MENANTU PEREMPUAN YANG BARU SEHARI MENIKAH BELUM JUGA TURUN MESKI JAM SUDAH MENUNJUKKAN PUKUL SEPULUH PAGI. KARENA KESAL, SANG IBU MERTUA NAIK KE LANTAI ATAS UNTUK MEMBANGUNKANNYA. NAMUN, BEGITU IA MENYINGKAP SELIMUT, SELURUH KEKESALANNYA SEKETIKA LENYAP.

Bu Ratna tidak pernah menyangka bahwa pagi pertama setelah putranya menikah akan menjadi pagi yang membuatnya mempertanyakan semua penilaiannya terhadap Laras.

Beberapa menit sebelumnya, ia masih menaiki tangga sambil menggerutu karena menantunya belum juga bangun meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Namun sekarang, melihat Laras terbaring pucat dengan noda kemerahan di seprai, satu-satunya hal yang dirasakannya hanyalah ketakutan.

“Laras, dengar Ibu?” tanyanya sambil menepuk lembut pipi perempuan muda itu.

Laras membuka mata, tetapi tatapannya tidak fokus.

“Bu… jangan marah sama Raka.”

Bu Ratna tertegun.

“Kenapa Ibu harus marah sama Raka?”

Laras tidak menjawab.

Kelopak matanya kembali menutup.

Bu Ratna langsung panik.

“Laras! Nak, buka matamu!”

Ia meraih ponsel di meja dan menelepon Raka. Sejak subuh, putranya memang sudah keluar rumah untuk mengembalikan perlengkapan pesta yang mereka sewa.

Telepon pertama tidak diangkat.

Telepon kedua juga tidak.

Bu Ratna semakin gelisah.

Akhirnya ia menelepon tetangganya, Pak Dedi, dan meminta bantuan. Tak sampai sepuluh menit, sebuah mobil sudah berhenti di depan rumah.

Bu Ratna dan Pak Dedi membawa Laras ke rumah sakit terdekat.

Sepanjang perjalanan, Bu Ratna terus menggenggam tangan menantunya.

“Bertahan sebentar lagi, Nak. Kita hampir sampai.”

Laras hanya mengangguk sangat pelan.

Setibanya di IGD, perawat segera membawa Laras masuk. Bu Ratna berdiri di depan pintu dengan napas tidak teratur. Bayangan noda di seprai terus berputar dalam pikirannya.

Tak lama kemudian, Raka akhirnya menelepon.

“Ibu telepon berkali-kali? Ada apa?”

“Ke rumah sakit sekarang.”

Suara Raka langsung berubah.

“Rumah sakit? Siapa yang sakit?”

“Laras.”

Beberapa detik tidak terdengar suara.

Kemudian Raka bertanya dengan nada panik, “Laras kenapa?”

“Ibu juga belum tahu. Cepat ke sini.”

Raka tiba sekitar dua puluh menit kemudian. Kemejanya basah oleh keringat, rambutnya berantakan.

“Bu, Laras di mana?”

“Masih diperiksa.”

Raka langsung berjalan menuju pintu IGD, tetapi seorang perawat menahannya.

“Mohon menunggu, Pak.”

Raka berdiri kaku.

Bu Ratna memperhatikannya.

Ada sesuatu yang aneh pada wajah putranya. Bukan hanya khawatir. Ada ketakutan lain yang jauh lebih dalam.

“Raka.”

Putranya menoleh.

“Tadi Laras bilang jangan marah sama kamu.”

Wajah Raka seketika pucat.

Bu Ratna semakin curiga.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Tidak ada, Bu.”

“Jangan bohong.”

Raka menunduk.

Sebelum ia sempat menjawab, seorang dokter keluar.

“Keluarga Ibu Laras?”

Mereka berdua langsung berdiri.

“Saya ibunya,” jawab Bu Ratna spontan.

Raka menatapnya sekilas, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Dokter menjelaskan bahwa Laras mengalami kelelahan berat, tekanan darahnya turun, dan tubuhnya kekurangan cairan. Perdarahan yang terjadi juga harus dipantau.

“Apakah kondisinya berbahaya, Dok?”

“Untuk saat ini stabil. Tapi kami perlu melakukan pemeriksaan lanjutan.”

Bu Ratna mengembuskan napas lega.

Namun dokter kemudian menatap Raka.

“Pasien mengatakan semalam sudah merasa tidak enak badan. Apakah sebelumnya ada keluhan?”

Raka terdiam.

Bu Ratna langsung menoleh.

“Semalam dia sudah sakit?”

Raka menggigit bibir.

“Dia bilang pusing.”

“Lalu?”

“Saya kira cuma capek.”

“Cuma capek?”

Suara Bu Ratna meninggi.

Beberapa orang di ruang tunggu menoleh.

Raka mengusap wajah.

“Bu, Laras memang sudah kelihatan lemas sejak acara sore. Saya sudah suruh dia istirahat.”

“Tapi?”

“Dia tidak mau.”

“Kenapa?”

Raka tidak menjawab.

Dokter akhirnya meminta mereka menunggu karena Laras masih membutuhkan pemeriksaan.

Setelah dokter pergi, Bu Ratna kembali menatap putranya.

“Sekarang ceritakan semuanya.”

Raka duduk perlahan.

“Laras sebenarnya ingin membatalkan resepsi kemarin.”

Bu Ratna merasa seperti salah dengar.

“Apa?”

“Dua hari sebelum menikah, dia sempat bilang badannya tidak enak. Dia ingin resepsi dibuat lebih sederhana atau ditunda.”

“Kenapa Ibu tidak tahu?”

Raka terdiam cukup lama.

“Karena saya yang minta dia jangan bilang.”

Bu Ratna menatap putranya tidak percaya.

“Kamu?”

“Semuanya sudah dibayar, Bu. Gedung, katering, dekorasi. Keluarga sudah datang. Saya pikir Laras cuma gugup.”

Bu Ratna merasakan kemarahan naik ke dadanya.

“Jadi kamu tahu istrimu tidak sehat, tapi tetap membiarkan dia berdiri berjam-jam?”

“Saya tidak tahu kondisinya akan separah ini.”

“Karena kamu tidak mau mendengarkan!”

Raka menunduk.

Bu Ratna ingin terus memarahinya, tetapi tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Kemarin, beberapa jam sebelum akad, Laras memang sempat duduk sendirian di kamar. Wajahnya pucat.

Bu Ratna bahkan sempat berkata, “Jangan murung begitu, Laras. Banyak tamu sudah datang. Pengantin harus kelihatan bahagia.”

Laras saat itu hanya tersenyum.

“Baik, Bu.”

Mengingatnya sekarang membuat dada Bu Ratna terasa sesak.

Ternyata bukan hanya Raka yang tidak mendengarkan.

Dirinya juga.

Beberapa jam kemudian, Bu Ratna diperbolehkan masuk.

Laras terbaring dengan infus di tangan.

“Bu…”

Bu Ratna duduk di sampingnya.

“Kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau sakit?”

Laras tersenyum lemah.

“Saya sudah bilang ke Raka.”

“Ibu maksud kenapa tidak bilang ke Ibu?”

Laras diam sejenak.

“Saya takut Ibu kecewa.”

Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada tuduhan apa pun.

“Kenapa kamu takut sama Ibu?”

Mata Laras mulai berkaca-kaca.

“Sejak awal saya tahu Ibu menginginkan menantu yang cekatan. Raka sering cerita Ibu selalu bangun sebelum subuh, rumah selalu bersih, semuanya dikerjakan sendiri. Saya ingin Ibu merasa Raka tidak salah memilih istri.”

Bu Ratna tercekat.

“Jadi kamu memaksakan diri karena itu?”

Laras mengangguk.

“Waktu Ibu bilang pengantin harus tetap tersenyum karena tamu sudah datang, saya pikir saya memang harus kuat.”

Bu Ratna menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kalimat yang menurutnya biasa ternyata menjadi beban bagi orang lain.

Ia menggenggam tangan Laras.

“Dengar Ibu baik-baik. Ibu memang suka rumah rapi. Ibu memang terbiasa bangun pagi. Tapi itu kehidupan Ibu. Bukan aturan yang harus kamu jalani.”

Air mata Laras akhirnya jatuh.

Bu Ratna mengusapnya.

“Dan soal pagi ini… Ibu harus minta maaf.”

Laras menatapnya.

“Ibu marah karena kamu belum turun. Ibu bahkan menganggap kamu malas sebelum melihat keadaanmu.”

“Tidak apa-apa, Bu.”

“Tidak. Tetap salah.”

Untuk sesaat keduanya terdiam.

Kemudian Laras berkata pelan, “Saya juga sebenarnya menyembunyikan sesuatu.”

Bu Ratna mengernyit.

“Apa?”

Laras menoleh ke arah pintu.

“Raka belum tahu.”

Jantung Bu Ratna kembali berdebar.

Laras meraih tas kecil di meja samping tempat tidur dan meminta Bu Ratna mengambil sebuah amplop dari dalamnya.

Bu Ratna membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan laboratorium dari beberapa hari sebelumnya.

Matanya langsung berhenti pada satu bagian.

Bu Ratna menatap Laras dengan bingung.

“Kamu sudah tahu kondisi tubuhmu sebelum menikah?”

Laras mengangguk.

“Dokter menyuruh saya istirahat dan melakukan pemeriksaan lanjutan. Tapi saya takut semuanya batal.”

“Kenapa harus takut?”

“Karena pernikahan ini sudah terlalu banyak menghabiskan uang keluarga.”

Bu Ratna terdiam.

Laras kemudian menceritakan bahwa sebagian biaya pernikahan ternyata berasal dari pinjaman yang diam-diam diambil Raka. Ia mengetahuinya seminggu sebelum pernikahan ketika menemukan pesan penagihan di ponsel calon suaminya.

Raka meminta Laras merahasiakannya dari Bu Ratna.

Bu Ratna merasa kepalanya berdenyut.

“Berapa?”

Laras menyebutkan jumlahnya.

Bu Ratna sampai menarik napas panjang.

Jumlah itu jauh lebih besar daripada yang pernah dikatakan Raka kepadanya.

Saat Raka masuk beberapa menit kemudian, Bu Ratna langsung meletakkan amplop di atas meja.

“Kamu berutang sebanyak ini?”

Langkah Raka berhenti.

“Bu…”

“Jawab.”

Raka akhirnya mengangguk.

Bu Ratna memejamkan mata.

Kini semuanya mulai masuk akal.

Raka memaksakan resepsi berjalan karena takut kehilangan uang yang sudah dikeluarkan. Laras memaksakan diri karena merasa bersalah jika pesta dibatalkan. Sementara dirinya terlalu sibuk memikirkan pendapat tamu dan bagaimana seorang menantu seharusnya bersikap.

Tiga orang dalam satu keluarga.

Semuanya takut mengecewakan satu sama lain.

Dan karena ketakutan itu, tidak ada yang berani mengatakan kebenaran.

“Pulanglah,” kata Bu Ratna kepada Raka.

Raka terkejut.

“Bu?”

“Pulang. Ambil semua kuitansi pernikahan, catatan utangmu, dan dokumen pinjaman. Bawa ke sini.”

“Untuk apa?”

“Karena setelah Laras pulang, kita selesaikan masalah ini bersama. Tidak ada lagi rahasia.”

Raka menunduk.

“Maaf, Bu.”

“Jangan minta maaf ke Ibu dulu. Minta maaf ke istrimu.”

Raka mendekati tempat tidur.

Ia menggenggam tangan Laras.

“Aku salah.”

Laras menatapnya tanpa berkata-kata.

“Aku terlalu takut kelihatan gagal di depan keluarga,” lanjut Raka. “Aku pikir kalau pesta kita sederhana, orang akan bilang aku tidak mampu membahagiakanmu.”

Laras tersenyum getir.

“Aku justru hampir masuk rumah sakit lebih parah karena pesta yang katanya dibuat untuk membahagiakanku.”

Raka tidak mampu menjawab.

Tiga hari kemudian, Laras diperbolehkan pulang.

Rumah yang biasanya sudah ramai sejak pagi kini terasa berbeda.

Pada hari pertama, Laras terbangun pukul setengah tujuh dan mencoba turun ke dapur.

Namun ketika membuka pintu kamar, ia menemukan secarik kertas ditempel di sana.

Tulisan tangan Bu Ratna memenuhi kertas itu.

“Kalau bangun, jangan langsung turun. Sarapan ada di meja. Kalau masih mengantuk, tidur lagi.”

Laras tersenyum.

Ia turun perlahan.

Di dapur, Bu Ratna sedang memasak bubur ayam.

“Ibu, saya bantu.”

“Tidak usah.”

“Tapi saya sudah jauh lebih sehat.”

Bu Ratna menoleh.

“Kalau mau membantu, duduk di sana dan kupas jeruk.”

Laras tertawa kecil.

Itulah pertama kalinya sejak menjadi bagian dari keluarga itu ia benar-benar merasa sedang berada di rumah sendiri.

Beberapa minggu berlalu.

Raka menjual motornya dan beberapa barang mahal yang dibelinya menjelang pernikahan. Resepsi mewah yang awalnya ingin mereka banggakan akhirnya menjadi pelajaran paling mahal dalam hidup mereka.

Namun kejutan terbesar justru datang sebulan kemudian.

Bu Ratna sedang membersihkan lemari ketika menemukan buku catatan lama milik almarhum suaminya.

Di salah satu halaman tertulis pengeluaran rumah tangga dari puluhan tahun lalu.

Di bawahnya terdapat sebuah kalimat pendek.

“Ratna selalu memaksakan diri bangun sebelum subuh meski sedang sakit. Katanya takut Ibu menganggapnya menantu malas.”

Bu Ratna terpaku.

Tangannya gemetar.

Ia membaca kalimat itu berkali-kali.

Tiba-tiba kenangan puluhan tahun lalu kembali.

Saat baru menikah, Bu Ratna juga tinggal bersama ibu mertuanya. Ia bangun pukul empat pagi, menyapu halaman, memasak, mencuci pakaian, dan berusaha menjadi menantu sempurna.

Bahkan ketika demam, ia tetap bangun karena takut disebut malas.

Tanpa disadarinya, bertahun-tahun kemudian ia hampir mengulang pola yang sama kepada Laras.

Bu Ratna menutup buku itu dengan mata berkaca-kaca.

Malamnya, ia menyerahkan buku tersebut kepada Laras.

“Baca bagian yang Ibu tandai.”

Laras membacanya, lalu menatap Bu Ratna.

“Ibu juga pernah mengalaminya?”

Bu Ratna mengangguk.

“Ibu dulu berjanji kalau punya menantu perempuan, Ibu tidak akan membuatnya merasakan hal yang sama.”

Ia tersenyum getir.

“Tapi manusia kadang berubah menjadi sesuatu yang dulu paling dibencinya tanpa sadar.”

Laras menggenggam tangan ibu mertuanya.

Bu Ratna menatap perempuan muda itu lama.

“Mulai sekarang, kalau kamu sakit, bilang. Kalau capek, istirahat. Kalau tidak setuju dengan Ibu, bicara. Jangan diam hanya karena kamu menantu.”

Laras tersenyum.

“Kalau saya bangun pukul sepuluh?”

Bu Ratna menahan senyum.

“Asal bukan setiap hari.”

Keduanya tertawa.

Raka yang mendengar dari ruang tengah ikut tersenyum.

Sejak hari itu, tidak pernah lagi ada aturan tidak tertulis tentang siapa yang harus bangun paling pagi atau siapa yang paling banyak mengerjakan pekerjaan rumah.

Mereka mulai membagi pekerjaan.

Raka belajar memasak.

Laras membantu ketika tubuhnya sehat.

Bu Ratna belajar bahwa menjadi ibu mertua bukan berarti memiliki hak untuk mengatur kehidupan rumah tangga anaknya.

Dan noda kemerahan di seprai pada pagi setelah pernikahan itu, yang awalnya membuat mereka semua ketakutan, akhirnya menjadi titik balik bagi keluarga tersebut.

Karena terkadang, masalah terbesar dalam sebuah keluarga bukanlah kurangnya kasih sayang.

Justru sebaliknya.

Mereka saling menyayangi, tetapi terlalu takut mengecewakan satu sama lain hingga memilih diam.

Bu Ratna akhirnya memahami bahwa keluarga bukan tempat seseorang harus terus membuktikan bahwa dirinya pantas diterima.

Keluarga seharusnya menjadi tempat seseorang bisa berkata, “Aku lelah,” tanpa disebut malas.

Bisa berkata, “Aku sakit,” tanpa merasa menjadi beban.

Dan bisa berkata, “Aku tidak sanggup,” tanpa takut kehilangan kasih sayang.

Bertahun-tahun kemudian, buku catatan lama itu masih disimpan Bu Ratna di lemari ruang keluarga.

Bukan untuk mengingat kesalahannya.

Melainkan untuk mengingatkan mereka semua bahwa luka dalam sebuah keluarga bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kecuali ada seseorang yang memilih untuk menghentikannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang