Saat Adik Laki-Lakiku dan Istrinya Tinggal Sementara di Rumah Kami, Setiap Malam Aku Melihat Istrinya Membawa Selimut dan Bantal ke Kamar Kami untuk Tidur di Sana…

Saat Adik Laki-Lakiku dan Istrinya Tinggal Sementara di Rumah Kami, Setiap Malam Aku Melihat Istrinya Membawa Selimut dan Bantal ke Kamar Kami untuk Tidur di Sana…

Sejak adik laki-lakiku, Ardi, dan istrinya, Nisa, tinggal sementara di rumah kami di Bandung, ada satu hal yang benar-benar tidak bisa kupahami.

Hampir setiap malam, Nisa mengetuk pintu kamar kami sambil membawa selimut dan bantal.

Dia tidak tidur di sofa.

Dia juga tidak tidur di lantai atau di sisi tempat tidur.

Dia justru tidur tepat di tengah-tengah aku dan suamiku, Reza.

Pada malam pertama, kupikir mungkin dia hanya belum terbiasa berada di rumah orang lain.

“Tidak apa-apa, Nisa. Tidur di sini dulu kalau kamu merasa lebih nyaman,” kataku.

Dia tersenyum, tetapi senyumnya terlihat dipaksakan.

Keesokan malamnya, hal yang sama terjadi lagi.

Begitu juga malam berikutnya.

Memasuki malam keempat, akhirnya aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.

Saat dia meletakkan bantal di antara aku dan Reza, aku bertanya kepadanya.

“Nisa, kenapa kamu harus tidur tepat di tengah-tengah kami?”

Dia langsung terdiam.

Sesaat dia menatapku, lalu mengalihkan pandangan. Matanya tampak merah, seperti seseorang yang sudah beberapa malam tidak mendapatkan tidur cukup.

“Aku merasa lebih tenang kalau tidur di tengah, Kak.”

“Kenapa?”

Dia menggigit bibirnya sebentar.

“Waktu kecil di kampung, aku takut tidur di tempat yang tidak kukenal. Aku terbiasa tidur ditemani seseorang.”

Ada sesuatu yang terasa aneh dari jawabannya.

Hanya saja aku belum bisa memahami apa.

Ardi dan Nisa adalah pasangan yang baru menikah. Baru sekitar empat bulan mereka menjadi suami istri dan untuk sementara tinggal bersama kami sambil menunggu rumah kontrakan mereka di Cimahi siap ditempati.

Katanya, mereka hanya akan tinggal sekitar tiga minggu.

Jadi ketika adikku meminta bantuan, aku sama sekali tidak keberatan.

“Anggap saja rumah sendiri,” kataku saat itu.

Namun semakin lama mereka tinggal bersama kami, semakin banyak hal yang kuperhatikan dari Nisa.

Pada siang hari, dia terlihat ceria.

Dia membantu Ibu di dapur, mengobrol denganku saat kami mencuci piring, dan sesekali kami pergi berbelanja ke pasar bersama.

Namun setiap matahari mulai tenggelam, sikapnya berubah.

Dia menjadi pendiam.

Berkali-kali memeriksa ponselnya.

Dan setiap kali mendengar Ardi memanggilnya dari kamar mereka, tubuhnya seperti refleks menegang.

Dia akan langsung menoleh.

Seolah terkejut.

Atau mungkin takut.

Aku sendiri tidak tahu.

Yang kutahu, begitu waktu tidur tiba, tidak lama kemudian aku akan kembali mendengar ketukan di pintu.

“Kak, malam ini aku tidur di sini lagi, ya?”

Awalnya kubiarkan.

Sampai akhirnya hal itu terjadi setiap malam.

Memasuki malam kesembilan, bahkan Ibu mulai bertanya.

“Nak, kenapa Nisa selalu tidur di kamar kalian? Bukankah suaminya ada di sini?”

Aku tidak langsung menjawab.

Karena sebenarnya aku juga memiliki pertanyaan yang sama.

Malam itu, sebelum Nisa sempat membentangkan selimutnya, aku mengajaknya bicara.

“Nisa, kalau kamu memang tidak bisa tidur di kamar kalian, bagaimana kalau untuk sementara tidur bersama Ibu?”

Dia langsung menggeleng cepat.

“Nanti Ibu malah tidak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Aku mendengkur cukup keras, Kak.”

Aku menatapnya cukup lama.

Aku ingin mengatakan bahwa selama beberapa malam terakhir aku sendiri juga tidak bisa tidur dengan nyaman karena kami bertiga harus berbagi tempat tidur.

Namun sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Reza lebih dulu berbicara.

“Biarkan saja dulu.”

Aku langsung menoleh kepadanya.

“Sampai kapan?”

“Cuma sementara. Memang agak sempit, tapi tidak masalah.”

“Justru itu, Reza. Ini sudah terlalu sempit.”

“Mungkin tetap lebih baik daripada dia tidak bisa tidur karena ketakutan.”

Aku tidak menyukai jawabannya.

Dan aku semakin tidak nyaman ketika melihat Nisa hanya menunduk sambil diam-diam merapikan selimutnya.

Seolah mereka berdua mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui.

Namun aku memilih diam.

Aku tidak ingin menciptakan masalah jika sebenarnya memang tidak ada masalah.

Lagi pula, Ardi adalah adikku.

Nisa adalah istrinya.

Reza adalah suamiku.

Memangnya apa yang mungkin terjadi?

Itulah kalimat yang terus kuulang dalam hati.

Sampai malam ketiga belas.

Sekitar pukul setengah tiga dini hari, aku terbangun karena mendengar suara benturan kecil.

Tok.

Mataku langsung terbuka.

Suara itu bukan berasal dari jendela. Aku sudah memastikan jendela tertutup rapat sebelum kami tidur.

Bukan pula suara kendaraan dari jalan.

Setelah itu, seluruh kamar tiba-tiba menjadi sangat sunyi.

Begitu sunyi sampai suara detik jam tua di dinding terdengar jelas.

Tik.

Tik.

Tik.

Aku tidak langsung bergerak.

Aku hanya mendengarkan.

Terdengar suara napas pelan di sampingku.

Kemudian seseorang berbisik.

Aku tidak bisa memahami seluruh perkataannya, tetapi aku mengenali suara itu.

Nisa.

Perlahan aku membuka mata sepenuhnya.

Aku membiarkan pandanganku menyesuaikan diri dengan kegelapan.

Lalu aku menyadari sesuatu.

Nisa sudah tidak berada dalam posisi tidurnya seperti biasanya.

Sekarang dia berbaring menyamping dan menghadap Reza.

Dan suamiku ternyata juga masih terjaga.

Nisa sedang membisikkan sesuatu kepadanya.

Cepat.

Pelan.

Nyaris tidak terdengar olehku.

Sementara Reza tampak berusaha memintanya tetap tenang.

Jantungku langsung berdetak semakin cepat.

Aku tidak tahu apakah perasaan itu adalah rasa cemburu.

Kemarahan.

Atau justru firasat yang jauh lebih buruk, bahwa selama beberapa malam terakhir ada sesuatu yang terjadi di dalam rumahku sendiri dan hanya aku yang tidak mengetahuinya.

Perlahan aku bangkit.

Aku tidak menyalakan lampu.

Aku juga tidak mengatakan apa pun.

Aku hanya menatap mereka berdua di tengah kegelapan.

Nisa dan suamiku, Reza.

“Apa yang kalian bicarakan?”

Suaraku membuat keduanya tersentak.

Nisa langsung duduk. Reza buru-buru menyalakan lampu tidur.

Wajah Nisa pucat.

“Aku tanya sekali lagi. Kalian sedang membicarakan apa?”

Reza menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca.

“Rani, jangan salah paham.”

Kalimat itu justru membuat darahku mendidih.

“Kalau memang tidak ada yang perlu disalahpahami, kenapa kalian berbisik jam setengah tiga pagi saat mengira aku sedang tidur?”

Nisa mulai menangis.

“Kak, bukan seperti yang Kakak pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

Dia membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Tiba-tiba terdengar bunyi dari luar kamar.

Tok.

Kali ini lebih keras.

Nisa langsung mencengkeram lengan Reza.

Wajahnya berubah pucat.

“Dia datang.”

Aku menatapnya.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara gagang pintu kamar tamu diputar dari luar.

Kamar itu adalah kamar Ardi dan Nisa.

Reza segera berdiri.

Dia membuka pintu kamar kami sedikit dan mengintip ke lorong.

Aku ikut berdiri di belakangnya.

Lampu lorong mati, tetapi cahaya dari kamar kami cukup untuk memperlihatkan seseorang berdiri di ujung koridor.

Ardi.

Adikku berdiri tanpa alas kaki sambil memegang ponsel.

Wajahnya kosong.

“Masuk kamar, Nis,” katanya.

Nada suaranya datar.

Nisa justru mundur.

“Enggak.”

Ardi tersenyum tipis.

“Kamu istriku.”

Reza melangkah ke depan.

“Di, besok kita bicara.”

“Aku enggak bicara sama kamu.”

Ardi menatap Nisa.

“Masuk.”

Aku belum pernah melihat adikku seperti itu.

Ardi yang kukenal selalu mudah tertawa. Sejak kecil dia bahkan jarang meninggikan suara.

Namun malam itu tatapannya membuat tengkukku merinding.

“Ardi,” kataku, “ada apa sebenarnya?”

Dia menoleh kepadaku.

“Kakak jangan ikut campur urusan rumah tanggaku.”

Saat itulah Nisa tiba-tiba berkata dengan suara bergetar.

“Aku enggak mau lagi.”

Ardi terdiam.

“Aku sudah bilang, aku enggak mau lagi.”

Kemudian Nisa mengangkat lengan bajunya.

Di bawah cahaya lampu, aku melihat beberapa bekas memar berwarna kebiruan di lengannya.

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Nisa…”

“Maaf, Kak.”

Air matanya jatuh.

“Aku bohong.”

Dia mengatakan bahwa alasan sebenarnya dia tidur bersama kami bukan karena takut berada di tempat asing.

Dia takut tidur bersama suaminya sendiri.

Semuanya bermula sekitar sebulan setelah pernikahan.

Ardi mulai menjadi sangat posesif.

Awalnya hanya memeriksa ponsel.

Lalu melarang Nisa berbicara dengan beberapa teman laki-laki.

Setelah itu dia mulai menentukan pakaian apa yang boleh dikenakan Nisa, siapa yang boleh ditemui, bahkan berapa lama dia boleh berada di luar rumah.

Setiap kali Nisa membantah, Ardi marah.

Tidak selalu memukul.

Kadang justru lebih buruk.

Dia membentak Nisa berjam-jam, mengunci pintu, mengambil ponselnya, lalu memaksanya meminta maaf untuk kesalahan yang bahkan tidak dilakukan.

Beberapa kali, kemarahannya berubah menjadi kekerasan fisik.

“Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?” tanyaku sambil menangis.

Nisa menunduk.

“Karena dia adik Kakak.”

Jawaban itu menghancurkanku.

“Dan aku takut Kakak enggak percaya.”

Aku menatap Ardi.

“Benar?”

Ardi tertawa pendek.

“Kalian percaya begitu saja?”

“Memarnya dari mana?”

“Dia gampang memar.”

Nisa langsung mengeluarkan ponselnya.

Tangannya gemetar saat membuka sebuah folder.

Ada foto.

Ada rekaman suara.

Ada tangkapan layar percakapan.

Aku tidak sanggup melihat semuanya.

Ternyata Nisa sudah mengumpulkan bukti selama berminggu-minggu.

Lalu aku teringat sesuatu.

“Reza sudah tahu?”

Suamiku menunduk.

“Sejak malam kelima.”

Aku menatapnya dengan marah.

“Kamu tahu selama ini?”

“Nisa memintaku merahasiakannya.”

“Kenapa?”

Nisa menjawab.

“Aku takut kalau Kakak langsung menegur Ardi, dia akan membawa aku pergi malam itu juga. Aku belum punya tempat aman.”

Barulah aku memahami semuanya.

Mengapa Reza selalu membiarkan Nisa tidur di kamar kami.

Mengapa dia tidak pernah mengeluh meskipun tempat tidur menjadi sempit.

Dan mengapa Nisa selalu tidur tepat di tengah-tengah kami.

Bukan karena dia ingin dekat dengan Reza.

Bukan pula karena ada hubungan tersembunyi.

Dia memilih posisi itu karena itulah tempat yang menurutnya paling aman.

Di antara dua orang yang bisa melindunginya.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Tiba-tiba Ibu muncul dari kamar.

“Ada apa ini?”

Ardi segera mendekatinya.

“Bu, Nisa memfitnah Ardi.”

Nisa gemetar lagi.

Aku tahu dia takut Ibu akan membela anak laki-lakinya.

Bagaimanapun, Ardi adalah anak bungsu dan sejak kecil paling dimanjakan.

Namun Ibu hanya menatap wajah Nisa.

Kemudian pandangannya jatuh pada lengannya yang penuh memar.

Wajah Ibu berubah.

“Ini kamu yang lakukan?”

“Bu, dengarkan dulu.”

Ibu menampar Ardi.

Suara tamparan itu menggema di lorong.

Kami semua terdiam.

“Perempuan itu meninggalkan orang tuanya untuk hidup bersamamu,” kata Ibu dengan suara gemetar. “Bukan untuk kamu sakiti.”

“Bu…”

“Jangan panggil Ibu kalau kamu masih merasa perbuatanmu benar.”

Ardi tampak kehilangan kata-kata.

Malam itu juga kami meminta Ardi tidur di ruang depan, sementara Nisa tetap bersama kami.

Namun menjelang subuh, sesuatu terjadi.

Ardi menghilang.

Motornya tidak ada.

Beberapa pakaiannya juga sudah dibawa.

Aku panik karena takut dia melakukan sesuatu yang nekat.

Tetapi Reza justru menunjukkan pesan yang baru masuk ke ponselnya.

Ardi menulis bahwa dia akan pergi ke rumah seorang teman.

Dia juga menuduh kami telah menghancurkan rumah tangganya.

Aku hampir membalas pesan itu dengan kemarahan.

Namun Nisa menahan tanganku.

“Jangan, Kak.”

Dia terlihat jauh lebih tenang.

Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah kami, wajahnya tidak menunjukkan ketakutan.

“Aku sudah selesai.”

Pagi itu, Nisa akhirnya menghubungi kakak perempuannya di Garut dan menceritakan semuanya.

Siangnya, kakaknya datang menjemput.

Sebelum pergi, Nisa memelukku lama sekali.

“Maaf karena sudah merepotkan.”

Aku menggeleng.

“Kamu tidak pernah merepotkan.”

Dia tersenyum sambil menangis.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.

“Kadang orang yang sedang ketakutan tidak langsung meminta tolong, Kak. Mereka cuma berusaha mencari tempat paling aman untuk bertahan satu malam lagi.”

Beberapa minggu kemudian, Nisa memutuskan berpisah dari Ardi.

Keluarganya mendampinginya untuk mengambil langkah hukum dan memastikan dia tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.

Ardi sempat marah kepada seluruh keluarga.

Dia menyalahkan Nisa.

Menyalahkan Reza.

Menyalahkanku.

Bahkan menyalahkan Ibu.

Tetapi untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang membenarkan perilakunya hanya karena dia bagian dari keluarga.

Berbulan-bulan kemudian, Ardi akhirnya datang menemui Ibu.

Tubuhnya lebih kurus.

Wajahnya tidak lagi penuh kemarahan seperti malam itu.

Dia duduk lama di ruang tamu sebelum akhirnya berkata pelan.

“Bu, Ardi butuh bantuan.”

Ternyata setelah tinggal sendiri, dia mulai mengikuti konseling.

Bukan untuk mendapatkan Nisa kembali.

Ibu sudah menegaskan bahwa Nisa tidak berutang kesempatan kedua kepadanya.

Dia melakukannya karena akhirnya menyadari ada sesuatu dalam dirinya yang harus berubah.

Aku tidak tahu apakah Ardi suatu hari akan benar-benar menjadi orang yang berbeda.

Beberapa luka tidak selesai hanya dengan permintaan maaf.

Dan perubahan tidak bisa dibuktikan lewat kata-kata.

Hanya waktu dan tindakan yang dapat menunjukkannya.

Sementara itu, Nisa memulai kehidupannya kembali.

Dia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan kecil di Bandung dan memilih tinggal bersama kakaknya untuk sementara.

Suatu sore, sekitar enam bulan setelah malam itu, dia datang mengunjungi kami.

Dia membawa sekotak brownies.

Kami mengobrol sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sepuluh, aku bercanda kepadanya.

“Mau bawa bantal ke kamar kami lagi?”

Nisa tertawa.

Bukan senyum kecil yang dipaksakan seperti dulu.

Benar-benar tertawa.

“Enggak, Kak. Sekarang aku sudah berani tidur sendiri.”

Aku ikut tertawa, tetapi mataku terasa panas.

Malam itu, setelah Nisa pulang, aku masuk ke kamar dan melihat bagian tengah tempat tidur kami.

Dulu aku sempat membenci tempat itu.

Aku mengira seorang perempuan lain sedang memasuki ruang yang seharusnya hanya menjadi milikku dan suamiku.

Aku bahkan hampir membiarkan kecemburuan membuatku menuduh dua orang yang sebenarnya sedang berusaha menyembunyikan sebuah ketakutan besar.

Namun sekarang aku memahami sesuatu.

Selama tiga belas malam itu, Nisa tidak pernah benar-benar datang ke kamar kami karena membutuhkan tempat untuk tidur.

Dia datang karena membutuhkan saksi.

Dia membutuhkan seseorang yang berada cukup dekat sehingga jika sesuatu terjadi, ada orang yang akan mendengar teriakannya.

Dan ternyata Reza juga baru mengungkapkan satu hal yang selama ini tidak kuketahui.

Pada malam kelima, ketika Nisa pertama kali menceritakan semuanya kepadanya, Reza sebenarnya menyarankan agar dia segera memberitahuku.

Namun Nisa menolak.

“Bukan karena aku tidak percaya Kak Rani,” katanya kepada Reza saat itu. “Justru karena aku tahu dia sangat menyayangi adiknya. Aku takut kenyataan ini akan menghancurkannya.”

Aku menangis ketika mendengarnya.

Karena selama ini aku sibuk bertanya mengapa Nisa tidak mempercayaiku.

Padahal sebenarnya, dia sedang berusaha melindungi perasaanku ketika dirinya sendiri bahkan tidak merasa aman.

Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi memandang permintaan pertolongan dengan cara yang sama.

Tidak semua orang yang membutuhkan bantuan akan datang sambil menangis dan berkata bahwa dirinya sedang dalam bahaya.

Ada yang tiba-tiba lebih pendiam.

Ada yang mencari alasan untuk tidak pulang.

Ada yang selalu ingin ditemani.

Dan ada pula yang setiap malam membawa selimut serta bantal, lalu tidur tepat di tengah-tengah tempat tidur orang lain.

Kadang perilaku yang terlihat paling aneh justru merupakan satu-satunya cara seseorang mengatakan sesuatu yang tidak sanggup diucapkannya dengan kata-kata.

Tolong aku.

Aku takut.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang