Mobil melaju meninggalkan restoran, tetapi sepanjang perjalanan aku merasa seolah-olah sedang dibawa menuju sebuah tempat yang sudah menungguku selama tiga belas tahun.
Aku duduk di belakang bersama Nisa. Anak itu memeluk kantong melatinya erat-erat, sementara Pak Darto menyetir tanpa banyak bicara. Berkali-kali aku melihat wajahnya melalui kaca spion.
“Sejak kapan kamu tahu Maya masih hidup?” tanyaku.
Tangannya mencengkeram setir.
“Bu Ratna…”
“Jawab.”
“Sudah lama.”

“Berapa lama?”
Dia diam cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan.
“Sejak awal.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan.
Aku menoleh ke jendela. Lampu-lampu Jakarta mulai menyala, kendaraan berdesakan, orang-orang berjalan pulang seperti sore biasa. Hanya hidupku yang tiba-tiba terasa seperti kebohongan.
Tiga belas tahun lalu, Maya menghilang setelah pertengkaran besar di rumah.
Usianya saat itu dua puluh dua tahun.
Malam sebelum menghilang, dia mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.
“Aku capek hidup sesuai pilihan Mama.”
Aku marah. Aku mengatakan dia tidak tahu apa-apa tentang pengorbanan keluarga.
Pagi berikutnya kamarnya kosong.
Ponselnya tertinggal.
Beberapa pakaian hilang.
Cincin mawar yang kuberikan saat ulang tahunnya yang kedelapan belas juga tidak ada.
Kami mencarinya ke mana-mana.
Polisi, rumah sakit, teman kuliah, bahkan kota-kota yang pernah dia kunjungi.
Tidak ada hasil.
Sekarang sopir yang menemaniku mencari Maya selama bertahun-tahun justru mengaku mengetahui keberadaannya.
“Kamu ikut melihat saya menangis setiap tahun,” kataku.
Pak Darto menelan ludah.
“Saya tahu.”
“Lalu kamu tetap diam?”
“Saya berjanji.”
“Kepada siapa?”
Dia tidak menjawab.
Aku sudah tahu jawabannya.
“Arman?”
Pak Darto mengangguk.
Nisa memandang kami bergantian.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil memasuki sebuah kawasan padat di pinggiran Bekasi. Kami berhenti di depan rumah kontrakan kecil di ujung gang.
Nisa turun lebih dulu.
Aku mengikutinya.
Pak Darto masih berada di dekat mobil.
“Kamu ikut,” kataku.
Dia akhirnya berjalan di belakang kami.
Nisa mengetuk pintu.
“Bu?”
Tidak ada jawaban.
Dia membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
Ruangan itu kecil dan sederhana. Ada kipas angin tua di sudut, meja plastik, rak berisi obat-obatan, dan aroma minyak kayu putih yang samar.
“Bu, Nisa pulang.”
Terdengar suara lemah dari kamar.
“Nisa?”
Aku membeku.
Suara itu berubah, lebih berat dan lelah, tetapi aku mengenalinya.
Aku pernah mendengarnya tertawa di dapur, menangis karena nilai matematika, memanggilku ketika demam, dan berteriak marah pada malam terakhir kami bertengkar.
Nisa membuka pintu kamar.
Seorang perempuan kurus sedang berusaha duduk di kasur.
Rambutnya pendek sebahu. Wajahnya pucat.
Begitu melihatku, tubuhnya berhenti bergerak.
“Mama?”
Satu kata itu menghancurkan seluruh pertahanan yang kubangun selama tiga belas tahun.
“Maya.”
Aku bahkan tidak sadar sudah berjalan mendekatinya.
Tanganku gemetar ketika menyentuh wajahnya.
Dia nyata.
Hangat.
Hidup.
Aku memeluknya.
Maya menangis.
Aku juga.
Untuk beberapa saat tidak ada pertanyaan, tidak ada kemarahan. Hanya seorang ibu yang akhirnya menemukan anaknya.
Kemudian aku teringat tiga belas tahun yang hilang.
Aku melepaskan pelukan.
“Kenapa?”
Maya menunduk.
“Maaf.”
“Jangan bilang maaf. Jelaskan.”
Nisa berdiri di ambang pintu.
Aku memandangnya.
Sesuatu mulai terasa ganjil.
“Nisa anakmu?”
Maya mengangguk.
Aku menghitung dalam kepala.
Tiga belas tahun.
Maya menghilang tiga belas tahun lalu.
“Waktu kamu pergi, kamu hamil?”
Air mata mengalir di wajahnya.
“Iya.”
Aku menutup mulut.
Nisa memandang ibunya.
“Ibu?”
Tampaknya anak itu pun tidak mengetahui seluruh cerita.
“Siapa ayahnya?” tanyaku.
Maya langsung memandang Pak Darto.
Bukan karena dia ayahnya.
Tatapan itu seperti meminta pertolongan.
Pak Darto menunduk.
Saat itulah suara mobil berhenti di luar.
Beberapa detik kemudian Arman muncul di pintu.
“Kak.”
Aku berdiri.
Dia terlihat jauh lebih tua daripada beberapa jam sebelumnya.
Aku berjalan mendekatinya.
“Siapa ayah Nisa?”
Arman tidak menjawab.
“Kenapa kamu memberi mereka uang?”
“Kak Ratna, kita bicara pelan-pelan.”
“Siapa ayahnya?”
Maya tiba-tiba berkata, “Bukan Om Arman.”
Aku menoleh.
“Lalu siapa?”
Maya menggenggam selimut.
“Rendra.”
Nama itu membuat ruangan seolah kehilangan udara.
Rendra adalah suamiku.
Ayah Maya.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Apa maksudmu?”
Maya langsung menggeleng kuat.
“Bukan seperti yang Mama pikir.”
Arman cepat masuk.
“Kak, dengarkan dulu.”
Aku hampir berteriak.
“Jelaskan!”
Maya menangis.
“Rendra bukan ayah kandungku.”
Aku terpaku.
Selama beberapa detik aku bahkan tidak memahami kalimat itu.
Maya melanjutkan dengan suara gemetar.
“Aku tahu malam sebelum aku pergi.”
Aku menatap Arman.
Wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah mengetahui semuanya.
Tiga belas tahun lalu, Maya menemukan beberapa dokumen lama di ruang kerja Rendra. Ada hasil tes DNA dan surat dari rumah sakit.
Rendra ternyata bukan ayah biologis Maya.
Aku memang sudah mengetahui itu.
Rahasia itu kusimpan sejak Maya lahir.
Sebelum menikah dengan Rendra, aku pernah menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Bima. Kami berpisah ketika aku sedang hamil muda tanpa sempat memberitahunya.
Rendra mengetahui semuanya sebelum menikahiku.
Dia tetap menerima Maya sebagai anaknya sendiri.
Itulah rahasia keluarga yang kukira sedang dibicarakan Maya.
Ternyata bukan.
“Kalau begitu apa hubungannya dengan Nisa?” tanyaku.
Maya menatapku.
“Karena di dokumen itu ada nama ayah kandungku.”
“Bima.”
Maya menggeleng.
“Bukan.”
Darahku terasa dingin.
Arman duduk perlahan.
“Kak, Rendra pernah melakukan tes lagi.”
“Kenapa?”
“Karena dia curiga.”
Aku menatap adikku.
“Curiga apa?”
Arman menarik napas.
“Bima bukan ayah Maya.”
Aku hampir tertawa karena terdengar mustahil.
“Aku hanya bersama Bima saat itu.”
Arman tidak sanggup menatapku.
Lalu sebuah ingatan lama muncul.
Sebuah malam yang selama puluhan tahun berusaha kulupakan.
Pesta kelulusan.
Aku mabuk.
Aku pulang dalam keadaan hampir tidak sadar.
Arman menjemputku bersama sahabatnya.
Aku hanya mengingat potongan-potongan kejadian.
Aku bangun keesokan paginya di rumah.
Aku selalu mengira tidak terjadi apa-apa.
“Siapa?” bisikku.
Arman menjawab sangat pelan.
“Aditya.”
Aku mundur.
Aditya.
Sahabat Arman.
Pria yang kemudian menjadi salah satu komisaris perusahaan keluarga.
Pria yang meninggal empat belas tahun lalu.
Aku menutup mata.
“Tidak.”
“Kak…”
“Tidak.”
Maya kemudian menjelaskan bahwa Rendra menemukan fakta itu ketika Maya berusia dua puluh satu tahun. Dia tidak pernah memberitahuku karena takut menghancurkan keluarga.
Tetapi Maya menemukannya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, Maya berkenalan dengan seorang pria bernama Galang.
Mereka jatuh cinta.
Maya hamil.
Dan baru setelah melihat dokumen keluarga, dia mengetahui bahwa Galang adalah anak Aditya dari pernikahannya.
Artinya Galang adalah saudara seayah Maya.
Aku merasa mual.
“Mereka tidak tahu,” kata Arman cepat. “Maya dan Galang benar-benar tidak tahu ketika hubungan itu terjadi.”
Aku memandang Nisa.
Anak itu berdiri membeku.
“Jadi Nisa…”
Maya menangis semakin keras.
“Aku baru tahu setelah hamil.”
Itulah alasan Maya menghilang.
Bukan karena membenciku.
Bukan karena ingin menghukum keluarga.
Dia panik dan merasa hidupnya sudah berakhir.
Rendra dan Arman menemukan Maya beberapa minggu kemudian.
Maya memohon agar aku tidak diberi tahu.
“Aku malu, Ma,” katanya. “Aku takut Mama melihatku seperti sesuatu yang kotor.”
Aku langsung memegang tangannya.
“Kamu tidak pernah kotor.”
“Tapi aku merasa begitu.”
“Kenapa kalian membiarkan dia berpikir seperti itu?” Aku menatap Arman.
Arman menjawab, “Kami salah.”
“Dan Rendra?”
Ruangan kembali sunyi.
Suamiku meninggal lima tahun lalu karena serangan jantung.
Selama delapan tahun setelah Maya pergi, dia ikut mencarinya bersamaku.
Atau setidaknya berpura-pura.
“Dia tahu Maya di sini?” tanyaku.
Pak Darto akhirnya berbicara.
“Iya.”
Aku memandangnya.
“Setiap kali Bapak bilang pergi dinas…”
Pak Darto berhenti.
Aku mengerti.
Rendra datang menemui Maya dan Nisa.
Diam-diam.
Aku tertawa kecil sambil menangis.
“Jadi cuma saya yang tidak tahu.”
Tidak ada yang membantah.
Aku menatap Maya.
“Cincinnya?”
Maya meraih bawah bantal dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya ada cincin mawar yang sama.
Aku mengambilnya.
Tanganku gemetar.
“Kenapa kamu masih menyimpannya?”
Maya tersenyum dalam tangis.
“Karena aku tidak pernah membenci Mama.”
“Lalu kenapa tidak pulang?”
“Awalnya karena takut. Setelah bertahun-tahun, aku tidak tahu bagaimana caranya kembali.”
Aku memeluknya lagi.
Kali ini lebih erat.
Nisa berdiri beberapa langkah dari kami dengan wajah bingung dan mata berkaca-kaca.
Aku mengulurkan tangan.
“Kemarilah.”
Dia ragu.
“Nisa.”
Dia mendekat.
Aku memeluknya juga.
Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa selama tiga belas tahun aku terlalu sibuk mencari anakku sampai tidak tahu bahwa aku juga kehilangan kesempatan mengenal cucuku.
Namun malam itu belum selesai.
Ketika Arman hendak pulang, Nisa tiba-tiba berkata, “Pak, uangnya tadi belum saya kasih ke Ibu.”
Dia mengambil sebuah amplop dari tas kecilnya.
Arman langsung pucat.
Aku mengambil amplop itu lebih dulu.
“Uang apa?”
“Pak Arman bilang kalau saya ketemu Ibu di restoran, saya harus bilang soal cincin.”
Aku menatap Arman.
Maya pun terkejut.
“Om?”
Aku membuka amplop.
Isinya bukan hanya uang.
Ada sebuah surat.
Tulisan tangan Rendra.
Namaku tertulis di bagian depan.
Untuk Ratna.
Aku membuka surat itu.
Arman tidak berusaha menghentikanku lagi.
Rendra menulis surat tersebut beberapa minggu sebelum meninggal.
Dia mengakui semuanya.
Dia meminta Arman merahasiakan keberadaan Maya hanya sampai Maya siap pulang.
Namun ada kalimat terakhir yang membuatku mengangkat kepala.
Jika setelah lima tahun Maya masih belum berani menemui Ratna, tolong bantu mereka bertemu. Jangan biarkan rasa takut mewariskan kehilangan kepada generasi berikutnya.
Aku menatap Arman.
“Jadi semua ini kamu atur?”
Dia mengangguk.
“Maya selalu menolak kalau saya minta bertemu Kakak. Jadi saya meminta Nisa menjual melati di restoran yang biasa Kakak datangi.”
“Kenapa cincin?”
“Karena saya tahu Kakak tidak akan mengabaikannya.”
Maya menatap pamannya antara marah dan lega.
Aku seharusnya marah.
Tetapi entah kenapa aku justru menangis.
Bukan semua kebohongan dibuat untuk menyakiti.
Namun kebohongan tetap memiliki harga.
Harga kami adalah tiga belas tahun.
Malam semakin larut ketika aku mengajak Maya dan Nisa pulang bersamaku.
Maya menatap rumah kecilnya.
“Aku belum siap kembali ke rumah itu, Ma.”
Aku menggenggam tangannya.
“Tidak harus malam ini.”
Dia menatapku.
“Aku tidak akan memaksamu lagi.”
Itulah kesalahan yang akhirnya kupahami.
Selama bertahun-tahun sebelum Maya pergi, aku mengira menjadi ibu berarti menentukan apa yang terbaik untuk anak.
Padahal terkadang menjadi ibu berarti menyediakan tempat untuk pulang tanpa menanyakan mengapa mereka membutuhkan waktu begitu lama.
Sebelum aku masuk mobil, Nisa berlari mengejarku.
“Bu Ratna.”
Aku menoleh.
Dia membawa satu rangkaian melati.
“Ini buat Ibu.”
Aku menerimanya.
“Berapa?”
Nisa tersenyum.
“Enggak usah bayar.”
Aku tertawa kecil.
“Penjual macam apa kamu?”
Dia ikut tersenyum.
Kemudian memandang cincinku.
“Sekarang saya tahu kenapa cincin Ibu sama dengan cincin Ibu saya.”
Aku mengangguk.
“Karena cincin itu memang dibuat berpasangan.”
Aku melepas cincin mawar dari jariku dan menatapnya sejenak.
Dua cincin pernah dibuat sebagai tanda hubungan ibu dan anak.
Namun keluarga kami ternyata tidak pernah sesederhana dua lingkaran emas.
Ada kesalahan.
Ada ketakutan.
Ada rahasia.
Ada orang-orang yang mencoba melindungi satu sama lain dengan cara yang justru membuat luka semakin panjang.
Aku memasang kembali cincin itu.
Kemudian aku memandang Maya yang berdiri di pintu bersama Nisa.
Tiga belas tahun aku mencari jawaban tentang ke mana anakku pergi.
Malam itu akhirnya aku menemukan jawabannya.
Tetapi yang lebih penting, aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kucari.
Kesempatan kedua.
Tiga bulan kemudian, Maya belum kembali tinggal bersamaku.
Aku tidak memaksanya.
Aku yang datang ke rumahnya setiap Minggu.
Kadang membawa makanan. Kadang hanya duduk minum teh.
Kesehatannya perlahan membaik setelah mendapat perawatan yang layak.
Nisa berhenti menjual melati sepulang sekolah.
Suatu Minggu sore, kami bertiga sedang duduk di teras ketika Maya masuk ke kamar dan kembali membawa kotak cincin.
Dia memasang cincin mawarnya.
Aku terdiam.
Selama tiga belas tahun cincin itu disembunyikan di bawah bantal.
Sekarang untuk pertama kalinya dia memakainya lagi.
“Bagus?” tanyanya.
Aku tersenyum.
“Bagus.”
Nisa memperhatikan cincin kami bergantian.
“Berarti tinggal aku yang enggak punya.”
Aku dan Maya tertawa.
Namun seminggu kemudian aku kembali ke Yogyakarta dan menemui pengrajin yang dulu membuat dua cincin itu.
Orangnya sudah pensiun. Bengkelnya diteruskan anaknya.
Aku memesan cincin ketiga.
Mawar emas kecil dengan batu merah di tengahnya.
Saat kuberikan kepada Nisa, dia menatapku lama.
“Katanya cuma ada dua.”
“Dulu memang cuma dua.”
“Kenapa sekarang tiga?”
Aku memandang Maya.
Kemudian aku menggenggam tangan cucuku.
“Karena keluarga tidak harus selamanya terikat pada bentuk lama.”
Nisa tersenyum dan memelukku.
Aroma melati dari halaman terbawa angin sore.
Dulu aku mengira rahasia terbesar keluarga kami adalah siapa ayah kandung Maya.
Ternyata bukan.
Rahasia terbesar kami adalah betapa banyak orang saling menyayangi, tetapi terlalu takut mengatakan kebenaran.
Dan setelah kehilangan tiga belas tahun, aku akhirnya memahami satu hal.
Kebenaran memang bisa menghancurkan kehidupan yang kita kenal.
Tetapi terkadang, hanya kebenaran yang bisa memberi kita kehidupan baru.
