Aku tidak tahu mana yang lebih membuatku sulit bernapas pagi itu. Tiga mobil mewah yang memenuhi gang sempit di depan kontrakan kami, wajah Ibu yang pucat seperti baru melihat hantu, atau foto seorang pemuda yang wajahnya nyaris sama denganku.
Perempuan tua yang membawa foto itu berdiri tepat di depanku.
“Namanya Raka Wijaya,” katanya dengan suara bergetar. “Anak saya yang dinyatakan meninggal tiga bulan sebelum kamu lahir.”
Aku menatap foto itu lagi.

Raka terlihat masih sangat muda, mungkin dua puluh lima tahun. Ia berdiri di samping Ibu di sebuah taman. Ibu tersenyum lebar, sesuatu yang jarang kulihat sejak aku kecil. Tangan Raka berada di bahu Ibu.
Bentuk matanya sama denganku.
Garis rahangnya juga.
Bahkan lesung kecil di pipi kirinya terlihat persis seperti milikku.
Aku menoleh kepada Ibu.
“Bu, siapa dia?”
Ibu tidak menjawab.
“Ibu.”
“Masuk dulu, Mar.”
“Aku tidak mau masuk sebelum Ibu menjelaskan.”
Armand Wijaya berdiri beberapa langkah dariku. Untuk pertama kalinya, wajah pria yang tadi terlihat begitu tenang itu kehilangan ketegasannya.
Perempuan tua tadi mendekat.
“Saya Helena,” katanya. “Ibu Raka.”
Berarti dia nenekku?
Pikiran itu membuat kepalaku berdenyut.
Aku mundur satu langkah.
“Jangan panggil hubungan apa pun dulu,” kataku. “Saya belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Helena mengangguk pelan.
“Kamu berhak marah.”
Aku tertawa pendek.
“Marah? Saya bahkan belum tahu harus marah kepada siapa.”
Ibu tiba-tiba duduk di kursi plastik dekat pintu. Tangannya menutupi wajah.
Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihatnya menangis seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.
“Raka adalah ayah kandungmu,” katanya.
Gang yang tadi dipenuhi bisikan tetangga seolah mendadak sunyi.
Aku memandang Ibu tanpa berkedip.
“Ayahku Pak Hendra.”
“Hendra ayahmu,” jawab Ibu cepat. “Dia yang membesarkanmu. Dia yang menggendongmu saat demam. Dia yang mengajarimu naik sepeda. Jangan pernah menganggap dia bukan ayahmu.”
“Tapi secara darah?”
Ibu menunduk.
“Raka.”
Aku merasa kakiku kehilangan tenaga.
Pak Hendra meninggal ketika aku berusia dua belas tahun karena kecelakaan kerja. Sampai hari ini aku masih menyimpan dompet lusuhnya di lemari.
Aku selalu percaya aku anaknya.
“Kenapa Ibu bohong?”
“Aku ingin melindungimu.”
“Dari apa?”
Ibu memandang keluarga Wijaya.
“Dari mereka.”
Armand langsung menggeleng.
“Itu tidak adil, Bu Ratna.”
“Tidak adil?” Ibu berdiri. “Kalian mengusir saya saat saya datang membawa hasil pemeriksaan kehamilan!”
Helena menutup mulut.
Armand terdiam.
Aku menoleh kepadanya.
“Benar?”
Armand tidak menjawab.
Helena yang akhirnya bicara.
“Saya yang melakukannya.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tujuh belas tahun lalu, saya mengira ibumu datang karena uang.”
Ibu tertawa pahit.
“Saya bahkan tidak meminta satu rupiah.”
Helena mengangguk.
“Saya tahu sekarang.”
Ternyata Raka dan Ibu pernah berpacaran hampir tiga tahun. Mereka bertemu ketika Ibu bekerja di sebuah toko buku di Jalan Merdeka, sementara Raka baru kembali dari kuliah di Surabaya.
Hubungan itu tidak direstui keluarga Wijaya.
Raka adalah putra bungsu keluarga pengusaha besar. Ibu hanyalah anak penjahit dari Cimahi.
Mereka tetap bersama diam-diam.
Sampai suatu malam, mobil Raka ditemukan hancur di kawasan Lembang.
Keluarganya diberi tahu bahwa Raka meninggal di lokasi.
Jenazahnya rusak parah.
Pemakaman dilakukan tertutup.
Tiga bulan kemudian, Ibu mengetahui dirinya hamil.
Dia datang ke rumah keluarga Wijaya.
Namun Helena tidak percaya.
“Saya pikir dia menggunakan kematian Raka,” bisik Helena. “Saya menyuruh satpam mengusirnya.”
Ibu menatapku.
“Beberapa bulan setelah itu, aku bertemu Hendra. Dia tahu semuanya.”
Dadaku sesak mendengar nama ayahku.
“Hendra tetap menikahi Ibu?”
Ibu tersenyum dalam tangis.
“Dia bilang seorang anak tidak memilih bagaimana dia dilahirkan. Yang bisa dipilih orang dewasa adalah bagaimana mencintainya.”
Aku menunduk.
Kalimat itu terdengar persis seperti sesuatu yang akan dikatakan Ayah.
“Tapi kenapa sekarang?” tanyaku. “Kenapa setelah tujuh belas tahun kalian datang?”
Armand menatap Helena.
Helena kemudian mengatakan sesuatu yang mengubah semuanya sekali lagi.
“Karena Raka mungkin tidak meninggal malam itu.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
Armand membuka dokumen lain dari map.
Setahun lalu, keluarga Wijaya menemukan ketidaksesuaian arsip rumah sakit. Nomor identitas jenazah yang dimakamkan sebagai Raka ternyata milik orang lain.
Mereka melakukan pembongkaran makam secara resmi dan tes DNA.
Jenazah itu bukan Raka.
“Jadi ayah kandung saya masih hidup?”
“Kami tidak tahu,” jawab Armand.
Aku langsung teringat kakek di terminal.
“Lalu kakek semalam?”
“Ayah saya, Surya Wijaya,” kata Armand. “Kakekmu.”
Aku mengepalkan tangan.
“Dia sengaja datang ke terminal?”
Armand mengangguk.
“Beberapa minggu terakhir kami mendapat informasi bahwa Ratna Prasetyo masih tinggal di Bandung. Ayah tidak ingin datang dengan pengawal. Dia ingin mencari sendiri.”
“Dengan berpura-pura miskin?”
“Bukan untuk mengujimu,” kata Helena cepat.
Aku menatap mereka tajam.
“Kelihatannya persis seperti ujian.”
Tidak ada yang membantah.
Aku mengambil jaket.
“Aku mau menemui dia.”
Ibu memegang tanganku.
“Damar.”
“Aku cuma mau mendengar dari dia.”
Rumah sakit swasta tempat Surya Wijaya dirawat bahkan memiliki lobi yang lebih mewah daripada hotel yang pernah kulihat.
Ketika aku masuk ke kamar observasi, kakek semalam sedang duduk bersandar di ranjang.
Wajahnya masih pucat.
Begitu melihatku, dia tersenyum.
“Kamu datang.”
Aku berdiri di dekat pintu.
“Bapak tahu siapa saya sejak semalam?”
Dia menggeleng.
“Saya curiga.”
“Karena nama saya?”
“Karena wajahmu.”
Surya membuka ponselnya dan menunjukkan foto Raka ketika masih remaja.
Aku seperti sedang melihat diriku sendiri beberapa tahun lebih tua.
“Kenapa Bapak bilang jangan langsung percaya kalau ada orang mencari saya?”
Senyumnya hilang.
“Karena keluarga saya tidak sesederhana yang terlihat.”
Armand yang berdiri di belakangku langsung menegang.
“Ayah.”
“Biarkan saya bicara.”
Surya menatapku.
“Kecelakaan Raka bukan kecelakaan biasa.”
Ruangan mendadak sunyi.
Menurut Surya, sebelum kecelakaan, Raka menemukan penggelapan uang dalam salah satu perusahaan keluarga. Nilainya sangat besar. Dia berencana melaporkannya kepada ayahnya.
Namun sebelum sempat menyerahkan bukti, mobilnya jatuh ke jurang.
Orang yang mengidentifikasi jenazah adalah direktur keuangan perusahaan saat itu.
Namanya Bastian.
Aku menelan ludah.
“Dia masih bekerja untuk keluarga?”
Surya mengangguk.
“Sekarang dia salah satu komisaris.”
Armand langsung mengeluarkan ponsel.
Namun Surya menghentikannya.
“Jangan hubungi siapa pun.”
Dia lalu memandangku.
“Saya pergi sendiri kemarin karena saya mulai curiga ada orang di perusahaan yang tahu kami mencari Raka.”
Aku mencoba memahami semuanya.
“Tapi apa hubungannya dengan saya?”
Surya membuka laci di samping ranjang.
Dia mengeluarkan amplop kecil.
Di dalamnya ada sebuah kunci tua.
“Raka pernah menitipkan ini kepada ibumu.”
Aku menatap Ibu yang baru masuk ke ruangan.
Wajahnya berubah.
“Aku kira sudah hilang.”
Ternyata bertahun-tahun lalu, sebelum kecelakaan, Raka memberikan kunci sebuah safe deposit box kepada Ibu. Namun setelah kematian Raka dan penolakan keluarga Wijaya, Ibu tidak pernah menggunakannya.
“Masih ada?” tanyaku.
Ibu terdiam beberapa detik.
Lalu mengangguk.
“Di dalam dompet lama ayahmu.”
Ayah.
Maksudnya Hendra.
Kami pulang ke kontrakan sore itu.
Aku membuka lemari dan mengambil dompet kulit lusuh milik Pak Hendra.
Di balik lapisan kain yang sudah sobek, terdapat kartu bank lama dengan nomor kotak penyimpanan.
Dua hari kemudian, dengan bantuan pengacara, kotak itu dibuka.
Isinya bukan uang.
Ada sebuah flashdisk, dokumen transaksi, dan sebuah surat.
Surat itu ditujukan kepada Ratna.
Tanganku gemetar saat membacanya.
Raka menulis bahwa jika sesuatu terjadi kepadanya, Ibu harus menyerahkan bukti tersebut kepada Surya. Dia juga menulis satu kalimat yang membuat Ibu menangis.
Jika aku tidak sempat pulang, jangan tunggu aku selamanya.
Bukti dalam flashdisk cukup untuk membuka penyelidikan baru.
Bastian ditangkap beberapa minggu kemudian.
Namun kejutan terbesar muncul saat polisi memeriksa jaringan lama yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.
Raka ternyata selamat.
Dia ditemukan oleh warga setelah mobilnya jatuh ke jurang, tetapi mengalami cedera kepala berat dan kehilangan ingatan. Seorang sopir ambulans yang telah disuap membawa korban lain sebagai pengganti.
Raka kemudian hidup bertahun-tahun dengan identitas berbeda di sebuah kota kecil di Jawa Tengah.
Ketika polisi akhirnya menemukannya, aku tidak langsung ikut.
Aku takut.
Bagaimana kalau dia tidak mengingat Ibu?
Bagaimana kalau dia tidak menerimaku?
Namun sebulan kemudian, aku berdiri di halaman sebuah rumah sederhana di Salatiga.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun keluar.
Rambutnya mulai beruban.
Dia menatapku.
Aku menatapnya.
Tidak diperlukan tes DNA untuk melihat kemiripan kami.
Dia tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.
Lalu matanya tertuju kepada Ibu.
“Ratna?”
Ibu langsung menutup mulut.
Raka berjalan perlahan mendekatinya.
“Aku selalu melihat wajahmu dalam mimpi,” katanya.
Ibu menangis.
Aku berdiri beberapa meter dari mereka, merasa seperti orang asing dalam kisah hidupku sendiri.
Kemudian Raka menatapku.
“Damar?”
Aku mengangguk.
Dia tidak langsung memelukku.
Aku bersyukur untuk itu.
Dia hanya mengulurkan tangan.
“Kalau kamu mengizinkan, saya ingin mengenal kamu.”
Aku menjabat tangannya.
“Pelan-pelan saja.”
Dia tersenyum.
“Pelan-pelan.”
Beberapa bulan berikutnya, keluarga Wijaya ingin membawaku masuk ke perusahaan.
Armand bahkan menawarkan apartemen dan biaya kuliah.
Aku menolak apartemen.
Aku menerima biaya kuliah hanya setelah Ibu memaksaku.
Aku tetap bekerja di Warung Sari Rasa setiap akhir pekan.
Suatu sore, Surya datang ke warung.
Kali ini dia memakai kemeja biasa, tetapi jelas bukan penyamaran.
Bu Reni hampir menjatuhkan nampan ketika tahu siapa dia.
Surya duduk di meja plastik dekat jendela.
Aku membawakan nasi bungkus.
Dia tertawa.
“Berapa?”
“Gratis.”
“Jangan. Saya pernah menerima gratis sekali. Akibatnya hidup satu keluarga jadi berantakan.”
Aku ikut tertawa.
Lalu dia mengeluarkan sebuah amplop.
Aku langsung menggeleng.
“Kalau uang, saya tidak mau.”
“Bukan.”
Di dalamnya terdapat foto lama.
Pak Hendra sedang menggendongku ketika masih bayi.
Di belakang foto ada tulisan tangan.
Aku mengenali tulisan itu.
Tulisan Ayah.
Kalau suatu hari Damar mengetahui siapa ayah kandungnya, jangan biarkan dia merasa bahwa saya kehilangan posisi sebagai ayahnya. Saya tidak pernah memiliki darah yang sama dengannya, tetapi sejak pertama kali dia menggenggam jari saya, saya sudah menjadi ayahnya.
Mataku panas.
“Bapak dapat dari mana?”
Surya tersenyum.
“Ibumu memberikannya kepada saya.”
Aku memandangi foto itu lama.
Selama berbulan-bulan aku sibuk mencari tahu siapa ayah kandungku sampai hampir lupa bahwa sebenarnya aku tidak pernah kehilangan seorang ayah.
Aku memiliki dua.
Satu memberiku kehidupan.
Satu lagi mengajariku bagaimana menjalani kehidupan itu.
Surya berdiri hendak pergi, tetapi sebelum keluar dia menoleh.
“Damar.”
“Ya?”
“Kenapa malam itu kamu memberikan makananmu kepada saya?”
Aku mengangkat bahu.
“Karena Bapak lapar.”
“Kamu bahkan tidak tahu siapa saya.”
“Itulah alasannya.”
Dia mengerutkan dahi.
Aku tersenyum.
“Kalau saya harus tahu seseorang kaya atau penting dulu sebelum menolongnya, berarti saya bukan sedang menolong orang. Saya sedang mencari keuntungan.”
Surya terdiam cukup lama.
Kemudian dia tersenyum.
Malam itu, setelah warung tutup, aku membawa tiga nasi bungkus pulang.
Satu untuk Ibu.
Satu untuk adikku.
Satu untukku.
Aku makan di lantai kontrakan yang sama, di rumah kecil yang masih kami tinggali meskipun sekarang aku tahu keluargaku memiliki gedung, hotel, dan perusahaan bernilai miliaran rupiah.
Aneh sekali.
Satu nasi bungkus yang kulepaskan saat aku sendiri kelaparan ternyata mengembalikan kepadaku sebuah keluarga yang hilang selama tujuh belas tahun.
Namun hal terpenting yang kudapat bukan kekayaan keluarga Wijaya.
Melainkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini bahkan tidak pernah terpikir untuk kutanyakan.
Darah memang bisa menjelaskan dari mana kita berasal.
Tetapi cinta, pilihan, dan kebaikanlah yang menentukan siapa keluarga kita sebenarnya.
