“Jangan salahkan Bagas. Semua ini salah Ayah.”
Enam kata itu menghantamku lebih keras daripada apa pun yang kulihat hari itu.
Aku menatap Ayah tanpa mampu berkedip.
“Apa maksud Ayah?”
Ayah tidak langsung menjawab. Dia menundukkan wajah, seolah lebih takut melihat mata kami daripada menghadapi dinginnya malam di atas perahu tua itu.
Raka sudah kehilangan kesabaran.
“Yah, hampir delapan miliar rupiah kami kirim selama dua belas tahun. Rumah Ayah ditempati orang lain. Ayah tidur di perahu begini. Bagas yang pegang uangnya. Bagaimana mungkin kami tidak menyalahkan dia?”
Ayah mengangkat tangan pelan.
“Bawa Ayah ke darat dulu.”
Suara itu lemah sekali.
Kami membantu Ayah turun dari perahu. Ketika tanganku menyentuh lengannya, aku tercekat. Lengannya hanya tinggal tulang berbalut kulit. Tubuh yang dulu kuat mengangkat jaring penuh ikan kini begitu ringan sampai aku takut memegangnya terlalu keras.
Sari segera memeriksa luka di kaki Ayah.
“Ini sudah infeksi.”
Ayah tersenyum kecil.
“Cuma luka biasa.”
“Ini bukan luka biasa, Yah.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat adikku yang sehari-hari bekerja sebagai perawat kehilangan ketenangan profesionalnya. Tangannya gemetar ketika membersihkan salah satu luka dengan tisu antiseptik dari tas.
Kami membawa Ayah ke rumah sakit di Semarang malam itu juga.
Hasil pemeriksaan membuat kami semakin terpukul.
Ayah mengalami kekurangan gizi, anemia, infeksi kulit, tekanan darah tidak stabil, dan gangguan pernapasan yang sudah berlangsung cukup lama.
Dokter bertanya siapa yang selama ini merawatnya.
Tidak seorang pun dari kami sanggup menjawab.
Setelah Ayah mendapat infus dan tertidur, kami berdiri di lorong rumah sakit seperti empat orang asing yang baru saja menyadari bahwa selama dua belas tahun kami mungkin tidak benar-benar mengenal kehidupan ayah kami sendiri.
Raka menendang pelan dinding.
“Aku akan cari Bagas malam ini.”
“Jangan bertindak bodoh,” kataku.
“Bodoh? Yang bodoh itu kita semua, Mbak. Kita kirim uang terus, percaya foto buram, percaya pesan pendek. Sekarang lihat Ayah.”
Dimas yang sejak tadi diam akhirnya bicara.
“Kita cari fakta dulu.”
Sari mengusap air matanya.
“Kalau Bagas benar mengambil uang itu, aku tidak akan memaafkannya.”
Pagi berikutnya, Ayah terbangun.
Aku duduk di samping ranjangnya.
“Sekarang ceritakan semuanya.”
Ayah menghela napas panjang.
“Bagas memang mengelola uang yang kalian kirim.”
“Lalu?”
“Tapi dia tidak mengambil semuanya.”
Aku menatapnya tajam.
“Berapa yang dia ambil?”
Ayah memalingkan wajah.
“Ayah tidak tahu.”
Jawaban itu membuatku berdiri.
“Yah, jangan lindungi dia.”
“Ayah tidak melindungi siapa-siapa.”
“Lalu kenapa Ayah bilang semua ini salah Ayah?”
Ayah terdiam begitu lama hingga suara alat monitor di samping ranjang terdengar semakin mengganggu.
Kemudian dia berkata pelan.
“Karena Ayah yang menyuruh Bagas merahasiakannya.”
Aku merasa tengkukku dingin.
“Merahasiakan apa?”
Ayah menatapku.
“Bahwa uang kalian tidak dipakai untuk Ayah.”
Aku tidak mengerti.
Atau mungkin aku tidak ingin mengerti.
“Dipakai untuk apa?”
Ayah menarik napas.
“Untuk orang-orang yang lebih membutuhkannya.”
Raka yang berdiri di dekat pintu langsung masuk.
“Orang-orang siapa?”
Ayah tersenyum lemah.
“Nelayan. Janda. Anak-anak yang putus sekolah. Orang sakit. Siapa saja yang datang meminta bantuan.”
Aku sampai tertawa kecil karena terlalu tidak percaya.
“Jadi Ayah memberikan uang miliaran rupiah kepada orang lain?”
“Tidak semuanya langsung.”
“Lalu rumah?”
“Sudah dijual.”
“Dijual?”
“Delapan tahun lalu.”
Ruangan itu mendadak terasa sempit.
“Kenapa?”
“Ada utang koperasi nelayan yang harus diselesaikan. Kalau tidak, banyak keluarga kehilangan perahu.”
Dimas menatap Ayah dengan wajah pucat.
“Rumah itu harta terakhir peninggalan Ibu.”
“Ayah tahu.”
“Lalu orang yang tinggal di sana?”
“Dia membelinya secara sah.”
Aku memejamkan mata.
Semakin banyak jawaban yang keluar, semakin sulit semuanya diterima.
“Dan Bagas?”
Ayah tidak menjawab.
Raka langsung mengambil ponselnya.
“Aku telepon dia.”
Nomor Bagas tidak aktif.
Kami mendatangi rumah kontrakannya.
Kosong.
Tetangga mengatakan Bagas sudah pergi tiga hari sebelumnya bersama istri dan anaknya.
Tiga hari.
Tepat sebelum kami datang.
Kecurigaan kami kembali memuncak.
Kami menuju bank.
Sebagian besar rekening tujuan transfer dari luar negeri ternyata memang rekening atas nama Bagas. Dari sana uang berpindah ke puluhan rekening berbeda.
Ada transfer ke rumah sakit, sekolah, koperasi, toko bangunan, pemasok sembako, dan sejumlah rekening pribadi.
Namun ada juga transfer besar yang tidak jelas.
Beberapa ratus juta rupiah setiap tahun masuk ke sebuah perusahaan bernama PT Tirta Bening Nusantara.
Raka menunjuk layar.
“Nah. Ini dia.”
Aku mencatat nama perusahaan itu.
Pencarian sederhana memperlihatkan perusahaan tersebut bergerak di bidang pengelolaan wisata dan properti di sekitar Kabupaten Semarang.
Lebih mengejutkan lagi, salah satu komisarisnya bernama Bagas Prasetyo.
Aku merasa darahku mendidih.
Hari itu juga kami mendatangi kantornya.
Gedungnya modern, dua lantai, dengan kaca besar di bagian depan.
Seorang resepsionis menyambut kami.
“Kami ingin bertemu Pak Bagas.”
“Pak Bagas sedang tidak berada di kantor.”
“Di mana?”
“Saya tidak tahu.”
Raka membanting telapak tangan ke meja.
“Katakan kami keluarga Pak Darma.”
Wajah resepsionis berubah.
Dia masuk ke ruangan belakang, lalu keluar bersama seorang perempuan sekitar empat puluh tahun.
Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Ratih, manajer keuangan.
Begitu mendengar nama Ayah, matanya memerah.
“Pak Darma bagaimana keadaannya?”
Aku langsung curiga.
“Ibu kenal Ayah kami?”
Ratih mengangguk.
“Beliau salah satu orang yang membuat perusahaan ini ada.”
Kami saling berpandangan.
Ratih membawa kami ke ruang rapat dan membuka beberapa dokumen.

Apa yang kami lihat kemudian membuat kemarahan kami berubah menjadi kebingungan.
PT Tirta Bening Nusantara bukan perusahaan biasa.
Sebagian besar keuntungan perusahaan digunakan untuk mendanai beasiswa, pengobatan gratis, perbaikan rumah warga miskin, dan bantuan alat kerja bagi nelayan.
Di dinding ruangan terdapat foto-foto penyerahan bantuan.
Dalam salah satu foto, aku melihat seorang pria tua mengenakan topi lusuh berdiri di belakang puluhan nelayan.
Ayah.
“Awalnya Pak Darma menggunakan uang pribadi,” kata Ratih. “Beliau kemudian meminta Bagas membuat usaha agar bantuan tidak bergantung pada donasi terus-menerus. Beberapa lahan kecil dibeli, lalu dikembangkan menjadi tempat wisata dan usaha penyewaan perahu. Keuntungannya diputar lagi.”
Aku menatap angka di laporan.
“Ayah kami punya saham?”
Ratih mengangguk.
“Tujuh puluh persen saham pertama atas nama Pak Darma.”
“Pertama?”
“Sekarang sudah tidak.”
Raka langsung berdiri.
“Bagas mengambilnya?”
Ratih terlihat gugup.
“Sebaiknya kalian bicara langsung dengan beliau.”
“Di mana dia?”
Ratih diam.
Aku mendekat.
“Tolong. Dua belas tahun kami hidup dengan keyakinan Ayah dirawat dengan baik. Kami pulang dan menemukan beliau hampir mati di perahu. Kalau Ibu tahu sesuatu, katakan.”
Ratih menunduk.
Akhirnya dia memberi sebuah alamat.
Sore itu kami tiba di sebuah rumah sederhana di Salatiga.
Bagas membuka pintu.
Wajahnya langsung pucat melihat kami.
Raka hampir menerjangnya.
Aku menahan bahu adikku.
“Masuk.”
Bagas tidak membantah.
Di ruang tamu, aku meletakkan salinan transaksi di atas meja.
“Jelaskan.”
Bagas menatap kertas itu.
“Aku memang mengambil alih perusahaan.”
“Dengan uang kami?”
“Sebagian modal awal memang dari uang yang kalian kirim.”
Raka mengepalkan tangan.
“Jadi benar.”
“Tapi bukan seperti yang kalian pikir.”
“Lalu seperti apa?”
Bagas menarik sebuah map dari lemari.
Isinya surat-surat.
Semuanya ditandatangani Ayah.
Surat pengalihan saham.
Surat hibah.
Surat kuasa.
Dan sebuah pernyataan yang membuatku membeku.
Pak Darma secara sadar menyerahkan kepemilikan perusahaan kepada Bagas dengan syarat keuntungan perusahaan tetap digunakan untuk program sosial selama minimal dua puluh tahun.
Aku membaca tanggalnya.
Dua tahun lalu.
“Kenapa Ayah tinggal di perahu?”
Bagas menutup wajah dengan kedua tangan.
“Itulah yang tidak bisa kuterima.”
Dia mulai menangis.
“Aku berkali-kali minta Mbah tinggal denganku. Aku belikan rumah kecil. Aku sewa orang untuk merawatnya. Tapi Mbah selalu pergi.”
“Kenapa?”
“Karena beliau merasa bersalah.”
Aku mengerutkan kening.
“Bersalah tentang apa?”
Bagas menatapku.
“Kalian tidak pernah tahu kenapa Ibu kalian bisa sakit separah itu, kan?”
Ruangan langsung sunyi.
Aku merasa ada sesuatu yang buruk sedang menuju kami.
Bagas melanjutkan.
“Dulu, ketika Bu Sri mulai sakit, Pak Darma punya cukup uang untuk membawa beliau berobat ke rumah sakit besar di Jakarta. Tapi pada waktu yang sama, terjadi kecelakaan kapal di Rawa Pening. Tiga keluarga kehilangan pencari nafkah. Uang yang seharusnya dipakai untuk pengobatan Bu Sri diberikan untuk membantu keluarga-keluarga itu.”
Aku berdiri perlahan.
“Tidak.”
“Bu Sri baru dibawa berobat beberapa bulan kemudian. Saat itu kondisinya sudah memburuk.”
“Tidak.”
Aku tidak sadar sudah menangis.
Sepanjang hidup, kami percaya Ibu meninggal karena penyakitnya memang tidak tertolong.
Ayah tidak pernah mengatakan bahwa dia pernah membuat pilihan.
Bagas menghapus air matanya.
“Sebelum meninggal, Bu Sri tahu semuanya.”
Aku menatapnya.
“Lalu kenapa pesan terakhir Ibu justru meminta kami menjaga Ayah?”
“Karena beliau memaafkannya.”
Malam itu kami kembali ke rumah sakit.
Aku masuk sendirian ke kamar Ayah.
Dia sedang terjaga.
Aku duduk tanpa bicara.
Beberapa menit kemudian, aku bertanya.
“Kenapa Ayah tidak membawa Ibu berobat lebih cepat?”
Wajah Ayah seketika berubah.
Dia tahu kami sudah mengetahui rahasianya.
Air mata mengalir dari sudut matanya.
“Ayah membuat keputusan paling bodoh dalam hidup.”
“Karena menolong orang lain?”
“Karena Ayah merasa bisa menolong semua orang sekaligus.”
Suaranya pecah.
“Waktu itu Ayah berpikir penyakit Ibu masih bisa menunggu beberapa minggu. Ayah salah.”
Aku menggigit bibir menahan tangis.
“Apakah Ibu marah?”
“Sangat marah.”
Ayah tersenyum getir.
“Tiga hari dia tidak mau bicara dengan Ayah.”
“Lalu?”
“Suatu malam dia bilang, kalau hidupnya memang tidak panjang, dia tidak mau sisa hidup Ayah habis untuk menghukum diri sendiri.”
Ayah menutup mata.
“Tapi setelah Ibu pergi, Ayah tetap melakukannya.”
Aku akhirnya mengerti.
Perahu tua itu bukan sekadar tempat tinggal.
Itu hukuman yang Ayah pilih sendiri.
Dia menolak rumah nyaman karena merasa tidak pantas.
Dia memberikan uang kami kepada orang lain karena setiap rupiah yang dia gunakan untuk dirinya sendiri membuatnya teringat pada Ibu.
Aku menggenggam tangan Ayah.
“Dua belas tahun, Yah.”
Ayah menangis.
“Maaf.”
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Karena kalian bekerja keras.”
“Itulah sebabnya Ayah seharusnya bilang.”
“Ayah takut kalian berhenti mengirim uang.”
Aku melepaskan tangannya.
Bukan karena marah.
Karena aku benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menangis.
“Jadi Ayah memang sengaja menipu kami?”
Ayah mengangguk.
“Foto-foto itu?”
“Bagas yang ambil saat Ayah sedang berkunjung ke rumah orang.”
“Baju baru?”
“Dipinjamkan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
Ayah bahkan tersenyum sedikit.
“Bagas selalu marah setiap kali harus memotret.”
Beberapa hari kemudian, kami berempat berkumpul bersama Bagas.
Untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun, tidak ada rahasia.
Kami memeriksa seluruh keuangan perusahaan.
Tidak ada uang yang dicuri Bagas.
Justru sebaliknya.
Dia mengembangkan modal itu hingga nilainya hampir tiga kali lipat.
Ratusan orang telah menerima manfaat.
Puluhan anak bisa kuliah.
Belasan rumah dibangun kembali.
Beberapa nelayan memiliki perahu sendiri.
Namun kami tetap tidak bisa menerima satu hal.
Ayah tidak boleh kembali tinggal di perahu.
Kami membangun sebuah rumah sederhana di dekat Rawa Pening.
Bukan rumah mewah seperti rancangan awal.
Ayah menolak kamar besar.
Dia hanya meminta satu hal.
“Terasnya harus menghadap danau.”
Enam bulan kemudian rumah itu selesai.
Pada hari pertama Ayah menempatinya, kami mengira kisah ini telah berakhir.
Ternyata belum.
Saat membersihkan perahu tua sebelum disimpan, Dimas menemukan sebuah papan kayu yang berbeda dari bagian lainnya.
Ketika dibuka, di bawahnya terdapat sebuah kotak logam kecil.
Kami membawanya kepada Ayah.
Wajahnya langsung pucat.
Di dalam kotak terdapat buku tabungan lama, beberapa dokumen, dan sebuah amplop dengan tulisan tangan Ibu.
Untuk Larasati, Raka, Dimas, dan Sari.
Tanganku bergetar saat membuka surat itu.
Tulisan Ibu sudah memudar, tetapi masih bisa dibaca.
Ibu menulis surat tersebut beberapa hari sebelum meninggal.
Di bagian akhir, terdapat kalimat yang membuat kami berempat menangis.
Jangan jadikan uang sebagai pengganti kehadiran kalian. Ayah kalian mungkin tidak akan meminta apa pun, tetapi suatu hari nanti, pulanglah. Duduklah bersamanya. Dengarkan ceritanya. Karena orang tua tidak selalu membutuhkan anak yang mampu mengirim banyak uang. Kadang mereka hanya menunggu suara langkah kaki di depan pintu.
Aku menatap Ayah.
Dia menundukkan kepala.
Barulah aku memahami satu hal yang selama ini luput dari kami.
Kami mengirim uang setiap bulan.
Kami memastikan transfer tidak pernah terlambat.
Kami menelepon sesekali.
Kami membeli obat, pakaian, bahkan merancang rumah.
Namun selama dua belas tahun, tidak satu pun dari kami benar-benar pulang.
Kami merasa telah menjadi anak-anak yang berbakti karena jumlah uang yang kami kirim.
Sementara seorang lelaki tua duduk sendirian di tepi danau, menyimpan foto empat anaknya dalam plastik agar tidak rusak terkena hujan.
Sejak hari itu, kami membuat keputusan baru.
Bukan tentang uang.
Setiap tahun, setidaknya salah satu dari kami harus pulang menemani Ayah.
Raka menjadi orang pertama yang mengambil cuti panjang.
Sari pulang beberapa bulan kemudian.
Dimas mulai merencanakan untuk kembali bekerja di Indonesia.
Aku sendiri akhirnya meninggalkan pekerjaanku di Spanyol setahun setelahnya.
Banyak orang mengatakan aku gila karena meninggalkan penghasilan yang jauh lebih besar.
Namun suatu sore, ketika aku duduk bersama Ayah di teras rumah kecil menghadap Rawa Pening, aku tahu aku tidak kehilangan apa pun.
Ayah sedang memperbaiki jaring tua yang sebenarnya sudah tidak pernah dipakai.
Aku bertanya kepadanya, “Kalau waktu bisa diulang, apa Ayah akan melakukan semuanya dengan berbeda?”
Tangannya berhenti.
Dia menatap danau cukup lama.
“Ayah akan tetap menolong orang.”
Kemudian dia menoleh kepadaku.
“Tapi Ayah akan pulang lebih cepat kepada Ibu.”
Aku tersenyum sambil menahan air mata.
Beberapa kesalahan memang tidak bisa diperbaiki.
Beberapa kehilangan tidak bisa dibeli kembali dengan uang sebanyak apa pun.
Namun mungkin manusia tidak diberi kesempatan hidup untuk menghapus masa lalu.
Kita diberi kesempatan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Di depan rumah, perahu tua itu kini diletakkan di bawah sebuah atap kecil.
Ayah menolak membuangnya.
Katanya, perahu itu adalah pengingat.
Bagi Ayah, pengingat bahwa menolong orang lain tidak berarti kita boleh melupakan orang yang paling dekat.
Dan bagi kami berempat, perahu lapuk itu menjadi pengingat tentang sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Bahwa selama bertahun-tahun kami mengira telah mengirimkan hampir delapan miliar rupiah kepada seorang ayah yang membutuhkan uang.
Padahal, yang sebenarnya dia tunggu selama dua belas tahun hanyalah kepulangan anak-anaknya.
