Aku membeli karung pakaian bekas dengan uang sekolah anakku karena kupikir kemiskinan hanya bisa dilawan dengan keberanian mengambil risiko. Aku tidak pernah membayangkan bahwa dari dasar karung itu, masa lalu istriku akan keluar dalam bentuk seragam berlumuran darah.
Dan lebih tidak pernah kubayangkan bahwa orang yang selama sebelas tahun memberiku pekerjaan ternyata sudah mengenal istriku jauh sebelum aku mengenalnya.
Tanganku gemetar ketika membalik foto lama yang ditemukan di lapisan seragam itu.

Di belakangnya tertulis satu kalimat dengan tinta biru yang sudah memudar.
Kalau sesuatu terjadi pada Maya, jangan percaya Surya. Cari surat di dalam seragam Rina.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Maya.
Nama itu tidak ada dalam laporan sekolah karena nama korban telah ditutup.
Aku menunjuk gadis di tengah foto.
“Bu Ratih, ini Maya?”
Wajah Bu Ratih di layar video call mendadak pucat.
“Iya.”
“Siapa dia?”
Bu Ratih menatapku lama sebelum menjawab.
“Saudara kembar Rina.”
Aku merasa lantai di bawah kakiku seperti bergeser.
“Rina tidak punya saudara kembar.”
“Dia punya.”
Aku kembali melihat foto itu.
Sekarang aku mengerti kenapa wajah gadis tersebut begitu mirip Nisa. Bentuk matanya, hidungnya, bahkan cara tersenyumnya seperti anakku ketika sedang malu difoto.
Bu Ratih menarik napas panjang.
“Nama lengkapnya Maya Maharani. Mereka kembar, tetapi sifatnya berbeda. Rina pendiam. Maya berani. Kalau melihat sesuatu yang salah, Maya tidak bisa diam.”
“Lalu apa yang terjadi di gudang olahraga?”
Bu Ratih tidak langsung menjawab.
Aku mendengar pintu ruang kepala sekolah ditutup dari dalam.
“Pak Surya waktu itu bukan pengusaha konveksi,” katanya akhirnya. “Ayahnya salah satu pemasok seragam sekolah. Surya sering datang ke sekolah membantu usaha keluarganya.”
“Dan dia mengenal Rina?”
“Bukan hanya Rina.”
Bu Ratih menatap foto di tanganku.
“Dia dekat dengan Maya.”
Ponselku kembali bergetar.
Rina menelepon lagi.
Kali ini aku tidak mengangkat.
Aku bertanya kepada Bu Ratih, “Surat apa yang dimaksud di belakang foto?”
“Saya tidak pernah melihatnya.”
“Tapi Ibu tahu?”
“Maya pernah bilang dia menemukan bukti bahwa Surya dan ayahnya memalsukan tagihan pengadaan seragam beberapa sekolah. Jumlahnya besar. Maya ingin menyerahkannya kepada seorang wartawan lokal.”
Aku terdiam.
“Jadi dia diserang karena itu?”
“Saya tidak tahu siapa yang menyerangnya.”
“Tapi Rina saksi terakhir.”
Bu Ratih mengangguk perlahan.
“Hari itu Rina ditemukan di luar gudang dalam keadaan syok. Seragamnya penuh darah Maya. Dia terus mengatakan satu kalimat.”
“Apa?”
“Bukan aku. Bukan aku.”
Bulu kudukku berdiri.
Tiba-tiba aku teringat reaksi Rina ketika melihat kancing seragam semalam.
Bukan jijik.
Bukan takut pada pakaian bekas.
Dia ketakutan karena seragam itu seharusnya sudah hilang dua puluh dua tahun lalu.
Aku berlari meninggalkan sekolah.
Di parkiran, aku menelepon Rina.
Tidak aktif.
Aku menelepon Pak Surya.
Tidak aktif.
Aku langsung pulang ke Surabaya.
Sepanjang perjalanan pikiranku dipenuhi pertanyaan.
Mengapa Rina menyembunyikan saudara kembarnya?
Mengapa Pak Surya menghapus arsip?
Mengapa seragam itu bisa muncul di Pasar Turi?
Dan yang paling menggangguku, mengapa tulisan di foto mengatakan surat itu berada di dalam seragam Rina, sementara petugas keamanan tadi mengatakan hanya menemukan foto?
Begitu sampai rumah, pintu depan terbuka.
“Nisa?”
Tidak ada jawaban.
Aku masuk dengan panik.
Tas sekolah Nisa tergeletak di sofa.
Di meja makan terdapat amplop putih.
Tulisan tangan Rina.
Mas, jangan cari aku. Jemput Nisa di rumah Bu Lilis. Aku harus menyelesaikan sesuatu yang seharusnya kuselesaikan sejak lama.
Aku langsung menelepon tetangga kami.
Syukurlah Nisa memang berada di sana.
Setelah memastikan anakku aman, aku masuk ke ruang jahit.
Karung pakaian bekas sudah hilang.
Tapi seragam itu masih kusimpan di bawah kasur.
Aku mengambilnya dan memeriksa setiap jahitan.
“Surat di dalam seragam…”
Aku membalik pakaian itu.
Sebagai penjahit, aku langsung melihat sesuatu yang sebelumnya kulewatkan.
Lapisan bagian pinggang dijahit dengan benang berbeda.
Aku mengambil gunting kecil.
Kubuka jahitannya perlahan.
Sebuah plastik tipis jatuh.
Di dalamnya terdapat tiga lembar kertas yang dilipat sangat kecil.
Surat pertama adalah fotokopi catatan transaksi.
Surat kedua berisi daftar nama sekolah dan jumlah uang.
Surat terakhir ditulis tangan.
Rin, kalau kamu membaca ini, berarti aku gagal menyerahkannya sendiri. Jangan percaya Surya. Dia tahu aku menemukan dokumen ayahnya. Kalau aku kenapa-kenapa, berikan ini kepada polisi.
Di bawahnya ada tanda tangan.
Maya.
Aku langsung memotret semua dokumen.
Kemudian mengirimkannya ke ponselku sendiri, email, dan seorang teman lama yang bekerja sebagai wartawan.
Baru setelah itu aku menelepon polisi.
Namun sebelum aku selesai menjelaskan, sebuah pesan masuk dari nomor Rina.
Sebuah lokasi.
Gudang konveksi lama milik Pak Surya di kawasan Waru.
Di bawahnya hanya ada dua kata.
Tolong datang.
Aku tidak berpikir panjang.
Ketika tiba, matahari sudah hampir tenggelam.
Gudang itu terlihat kosong.
Pintu samping terbuka sedikit.
Aku masuk.
“Rina?”
Suara langkah terdengar dari belakang tumpukan kain.
Aku melihat istriku berdiri di sana.
Di depannya ada Pak Surya.
Rina menangis, tetapi bukan seperti orang yang ketakutan.
Dia menangis seperti seseorang yang akhirnya kehabisan tenaga setelah berlari selama dua puluh tahun.
Pak Surya menoleh kepadaku.
“Kenapa kamu datang?”
Aku mengangkat ponsel.
“Karena istriku memintaku.”
Wajah Rina berubah.
“Mas, pergi.”
Pak Surya tertawa kecil.
“Suamimu memang keras kepala.”
Aku menatapnya.
“Kenapa Bapak menghapus arsip sekolah?”
Senyumnya hilang.
“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”
“Aku menemukan surat Maya.”
Untuk pertama kalinya kulihat ketakutan di wajah pria yang selama ini selalu terlihat begitu tenang.
Rina menatapku.
“Kamu menemukannya?”
Aku mengangguk.
Pak Surya melangkah mendekat.
“Berikan.”
“Sudah kukirim ke polisi.”
Dia berhenti.
Gudang mendadak sunyi.
Kemudian Rina berkata, “Sudah selesai, Surya.”
Pak Surya menoleh kepadanya.
“Kamu pikir polisi akan percaya setelah dua puluh dua tahun?”
“Mungkin tidak,” jawab Rina. “Tapi kali ini aku akan bicara.”
“Apa yang mau kamu katakan?”
Rina menghapus air matanya.
“Kebenaran.”
Aku menatap istriku.
Rina menarik napas.
“Malam itu Maya memintaku datang ke gudang sekolah. Dia bilang punya bukti tentang keluarga Surya. Aku terlambat beberapa menit.”
Suaranya mulai bergetar.
“Ketika aku masuk, Maya sudah terluka.”
Aku mengepalkan tangan.
“Siapa yang melakukannya?”
Rina menatap Pak Surya.
Tapi jawabannya mengejutkanku.
“Bukan Surya.”
Aku terdiam.
Pak Surya juga terlihat terpukul.
“Rina…”
“Sudah cukup.”
Rina melanjutkan.
“Yang menyerang Maya adalah ayah Surya.”
Pak Surya menundukkan kepala.
“Ayahnya memergoki Maya membawa dokumen. Mereka bertengkar. Maya didorong. Kepalanya membentur rak besi.”
Aku menelan ludah.
“Lalu darah di seragam?”
“Aku memeluk Maya sambil mencoba menghentikan pendarahannya.”
Air mata Rina jatuh.
“Surya datang beberapa menit kemudian. Maya masih hidup.”
Aku menatap Pak Surya.
“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?”
Rina menjawab sebelum dia sempat bicara.
“Karena ayahnya melarang.”
Pak Surya membentak, “Aku masih tujuh belas tahun!”
“Dan kamu menuruti dia!” balas Rina.
Suara Rina menggema di gudang.
“Dia bilang kalau kasus itu terbongkar, keluargamu hancur. Ayahmu menyuruhku diam. Dia mengancam akan membuat polisi percaya bahwa aku yang menyerang Maya karena kami pernah bertengkar.”
Aku mulai memahami semuanya.
“Jadi laporan itu diubah?”
Rina mengangguk.
“Maya akhirnya dibawa ke rumah sakit hampir satu jam kemudian. Terlambat.”
“Dia meninggal?”
Rina menutup mata.
“Iya.”
Dadaku sesak.
“Kenapa kamu bilang kamu sekolah di Malang?”
“Setelah pemakaman, keluargaku pindah. Ayah dan Ibu tidak pernah mau membicarakan Maya lagi. Aku mengganti semua cerita tentang masa SMA karena setiap kali mengingatnya, aku merasa aku yang membunuhnya karena aku diam.”
Aku ingin memeluknya.
Namun satu pertanyaan masih tersisa.
“Kenapa seragam itu muncul sekarang?”
Pak Surya tiba-tiba duduk di sebuah kursi plastik.
Wajahnya kehilangan warna.
“Ayahku meninggal tiga bulan lalu.”
Kami menatapnya.
“Sebelum meninggal, dia menyimpan barang-barang lama di rumah kedua. Setelah rumah itu dikosongkan, pembantu menjual beberapa karung pakaian ke pengepul.”
Aku teringat pedagang Pasar Turi.
Jadi semuanya terjadi karena kebetulan.
Atau mungkin karena masa lalu memang memiliki cara sendiri untuk kembali.
Aku bertanya, “Kenapa Bapak ada di rumah kami tadi?”
Pak Surya menatap Rina.
“Dia meneleponku semalam. Bilang seragam itu muncul. Aku panik.”
“Karena takut kejahatan ayah Bapak terbongkar?”
Dia menggeleng.
“Karena takut rahasiaku terbongkar.”
Aku mengernyit.
“Rahasia apa?”
Rina mendadak berkata, “Surya, jangan.”
Tapi pria itu sudah menatapku.
“Maya bukan sekadar teman sekolahku.”
Dia mengeluarkan dompet.
Dari dalamnya, dia mengambil foto kecil yang sudah kusam.
Foto Maya.
“Aku mencintainya.”
Rina membeku.
Pak Surya melanjutkan, “Malam itu aku sebenarnya sudah berniat membantu Maya membawa bukti ke polisi. Tapi ayahku mengetahui rencana kami lebih dulu.”
Suaranya pecah.
“Setelah Maya terluka, aku pengecut. Aku memilih keluargaku. Dan aku membiarkan perempuan yang kucintai mati.”
Dari luar gudang terdengar sirene.
Pak Surya tidak berusaha lari.
Beberapa polisi masuk.
Aku baru mengetahui kemudian bahwa kasus tersebut memang sulit dibuka kembali sebagai perkara pidana utama karena pelaku langsung sudah meninggal dan bukti fisik sangat tua.
Namun dokumen Maya membuka perkara lain.
Pemalsuan dokumen, penghilangan arsip, manipulasi keterangan, dan aliran dana lama yang ternyata terhubung dengan beberapa perusahaan yang masih aktif.
Pak Surya diperiksa berulang kali.
Nama Maya akhirnya dikembalikan ke arsip sekolah.
Bukan sebagai gadis yang terluka dalam “insiden gudang”.
Melainkan sebagai siswi yang berusaha membongkar kecurangan.
Beberapa minggu kemudian, aku duduk bersama Rina di teras rumah.
Nisa sedang belajar di dalam.
Aku menyerahkan secangkir teh kepadanya.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
Rina menatap halaman.
“Karena aku takut kalau kamu tahu siapa aku dulu, kamu akan melihatku berbeda.”
“Aku memang melihatmu berbeda sekarang.”
Dia menoleh dengan mata berkaca-kaca.
Aku menggenggam tangannya.
“Sekarang aku tahu kamu sudah membawa beban sendirian terlalu lama.”
Rina menangis.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, dia bercerita tentang Maya sampai pagi.
Tentang bagaimana mereka bertukar seragam.
Tentang bagaimana Maya suka sambal terlalu pedas.
Tentang bagaimana mereka pernah berjanji akan membuka usaha jahit bersama.
Dan tentang satu hal yang membuatku tersenyum sekaligus menangis.
Nama Nisa ternyata berasal dari nama yang pernah dipilih Maya untuk anaknya kelak.
Sebulan kemudian aku kembali ke Pasar Turi.
Pedagang yang menjual karung itu masih mengenaliku.
“Gimana, Pak? Untung?”
Aku tertawa kecil.
“Lebih besar dari yang saya kira.”
Padahal secara uang, aku rugi.
Sebagian besar pakaian tidak bisa dijual.
Aku bahkan harus meminjam uang untuk membayar daftar ulang Nisa.
Namun saat hendak pergi, pedagang itu memanggilku.
“Pak, kemarin saya nemu ini di bawah tempat karung Bapak.”
Dia menyerahkan sebuah amplop kecil.
Di dalamnya terdapat foto Rina dan Maya ketika masih kecil.
Di belakangnya ada tulisan tangan Maya.
Kalau suatu hari kita terpisah, jangan takut. Kebenaran selalu tahu jalan pulang.
Aku membawa foto itu pulang.
Rina menatapnya lama sebelum memelukku.
Malam itu kami memasangnya di ruang jahit.
Tepat di atas mesin jahit tempat aku pertama kali membuka karung yang kubeli dengan keputusan paling bodoh dalam hidupku.
Aku pernah mengira karung itu hampir menghancurkan keluargaku.
Ternyata aku salah.
Karung pakaian bekas seharga seratus lima puluh ribu rupiah itu justru membawa pulang seorang anggota keluarga yang telah hilang selama dua puluh dua tahun.
Bukan tubuhnya.
Bukan suaranya.
Melainkan namanya.
Dan terkadang, itulah satu-satunya cara orang yang telah pergi bisa benar-benar pulang.
