Saya Membawa Keluarga Pulang Kampung untuk Berlibur Sekaligus Mempertimbangkan Menjual Rumah Warisan Ayah.

Cahaya senter menyapu ruangan sempit itu perlahan.

Awalnya saya hanya melihat debu tebal, sarang laba-laba, dan sebuah rak kayu yang nyaris lapuk. Namun ketika cahaya bergerak ke sudut kanan, napas saya seperti tertahan di tenggorokan.

Di sana berdiri sebuah meja kecil.

Di atasnya ada jam dinding tua dengan jarum yang berhenti tepat pada pukul empat.

Di samping jam itu terdapat kalender lusuh, beberapa botol kaca berisi rempah kering, sebuah buku tebal berwarna cokelat, serta puluhan garis kecil yang digoreskan pada dinding.

Saya masuk selangkah.

Lantai kayunya berderit.

Pak Lurah mengikuti saya sambil menutup hidung karena debu.

“Mas Arga,” katanya pelan, “saya bahkan tidak pernah tahu rumah ini punya ruangan seperti ini.”

Saya tidak menjawab.

Pandangan saya tertuju pada goresan-goresan di dinding.

Ada puluhan garis vertikal yang dikelompokkan menjadi lima-lima, seperti seseorang sedang menghitung sesuatu.

Saya mendekat.

Jumlahnya enam puluh lima.

Jantung saya langsung berdegup lebih keras.

Enam puluh lima.

Angka yang terus diucapkan Mita.

Tangan saya mulai dingin.

Di bawah goresan terakhir terdapat tulisan yang dibuat dengan pensil.

Tulisan itu sudah memudar, tetapi saya masih bisa membacanya.

“Kalau Arga pulang dan rumah ini hendak dijual, buka buku sebelum menyentuh tanah belakang.”

Saya terpaku.

Nama saya tertulis di sana.

Dengan tulisan tangan ayah.

Saya mengenalinya.

Huruf A yang selalu sedikit miring ke kanan. Cara beliau menulis huruf g yang ekornya panjang. Saya pernah melihat tulisan itu ribuan kali di buku catatan belanja, surat sekolah, bahkan kartu ulang tahun.

“Itu tulisan Pak Wiryo?” tanya Pak Lurah.

Saya mengangguk.

Dada saya mendadak terasa berat.

Ayah sudah meninggal tujuh tahun lalu.

Mengapa beliau meninggalkan pesan yang seolah-olah tahu bahwa suatu hari saya akan pulang untuk menjual rumah?

Saya mengambil buku cokelat dari meja.

Sampulnya ditutupi debu, tetapi bagian tepinya dibungkus kain batik tua yang sudah pudar. Ketika saya membukanya, halaman pertama langsung membuat lutut saya lemas.

“Catatan untuk Arga.”

Saya duduk di kursi kayu yang berada di depan meja.

Istri saya akhirnya memberanikan diri mendekat.

“Mas?”

Saya menatapnya.

“Ayah meninggalkan sesuatu untukku.”

Saya mulai membaca.

Catatan itu tidak ditulis dalam satu hari. Ada tanggal-tanggal berbeda, dimulai hampir tiga puluh tahun lalu.

Ayah mencatat segala sesuatu tentang desa.

Musim panen.

Jumlah keluarga.

Orang-orang yang pindah.

Sawah yang dijual.

Banjir besar.

Kekeringan.

Bahkan harga tanah dari tahun ke tahun.

Namun semakin saya membaca, semakin saya merasa buku itu bukan sekadar catatan biasa.

Di halaman keempat belas, ayah menulis tentang sebuah kejadian yang tidak pernah saya dengar sebelumnya.

Tiga puluh dua tahun lalu, ketika saya masih berumur lima tahun, seorang pengusaha dari kota datang ke desa kami. Namanya Surya Atmadja.

Dia ingin membeli hampir seluruh tanah di bagian timur desa untuk membangun pabrik pengolahan kayu.

Sebagian warga setuju karena uang yang ditawarkan sangat besar.

Sebagian lagi menolak.

Ayah termasuk yang paling keras menentang.

Alasannya bukan karena ia membenci pembangunan.

Tanah yang hendak dibeli ternyata berada tepat di atas jalur mata air bawah tanah yang menjadi sumber beberapa sumur desa.

Jika kawasan itu dibeton dan digunakan untuk industri, menurut seorang ahli yang pernah dibawa ayah, aliran air dapat terganggu dan mencemari sumur warga.

Perselisihan berlangsung berbulan-bulan.

Sampai suatu malam, Surya datang menemui ayah.

Saya berhenti membaca.

Sebuah ingatan kecil tiba-tiba muncul di kepala saya.

Saya pernah melihat seorang pria berkemeja putih datang ketika malam.

Waktu itu saya masih kecil.

Saya hanya ingat mobil hitam di depan rumah dan suara orang dewasa berdebat di dapur.

Saya selalu mengira itu mimpi.

Ternyata bukan.

Saya melanjutkan membaca.

Surya menawarkan uang berkali-kali lipat dari harga tanah.

Ayah menolak.

Beberapa hari kemudian, muncul surat yang menyatakan bahwa sebagian tanah belakang rumah kami sebenarnya bukan milik keluarga.

Ayah dituduh memalsukan dokumen.

Kasusnya hampir dibawa ke pengadilan.

Namun ayah menyimpan dokumen asli yang membuktikan sebaliknya.

Bukan hanya tanah rumah kami.

Ada sebuah bidang tanah seluas hampir empat hektare yang secara hukum masih tercatat atas nama kakek saya.

Tanah itu memanjang dari belakang rumah hingga bukit kecil di timur desa.

Ayah sengaja merahasiakannya.

“Empat hektare?” gumam saya.

Pak Lurah terlihat terkejut.

“Kalau benar, itu mencakup kebun bambu, jalan kecil belakang balai desa, sampai sumber mata air.”

Saya mengangguk tanpa mampu berkata apa-apa.

Halaman berikutnya membuat semuanya semakin jelas.

Surya akhirnya pergi setelah rencana pembangunan pabrik gagal.

Namun sebelum pergi, ia mengancam ayah.

Ayah kemudian membuat ruangan rahasia ini dan menyimpan semua dokumen penting di dalamnya.

Termasuk sertifikat tanah asli.

Saya membalik halaman dengan cepat.

Di bagian tengah buku terdapat sebuah amplop plastik yang masih tertutup rapat.

Saya membukanya.

Benar.

Sertifikat lama.

Peta bidang tanah.

Surat ukur.

Fotokopi keputusan sengketa.

Semuanya lengkap.

Tetapi masih ada satu hal yang belum saya pahami.

Mengapa enam puluh lima?

Saya terus membaca sampai menemukan halaman yang diberi tanda kain merah.

Di sana hanya ada beberapa kalimat.

“Setiap tahun pada hari ulang tahunku, aku membuat satu garis di dinding. Jika aku masih hidup sampai umur enam puluh lima, aku akan menyerahkan semua ini kepada Arga dan menceritakan semuanya.”

Saya menelan ludah.

Ayah meninggal saat berumur enam puluh dua tahun.

Berarti hanya ada enam puluh dua garis yang seharusnya beliau buat.

Saya langsung berdiri.

“Pak Lurah.”

“Iya?”

“Tadi kita hitung ada enam puluh lima garis, kan?”

Pak Lurah mengangguk.

Kami kembali mendekati dinding.

Saya menghitung lagi.

Satu.

Dua.

Tiga.

Sampai enam puluh dua.

Setelah itu, terdapat tiga garis tambahan.

Namun ketiga garis terakhir tampak lebih tipis.

Warnanya lebih baru.

Saya mengusapnya dengan jari.

Debunya berbeda.

Goresan itu tidak mungkin dibuat tiga puluh tahun lalu.

Istri saya yang sejak tadi diam tiba-tiba berbisik.

“Mas… siapa yang menambahkan tiga garis itu?”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Tidak ada seorang pun menjawab.

Saat itulah terdengar suara kecil dari belakang.

“Aku tahu.”

Kami semua menoleh.

Mita berdiri di lubang dinding.

Saya nyaris berteriak.

“Mita! Bukannya kamu di rumah Tante Sari?”

Ia masuk perlahan sambil memegang sandal di tangannya.

“Kakak tidur. Mita pulang sendiri.”

Saya segera menghampirinya.

“Tidak boleh begitu. Ayah sudah bilang jangan masuk ke sini.”

Namun Mita tidak terlihat takut.

Ia menatap jam tua di atas meja.

Kemudian menunjuk tiga garis terakhir.

“Itu punya Kakek.”

Bulu kuduk saya berdiri lagi.

“Maksud Mita?”

“Kakek belum selesai menghitung.”

Saya berjongkok di depannya.

“Mita pernah lihat Kakek?”

Ia mengangguk polos.

“Setiap pagi.”

Istri saya menutup mulut.

Pak Lurah mundur selangkah.

Saya berusaha menahan diri agar tidak membuat Mita takut.

“Kakek bicara apa?”

Mita terlihat berpikir.

“Katanya Ayah keras kepala.”

Pak Lurah menahan napas.

Saya justru hampir tertawa karena kalimat itu sangat mirip sesuatu yang sering diucapkan ayah semasa hidup.

Mita melanjutkan.

“Kakek bilang Ayah mau jual rumah karena takut hidup susah. Tapi Ayah enggak tahu rumah ini bukan yang paling berharga.”

Saya terdiam.

“Apa yang paling berharga?”

Mita menunjuk ke arah belakang rumah.

“Air.”

Kami saling berpandangan.

Pak Lurah tiba-tiba mengambil peta tanah dari meja.

Ia membentangkannya di atas papan kayu.

“Mas Arga, lihat ini.”

Jarinya menunjuk garis biru tipis yang memotong tanah keluarga kami.

“Mata air.”

Saya mendekat.

“Kenapa?”

Wajah Pak Lurah berubah serius.

“Dua bulan lalu ada perusahaan properti yang datang ke kecamatan. Mereka mau membeli lahan di sekitar bukit timur untuk pembangunan kawasan vila.”

Saya langsung teringat.

Itulah salah satu alasan mengapa saya mulai memikirkan menjual rumah.

Seorang broker bernama Bima pernah menghubungi saya tiga kali.

Ia menawarkan harga yang menurut saya sangat tinggi.

Bahkan terlalu tinggi untuk ukuran rumah tua di desa.

Waktu itu saya menganggapnya keberuntungan.

Sekarang saya mulai curiga.

“Pak Lurah tahu nama perusahaannya?”

“PT Arunika Properti.”

Nama itu tidak saya kenal.

Namun Pak Lurah melanjutkan.

“Direktur utamanya anak Surya Atmadja.”

Ruangan seolah membeku.

Saya menatap halaman buku ayah.

Tiga puluh tahun berlalu.

Namun keluarga yang sama kembali mengincar tanah yang sama.

Malam itu saya tidak bisa tidur.

Saya duduk di teras sambil membaca buku ayah sampai halaman terakhir.

Baru menjelang pukul dua saya menemukan sebuah amplop kecil terselip di belakang sampul.

Di atasnya tertulis:

“Untuk Arga, kalau akhirnya kamu sudah cukup dewasa untuk tidak hanya melihat harga.”

Saya tersenyum pahit.

Bahkan setelah meninggal, ayah masih bisa menyindir saya.

Saya membuka surat itu.

“Arga, kalau kamu membaca ini, mungkin aku sudah tidak ada. Jangan marah karena Ayah merahasiakan semuanya. Ada hal yang baru boleh diwariskan ketika seseorang sudah mampu membedakan antara memiliki tanah dan menjaga tanah.”

Saya berhenti beberapa detik.

Mata saya mulai panas.

“Rumah ini boleh kamu jual jika memang perlu. Tanah pun boleh. Semuanya milikmu secara hukum. Tapi sebelum mengambil keputusan, bangunlah pukul empat pagi. Berjalanlah mengelilingi desa. Lihat orang-orang yang menimba air, petani yang berangkat ke sawah, ibu-ibu yang mulai memasak, anak-anak yang bersiap sekolah. Setelah itu, tanyakan kepada dirimu sendiri apakah keputusanmu hanya mengubah hidup keluargamu, atau mengubah hidup banyak orang.”

Saya menutup surat itu.

Untuk pertama kalinya saya mengerti mengapa Mita selalu berlari mengelilingi desa sebelum menunjuk dinding.

Ia melakukan persis seperti yang ditulis ayah.

Keesokan harinya, saya meminta salinan dokumen pertanahan dari kantor desa dan menghubungi notaris di kota.

Pemeriksaan berlangsung hampir seminggu.

Hasilnya mengejutkan.

Sertifikat itu sah.

Tanah seluas hampir empat hektare memang masih merupakan hak keluarga kami.

Lebih mengejutkan lagi, sumber air terbesar desa berada di dalam bidang tersebut.

Jika saya menjual tanah kepada perusahaan yang menghubungi saya, mereka secara hukum akan mendapatkan akses menguasai kawasan mata air.

Sore itu Bima datang.

Ia turun dari mobil SUV hitam dengan kemeja rapi dan senyum profesional.

“Pak Arga, akhirnya kita bisa bicara langsung.”

Kami duduk di teras.

Ia langsung menaikkan tawaran.

Angkanya membuat istri saya terdiam.

Uang sebanyak itu bisa membeli rumah baru di kota, melunasi semua cicilan, bahkan menyisakan investasi untuk anak-anak.

Bima tersenyum.

“Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, Pak.”

Saya memandang halaman rumah.

Dari kejauhan terlihat beberapa petani pulang membawa cangkul.

Saya teringat surat ayah.

Lalu saya bertanya, “Perusahaan Bapak sebenarnya mau membeli rumah saya atau sumber air di belakangnya?”

Senyum Bima langsung hilang.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup untuk memberi saya jawaban.

“Maaf?”

Saya meletakkan salinan peta di meja.

“Kita tidak perlu pura-pura lagi.”

Bima menatapnya.

Wajahnya berubah.

“Pak Arga, bisnis itu bisnis. Semua bisa dibicarakan.”

“Betul.”

Saya mengangguk.

“Karena itu saya sudah membuat keputusan.”

Ia kembali tersenyum.

Namun kalimat berikutnya membuatnya membeku.

“Saya tidak menjualnya.”

Bima mencoba menaikkan harga lagi.

Saya tetap menolak.

Dua minggu kemudian, dengan bantuan notaris dan pemerintah desa, saya memisahkan sebagian tanah rumah dari kawasan sumber air.

Rumah tua itu saya pertahankan.

Tanah yang mengelilingi mata air kemudian saya masukkan ke dalam perjanjian pengelolaan bersama desa agar tidak dapat dialihfungsikan secara sembarangan.

Saya memang kehilangan kesempatan mendapatkan uang yang sangat besar.

Namun entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya merasa tidak sedang kehilangan apa pun.

Malam sebelum kami kembali ke kota, saya berdiri bersama Mita di belakang rumah.

Dinding yang dibongkar belum sepenuhnya diperbaiki.

Ruangan rahasia ayah sekarang sudah dibersihkan.

Jam tua masih berada di sana.

Saya berjongkok.

“Mita.”

“Iya, Ayah?”

“Kalau besok pukul empat pagi, Kakek datang lagi, bilang Ayah sudah mengerti.”

Mita menatap saya dengan wajah heran.

“Kakek enggak datang lagi.”

Saya terdiam.

“Kenapa?”

Mita menunjuk jam tua di dalam ruangan.

Saya menoleh.

Jarumnya masih berhenti pada pukul empat.

“Katanya tugasnya sudah selesai.”

Saya tersenyum kecil.

“Terus tiga garis terakhir itu?”

Mita ikut melihat dinding.

“Bukan Kakek yang bikin.”

Tubuh saya langsung menegang.

Saya menatapnya.

“Tadi Mita bilang itu punya Kakek.”

“Iya. Punya Kakek.”

Ia tersenyum.

“Tapi yang bikin Mita.”

Saya tidak mampu berkata-kata.

“Kapan?”

“Setiap habis lari.”

Tiga malam.

Tiga garis.

Saya menatap goresan itu.

Jadi tidak ada tangan gaib yang menambahkannya.

Mita-lah yang melakukannya.

Saya hampir lega.

Namun sebelum berdiri, ia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuh saya kembali dingin.

“Karena Kakek bilang kalau umurnya belum sampai enam puluh lima, Mita boleh bantu menyelesaikan.”

Saya menatap wajah putri saya.

“Mita tahu umur Kakek waktu meninggal dari siapa?”

Ia menggeleng.

Saya tidak pernah menceritakannya.

Istri saya juga tidak.

Mita bahkan belum lahir ketika ayah meninggal.

Saya memandang foto ayah yang terlihat dari jendela belakang.

Untuk sesaat, cahaya lampu ruang tamu memantul pada kacanya.

Wajah beliau tampak seperti sedang tersenyum.

Malam itu, tepat sebelum tidur, saya memutuskan satu hal lagi.

Rumah ini tidak akan pernah dijual.

Bukan karena saya takut pada arwah.

Bukan pula karena rahasia di balik dinding.

Saya mempertahankannya karena akhirnya saya memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah diajarkan kota kepada saya.

Warisan tidak selalu berupa sesuatu yang bisa diuangkan.

Kadang warisan adalah tanggung jawab.

Kadang berupa air yang terus mengalir untuk orang-orang yang bahkan tidak mengenal nama pemilik tanahnya.

Dan kadang, warisan adalah sebuah pesan dari seorang ayah yang membutuhkan waktu tujuh tahun, sebuah dinding rahasia, tiga garis tambahan, dan seorang cucu yang belum pernah ditemuinya untuk akhirnya sampai kepada anaknya sendiri.

Keesokan paginya saya terbangun tanpa alarm.

Jam di ponsel menunjukkan pukul empat tepat.

Saya refleks menoleh ke tempat tidur Mita.

Untuk pertama kalinya sejak kami tiba di desa, ia masih tertidur pulas.

Saya keluar sendirian.

Udara subuh dingin menyentuh wajah.

Tanpa sadar saya mulai berjalan mengikuti rute yang selalu dilalui Mita.

Melewati sumur tua.

Pohon beringin.

Balai desa.

Sawah.

Jalan kecil yang masih basah oleh embun.

Ketika kembali ke rumah, langit mulai berubah biru.

Di depan dinding belakang, saya berhenti.

Saya mengusap tiga garis terakhir dengan ujung jari.

Kemudian dari dalam rumah terdengar suara Mita yang baru bangun.

“Ayah!”

Saya menoleh.

Ia berdiri di pintu sambil mengucek mata.

“Kenapa?”

Mita tersenyum.

“Kakek bilang sekarang giliran Ayah yang menghitung.”

Saya memandang dinding sekali lagi.

Lalu untuk pertama kalinya sejak kematian ayah, saya tidak merasa beliau telah meninggalkan rumah ini.

Saya justru merasa bahwa selama ini, sayalah yang terlalu lama belum benar-benar pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang