Sepuluh menit itu terasa lebih panjang daripada sebelas tahun pernikahanku.
Tak seorang pun melanjutkan makan. Lobster yang tadi diperebutkan kini tergeletak di atas piring, saus menteganya mulai membeku. Nisa menatap Arif, suaminya pura-pura sibuk dengan ponsel, sementara Bu Ratna berdiri dengan wajah merah menahan marah.
Hanya Arif yang akhirnya mencoba tertawa.
“Maya, kamu baru pulang perjalanan dinas. Mungkin kamu capek. Kita bicara besok saja.”
Aku menatapnya.
“Aku justru baru benar-benar bangun malam ini.”

Ponselku bergetar.
Email dari pengacaraku masuk.
Aku membukanya tanpa tergesa-gesa, lalu meletakkan ponsel di atas meja.
“Rumah ini dibeli empat belas bulan sebelum aku menikah dengan Arif. Sertifikat Hak Milik atas namaku. Seluruh uang muka dan cicilannya dibayar dari rekeningku.”
Wajah Arif menegang.
“Maya, semua orang di sini tahu kamu yang beli.”
“Tidak. Tadi kamu bilang rumah ini milik kita.”
“Itu cuma cara bicara.”
“Baik. Sekarang kita bicara dengan cara yang lebih tepat.”
Aku membuka dokumen berikutnya.
“Perjanjian pranikah kita juga jelas. Aset yang kumiliki sebelum menikah tetap menjadi milikku. Saham perusahaan tetap milikku. Rekening investasi tetap terpisah.”
Bu Ratna tertawa sinis.
“Jadi sekarang kamu mau pamer uang?”
Aku menggeleng.
“Tidak. Saya sedang menjelaskan batas kepada orang yang sepuluh menit lalu menyuruh ibu saya tahu diri di rumah milik ibu saya sendiri.”
Bu Ratna terdiam.
Aku melihat Ibu berdiri di ambang pintu dapur. Wajahnya cemas. Tangannya masih memegang kardigan di dada.
Aku menghampirinya.
“Bu, sini.”
“Maya, Mama di dapur saja.”
“Tidak.”
Aku menarik kursi yang selama ini ditempati Bu Ratna.
“Kursi ini untuk Mama.”
Bu Ratna menatapku tajam.
“Maksud kamu apa?”
Aku menatapnya kembali.
“Ibu saya yang memasak. Ibu saya yang tangannya terluka. Jadi kalau ada orang yang pantas duduk di meja ini, dia.”
Ibu tidak langsung duduk.
Aku menggenggam tangannya.
“Duduk, Bu.”
Akhirnya beliau menurut.
Aku mengambil piring baru, memasukkan nasi hangat dari rice cooker, lalu memilihkan sup asparagus dan sedikit udang.
Ibu menarik lenganku.
“Mama benar-benar tidak lapar.”
Aku tahu beliau sedang mencoba menyelamatkan pernikahanku.
Bahkan setelah diperlakukan seperti itu, yang dipikirkannya masih hidupku.
Aku berjongkok di samping kursinya.
“Sekali ini saja, jangan lindungi aku dari kenyataan.”
Mata Ibu berkaca-kaca.
Aku berdiri kembali.
“Sekarang kita bicara.”
Arif menghela napas panjang.
“Apa lagi?”
“Sejak kapan ibuku diperlakukan seperti ini?”
“Tidak ada yang memperlakukan beliau seperti apa pun.”
“Jangan bohong.”
“Maya, kamu cuma melihat satu kejadian.”
Aku hampir tertawa.
“Justru itu yang membuatku takut. Kalau satu kejadian yang kebetulan kulihat saja seperti ini, bagaimana dengan yang tidak kulihat?”
Tak ada jawaban.
Aku menoleh kepada Ibu.
“Bu, selama aku perjalanan dinas, siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah?”
Ibu menggeleng cepat.
Namun suara lain muncul dari belakang.
“Saya boleh bicara, Bu?”
Semua menoleh.
Mbak Yuni berdiri di dekat lorong menuju area laundry. Wajahnya pucat.
Aku mengenalnya hampir tujuh tahun. Dia jarang sekali ikut campur urusan keluarga.
“Bicara, Mbak.”
Bu Ratna langsung menyela.
“Yuni, kamu jangan macam-macam.”
Aku menatapnya.
“Biarkan dia bicara.”
Mbak Yuni menarik napas.
“Sejak tiga bulan lalu, kalau Ibu Maya pergi keluar kota, Bu Sulastri sering diminta bantu masak, bersih-bersih meja, sama cuci piring.”
Aku menoleh kepada Arif.
Dia menghindari tatapanku.
“Kenapa?”
Mbak Yuni melanjutkan dengan suara pelan.
“Bu Ratna bilang saya kerjanya terlalu lambat. Jadi Bu Sulastri disuruh bantu.”
“Disuruh?”
“Kadang…”
Dia berhenti.
“Lanjut.”
“Kadang kalau Bu Sulastri mau istirahat, dibilang jangan cuma duduk karena tinggal di sini gratis.”
Ruangan itu terasa membeku.
Aku bahkan tidak langsung mampu berbicara.
Tinggal di sini gratis.
Aku menatap Ibu.
Beliau menundukkan kepala.
Aku baru sadar ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kita cintai diperlakukan buruk.
Yaitu mengetahui mereka menyembunyikan rasa sakit itu karena takut menjadi beban bagi kita.
Bu Ratna tiba-tiba berkata, “Jangan dengarkan pembantu. Dia pasti membesar-besarkan.”
Mbak Yuni langsung menunduk.
Aku berdiri di depannya.
“Tidak apa-apa. Terima kasih sudah bicara.”
Lalu aku menatap Bu Ratna.
“Kenapa Ibu mengatakan Mama tinggal gratis?”
“Memangnya salah?”
“Sangat salah.”
“Dia memang tinggal di rumah kalian tanpa bayar apa-apa.”
Aku tertawa pendek.
“Rumah ini dibeli karena dia.”
Bu Ratna mengerutkan kening.
“Apa?”
“Empat belas tahun lalu, ketika perusahaan saya pertama kali mendapat kontrak besar, saya membeli rumah ini supaya ibu saya tidak perlu mengontrak lagi.”
Aku menunjuk lantai di bawah kaki kami.
“Orang pertama yang menerima kunci rumah ini adalah Mama. Bukan Arif. Bukan saya.”
Aku menatap satu per satu orang di meja.
“Kalau kalian mau bicara siapa yang menumpang, seharusnya kalian menghitung dengan benar.”
Nisa mulai gelisah.
“Kak Maya, jangan bawa aku sama suamiku. Kami cuma diundang.”
Aku memandangnya.
“Siapa yang mengundang?”
Nisa menoleh kepada Arif.
“Mas Arif.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Ponselku kembali berbunyi.
Kali ini pesan dari kepala keuangan.
Kartu tambahan sudah diblokir.
Aku menunjukkan layar kepada Arif.
“Mulai malam ini kartu tambahanmu tidak bisa digunakan.”
Arif langsung berdiri.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Kamu mempermalukanku di depan keluarga!”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Dan kamu membiarkan ibuku dipermalukan di rumahnya sendiri.”
“Itu berbeda!”
“Bedanya apa?”
Arif membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban.
Aku belum selesai.
“Besok semua pengeluaran rumah tangga selama setahun akan diaudit.”
Untuk pertama kalinya ekspresi Arif berubah.
Bukan marah.
Takut.
Perubahan kecil itu tidak luput dari mataku.
“Kenapa wajahmu begitu?”
“Nggak ada apa-apa.”
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa takut diaudit?”
Bu Ratna buru-buru menyela.
“Sudah! Urusan uang suami istri jangan dibicarakan di depan orang.”
Aku menatap Arif.
“Berapa?”
“Apa?”
“Berapa banyak uangku yang kamu gunakan tanpa sepengetahuanku?”
Arif menggeleng.
“Kamu mulai paranoid.”
Aku mengambil ponselnya yang tergeletak di meja.
Dia langsung bergerak.
“Maya!”
Reaksinya terlalu cepat.
Aku berhenti.
Kami saling menatap.
“Kenapa?”
“Itu ponsel pribadi.”
“Aku tidak akan membukanya.”
Aku menggesernya kembali.
“Tapi sekarang aku tahu ada sesuatu.”
Malam itu aku tidak mengusir siapa pun.
Aku hanya mengatakan makan malam selesai.
Bu Ratna pergi sambil menangis marah. Nisa dan suaminya mengikuti. Dua sepupu Arif bahkan tidak berani menatapku.
Arif tidur di kamar tamu.
Aku tidur bersama Ibu.
Untuk pertama kalinya sejak aku masih mahasiswa, aku berbaring di sebelahnya sambil memegang tangannya.
Dalam gelap, aku bertanya, “Kenapa Mama diam?”
Beliau menjawab lama kemudian.
“Karena Mama takut kamu kehilangan suami gara-gara Mama.”
Aku menahan air mata.
“Kalau seorang suami bisa hilang hanya karena istrinya meminta ibunya diperlakukan manusiawi, berarti sejak awal aku tidak pernah benar-benar punya suami.”
Pagi berikutnya, audit dimulai.
Aku mengira masalah terbesar adalah pesta, belanja makanan mahal, atau kartu kredit.
Ternyata aku salah.
Pukul sebelas, kepala keuanganku menelepon.
“Mbak Maya, ada beberapa transaksi yang sebaiknya Mbak lihat sendiri.”
Dia mengirimkan spreadsheet.
Dalam dua belas bulan, kartu tambahan Arif menghabiskan lebih dari Rp287 juta.
Sebagian memang kebutuhan rumah.
Tetapi ada transfer rutin ke sebuah rekening bernama Ratna Kusumawati.
Ibunya.
Rp10 juta.
Rp15 juta.
Kadang Rp20 juta.
Totalnya Rp126 juta.
Ada pula pembayaran cicilan mobil atas nama Nisa.
Pembayaran renovasi rumah.
Tagihan restoran.
Hotel di Bandung.
Dan sebuah transaksi Rp38 juta kepada perusahaan interior.
Aku memanggil Arif ke ruang kerja.
Dia masuk dengan wajah kusut.
Aku memutar laptop ke arahnya.
“Jelaskan.”
Dia melihat angka-angka itu.
“Aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
“Mama butuh bantuan.”
“Seratus dua puluh enam juta?”
“Rumahnya bocor. Ada utang.”
“Mobil Nisa?”
“Dia butuh kendaraan.”
“Hotel Bandung?”
Arif diam.
Aku menunjuk transaksi interior.
“Ini apa?”
“Itu…”
“Jangan bohong lagi.”
Akhirnya dia duduk.
“Mama mau renovasi rumah.”
Aku tertawa getir.
“Ibumu merenovasi rumah dengan uangku, sementara ibuku dibilang tinggal gratis di rumah yang kubeli?”
Arif menunduk.
“Aku berniat mengganti.”
“Dengan apa?”
Dia tidak menjawab.
Aku menutup laptop.
“Pergi.”
“Maya…”
“Keluar dari rumah ini.”
Wajahnya langsung pucat.
“Kamu mau cerai cuma karena masalah uang?”
“Bukan.”
Aku berdiri.
“Aku ingin berpisah karena selama bertahun-tahun kamu menikmati semua yang kubangun sambil membiarkan keluargamu memperlakukan perempuan yang membantuku membangun hidup ini seperti pembantu.”
Dia mendekat.
“Aku sayang kamu.”
“Kalau begitu kenapa kamu diam?”
Arif terdiam.
Dan saat itulah aku memahami sesuatu.
Pengkhianatan tidak selalu berbentuk perselingkuhan.
Kadang pengkhianatan adalah diam ketika orang yang kita cintai dihina.
Arif akhirnya pergi sore itu.
Namun kejutan terbesar datang tiga minggu kemudian.
Pengacaraku menemukan bahwa sebagian uang yang dikirim kepada Bu Ratna ternyata digunakan sebagai uang muka sebuah rumah kecil di Semarang.
Ketika dokumennya diperiksa, nama calon penerima rumah itu bukan Bu Ratna.
Melainkan Sulastri.
Ibuku.
Aku benar-benar bingung.
Aku mendatangi Arif di apartemen tempat dia tinggal sementara.
“Kenapa rumah ini atas nama Mama?”
Arif menatap dokumen itu lama.
Lalu dia menangis.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihatnya menangis seperti anak kecil.
“Aku mau memindahkan Mama Sulastri.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Mama terus bilang ibumu bikin dia nggak nyaman. Dia minta aku memilih. Aku pengecut, Maya. Aku pikir kalau kubelikan Mama Sulastri rumah di Semarang, masalah selesai.”
“Dengan uangku?”
Dia mengangguk.
“Aku pikir nanti kamu akan setuju.”
Aku menatap laki-laki yang pernah kucintai itu dan akhirnya memahami seluruh gambaran.
Dia bukan monster.
Justru itu yang membuat semuanya lebih menyedihkan.
Dia hanyalah laki-laki yang terlalu lemah untuk mengatakan tidak kepada ibunya, lalu menggunakan uang istrinya untuk membeli jalan keluar dari konflik yang tidak berani dia hadapi.
Aku tidak membatalkan gugatan cerai.
Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Bu Ratna tidak pernah lagi datang ke rumah.
Nisa mengembalikan mobil yang cicilannya sempat dibayar dari kartuku setelah menerima surat dari pengacara.
Mbak Yuni tetap bekerja bersama kami, tetapi dengan satu perubahan.
Aku menaikkan gajinya.
Sedangkan rumah kecil di Semarang yang uang mukanya telanjur dibayar?
Aku melunasinya.
Bukan untuk mengusir Ibu.
Rumah itu kujadikan miliknya sepenuhnya sebagai tempat pulang kapan pun beliau ingin mengunjungi kampung halaman.
Suatu sore, hampir setahun setelah malam itu, aku dan Ibu duduk di meja makan yang sama.
Tidak ada lobster.
Tidak ada abalon.
Hanya sayur asem, ikan goreng, sambal terasi, dan tempe hangat.
Ibu mengambil piring keramik yang dulu pernah beliau pecahkan satu.
Tangannya sempat berhenti.
“Yang ini mahal, ya?”
Aku tersenyum.
“Pakai saja.”
“Nanti pecah.”
“Kalau pecah, kita beli lagi.”
Ibu tertawa.
Aku menatap perempuan yang dulu menjual gelang emas terakhirnya supaya aku bisa kuliah.
Kemudian aku berkata, “Bu, tahu apa barang paling mahal di rumah ini?”
Ibu menggeleng.
“Bukan piring. Bukan wine. Bukan furnitur.”
Aku menggenggam tangannya.
“Orang yang membuat rumah ini terasa seperti rumah.”
Ibu terdiam, lalu matanya basah.
Malam itu kami makan sampai nasi di rice cooker habis.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, meja makan besar itu tidak dipenuhi makanan mahal.
Namun aku tidak pernah merasa rumahku sekaya itu.
