Amplop cokelat itu masih berada di tangan Arga ketika aku akhirnya memahami satu hal yang paling menakutkan malam itu. Lelaki yang berdiri di depanku bukan sedang berusaha mempertahankan rumah tangga kami. Dia sedang mempertahankan kebohongan yang dibangunnya selama bertahun-tahun.
“Bukan untuk istri saya. Salah orang,” katanya kepada petugas keamanan.
Petugas itu mengernyit.
“Tapi alamatnya benar, Pak. Nama penerimanya juga Ratih Wulandari.”

Arga hendak menutup pintu, tetapi aku sudah melangkah maju.
“Saya Ratih Wulandari.”
Wajah Arga menegang.
Aku mengulurkan tangan.
“Berikan suratnya kepada saya.”
Petugas keamanan memandang kami bergantian. Arga masih menggenggam amplop itu, seolah selembar kertas tersebut lebih berbahaya daripada senjata.
“Ratih, masuk kamar,” katanya pelan.
Biasanya nada seperti itu cukup membuatku menurut.
Malam itu tidak.
“Itu surat untukku.”
“Kamu sedang tidak sehat.”
“Aku sehat.”
“Jangan keras kepala.”
Aku menatap matanya.
“Yang keras kepala aku, atau orang yang selama bertahun-tahun menyembunyikan surat keluargaku?”
Wajahnya kehilangan warna.
Pak Darto yang berdiri beberapa langkah di belakang kami langsung menunduk.
Arga menatapnya tajam.
“Kamu bilang apa kepada dia?”
Pak Darto buru-buru menggeleng.
“Bukan saya.”
Aku hampir tertawa. Bahkan ketika kebohongannya terbongkar, hal pertama yang dipikirkannya adalah mencari siapa yang mengkhianatinya.
Petugas keamanan akhirnya menarik amplop itu dari tangan Arga dan menyerahkannya kepadaku.
“Karena penerimanya ada di sini, saya serahkan langsung.”
Aku mengucapkan terima kasih, lalu menutup pintu.
Arga langsung mendekat.
“Kasih surat itu.”
Aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
“Ratih.”
“Aku dengar semuanya di klinik.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku melihat sesuatu berubah di wajah suamiku. Senyum hangat yang selama ini membuat semua orang percaya kepadanya lenyap begitu saja.
“Sejak kapan?”
“Cukup lama untuk tahu kau ingin menyingkirkan anak kita.”
Aku menoleh kepada Pak Darto.
“Dan cukup lama untuk tahu obat apa yang sebenarnya ingin kalian berikan kepadaku.”
Pak Darto terlihat pucat.
“Saya belum melakukan apa pun, Bu Ratih.”
“Tapi Bapak datang membawa suntikan.”
Dia tidak mampu menjawab.
Arga justru tertawa kecil.
“Kamu salah paham.”
Aku membuka amplop.
Tanganku gemetar saat membaca nama pengirimnya.
Hendra Wijaya dan Mira Lestari.
Bandung.
Di dalamnya ada surat, beberapa fotokopi dokumen, dan sebuah foto lama.
Begitu melihat foto itu, napasku tercekat.
Seorang perempuan muda sedang menggendong anak perempuan kecil di depan sebuah rumah. Anak itu mengenakan kaus kuning dan memiliki tanda lahir kecil di dekat telinga kiri.
Tanganku spontan menyentuh telingaku sendiri.
Aku mempunyai tanda lahir yang sama.
Di belakang foto tertulis dengan tinta yang mulai memudar.
Ratih, usia lima tahun.
Aku tidak sanggup berdiri.
“Ini aku.”
Air mataku jatuh.
“Mas, ini aku.”
Arga mencoba mengambil foto tersebut, tetapi aku segera menjauhkannya.
Aku membaca suratnya.
Orang tuaku menjelaskan bahwa mereka telah mencariku selama hampir dua puluh tahun. Setelah sebuah bencana membuat keluarga kami terpisah ketika berpindah tempat tinggal, aku dibawa ke pos pengungsian berbeda. Kesalahan administrasi membuat identitasku tercatat tidak lengkap sebelum akhirnya aku masuk ke yayasan sosial.
Mereka baru menemukan jejak keluarga angkatku bertahun-tahun kemudian.
Mereka mengirim surat.
Tidak sekali.
Belasan kali.
Beberapa surat dikembalikan. Beberapa dinyatakan telah diterima.
Salah satunya bahkan memiliki tanda tangan penerima.
Arga Pratama.
Aku mengangkat kertas itu.
“Kau menerima surat ini tiga tahun lalu.”
Arga diam.
“Tiga tahun lalu kita bahkan belum menikah.”
Aku tiba-tiba teringat sesuatu.
Saat itu Arga sudah mendekatiku.
Dia sering membantu keluarga angkatku. Mengantar beras. Memperbaiki atap. Mengurus dokumen.
Semua orang menganggapnya pemuda baik.
“Jadi sejak sebelum menikah, kau sudah tahu?”
“Ratih, dengarkan dulu.”
“Jawab!”
“Iya.”
Satu kata itu menghancurkan sisa keraguan yang masih kumiliki.
Aku menangis sambil tertawa getir.
“Lalu foto sebelum pernikahan kita?”
Arga membuang muka.
Aku langsung tahu jawabannya.
“Kau yang membuatnya?”
“Tidak sesederhana itu.”
“KAU YANG MEMBUATNYA?”
Pak Darto mundur.
Arga akhirnya membentak.
“Iya!”
Aku terpaku.
Dia mengusap wajahnya kasar.
“Aku cuma ingin memastikan kamu tidak membatalkan pernikahan.”
“Dengan menghancurkan nama baikku?”
“Kamu tidak mengerti situasinya.”
“Situasi apa?”
Untuk pertama kalinya Arga tidak lagi berusaha menjadi lelaki teladan.
Wajahnya keras.
“Aku sudah menghabiskan bertahun-tahun menjaga semuanya tetap sesuai rencana. Lalu keluargamu muncul. Kalau kamu tahu siapa mereka, kamu pasti pergi ke Bandung. Kamu akan punya uang, keluarga, kehidupan baru. Kamu tidak akan membutuhkan aku.”
“Jadi kau menikahiku supaya bisa mengendalikan aku?”
“Aku memberimu rumah.”
“Rumah?”
Aku menunjuk tas medis Pak Darto.
“Ini yang kau sebut rumah?”
Arga terdiam.
Aku melanjutkan membaca surat.
Di bagian terakhir terdapat nomor telepon.
Aku mengambil ponsel.
Arga langsung bergerak.
“Jangan.”
Aku menatapnya.
“Aku akan menelepon mereka.”
“Ratih, pikirkan baik-baik.”
“Aku sudah terlalu lama berpikir tentang apa yang baik untuk semua orang kecuali diriku sendiri.”
Aku menekan nomor itu.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua juga tidak.
Pada panggilan ketiga, terdengar suara perempuan.
“Halo?”
Aku tidak mampu berbicara.
“Halo? Siapa ini?”
Bibirku bergetar.
“Saya Ratih.”
Sunyi.
Kemudian terdengar benda jatuh.
Suara perempuan itu berubah.
“Ratih siapa?”
“Ratih Wulandari.”
Tangisan pecah dari seberang.
“Ya Allah.”
Aku menutup mulut.
“Ratih?”
“Iya.”
“Kamu benar-benar Ratih?”
Aku menangis.
“Ibu?”
Perempuan itu tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya mendengar tangisnya.
Lalu suara seorang lelaki muncul.
“Kamu di mana sekarang?”
Aku memberikan alamat.
“Kami berangkat malam ini.”
Aku tercengang.
“Dari Bandung?”
“Kami sedang di Surabaya.”
“Kenapa?”
Jawaban ayahku membuat Arga menegang.
“Karena besok kami sebenarnya mau datang ke Jember bersama polisi.”
Aku memandang suamiku.
Ayah melanjutkan.
“Kami sudah curiga surat kami sengaja ditahan seseorang.”
Malam itu aku tidak tidur.
Arga mencoba membujukku berkali-kali.
Dia mengatakan semuanya dilakukan karena takut kehilangan aku.
Aku tidak percaya lagi.
Menjelang tengah malam, dia bahkan berlutut.
“Aku khilaf.”
Aku menatapnya tanpa perasaan.
“Khilaf itu dilakukan sekali, Mas. Kau melakukan ini bertahun-tahun.”
Pak Darto akhirnya pergi setelah aku meminta tas medisnya ditinggalkan. Dia mengaku tidak mengetahui seluruh rencana Arga dan bersedia memberikan kesaksian.
Pagi hari, dua mobil berhenti di depan rumah.
Seorang perempuan sekitar lima puluhan turun terlebih dahulu.
Begitu melihatku, dia berhenti.
Aku pun tidak bergerak.
Wajah kami tidak persis sama, tetapi matanya membuatku merasa sedang melihat sesuatu yang sudah kukenal jauh sebelum aku mampu mengingat.
Perempuan itu menangis.
“Ratih.”
Aku berjalan perlahan.
Dia tidak langsung memelukku.
Dia hanya bertanya dengan suara gemetar.
“Boleh Ibu peluk?”
Pertanyaan sederhana itu justru menghancurkan pertahananku.
Aku memeluknya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menangis tanpa merasa harus meminta maaf.
Ayah berdiri di belakangnya dengan mata merah.
Namun mereka tidak datang sendirian.
Ada dua polisi dan seorang petugas dinas sosial.
Arga keluar dari rumah.
Tetangga mulai berkumpul.
Dia masih mencoba tersenyum.
“Pak, mungkin ada kesalahpahaman.”
Ayahku menatapnya lama.
“Kamu Arga?”
“Iya.”
Ayah mengeluarkan sebuah map.
“Kami punya salinan bukti penerimaan surat atas namamu.”
Arga mulai gelisah.
“Aku bisa jelaskan.”
“Ada lagi.”
Ayah mengeluarkan ponselnya.
“Nisa Rahma menghubungi kami dua minggu lalu.”
Aku membeku.
Arga juga.
“Apa?”
Ayah memperlihatkan percakapan.
Nisa mengaku sebagai anak mereka yang hilang.
Dia mengirim foto masa kecil yang ternyata merupakan foto milikku yang telah diedit.
Namun kebohongan itu cepat terbongkar karena Nisa tidak mengetahui beberapa informasi yang sengaja tidak pernah dicantumkan dalam surat.
“Apa yang dia inginkan?” tanyaku.
“Modal usaha.”
Ayah menatap Arga.
“Dan dia mengatakan seorang bernama Arga Pratama yang menemukan hubungan keluarga kami.”
Semua mata tertuju kepada suamiku.
Arga mundur.
Saat itulah sebuah motor berhenti di depan rumah.
Nisa turun bersama suaminya.
Wajahnya penuh amarah.
“Mas Arga!”
Dia berjalan cepat.
“Kamu bilang mereka akan percaya!”
Suaminya mencoba menahannya.
“Nisa, cukup.”
Namun Nisa sudah kehilangan kendali.
“Kamu bilang Ratih tidak akan pernah tahu!”
Kerumunan tetangga langsung bergemuruh.
Arga memejamkan mata.
Dalam hitungan detik, citra lelaki teladan yang dibangunnya bertahun-tahun runtuh di depan orang-orang yang selama ini memujanya.
Tetapi kejutan terbesar datang dari Nisa sendiri.
“Aku tidak pernah menyuruhmu mencelakai kandungannya!”
Aku menatapnya.
Nisa menangis.
“Aku memang menerima uangmu. Aku memang bodoh karena ikut berpura-pura menjadi anak keluarga mereka. Tapi soal bayi itu, aku tidak tahu.”
Arga membentak.
“Diam!”
Nisa justru semakin keras.
“Kenapa aku harus diam? Selama ini kamu bilang semua bantuanmu karena kita seperti saudara. Aku baru tahu setelah menikah kalau kamu terobsesi kepadaku!”
Suaminya berdiri di samping Nisa.
“Aku sudah mengembalikan uang terakhir yang dia kirim.”
Arga tampak seperti kehilangan pijakan.
Ternyata perempuan yang selama ini ingin dia lindungi dengan menghancurkan hidupku bahkan tidak pernah meminta pengorbanan sebesar itu.
Dia menghancurkan keluarganya sendiri demi cinta yang hanya hidup di kepalanya.
Polisi kemudian membawa Arga untuk dimintai keterangan. Pak Darto menyerahkan obat dan menceritakan percakapan mereka. Penyelidikan juga menemukan puluhan surat dari keluargaku tersimpan di dasar lemari, dibungkus plastik hitam.
Di antara surat-surat itu terdapat kartu ulang tahun.
Foto keluarga.
Bahkan surat dari ibuku ketika aku berusia dua puluh tiga tahun.
Ibu menulis bahwa dia tidak tahu apakah aku masih mengingat wajahnya, tetapi dia tidak pernah melewati satu ulang tahunku tanpa membeli kue kecil.
Aku membaca surat itu berulang kali.
Selama bertahun-tahun aku percaya tidak ada seorang pun yang mencariku.
Padahal di kota lain, ada keluarga yang terus menyalakan lilin untuk anak yang mereka pikir mungkin tidak akan pernah pulang.
Beberapa bulan kemudian, aku pindah sementara ke Bandung.
Aku tidak langsung mengambil keputusan tentang pernikahanku karena proses hukum dan perceraian membutuhkan waktu. Namun satu keputusan tidak pernah berubah.
Aku tidak kembali kepada Arga.
Anakku lahir sehat.
Seorang perempuan.
Ibu bertanya apa nama yang ingin kuberikan kepadanya.
Aku memilih Kirana.
Cahaya.
Bukan karena hidup kami akhirnya sempurna.
Melainkan karena aku memahami sesuatu setelah semua yang terjadi.
Kadang-kadang kegelapan terbesar dalam hidup tidak datang dari orang asing.
Ia datang dari seseorang yang berdiri paling dekat, tersenyum paling lembut, dan meyakinkan kita bahwa semua pintu di luar sana telah tertutup.
Padahal pintu-pintu itu tidak pernah tertutup.
Surat-surat itu tidak pernah berhenti datang.
Aku saja yang tidak pernah diberi kesempatan membacanya.
Setahun setelah kelahiran Kirana, aku kembali ke Jember untuk mengambil barang terakhir dari rumah lama.
Di dasar lemari tempat Arga menyembunyikan surat-surat keluargaku, aku menemukan satu amplop kecil yang terjepit di belakang papan.
Bukan dari Bandung.
Tulisan di depannya milik Arga.
Untuk Ratih, jika suatu hari semuanya terbongkar.
Aku membukanya.
Hanya ada satu lembar kertas.
Aku membaca kalimat pertama, lalu duduk diam cukup lama.
Arga menulis surat itu beberapa minggu sebelum pernikahan kami.
Dia mengaku sudah tahu bahwa suatu hari aku pasti menemukan keluargaku.
Dan di bagian terakhir, dia menulis:
Kalau hari itu datang, mungkin kamu akan mengira aku takut kehilanganmu karena mencintaimu. Sebenarnya aku takut kehilangan satu-satunya orang yang selama ini bisa kubuat merasa lebih kecil dariku.
Aku melipat surat itu kembali.
Anehnya, aku tidak menangis.
Untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa selama ini masalahnya bukan karena aku terlalu lemah.
Arga hanya membutuhkan aku percaya bahwa aku lemah.
Aku keluar dari rumah, menutup pintunya, lalu menyerahkan kunci kepada petugas.
Di luar, Kirana menungguku dalam pelukan ibuku.
Aku berjalan menghampiri mereka tanpa menoleh lagi.
Karena akhirnya aku tahu, keluarga bukanlah orang yang membuat kita merasa berutang karena mereka bersedia menerima kita.
Keluarga adalah mereka yang terus mencari jalan pulang menuju kita, bahkan ketika seseorang telah menyembunyikan alamatnya selama bertahun-tahun.
