Aku datang ke kantor pagi itu dengan niat memberi kejutan kepada suamiku. Namun kurang dari satu jam kemudian, aku justru berdiri di depan pintu tangga darurat sambil menggenggam ponsel yang berisi rekaman perselingkuhan, rencana pengambilalihan perusahaan keluargaku, dan sebuah kode brankas yang seharusnya tidak pernah kuketahui.
Tanganku masih gemetar ketika membuka pintu.
Di baliknya berdiri seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan kemeja putih dan kartu identitas perusahaan menggantung di lehernya.
Aku mengenalnya.
“Pak Arman?”

Dia adalah kepala audit internal yang sudah bekerja bersama Papa bahkan sebelum aku kuliah.
“Cepat masuk, Bu Nadia.”
Aku menutup pintu di belakangku.
“Pesan tadi dari Bapak?”
Arman mengangguk.
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
Dia tidak langsung menjawab. Dia justru melihat ke arah kamera CCTV di ujung lorong, lalu mengajakku turun satu lantai.
“Kita bicara di tempat yang tidak terpantau.”
Kami masuk ke sebuah ruang arsip kecil.
Begitu pintu terkunci, Arman mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya.
“Saya sudah menunggu Ibu pulang.”
“Kenapa tidak menghubungi saya sejak awal?”
“Karena saya tidak tahu siapa yang masih bisa dipercaya.”
Kalimat itu membuat tengkukku dingin.
Arman membuka laptop lama di atas meja dan menunjukkan beberapa laporan keuangan.
Awalnya aku tidak melihat sesuatu yang aneh.
Kemudian dia menunjuk beberapa transaksi.
Nominalnya tidak terlalu besar jika dilihat satu per satu. Dua ratus juta. Tiga ratus lima puluh juta. Seratus delapan puluh juta.
Tetapi transaksi itu terjadi berkali-kali.
“Semua pembayaran ini masuk ke vendor berbeda,” katanya.
“Masalahnya?”
“Vendornya berbeda di atas kertas. Rekening penerimanya berakhir di pihak yang sama.”
Dia membuka sebuah dokumen lain.
Nama sebuah perusahaan muncul.
PT Arunika Kreatif Nusantara.
Aku mengernyit.
“Aku tidak kenal perusahaan ini.”
“Pemegang sahamnya Siska.”
Jantungku seperti jatuh.
Aku langsung menghitung angka yang terlihat di layar.
“Berapa totalnya?”
“Hampir dua belas miliar dalam sebelas bulan.”
Aku menatap Arman.
“Kenapa baru sekarang?”
“Saya mulai curiga tiga bulan lalu. Saya laporkan kepada Pak Raka.”
Aku tertawa pahit.
“Tentu saja.”
“Besoknya akses saya ke sistem keuangan dibatasi.”
Arman kemudian menunjukkan salinan beberapa surat elektronik internal. Ada instruksi menghapus jejak transaksi, mengubah klasifikasi biaya pemasaran, dan memindahkan sebagian pengeluaran ke proyek yang belum berjalan.
Sebagian instruksi menggunakan akun Raka.
Aku duduk perlahan.
Perselingkuhan masih menyakitkan.
Tetapi saat itu aku bahkan tidak punya waktu untuk menjadi istri yang patah hati.
Aku harus menjadi anak Hendra Wijaya.
“Apa hubungannya dengan dokumen di brankas?”
“Itulah yang belum saya tahu.”
Aku langsung teringat kode yang disebut Raka.
“Bapak bisa membukanya?”
Arman menggeleng.
“Brankas ada di ruangan direktur utama. Kalau kita masuk sekarang, kamera akan merekam.”
“Bukankah Bapak yang mengendalikan kamera tadi?”
“Saya hanya meminta bantuan satu orang dari tim keamanan.”
“Siapa?”
Arman diam beberapa detik.
“Dimas.”
Aku mengenal nama itu. Supervisor keamanan gedung.
“Dia bisa dipercaya?”
“Saya berharap begitu.”
Aku menatapnya tajam.
“Berharap?”
“Dalam keadaan seperti ini, saya tidak berani menjamin siapa pun.”
Aku menarik napas panjang.
Lalu ponselku berbunyi.
Raka menelepon.
Aku dan Arman saling berpandangan.
“Angkat,” katanya.
Aku menekan tombol hijau.
“Halo?”
“Nad?”
Aku memaksa suaraku terdengar mengantuk.
“Iya?”
“Kamu di mana?”
“Singapura. Kenapa?”
Sunyi.
Hanya dua detik, tetapi cukup membuatku sadar bahwa dia sedang memeriksa sesuatu.
“Nggak apa-apa. Aku cuma kangen.”
Aku menggigit bibir agar tidak tertawa sinis.
“Kok pagi-pagi?”
“Baru sampai kantor.”
“Tumben.”
Raka tertawa kecil.
“Ada rapat.”
Aku membayangkan Siska mungkin sedang duduk tidak jauh darinya.
“Kamu kapan pulang?”
“Mungkin akhir minggu.”
“Kasih kabar, ya.”
“Pasti.”
Sebelum menutup telepon, dia mengatakan kalimat yang selama setahun selalu berhasil membuatku merasa bersalah.
“Aku sayang kamu.”
Kali ini aku tidak membalasnya.
Aku hanya berkata, “Aku juga kangen rumah.”
Telepon terputus.
Arman menatapku.
“Dia curiga?”
“Belum.”
Kami menyusun rencana sederhana.
Aku meninggalkan gedung lewat basement menggunakan mobil Arman. Koperku dititipkan di ruang arsip.
Aku tidak pulang ke rumah.
Aku langsung menuju kantor pengacara keluarga di Menteng.
Pak Surya hampir menjatuhkan kacamatanya ketika melihatku masuk tanpa janji.
“Nadia?”
“Saya butuh bantuan.”
Aku meletakkan ponsel di mejanya dan memutar rekaman.
Wajahnya berubah ketika mendengar pembicaraan tentang surat kuasa dan perubahan data perusahaan.
“Jangan lakukan apa pun dulu,” katanya setelah rekaman selesai.
“Aku mau buka brankas itu.”
“Boleh. Tapi jangan sendirian.”
“Apa yang bisa dilakukan Raka dengan surat kuasa?”
“Tergantung isinya.”
“Kalau tanda tanganku dipalsukan?”
Pak Surya menatapku serius.
“Kalau begitu ini bukan lagi sekadar masalah rumah tangga atau konflik internal perusahaan.”
Aku mengerti maksudnya.
Siang itu, kami memeriksa seluruh dokumen perusahaan yang pernah kutandatangani selama berada di Singapura.
Aku masih menyimpan salinan digitalnya.
Ada dua dokumen yang terasa aneh.
Aku ingat menandatangani halaman persetujuan investasi.
Namun lampiran yang sekarang tersimpan di server berbeda dari lampiran yang pernah kubaca.
Namaku tercantum sebagai pihak yang menyetujui pengalihan hak suara atas sebagian saham milik Papa apabila beliau dinilai tidak mampu menjalankan tugas.
Aku menatap layar lama sekali.
“Aku tidak pernah menyetujui ini.”
Pak Surya memperbesar tanda tanganku.
“Tanda tangan ini asli.”
“Bagaimana bisa?”
“Mungkin halaman tanda tangan dari dokumen lain dipindahkan.”
Aku tiba-tiba teringat sesuatu.
Tiga bulan sebelumnya, Raka mengirim dokumen lewat kurir ke rumah sakit di Singapura.
Katanya hanya persetujuan perpanjangan fasilitas kredit.
Aku menandatanganinya di sela jadwal pemeriksaan Papa.
Saat itu aku bahkan berterima kasih karena Raka mau menangani semuanya.
Pukul tiga sore, aku menelepon Papa.
Aku tidak menceritakan perselingkuhan.
Belum.
Aku hanya bertanya, “Pa, pernah kasih surat kuasa khusus ke Raka?”
Papa terdiam.
“Kenapa tanya begitu?”
“Jawab dulu.”
“Nggak pernah.”
“Kalau soal saham?”
“Juga nggak.”
Dadaku terasa sedikit lega.
Lalu Papa berkata sesuatu yang membuatku kembali membeku.
“Tapi sekitar enam bulan lalu Raka pernah minta Papa tanda tangan surat untuk restrukturisasi perusahaan.”
“Papa tanda tangan?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Papa nggak percaya dia.”
Aku berdiri.
“Apa?”
Suara Papa terdengar lelah tetapi tegas.
“Papa memang kasih dia jabatan. Bukan berarti Papa kasih dia kepercayaan penuh.”
Aku hampir tidak bisa berkata-kata.
“Kenapa Papa nggak pernah bilang?”
“Karena kamu mencintai dia.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada semua yang kudengar pagi tadi.
Papa tahu.
Mungkin tidak semuanya, tetapi cukup untuk curiga.
“Papa simpan bukti?”
“Ada.”
“Di mana?”
“Surya tahu.”
Aku menoleh ke arah Pak Surya.
Dia menundukkan kepala.
Setelah telepon berakhir, aku menatapnya.
“Bapak tahu?”
“Saya diperintahkan Pak Hendra untuk tidak memberitahu Ibu sebelum ada bukti kuat.”
Aku marah.
Tetapi hanya sebentar.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Papa tidak sedang melindungi Raka.
Dia sedang melindungiku dari keputusan emosional.
Malam itu aku tidak pulang.
Keesokan paginya, aku kembali ke kantor.
Kali ini bukan diam-diam.
Aku mengenakan setelan kerja dan berjalan melewati lobi dengan kepala tegak.
Beberapa karyawan langsung terkejut.
“Bu Nadia?”
“Pagi.”
Berita kedatanganku menyebar lebih cepat daripada lift.
Ketika pintu ruang direktur utama terbuka, Raka sedang berdiri di dekat jendela.
Wajahnya pucat.
“Nadia?”
Aku tersenyum.
“Surprise.”
Dia berjalan mendekat dan memelukku.
Tubuhku kaku.
“Kok nggak bilang?”
“Kalau bilang bukan kejutan.”
Aku melihat Siska duduk di sofa.
Dia bahkan lebih pucat daripada Raka.
“Bu Nadia,” katanya. “Selamat datang kembali.”
“Terima kasih, Siska.”
Aku duduk di kursi Papa.
“Katanya ada rapat direksi pagi ini.”
Raka terlihat bingung.
“Kamu tahu dari siapa?”
“Aku masih pemegang saham perusahaan ini, Rak.”
Dia tertawa gugup.
Rapat dimulai pukul sembilan.
Fajar dan Reza hadir melalui konferensi video. Pak Surya datang sebagai penasihat hukum. Arman juga hadir.
Begitu melihat Arman, ekspresi Raka berubah.
“Apa Pak Arman perlu ikut?”
Aku menjawab sebelum siapa pun bicara.
“Perlu.”
Aku meletakkan sebuah map di meja.
“Ada beberapa transaksi yang ingin aku tanyakan.”
Raka membukanya.
Wajahnya langsung berubah.
“Nadia, ini bisa dijelaskan.”
“Bagus. Jelaskan.”
Dia mulai bicara tentang biaya kampanye, vendor pihak ketiga, pengeluaran strategis.
Aku membiarkannya berbicara hampir sepuluh menit.
Kemudian aku bertanya,
“PT Arunika Kreatif Nusantara milik siapa?”
Siska langsung menunduk.
Raka terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kalau kamu lupa, aku bisa bantu. Pemegang sahamnya Siska.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Aku juga ingin tahu kenapa hampir dua belas miliar rupiah mengalir ke perusahaan itu.”
Raka menatap Siska.
Kesalahan pertama.
Seharusnya dia menatapku.
“Ini fitnah,” kata Siska.
Aku mengangguk.
“Mungkin.”
Lalu aku mengeluarkan ponsel.
“Tapi ini bukan.”
Aku memutar rekaman pagi sebelumnya.
Suara Raka memenuhi ruangan.
Kalau nanti kendali perusahaan sudah aman di aku, urusan lain gampang.
Wajahnya kehilangan warna.
“Nadia…”
Aku menghentikan rekaman.
“Belum selesai.”
Pak Surya meletakkan beberapa dokumen di depan Raka.
“Berdasarkan keputusan pemegang saham mayoritas dan klausul pengamanan dalam anggaran dasar, kewenangan operasional Saudara Raka ditangguhkan mulai pagi ini.”
Raka berdiri.
“Kalian nggak bisa begini!”
Fajar muncul di layar.
“Bisa.”
Reza menambahkan,
“Dan sudah dilakukan.”
Raka menatapku.
“Kamu jebak aku?”
Untuk pertama kalinya aku benar-benar tertawa.
“Aku datang membawa koper karena ingin sarapan sama suamiku.”
Matanya memerah.
“Jadi kamu sudah ada di ruangan kemarin?”
Aku tidak menjawab.
Siska tiba-tiba berdiri.
“Aku nggak mau ikut masalah keluarga kalian.”
Dia berbalik hendak keluar.
Dua petugas keamanan sudah menunggu di depan pintu.
“Mohon tetap di ruangan, Bu,” kata Arman.
Siska menatap Raka dengan panik.
Saat itulah aku meminta Dimas mengambil map dari brankas.
Kode 1708 berhasil.
Namun ketika map dibuka, bahkan Pak Surya terlihat terkejut.
Dokumen itu bukan hanya berisi surat kuasa.
Ada salinan rancangan pengalihan saham, perubahan susunan direksi, serta sebuah perjanjian pinjaman pribadi atas nama Raka dengan jaminan saham perusahaan yang bahkan belum menjadi miliknya.
Tetapi ada satu dokumen lain.
Hasil pemeriksaan medis Papa.
Aku mengambilnya.
“Dari mana kamu dapat ini?”
Raka tidak menjawab.
Pak Surya membaca beberapa halaman lalu mengernyit.
“Ini bukan laporan yang saya punya.”
Aku langsung menelepon dokter Papa di Singapura.
Setelah foto dokumen kukirim, jawabannya datang kurang dari lima menit kemudian.
Dokumen itu palsu.
Isinya menyatakan kondisi kognitif Papa menurun dan beliau tidak lagi kompeten membuat keputusan bisnis.
Tujuannya menjadi jelas.
Jika laporan itu digunakan bersama surat kuasa yang telah dimanipulasi, Raka bisa mencoba menyingkirkan Papa secara hukum dari kendali perusahaan.
Aku menatap pria yang sudah tujuh tahun menjadi suamiku.
“Untuk apa semua ini?”
Akhirnya dia berhenti menyangkal.
“Aku capek jadi menantu Hendra Wijaya.”
Suaranya bergetar.
“Di kantor ini aku selalu cuma suami Nadia. Menantu Pak Hendra. Nggak pernah dianggap karena kemampuan sendiri.”
“Jadi kamu mencuri?”
“Aku membangun perusahaan ini juga!”
“Bukan milikmu.”
“Itu masalahnya!”
Dia memukul meja.
“Aku kerja bertahun-tahun, tapi semuanya tetap milik kalian!”
Aku menatapnya tanpa rasa takut.
Saat itu aku akhirnya memahami bahwa pengkhianatan Raka bukan dimulai ketika dia mencium Siska.
Pengkhianatan itu dimulai ketika rasa iri membuatnya menganggap cinta, kepercayaan, dan keluarga sebagai sesuatu yang bisa dihitung dengan persentase saham.
Polisi datang menjelang siang setelah Pak Surya menyerahkan laporan dan bukti awal.
Siska menangis.
Raka tidak.
Ketika dibawa keluar, dia berhenti di depanku.
“Kamu bakal menyesal.”
“Mungkin.”
“Kamu menghancurkan pernikahan kita.”
Aku menggeleng.
“Bukan aku.”
Enam bulan kemudian, penyelidikan masih berjalan.
Sebagian dana berhasil dibekukan. Beberapa transaksi ternyata melibatkan pihak lain di luar perusahaan.
Aku mengajukan perceraian.
Papa pulang ke Jakarta setelah kondisinya stabil.
Suatu sore kami duduk di ruang direktur utama yang sama.
Aku bertanya sesuatu yang sejak lama menggangguku.
“Pa, kenapa kode brankasnya 1708?”
Papa menatapku.
“Memangnya Raka pakai kode itu?”
Aku mengangguk.
Papa tersenyum aneh.
“Itu tanggal kamu pertama kali bawa Raka ke rumah.”
Aku terdiam.
17 Agustus.
Hari ketika Papa pertama kali bertemu lelaki yang kemudian menjadi suamiku.
“Papa pernah kasih tahu dia?”
“Dulu sekali.”
Aku menatap brankas itu.
Ironis.
Raka menggunakan tanggal ketika dia pertama kali diterima keluarga kami untuk menyimpan dokumen yang akan digunakan menghancurkan keluarga yang sama.
Papa berdiri dan meletakkan sebuah map biru di depanku.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Surat pengunduran diri Papa.”
Aku menatapnya kaget.
“Pa?”
“Papa sudah terlalu lama duduk di kursi ini.”
“Aku belum siap.”
“Tidak ada orang yang benar-benar siap.”
Papa tersenyum.
“Tapi pagi ketika kamu bersembunyi di bawah meja itu, kamu datang sebagai istri yang ingin mengejutkan suaminya.”
Dia menunjuk kursi besar di belakang meja.
“Kamu keluar dari ruangan itu sebagai orang yang akhirnya tahu siapa dirinya sendiri.”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku hanya melihat kursi yang sejak kecil selalu kuanggap milik Papa.
Beberapa minggu kemudian, untuk pertama kalinya, aku memimpin rapat direksi sebagai direktur utama.
Setelah semua orang keluar, aku duduk sendirian.
Di luar jendela, Jakarta masih sama. Jalanan macet, gedung-gedung berdiri rapat, dan suara klakson samar terdengar dari bawah.
Aku membuka ponsel.
Rekaman pagi itu masih tersimpan.
Jempolku berhenti di tombol hapus.
Dulu setiap kali mendengarnya, aku merasa seperti perempuan paling bodoh di dunia.
Sekarang tidak lagi.
Aku menghapus rekaman itu.
Bukan karena aku memaafkan Raka.
Bukan pula karena aku ingin melupakan apa yang dia lakukan.
Aku menghapusnya karena aku tidak membutuhkan suara pengkhianatannya untuk mengingat siapa diriku.
Pagi itu aku memang kehilangan seorang suami.
Tetapi tanpa kusadari, di bawah meja tua milik Papa, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih lama hilang.
Keberanian untuk mengambil kembali hidupku sendiri.
