“ARIF PRATAMA — PEMILIK SUBKONTRAKTOR.”
Nama itu membuat suara angin di sekelilingku seolah menghilang.
Selama beberapa detik, aku lupa bahwa tubuhku masih tergantung di luar lantai 38.
Arif adalah kakakku sendiri.
Orang yang membantuku masuk ke perusahaan ini lima tahun lalu. Orang yang berkali-kali mengatakan bahwa keselamatan pekerja adalah hal yang tidak boleh ditawar. Orang yang setiap Lebaran duduk di rumah Ibu sambil menasihatiku agar jangan mengambil risiko demi pekerjaan.

Dan sekarang namanya tercetak di dokumen yang menyetujui penggantian pengait gondola.
“Raka!”
Teriakan Bayu mengembalikanku ke kenyataan.
Tali cadangan di atas kepalaku kembali bergesekan dengan besi.
Krek.
Tubuhku turun beberapa sentimeter.
“Jangan lihat ponsel! Pegang tali saya!”
Bayu menjulurkan tali penyelamat lebih jauh. Aku mencoba mengayunkan tubuh mendekatinya, tetapi angin dari sela gedung malah mendorongku menjauh.
“Sekali lagi!” teriaknya.
Aku menarik napas dan menunggu tiupan angin berikutnya. Ketika tubuhku terdorong ke arah kaca, aku mengayun dengan seluruh tenaga.
Tanganku menangkap ujung tali.
“Dapat!”
Bayu langsung menarik.
Security dan dua staf hotel ikut membantu dari dalam.
Belum sempat aku mengikatkan tali itu ke sabuk pengaman, radio di dadaku kembali berbunyi.
“Cabut kartu memorinya. Jangan matikan sistem dulu.”
Suara laki-laki tadi.
Bayu membeku.
“Kartu memori apa?”
Aku menatapnya.
“Panel winch?”
Wajah Bayu berubah.
“Bukan cuma panel.”
Dia meraih radio dari pinggangku dan menekan tombol bicara.
“Siapa ini?”
Tidak ada jawaban.
Bayu menatapku dengan mata tajam.
“Gondola model ini punya data logger. Semua beban, rem, alarm, bahkan perintah manual tersimpan di kartu memori.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Kalau kartunya dicabut?”
“Bukti bahwa sistem sudah memberi peringatan sebelum kamu turun bisa hilang.”
Dari belakang Bayu, Mira berteriak.
“Security rooftop bilang mereka tidak bisa masuk. Pintu dikunci dari dalam!”
Bayu langsung mengambil keputusan.
“Tarik Raka dulu!”
Tali penyelamat dikaitkan ke sabukku. Mereka menarik perlahan sementara aku mendorong tubuh menggunakan kaki ke kaca.
Tiba-tiba tali cadangan di atas kepalaku putus.
Suara letusannya kecil.
Tapi aku tahu persis artinya.
Tubuhku jatuh.
Aku hanya sempat berteriak sebelum tali Bayu menegang keras.
Pinggangku seperti hampir patah.
Bayu terhempas ke lantai, tetapi pilar tempat talinya terikat menahan kami.
“Tarik!”
Security dan staf hotel menarik sekuat tenaga.
Tanganku meraih kusen pintu servis.
Bayu menangkap pergelangan tanganku.
Beberapa detik kemudian tubuhku terseret masuk.
Aku jatuh di lantai.
Tidak ada yang bicara.
Mira menangis sambil menutup mulut.
Aku sendiri hanya menatap langit-langit, mencoba memahami kenyataan bahwa satu menit sebelumnya aku hampir jatuh dari lantai 38.
Lalu Bayu berkata pelan.
“Kalau mau hidup setelah ini, kita harus naik ke rooftop sekarang.”
Kakiku gemetar ketika berdiri, tetapi aku mengangguk.
Kami naik menggunakan tangga darurat karena akses lift ke rooftop sudah dinonaktifkan.
Dalam perjalanan, aku menelepon Nisa.
Dia mengangkat pada dering pertama.
“Raka?”
Suara tangisnya membuat dadaku sesak.
“Aku selamat.”
Nisa langsung terisak.
Aku menutup mata sebentar.
“Dengar. Dokumen yang kamu kirim itu dari siapa?”
“Aku tidak tahu. Tadi pagi ada amplop di depan rumah. Tidak ada nama pengirim.”
“Arif tahu?”
Nisa terdiam.
“Aku menelepon Mas Arif setelah kamu kirim foto pengait tadi.”
Langkahku berhenti.
“Dia bilang apa?”
“Dia menyuruhku jangan bicara dengan siapa pun.”
Darahku mendidih.
“Terus?”
“Lalu dia bilang dia sedang menuju hotel.”
Aku memandang Bayu.
“Arif ke sini.”
Bayu tidak terlihat terkejut.
Justru itulah yang membuatku semakin takut.
“Kamu sudah tahu sesuatu?”
Bayu terus menaiki tangga.
“Tiga bulan lalu aku dipecat bukan cuma karena menolak tanda tangan laporan.”
“Apa maksudmu?”
“Aku menemukan pembelian komponen gondola bekas yang dicatat sebagai barang baru. Nomor seri diubah. Sertifikat inspeksinya dipalsukan.”
Aku teringat pesan Dedi.
Hapus. Itu barang pengganti.
“Siapa yang melakukannya?”
Bayu menatapku.
“Perusahaan kakakmu yang memasok barang.”
Aku berhenti.
“Arif tidak mungkin sengaja memasang barang rusak.”
“Aku tidak bilang dia sengaja.”
“Namanya ada di persetujuan.”
“Karena itu kita harus menemukan data logger sebelum menuduh siapa pun.”
Kami sampai di pintu rooftop.
Dari balik pintu terdengar suara benda logam dibanting.
Security mencoba kartu akses.
Ditolak.
Bayu melihat engsel.
“Pintunya terbuka ke luar.”
Salah satu petugas mengambil linggis dari lemari pemadam.
Butuh hampir dua menit untuk memaksa pintu terbuka.
Ketika akhirnya terbuka, kami langsung mencium bau plastik terbakar.
Dedi berdiri di depan panel gondola.
Tangannya memegang kartu memori kecil.
Di lantai ada laptop.
“Jangan bergerak!” teriak security.
Dedi menoleh.
Wajahnya tidak panik.
Ia justru terlihat lelah.
“Raka,” katanya, “kamu seharusnya tidak naik ke sini.”
Aku maju.
“Kamu mengirim aku turun pakai unit rusak.”
“Aku tidak tahu talinya akan putus.”
“Tapi kamu tahu remnya gagal.”
Dedi terdiam.
Bayu menunjuk kartu memori di tangannya.
“Taruh.”
Dedi tersenyum pahit.
“Kalian pikir kartu ini akan menyelesaikan semuanya?”
“Taruh!”
Dedi mengangkat kedua tangan.
Lalu suara lain muncul dari belakang rumah mesin.
“Sudah, Ded.”
Aku mengenali suara itu.
Arif keluar perlahan.
Kemejanya basah oleh keringat.
Aku merasa lebih sakit melihat wajahnya daripada ketika sabuk pengaman menghantam pinggangku.
“Mas.”
Arif menatapku.
Untuk sesaat dia tidak tampak seperti pengusaha yang selalu percaya diri.
Dia tampak seperti kakakku saat kami masih kecil dan ketahuan memecahkan kaca rumah tetangga.
Takut.
“Raka, dengarkan aku.”
“Namamu ada di dokumen.”
“Aku tahu.”
“Kamu menyetujui pengait itu?”
Arif mengangguk.
Aku melangkah mendekat.
“Barang bekas?”
Dia tidak menjawab.
Aku mendorong dadanya.
“Jawab!”
“Iya.”
Tanganku mengepal.
Security mendekat, tetapi Bayu menahan mereka.
Arif menundukkan kepala.
“Perusahaanku hampir bangkrut enam bulan lalu. Ada proyek yang tidak dibayar. Bank mengejar cicilan. Aku punya empat puluh karyawan.”
“Jadi kamu beli komponen bekas?”
“Aku beli dari pemasok yang bilang barang itu rekondisi bersertifikat.”
“Tapi kamu tanda tangan sebagai barang baru.”
Arif memejamkan mata.
“Iya.”
Aku tertawa getir.
“Hampir mati aku, Mas.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya melihat jalan dari lantai 38 sambil menunggu tali terakhir putus.”
Arif tidak mampu menatapku.
Dedi tiba-tiba berkata, “Jangan pura-pura jadi korban, Rif.”
Kami semua menoleh.
Dedi melempar kartu memori ke lantai.
“Dia tahu semuanya.”
Arif langsung menatapnya.
“Diam.”
“Kenapa? Supaya kamu kelihatan seperti pengusaha yang cuma salah ambil keputusan?”
Dedi menunjukku.
“Kakakmu sudah tahu gondola itu bermasalah tiga minggu lalu.”
Dadaku terasa kosong.
Aku menatap Arif.
“Benar?”
Arif tidak menjawab.
Dedi tertawa.
“Dia yang minta laporan inspeksi ditunda sampai audit hotel selesai.”
“Bohong,” kata Arif.
Bayu mengambil laptop di lantai.
“Kalau begitu buka email perusahaan.”
Arif tetap diam.
Bayu menatapku.
“Aku masih punya salinannya.”
Dia membuka ponsel.
Tiga bulan lalu, sebelum dipecat, Bayu rupanya meneruskan beberapa email ke akun pribadinya.
Salah satunya dari Arif kepada Dedi.
Tunda penggantian unit sampai pembayaran termin berikutnya. Jangan keluarkan gondola dari operasional kecuali ada kegagalan langsung.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
“Mas…”
Arif akhirnya berkata.
“Aku tidak pernah tahu kamu yang akan memakai unit itu.”
Seolah kalimat itu bisa membuat semuanya lebih baik.
Aku mundur.
“Jadi kalau orang lain yang tergantung di luar gedung, tidak apa-apa?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Arif mengusap wajah.
“Aku hanya butuh dua minggu. Setelah pembayaran proyek masuk, semua unit akan kuganti.”
“Keselamatan orang tidak bisa dicicil dua minggu.”
Arif terdiam.
Dedi mendadak tertawa kecil.
“Itu kalimat yang bagus.”
Bayu menoleh curiga.
Dedi menunjuk laptop.
“Tapi kalian belum tahu bagian terbaiknya.”
Dia menekan tombol di laptop.
Di layar muncul rekaman data gondola.
Alarm beban.
Peringatan rem.
Kesalahan sensor.
Semua tercatat bahkan sebelum aku mulai turun.
Lalu muncul satu baris terakhir.
MANUAL SAFETY OVERRIDE ACTIVATED 09:16.
Bayu menatap waktu di ponselnya.
“Raka turun jam sembilan tujuh belas.”
Aku merasa tengkukku dingin.
Seseorang bukan hanya membiarkan gondola rusak digunakan.
Seseorang mematikan sistem yang seharusnya mencegah gondola beroperasi.
“Siapa yang mengaktifkan override?” tanyaku.
Dedi menunjuk kolom operator.
ID pengguna muncul di layar.
AP01.
Arif Pratama.
Aku menatap kakakku.
Wajah Arif pucat.
“Bukan aku.”
“ID kamu.”
“Aku tidak melakukan itu.”
Dedi menyeringai.
“Tentu saja kamu akan bilang begitu.”
Tiba-tiba Bayu mengambil kartu memori dari lantai dan memasukkannya kembali ke panel.
“Logger mencatat ID. Sistem akses rooftop mencatat kartu.”
Mira yang baru tiba bersama kepala security segera membuka aplikasi control room.
“Kartu yang dipakai pukul sembilan enam belas…”
Dia berhenti.
“Bukan kartu Pak Arif.”
Dedi langsung kehilangan senyumnya.
“Siapa?” tanyaku.
Mira memandangnya.
“Kartu supervisor lapangan. Atas nama Dedi Santoso.”
Semua orang diam.
Dedi mundur satu langkah.
Bayu langsung mengerti.
“Kamu pakai akun Arif untuk override.”
Dedi berbalik hendak lari.
Security menangkapnya sebelum mencapai pintu.
Dedi meronta.
“Lepaskan!”
“Kamu sengaja mengirim aku turun?” teriakku.
Dedi berhenti melawan.
Dia menatapku dengan kebencian.
“Aku cuma butuh satu kecelakaan.”
Kalimat itu membuat suasana rooftop membeku.
“Audit internal akan menyalahkan pemasok. Kontrak Arif dibatalkan. Perusahaannya jatuh.”
“Kenapa?”
Dedi menatap Arif.
“Karena selama tiga tahun dia mengambil semua proyek yang seharusnya jadi milikku.”
Arif memandangnya tak percaya.
Dedi tertawa getir.
“Kamu pikir aku akan terus jadi supervisor sementara kamu jadi pemilik perusahaan?”
Jadi kecelakaan itu memang dirancang.
Tetapi bukan seluruhnya.
Dedi memanfaatkan kesalahan Arif.
Keserakahan satu orang menjadi senjata bagi dendam orang lain.
Polisi datang tidak lama kemudian.
Data logger, laptop, radio, dokumen inspeksi, dan rekaman akses rooftop diamankan.
Dedi dibawa pergi dengan tangan diborgol.
Arif juga ikut dibawa untuk diperiksa.
Sebelum masuk lift, dia berhenti di depanku.
“Aku minta maaf.”
Aku menatap kakakku cukup lama.
“Aku percaya Mas sejak kecil.”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku tahu.”
“Itulah yang paling sulit diperbaiki.”
Beberapa minggu kemudian penyelidikan menemukan puluhan komponen tidak sesuai standar di beberapa proyek lain.
Izin perusahaan Arif dibekukan.
Beberapa pejabat operasional ikut diperiksa.
Aku sendiri tidak langsung kembali bekerja.
Setiap kali berdiri dekat jendela tinggi, telapak tanganku masih berkeringat.
Kadang aku terbangun malam-malam karena merasa tubuhku kembali jatuh.
Nisa tidak pernah memaksaku kembali menjadi teknisi gondola.
Bayu justru datang suatu sore ke rumah.
Dia membawa sebuah amplop.
“Apa ini?”
“Surat perekrutan.”
Aku menggeleng.
“Belum siap.”
“Bukan untuk kerja di ketinggian.”
Dia tersenyum.
Sebuah perusahaan sertifikasi keselamatan ingin mempekerjakanku sebagai auditor lapangan.
Aku membuka surat itu.
Di bagian bawah ada nama orang yang merekomendasikanku.
Mira.
Perempuan yang pertama kali melihatku dari balik kaca lantai 38.
Enam bulan kemudian aku kembali ke hotel itu.
Bukan menggunakan gondola.
Aku datang membawa clipboard dan kartu auditor.
Ketika berdiri di rooftop, aku menemukan unit gondola baru terpasang.
Semua komponen memiliki nomor seri yang cocok dengan dokumen.
Bayu berdiri di sampingku.
“Masih takut?”
Aku melihat ke tepi gedung.
Jakarta membentang jauh di bawah kami.
“Iya.”
“Bagus.”
Aku menoleh.
Bayu tersenyum tipis.
“Orang yang sama sekali tidak takut bekerja di ketinggian justru biasanya paling berbahaya.”
Aku tertawa kecil.
Ponselku bergetar.
Pesan dari nomor yang sudah berbulan-bulan tidak menghubungiku.
Arif.
Sidangnya baru selesai pagi itu.
Dia mengaku bersalah karena memalsukan dokumen dan mengabaikan laporan keselamatan.
Pesannya hanya satu kalimat.
Kalau waktu bisa diulang, aku akan memilih kehilangan perusahaan daripada hampir kehilangan adikku.
Aku membaca pesan itu lama.
Kemudian kusimpan ponsel.
Aku tidak membalas.
Belum.
Mungkin suatu hari nanti.
Sebelum meninggalkan rooftop, aku menempelkan stiker inspeksi baru di panel gondola.
LAYAK OPERASI.
Tanganku berhenti sesaat.
Aku teringat tali yang putus, suara Dedi di radio, wajah Mira di balik kaca, tangan Bayu yang nyaris tak bisa menjangkaunku, dan nama kakakku pada dokumen yang hampir menjadi surat kematianku.
Hari itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Kecelakaan besar jarang dimulai ketika tali putus.
Ia dimulai jauh sebelumnya.
Saat seseorang melihat satu kesalahan kecil lalu memilih diam.
Saat seseorang menandatangani dokumen yang ia tahu tidak benar.
Saat keuntungan dianggap lebih penting daripada keselamatan.
Saat semua orang percaya masih ada waktu untuk memperbaikinya nanti.
Aku menekan stiker itu sampai benar-benar melekat.
Karena di lantai 38, aku belajar dengan cara paling mengerikan bahwa kata nanti kadang datang satu detik setelah semuanya terlambat.
