AKU MENIKAH DENGAN PRIA BERUSIA 79 TAHUN, DAN KELUARGAKU MENGANGGAP AKU TELAH MENJUAL DIRI DEMI UANG.

Aku berdiri lama di dalam toilet gedung pemakaman itu, memandangi laporan kematian di tanganku sampai huruf-hurufnya terasa kabur.

Nama ibu.

Tanggal lahir ibu.

Nomor identitas lama yang pernah kulihat di dokumen keluarga.

Semuanya sama.

Tetapi perempuan yang membesarkanku masih hidup.

Jika dokumen ini benar, lalu siapa perempuan yang selama dua puluh empat tahun kupanggil Ibu?

Aku buru-buru melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas. Ketika keluar, pengacara Pak Surya sudah menungguku di dekat parkiran.

Namanya Pak Harun.

Ia tidak menatapku ketika berkata pelan, “Jangan pulang ke rumah orang tuamu.”

Aku tercekat.

“Bapak tahu isi amplop itu?”

“Tahu.”

“Kalau begitu jelaskan kepada saya.”

Pak Harun akhirnya menatapku. Wajahnya tegang.

“Bukan di sini.”

Ia berjalan menuju mobilnya. Aku mengikutinya tanpa banyak berpikir.

Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi potongan-potongan kejadian selama tujuh bulan terakhir. Foto perempuan yang mirip denganku. Mesin cetak tua. Deretan angka yang harus kusalin. Pelat-pelat logam yang diperiksa menggunakan kaca pembesar.

Dan pesan terakhir Pak Surya.

Cari pelat yang ada tanda burung kecil.

Pak Harun membawaku ke sebuah kantor kecil di daerah Kota Lama Semarang. Setelah memastikan pintu terkunci, ia membuka lemari besi dan mengeluarkan sebuah map cokelat.

“Pak Surya sudah mempersiapkan ini sejak lama,” katanya.

“Siapa perempuan dalam laporan kematian itu?”

Pak Harun menarik napas.

“Namanya Ratih.”

Nama ibuku.

Atau setidaknya, nama perempuan yang selama ini kukenal sebagai ibuku.

“Ratih adalah anak bungsu keluarga pemilik Percetakan Surya sebelum perusahaan itu sepenuhnya menjadi milik Pak Surya. Dua puluh empat tahun lalu, ia menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ia temukan.”

“Apa?”

“Pemalsuan dokumen.”

Aku terdiam.

Menurut Pak Harun, pada akhir tahun sembilan puluhan, percetakan Pak Surya pernah menerima pekerjaan rahasia dari beberapa orang berpengaruh. Awalnya hanya mencetak formulir perusahaan. Namun perlahan, salah satu bagian percetakan digunakan untuk membuat dokumen palsu, sertifikat tanah, akta perusahaan, kuitansi, bahkan surat pengalihan aset.

Ratih bekerja di bagian administrasi.

Ia menemukan bukti bahwa ratusan hektare tanah milik warga telah berpindah tangan menggunakan dokumen palsu.

Ratih berniat melapor.

Tiga hari kemudian, mobilnya ditemukan di dasar jurang.

Tubuh seorang perempuan ditemukan di dalamnya dalam kondisi sulit dikenali.

Identitas Ratih dinyatakan berdasarkan barang-barang pribadi.

Kasus ditutup sebagai kecelakaan.

“Lalu Pak Surya?” tanyaku.

“Dia tahu itu bukan kecelakaan.”

Aku merasa tengkukku dingin.

Pak Harun mendorong sebuah foto ke hadapanku.

Foto yang sama dengan yang pernah kulihat di ruang kerja.

Perempuan muda yang wajahnya begitu mirip denganku.

“Itu Ratih,” katanya.

Aku menahan napas.

“Dia… ibu kandungku?”

Pak Harun mengangguk perlahan.

Rasanya seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dadaku.

“Kalau Ratih meninggal ketika aku lahir, siapa perempuan yang membesarkanku?”

Pak Harun tidak langsung menjawab.

“Pak Surya belum pernah menemukan jawabannya secara pasti.”

Aku menatapnya.

“Lalu kenapa dia menikahiku?”

Pertanyaan itu keluar dengan suara hampir berbisik.

Pak Harun membuka map lain.

Di dalamnya terdapat salinan surat pernikahanku dengan Pak Surya, beberapa surat kepemilikan perusahaan, dan satu dokumen yang membuatku semakin bingung.

Surat pengalihan saham.

Namaku tercantum sebagai penerima.

Empat puluh sembilan persen saham percetakan.

“Apa ini?”

“Alasan pernikahan kalian.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.

“Jangan bilang dia menikahiku demi memberikan perusahaan.”

“Bukan hanya itu.”

Pak Harun menjelaskan bahwa Pak Surya sudah lama mencurigai seseorang di dalam keluarganya sendiri terlibat dalam jaringan pemalsuan lama tersebut.

Ia ingin membongkarnya.

Namun semua bukti asli sudah hilang.

Kecuali pelat cetak.

Puluhan pelat logam yang selama tujuh bulan terakhir kubersihkan setiap malam ternyata bukan sekadar benda tua.

Di permukaannya terdapat pola mikroskopis.

Nomor dokumen.

Tanggal.

Kode transaksi.

Nama perusahaan.

Semua tersembunyi dalam desain cetakan.

Pak Surya sengaja menyuruhku menyalinnya.

“Aku pikir itu latihan.”

“Itulah salinan bukti yang dia kumpulkan selama puluhan tahun.”

Aku teringat betapa kerasnya Pak Surya memaksaku memeriksa setiap sudut.

Periksa sudut kanan bawah.

Ulangi.

Jangan sampai salah satu angka pun keliru.

Tiba-tiba aku memahami semuanya.

Ia tidak sedang menyiksaku.

Ia sedang memastikan aku menghafal cara membaca bukti.

“Kenapa harus aku?”

Pak Harun menatapku lama.

“Karena Pak Surya yakin hanya keturunan Ratih yang bisa menyelesaikan apa yang gagal diselesaikan ibumu.”

Malam itu aku tidak pulang.

Aku menginap di hotel kecil dengan nama berbeda.

Sekitar pukul satu dini hari, teleponku berdering.

Ibu.

Aku menatap layar cukup lama sebelum mengangkatnya.

“Laras?”

Suara itu terdengar seperti suara yang kukenal sepanjang hidupku.

Hangat.

Sedikit serak.

Suara perempuan yang menyuapiku ketika sakit, menyisir rambutku ketika sekolah, memarahiku ketika pulang terlambat.

Tetapi sekarang suara itu terasa asing.

“Kamu di mana?” tanyanya.

“Kenapa Ibu bertanya?”

“Ibu dengar Pak Surya meninggal.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Kamu jangan ikut campur urusan keluarga mereka. Pulang saja.”

Aku terdiam.

Kemudian aku mencoba sesuatu.

“Ibu pernah kenal perempuan bernama Ratih?”

Hening.

Hanya dua detik.

Tetapi dua detik itu cukup.

“Ratih siapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Laras.”

Nada suaranya berubah.

“Siapa yang memberitahumu nama itu?”

Jantungku berdetak keras.

Aku memutus sambungan.

Lima menit kemudian seseorang mengetuk pintu hotelku.

Aku membeku.

Tidak mungkin.

Tak seorang pun tahu aku berada di sana selain Pak Harun.

Ketukan terdengar lagi.

“Bu Laras?”

Suara laki-laki.

“Petugas hotel.”

Aku tidak menjawab.

Lalu gagang pintu bergerak perlahan.

Seseorang mencoba membukanya.

Aku langsung mengambil tas dan keluar melalui pintu penghubung ke balkon servis. Dengan tangan gemetar aku menghubungi Pak Harun.

“Pergi ke tempat yang ramai,” katanya cepat. “Saya jemput.”

Kami bertemu di sebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam.

Begitu masuk mobilnya, aku berkata, “Mereka tahu.”

Pak Harun tidak tampak terkejut.

“Berarti kita tidak punya banyak waktu.”

Kami kembali ke rumah Pak Surya menjelang subuh.

Rumah itu masih dipenuhi keluarga yang sedang berduka. Namun Pak Harun memiliki kunci pintu samping.

Kami masuk melalui gudang.

Ruang kerja Pak Surya telah diacak-acak.

Kotak-kotak terbuka.

Kertas berserakan.

Pelat-pelat logam hilang.

Aku hampir putus asa sampai teringat perkataan terakhirnya.

Tanda burung kecil.

Aku berlutut di depan mesin cetak.

Pada sisi bawah tuas terdapat ukiran seekor burung yang sangat kecil.

Aku menekannya.

Klik.

Sebuah kompartemen rahasia terbuka.

Di dalamnya terdapat satu pelat logam.

Dan sebuah flashdisk.

Pak Harun menatapku.

“Dia berhasil menyembunyikannya.”

Kami membawa keduanya ke kantor.

Dalam flashdisk terdapat rekaman video Pak Surya.

Wajahnya terlihat lebih tua daripada biasanya.

“Laras, kalau kau melihat rekaman ini, berarti aku sudah tidak ada.”

Aku menahan napas.

“Aku minta maaf karena membawamu masuk ke dalam semua ini. Pernikahan kita memang bukan pernikahan seperti yang dipikirkan orang. Aku membutuhkan hubungan hukum yang cukup kuat untuk melindungimu dan memberimu hak atas perusahaan jika sesuatu terjadi padaku.”

Mataku mulai panas.

“Tapi ada satu hal yang tidak pernah sempat kukatakan.”

Pak Surya mengangkat foto Ratih.

“Ibumu tidak meninggal dalam kecelakaan.”

Aku mendekat ke layar.

“Perempuan yang ditemukan dalam mobil itu bukan Ratih.”

Aku dan Pak Harun saling berpandangan.

Pak Surya melanjutkan.

“Ratih selamat.”

Darahku seakan berhenti mengalir.

“Dia bersembunyi karena mengetahui siapa yang memerintahkan pembunuhannya. Namun sebelum menghilang, dia menitipkanmu kepada seseorang yang dipercaya.”

Aku langsung teringat perempuan yang membesarkanku.

Pak Surya menundukkan kepala.

“Masalahnya, orang yang dipercaya Ratih kemudian berkhianat.”

Rekaman berhenti beberapa detik.

Lalu muncul sebuah nama.

Aku tidak mengenalnya.

Tetapi Pak Harun berdiri mendadak.

“Tidak mungkin.”

“Siapa?”

Ia tidak menjawab.

Dari luar kantor terdengar suara kaca pecah.

Kami berdua membeku.

Seseorang telah masuk.

Pak Harun mematikan lampu.

Aku menyimpan flashdisk ke dalam saku.

Langkah kaki terdengar dari lorong.

Lalu suara yang sangat kukenal memanggil.

“Laras.”

Aku hampir tidak percaya.

Ibu.

Pintu terbuka.

Perempuan yang membesarkanku berdiri di sana bersama putra sulung Pak Surya.

Wajah mereka sama-sama dingin.

Saat itulah seluruh potongan teka-teki menyatu.

Putra Pak Surya ternyata telah bertahun-tahun melanjutkan bisnis dokumen palsu.

Sedangkan perempuan yang kupanggil Ibu adalah orang yang dahulu dipercaya Ratih untuk menyembunyikanku.

Ia membesarkanku bukan karena kasih sayang semata.

Ia membesarkanku agar dapat mengawasiku.

“Berikan pelatnya,” katanya.

Air mataku jatuh.

“Jadi selama ini… Ibu tahu?”

Wajahnya sempat berubah.

“Aku membesarkanmu dua puluh empat tahun, Laras.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku memberimu makan. Menyekolahkanmu. Menjagamu.”

“Dan membuatku membenci Pak Surya.”

Ia diam.

Aku akhirnya memahami alasan keluargaku begitu keras menentang pernikahanku.

Mereka takut aku terlalu dekat dengan satu-satunya orang yang mengetahui masa laluku.

Putra Pak Surya maju.

“Pelatnya.”

Aku mundur.

Namun sebelum ia mendekat, terdengar sirene dari luar.

Pak Harun tersenyum tipis.

Ternyata sebelum kami masuk ke rumah, ia sudah mengirimkan salinan data kepada seorang penyidik yang selama bertahun-tahun menyelidiki jaringan pemalsuan tersebut.

Polisi masuk beberapa menit kemudian.

Penangkapan berlangsung cepat.

Putra Pak Surya mencoba melarikan diri melalui pintu belakang.

Perempuan yang kupanggil Ibu hanya berdiri diam.

Ketika polisi hendak membawanya pergi, ia menatapku.

Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya.

Penyesalan.

“Laras.”

Aku tidak menjawab.

“Aku memang menerima uang untuk mengawasimu,” katanya lirih. “Tapi tidak semua yang kulakukan selama dua puluh empat tahun itu palsu.”

Aku menggigit bibir.

Sebagian diriku ingin membencinya.

Namun sebagian lain masih mengingat tangan yang menggenggamku ketika demam.

Manusia ternyata tidak selalu sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat.

Kadang-kadang pengkhianatan dan kasih sayang bisa tinggal dalam hati yang sama.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan besar dimulai.

Puluhan dokumen lama diperiksa kembali. Beberapa pejabat perusahaan dan perantara tanah ditangkap.

Pelat cetak Pak Surya menjadi salah satu bukti penting.

Namun masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

Di mana Ratih?

Tiga bulan setelah kematian Pak Surya, aku menerima surat tanpa nama pengirim.

Di dalamnya hanya terdapat sebuah foto.

Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di depan rumah sederhana di Salatiga.

Rambutnya sudah dipenuhi uban.

Tetapi matanya…

Aku mengenali mata itu.

Mataku sendiri.

Di belakang foto tertulis sebuah alamat.

Aku datang sendirian.

Ketika pintu rumah terbuka, perempuan itu menatapku tanpa bicara.

Tangannya langsung menutup mulut.

Air matanya jatuh.

“Laras?”

Aku tidak tahu bagaimana ia mengenaliku.

Aku juga tidak tahu harus memanggilnya apa.

Ibu?

Ratih?

Orang asing?

Ia mendekat perlahan.

“Aku menunggumu selama dua puluh empat tahun.”

Aku menangis.

“Kalau begitu kenapa tidak pernah mencari aku?”

Wajahnya berubah.

“Aku mencari.”

“Tidak.”

“Aku selalu mencari.”

Ia masuk ke dalam rumah lalu kembali membawa sebuah kotak kayu.

Di dalamnya terdapat puluhan surat.

Semua ditujukan kepadaku.

Satu surat untuk setiap ulang tahunku.

Namun tidak satu pun pernah sampai.

Ratih mengatakan bahwa selama bertahun-tahun ia hidup menggunakan identitas berbeda karena orang-orang yang memburunya belum berhenti mencarinya.

Pak Surya akhirnya menemukannya dua tahun lalu.

Mereka membuat rencana bersama.

Ia tidak bisa muncul sebelum jaringan itu terbongkar.

Itulah alasan Pak Surya mendekatiku.

Namun ada satu pertanyaan terakhir.

“Kenapa harus menikah?”

Ratih tersenyum sedih.

“Karena Surya tidak percaya dia akan hidup lama. Kalau dia hanya menjadikanmu pegawai, keluarganya bisa mengusirmu tanpa hak apa pun. Sebagai istrinya, namamu masuk dalam struktur hukum warisan dan perusahaan.”

Aku terdiam.

Selama tujuh bulan, seluruh dunia menganggap aku perempuan muda yang menjual dirinya kepada lelaki tua.

Padahal lelaki itu sedang mempertaruhkan sisa hidupnya untuk melindungiku.

Sebelum pulang, Ratih menyerahkan sebuah surat terakhir.

Tulisan Pak Surya.

Aku membukanya di dalam mobil.

“Laras, manusia akan selalu menilai sesuatu dari apa yang mereka lihat dari luar. Biarkan mereka. Kebenaran tidak membutuhkan suara paling keras. Ia hanya membutuhkan seseorang yang cukup berani untuk menjaganya sampai waktunya tiba.”

Aku menangis lama setelah membaca kalimat itu.

Setahun kemudian, aku mengambil alih sebagian pengelolaan percetakan.

Mesin tua di ruang rahasia tidak pernah kubuang.

Aku membersihkannya dan menaruh sebuah bingkai kecil di sampingnya.

Foto Pak Surya.

Bukan sebagai suamiku.

Bukan sebagai lelaki kaya yang pernah dituduh membeliku.

Melainkan sebagai seseorang yang menerima kebencian banyak orang demi menyelesaikan kesalahan masa lalu.

Keluargaku akhirnya mengetahui seluruh kebenaran.

Ayah datang menemuiku.

Ia berdiri di depan pintu kantor dengan kepala tertunduk.

“Maafkan Ayah.”

Aku tidak langsung menjawab.

Dulu aku membayangkan hari ketika mereka meminta maaf akan terasa seperti kemenangan.

Ternyata tidak.

Yang kurasakan justru tenang.

“Aku memaafkan Ayah,” kataku.

“Tapi ada hal-hal yang tidak bisa kembali seperti sebelumnya.”

Ayah mengangguk.

Aku menutup pintu perlahan.

Kemudian aku kembali ke ruang kerja.

Di sana, cahaya pagi jatuh tepat ke atas mesin cetak tua.

Tanganku menyentuh tuas yang dahulu harus kuputar sampai pukul tiga dini hari.

Tujuh bulan itu pernah terasa seperti hukuman.

Sekarang aku tahu, setiap putaran mesin tersebut sebenarnya sedang membawa sebuah kebenaran keluar dari kegelapan.

Dan lelaki berusia tujuh puluh sembilan tahun yang dianggap semua orang telah membeli seorang istri muda ternyata tidak pernah membeli apa pun dariku.

Justru dialah yang membayar harga paling mahal.

Dengan nama baiknya.

Dengan keluarganya.

Dan pada akhirnya, dengan hidupnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang