Namaku Laras, dan malam itu aku baru menyadari bahwa pengkhianatan paling menyakitkan tidak selalu datang dari orang yang tidur di samping kita.
Kadang, ia datang dari orang yang tumbuh bersama kita.
Nama Vina Maharani terpampang jelas di layar ponselku.
Adik kandungku sendiri.
Tanganku terasa dingin ketika memperbesar gambar terakhir dari kamera dapur. Vina berdiri di samping meja dengan map merah terbuka. Fotokopi KTP-ku berada di atas dokumen pengalihan kepemilikan, sementara Dimas berdiri beberapa langkah darinya.
Aku mengangkat wajah.
“Jelaskan.”

Dimas mengembuskan napas kasar.
“Tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Kalimat itu selalu keluar ketika kenyataannya lebih buruk dari yang dipikirkan.”
Aiptu Hendro meminta seorang petugas menyimpan salinan rekaman. Sementara itu, Ibu masih menatap wajah Vina di layar seperti sedang melihat orang asing.
“Kenapa Vina melakukan ini?” bisiknya.
Dimas akhirnya duduk.
“Vina cuma membantu.”
“Membantu siapa?”
Tidak ada jawaban.
Aku menatapnya.
“Kamu?”
Dimas mengusap wajah.
“Perusahaan sedang bermasalah.”
“Seberapa bermasalah?”
Dia kembali diam.
Aiptu Hendro berkata tenang, “Pak Dimas, lebih baik Bapak menjelaskan sekarang.”
Dimas akhirnya mengaku bahwa tiga proyek perusahaannya mengalami keterlambatan. Salah satu investor menarik dana, sementara pinjaman perusahaan sudah jatuh tempo.
Jumlah kewajibannya bukan Rp1,6 miliar.
Hampir Rp4 miliar.
Aku merasa seperti baru mengenal laki-laki yang sudah sembilan tahun menjadi suamiku.
“Mobil baru itu?”
“Leasing.”
“Liburan ke Bali bulan lalu?”
“Kartu kredit.”
“Jam tangan yang katanya bonus proyek?”
Dimas menunduk.
“Cicilan.”
Aku tertawa kecil, tetapi rasanya pahit.
Selama berbulan-bulan dia membangun panggung agar aku percaya kami baik-baik saja, padahal di belakangku dia sedang tenggelam.
“Tapi kenapa rumah Ibu?”
“Karena nilainya cukup besar dan sertifikatnya bersih.”
Ibu memejamkan mata.
Rumah kos itu dibangun Ayah sedikit demi sedikit selama hampir dua puluh tahun. Ayah bahkan pernah menjual mobil agar pembangunan lantai dua selesai.
“Itu bukan milikmu,” kataku.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa namaku ada di dokumen?”
Dimas menatapku.
“Kamu salah satu ahli waris.”
Aku membeku.
Ayah meninggalkan surat yang menyatakan rumah kos akan menjadi milik Ibu selama hidupnya. Setelah itu, haknya memang akan turun kepadaku dan Vina.
Tapi selama Ibu masih hidup, tidak seorang pun boleh menjualnya tanpa persetujuan beliau.
“Jadi kalian mau memaksa Ibu tanda tangan?”
Dimas tidak menjawab.
Ibu tiba-tiba berdiri.
“Mereka bukan cuma memaksa.”
Semua mata beralih kepadanya.
“Mereka sudah membawa surat yang ada tanda tangan Laras.”
Aku menatap Dimas.
“Apa?”
“Bu, jangan asal bicara,” katanya cepat.
Ibu menunjuknya.
“Ibu lihat sendiri.”
Aiptu Hendro langsung bertanya, “Surat itu sekarang di mana?”
“Dibawa perempuan itu. Vina.”
Dimas berdiri.
“Tidak ada pemalsuan.”
Aku mendekatinya.
“Kalau tidak ada, kenapa panik?”
Sebelum dia menjawab, seorang petugas masuk dan memberi tahu bahwa tim sudah kembali ke rumah Ibu untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.
Aku meminta ikut.
Dimas ingin ikut juga, tetapi polisi memintanya tetap tinggal untuk dimintai keterangan.
Saat aku dan Ibu tiba di rumah sekitar pukul tiga pagi, dapur masih berantakan.
Sebuah kursi terguling.
Gelas pecah di dekat wastafel.
Ada bercak darah kecil di lantai.
Namun sesuatu langsung menarik perhatianku.
Rak gunting.
Kosong.
Aku melihat meja makan.
“Bu, ceritakan dari awal.”
Ibu duduk perlahan.
“Dimas datang bersama Vina dan laki-laki itu. Mereka bilang cuma mau bicara.”
“Vina bilang apa?”
“Dia bilang kalau rumah ini dijual, semua masalah selesai. Katanya uangnya akan dikembalikan setelah proyek Dimas cair.”
“Lalu?”
“Ibu menolak.”
Suara Ibu bergetar.
“Dimas mulai marah. Vina mengambil surat dan meminta Ibu tanda tangan. Waktu Ibu tetap menolak, laki-laki itu mengunci pintu depan.”
Aku menahan napas.
“Siapa yang memukul Ibu?”
Ibu menyentuh bibirnya.
“Dimas mendorong Ibu. Ibu jatuh ke meja.”
Bekas merah di leher?
Ibu menatap lantai.
“Vina.”
Aku sulit bernapas.
Adikku sendiri.
“Dia mencekik Ibu?”
“Dia menahan Ibu dari belakang.”
Aku menggenggam tangan Ibu.
“Terus gunting itu?”
Ibu menggeleng.
“Ibu tidak pernah mengambilnya.”
Kalimat itu membuatku melihat kembali dapur.
Jika Ibu tidak mengambil gunting, seseorang sengaja menggunakannya untuk membuat luka pada Dimas.
Aku teringat perban yang terlalu bersih.
Aku dokter. Luka akibat tusukan gunting dalam perkelahian biasanya tidak serapi cerita Dimas.
Aku menelepon klinik yang disebutnya.
Tidak ada pasien bernama Dimas Prasetyo malam itu.
Ketika kukatakan kepada Aiptu Hendro, wajahnya berubah serius.
Menjelang subuh, polisi menemukan satu benda di halaman belakang.
Map merah.
Sepertinya dilempar melewati pagar.
Sebagian dokumennya basah, tetapi masih terbaca.
Ada fotokopi KTP-ku.
Ada salinan sertifikat.
Ada surat kuasa.
Dan ada tanda tanganku.
Palsu.
Namun temuan yang lebih mengejutkan berada di halaman terakhir.
Dokumen itu bukan menjual rumah kos kepada investor.
Rumah itu akan dialihkan terlebih dahulu kepada Vina.
Setelah itu, Vina akan menjaminkannya untuk pinjaman perusahaan.
Artinya jika perusahaan Dimas gagal membayar, rumah Ibu akan disita.
Aku menelepon Vina berkali-kali.
Ponselnya mati.
Polisi kemudian mencari alamat terakhirnya.
Apartemennya kosong.
Pagi itu aku kembali ke kantor polisi.
Dimas sudah tidak terlihat percaya diri.
Aku meletakkan dokumen di depannya.
“Kamu memalsukan tanda tanganku.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
Dimas menatap Aiptu Hendro, lalu kepadaku.
“Vina yang mengurus dokumen.”
Aku sampai tertawa.
“Sekarang kamu lempar semuanya ke adikku?”
“Memang dia!”
“Kenapa dia mau melakukan itu?”
Dimas tidak menjawab.
Aku mendekat.
“Kenapa, Mas?”
Akhirnya dia berkata pelan, “Karena dia punya bagian di perusahaan.”
Aku terdiam.
“Sejak kapan?”
“Dua tahun.”
Dua tahun.
Selama dua tahun, adikku diam-diam menjadi pemegang saham di perusahaan suamiku.
Tetapi ternyata itu belum semuanya.
Aiptu Hendro meminta seorang petugas membawa tas laptop yang ditemukan di mobil pria berkemeja abu-abu. Pria itu akhirnya diketahui sebagai notaris tidak resmi yang sering membantu mengurus dokumen bermasalah.
Di dalam laptop terdapat percakapan antara Dimas dan Vina.
Salah satu pesan membuat tubuhku gemetar.
Vina menulis bahwa aku tidak boleh tahu sebelum sertifikat berhasil diagunkan.
Pesan lain dari Dimas berbunyi bahwa setelah semuanya selesai, mereka bisa meninggalkan Yogyakarta.
Aku membaca percakapan berikutnya.
Ada pemesanan apartemen di Jakarta.
Dua nama penghuni.
Dimas Prasetyo.
Vina Maharani.
Aku menatap suamiku.
“Jadi bukan cuma bisnis?”
Dimas memucat.
“Laras…”
Aku menamparnya.
Bukan keras.
Tapi cukup untuk menghentikan semua kebohongan yang masih ingin keluar dari mulutnya.
“Kalian berselingkuh?”
Dia menunduk.
Aku merasa dadaku kosong.
Aneh sekali.
Aku membayangkan mengetahui perselingkuhan suami akan membuatku berteriak atau menangis.
Ternyata tidak.
Aku hanya merasa sangat lelah.
“Berapa lama?”
“Hampir setahun.”
Ibu yang mendengar dari belakangku langsung terduduk.
“Ya Allah, Vina…”
Aku tidak menangis sampai matahari terbit.
Aku baru menangis ketika melihat Ibu duduk di bangku kantor polisi sambil mencoba membetulkan jilbabnya yang robek.
Bukan karena Dimas.
Bukan karena Vina.
Aku menangis karena merasa gagal melihat bahwa dua orang yang paling dekat denganku sedang merencanakan sesuatu yang bisa menghancurkan perempuan yang membesarkanku.
Tiga hari kemudian Vina ditemukan di sebuah hotel di Solo.
Dia tidak melawan ketika polisi membawanya.
Aku menemuinya saat pemeriksaan.
Wajahnya pucat.
“Kenapa?”
Hanya itu yang kutanyakan.
Vina menangis.
“Kak, aku nggak pernah bermaksud menyakiti Ibu.”
“Tapi kamu menahan lehernya.”
“Aku panik.”
“Kamu berselingkuh dengan suamiku.”
Dia menutup wajah.
“Aku bodoh.”
Aku menatap perempuan yang dulu tidur sekamar denganku, memakai bajuku tanpa izin, dan meneleponku setiap kali hidupnya berantakan.
“Kamu mau rumah Ibu.”
“Aku cuma mau keluar dari utang.”
Aku terdiam.
Utang?
Vina akhirnya mengaku.
Dua tahun sebelumnya, dia menanam hampir seluruh tabungannya di perusahaan Dimas. Awalnya keuntungan besar. Kemudian Dimas meminta tambahan modal.
Ketika perusahaan mulai jatuh, Vina ikut terjebak.
Hubungan mereka bermula dari pertemuan bisnis.
Lalu berubah menjadi perselingkuhan.
Dimas meyakinkan Vina bahwa satu-satunya cara menyelamatkan semuanya adalah menggunakan rumah kos Ibu.
“Tapi rencana menusuk itu?” tanyaku.
Vina menangis semakin keras.
“Itu bukan rencanaku.”
Menurut Vina, setelah Ibu jatuh dan terluka, Dimas sadar keadaan bisa berbalik melawan mereka.
Dimas mengambil gunting dapur.
Kemudian dia menyayat lengannya sendiri.
Tidak dalam.
Cukup untuk mengeluarkan darah.
Setelah itu, dia menelepon polisi dan mengatakan Ibu menyerangnya.
“Kenapa kamu diam?”
Vina menatapku.
“Karena Dimas bilang kalau aku bicara, semua pemalsuan dokumen akan ditimpakan kepadaku.”
Aku berdiri.
“Aku tidak bisa menyelamatkanmu, Vin.”
Dia menggenggam tanganku.
“Kak…”
Aku melepaskannya perlahan.
“Tapi kalau kamu mau mengatakan yang sebenarnya, setidaknya berhentilah menyelamatkan laki-laki yang menghancurkan keluarga kita.”
Kesaksian Vina akhirnya mengubah seluruh perkara.
Pemeriksaan forensik juga menunjukkan luka Dimas lebih konsisten dengan luka yang dibuat sendiri daripada tusukan dalam perkelahian. Sidik jari Ibu tidak ditemukan pada bagian pegangan gunting yang seharusnya digenggamnya.
Ibu dibebaskan dari tuduhan.
Sementara penyelidikan terhadap Dimas, Vina, dan pria yang membantu dokumen palsu terus berjalan.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Beberapa bulan kemudian, aku membantu Ibu mengurus perlindungan hukum atas asetnya.
Rumah kos itu tidak dijual.
Aku juga meminta namaku dikeluarkan dari semua urusan perusahaan Dimas.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Suatu sore, ketika membersihkan lemari Ayah di rumah Ibu, aku menemukan sebuah amplop lama.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan Ayah.
Surat itu dibuat beberapa bulan sebelum beliau meninggal.
Ayah menulis bahwa rumah kos sebenarnya tidak pernah dimaksudkan sebagai warisan untukku atau Vina.
Rumah itu kelak harus dijual setelah Ibu meninggal.
Hasilnya digunakan untuk mendirikan yayasan pendidikan bagi perempuan dari keluarga kurang mampu.
Aku membaca surat itu dua kali.
Lalu menyerahkannya kepada Ibu.
Ibu tersenyum sambil menangis.
“Ayahmu takut harta membuat kalian bertengkar.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan terakhir.
Ayah sudah melihat kemungkinan yang bahkan tidak pernah kubayangkan.
Setahun kemudian, rumah kos masih berdiri.
Ibu tetap menerima penghasilannya.
Aku kembali menjalani hidup sebagai dokter.
Dimas tidak pernah lagi menjadi bagian dari kehidupanku.
Vina beberapa kali mengirim surat permintaan maaf. Aku membacanya, tetapi belum bisa membalas.
Mungkin suatu hari aku akan memaafkannya.
Namun memaafkan bukan berarti menghapus apa yang terjadi.
Aku belajar bahwa keluarga bukan sekadar hubungan darah.
Keluarga adalah orang yang tetap memilih melindungimu ketika mereka punya kesempatan untuk mengambil keuntungan darimu.
Dan setiap kali aku melewati dapur rumah Ibu, aku selalu melihat tempat gunting hitam itu dulu tergantung.
Gunting yang hampir membuat seorang perempuan tak bersalah dipenjara.
Gunting yang dipakai untuk membangun kebohongan.
Anehnya, benda itulah yang akhirnya membuka semuanya.
Karena pada malam ketika Dimas mencoba menjadikan Ibu sebagai penjahat, dia lupa satu hal sederhana.
Kebenaran tidak selalu membutuhkan orang yang berani berteriak.
Kadang, ia hanya membutuhkan kamera kecil yang belum sempat dimatikan beberapa detik lebih cepat.
