memahami mengapa beberapa kerabat belakangan bersikap dingin kepada Sari.
Aku menunjukkan pesan itu kepada istriku.
Namun reaksinya justru membuatku terkejut.
“Jangan balas apa-apa, Mas.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kita sibuk menjelaskan kepada semua orang, hidup kita tidak akan selesai.”
Aku menatapnya.
Sari tersenyum lemah.
“Aku cuma ingin sembuh, mengurus anak kita, dan hidup tenang.”
Saat itulah aku sadar bahwa perempuan yang selama ini kukira terlalu lemah untuk melawan justru jauh lebih kuat daripada kami semua.
Sebulan kemudian, keadaan rumah berubah.
Aku mengurangi lembur.
Kami mempekerjakan seorang asisten rumah tangga paruh waktu. Semua pengeluaran rumah tangga kami kelola bersama.
Yang paling penting, aku tidak lagi bertanya kepada Sari hanya dengan kalimat, “Kamu baik-baik saja?”
Aku belajar bertanya lebih sungguh-sungguh.
“Kamu sudah makan?”
“Kamu capek?”
“Apa yang bisa aku bantu?”
Hubunganku dengan Ibu belum sepenuhnya pulih.
Aku tetap mengirim uang untuk kebutuhan pribadinya, tetapi jumlah dan tujuannya jelas.
Aku juga tidak memutus hubungan antara Ibu dan cucunya.
Namun ada batas yang tidak lagi kubiarkan siapa pun melewatinya.
Tiga bulan kemudian, Ibu datang ke rumah.
Tubuh Sari sudah jauh lebih sehat.
Ketika pintu dibuka, Ibu berdiri membawa sebuah rantang.
Tidak ada Rina.
Tidak ada kerabat lain.
Hanya Ibu.
“Ada Sari?”
Aku mengangguk.
Sari keluar dari kamar.
Untuk beberapa saat kedua perempuan itu hanya saling memandang.
Kemudian Ibu membuka rantang.
Di dalamnya ada sup ikan, sayur bening, ayam, dan buah potong.
“Aku tidak tahu kamu masih mau makan masakan Ibu atau tidak.”
Sari tidak menjawab.
Ibu menunduk.
Lalu untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu, aku mendengar ibuku mengatakan sesuatu yang tidak pernah kusangka akan keluar dari mulutnya.
“Ibu salah.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ibu dulu hidup susah. Setelah melahirkan Ardi, Ibu juga tetap bekerja, makan seadanya, tidak ada yang membantu. Entah sejak kapan Ibu mulai berpikir karena Ibu pernah menderita, perempuan lain juga harus kuat dengan cara yang sama.”
Sari menangis tanpa suara.
Ibu melanjutkan.
“Ternyata penderitaan bukan warisan yang harus diteruskan.”
Tidak ada pelukan dramatis hari itu.
Tidak ada maaf yang langsung menghapus semuanya.
Sari hanya menerima rantang tersebut dan berkata pelan, “Terima kasih, Bu.”
Bagiku, itu sudah cukup untuk menjadi awal.
Malamnya, setelah Ibu pulang, aku menemukan Sari duduk di meja makan.
Di depannya ada semangkuk nasi hangat dan sup ikan buatan Ibu.
Aku duduk di sebelahnya.
Sari tersenyum.
Kemudian ia mengambil sepotong daging ikan dan meletakkannya di piringku.
Aku spontan berkata, “Kamu saja. Kamu harus banyak makan.”
Ia tertawa kecil.
“Sekarang makanannya cukup untuk kita berdua.”
Aku terdiam mendengar kalimat itu.
Beberapa bulan sebelumnya, aku pulang tanpa memberi kabar dan menemukan istriku bersembunyi di dapur, memakan nasi dingin bersama kepala ikan dan tulang karena takut makanan itu keburu dibuang.
Hari itu aku mengira masalah terbesar dalam keluargaku adalah sembilan juta rupiah yang disalahgunakan.
Ternyata bukan.
Masalah terbesar adalah aku merasa sudah menjalankan tanggung jawab hanya karena sudah memberikan uang.
Padahal keluarga tidak hanya membutuhkan biaya.
Keluarga membutuhkan kehadiran.
Kepercayaan memang penting, tetapi perhatian jauh lebih penting.
Sebab terkadang orang yang paling kita sayangi tidak mengatakan bahwa dirinya sedang terluka.
Bukan karena lukanya kecil.
Melainkan karena ia terlalu takut kejujurannya akan menghancurkan keluarga.
Dan sejak hari itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan lagi menunggu sebuah mangkuk berisi nasi sisa untuk menyadari bahwa seseorang di rumahku sedang membutuhkan pertolongan.
