Nama istriku tercetak jelas di bagian bawah sertifikat itu.
Dra. Rina Kusuma.
Untuk beberapa detik, suara mesin truk, alarm gerbang, bahkan teriakan orang-orang di sekelilingku seperti menghilang.
Aku hanya melihat tanda tangan di bawah nama itu.
Aku mengenalnya.

Garis pertama yang sedikit miring ke kanan, huruf R yang dibuat terlalu besar, lalu ekor panjang pada huruf terakhir. Rina selalu menandatangani rapor anak kami, kuitansi sekolah, dan dokumen bank dengan bentuk seperti itu.
“Itu tanda tangan istri saya,” kataku pelan.
Pak Yudi langsung tertawa.
“Nah, jelas sekarang. Suami istri bekerja sama, lalu pura-pura jadi pahlawan.”
Aku menoleh tajam kepadanya.
Dr. Maya justru mengambil dokumen itu dari tanganku.
“Arman, istrimu bekerja di mana?”
“Dinas kesehatan kabupaten. Bagian pengawasan pangan darurat.”
Wajah Maya semakin serius.
“Berarti secara administratif dia memang bisa ditugaskan memeriksa bantuan.”
Bima Prasetyo segera maju.
“Sudah jelas, kan? Dokumennya sah. Kalau ada kontaminasi, tanyakan kepada petugas yang menandatangani.”
Dia mengucapkan kalimat itu terlalu cepat.
Seolah sudah menunggu kesempatan untuk mengatakannya.
Aku menatap Bima.
Saat itulah aku mengerti.
Botol kimia di lokerku.
Ancaman Pak Yudi tentang anakku.
Dan sekarang nama Rina.
Mereka bukan sedang mencari siapa yang bersalah.
Mereka sudah menyiapkan siapa yang akan disalahkan.
“Tolong buka borgol saya,” kataku kepada polisi.
Petugas itu menggeleng. “Kami belum bisa.”
“Kalau begitu pinjamkan saya ponsel.”
Pak Yudi langsung menyela.
“Jangan. Dia bisa menghapus bukti.”
Aku tertawa pendek.
“Justru bukti saya ada di ponsel yang kalian ambil.”
Seorang polisi berpangkat iptu mengambil ponselku dari petugas lain.
Namanya Iptu Damar.
“Password?”
Kusebutkan.
Dia membuka galeri.
Video CCTV terlihat jelas.
Pukul 02.43.
Truk tanpa logo.
Pak Yudi.
Bima.
Palet B-17.
Wajah Pak Yudi berubah pucat.
Bima tetap tenang.
“Itu tidak membuktikan apa pun. Kami mengatur distribusi bantuan. Wajar saya berada di gudang.”
“Jam tiga pagi?” tanya Maya.
Bima menatapnya dingin.
“Keadaan darurat tidak mengenal jam kerja, Dokter.”
Aku hampir menjawab ketika ponsel Maya berbunyi.
Dia melihat layar.
Kemudian menatapku.
“Rina menelepon.”
Jantungku serasa berhenti.
“Angkat.”
Maya mengaktifkan pengeras suara.
“Bu Rina?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas berat.
Lalu terdengar suara istriku.
“Maya, jangan percaya sertifikat itu.”
Aku mendekat.
“Rina!”
“Mas?”
Suaranya langsung bergetar.
“Mas Arman?”
“Aku di gudang. Kamu di mana?”
Beberapa detik dia diam.
“Di kantor.”
“Kamu tanda tangan sertifikat pemeriksaan lot B-17?”
“Tidak.”
Aku menatap Bima.
Dia tidak lagi tersenyum.
Rina melanjutkan, “Kemarin sore ada staf dari perusahaan pemasok membawa dokumen dan meminta aku menandatangani pemeriksaan retroaktif. Aku menolak karena sampelnya belum masuk laboratorium.”
“Siapa yang datang?”
Rina menarik napas.
“Bima Prasetyo.”
Semua mata langsung mengarah kepada Bima.
Dia mundur satu langkah.
“Fitnah.”
Tiba-tiba sambungan telepon terputus.
“Rina?”
Aku berteriak.
“Maya, telepon lagi!”
Maya mencoba.
Tidak aktif.
Aku menatap Iptu Damar.
“Pak, istri saya dalam bahaya.”
Damar langsung memberi perintah kepada dua anggotanya untuk menghubungi polsek terdekat dari kantor Rina.
Bima justru berkata, “Ini sudah keterlaluan. Saya akan menghubungi pengacara.”
Dia berbalik menuju mobilnya.
“Jangan biarkan dia pergi!” teriakku.
Damar berdiri di depannya.
“Untuk sementara, semua yang terlibat tetap di sini.”
Bima mengangkat tangan.
“Anda menahan saya tanpa dasar?”
Damar menunjukkan video di ponselku.
“Dasarnya mulai ada.”
Pak Yudi tiba-tiba berlari.
Dia menerobos di antara dua petugas keamanan menuju pintu belakang gudang.
Seorang polisi mengejarnya.
Aku melihat sesuatu jatuh dari saku celananya.
Sebuah flashdisk.
“Maya!”
Maya mengambilnya.
Di ruang kantor gudang, kami membuka flashdisk itu menggunakan laptop.
Ada puluhan folder.
Invoice.
Surat jalan.
Foto barang.
Dan sebuah file Excel berisi daftar distribusi.
Bukan hanya Demak.
Kudus.
Pati.
Grobogan.
Pekalongan.
Sedikitnya sembilan wilayah terdampak banjir tercantum di sana.
Maya menutup mulut.
“Ya Tuhan.”
Ada lebih dari sebelas ribu kotak susu dari beberapa lot yang ditandai sebagai barang layak distribusi.
Di kolom harga, perusahaan Bima menagih barang tersebut seolah produk baru.
Padahal kode produksinya menunjukkan sebagian barang berasal dari stok lama.
Iptu Damar menunjuk angka total di bagian bawah.
Hampir empat miliar rupiah.
“Itu baru susu,” katanya.
Aku menggulir ke bawah.
Ada biskuit.
Makanan pendamping.
Obat diare.
Air minum.
Beberapa menggunakan pola nomor dokumen yang sama.
Aku merasa mual.
Barang-barang yang seharusnya dimusnahkan ternyata dibeli kembali melalui perusahaan perantara dengan harga murah, lalu dimasukkan ke paket bantuan dan ditagihkan kepada pemerintah dengan harga normal.
Bencana telah menjadi bisnis.
Orang-orang kehilangan rumah.
Anak-anak tidur di pengungsian.
Dan seseorang menghitung keuntungan dari setiap kardus yang mereka terima.
“Pak,” kata seorang polisi dari pintu.
“Kami menemukan Pak Yudi.”
“Di mana?”
“Toilet belakang. Dia mencoba membakar dokumen.”
Yudi dibawa masuk beberapa menit kemudian.
Wajahnya sudah kehilangan seluruh keberaniannya.
Damar meletakkan flashdisk di meja.
“Anda mau bicara sekarang atau nanti di kantor?”
Yudi menatap Bima.
Bima menggeleng kecil.
Gerakan itu hampir tidak terlihat.
Namun Yudi melihatnya.
Dan entah mengapa, itu justru membuatnya tertawa.
“Dia akan buang saya juga, kan?”
Bima membentak.
“Diam!”
Yudi menatapnya.
“Seperti Bu Rina?”
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku jatuh.
“Apa maksudmu?”
Yudi menelan ludah.
“Dokumen itu memang dipalsukan.”
“Siapa yang memalsukan tanda tangan istri saya?”
“Saya tidak tahu. Bagian administrasi perusahaan.”
“Kenapa nama Rina?”
Yudi menunduk.
“Karena dia menolak.”
Dadaku terasa sesak.
Yudi menjelaskan bahwa tiga hari sebelumnya Rina menemukan ketidaksesuaian nomor lot ketika melakukan pemeriksaan acak. Dia meminta distribusi ditunda sampai hasil laboratorium keluar.
Bima menolak.
Rina kemudian mengancam akan membuat laporan resmi.
Malam itu, mereka membuat sertifikat baru menggunakan salinan tanda tangan Rina dari dokumen pemeriksaan sebelumnya.
“Kalau barangnya ketahuan bermasalah,” kata Yudi, “semua bukti akan mengarah ke Bu Rina.”
Aku menatap Bima.
“Dan ketika aku menemukan barang itu, kalian menaruh bahan kimia di lokerku.”
Yudi mengangguk.
“Pak Bima bilang lebih mudah kalau kasusnya terlihat seperti sabotase suami istri.”
Bima menerjang Yudi.
Polisi langsung menahannya.
“Kamu pembohong!”
Yudi berteriak balik, “Saya punya rekamannya!”
Ruangan mendadak hening.
“Rekaman apa?” tanya Damar.
Yudi menunjuk laptop.
“Folder paling bawah. Namanya audit lama.”
Kami membukanya.
Ada file audio.
Suara Bima terdengar.
Jelas.
Dia membicarakan pemindahan stok, sertifikat pemeriksaan, dan cara menjadikan Rina sebagai pihak yang bertanggung jawab jika muncul masalah.
Lalu terdengar kalimat yang membuat darahku mendidih.
“Kalau suaminya ikut campur, buat dia kelihatan sebagai pelaku kontaminasi.”
Bima tidak berkata apa-apa lagi.
Tangannya diborgol.
Borgol di tanganku akhirnya dibuka.
Namun aku tidak merasa lega.
Rina belum ditemukan.
Hampir empat puluh menit kemudian telepon Damar berbunyi.
Aku berdiri menunggu.
Ekspresinya membuat lututku lemas.
“Pak Arman, istri Anda tidak ada di kantor.”
Aku memejamkan mata.
“Tapi mobilnya ditemukan di parkiran minimarket sekitar dua kilometer dari sana.”
“Dia diculik?”
“Belum tahu.”
Aku langsung mengambil jaket.
“Aku ke sana.”
Maya ikut.
Di dalam ambulans, tanganku terus gemetar.
Aku menelepon Rina berkali-kali.
Tetap mati.
Saat kami hampir tiba di minimarket, ponselku bergetar.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
Hanya satu foto.
Rina duduk di sebuah ruangan sempit.
Tangannya tidak terikat.
Di belakangnya ada rak besi.
Aku memperbesar gambar.
Aku mengenali tempat itu.
Gudang lama milik perusahaan Bima di kawasan industri.
Di bawah foto ada pesan.
JANGAN BAWA POLISI.
Aku menunjukkan kepada Maya.
Dia langsung menelepon Damar diam-diam.
Kami tiba dua puluh menit kemudian.
Bangunan itu tampak kosong.
Pintunya setengah terbuka.
Aku masuk.
“Rina!”
Tidak ada jawaban.
Aku berjalan melewati tumpukan kardus.
Lalu terdengar suara dari belakang.
“Mas.”
Rina muncul.
Aku berlari memeluknya.
Dia menangis di dadaku.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Aku baik.”
“Siapa yang bawa kamu?”
Rina menggeleng.
“Nggak ada.”
Aku melepaskan pelukan.
“Apa?”
“Aku datang sendiri.”
Aku menatapnya, tidak mengerti.
Rina menunjuk rak di belakang.
Ada puluhan kardus dokumen.
“Aku tahu kalau aku membuat laporan biasa, mereka akan menghilangkan bukti sebelum pemeriksaan resmi dilakukan. Jadi sejak tiga hari lalu aku mengikuti salah satu staf Bima.”
Ternyata Rina sudah jauh lebih dulu menyelidiki jaringan itu.
Dia menemukan gudang tempat barang-barang yang seharusnya dimusnahkan disimpan.
Foto yang dikirim kepadaku?
Rina sendiri yang mengirimnya melalui nomor prabayar.
“Kenapa kamu membuatku mengira kamu diculik?”
“Aku nggak tahu siapa yang bisa dipercaya, Mas. Bahkan di kantorku ada orang yang membocorkan jadwal pemeriksaan kepada mereka.”
Suara sirene terdengar di luar.
Polisi masuk.
Damar memeriksa kardus-kardus tersebut.
Di dalamnya terdapat dokumen pembelian stok rusak, sertifikat pemusnahan palsu, transaksi perusahaan perantara, dan daftar pembayaran kepada sejumlah orang.
Bukti yang ditemukan di gudang itu akhirnya membuka penyelidikan yang jauh lebih besar.
Distribusi seluruh lot dihentikan.
Sampel dikirim ke laboratorium resmi.
Beberapa hari kemudian hasilnya keluar.
Kontaminasi kimia ditemukan pada puluhan sampel.
Tidak satu pun kardus dari lot tersebut akhirnya sampai ke posko.
Bima, Yudi, dan beberapa orang lain ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidikan berkembang.
Namaku dibersihkan.
Begitu pula Rina.
Namun ada satu hal yang tidak pernah kulupakan.
Seminggu setelah kejadian itu, aku dan Rina pergi ke salah satu posko di Demak bersama Maya.
Air sudah mulai surut.
Lumpur masih menempel di dinding rumah.
Orang-orang antre menerima bantuan pengganti yang sudah diperiksa.
Seorang ibu menghampiriku.
Dia tidak tahu siapa aku.
Dia hanya tersenyum sambil menerima satu kardus susu dari relawan.
“Alhamdulillah,” katanya. “Yang penting aman.”
Aku terpaku.
Hanya dua kata.
Yang penting aman.
Malam itu aku duduk bersama Rina di tangga posko.
“Aku hampir menerima tiga puluh juta,” kataku.
Rina menoleh.
“Serius?”
“Aku sempat berpikir, kalau aku diam, hidup kita mungkin lebih mudah.”
Rina menggenggam tanganku.
“Tapi kamu nggak diam.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu juga nggak.”
Rina menyandarkan kepalanya di bahuku.
Dari kejauhan, truk bantuan baru memasuki halaman.
Aku melihat para relawan menurunkan kardus satu demi satu.
Beberapa hari sebelumnya, aku hanyalah teknisi forklift yang dianggap tidak punya hak untuk bertanya.
Ternyata kadang-kadang sebuah bencana tidak hanya menguji seberapa cepat bantuan bisa dikirim.
Bencana juga menguji siapa yang masih berani berkata berhenti ketika semua orang lain menyuruhnya diam.
Aku pernah diborgol karena menahan enam truk.
Saat itu aku mengira borgol adalah harga terburuk yang harus kubayar.
Aku salah.
Harga terburuk adalah mengetahui ada sesuatu yang berbahaya, lalu memilih diam karena takut kehilangan pekerjaan, uang, atau kenyamanan.
Karena pada akhirnya, satu gerbang yang kututup pagi itu bukan sekadar menahan enam truk.
Gerbang itu mungkin telah menahan sebuah kejahatan agar tidak masuk ke ribuan rumah yang sedang berharap pertolongan.
