Aku Dinikahkan Diam-Diam dengan Pria yang Tak Pernah Kulihat, Sebulan Kemudian Saat Ia Pulang dan Mengetuk Kamar, Aku Gemetar Ketakutan—Namun Kalimat Pertamanya Membuatku Bingung, dan Rahasia di Balik Pernikahan Itu Baru Terbongkar Ketika Ibu Mertuaku Meletakkan Sebuah Map Cokelat di Meja

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, melihat tanda tangan ayahku di surat itu atau melihat Raka berdiri di hadapanku tanpa mampu mengatakan bahwa semua yang kubaca adalah kebohongan.

Tanganku gemetar ketika meletakkan kembali lembar perjanjian itu.

“Jadi benar,” kataku lirih. “Kamu menikahiku untuk mengambil perusahaan Ayah.”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Raka maju selangkah, tetapi aku langsung mundur.

“Jangan mendekat.”

Ia berhenti.

Ibu Ratih yang sejak tadi duduk di sofa akhirnya berdiri. “Alya, dokumen itu memang asli. Tapi kamu belum membaca semuanya.”

“Apa lagi yang harus kubaca, Bu? Tanda tangan Ayah ada di sana. Nama keluarga Raka ada di sana. Bahkan namaku dijadikan syarat.”

Aku menoleh kepada Raka.

“Empat belas miliar. Itu harga yang kamu bayar untukku?”

Wajahnya menegang.

“Jangan pernah mengatakan dirimu punya harga.”

“Tapi itulah yang terjadi.”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kamu menikahiku?”

Raka terdiam.

Aku tertawa pendek, tetapi air mataku jatuh.

“Bahkan sekarang kamu masih tidak bisa menjawab.”

Aku berbalik dan naik ke kamar.

Malam itu aku mengunci pintu seperti malam pertama Raka pulang dari Singapura. Bedanya, dulu aku takut pada lelaki asing yang kupikir telah membeliku. Sekarang aku takut karena lelaki itu sudah tidak terasa asing lagi.

Dan justru itu yang paling menyakitkan.

Aku sudah mulai mempercayainya.

Sekitar pukul sebelas malam terdengar ketukan.

“Alya.”

Aku mengenali suara Raka.

Aku tidak menjawab.

“Aku taruh dokumen lengkapnya di depan pintu.”

Hening.

“Kalau setelah membacanya kamu tetap ingin pergi, besok aku akan mengantarmu sendiri.”

Langkahnya menjauh.

Aku menunggu beberapa menit sebelum membuka pintu.

Map cokelat itu tergeletak di lantai.

Aku membawanya masuk.

Kali ini aku membaca semuanya.

Pada halaman-halaman awal memang tertulis bahwa saham perusahaan keluarga Prameswari dialihkan kepada Adiprana setelah pernikahan kami. Tetapi semakin jauh kubaca, semakin banyak hal yang tidak kumengerti.

Ada laporan audit.

Nama perusahaan cangkang.

Transfer ke rekening luar negeri.

Beberapa pembayaran bernilai miliaran rupiah yang dilakukan tanpa persetujuan ayah.

Kemudian aku menemukan satu nama yang sangat kukenal.

Bram Santoso.

Investor yang selama ini disebut ayah sebagai orang yang menuntut pembayaran empat belas miliar.

Namun laporan di tanganku menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Bram bukan sekadar investor.

Ia pernah menjadi direktur keuangan perusahaan ayah.

Aku membaca sampai hampir pukul tiga pagi.

Di bagian terakhir terdapat surat yang ditulis ayah dengan tangan.

Untuk Raka Adiprana.

Isinya hanya beberapa paragraf.

Jika sesuatu terjadi padaku sebelum masalah ini selesai, lindungi Alya dan istriku. Jangan biarkan Bram mengetahui bahwa saham itu sebenarnya sudah diamankan. Aku tahu permintaanku keterlaluan, tetapi hanya keluargamu yang masih bisa kupercaya.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Pagi-pagi sekali aku turun.

Raka sudah berada di ruang makan.

Ia tampaknya juga tidak tidur. Ada bayangan gelap di bawah matanya.

Aku meletakkan surat itu di depannya.

“Jelaskan.”

Raka menatapku lama.

Kemudian ia menyuruh seluruh pegawai meninggalkan ruangan.

“Ayahmu tidak kehilangan perusahaan karena proyek yang gagal dibayar,” katanya.

Aku mengernyit.

“Perusahaan itu memang sedang kesulitan, tapi seharusnya tidak sampai bangkrut. Ada uang yang dipindahkan secara ilegal selama hampir dua tahun.”

“Bram?”

Raka mengangguk.

“Dia menggunakan beberapa perusahaan pemasok palsu. Ayahmu terlambat mengetahuinya. Ketika ketahuan, Bram membalik keadaan. Dia menggunakan dokumen yang sudah dimanipulasi untuk membuat seolah-olah ayahmu yang melakukan penggelapan.”

Aku merasa tenggorokanku kering.

“Kenapa Ayah tidak melapor polisi?”

“Karena Bram memegang sesuatu.”

“Apa?”

Raka tidak langsung menjawab.

“Rekaman dan dokumen medis ibumu.”

Aku membeku.

“Apa hubungannya Ibu?”

“Bram mengancam akan menyeret ibumu ke kasus itu. Beberapa rekening perusahaan pernah menggunakan namanya sebagai pemegang kuasa administratif. Ibumu bahkan mungkin tidak tahu.”

Aku teringat bagaimana ibu selalu menghindari pembicaraan tentang perusahaan.

“Lalu pernikahan kita?”

Raka mengusap wajahnya.

“Itu cara memindahkan kendali saham sebelum Bram bisa menyitanya.”

“Kenapa harus menikah?”

“Karena sebagian saham itu atas namamu.”

Aku terdiam.

“Apa?”

“Ayahmu memberikan dua puluh lima persen saham kepadamu ketika kamu berusia delapan belas tahun melalui akta hibah. Kamu tidak pernah diberi tahu.”

Aku merasa seperti seluruh hidupku ternyata dibangun di atas rahasia.

“Dengan pernikahan dan perjanjian pengelolaan aset, saham itu masuk dalam struktur perlindungan keluarga Adiprana. Bram tidak bisa menyentuhnya tanpa membuka semua manipulasi yang sudah dia lakukan.”

Aku menatap Raka.

“Jadi Ayah memang menggunakan aku.”

Raka tidak membantah.

“Ayahmu putus asa.”

“Dan kamu setuju.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu kembali menggantung.

Namun kali ini Raka menjawab.

“Karena aku berutang nyawa kepada ayahmu.”

Aku menatapnya.

Raka bangkit dan berjalan ke lemari kecil di ruang keluarga. Ia mengambil sebuah foto lama.

Foto yang sama seperti di map, tetapi lebih jelas.

Ayah berdiri di samping seorang lelaki paruh baya. Di belakang mereka ada Raka yang masih sangat muda.

“Pria ini ayahku,” katanya.

Aku memandang foto itu.

“Dua belas tahun lalu perusahaan keluarga kami hampir runtuh. Ayahku dituduh melakukan manipulasi pajak oleh salah satu partnernya. Semua orang menjauh. Bank menolak membantu. Ayahmu satu-satunya orang yang berani memberikan bukti bahwa laporan itu dipalsukan.”

Raka tersenyum pahit.

“Kalau bukan karena Pak Pram, ayahku mungkin masuk penjara.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Ketika ayahmu datang kepadaku dan meminta bantuan, aku tidak mungkin menolak.”

“Jadi kamu menikahiku karena utang budi.”

Raka menatapku.

Awalnya ia hendak menjawab, tetapi akhirnya hanya berkata, “Pada awalnya, iya.”

Dua kata terakhir membuat jantungku berdetak aneh.

Namun sebelum aku sempat bertanya, ponselnya berdering.

Ekspresi Raka langsung berubah setelah membaca pesan.

“Ada apa?”

Ia mengambil jasnya.

“Bram tahu dokumen audit ada pada kita.”

“Bagaimana dia tahu?”

“Itu yang harus kucari tahu.”

Hari itu Raka pergi bersama dua orang keamanan.

Menjelang sore, ayah meneleponku.

Suaranya terdengar panik.

“Alya, kamu di rumah Raka?”

“Iya.”

“Keluar dari sana.”

Aku berdiri.

“Kenapa?”

“Jangan tanya. Pulang ke rumah sekarang.”

“Ayah, aku sudah tahu tentang Bram.”

Di seberang sana mendadak sunyi.

“Ayah?”

“Alya, dengarkan Ayah. Jangan percaya siapa pun.”

Telepon terputus.

Aku langsung menghubungi Raka.

Tidak aktif.

Aku mencoba lagi.

Tetap tidak aktif.

Setengah jam kemudian Pak Hadi berlari masuk.

“Bu Alya, kita harus pergi.”

“Ke mana?”

“Pak Raka minta Ibu dibawa ke tempat aman.”

Aku mengambil tas.

Namun sebelum kami mencapai pintu, sebuah mobil berhenti di halaman.

Ayah turun.

Aku langsung menghampirinya.

“Ayah!”

Wajahnya pucat.

“Kamu ikut Ayah.”

“Tunggu. Raka di mana?”

“Ayah tidak tahu.”

Aku melihat mobil ayah.

Di kursi pengemudi duduk seorang pria.

Aku mengenalnya dari foto dalam dokumen.

Bram Santoso.

Tubuhku membeku.

Ayah menyadari arah pandanganku.

“Alya…”

Aku mundur.

“Kenapa dia bersama Ayah?”

Bram turun dari mobil sambil tersenyum.

“Karena ayahmu akhirnya mengerti siapa yang seharusnya dia percaya.”

Pak Hadi segera berdiri di depanku.

Bram tidak mendekat.

Ia hanya mengangkat ponsel.

Di layar terlihat sebuah video.

Raka duduk di sebuah ruangan yang tidak kukenal.

Tangannya terikat.

Aku hampir kehilangan keseimbangan.

“Raka…”

Bram tersenyum.

“Berikan dokumen audit asli dan surat pengalihan saham. Setelah itu suamimu pulang.”

Aku menatap ayah.

“Ayah membawa dia ke Raka?”

Ayah menangis.

“Ibumu ada pada mereka.”

Dunia seolah berhenti.

Bram ternyata sudah menjemput ibu dari rumah sakit pagi itu.

Aku akhirnya memahami mengapa ayah terlihat seperti orang yang sudah kehilangan seluruh keberanian.

“Aku akan ambil mapnya,” kataku.

Pak Hadi menahanku.

“Bu, jangan.”

“Kalau tidak, mereka akan menyakiti Ibu dan Raka.”

Aku masuk ke rumah.

Map itu berada di ruang kerja.

Aku membawanya keluar.

Bram tersenyum puas.

Namun ketika tanganku hampir menyerahkan map tersebut, suara sirene terdengar dari ujung jalan.

Wajah Bram berubah.

Beberapa mobil polisi memasuki halaman.

Ia berbalik hendak masuk mobil, tetapi petugas sudah mengepungnya.

Aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi sampai Raka muncul dari mobil polisi terakhir.

Tangannya tidak terikat.

Tidak ada luka.

Aku terpaku.

“Kamu…”

Raka berjalan menghampiriku.

“Maaf.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Video itu?”

“Direkam dua jam lalu.”

“Tapi kamu diculik.”

“Tidak.”

Ternyata Raka sengaja membuat Bram percaya bahwa ia berhasil diculik.

Salah satu orang kepercayaan Bram sebenarnya sudah bekerja sama dengan penyidik selama tiga minggu.

Mereka membutuhkan bukti pemerasan langsung.

Dan Bram baru saja memberikannya di depan kamera keamanan rumah.

Ibu ditemukan di sebuah apartemen di Kuningan dalam keadaan selamat.

Ayah juga dibawa untuk dimintai keterangan, tetapi kemudian dipulangkan karena terbukti bertindak di bawah ancaman.

Kasus itu berlangsung berbulan-bulan.

Audit akhirnya membuktikan penggelapan dana yang dilakukan Bram dan dua mantan pejabat perusahaan.

Nama ayah dibersihkan.

Sebagian aset perusahaan dikembalikan.

Hari ketika semuanya selesai, aku kembali membuka map cokelat yang mengawali kekacauan itu.

Aku menemukan dokumen yang belum pernah kulihat.

Surat pembatalan perjanjian pengalihan saham.

Sudah ditandatangani Raka sejak dua minggu setelah pernikahan kami.

Aku membawanya ke ruang kerja.

“Ini apa?”

Raka melihat dokumen itu dan terdiam.

“Kamu sudah membatalkan hak atas saham itu sejak awal?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak pernah ingin memiliki perusahaan ayahmu.”

“Kalau begitu kenapa tidak bilang?”

Raka tersenyum kecil.

“Waktu itu kamu bahkan mengira aku berumur enam puluh tahun.”

Wajahku panas.

“Itu salah kalian karena tidak pernah memberitahuku.”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, kami tertawa bersama.

Namun aku masih memiliki satu pertanyaan.

“Raka.”

“Hm?”

“Waktu itu kamu bilang awalnya kamu menikahiku karena utang budi.”

Senyumnya menghilang.

Aku mendekat.

“Kalau sekarang?”

Ia menatapku cukup lama hingga aku mulai gugup.

Kemudian ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah foto.

Aku mengenali diriku sendiri.

Foto itu diambil dua tahun sebelum kami menikah, ketika aku menjadi relawan dalam acara donor darah kampus.

“Kenapa kamu punya ini?”

“Ibu yang mengambilnya.”

“Ibumu?”

Raka mengangguk.

“Dua tahun lalu aku menemani Ibu ke acara yayasan. Kamu membantu seorang nenek yang pingsan di antrean. Setelah ambulans datang, kamu kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa.”

Aku mencoba mengingatnya.

“Sejak itu Ibu sering meledekku karena aku bertanya siapa namamu.”

Aku terdiam.

“Jadi kamu sudah mengenalku?”

“Mengetahui namamu. Bukan mengenalmu.”

“Dan ketika Ayah meminta kamu menikahiku?”

“Aku menolak tiga kali.”

Dadaku terasa jatuh.

Raka tertawa melihat ekspresiku.

“Bukan karena tidak mau menikahimu. Aku menolak karena menurutku itu tidak adil untukmu.”

“Lalu kenapa akhirnya setuju?”

“Karena ancaman terhadap keluargamu semakin serius.”

Ia berhenti sebentar.

“Dan mungkin karena aku egois. Aku tahu pernikahan itu salah caranya, tetapi itu memberiku kesempatan untuk memastikan kamu aman.”

Mataku panas.

Selama ini aku mengira hidupku dimulai sebagai transaksi.

Ternyata kenyataannya jauh lebih rumit.

Aku menatap cincin di jariku.

“Kita menikah karena keadaan.”

“Iya.”

“Aku bahkan tidak memilihmu.”

Raka mengangguk perlahan.

“Itulah satu hal yang paling kusesali.”

Ia membuka laci sekali lagi.

Kali ini yang dikeluarkannya bukan dokumen.

Sebuah kotak kecil.

Raka meletakkannya di meja tanpa membukanya.

“Alya, kalau kamu ingin mengakhiri pernikahan ini, aku akan menandatangani semua dokumen yang diperlukan. Sahammu kembali sepenuhnya. Rumah orang tuamu aman. Utang sudah selesai. Tidak ada lagi alasan yang mengharuskan kamu menjadi istriku.”

Aku memandangnya.

“Lalu kotak itu?”

“Kalau kamu memilih pergi, abaikan.”

“Kalau aku memilih tinggal?”

Barulah Raka membukanya.

Di dalamnya ada sebuah cincin sederhana.

Bukan cincin mahal yang mencolok.

Raka menarik napas.

“Kalau kamu tinggal, aku ingin kita memulai dari awal. Bukan sebagai anak Pak Pram dan anak keluarga Adiprana. Bukan karena saham. Bukan karena utang.”

Ia menatap mataku.

“Kali ini aku ingin bertanya sendiri. Alya Prameswari, maukah kamu memilihku?”

Air mataku jatuh.

Aku teringat malam ketika ayah memintaku menikahi orang asing.

Saat itu aku merasa hidupku telah dirampas.

Aku tidak diberi kesempatan memilih.

Namun beberapa bulan kemudian, lelaki yang seharusnya menjadi simbol dari hilangnya kebebasanku justru berdiri di depanku dan mengembalikan pilihan itu sepenuhnya ke tanganku.

Aku menutup kotak cincin tersebut.

Wajah Raka langsung pucat.

“Baik,” katanya pelan. “Aku mengerti.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu direktur perusahaan besar, tapi ternyata gampang panik.”

Ia mengerutkan kening.

Aku mengambil tangannya.

“Aku menutupnya karena aku tidak butuh cincin baru.”

Raka terdiam.

Aku mengangkat tangan kiriku, memperlihatkan cincin pernikahan yang sejak hari pertama tidak pernah kulepas.

“Yang ini belum pernah kupakai untuk pernikahan yang kupilih sendiri.”

Aku menarik napas.

“Jadi kalau kamu masih mau, kita gunakan lagi.”

Untuk pertama kalinya aku melihat Raka Adiprana, lelaki yang konon bisa membuat satu ruang rapat diam hanya dengan tatapan, kehilangan kata-kata.

Aku tersenyum sambil menangis.

“Dan kali ini datang sendiri ke akadnya. Jangan kirim pengacara.”

Raka tertawa, lalu menggenggam tanganku erat.

Tiga bulan kemudian kami mengadakan akad sederhana.

Tidak ada transaksi.

Tidak ada pengalihan saham.

Tidak ada utang sebagai syarat.

Ayah duduk di barisan depan bersama ibu. Ibu Ratih menangis paling keras meskipun berkali-kali menyangkalnya.

Ketika penghulu bertanya apakah aku menerima pernikahan itu, aku tidak lagi merasa seperti gadis dua puluh tahun yang terpojok oleh keadaan.

Aku menjawab dengan sadar.

Dengan tenang.

Dengan pilihanku sendiri.

Map cokelat itu masih kusimpan sampai sekarang.

Bukan karena aku ingin mengingat pengkhianatan, utang, atau ketakutan.

Aku menyimpannya untuk mengingat satu hal yang baru kupahami setelah semuanya berakhir.

Kadang-kadang kita tidak bisa memilih bagaimana seseorang memasuki hidup kita.

Tetapi kita selalu berhak memilih apakah ia pantas tetap tinggal di dalamnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang