Saat Aku Melihat Putraku Sendiri Menuangkan Bubuk ke Dalam Supku, Aku Baru Sadar Suamiku Bukan Hanya Ingin Bercerai—Ia Mengajari Anak Kami Berbohong tentang Perselingkuhanku, Demi Menikahi Cinta Lamanya dan Merebut Harta yang Tak Pernah Ia Tahu Sebenarnya Milikku

Siska masih menunjuk wajahku ketika Bima menutup pintu private room dengan keras. Tangisnya terdengar meyakinkan, tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan. Ketakutan.

“Perempuan ini yang menghancurkan rumah tangga saya!” teriaknya sekali lagi.

Ardi berdiri dari kursinya.

“Tenang dulu, Sis. Kita selesaikan baik-baik.”

Aku hampir tertawa mendengar caranya bicara. Seolah-olah dialah orang paling waras di ruangan itu.

Pengacara di sampingnya membuka sebuah map cokelat. Di layar besar muncul beberapa foto. Aku dan Bima di halaman rumah. Aku menerima paket darinya. Bima berdiri di dekat mobilku. Bahkan ada foto ketika kami duduk di sebuah kafe.

Foto terakhir itu membuatku mengernyit.

Aku ingat hari tersebut. Ardi sendiri yang meminta Bima mengantarkan dokumen kepadaku karena katanya sopir kantor sedang tidak tersedia.

“Selama beberapa bulan terakhir,” kata Ardi dengan nada berat, “aku mencoba menutup mata. Aku pikir Maya hanya berteman dengan Bima. Tapi ternyata…”

Ia berhenti, memainkan peran suami terluka dengan cukup bagus.

Siska menangis lebih keras.

“Suami saya mengaku!”

Aku menoleh kepada Bima.

Bima justru tersenyum dingin.

“Benarkah?”

Wajah Siska langsung berubah.

Bima mengangkat ponselnya.

“Tadi sore aku memang pergi ke kamar 1708.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Aku menemukan istriku di sana.”

Siska mundur selangkah.

“Mas, jangan…”

“Bukan bersama Maya.”

Bima menatap semua orang.

“Bersama laki-laki bernama Kevin Wijaya.”

Wajah Ardi kehilangan warna.

Aku bersandar santai.

Bima melanjutkan.

“Aku juga menemukan sesuatu yang lebih menarik.”

Ia menyentuh layar ponselnya.

Suara rekaman memenuhi ruangan.

Suara Siska.

“Aku cuma perlu bilang Maya sering ketemu Bima. Setelah perceraian selesai, bagian yang dijanjikan Ardi tetap ada, kan?”

Kemudian terdengar suara Livia.

“Tenang. Ardi sudah menyiapkan semuanya. Yang penting kamu menangis di depan saksi dan bilang sudah lama curiga.”

Siska menutup mulutnya.

Ardi berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Itu rekaman ilegal!”

“Menarik,” kataku pelan. “Kamu tidak bilang itu palsu. Kamu malah bilang ilegal.”

Ardi menatapku.

Untuk pertama kalinya malam itu, topengnya retak.

“Maya, dengar dulu.”

“Belum selesai.”

Aku mengangkat tangan.

Pintu terbuka.

Nadia masuk bersama dua orang stafnya. Di belakang mereka berdiri Pak Hasan.

Begitu melihat Pak Hasan, Ardi langsung pucat.

“Pak?”

Pak Hasan tidak menjawab salamnya.

Ia berjalan masuk, lalu duduk di sebelahku.

Ardi memandangku seolah baru menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.

“Apa hubungan Pak Hasan dengan semua ini?”

Aku menatap layar besar.

“Bukankah kamu bilang malam ini semua orang harus tahu kebenaran?”

Ardi diam.

“Silakan lanjutkan.”

Nadia mengambil remote dari meja.

Foto-fotoku dan Bima menghilang.

Sebagai gantinya, muncul rekaman dari ruang belajar Raka.

Ardi sedang duduk di kursi.

Livia berada di pangkuannya.

Suara Raka terdengar jelas.

“Kalau aku bilang Mama suka ketemu Om Bima diam-diam, Bu Livia bisa jadi mama baruku, kan?”

Wajah Ardi berubah total.

Siska berhenti menangis.

Bima mengepalkan tangan.

Rekaman terus berjalan.

“Asal Raka mengikuti kata Papa, nanti tidak ada lagi Mama yang melarang Raka makan ayam goreng atau main game.”

Kemudian kecupan Livia terdengar.

Aku mematikan layar.

“Masih mau bicara soal perselingkuhan?”

Ardi menarik napas panjang.

“Maya, aku bisa jelaskan.”

“Aku yakin.”

Aku mengeluarkan sachet kecil dari tasku dan meletakkannya di atas meja.

“Tapi jelaskan ini dulu.”

Tatapan Ardi langsung jatuh ke sachet tersebut.

Itu cukup.

Dia mengenalinya.

“Pagi tadi Raka memasukkan bubuk ini ke dalam supku.”

Bima menatap Ardi tidak percaya.

“Apa?”

“Obat pencahar,” kataku. “Tidak mematikan. Tapi cukup membuatku sakit. Setelah itu, menurut instruksi yang diberikan kepada anakku, Bima seharusnya datang. Raka kemudian diminta mengatakan kepada Siska bahwa aku sering berduaan dengan Bima.”

Nadia menambahkan dengan tenang, “Kami sudah menyimpan rekaman percakapan dengan anak dan dokumentasi terkait. Anak tersebut juga akan didampingi psikolog. Jadi saya sarankan tidak seorang pun mencoba memengaruhi keterangannya lagi.”

Ardi menghantam meja.

“Dia anakku juga!”

“Justru itu masalahnya.”

Suaraku akhirnya meninggi.

“Dia anakmu. Bukan alat bukti yang bisa kamu program sesuka hati.”

Untuk beberapa detik aku tidak lagi melihat seorang suami yang berselingkuh.

Aku melihat ayah dari anakku.

Dan itulah bagian yang paling menyakitkan.

Kalau Ardi hanya mengkhianatiku, mungkin suatu hari aku bisa melupakannya.

Tetapi ia mengajari anak kami bahwa kebohongan adalah harga yang wajar untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Itu tidak bisa kumaafkan.

Ardi duduk kembali.

Ia mengusap wajahnya.

“Aku cuma ingin bercerai.”

“Kalau cuma ingin bercerai, kamu bisa mengatakannya.”

“Kamu tidak akan membiarkan Raka tinggal denganku.”

“Setelah apa yang kamu lakukan, ternyata kekhawatiranmu memang beralasan.”

Ardi menatapku tajam.

Kemudian sesuatu berubah dalam ekspresinya.

Ia tersenyum.

Aneh sekali.

Seolah masih menyimpan kartu terakhir.

“Baik.”

Ia mendorong map cokelat ke arahku.

“Kalau semuanya sudah terbuka, kita tidak perlu pura-pura lagi.”

Nadia mengambil map itu sebelum aku menyentuhnya.

Ardi berkata, “Gugatan cerai. Aku tidak meminta banyak. Rumah Pondok Indah dijual. Aset bersama dibagi. Aku ambil hakku, Maya ambil haknya.”

Aku memandangnya cukup lama.

“Rumah Pondok Indah?”

“Iya.”

“Rumah yang sekarang kita tinggali?”

Ardi tertawa kecil.

“Jangan mulai drama. Kita membangun hidup itu bersama.”

Aku menoleh kepada Nadia.

Ia mengeluarkan dokumen lain.

“Rumah tersebut dibeli tiga tahun sebelum pernikahan atas nama Maya Adiningrum.”

Ardi berkedip.

“Apa?”

“Dan tidak pernah dialihkan menjadi harta bersama.”

Wajahnya mulai tegang.

“Tapi renovasinya pakai uangku.”

“Sebagian kecil,” jawab Nadia. “Dan seluruh bukti pembayaran sudah kami hitung.”

Aku membuka kotak kecil di meja.

“Kamu ingat pertama kali kita pindah ke rumah itu?”

Ardi diam.

“Kubilang rumah itu milik kerabatku yang sedang tinggal di luar negeri.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku kerabat itu.”

Bima menunduk, menahan senyum.

Namun Ardi belum menyerah.

“Tidak masalah. Kita punya investasi lain.”

“Apartemen?”

Aku menyebut nama kompleks apartemen mewah tempat kami memiliki tiga unit.

“Semua dibeli perusahaan keluargaku sebelum kita menikah.”

“Portofolio saham?”

“Sebagian besar warisan.”

“Tanah di Bogor?”

“Hadiah dari ayahku.”

Ardi berdiri.

“Ayahmu?”

Saat itulah Pak Hasan akhirnya berbicara.

“Pak Ardi, sepertinya ada banyak hal tentang istri Anda yang tidak pernah Anda tanyakan.”

Ardi menatapnya.

Pak Hasan melanjutkan.

“Gedung tempat kantor pusat regional perusahaan kita berdiri dimiliki PT Adiningrum Properti.”

Ardi terlihat bingung.

“Lalu?”

“Maya adalah salah satu pemegang saham pengendalinya.”

Tidak ada yang bergerak.

Aku bisa mendengar suara pendingin ruangan.

Ardi menatapku seperti sedang melihat orang asing.

Pak Hasan belum selesai.

“Kompleks gudang Bekasi juga dikelola grup keluarga Maya. Dan ketika Anda melamar tujuh tahun lalu…”

“Pak Hasan.”

Aku sebenarnya ingin menghentikannya.

Terlambat.

Pak Hasan menatap Ardi.

“Kesempatan wawancara pertama Anda terjadi karena Maya meminta saya memberi Anda kesempatan.”

Ardi perlahan menoleh kepadaku.

“Kamu?”

Aku tidak menjawab.

“Kamu yang memasukkanku ke perusahaan?”

“Tidak.”

Aku menatap matanya.

“Aku hanya membuka pintu. Kamu sendiri yang berjalan masuk. Semua promosi setelah itu hasil kerjamu.”

Ia tertawa pahit.

“Jadi selama ini kamu menganggap aku pengemis?”

“Tidak pernah.”

“Makanya kamu menyembunyikan semuanya?”

“Aku menyembunyikannya karena ketika kita pertama bertemu, kamu selalu merasa rendah diri di depan orang yang lebih kaya. Aku ingin kamu tahu bahwa aku memilihmu karena dirimu.”

Aku berhenti sebentar.

“Sayangnya setelah berhasil, kamu justru memilih orang lain karena mengira dirimu sudah terlalu hebat untukku.”

Pintu kembali terbuka.

Livia berdiri di sana.

Matanya merah.

“Ardi.”

Ardi berbalik.

“Liv?”

Livia berjalan cepat menghampirinya.

“Kamu bilang rumah itu milikmu.”

Tidak ada sapaan untukku.

Tidak ada permintaan maaf.

Hal pertama yang keluar dari mulutnya adalah soal rumah.

Aku langsung memahami sesuatu yang selama ini tidak kupahami.

Mungkin Livia memang cinta pertama Ardi.

Tapi Ardi bukan cinta terakhir Livia.

Uanglah yang menjadi cinta terakhirnya.

“Kamu bilang setelah cerai rumah Pondok Indah jadi milik kita,” katanya.

“Liv, sekarang bukan waktunya.”

“Kamu juga bilang saham investasi hampir dua puluh miliar.”

Ardi menggertakkan gigi.

“Diam.”

Livia menatapku.

“Jadi semuanya milik Mbak?”

“Tidak semuanya.”

Aku tersenyum.

“Cukup banyak.”

Livia mundur.

Ekspresinya berubah begitu cepat hingga hampir lucu.

“Ardi, aku tidak pernah setuju melibatkan anak.”

Ardi menatapnya tak percaya.

“Apa?”

“Aku cuma tahu kamu mau cerai.”

“Jangan bohong!”

“Aku tidak tahu soal obat itu!”

Mereka mulai saling menyalahkan.

Siska ikut bicara.

“Kalian bilang aku cuma perlu bantu sekali!”

“Diam!” bentak Ardi.

Aku memandang ketiga orang itu.

Beberapa jam sebelumnya mereka adalah sebuah tim.

Sekarang, begitu uang yang mereka incar ternyata tidak ada, kesetiaan mereka runtuh lebih cepat daripada rencana mereka.

Nadia mendekatiku.

“Kita sudah cukup.”

Aku mengangguk.

Aku berdiri dan mengambil tas.

Ardi memanggilku.

“Maya.”

Aku berhenti.

Ia terlihat jauh lebih tua daripada pagi tadi.

“Raka di mana?”

“Bersama ibuku.”

Ardi menarik napas lega.

“Aku mau bicara dengannya.”

“Tidak malam ini.”

“Aku ayahnya.”

“Aku tahu.”

Aku menatapnya.

“Dan karena itulah aku berharap suatu hari nanti kamu cukup dewasa untuk meminta maaf kepadanya, bukan karena rencanamu gagal, tetapi karena kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan.”

Aku berjalan menuju pintu.

Ardi mengejarku.

“Maya, tunggu.”

Aku menoleh.

“Aku salah.”

Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar rapuh.

“Aku tahu.”

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

“Kita bisa memperbaiki ini.”

Aku memandang laki-laki yang pernah kucintai selama dua belas tahun.

Ada masa ketika aku rela menukar hampir apa pun agar keluarga kami tetap utuh.

Tetapi malam itu aku akhirnya memahami bahwa keluarga yang utuh bukanlah keluarga yang tinggal di bawah satu atap.

Keluarga yang utuh adalah tempat seorang anak tidak perlu belajar berbohong demi mendapatkan cinta.

“Aku harap kamu berubah, Mas.”

Matanya sedikit berbinar.

Kemudian aku menyelesaikan kalimatku.

“Tapi bukan untuk menjadi suamiku lagi.”

Aku pergi.

Tiga bulan kemudian, proses perceraian dimulai.

Livia meninggalkan rumah pada malam yang sama. Dua minggu setelahnya, aku mendengar hubungannya dengan Ardi berakhir.

Siska dan Bima juga bercerai.

Namun bagian tersulit bukan pengadilan.

Bukan aset.

Bukan pengkhianatan.

Bagian tersulit adalah Raka.

Selama beberapa minggu, ia hampir tidak berani menatapku.

Suatu malam ia berdiri di depan kamarku sambil membawa sachet cokelat kecil.

Aku langsung mengenalinya.

Sachet gula dari dapur.

Raka menangis.

“Mama…”

Aku berlutut di depannya.

“Aku jahat, ya?”

Hatiku seperti diremas.

Aku memeluknya.

“Tidak.”

“Tapi aku masukin obat ke makanan Mama.”

“Kamu melakukan sesuatu yang salah.”

Ia menangis semakin keras.

“Tapi Papa bilang kalau aku nurut, semua orang bakal senang.”

Aku mengusap rambutnya.

“Dengar Mama. Orang yang sayang sama kamu tidak akan meminta kamu menyakiti orang lain untuk membuktikan rasa sayang.”

“Papa jahat?”

Aku diam cukup lama.

Aku bisa saja mengatakan iya.

Setelah semua yang Ardi lakukan, kata itu bahkan terasa pantas.

Tetapi aku tidak ingin memenangkan perceraian dengan cara yang sama seperti Ardi mencoba memenangkannya.

“Papa melakukan hal yang sangat salah,” jawabku. “Tapi Mama tidak akan mengajarimu membenci Papa.”

Raka menatapku.

“Kalau nanti Papa berubah?”

“Kalau Papa berubah, itu hal yang baik.”

“Terus Mama balik sama Papa?”

Aku tersenyum sedih.

“Maaf tidak selalu berarti kita harus kembali.”

Beberapa bulan kemudian, pengadilan menetapkan pengaturan pengasuhan dengan berbagai ketentuan dan pendampingan yang dianggap perlu. Aku tidak merayakannya.

Tidak ada kemenangan ketika seorang anak harus membagi hidupnya karena orang tuanya gagal menjaga kepercayaan.

Pada ulang tahunku berikutnya, tidak ada hotel mewah.

Tidak ada layar besar.

Tidak ada gaun mahal.

Aku hanya makan soto di rumah bersama Raka dan ibuku.

Raka masuk ke dapur dan kembali membawa tiga mangkuk.

Ia meletakkan satu di depanku.

Lalu ia tiba-tiba terdiam.

“Mama.”

“Hm?”

“Mama masih takut kalau aku yang bawain makanan?”

Aku menatap wajahnya.

Anak yang setahun lalu dijadikan alat oleh orang dewasa sekarang menunggu jawabanku dengan mata penuh kecemasan.

Aku mengambil sendok.

Mencicipi kuahnya.

Kemudian tersenyum.

“Enak.”

Raka langsung tertawa.

“Mama nggak takut?”

Aku menggeleng.

“Karena kepercayaan bisa rusak, Nak. Tapi kalau kita benar-benar mau memperbaikinya, kepercayaan juga bisa tumbuh lagi.”

Ia memelukku.

Di atas meja, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor Ardi.

Selamat ulang tahun. Terima kasih karena tidak pernah membuat Raka membenciku. Aku baru sadar itu mungkin hal paling baik yang pernah kamu lakukan untukku.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu meletakkan ponsel tanpa membalas.

Ibuku melihatku.

“Siapa?”

“Tidak penting.”

Aku mengambil sendok lagi.

Raka sedang bercerita tentang sekolahnya, terlalu bersemangat sampai kuah hampir tumpah dari mangkuk.

Aku tertawa.

Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira cintaku kepada Ardi dibuktikan dengan menyembunyikan kekayaanku, membuka jalan untuk kariernya, mengecilkan diriku sendiri agar ia merasa besar, dan memaafkan setiap perubahan kecil yang sebenarnya sudah menjadi peringatan.

Aku salah.

Cinta tidak pernah meminta seseorang mengecilkan dirinya agar orang lain merasa tinggi.

Dan harta paling berharga yang hampir direbut Ardi dariku ternyata bukan rumah Pondok Indah, saham perusahaan, tanah, atau rekening investasi.

Itu adalah kepercayaan anakku.

Rumah bisa dibeli lagi.

Uang bisa dicari lagi.

Pernikahan bahkan bisa berakhir.

Tetapi seorang anak hanya punya satu masa kecil.

Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun mencurinya lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang