Ibu Berusia 88 Tahun Ditinggalkan Putranya di Pegunungan — Enam Tahun Kemudian, Pasangan Itu Kembali, Lalu Suara yang Sangat Mereka Kenal Terdengar dan Membuat Keduanya Gemetar…

“Siapa…?”

Suara itu terdengar sekali lagi dari balik pintu kayu.

Arman merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Enam tahun ia mencoba meyakinkan diri bahwa ibunya telah meninggal. Enam tahun ia menggunakan keyakinan itu untuk menumpulkan rasa bersalahnya. Namun hanya dengan satu kata, semua kebohongan yang dibangunnya runtuh.

Pintu gubuk terbuka perlahan.

Seorang perempuan tua muncul sambil berpegangan pada kusen.

Rambutnya telah sepenuhnya putih. Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan enam tahun lalu. Wajahnya dipenuhi kerutan, sementara kaki kirinya tampak sedikit menyeret ketika ia berjalan.

Tetapi mata itu tidak berubah.

Arman mengenalinya.

“Mak…”

Suara Arman pecah.

Bu Sari menatap lelaki di hadapannya cukup lama. Tidak ada tangisan. Tidak ada teriakan. Hanya keheningan yang terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan apa pun.

Kemudian pandangannya beralih kepada Rina.

Rina spontan menundukkan kepala.

“Mak… ini Arman.”

“Aku tahu.”

Jawaban sederhana itu membuat lutut Arman lemas.

Ia jatuh berlutut di tanah.

“Mak masih hidup…”

Bu Sari memandangnya tanpa ekspresi.

“Seharusnya tidak?”

Arman membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Rina mulai menangis.

“Bu, kami… kami kira Ibu sudah…”

“Meninggal?”

Bu Sari menyelesaikan kalimatnya.

Rina terdiam.

Bu Sari kemudian membuka pintu lebih lebar.

“Masuklah. Sebentar lagi hujan.”

Kalimat itu membuat dada Arman seperti ditusuk.

Enam tahun lalu, di tengah hujan, ia meninggalkan ibunya sendirian di tempat ini.

Hari ini perempuan yang sama justru mengkhawatirkannya kehujanan.

Di dalam gubuk hanya terdapat sebuah ranjang kayu, meja kecil, tungku, beberapa peralatan memasak, serta lemari sederhana. Namun semuanya bersih dan tertata.

Arman memperhatikan dinding.

Di sana tergantung sebuah syal rajut tua.

Syal yang dipakai ibunya pada hari ia meninggalkannya.

Arman segera memalingkan wajah.

“Bagaimana Mak bisa bertahan?”

Bu Sari menuangkan air panas ke tiga gelas.

“Kenapa? Kamu ingin tahu bagaimana perempuan tua yang kamu tinggalkan untuk mati ternyata belum mati?”

“Mak…”

Tangan Arman gemetar.

“Aku salah.”

Bu Sari duduk.

“Enam tahun untuk menyadarinya?”

Arman menangis tanpa suara.

Rina akhirnya memberanikan diri berbicara.

“Bu, saya yang salah. Waktu itu saya terus mengeluh. Saya bilang biaya obat Ibu mahal. Saya bilang hidup kami terganggu. Saya yang membuat Arman…”

“Tidak.”

Bu Sari memotongnya.

Tatapannya berpindah kepada putranya.

“Dia yang mengemudikan mobil.”

Rina terdiam.

“Dia yang menyuruhku turun.”

Suara Bu Sari tetap tenang.

“Dia juga yang pergi.”

Setiap kata menghantam Arman lebih keras daripada bentakan.

“Mak benar.”

Arman mengusap wajahnya.

“Tidak ada alasan. Aku pengecut.”

Untuk pertama kalinya, Bu Sari menatapnya dengan sedikit perubahan di wajah.

“Setidaknya sekarang kamu berani mengakuinya.”

Di luar, hujan mulai turun.

Suara air yang menghantam atap membawa Arman kembali pada malam enam tahun lalu.

“Apa yang terjadi setelah aku pergi?”

Bu Sari memandang api di tungku.

Malam itu, katanya, ia menunggu sampai hampir tengah malam.

Pada awalnya ia masih yakin Arman akan kembali.

Kemudian tubuhnya mulai menggigil hebat.

Ia mencoba berjalan mengikuti jalan yang dilalui mobil, tetapi karena gelap dan hujan, kakinya terpeleset di lereng.

Bu Sari jatuh dan kehilangan kesadaran.

Ketika membuka mata, ia sudah berada di sebuah gubuk kecil milik seorang lelaki bernama Pak Jaya, pencari madu hutan yang tinggal seorang diri di kawasan tersebut.

Pak Jaya menemukannya menjelang pagi.

Lelaki itu merawat luka Bu Sari dan memberinya makanan.

Setelah kondisinya membaik, Pak Jaya menawarkan untuk mengantarnya kembali ke desa.

Namun Bu Sari menolak.

“Aku malu,” katanya lirih.

Arman menatap ibunya.

“Mak malu?”

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada orang-orang. Bahwa anak yang kubesarkan sendiri meninggalkanku di gunung?”

Mata Bu Sari berkaca-kaca untuk pertama kalinya.

“Aku takut orang-orang membencimu.”

Arman membeku.

Bahkan setelah ditinggalkan untuk mati, ibunya masih berusaha melindungi nama baiknya.

“Mak… kenapa?”

“Karena kamu tetap anakku.”

Air mata Arman jatuh semakin deras.

Bu Sari melanjutkan ceritanya.

Pak Jaya tidak pernah memaksanya pulang. Ia justru membiarkan Bu Sari tinggal di gubuk itu.

Mereka hidup seperti dua orang tua yang kebetulan dipertemukan oleh kesepian.

Pak Jaya mengajarinya mengenali tanaman obat, memasang perangkap sederhana untuk hewan pengganggu, menyimpan air hujan, dan menanam sayuran.

Sebaliknya, Bu Sari memasak dan merawat Pak Jaya ketika penyakit paru-parunya kambuh.

“Tiga tahun lalu Pak Jaya meninggal,” kata Bu Sari.

“Sejak itu Mak tinggal sendirian?”

Bu Sari mengangguk.

Arman menutup wajahnya.

Ia membayangkan ibunya menghabiskan tiga tahun seorang diri di pegunungan, sementara dirinya tinggal di rumah nyaman di Jakarta.

“Kenapa Mak tidak pulang setelah Pak Jaya meninggal?”

Bu Sari tersenyum tipis.

“Pulang ke mana?”

Arman tidak sanggup menjawab.

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam dirinya.

Selama ini ia selalu menganggap rumah sebagai bangunan.

Baru sekarang ia memahami bahwa bagi ibunya, rumah pernah berarti anak-anaknya.

Dan merekalah yang telah menutup pintu itu.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari luar.

Rina menoleh dengan gugup.

Pintu terbuka dan seorang pria sekitar empat puluh tahun masuk sambil membawa kantong berisi beras, telur, dan obat-obatan.

Ia terkejut melihat dua orang asing.

“Bu, mereka siapa?”

Bu Sari menjawab tenang.

“Anakku.”

Pria itu langsung memandang Arman.

Tatapannya berubah dingin.

“Arman?”

Arman berdiri.

“Kamu tahu saya?”

Pria itu meletakkan barang bawaannya.

“Seluruh desa tahu nama orang yang meninggalkan ibunya di gunung.”

Wajah Arman memucat.

Bu Sari segera menegur.

“Dimas.”

Pria itu diam.

Bu Sari menjelaskan bahwa Dimas adalah cucu Pak Jaya. Setelah kakeknya meninggal, Dimas datang seminggu sekali membawa kebutuhan sehari-hari.

Dimas sebenarnya berkali-kali meminta Bu Sari pindah ke rumah keluarganya di desa.

Namun Bu Sari selalu menolak.

“Kenapa?” tanya Rina.

Dimas menjawab sebelum Bu Sari sempat bicara.

“Karena beliau menunggu.”

Arman menatapnya.

“Menunggu apa?”

Dimas tertawa hambar.

“Kalian.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arman menoleh kepada ibunya.

“Mak menunggu aku?”

Bu Sari menatap hujan di luar.

“Setiap mendengar suara mobil dari bawah, aku masih melihat ke jalan.”

Arman tidak mampu menahan dirinya lagi.

Ia berlutut di depan ibunya dan memeluk kaki perempuan itu.

“Maafkan aku, Mak.”

Bu Sari tidak langsung menyentuhnya.

“Aku tidak pantas jadi anak Mak.”

“Benar.”

Arman tersentak.

Bu Sari menatapnya.

“Waktu itu kamu memang tidak pantas.”

Arman menunduk.

“Tapi manusia tidak hanya terdiri dari kesalahan terburuk yang pernah dilakukannya.”

Tangan tua itu akhirnya menyentuh kepala Arman.

“Kalau benar menyesal, jangan habiskan sisa hidupmu hanya untuk menangis. Perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.”

Rina ikut berlutut.

“Saya juga minta maaf, Bu.”

Bu Sari menatap menantunya.

“Aku pernah marah kepadamu, Rina. Sangat marah.”

Rina menangis.

“Tapi kemudian aku sadar, kalau hati anakku cukup kuat, seribu keluhan dari istrinya tidak akan membuat dia membuang ibunya.”

Arman memejamkan mata.

“Jadi aku tidak akan meletakkan seluruh dosa itu di pundakmu.”

Rina terisak.

“Tapi kamu juga harus belajar. Orang tua tidak menjadi tidak berguna hanya karena tubuhnya sudah lemah.”

Malam itu mereka tidak turun dari gunung.

Hujan terlalu deras.

Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, Arman tidur hanya beberapa meter dari ibunya.

Namun ia hampir tidak memejamkan mata.

Menjelang subuh, ia mendengar suara Bu Sari batuk.

Ia bangkit dan menemukan ibunya duduk di depan tungku.

“Mak belum tidur?”

“Sudah.”

Arman duduk di sampingnya.

“Pulanglah bersama kami.”

Bu Sari tidak menjawab.

“Aku akan merawat Mak. Bukan karena rasa bersalah saja. Aku ingin memperbaiki semuanya.”

Bu Sari tersenyum.

“Enam tahun lalu kamu membawaku ke sini dengan kebohongan. Sekarang kamu ingin membawaku pergi dengan janji.”

Arman menunduk.

“Aku mengerti kalau Mak tidak percaya.”

“Kepercayaan itu seperti piring pecah, Man. Bisa direkatkan, tetapi bekas retaknya tetap ada.”

“Aku akan menerima bekasnya.”

Bu Sari menatap putranya lama.

“Kalau begitu jangan paksa aku pulang.”

Arman terkejut.

“Mak mau tetap di sini?”

“Untuk sementara.”

“Tapi Mak sudah delapan puluh delapan tahun.”

“Aku tahu umurku.”

Arman tersenyum pahit.

Bu Sari kemudian mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.

“Kalau benar ingin memperbaiki kesalahanmu, mulailah dari kakak dan adikmu.”

Arman mengernyit.

“Apa maksud Mak?”

Bu Sari bangkit perlahan dan mengambil sebuah kotak kayu dari lemari.

Di dalamnya terdapat beberapa surat.

Surat-surat itu ditujukan kepada kakak dan adik Arman.

“Mak pernah menghubungi mereka?”

“Dimas yang mengirimkan.”

Arman membaca salah satunya.

Tanggalnya dua tahun lalu.

Dalam surat itu, Bu Sari mengatakan dirinya masih hidup dan ingin bertemu.

Tangan Arman bergetar.

“Lalu?”

“Mereka tidak pernah datang.”

Dunia Arman seperti berhenti.

Ternyata bukan hanya dirinya yang gagal sebagai anak.

Dimas kemudian menjelaskan bahwa kedua saudara Arman telah menerima surat itu. Salah seorang bahkan menelepon Dimas dan meminta agar masalah tersebut tidak disebarkan karena takut menjadi aib keluarga.

Arman mengepalkan tangan.

“Mereka tahu Mak masih hidup?”

Bu Sari mengangguk.

“Dan mereka diam?”

“Seperti kamu dulu.”

Kalimat itu menghentikan amarah Arman seketika.

Ia sadar dirinya tidak memiliki hak untuk menghakimi.

Pagi berikutnya, sebelum turun gunung, Arman berdiri lama di depan gubuk.

“Aku akan kembali minggu depan.”

Bu Sari tersenyum.

“Jangan berjanji kalau belum yakin.”

“Aku tidak berjanji.”

Arman memandang ibunya.

“Aku akan datang.”

Dan kali ini ia benar-benar datang.

Minggu berikutnya.

Kemudian minggu berikutnya lagi.

Ia mulai memperbaiki atap gubuk, memasang panel surya kecil, memperbaiki jalan setapak, dan membawa Bu Sari memeriksakan kesehatan ke puskesmas.

Rina pun berubah.

Ia tidak lagi menganggap merawat Bu Sari sebagai pengorbanan. Ia justru sering tinggal beberapa hari menemani ibu mertuanya.

Beberapa bulan kemudian, Arman menjual sebagian usahanya di Jakarta dan kembali ke desa.

Ia tidak memaksa ibunya meninggalkan gunung.

Sebaliknya, ia membangun rumah kecil di dekat kaki bukit agar bisa berada lebih dekat.

Kabar bahwa Bu Sari masih hidup akhirnya menyebar.

Kedua saudara Arman datang.

Mereka menangis dan meminta maaf.

Bu Sari menerima mereka.

Namun ia tidak pernah berpura-pura bahwa enam tahun itu tidak terjadi.

“Aku memaafkan kalian,” katanya, “tetapi jangan meminta aku melupakan. Kalau semuanya dilupakan, kalian tidak akan belajar apa-apa.”

Setahun kemudian, pada ulang tahunnya yang ke delapan puluh sembilan, Bu Sari akhirnya bersedia meninggalkan gubuk.

Bukan karena dibujuk.

Bukan karena dipaksa.

Ia turun gunung dengan langkah pelan sambil menggenggam tangan Arman.

Sebelum pergi, ia berhenti di tempat yang sama di mana enam tahun sebelumnya ia ditinggalkan.

Arman berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Bu Sari memandang jalan itu lama.

“Dulu aku berdiri di sini sampai malam karena yakin kamu akan kembali.”

Arman menahan air mata.

“Maaf, Mak.”

Bu Sari menoleh.

“Kamu memang terlambat.”

Arman menunduk.

Namun ibunya tersenyum.

“Tapi akhirnya kamu kembali.”

Bu Sari kemudian berjalan menuju mobil.

Kali ini Arman membukakan pintu untuknya dan memastikan ibunya duduk dengan nyaman.

Sebelum mobil bergerak, Bu Sari memegang tangan putranya.

“Man.”

“Ya, Mak?”

“Jangan pernah meninggalkan seseorang hanya karena suatu hari dia menjadi beban. Kamu tidak pernah tahu berapa banyak bebanmu yang pernah dia pikul ketika kamu belum mampu berdiri sendiri.”

Arman mengangguk sambil menangis.

Mobil perlahan meninggalkan pegunungan.

Bu Sari menatap gubuk kecil yang semakin jauh melalui jendela.

Tempat itu pernah menjadi simbol pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.

Namun pada akhirnya, tempat yang sama mengajarkannya sesuatu yang tidak pernah ia duga.

Bahwa memaafkan bukan berarti menghapus luka.

Memaafkan adalah memilih agar luka itu tidak menentukan bagaimana sisa hidup kita dijalani.

Dan bagi Arman, suara ibunya yang selama enam tahun menghantuinya dalam mimpi tidak pernah benar-benar menghilang.

Hanya saja, sejak hari itu, suara tersebut tidak lagi berkata, “Arman, hari sudah gelap.”

Setiap pagi, dari kamar sebelah, suara tua itu justru memanggilnya dengan kalimat sederhana.

“Man, sudah bangun? Temani Mak minum teh.”

Dan setiap kali mendengarnya, Arman selalu segera bangkit.

Karena ia tahu, tidak semua orang yang terlambat pulang masih diberi kesempatan menemukan pintu rumahnya terbuka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang