Di malam pertama pernikahan mewah di Jakarta, suamiku menolak menyelamatkan perusahaan ayahku dan melempar koper berisi lotre gosok 2 miliar sambil tersenyum dingin, ‘Jadi manis dulu baru dapat hadiah,’ padahal ayahku sudah terbujur kaku di ruang jenazah RSUD, menunggu tanda tanganku yang gemetar.

Pagi itu, saat matahari baru naik di balik gedung-gedung Bandung, aku berdiri di depan pintu ruang jenazah dengan gaun pengantin yang kusam, rambut berantakan, dan kaki penuh luka lecet.

Tidak ada fotografer.

Tidak ada keluarga yang menyambut.

Tidak ada suami yang menggenggam tanganku.

Hanya bau antiseptik, suara roda troli, dan tubuh ayahku yang terbaring diam di balik pintu logam.

Aku menatap tanda tanganku di formulir pemulasaran untuk waktu yang lama.

Adelia Rahma Wijaya.

Nama belakang baru itu terasa seperti noda.

Ponselku kembali bergetar.

Bara.

Aku tidak mengangkatnya.

Dia menelepon lagi.

Lalu lagi.

Sampai akhirnya masuk pesan.

Pulang sekarang. Mama sudah hampir sampai vila. Jangan bikin masalah baru.

Aku mematikan layar.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ancaman Bara tidak membuatku takut.

Mungkin karena sesuatu dalam diriku sudah mati bersamaan dengan ayah.

Aku duduk di bangku lorong rumah sakit sampai pukul enam pagi. Seorang petugas keamanan yang sejak tadi memperhatikanku akhirnya mendekat.

“Bu, mau saya panggilkan taksi?”

Aku mengangguk.

Sepanjang perjalanan kembali ke Puncak, aku tidak menangis. Aku hanya menatap kota melalui kaca mobil, sementara satu demi satu kenangan tentang ayah muncul.

Ayah yang mengantarku masuk kuliah.

Ayah yang diam-diam menjual jam tangan kesayangannya ketika bisnis mulai goyah agar aku tetap bisa mengikuti pertukaran mahasiswa.

Ayah yang, tiga bulan lalu, memegang tanganku dan bertanya pelan, “Kamu yakin Bara masih laki-laki yang dulu?”

Aku marah waktu itu.

Aku pikir ayah meremehkan calon suamiku.

Sekarang aku baru mengerti.

Ayah bukan meremehkan Bara.

Ayah sedang mencoba menyelamatkanku.

Ketika aku tiba di vila, Rubicon Bara sudah terparkir di depan. Di sebelahnya ada Mercedes hitam milik ibunya.

Aku masuk tanpa mengetuk.

Di ruang makan, Bara duduk bersama ibunya, Helena Wijaya, perempuan enam puluh tahun yang selalu tampak seperti baru keluar dari ruang rapat. Rambutnya disanggul rapi, berlian besar menggantung di telinga.

Di hadapannya, Dinda juga ada.

Masih memakai kaus longgar milik Bara.

Aku berhenti di ambang pintu.

Bara menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

“Kamu dari mana sampai begini?”

Aku tidak menjawab.

Helena mengerutkan kening.

“Adelia, ini hari pertama kamu jadi bagian keluarga Wijaya. Setidaknya belajar menjaga penampilan.”

Aku berjalan melewati mereka menuju dapur, menuang air putih, lalu meminumnya sampai habis.

Dinda tersenyum kecil.

“Semalam Mas Bara cuma nemenin aku karena aku panik. Jangan salah paham ya, Kak.”

Aku menoleh.

“Aku tidak salah paham.”

Senyumnya hilang.

Bara berdiri.

“Kalau begitu bagus. Sekarang mandi. Habis sarapan kita ke Jakarta. Siang nanti ada meeting bank buat dana talangan Hartono.”

Aku memandangnya.

“Sudah tidak perlu.”

Dia terdiam.

Helena meletakkan cangkir.

“Apa maksudmu?”

“Perusahaan Hartono tidak perlu dana talangan Wijaya Group.”

Bara tertawa pendek.

“Semalam jalan kaki bikin otakmu rusak?”

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka email yang baru masuk tiga puluh menit lalu.

Subjeknya berbunyi konfirmasi pembukaan dokumen wasiat.

Aku meletakkan ponsel di meja.

“Papa meninggal kemarin sore.”

Ruangan menjadi sunyi.

Dinda spontan menutup mulut.

Helena menegakkan tubuh.

Sementara Bara tidak bergerak.

Butuh beberapa detik sebelum wajahnya berubah.

“Apa?”

“Papa jatuh dari gedung pabrik.”

Bara menatapku seolah sedang menghitung sesuatu.

“Bukan. Maksudku, kenapa kamu tidak bilang?”

Aku hampir tertawa.

“Aku mau bilang.”

Kutatap matanya.

“Tapi semalam kamu sibuk menyuruhku menggosok lotre.”

Wajahnya memucat.

Helena langsung menoleh pada putranya.

“Lotre apa?”

Bara mengatupkan rahang.

Aku menunjuk ruang tamu.

Koper aluminium itu masih terbuka. Ribuan lembar lotre berserakan di lantai seperti sampah setelah pesta.

Helena berdiri dan berjalan ke sana. Wajahnya berubah begitu melihat isinya.

“Kamu melakukan ini?”

Bara tidak menjawab.

“Aku tanya, kamu melakukan ini ke istrimu pada malam setelah akad?”

“Mama jangan ikut campur.”

Helena menamparnya.

Suara tamparan itu keras.

Dinda terkesiap.

Aku sendiri justru merasa kosong.

Dulu, melihat Bara dipermalukan seperti itu mungkin akan membuatku membelanya.

Sekarang tidak.

Bara memegang pipinya.

“Mama gak tahu apa yang dia lakukan di gala.”

“Aku tidak peduli.”

Helena menunjuk lotre di lantai.

“Kamu janji pada Hartono akan membantu setelah pernikahan.”

“Itu cuma kesepakatan bisnis.”

“Kesepakatan tetap kesepakatan.”

Aku mengambil tas tanganku.

“Aku pergi.”

Bara langsung mendekat dan memegang pergelangan tanganku.

“Kita belum selesai.”

Aku menatap tangannya.

“Lepas.”

“Adelia.”

“Lepas.”

Mungkin ada sesuatu di wajahku yang belum pernah dia lihat sebelumnya, karena jemarinya perlahan terbuka.

Aku berjalan keluar.

Tapi sebelum masuk taksi, Helena menyusul.

“Adelia.”

Aku berhenti.

Perempuan itu tampak jauh lebih tua dibanding lima menit lalu.

“Saya ikut berduka.”

“Terima kasih.”

Dia ragu sebelum berkata, “Tentang perusahaan ayahmu, saya bisa bicara dengan direksi.”

“Tidak usah.”

“Kamu mungkin belum tahu seberapa parah kondisi Hartono Textile.”

“Aku tahu.”

Aku membuka pintu mobil.

“Justru karena aku tahu, aku tidak mau utang baru.”

Aku pergi tanpa menoleh.

Pemakaman ayah dilakukan lusa pagi.

Bara datang terlambat hampir satu jam.

Dia mengenakan jas hitam dan membawa karangan bunga sebesar pintu rumah.

Semua orang memandangnya.

Para mantan pegawai ayah, tetangga, pemasok, bahkan beberapa wartawan ekonomi yang tahu bahwa pemilik Hartono Textile meninggal di tengah krisis.

Bara berdiri di sampingku selama prosesi, mencoba memainkan peran suami sempurna.

Setelah semuanya selesai, dia membisikkan sesuatu.

“Kita bicara berdua.”

Aku tidak menjawab.

Dia mencengkeram lenganku.

“Kamu sekarang istriku.”

Aku menatap tangannya sampai dia melepaskannya.

Kami masuk ke ruang keluarga rumah ayah.

Di atas meja sudah ada tiga orang.

Notaris keluarga, Pak Hendra.

Pengacara perusahaan, Bu Ratna.

Dan seorang lelaki tua berkacamata yang kukenal sebagai mantan direktur keuangan ayah.

Bara mengernyit.

“Ini apa?”

Pak Hendra berdiri.

“Pembukaan wasiat Pak Hartono.”

Bara langsung tersenyum tipis.

Seolah tiba-tiba mengingat bahwa aku adalah anak tunggal.

Mungkin dalam pikirannya, seluruh aset ayah akan jatuh kepadaku.

Rumah.

Tanah.

Saham.

Pabrik.

Dan sebagai suami, dia berpikir akan memiliki akses ke semuanya.

Pak Hendra mulai membaca.

Sebagian besar tidak mengejutkan.

Rumah diberikan padaku.

Beberapa tanah dijual untuk membayar utang.

Saham Hartono Textile juga jatuh padaku.

Lalu Pak Hendra berhenti.

“Ada satu lampiran khusus yang baru boleh dibuka apabila Pak Hartono meninggal atau dinyatakan tidak mampu membuat keputusan.”

Dia mengeluarkan amplop cokelat.

“Ini terkait utang Hartono Textile.”

Aku menahan napas.

Pak Hendra membuka dokumen itu.

“Tiga bulan lalu, Pak Hartono menemukan indikasi bahwa sebagian besar utang perusahaan bukan berasal dari kerugian operasional.”

Bara tiba-tiba menegang.

Pak Hendra melanjutkan.

“Melainkan dari kontrak pembelian bahan baku fiktif yang dibuat melalui PT Laras Sentosa.”

Aku menoleh.

Nama itu terasa familiar.

Dinda Laras.

Bara berdiri.

“Jangan asal tuduh.”

Bu Ratna menggeser satu map ke tengah meja.

“PT Laras Sentosa dimiliki oleh Sri Larasati.”

Aku bertanya, “Siapa dia?”

“Bibinya Dinda Laras.”

Udara di ruangan seketika berubah.

Pak Hendra membuka dokumen lain.

“Dalam dua tahun terakhir, Hartono Textile membayar sekitar dua belas koma delapan miliar rupiah ke perusahaan tersebut untuk bahan baku yang sebagian besar tidak pernah dikirim.”

Aku menatap Bara.

Dia tidak lagi terlihat marah.

Dia terlihat takut.

Aku mulai memahami.

“Apa hubungan Bara?”

Bu Ratna menjawab.

“Semua transaksi disetujui melalui rekomendasi konsultan restrukturisasi yang diperkenalkan oleh Wijaya Group.”

Jantungku berdetak kencang.

“Siapa konsultan itu?”

Pak Hendra memutar laptopnya ke arahku.

Di layar terlihat salinan email.

Pengirimnya Bara Wijaya.

Penerimanya Dinda Laras.

Tanggalnya setahun lalu.

Kalimatnya pendek.

Pastikan Hartono terus ambil bahan lewat perusahaan tante kamu. Begitu cash flow mereka cukup lemah, kita masuk lewat akuisisi.

Aku merasa dunia berhenti.

Bara berjalan cepat dan hendak menutup laptop.

Aku berdiri di depannya.

“Kamu yang bikin pabrik Papa bangkrut?”

“Del, dengar dulu.”

“Kamu jawab.”

“Ini bisnis.”

Dua kata.

Hanya dua kata.

Tapi dua kata itu menghancurkan tujuh tahun hidupku.

“Jadi kamu sengaja?”

“Hartono Textile memang sudah lemah. Aku cuma mempercepat keadaan supaya asetnya tidak jatuh ke kompetitor.”

“Dan kamu menikahiku supaya apa?”

Bara menatap orang-orang di ruangan sebelum akhirnya berkata pelan, “Supaya semuanya tetap di tangan kita.”

“Kita?”

“Adelia, jangan bodoh. Kalau aku mau menghancurkan keluargamu, aku gak akan menikahi kamu.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak ayah meninggal, aku benar-benar tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena akhirnya semuanya masuk akal.

Janji talangan setelah akad.

Tekanan agar pernikahan dipercepat.

Sikap Bara yang berubah setahun terakhir.

Bahkan Dinda.

Semuanya bukan perselingkuhan biasa.

Itu satu operasi bisnis.

Bara mendekat.

“Kalau kamu tenang, masih bisa kita bereskan. Wijaya Group ambil alih Hartono Textile. Utang lunas. Kamu tetap punya saham kecil. Nama ayahmu tetap dipakai.”

Aku menatap lelaki yang pernah kucintai lebih dari diriku sendiri.

“Papa tahu?”

Pak Hendra menjawab.

“Pak Hartono mengetahuinya sekitar tiga minggu lalu.”

Dadaku sesak.

“Lalu kenapa dia tidak bilang padaku?”

“Karena beliau takut kamu tetap membela suamimu.”

Aku menunduk.

Ayah benar.

Tiga minggu lalu, kalau ayah menunjukkan email itu, mungkin aku akan menuduhnya mengarang.

Begitu bodohnya aku.

Bu Ratna lalu mengeluarkan dokumen terakhir.

“Tapi Pak Hartono juga sudah mengambil langkah.”

“Apa?”

“Beliau mengajukan gugatan perdata dan laporan dugaan penipuan korporasi. Semuanya sudah didaftarkan sebelum beliau meninggal.”

Bara berubah pucat.

“Dia gak punya bukti cukup.”

Bu Ratna tersenyum tipis.

“Beliau punya rekaman.”

Pak Hendra menyalakan file audio.

Suara Bara memenuhi ruangan.

Kali ini jelas.

Suara yang sangat kukenal.

“Begitu Hartono gagal bayar, kita tekan bank. Setelah itu Adelia gak punya pilihan selain nikah. Semua sahamnya nanti gampang kita kendalikan.”

Lalu suara perempuan.

Dinda.

“Kalau dia tahu gimana?”

Bara tertawa.

“Dia terlalu cinta sama gue.”

Aku menutup mata.

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada perselingkuhan.

Bukan karena dia tidak mencintaiku.

Tapi karena dia menggunakan cintaku sebagai kelemahan.

Ketika aku membuka mata lagi, Bara sudah kehilangan ketenangannya.

“Audio bisa dimanipulasi.”

“Silakan jelaskan di pengadilan,” kata Bu Ratna.

Bara menunjukku.

“Adelia, pikir baik-baik. Kalau kamu lanjutkan ini, kamu juga rugi. Harga saham Wijaya Group bisa jatuh. Keluarga kita hancur.”

Aku menatapnya.

“Keluarga kita?”

Aku menarik cincin pernikahan dari jari.

Sulit.

Jari manisku sedikit bengkak.

Setelah akhirnya terlepas, aku meletakkannya di atas meja.

“Keluarga itu sudah tidak pernah ada.”

Wajah Bara mengeras.

“Kamu mau cerai hanya karena masalah bisnis?”

“Bukan.”

Aku berdiri.

“Aku mau cerai karena baru sadar aku menikah dengan orang yang membiarkan ayahku mati sambil sibuk menghukumku pakai lotre.”

Tiga bulan setelah itu, kehidupan Bara Wijaya runtuh lebih cepat daripada Hartono Textile.

Kasus kontrak fiktif menyebar ke media.

Beberapa direktur Wijaya Group diperiksa.

Dinda dan bibinya saling menyalahkan.

Dinda akhirnya menyerahkan percakapan, rekaman transaksi, dan dokumen internal untuk mendapatkan keringanan hukum.

Perceraianku selesai tanpa perlawanan berarti.

Bara terlalu sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Hartono Textile juga tidak selamat sepenuhnya.

Aku menjual dua aset, menutup satu pabrik lama, dan memberhentikan hampir seratus pekerja.

Itu keputusan paling berat dalam hidupku.

Tapi satu tahun kemudian, pabrik utama di Majalaya kembali berjalan.

Lebih kecil.

Lebih sederhana.

Tanpa utang rentenir.

Tanpa nama besar yang palsu.

Di ruang kerja ayah yang kini menjadi milikku, aku menyimpan satu benda aneh di dalam laci.

Selembar lotre gosok.

Lembar terakhir dari koper yang dilempar Bara malam itu.

Aku menemukannya beberapa minggu setelah perceraian ketika membereskan barang dari vila.

Aku menggosoknya sendirian.

Ternyata menang.

Dua miliar rupiah.

Awalnya aku pikir itu lelucon yang terlalu sempurna.

Aku bahkan mengecek nomornya tiga kali.

Hadiah terbesar dari koper penghinaan itu justru benar-benar ada.

Aku tidak menggunakan uangnya untuk membeli mobil atau rumah.

Aku memasukkannya ke yayasan yang kubuat atas nama ayah.

Dana itu dipakai sebagai bantuan darurat untuk pekerja pabrik yang keluarganya mengalami kecelakaan atau meninggal saat bekerja.

Hari ketika yayasan itu resmi dibuka, Pak Hendra menyerahkan satu amplop lain.

“Ini sebenarnya titipan Pak Hartono. Baru boleh diberikan setelah semua perkara selesai.”

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya hanya ada secarik kertas tulisan tangan.

Tulisan ayah yang rapi.

Adelia, kalau kamu membaca ini, berarti akhirnya kamu memilih dirimu sendiri.

Papa minta maaf karena terlalu lama membiarkan kamu percaya bahwa menyelamatkan keluarga berarti mengorbankan diri.

Tidak.

Keluarga yang benar tidak meminta kamu dihina untuk dipertahankan.

Kalau suatu hari semuanya habis, mulai lagi.

Nama Hartono tidak dibangun dari gedung atau uang.

Nama itu dibangun dari keberanian untuk berdiri setelah jatuh.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali sampai air mataku jatuh ke kertas.

Di luar jendela, mesin-mesin pabrik kembali terdengar.

Tidak semegah dulu.

Tapi hidup.

Aku membuka laci, mengambil lotre dua miliar itu, lalu menaruhnya di samping surat ayah.

Dulu Bara pernah bilang kalau dia menang lotre terbesar, dia akan membelikanku berlian paling besar di Jawa Barat.

Ternyata dia salah.

Hadiah terbesar yang pernah kudapat bukan berlian.

Bukan dua miliar.

Bukan juga perusahaan yang berhasil kuselamatkan.

Hadiah terbesar itu adalah malam ketika seorang lelaki melempar koper lotre ke kakiku dan mengira dia sedang menghancurkan harga diriku.

Padahal tanpa dia sadari, malam itu dia justru memberiku satu hal yang selama tujuh tahun tidak pernah kupunya.

Keberanian untuk pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang