Pada hari aku mengetahui suamiku menggunakan tabungan kami untuk membelikan apartemen bagi selingkuhannya, aku mendatangi ibu mertuaku dan memohon agar beliau mau berbicara dengan putranya.

“Karena pada tanggal rapat ini berlangsung… aku bahkan tidak berada di Indonesia.”

Ruangan itu mendadak terasa sunyi.

Pengacaraku, Pak Adrian, kembali melihat tanggal yang tercetak di bagian atas berita acara tersebut. Tanggal 17 Oktober, tiga tahun lalu.

Aku tidak mungkin melupakannya.

Saat itu aku berada di Singapura selama hampir dua minggu untuk mengikuti audit regional perusahaan tempatku bekerja. Tiket pesawat, tagihan hotel, surat tugas, bahkan catatan imigrasi pasti masih ada.

Pak Adrian menatapku dengan sorot mata yang berubah tajam.

“Apakah Anda yakin?”

“Sangat yakin.”

“Kalau begitu, kita bukan lagi hanya membicarakan perselingkuhan dan harta dalam perkawinan.”

Dia mengetuk dokumen itu dengan ujung jarinya.

“Kita mungkin sedang membicarakan pemalsuan tanda tangan.”

Dadaku terasa sesak.

Namun aku belum sempat berkata apa-apa ketika teringat sesuatu.

“Pak, tadi Anda bertanya apakah saya tahu siapa pemilik PT Sentosa Konsultan Niaga.”

Pak Adrian terdiam sejenak, lalu memutar kembali layar komputernya.

Aku membaca nama yang tertera di sana.

Komisaris utama perusahaan itu adalah Ratih Kusuma.

Ibu mertuaku.

Aku menatap layar cukup lama sampai huruf-huruf itu seperti kehilangan bentuk.

Jadi beliau bukan hanya mengetahui semuanya.

Beliau berada di dalamnya.

Menurut dokumen perusahaan yang berhasil diperiksa Pak Adrian, PT Sentosa Konsultan Niaga didirikan empat tahun sebelumnya. Bu Ratih tercatat sebagai pemegang saham mayoritas, sementara salah satu direktur perusahaan adalah sepupu Arga yang selama ini kukenal hanya sebagai pengusaha kecil di Bandung.

Perusahaan itu nyaris tidak memiliki kegiatan operasional yang masuk akal.

Tidak ada kantor permanen yang layak.

Jumlah pegawainya sangat sedikit.

Namun aliran uangnya mencapai miliaran rupiah.

Sebagian besar berasal dari perusahaan Arga.

“Perusahaan ini tampaknya digunakan untuk menerima pembayaran konsultasi,” kata Pak Adrian.

“Konsultasi apa?”

“Itu yang harus kita cari.”

Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.

Arga sudah menungguku di ruang tamu.

Dia duduk dengan kedua tangan bertaut, sementara di meja ada dua cangkir kopi yang sudah dingin.

“Kamu pergi ke pengacara?”

Aku meletakkan tas.

“Ya.”

Wajahnya menegang.

“Aku bisa menjelaskan semuanya.”

Aku hampir tertawa.

Selama delapan tahun menikah, kalimat itu baru keluar setelah aku menemukan bukti.

“Baik,” jawabku. “Jelaskan.”

Arga berdiri.

“Soal Larasati memang salahku.”

“Bukan itu yang ingin kudengar.”

Dia terdiam.

“Jelaskan PT Sentosa Konsultan Niaga.”

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Aku melanjutkan.

“Jelaskan kenapa perusahaanmu mengirim lebih dari dua miliar rupiah ke perusahaan milik ibumu. Jelaskan kenapa aku memiliki tiga puluh lima persen saham perusahaanmu tanpa pernah mengetahuinya. Dan jelaskan kenapa tanda tanganku ada dalam rapat yang berlangsung ketika aku sedang berada di Singapura.”

Arga menatapku seperti seseorang yang baru menyadari pintu keluar telah terkunci.

“Aku melakukan semua itu untuk melindungi kita.”

Kalimat itu membuatku muak.

“Melindungi kita dari apa?”

Dia mengusap wajah.

“Perusahaan sedang berkembang waktu itu. Ada investor baru. Struktur kepemilikan harus diatur supaya pajaknya lebih efisien.”

“Dengan memalsukan tanda tanganku?”

“Aku tidak memalsukannya.”

“Lalu siapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku mendekatinya.

“Arga, siapa yang menandatangani dokumen itu?”

“Aku tidak tahu.”

Untuk pertama kalinya malam itu aku tersenyum.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena akhirnya aku memahami bahwa tidak ada lagi gunanya mencari kejujuran dari laki-laki di depanku.

“Baik.”

Aku mengambil tas lagi.

Arga panik.

“Kamu mau ke mana?”

“Tidur di hotel.”

Dia mencoba memegang lenganku, tetapi aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

“Apa kamu mau menghancurkan keluarga kita hanya karena uang?”

Aku berhenti di depan pintu.

Kemudian menoleh.

“Bukan aku yang menggunakan uang keluarga untuk membelikan apartemen bagi selingkuhan.”

Wajahnya mengeras.

Aku menambahkan pelan.

“Dan ternyata bukan cuma uang yang kamu ambil. Kamu juga memakai namaku.”

Keesokan harinya, Pak Adrian mulai mengumpulkan bukti secara resmi.

Aku menyerahkan salinan paspor lama, surat tugas ke Singapura, tiket elektronik, bukti pembayaran hotel, dan beberapa foto dari acara perusahaan.

Semua menunjukkan bahwa aku berada ribuan kilometer dari Jakarta ketika rapat pemegang saham itu konon berlangsung.

Namun kejutan berikutnya datang tiga hari kemudian.

Pak Adrian meneleponku pagi-pagi.

“Ada yang aneh dengan tiga puluh lima persen saham Anda.”

“Apa?”

“Awalnya saya kira saham itu diberikan kepada Anda sebagai bagian restrukturisasi perusahaan. Ternyata bukan.”

Aku langsung duduk tegak.

“Saham itu sudah atas nama Anda sejak perusahaan Arga didirikan.”

Aku terdiam.

Perusahaan Arga didirikan enam tahun lalu.

Saat itu kami baru dua tahun menikah.

“Tapi kenapa?”

“Kita perlu melihat akta awalnya.”

Dokumen itu akhirnya menjelaskan bagian masa lalu yang selama ini tidak pernah kupahami.

Ketika perusahaan Arga didirikan, modal awalnya tidak seluruhnya berasal dari Arga.

Ada transfer sebesar Rp1,2 miliar yang dilakukan beberapa minggu sebelum pendirian perusahaan.

Rekening pengirimnya adalah rekening deposito atas namaku.

Aku mengenali uang tersebut.

Itu warisan dari almarhum ayahku.

Ayah meninggal setahun setelah aku menikah. Sebelum meninggal, beliau meninggalkan deposito yang selalu beliau pesankan agar tidak kugunakan sembarangan.

Beberapa bulan kemudian, Arga mengajakku membangun usaha bersama.

Aku setuju menggunakan sebagian warisan itu sebagai modal.

Yang kuingat, Arga mengatakan uang tersebut dianggap sebagai pinjaman keluarga dan akan dikembalikan ketika perusahaan stabil.

Ternyata di dalam akta pendirian perusahaan, uang itu dicatat sebagai penyertaan modal.

Karena itulah aku mendapatkan tiga puluh lima persen saham.

“Artinya,” kata Pak Adrian, “Anda memang pemegang saham sah sejak awal.”

“Kenapa Arga menyembunyikannya?”

Pak Adrian menatap beberapa dokumen.

“Mungkin karena ada sesuatu yang lebih menguntungkan daripada sekadar menyembunyikan kepemilikan.”

Jawabannya ditemukan seminggu kemudian.

Selama tiga tahun terakhir, perusahaan Arga membagikan dividen.

Dan tiga puluh lima persen dari dividen itu seharusnya menjadi hakku.

Jumlahnya hampir Rp6,8 miliar.

Namun aku tidak pernah menerima satu rupiah pun.

Di atas kertas, dividen tersebut telah dibayarkan.

Ke mana?

Sebagian masuk ke rekening yang bukan milikku.

Sebagian lagi mengalir menuju PT Sentosa Konsultan Niaga.

Aku merasa mual ketika melihat angkanya.

Apartemen Larasati senilai hampir Rp4,5 miliar yang membuatku datang kepada Bu Ratih ternyata hanyalah puncak gunung es.

Selama bertahun-tahun, hak ekonomiku sebagai pemegang saham diduga dialihkan tanpa sepengetahuanku.

Pak Adrian menyarankan agar kami bergerak hati-hati.

Kami mengirimkan surat resmi kepada perusahaan, meminta salinan laporan keuangan, risalah rapat, daftar pemegang saham, serta dokumen pembagian dividen.

Reaksi Arga jauh lebih cepat daripada yang kuduga.

Malam itu dia menelepon lebih dari dua puluh kali.

Aku tidak menjawab.

Lalu Bu Ratih menelepon.

Aku hampir membiarkannya.

Namun akhirnya kuangkat.

“Apa yang kamu lakukan?” bentaknya tanpa salam.

“Apa maksud Ibu?”

“Jangan pura-pura bodoh. Kamu mengirim pengacara ke perusahaan Arga.”

Aku terdiam.

Beliau melanjutkan dengan suara tinggi.

“Tarik surat itu sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena itu perusahaan anak saya.”

Aku memejamkan mata.

Kalimat yang sama.

Sama seperti ketika beliau menamparku.

Aku menjawab tenang.

“Tiga puluh lima persennya milik saya.”

Telepon mendadak sunyi.

Lalu terdengar suara napasnya.

“Arga memberimu kehidupan nyaman selama bertahun-tahun.”

“Dan saya memberikan modal dari warisan ayah saya.”

Beliau tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“PT Sentosa juga milik Ibu, bukan?”

Kali ini suaranya berubah.

Tidak lagi keras.

“Dengar. Kita bisa menyelesaikan ini secara keluarga.”

Aku hampir tidak percaya.

Perempuan yang seminggu lalu menamparku karena mempertanyakan uang kini ingin berbicara tentang keluarga.

“Baik,” jawabku. “Kalau begitu datanglah bersama Arga ke kantor pengacara saya.”

“Tidak perlu pengacara.”

“Kalau tidak ada pengacara, tidak ada pembicaraan.”

Aku menutup telepon.

Pertemuan akhirnya berlangsung dua hari kemudian.

Arga datang bersama Bu Ratih.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat ibu mertuaku tidak memakai ekspresi superiornya.

Beliau tampak gelisah.

Pak Adrian membuka pembicaraan dengan menjelaskan posisi hukumku sebagai pemegang saham.

Kemudian dia menunjukkan bukti bahwa tanda tanganku diduga digunakan dalam beberapa dokumen ketika aku tidak berada di tempat.

Arga terus menunduk.

Bu Ratih tiba-tiba berkata,

“Semua itu hanya administrasi.”

Pak Adrian menatapnya.

“Pemalsuan tanda tangan bukan sekadar administrasi, Bu.”

Wajahnya memucat.

Arga akhirnya berbicara.

“Aku akan mengembalikan uangnya.”

Aku menatapnya.

“Uang yang mana?”

Dia terdiam.

“Uang apartemen? Dividen? Transfer ke perusahaan ibumu? Atau uang lain yang belum kutemukan?”

Arga mengangkat kepala.

Tatapan kami bertemu.

Saat itulah aku tahu masih ada sesuatu yang disembunyikannya.

Pak Adrian rupanya menyadari hal yang sama.

Dia mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Kalau begitu mungkin Pak Arga bisa menjelaskan ini.”

Dokumen itu adalah rancangan perubahan susunan pemegang saham.

Tanggalnya hanya tiga minggu sebelumnya.

Dalam rancangan tersebut, saham milikku akan dialihkan.

Seluruhnya.

Kepada PT Sentosa Konsultan Niaga.

Aku membaca bagian alasannya.

Pengalihan sukarela.

Aku tertawa kecil karena tidak percaya.

“Jadi kalian sedang bersiap mengambil seluruh sahamku?”

Bu Ratih langsung berkata,

“Itu belum terjadi.”

Pak Adrian menjawab tenang.

“Karena dokumennya belum sempat diselesaikan.”

Arga berdiri.

“Cukup.”

Namun Bu Ratih tiba-tiba membentaknya.

“Duduk!”

Semua orang terdiam.

Aku menatap beliau.

Untuk pertama kalinya, kemarahannya diarahkan kepada putranya sendiri.

“Kamu bilang semua sudah aman.”

Arga menatap ibunya.

“Ibu, jangan bicara.”

“Kamu bilang dia tidak akan pernah tahu soal saham itu!”

Ruangan membeku.

Arga menutup mata.

Pak Adrian tidak mengatakan apa-apa.

Tidak perlu.

Bu Ratih baru saja mengakui bahwa beliau mengetahui semuanya.

Aku menatap perempuan yang pernah menamparku.

Anehnya, aku tidak merasa puas.

Aku hanya merasa lelah.

Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.

Aku mengajukan gugatan perceraian dan menempuh langkah hukum terkait hak saham, transaksi perusahaan, serta dokumen yang menggunakan tanda tanganku.

Pemeriksaan forensik menunjukkan beberapa tanda tangan memang bukan dibuat oleh tanganku.

Jejak transaksi juga membuka fakta bahwa PT Sentosa digunakan untuk menampung sebagian dana yang seharusnya menjadi hak pemegang saham.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Larasati.

Perempuan yang selama ini kupikir menikmati semua uang itu dengan tenang tiba-tiba menghubungi pengacaraku.

Dia ingin bertemu.

Aku sempat menolak.

Namun Pak Adrian mengatakan informasi yang dibawanya mungkin penting.

Kami bertemu di sebuah kafe.

Larasati datang sendirian.

Dia tampak jauh berbeda dari foto-foto media sosialnya.

Tidak glamor.

Tidak percaya diri.

Dia terlihat ketakutan.

“Apartemen itu bukan milikku,” katanya.

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Arga bilang apartemen itu hadiah untukku. Tapi sertifikatnya tidak pernah atas namaku.”

Dia mengeluarkan salinan dokumen.

Nama pemilik apartemen tersebut bukan Larasati.

Bukan pula Arga.

Pemiliknya adalah PT Sentosa Konsultan Niaga.

Aku terdiam.

Larasati menelan ludah.

“Aku baru tahu setelah Arga menyuruhku pindah dari sana.”

Tiba-tiba semuanya menjadi masuk akal.

Apartemen itu bukan sekadar hadiah untuk selingkuhan.

Arga menggunakan hubungan dengan Larasati sebagai alasan untuk memindahkan uang dari tabungan kami ke aset yang pada akhirnya dikendalikan perusahaan ibunya.

Perselingkuhan itu nyata.

Namun di balik pengkhianatan pribadi tersebut ada skema finansial yang jauh lebih besar.

“Kenapa kamu membantuku?” tanyaku.

Larasati menunduk.

“Karena setelah masalah ini terbongkar, Arga mengatakan semua akan dibebankan kepadaku. Dia bilang kalau polisi bertanya, aku harus mengaku bahwa uang itu memang hadiah yang kuminta.”

Dia tersenyum pahit.

“Saat itu aku baru sadar, aku bukan perempuan yang dipilihnya. Aku cuma alasan yang bisa dipersalahkan.”

Beberapa bulan kemudian, pernikahanku resmi berakhir.

Hak sahamku dipertahankan dan sebagian dana yang dialihkan mulai dikembalikan melalui proses hukum serta penyelesaian perusahaan. Kasus mengenai dokumen palsu terus berjalan berdasarkan bukti yang ditemukan.

Aku menjual sahamku setelah seluruh status hukumnya jelas.

Bukan kepada Arga.

Bukan pula kepada keluarganya.

Aku menjualnya kepada investor lain dengan valuasi yang jauh lebih tinggi daripada perkiraan mereka.

Pada hari transaksi selesai, aku menerima satu pesan dari Bu Ratih.

“Kamu puas sekarang setelah menghancurkan kehidupan anak saya?”

Aku membaca pesan itu beberapa kali.

Kemudian kubalas hanya dengan satu kalimat.

“Saya tidak menghancurkan apa pun, Bu. Saya hanya berhenti menutup mata.”

Setelah itu aku memblokir nomornya.

Setahun kemudian, aku menggunakan sebagian uang hasil penjualan saham untuk membuka firma konsultasi keuangan kecil bersama dua teman lamaku.

Aku kembali bekerja dengan angka.

Namun kali ini untuk sesuatu yang benar-benar menjadi milikku.

Suatu sore, ketika sedang merapikan dokumen lama, aku menemukan rekening koran yang pertama kali kubawa ke rumah Bu Ratih.

Di sudut salah satu lembar masih ada bekas lipatan karena tanganku gemetar setelah beliau menamparku.

Aku memandanginya cukup lama.

Dulu aku mengira hari itu adalah hari terburuk dalam hidupku.

Hari ketika suamiku mengkhianatiku.

Hari ketika ibu mertuaku menamparku.

Hari ketika rumah tanggaku mulai runtuh.

Ternyata aku salah.

Kalau Bu Ratih tidak menamparku hari itu, mungkin aku masih akan pulang sambil menangis, menunggu Arga meminta maaf, lalu menerima kebohongan lain.

Tamparan itu membuatku berhenti meminta mereka berlaku adil.

Dan ketika aku berhenti meminta, aku mulai mencari sendiri kebenarannya.

Aku memasukkan rekening koran itu kembali ke dalam map.

Pipiku sudah lama tidak terasa sakit.

Namun aku masih mengingat jelas kalimat Bu Ratih hari itu.

“Itu uang anak laki-lakiku. Dia berhak memberikannya kepada siapa pun.”

Ironisnya, setelah semua dokumen dibuka dan semua transaksi diperiksa, justru kalimat itulah yang terbukti paling keliru.

Karena sebagian dari uang yang mereka perebutkan sejak awal bukanlah milik anak laki-lakinya.

Itu milikku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang