Aku tidak pernah menyangka pekerjaan membersihkan rumah orang terkaya di Jakarta akan membawaku pada satu pertanyaan yang selama dua puluh delapan tahun tak pernah terpikirkan olehku.
Siapa sebenarnya aku?
Semuanya bermula dari lukisan terlarang di perpustakaan rumah Pak Surya Mahendra.
Begitu kain putih yang menutupinya jatuh ke lantai, aku melihat wajah ibuku terpampang di sana. Ratna Wulandari, perempuan yang membesarkanku seorang diri, yang meninggal lima tahun lalu setelah bertahun-tahun melawan penyakit.
Dan sekarang, aku berdiri di sebuah ruang rahasia sambil menggenggam foto lama yang di belakangnya terdapat tulisan tangan ibu.

Untuk anakku, kalau suatu hari kamu menemukan rumah ini, jangan percaya nama yang mereka berikan kepadamu.
Belum sempat aku memahami kalimat itu, suara pintu utama rumah terbuka keras.
Beberapa orang masuk.
Pak Surya menutup kotak logam di tangannya.
“Mereka datang untuk mencarimu.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Mencari saya? Siapa?”
Ia tidak menjawab. Dari luar terdengar suara seorang perempuan.
“Surya!”
Tubuh Pak Surya langsung menegang.
Aku mengenali suara itu. Bu Miranti Mahendra, kakak perempuan Pak Surya sekaligus orang yang selama ini mengatur hampir seluruh urusan keluarga Mahendra.
Aku pernah melihatnya beberapa kali. Selalu rapi, selalu tenang, dan para pegawai bahkan menundukkan kepala ketika ia lewat.
“Keluar!” teriak Bu Miranti. “Aku tahu kamu ada di dalam.”
Pak Surya menatapku.
“Jangan keluar apa pun yang terjadi.”
“Bapak belum menjelaskan apa-apa.”
“Namamu bukan masalahnya, Nadira. Darahmu yang menjadi masalah.”
Aku membeku.
Ia membuka panel lain di dinding yang ternyata terhubung dengan lorong sempit menuju ruang penyimpanan.
“Pergi lewat sini.”
“Tidak.”
“Nadira.”
“Saya sudah kehilangan ibu tanpa pernah tahu masa lalunya. Saya tidak mau kehilangan kesempatan mengetahui kebenaran hanya karena Bapak menyuruh saya lari.”
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya, lelaki yang selama ini kukenal sebagai pengusaha dingin itu terlihat rapuh.
“Kalau begitu, apa pun yang kamu dengar setelah ini, jangan langsung percaya siapa pun. Termasuk aku.”
Kami keluar dari ruang rahasia.
Bu Miranti sudah berdiri di perpustakaan bersama dua pria berbaju hitam.
Matanya langsung tertuju kepadaku.
Kemudian pada lukisan Ratna.
Wajahnya kehilangan warna.
“Jadi benar,” katanya pelan. “Anak itu kembali.”
“Aku yang membawanya bekerja di sini,” kata Pak Surya.
Aku menoleh cepat.
“Apa?”
Bu Miranti tertawa pendek.
“Kamu pikir kebetulan seorang perempuan bernama Nadira Wulandari diterima bekerja di rumah ini?”
Dadaku terasa sesak.
Aku menatap Pak Surya.
“Bapak tahu siapa saya sejak awal?”
Ia diam.
Jawaban itu sudah cukup.
Selama dua bulan aku mengira mendapatkan pekerjaan ini karena rekomendasi agen tenaga kerja. Ternyata seseorang telah mengatur semuanya.
“Kenapa?”
“Aku perlu memastikan sesuatu,” jawabnya.
“Memastikan apa?”
Bu Miranti menyela.
“Bahwa kamu benar-benar anak Ratna.”
Pak Surya memandang kakaknya tajam.
“Cukup.”
“Sudah hampir tiga puluh tahun kita menutupinya. Kamu pikir semuanya akan selesai hanya karena merasa bersalah?”
Aku menatap mereka bergantian.
“Tutup apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengangkat gelang bayi dari kotak logam.
“Ini milik siapa?”
Bu Miranti mendadak maju.
“Berikan kepadaku.”
Aku mundur.
“Jawab dulu.”
“Nadira, jangan,” kata Pak Surya.
Aku membaca ukiran kecil pada gelang itu.
Bayi perempuan.
Tanggal 17 Agustus 1998.
Tanggal lahirku.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Nama yang terukir bukan Nadira Wulandari.
Melainkan Alya Mahendra.
Tanganku dingin.
“Siapa Alya?”
Pak Surya menundukkan kepala.
Bu Miranti justru menjawab.
“Kamu.”
Dunia seolah berhenti.
Aku tertawa kecil karena otakku menolak menerima kalimat itu.
“Jangan bercanda.”
“Namamu saat lahir Alya Mahendra.”
“Tidak mungkin.”
“Kamu lahir di rumah ini.”
Aku menatap Pak Surya.
“Siapa ayah saya?”
Ia mengangkat wajah.
Matanya penuh air.
“Aku.”
Kakiku hampir kehilangan kekuatan.
Aku mundur sampai punggungku menyentuh rak buku.
“Tidak.”
“Nadira…”
“Jangan panggil nama saya.”
“Nadira, dengarkan dulu.”
“Dua bulan saya bekerja membersihkan rumah Bapak. Saya mengepel lantai, membersihkan kamar, mencuci gelas yang Bapak pakai. Dan selama itu Bapak tahu?”
“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.”
“Dengan mulut!”
Suaraku pecah.
“Bapak bisa mengatakan bahwa Bapak mengenal ibu saya. Bapak bisa mengatakan bahwa mungkin Bapak ayah saya!”
Bu Miranti mendengus.
“Karena dia pengecut. Dari dulu.”
Pak Surya mengepalkan tangan.
“Kamulah yang membuat Ratna pergi.”
Perempuan itu terdiam.
Aku menatapnya.
“Apa maksudnya?”
Pak Surya akhirnya bercerita.
Tahun 1997, Ratna bekerja sebagai guru privat untuk adik bungsu keluarga Mahendra. Saat itu Pak Surya baru kembali dari kuliah di Australia. Mereka jatuh cinta.
Hubungan itu ditentang keras oleh ayah Pak Surya, Hendra Mahendra, pendiri kelompok bisnis keluarga.
Ratna berasal dari keluarga sederhana di Yogyakarta. Bagi keluarga Mahendra pada masa itu, pernikahan Surya telah dipersiapkan untuk memperkuat hubungan bisnis dengan keluarga lain.
Namun Surya dan Ratna menikah diam-diam secara sah.
Beberapa bulan kemudian Ratna hamil.
“Ayahku mengetahui pernikahan kami ketika kandungan Ratna tujuh bulan,” kata Pak Surya.
“Apa yang terjadi?”
Pak Surya menatap Bu Miranti.
“Keluarga memaksanya pergi.”
“Itu bukan seluruh ceritanya,” kata Bu Miranti.
“Diam.”
“Tidak. Sudah waktunya dia tahu.”
Bu Miranti menatapku.
“Ratna diberi pilihan. Pergi membawa bayinya atau tetap di Jakarta dan melihat keluarga Surya menghancurkan keluarganya.”
Aku merasa mual.
“Ibu diancam?”
“Ya.”
“Dan Bapak membiarkannya?”
Pak Surya menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Tapi dia istri Bapak!”
“Malam ketika kamu lahir, aku sedang di Singapura. Ayahku sengaja mengirimku untuk urusan perusahaan. Saat aku kembali, Ratna sudah tidak ada.”
Menurut keluarga, bayi mereka meninggal beberapa jam setelah lahir.
Sebuah surat kematian bahkan diberikan kepadanya.
Selama bertahun-tahun Pak Surya percaya putrinya telah meninggal.
Sampai lima tahun lalu.
“Tepat setelah ibumu meninggal,” katanya, “aku menerima surat.”
Ia mengambil amplop tua dari kotak.
Tulisan tangan ibu.
Surya, aku tidak pernah memaafkanmu karena tidak datang malam itu. Tetapi aku akhirnya tahu bahwa mungkin kamu juga ditipu. Anak kita hidup. Aku membawanya pergi karena mereka mengancam akan mengambilnya dariku. Kalau suatu hari kamu menemukannya, jangan rebut hidup yang sudah ia bangun. Cukup pastikan dia aman.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Ibu tidak pernah menceritakan apa pun.
Tiba-tiba satu kenangan muncul.
Beberapa minggu sebelum meninggal, ibu pernah menggenggam tanganku dan berkata, “Kalau suatu hari ada orang kaya datang mengaku keluarga, jangan langsung percaya. Keluarga bukan soal nama belakang.”
Saat itu kukira obat membuatnya mengigau.
Ternyata ibu sedang memperingatkanku.
“Kenapa baru sekarang Bapak menemukan saya?”
“Aku mencarimu selama lima tahun.”
“Lima tahun?”
“Ibumu mengubah banyak dokumen. Kamu pindah beberapa kali. Dia benar-benar ingin menjauhkanmu dari keluarga Mahendra.”
“Lalu bagaimana Bapak menemukan saya?”
Pak Surya tidak langsung menjawab.
Bu Miranti tersenyum pahit.
“Karena aku yang menemukannya.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Surya menghabiskan uang bertahun-tahun dan tidak mendapatkan apa-apa. Aku menemukannya dalam tiga minggu.”
“Kenapa?”
Bu Miranti berjalan mendekati lukisan ibu.
“Karena sebelum meninggal, ayah kami meninggalkan wasiat.”
Pak Surya memejamkan mata.
Aku langsung mengerti ada sesuatu yang lebih besar.
“Wasiat apa?”
Bu Miranti menatapku.
“Empat puluh persen saham Mahendra Group diwariskan kepada keturunan biologis pertama Surya.”
Aku terpaku.
“Itu sebabnya kalian mencari saya?”
Pak Surya menggeleng cepat.
“Aku tidak peduli saham.”
“Tapi keluarga Bapak peduli.”
Bu Miranti tidak menyangkal.
“Kalau keberadaanmu terbukti secara hukum, struktur kepemilikan perusahaan berubah.”
Sekarang semuanya masuk akal.
Para pria berbaju hitam.
Kamera.
Lukisan yang disembunyikan.
Ketakutan mereka.
Aku bukan sekadar anak yang hilang.
Aku ancaman bagi sebuah kerajaan bisnis.
Aku memasukkan foto dan gelang itu ke dalam tas.
“Saya pergi.”
Pak Surya menahan lenganku.
“Nadira, tunggu.”
Aku menepis tangannya.
“Jangan sentuh saya.”
“Aku tidak akan memaksamu menerima apa pun. Tapi malam ini jangan pulang ke tempat tinggalmu.”
“Kenapa?”
Bu Miranti menjawab.
“Karena bukan kami satu-satunya yang tahu kamu ada.”
Telepon Pak Surya berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Ia membacanya lalu wajahnya pucat.
“Apa?” tanyaku.
Ia menunjukkan layar.
Sebuah foto terlihat di sana.
Foto kos tempatku tinggal.
Di bawahnya tertulis satu kalimat.
Tes DNA tidak boleh terjadi besok.
Aku menatap Pak Surya.
“Tes DNA?”
Ia tampak bersalah.
“Besok pagi aku sudah menjadwalkannya.”
Amarahku kembali meledak.
“Tanpa izin saya?”
“Aku hanya ingin memastikan.”
“Saya bukan barang yang bisa Bapak periksa sesuka hati!”
Aku berbalik hendak pergi, tetapi suara Bu Miranti menghentikanku.
“Kalau kamu keluar sekarang, mereka menang.”
Aku menoleh.
“Siapa mereka?”
Ia menatap kedua pria yang bersamanya.
“Bukan orang-orangku.”
Pak Surya juga terlihat terkejut.
Dua pria itu tiba-tiba bergerak.
Salah satunya mencoba merampas tasku.
Pak Surya mendorongku ke belakang. Terjadi pergumulan singkat. Sebuah rak kecil roboh, buku-buku berjatuhan.
Bu Miranti berteriak memanggil keamanan.
Beberapa detik kemudian petugas keamanan rumah berlari masuk. Kedua pria itu ditahan.
Salah satu dari mereka masih sempat berteriak.
“Kalian tidak bisa menghentikan ini! Pak Adrian sudah tahu!”
Pak Surya membeku.
Aku mengenal nama itu.
Adrian Mahendra.
Putra Bu Miranti.
Orang yang selama ini disebut media sebagai calon penerus Mahendra Group.
Bu Miranti terlihat seperti kehilangan napas.
“Adrian?”
Malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat seorang ibu menyadari bahwa anaknya sendiri mungkin telah melakukan sesuatu yang mengerikan.
Polisi datang tak lama kemudian.
Pemeriksaan berlangsung sampai dini hari.
Dari ponsel kedua pria tersebut ditemukan percakapan yang menunjukkan bahwa Adrian memerintahkan mereka mengambil gelang, surat, dan semua bukti yang menghubungkanku dengan keluarga Mahendra.
Ia takut kehilangan kendali perusahaan.
Namun temuan paling mengejutkan justru muncul dari pesan lama.
Adrian sudah mengetahui keberadaanku sejak tiga tahun sebelumnya.
Ia bahkan mengetahui kondisi ibu sebelum ibu meninggal.
Aku membaca sebuah pesan dan tanganku bergetar.
Biarkan perempuan tua itu. Selama anaknya tidak tahu siapa dirinya, kita aman.
Aku menangis malam itu.
Bukan karena saham.
Bukan karena mengetahui ayahku ternyata masih hidup.
Aku menangis karena akhirnya memahami betapa sendirian ibu menjaga hidupku.
Keesokan paginya aku tetap menjalani tes DNA.
Bukan untuk mendapatkan warisan.
Aku hanya ingin mengetahui kebenaran.
Hasilnya keluar beberapa hari kemudian.
Probabilitas hubungan biologis antara aku dan Surya Mahendra mencapai 99,99 persen.
Pak Surya memang ayahku.
Adrian ditetapkan sebagai tersangka atas beberapa tindakan yang terungkap dalam penyelidikan. Bu Miranti menyerahkan bukti kepada polisi meskipun itu berarti menghancurkan karier anaknya sendiri.
Namun ketika pengacara keluarga datang membawa dokumen mengenai saham dan hak waris, aku menutup map itu.
“Saya belum mau tanda tangan apa pun.”
Pak Surya mengangguk.
“Kamu tidak harus melakukannya.”
“Ada satu hal yang saya mau.”
“Apa?”
Aku menatap lukisan ibu yang kini tidak lagi ditutup kain.
“Jangan sembunyikan wajah ibu lagi.”
Pak Surya menangis.
Untuk pertama kalinya, ia menangis di depanku.
Beberapa bulan kemudian aku berhenti bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah itu.
Bukan karena tiba-tiba menjadi kaya.
Aku kembali menyelesaikan kuliah yang dulu terpaksa kutinggalkan ketika biaya pengobatan ibu menghabiskan tabungan kami. Sebagian hak warisku kugunakan untuk mendirikan yayasan pendidikan atas nama Ratna Wulandari.
Aku tidak mengganti namaku menjadi Alya Mahendra.
Namaku tetap Nadira Wulandari.
Suatu sore, saat yayasan kami membuka kelas pertama untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu, Pak Surya datang.
Ia berdiri agak jauh, seolah takut kehadirannya tidak diterima.
Aku menghampirinya.
Ia memandang papan bertuliskan Yayasan Ratna Wulandari.
“Ibumu pasti bangga.”
Aku tersenyum tipis.
“Dia mungkin lebih bangga kalau Bapak berhenti menyebutnya dalam bentuk lampau.”
Pak Surya menatapku bingung.
Aku mengeluarkan surat terakhir ibu yang baru kutemukan terselip di belakang bingkai lukisan.
Surat itu ternyata belum pernah dibaca siapa pun.
Di bagian akhir, ibu menulis satu kalimat.
Kalau Nadira menemukanmu, jangan minta dia menjadi seorang Mahendra. Jadilah ayah yang pantas mendapatkan kesempatan untuk mengenalnya.
Aku menyerahkan surat itu kepadanya.
Tangannya gemetar.
“Apakah aku masih punya kesempatan?”
Aku memandang lelaki yang secara biologis adalah ayahku, tetapi secara emosional masih seorang asing.
“Kesempatan tidak sama dengan pengampunan.”
Ia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Tapi kita bisa mulai dari sesuatu yang sederhana.”
“Apa?”
Aku menunjuk pintu kelas.
“Bantu saya angkat kursi.”
Pak Surya tertawa kecil di antara air matanya.
Lelaki yang memiliki gedung, hotel, perusahaan, dan kekayaan yang mungkin tidak akan habis dalam beberapa generasi itu menggulung lengan kemejanya dan mengangkat kursi plastik satu per satu.
Aku ikut membantunya.
Saat matahari mulai turun, aku akhirnya memahami alasan ibu tidak pernah memberitahuku tentang keluarga Mahendra.
Ia bukan sedang menyembunyikan masa laluku.
Ia sedang memberiku kebebasan untuk menentukan masa depanku sendiri.
Lukisan yang dulu dianggap terlarang akhirnya dipindahkan dari perpustakaan rumah Mahendra ke ruang utama yayasan.
Tidak ada kain putih yang menutupinya lagi.
Di bawah lukisan itu, aku hanya memasang sebuah pelat kecil.
Ratna Wulandari.
Seorang guru.
Seorang ibu.
Perempuan yang memilih kehilangan segalanya agar anaknya tidak kehilangan dirinya sendiri.
