Pesan dari nomor tak dikenal itu membuat rasa sakit di perutku seolah menghilang sesaat.
Aku menatap layar sampai mataku perih.
Jangan percaya pada status pernikahan Anda. Cek nama istri sah Damar di halaman kedua.
Tanganku gemetar saat membuka foto berikutnya yang baru saja masuk.
Itu hasil pemindaian sebuah dokumen pencatatan perkawinan. Pada halaman pertama tertera nama Damar Prasetya. Aku menggeser layar ke bawah.
Lalu napasku tercekat.

Nama pasangan yang tercantum bukan Sinta Maharani.
Melainkan Vanessa Kirana.
Tanggal pernikahan mereka tercatat hampir sebelas tahun lalu.
Sedangkan aku menikahi Damar delapan tahun lalu.
Aku menutup mulut agar tidak berteriak.
Selama delapan tahun aku hidup dengan seorang laki-laki yang ternyata telah memiliki istri. Selama delapan tahun pula dia menikmati perusahaan yang diwariskan ayahku, rumah yang kubeli, bahkan kepercayaan keluargaku.
Kontraksi kembali datang.
Kali ini jauh lebih kuat.
Aku membungkuk sambil mencengkeram meja.
Aku harus keluar.
Bukan hanya untuk diriku.
Aku harus menyelamatkan bayi yang selama sembilan bulan ini kutunggu.
Aku kembali memeriksa CCTV. Damar, Vanessa, dan ibu mertuaku masih berada di ruang administrasi.
Vanessa terlihat mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya.
Dia menyerahkannya kepada Damar.
Damar membukanya.
Beberapa ampul obat berada di dalam.
Darahku terasa dingin.
Aku segera memotret layar.
Lalu sebuah pesan lain masuk.
Jangan minum atau menerima suntikan apa pun dari dokter Anda.
Aku mengetik cepat.
Siapa Anda?
Jawabannya datang beberapa detik kemudian.
Orang yang terlambat menyadari apa yang mereka lakukan.
Sebelum aku sempat bertanya lagi, layar komputer mendadak berubah.
Kamera lorong memperlihatkan Damar berjalan menuju tangga bawah tanah.
Dia kembali.
Aku panik.
Aku melihat sekeliling.
Tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Di sisi belakang ruangan terdapat pintu kecil bertuliskan RUANG SERVER. Aku menarik gagangnya.
Terkunci.
Kontraksi lain menghantam.
Aku hampir jatuh.
Kemudian terdengar bunyi kunci dari luar.
Aku buru-buru memasukkan ponsel ke balik bajuku.
Pintu terbuka.
Damar berdiri di sana.
Di tangannya ada botol air mineral.
“Kamu baik-baik saja?”
Aku hampir ingin menamparnya.
Tapi aku menahan diri.
“Aku kontraksi.”
Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan seperti seorang suami yang istrinya akan melahirkan.
Justru ada sesuatu yang menyerupai kelegaan.
“Minum dulu.”
Dia menyerahkan botol itu.
Segelnya sudah terbuka.
Aku menatapnya.
“Kenapa dibuka?”
“Aku tadi minum sedikit.”
“Antar aku ke rumah sakit.”
“Nanti.”
“Damar, aku mau melahirkan.”
Dia mendekat.
“Aku tahu.”
Dua kata itu membuat bulu kudukku berdiri.
Aku sengaja menjatuhkan botol tersebut.
Air tumpah ke lantai.
Wajah Damar langsung berubah.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Maaf, tanganku gemetar.”
Dia mengumpat pelan.
Saat dia membungkuk mengambil botol, aku melihat map cokelat yang diselipkan di bawah lengannya.
Aku mengenali map yang tadi dibawa ibu mertuaku.
Surat kematianku ada di dalamnya.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”
Damar terdiam.
Kemudian menutup pintu.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat wajahnya tanpa topeng.
“Aku ingin semuanya selesai.”
“Apa yang selesai?”
“Masalah kita.”
Aku tertawa kecil meskipun air mata mulai mengalir.
“Jadi aku masalah?”
“Kamu tidak akan mengerti.”
“Coba jelaskan.”
Dia mengusap wajahnya.
“Perusahaan itu seharusnya sudah menjadi milikku sejak ayahmu meninggal.”
“Perusahaan itu milikku.”
“Itulah masalahnya.”
Aku akhirnya memahami semuanya.
Bukan Vanessa.
Bukan perselingkuhan.
Ini tentang perusahaan.
“Kalau aku mati,” kataku perlahan, “sahamku diwariskan kepada anakku.”
Damar tersenyum tipis.
“Kalau anakmu lahir hidup.”
Jantungku seperti berhenti.
Aku mundur.
“Anakku?”
Dia tidak menjawab.
Tetapi tatapan matanya sudah cukup.
Aku melindungi perutku dengan kedua tangan.
“Kamu gila.”
“Vanessa sedang hamil tujuh bulan. Aku sudah punya keluarga.”
“Jadi pembayaran rumah sakit itu untuk dia?”
“Uang itu juga hasil kerja kerasku.”
“Itu uang perusahaan ayahku!”
Damar tiba-tiba membentak.
“Delapan tahun aku bekerja untuk keluarga kalian! Tapi sampai sekarang semua keputusan harus memakai tanda tanganmu!”
Aku menatap laki-laki yang pernah tidur di sampingku setiap malam.
Aku sama sekali tidak mengenalnya.
“Surat kematian itu untuk apa?”
Dia membeku.
Aku melanjutkan.
“Aku melihatnya dari CCTV.”
Wajahnya langsung pucat.
Dia menoleh ke komputer.
Kesalahan kecil itu memberiku kesempatan.
Aku mengambil kursi dan mendorongnya sekuat tenaga.
Damar kehilangan keseimbangan.
Aku berlari keluar.
“Sinta!”
Aku menaiki tangga.
Perutku terasa seperti terbelah.
Aku baru mencapai lantai atas ketika Vanessa muncul dari ujung lorong.
“Sinta?”
Dia terlihat terkejut melihatku.
Aku berhenti.
Ibu mertuaku berdiri di belakangnya.
“Pegang dia!” teriak Damar dari tangga.
Vanessa maju.
Aku mengambil pemadam api dari dinding dan mengarahkannya kepada mereka.
“Jangan mendekat!”
Vanessa mundur.
“Kamu salah paham.”
“Suamimu sudah menjelaskan semuanya.”
Wajah Vanessa berubah.
Ibu mertuaku justru berkata dingin, “Seharusnya kamu tidak pernah menikah dengan Damar.”
Aku menatapnya.
“Ibu tahu?”
“Vanessa adalah istri pertama anak saya.”
“Lalu kenapa Ibu datang ke pernikahan kami?”
Dia tidak menjawab.
Saat itulah aku menyadari sesuatu yang lebih menjijikkan daripada pengkhianatan Damar.
Seluruh keluarganya mengetahui kebohongan itu.
Aku hanyalah jalan menuju perusahaan ayahku.
Tiba-tiba terdengar sirene dari luar gedung.
Damar berhenti.
Vanessa menoleh ke jendela.
Aku hampir menangis karena lega.
Mira.
Pesanku berhasil.
Namun Damar langsung menarik lenganku.
“Kita pergi dari belakang.”
Aku menjerit.
Kontraksi datang bersamaan.
Kakiku kehilangan tenaga.
Aku jatuh berlutut.
Lalu sesuatu yang hangat mengalir di pahaku.
Ketubanku pecah.
Damar melepaskan tanganku.
Untuk pertama kalinya dia terlihat benar-benar panik.
Pintu utama gedung didobrak.
Beberapa polisi masuk bersama Mira.
“Sinta!”
Aku belum pernah merasa begitu lega melihat wajah seseorang.
Mira berlari ke arahku.
Di belakang polisi muncul seorang laki-laki mengenakan kemeja putih.
Aku mengenalnya.
Dokter kandungku.
Dokter yang namanya tercantum pada surat kematian itu.
Aku langsung mundur.
“Jangan sentuh aku!”
Dia berhenti.
“Sinta, dengarkan saya.”
“Anda menandatangani surat kematian saya!”
Wajah dokter itu berubah.
“Apa?”
Damar tiba-tiba mencoba berlari.
Polisi langsung menangkapnya.
Salah satu petugas mengambil map cokelat dari tangannya.
Dokter itu melihat dokumen tersebut.
“Saya tidak pernah menandatangani ini.”
“Tapi itu tanda tangan Anda.”
“Dipalsukan.”
Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah percakapan.
Tiga minggu sebelumnya, Damar pernah meminta contoh surat keterangan medis dengan alasan untuk pengurusan asuransi istrinya.
Dokter menolak.
Tetapi kop surat dan contoh tanda tangannya rupanya pernah diambil dari dokumen pemeriksaan yang tersimpan di bagian administrasi klinik.
“Lalu siapa yang mengirim pesan kepada saya?” tanyaku.
Seorang perempuan keluar dari belakang Mira.
Aku mengenalnya.
Rani, staf keuangan perusahaan kami.
Wajahnya pucat.
“Saya.”
Aku terdiam.
Rani mulai menangis.
“Maaf, Bu. Saya baru berani sekarang.”
Ternyata selama berbulan-bulan Damar memerintahkannya memindahkan uang perusahaan melalui berbagai vendor fiktif. PT Lestari Prima Medika hanyalah transaksi terakhir yang membuat Rani curiga.
Ketika menelusuri dokumen pajak Damar untuk audit internal, dia menemukan data perkawinan lama dengan Vanessa.
Kemudian dua hari sebelumnya, Rani mendengar Damar berbicara dengan ibunya tentang kecelakaan yang harus terlihat seperti komplikasi persalinan.
Rani diam-diam mengikuti mereka dan memotret Damar bersama Vanessa.
“Ampul tadi apa?” tanyaku.
Polisi menemukan kotak tersebut.
Dokter memeriksanya sekilas lalu berkata bahwa obat itu tidak seharusnya diberikan tanpa indikasi medis dan pengawasan ketat.
Aku tidak ingin tahu lebih jauh.
Yang kutahu, rencana mereka tidak pernah dimaksudkan untuk memberiku kesempatan keluar hidup-hidup.
Ambulans tiba beberapa menit kemudian.
Aku dibawa ke rumah sakit dengan Mira menggenggam tanganku.
Persalinanku berlangsung hampir tujuh jam.
Saat tangisan bayi akhirnya memenuhi ruangan, aku ikut menangis.
Putriku lahir sehat.
Aku menamainya Kirana Ayu Maharani.
Bukan karena Vanessa.
Kirana berarti cahaya.
Karena pada hari paling gelap dalam hidupku, aku akhirnya melihat semuanya dengan terang.
Damar ditahan.
Penyelidikan kemudian membuka sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan.
Pernikahanku dengan Damar memang tercatat secara administratif, tetapi dokumen yang digunakannya menyatakan dirinya belum pernah menikah.
Pernikahan sebelumnya dengan Vanessa ternyata tidak pernah diceraikan secara sah.
Kasusnya berkembang menjadi pemalsuan dokumen, penggelapan dana perusahaan, dan dugaan perencanaan tindak pidana terhadapku.
Ibu Damar ikut diperiksa karena keterlibatannya dalam dokumen palsu.
Vanessa juga tidak bisa lagi bersembunyi di balik alasan bahwa dirinya hanya mengikuti Damar.
Namun kejutan terbesar datang tiga minggu setelah aku melahirkan.
Rani datang ke rumah sakit membawa sebuah amplop.
“Ada sesuatu yang harus Ibu lihat.”
Di dalamnya terdapat salinan dokumen lama perusahaan.
Aku membacanya perlahan.
Ayahku ternyata pernah menyelidiki Damar sebelum kami menikah.
Dia sudah mengetahui keberadaan Vanessa.
Aku menatap Rani.
“Kenapa Ayah tidak pernah memberitahuku?”
Rani menyerahkan selembar surat tulisan tangan.
Tulisan itu milik ayahku.
Sinta, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, berarti aku gagal meyakinkanmu untuk melihat seseorang dari tindakannya, bukan dari kata-katanya.
Aku menangis sebelum selesai membaca.
Ayah memang pernah melarangku menikahi Damar.
Kami bahkan bertengkar hebat.
Saat itu aku mengira ayah hanya tidak menyukai Damar karena berasal dari keluarga sederhana.
Ternyata ayah sedang mencoba melindungiku.
Namun bagian terakhir surat itu membuatku terpaku.
Aku sudah mengubah struktur kepemilikan perusahaan. Jika terjadi sesuatu padamu dalam kondisi mencurigakan, hak kendali tidak akan berpindah kepada pasanganmu ataupun wali anakmu. Seluruh kendali sementara akan jatuh kepada yayasan keluarga sampai anakmu dewasa.
Tanganku menutupi mulut.
Damar tidak pernah tahu.
Seluruh rencananya sejak awal sia-sia.
Bahkan seandainya dia berhasil membunuhku, dia tidak akan mendapatkan perusahaan itu.
Aku memandang putriku yang tertidur di ranjang kecil di sampingku.
Selama bertahun-tahun aku merasa ayah terlalu keras.
Baru setelah dia tiada, aku memahami bahwa beberapa bentuk kasih sayang memang tidak terdengar seperti kasih sayang ketika kita sedang keras kepala.
Enam bulan kemudian aku kembali memasuki kantor perusahaan.
Banyak orang mengira aku akan menjualnya.
Aku tidak melakukannya.
Aku mengangkat Rani menjadi kepala audit internal dan memperbaiki seluruh sistem keuangan yang selama bertahun-tahun dikendalikan Damar.
Satu sore, setelah semua karyawan pulang, aku berdiri di depan foto ayah di ruang rapat.
“Ayah benar,” bisikku.
Aku tersenyum sambil menangis.
“Tapi Ayah juga salah.”
Karena aku tidak lagi menjadi perempuan yang harus diselamatkan ayahnya.
Aku pernah terkunci di ruang bawah tanah dalam keadaan hamil sembilan bulan, sementara laki-laki yang kusebut suami membawa surat kematianku yang sudah disiapkan.
Namun aku keluar dari ruangan itu hidup-hidup.
Aku melahirkan putriku.
Aku merebut kembali perusahaan keluargaku.
Dan aku belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.
Pengkhianatan paling berbahaya bukan datang dari musuh yang berdiri di depan kita.
Ia datang dari orang yang sudah mengetahui letak semua pintu rumah kita.
Karena itu, kepercayaan tidak seharusnya membuat kita menutup mata.
Cinta yang sehat tidak meminta kita menyerahkan seluruh kendali atas hidup kita.
Dan kadang-kadang, ketika seseorang telah menyiapkan surat kematianmu, hal paling mengejutkan yang bisa kau lakukan adalah tetap hidup, berdiri kembali, lalu memastikan dia menyaksikan sendiri bahwa hidupmu ternyata jauh lebih besar daripada rencana yang dibuatnya untuk menghancurkanmu.
