Tubuhku seperti kehilangan tenaga ketika suara itu memanggil namaku.
“Alina…”
Aku berdiri terpaku di depan cermin tua, sementara Bu Ratih menutup mulutnya dengan kedua tangan. Palu yang tadi digenggamnya tergeletak di lantai.
Aku tidak peduli lagi pada larangannya.
Tidak peduli pada tiket pesawat palsu, foto di bandara, ataupun cerita tentang kapal penangkap ikan di Jepang.
Aku menarik bingkai cermin sekuat tenaga.
“Jangan!” teriak Bu Ratih.
Terlambat.
Cermin itu bergeser seperti pintu rahasia, memperlihatkan sebuah lorong sempit di balik dinding. Bau lembap bercampur obat-obatan langsung menerpa hidungku.
Ada lampu kecil berwarna kuning di ujung lorong.
Aku masuk.
“Dimas?”
Tidak ada jawaban.
Aku melangkah semakin dalam.
Lorong itu hanya cukup dilewati satu orang. Dindingnya terbuat dari bata tua. Beberapa kabel listrik menjulur dari atas, mengarah ke sebuah ruangan tersembunyi di belakang rumah.
Dan ketika aku sampai di sana, kedua lututku hampir tidak mampu menopang tubuhku.
Dimas terbaring di atas kasur tipis.
Tubuhnya kurus.
Rambutnya panjang dan berantakan.
Wajahnya pucat.
Di pergelangan kaki kirinya terpasang rantai besi pendek yang dikunci ke sebuah cincin besar di lantai.
“Ya Tuhan…”
Aku berlari menghampirinya.
“Dimas!”
Matanya terbuka perlahan.
Untuk beberapa detik ia hanya menatapku seperti seseorang yang tidak yakin apakah aku nyata.
Lalu bibirnya bergerak.
“Jangan… jangan panggil siapa-siapa.”
Aku menangis sambil memegang wajahnya.
“Apa yang mereka lakukan padamu?”
Dimas mencoba bangkit, tetapi tubuhnya terlalu lemah.
Bu Ratih muncul beberapa langkah di belakangku.
“Alina, dengarkan Ibu dulu.”
Aku langsung berdiri dan berbalik.
“DENGARKAN APA?”
Suara teriakanku menggema di ruangan sempit itu.
“Tiga bulan, Bu! Tiga bulan kalian bilang suami saya ada di Jepang! Kalian membiarkan anak saya percaya ayahnya pergi! Kalian mengurung dia seperti binatang!”
Bu Ratih menangis.
“Kalau kami tidak melakukannya, dia sudah mati.”
Aku membeku.
“Apa?”
Dimas memejamkan mata.
“Bu… sudah.”
Namun Bu Ratih justru menatapku dengan wajah hancur.
“Utang dua miliar itu benar, Alina. Tapi bukan itu alasan Dimas bersembunyi.”
“Bersembunyi?”
Aku menunjuk rantai di kakinya.
“Ini menurut Ibu bersembunyi?”
Bu Ratih tidak menjawab.
Aku mengambil ponsel.
“Aku telepon polisi.”
Tiba-tiba Dimas meraih tanganku.
“Jangan.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Tangannya dingin.
“Kalau polisi datang, mereka akan tahu aku masih hidup.”
“Memangnya siapa mereka?”
Dimas menelan ludah.
Lalu berkata pelan,
“Orang yang seharusnya sudah mengira aku mati.”
Aku merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk mulai terbentuk di dalam kepalaku.
Dimas menarik napas.
“Tiga bulan lalu, perusahaan ekspedisiku bukan cuma hampir bangkrut.”
Ia menatapku.
“Aku menemukan sesuatu.”
Ternyata selama hampir setahun, salah satu klien terbesar perusahaan Dimas menggunakan armada truknya untuk mengirim barang antarprovinsi.
Dalam dokumen resmi, muatan itu tercatat sebagai suku cadang mesin dan produk elektronik.
Namun pada suatu malam, salah satu sopir Dimas mengalami kecelakaan kecil di dekat Gresik.
Pintu belakang kontainer terbuka.
Isinya bukan suku cadang.
Melainkan puluhan kotak obat ilegal, uang tunai, dan dokumen identitas palsu.
Dimas panik.
Ia memotret semuanya.
Kemudian ia menyalin data pengiriman selama satu tahun.
“Aku pikir kalau aku lapor polisi, semuanya selesai,” kata Dimas.
“Tapi sebelum aku sempat melapor, seseorang datang ke kantor.”
“Siapa?”
Dimas diam cukup lama.
Kemudian menjawab,
“Pak Harun.”
Nama itu membuatku terkejut.
Harun adalah paman Dimas.
Adik kandung Bu Ratih.
Selama ini dialah yang paling sering membantuku setelah Dimas menghilang.
Bahkan dialah yang mengurus dokumen keberangkatan Dimas ke Jepang.
“Paman Harun?”
Dimas mengangguk pelan.
“Dia bagian dari jaringan itu.”
Aku merasa seolah lantai bergerak di bawah kakiku.
Dimas kemudian menceritakan bahwa Harun mengetahui dirinya telah menyimpan salinan dokumen.
Ia meminta Dimas menyerahkannya.
Dimas menolak.
Dua hari kemudian, gudangnya terbakar.
Seorang sopirnya meninggal.

Dan malam berikutnya, sebuah mobil mengikuti Dimas sampai ke rumah.
“Harun bilang mereka akan membunuhmu dan Nara kalau aku bicara.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Jadi keluarga memalsukan keberangkatanku ke Jepang. Foto di bandara dibuat sebelum aku kembali lewat pintu servis. Rekaman suara itu direkam di rumah Harun.”
Aku menoleh kepada Bu Ratih.
“Lalu rantai itu?”
Bu Ratih menangis semakin keras.
“Itu kesalahan Ibu.”
Dimas memalingkan wajah.
Aku menunggu.
Akhirnya Bu Ratih berkata,
“Dimas beberapa kali mencoba keluar. Dia bilang ingin menyerahkan semua bukti kepada polisi. Ibu takut. Harun sudah mengancam akan membunuh Nara.”
“Jadi Ibu merantai anak Ibu sendiri?”
“Ibu tidak tahu harus bagaimana!”
Aku menatap perempuan itu dengan campuran marah dan jijik.
“Nara tahu?”
Bu Ratih menggeleng cepat.
“Tidak semuanya.”
Namun Dimas berkata,
“Dia pernah melihatku.”
Ternyata sekitar sebulan setelah Dimas bersembunyi, Nara terbangun tengah malam dan melihat Bu Ratih membawa makanan ke kamar belakang.
Nara mengikutinya.
Sejak saat itu ia mengetahui ayahnya berada di balik dinding.
Dimas memintanya merahasiakan hal itu dariku.
“Kenapa kamu melakukan itu pada anak kita?” tanyaku.
Air mata Dimas jatuh.
“Karena aku takut dia menceritakannya di sekolah.”
“Dia baru enam tahun, Dimas.”
“Aku tahu.”
“Dia setiap malam membawa makanan untukmu!”
“Aku tahu.”
Suara Dimas pecah.
“Aku mendengar kalian setiap hari. Aku dengar kamu menangis. Aku dengar Nara bertanya kapan aku pulang. Aku berada hanya beberapa meter dari kalian dan tidak bisa keluar.”
Kemarahan yang sejak tadi memenuhi dadaku mendadak berubah menjadi rasa sakit.
Aku duduk di lantai.
Untuk beberapa saat tidak seorang pun berbicara.
Kemudian terdengar suara pintu depan dibuka.
Bu Ratih langsung pucat.
Aku menoleh.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Lalu suara seorang laki-laki terdengar dari dalam rumah.
“Mbak Ratih?”
Tubuh Dimas menegang.
Bu Ratih berbisik,
“Harun.”
Jantungku berhenti sejenak.
Langkah kaki terdengar mendekat.
“Mobil Alina masih di depan. Kalian di mana?”
Dimas langsung menunjuk sebuah lemari kecil di sudut ruangan.
“Di dalam ada flashdisk.”
Aku berlari mengambilnya.
“Bawa Nara keluar lewat pintu belakang.”
“Bagaimana dengan kamu?”
“Jangan pikirkan aku.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Alina!”
Suara Harun semakin dekat.
Bu Ratih mendadak menarik cermin dari dalam hingga celah hampir tertutup.
“Aku akan menahannya.”
Aku menatapnya.
“Ibu?”
Ia memegang lenganku.
“Selama tiga bulan Ibu pengecut.”
Air matanya mengalir.
“Jangan biarkan Nara tumbuh dengan keluarga seperti kami.”
Kemudian Bu Ratih keluar dan menutup pintu rahasia.
Beberapa detik kemudian terdengar suara Harun.
“Kok cerminnya bergeser?”
“Kayunya sudah tua.”
“Ratih.”
Nada suara Harun berubah.
“Alina sudah tahu?”
Tidak ada jawaban.
BRAK.
Suara benda jatuh.
Aku menutup mulut agar tidak berteriak.
Kemudian Harun berkata,
“Sudah berapa kali kubilang, jangan biarkan siapa pun menyentuh kamar ini?”
Dimas berbisik,
“Ada jalan keluar kecil di belakang.”
Kami bergerak cepat.
Aku membantu Dimas berdiri.
Ia hampir jatuh karena kakinya lama tidak digunakan.
Rantai itu ternyata bisa dibuka menggunakan kunci yang tersimpan di bawah kasur.
Kami melewati lorong sempit menuju pintu kecil yang tembus ke gudang belakang rumah.
Begitu keluar, aku langsung berlari ke kamar Nara.
Putriku sedang bermain sendirian.
Begitu melihat Dimas berdiri di belakangku, matanya langsung membesar.
“Ayah?”
Dimas berjongkok.
Nara berlari dan memeluknya.
Aku tidak pernah mendengar tangisan Dimas sekeras itu.
Namun kami tidak punya waktu.
Aku membawa mereka keluar melalui pintu belakang.
Saat kami hampir mencapai gang kecil di belakang rumah, Harun muncul.
“Berhenti.”
Tangannya memegang pistol.
Aku otomatis berdiri di depan Nara.
Harun menggeleng.
“Kenapa kalian harus membuat semuanya sulit?”
Dimas berdiri di depanku.
“Masalahmu sama aku.”
“Masalahku sama flashdisk itu.”
Harun mengulurkan tangan.
“Serahkan.”
Aku menggenggam flashdisk dalam saku.
“Kalau kami kasih, kamu akan membiarkan kami pergi?”
Harun tersenyum tipis.
“Alina, jangan naif.”
Saat itulah aku benar-benar memahami bahwa tidak ada negosiasi.
Kami semua akan dibunuh.
Aku menatap Dimas.
Ia menatapku.
Dan entah bagaimana, kami memahami satu sama lain.
Aku melempar flashdisk jauh ke arah halaman.
Harun refleks menoleh.
Dimas langsung menerjangnya.
Terdengar suara tembakan.
Nara menjerit.
Aku menarik putriku berlari menuju jalan raya sambil berteriak meminta pertolongan.
Beberapa warga keluar.
Aku berteriak,
“Tolong! Telepon polisi!”
Harun tidak berani mengejar karena semakin banyak orang berkumpul.
Dimas kemudian muncul tertatih dari halaman.
Bahu kirinya berdarah.
Namun ia masih hidup.
Dua puluh menit kemudian, polisi datang.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, rahasia rumah itu benar-benar terbuka.
Harun ditangkap malam itu juga.
Bu Ratih ditemukan pingsan di kamar belakang akibat dipukul dengan gagang pistol, tetapi selamat.
Dimas dibawa ke rumah sakit.
Flashdisk yang sempat kulempar juga berhasil ditemukan.
Isinya jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan.
Ada daftar pengiriman, nomor rekening, rekaman percakapan, hingga nama sejumlah orang yang terlibat.
Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi penyelidikan besar.
Beberapa orang ditangkap di Surabaya, Jakarta, dan Makassar.
Namun kejutan terbesar justru muncul tiga minggu kemudian.
Seorang penyidik datang menemuiku di rumah sakit.
“Bu Alina, kami menemukan sesuatu dari data suami Anda.”
Aku mengira ia akan membicarakan Harun.
Ternyata bukan.
Ia meletakkan sebuah dokumen di depanku.
“Itu data kepemilikan rekening.”
Aku membaca nama yang tercetak di sana.
Tanganku langsung dingin.
Ratih Kusuma.
Ibu mertuaku.
Aku menatap penyidik.
“Ini apa?”
“Bu Ratih bukan sekadar tahu tentang jaringan tersebut.”
Ia menatapku tajam.
“Beliau salah satu orang yang menerima aliran uang paling besar.”
Dunia seperti berhenti.
Aku teringat tangisnya.
Ketakutannya.
Palu di tangannya.
Kata-katanya bahwa ia hanya ingin melindungi Dimas dan Nara.
Semuanya ternyata tidak sesederhana itu.
Aku langsung menemui Bu Ratih.
Beliau masih dirawat di kamar lain.
Aku meletakkan dokumen itu di atas selimutnya.
“Ibu mau jelaskan?”
Wajahnya berubah.
Tidak ada lagi alasan.
Tidak ada lagi air mata.
Bu Ratih hanya menatap dokumen itu lama sekali.
Kemudian berkata,
“Ibu ingin keluar.”
“Keluar dari apa?”
“Dari jaringan itu.”
Ternyata bertahun-tahun sebelumnya, setelah suaminya meninggal dan meninggalkan banyak utang, Harun menawarkan bantuan kepada Bu Ratih.
Awalnya hanya meminjam rekening.
Kemudian menyimpan dokumen.
Lalu menerima uang.
Sedikit demi sedikit, ia terjebak semakin dalam.
Ketika Dimas menemukan semuanya, Bu Ratih tahu bahwa bila anaknya melapor, seluruh keluarga mereka akan terseret.
“Jadi Ibu menyembunyikan Dimas bukan hanya untuk menyelamatkannya.”
Aku menatapnya.
“Ibu juga ingin menyelamatkan diri sendiri.”
Bu Ratih menangis tanpa suara.
“Iya.”
Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada seluruh kebohongan sebelumnya.
Aku meninggalkan kamar.
Bu Ratih akhirnya ditetapkan sebagai tersangka karena keterlibatannya dalam pencucian uang, meskipun ia kemudian bekerja sama dengan penyidik dan memberikan informasi penting tentang jaringan Harun.
Dimas juga tidak langsung bebas dari masalah.
Perusahaannya tetap bangkrut.
Utangnya nyata.
Beberapa kesalahan bisnis memang ia lakukan sendiri.
Namun setidaknya ia tidak lagi bersembunyi.
Enam bulan setelah semuanya terjadi, kami pindah dari rumah itu.
Aku tidak sanggup tinggal di tempat yang menyimpan terlalu banyak kebohongan di balik dindingnya.
Dimas menjalani terapi fisik dan mulai bekerja sebagai pegawai di perusahaan logistik milik seorang teman lama.
Hidup kami jauh lebih sederhana.
Kami masih membayar utang sedikit demi sedikit.
Namun untuk pertama kalinya, tidak ada lagi rahasia.
Suatu malam, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, Nara datang membawa dua piring kecil.
Aku langsung terdiam.
Pemandangan itu mengingatkanku pada malam-malam ketika ia menyelipkan makanan untuk Dimas.
“Mau dibawa ke mana?”
Nara tersenyum.
“Buat Ayah.”
Aku menatapnya.
“Ayah kan di ruang tamu.”
“Iya.”
Ia berjalan keluar.
Kemudian berhenti dan menoleh.
“Sekarang Ayah nggak perlu makan di balik dinding lagi.”
Aku tersenyum, tetapi air mataku tetap jatuh.
Dimas memanggil dari ruang tamu.
“Nara, jangan banyak-banyak nasinya!”
Putriku tertawa.
Rumah kami kecil.
Tidak ada cermin tua.
Tidak ada lorong rahasia.
Tidak ada dinding palsu.
Hanya suara televisi, aroma nasi hangat, tawa Nara, dan Dimas yang sesekali masih batuk karena bekas penyakitnya.
Dulu aku mengira hal paling mengerikan adalah mengetahui suamiku disembunyikan hidup-hidup di balik dinding.
Ternyata aku salah.
Hal paling mengerikan adalah mengetahui bahwa manusia bisa membangun kebohongan begitu besar, lalu menyebutnya cinta karena takut kehilangan apa yang mereka miliki.
Sejak hari itu aku belajar satu hal.
Keluarga bukanlah orang-orang yang selalu melindungi kita dari kebenaran.
Keluarga adalah mereka yang cukup berani menghadapi kebenaran bersama kita, bahkan ketika kebenaran itu menghancurkan semua yang selama ini kita percaya.
