SUAMIKU MENYEMBUNYIKANKU SETELAH PERSALINAN, LALU KELUARGANYA BERSUMPAH AKU TAK PERNAH MELAHIRKAN—SAMPAI KUTEMUKAN ASI MILIKKU BERLABEL NAMA PEREMPUAN MATI.

Sidik telapak kaki bayi itu tercetak jelas dengan tinta biru tua.

Di bawahnya ada tulisan tangan yang membuat napasku seperti terhenti di tenggorokan.

Bayi laki-laki. Kondisi sehat. Dipindahkan pukul 04.37 atas persetujuan wali.

Aku membaca baris berikutnya.

Nama wali: Bagas Adiprana.

Aku mengenal nama itu.

Bagas adalah suami almarhumah Melati.

Pria yang selama tiga tahun terakhir hampir tak pernah disebut di rumah ini.

Aku menatap Rendy.

“Kenapa nama Mas Bagas ada di sini?”

Rendy mengusap wajahnya. “Laras, kasih aku waktu untuk menjelaskan.”

“Waktu?”

Suaraku pecah.

“Sembilan bulan aku membawa anak ini. Semalam aku melahirkannya. Pagi ini kalian mengunciku dan bilang aku tidak pernah melahirkan. Sekarang anakku didaftarkan sebagai anak perempuan yang sudah meninggal. Waktu apa lagi yang kamu butuhkan?”

Bu Mirna berjalan mendekat.

“Kembalikan dokumen itu.”

Aku mundur.

“Di mana anakku?”

“Laras.”

“Di mana anakku?”

Untuk pertama kalinya, Bu Mirna kehilangan ketenangannya.

“Bayi itu bukan milikmu.”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan terasa membeku.

Aku menatapnya tak percaya.

“Apa?”

“Secara hukum, kamu tidak akan bisa membuktikan apa pun.”

Aku memandang Rendy.

Dia menunduk.

Dan saat itulah aku mengerti sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada penculikan.

Suamiku mengetahui semuanya.

Aku meraih ponsel di sakuku.

Bu Mirna langsung bergerak.

“Ambil ponselnya!”

Aku berlari.

Tubuhku belum pulih. Setiap langkah terasa seperti ada sesuatu yang merobek bagian bawah perutku. Namun ketakutan membuat rasa sakit itu seolah tidak berarti.

Aku berhasil mencapai tangga.

Rendy mengejarku.

“Laras, berhenti!”

Aku tidak berhenti.

Aku masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.

Tanganku gemetar saat mencoba membuka video sembilan detik itu.

File tersebut masih tersimpan di folder tersembunyi.

Aku menekan tombol putar.

Suara napasku.

Suara lelaki.

“Begitu bayi keluar, langsung bawa ke ruangan belakang.”

Kemudian suara lain.

“Nama ibunya bagaimana?”

Kali ini aku menaikkan volume.

Ada suara sangat pelan sebelum rekaman berhenti.

“Pakai nama pasien lama.”

Aku mengenali suara pertama itu.

Bagas.

Tiba-tiba terdengar ketukan.

“Laras.”

Rendy.

“Aku akan cerita semuanya.”

Aku diam.

“Kalau aku buka pintu, kamu jangan sentuh aku.”

“Ya.”

Aku membuka pintu sedikit.

Rendy berdiri sendirian.

Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding kemarin.

“Bagas belum pernah menerima kematian Melati,” katanya.

Aku tidak mengerti.

Rendy melanjutkan.

“Tiga tahun lalu, Melati meninggal dalam kecelakaan. Saat itu dia sedang hamil lima bulan.”

Aku pernah mendengar bagian itu.

Kecelakaan di jalan menuju Surabaya. Mobil tergelincir saat hujan.

Melati dan janinnya tidak selamat.

“Setelah itu Bagas berubah,” kata Rendy. “Dia menyalahkan dirinya sendiri. Ibu juga tidak pernah pulih.”

“Lalu apa hubungannya dengan anakku?”

Rendy terdiam cukup lama.

“Rumah ini seharusnya diwariskan kepada keturunan Melati.”

Aku mengerutkan kening.

Ayah Rendy meninggalkan bisnis properti, beberapa vila, dan tanah bernilai puluhan miliar rupiah. Aku tidak pernah ikut campur.

“Dalam wasiat Ayah,” lanjut Rendy, “saham terbesar perusahaan keluarga diberikan kepada anak pertama Melati jika dia lahir hidup. Kalau Melati tidak punya keturunan, saham itu dibagi antara aku dan yayasan keluarga.”

“Melati meninggal tiga tahun lalu.”

“Ada masalah dengan dokumen kematiannya.”

Aku mulai merasa mual.

“Masalah apa?”

“Kehamilan Melati tercatat. Tapi kematian janinnya tidak pernah dilaporkan secara benar.”

Aku menatapnya.

“Jadi kalian memakai anakku untuk membuat seolah-olah anak Melati lahir?”

Rendy tidak menjawab.

Jawaban itu sudah cukup.

Aku menamparnya.

Suara tamparan menggema di kamar.

“Kamu menjual anakmu sendiri?”

“Bukan begitu!”

“Lalu bagaimana?”

Rendy menahan tangisku dengan tatapan yang hampir putus asa.

“Ibu bilang hanya soal administrasi. Setelah urusan warisan selesai, bayi akan dikembalikan kepada kita.”

Aku tertawa getir.

“Kamu percaya?”

Ia tidak menjawab.

Aku mendekat.

“Di mana anakku sekarang?”

“Di klinik.”

“Klinik mana?”

“Laras…”

Aku mencengkeram kerah bajunya.

“Di mana anakku?”

“Di sebuah klinik bersalin swasta di Junrejo.”

Aku langsung mencari tas.

“Kita pergi sekarang.”

Rendy menghalangi pintu.

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Bagas sudah membawa bayi itu.”

Dunia seakan berhenti.

“Ke mana?”

“Aku tidak tahu.”

Aku menatap suamiku beberapa detik.

Kemudian sesuatu berubah di dalam diriku.

Aku tidak menangis lagi.

“Keluar.”

“Laras.”

“Keluar.”

Setelah Rendy pergi, aku duduk di lantai.

Dadaku terasa semakin nyeri karena ASI yang belum dikeluarkan.

Aku memandang kantong ASI berlabel Melati yang tadi kusembunyikan.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

Kalau ASI itu diperah dariku ketika aku tidak sadar, seseorang harus melakukannya berkali-kali.

02.55.

04.10.

05.45.

Berarti setelah melahirkan, aku tidak langsung dibawa ke rumah.

Aku masih berada di suatu tempat sampai pagi.

Aku mengambil tutup botol yang dijatuhkan Wulan.

Di bagian sampingnya ada logo kecil.

Klinik Pratama Bunga Kasih.

Aku memotret logo itu.

Kemudian pintu diketuk pelan.

Wulan masuk.

Wajahnya pucat.

“Mbak harus pergi dari sini.”

“Kamu tahu anakku di mana?”

Air matanya langsung jatuh.

“Maaf.”

Aku berdiri.

“Kamu tahu?”

“Saya ikut waktu Mbak dibawa pulang.”

“Bayiku?”

“Tidak ikut.”

Aku menahan napas.

“Siapa yang membawanya?”

“Pak Bagas.”

“Ke mana?”

Wulan menggeleng.

“Tapi saya dengar Bu Mirna bilang pesawatnya jam sebelas.”

Aku melihat jam.

09.18.

“Pesawat dari mana?”

“Abdul Rachman Saleh.”

Aku bahkan tidak mengambil pakaian.

Wulan memberiku kunci mobil tua yang biasa dipakai untuk belanja.

Aku turun lewat pintu samping.

Namun ketika hampir mencapai garasi, Bu Mirna sudah menunggu.

“Kalau kamu keluar dari rumah ini,” katanya, “pernikahanmu selesai.”

Aku menatapnya.

“Pernikahanku selesai saat anakku kalian ambil.”

“Pikirkan baik-baik. Kamu tidak punya bukti.”

Aku mengeluarkan kantong ASI dari bajuku.

“Ini DNA-ku.”

Wajahnya berubah.

Aku melanjutkan.

“Dan kalau anak itu ditemukan, tubuhnya membawa setengah DNA-ku.”

Bu Mirna mendekat.

“Kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu lawan.”

“Tidak.”

Aku membuka pintu mobil.

“Tapi aku tahu siapa yang sedang kucari.”

Perjalanan menuju bandara terasa seperti berjam-jam meskipun hanya puluhan kilometer.

Aku menelepon polisi begitu mendapat sinyal.

Awalnya petugas mengira aku sedang mengalami kebingungan pascapersalinan.

Sampai aku mengatakan ada dugaan pemalsuan identitas bayi dan menunjukkan foto dokumen yang sempat kuambil.

Aku diminta datang ke kantor polisi.

Aku menolak.

“Kalau saya datang sekarang, orang yang membawa bayi saya keburu terbang.”

Aku terus menuju bandara.

Saat tiba, jam menunjukkan 10.26.

Aku berlari masuk dengan langkah tertatih.

Orang-orang menatapku karena aku masih mengenakan pakaian rumah dan sandal.

Aku mencari wajah Bagas.

Tidak ada.

Aku bertanya kepada petugas.

Tidak mungkin mereka memberikan informasi penumpang begitu saja.

Aku hampir kehilangan harapan ketika melihat seorang lelaki berdiri dekat sebuah kafe.

Rendy.

Aku berhenti.

“Kenapa kamu di sini?”

Ia terengah-engah.

“Aku tahu penerbangannya.”

Aku tidak percaya kepadanya.

“Jakarta. Jam sebelas lewat lima.”

“Bagas di mana?”

“Belum masuk ruang tunggu.”

Kami berpencar.

Beberapa menit kemudian Rendy berteriak memanggil namaku.

Aku berlari.

Di dekat pintu masuk keberangkatan, Bagas berdiri membawa sebuah tas bayi.

Namun tidak ada bayi di tangannya.

Aku langsung menerjangnya.

“Anakku mana?”

Bagas menatapku.

Aneh sekali.

Dia tidak terlihat panik.

Malah tersenyum tipis.

“Kamu akhirnya datang.”

Aku membeku.

“Apa?”

Rendy menarik bahunya.

“Mas, bayinya mana?”

Bagas mengabaikannya.

Ia menatapku.

“Kamu benar-benar mau tahu?”

“Jangan main-main.”

“Bayimu tidak pernah akan kubawa ke Jakarta.”

Aku memandang tas di tangannya.

Kosong.

“Lalu di mana?”

Bagas mengeluarkan ponsel.

Ia menunjukkan sebuah foto.

Seorang bayi laki-laki sedang tidur di inkubator kecil.

Di sebelahnya terlihat seorang perawat.

Aku langsung mengenali gelang di kaki bayi itu.

Nomor registrasinya sama dengan dokumen yang kubaca.

Kakiku hampir lemas.

“Di mana dia?”

“Aman.”

“DI MANA?”

Bagas menarik napas.

“Di rumah sakit.”

Aku hampir menyerangnya.

Namun kemudian ia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

“Aku yang menyuruh Wulan menjatuhkan tutup botol itu.”

Aku terdiam.

Rendy juga.

Bagas melanjutkan.

“Aku yang membiarkan map itu ada di ruang kerja.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku langsung memberitahumu, ibuku akan tahu aku membelot.”

Ibuku.

Bu Mirna.

Aku menatapnya.

“Kamu memanggil Bu Mirna ibu?”

Rendy langsung pucat.

Bagas menutup mata sebentar.

“Karena dia memang ibuku.”

Aku tidak mengerti.

Rendy mundur satu langkah.

“Mas…”

Bagas menatapnya.

“Sudah waktunya kamu tahu juga.”

Ternyata Bagas bukan suami Melati.

Setidaknya bukan hanya itu.

Bagas adalah anak pertama Bu Mirna dari pernikahan yang tidak pernah tercatat, lahir sebelum Bu Mirna menikahi ayah Rendy dan Melati.

Identitasnya disembunyikan selama puluhan tahun.

Saat dewasa, Bagas justru menikahi Melati yang secara hukum tercatat sebagai anak keluarga itu, tetapi sebenarnya bukan saudara kandungnya. Melati adalah anak adopsi yang identitasnya juga ditutup rapat untuk menjaga reputasi keluarga.

Keluarga Adiprana hidup dari rahasia.

Dan setelah Melati meninggal, Bu Mirna menemukan satu cara untuk mempertahankan seluruh aset tetap berada di bawah kendalinya.

Anakku.

“Rencana Ibu bukan mengembalikan bayi itu setelah warisan cair,” kata Bagas.

Rendy menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Dia akan membuat Laras dianggap mengalami keguguran. Bayi itu akan dibesarkan sebagai anak Melati dan aku.”

“Tidak mungkin.”

“Aku punya rekamannya.”

Bagas menunjukkan percakapan dan dokumen yang sudah ia simpan selama berminggu-minggu.

Ia sudah curiga sejak Bu Mirna meminta dirinya menandatangani sejumlah formulir sebelum aku melahirkan.

Karena itu Bagas berpura-pura setuju.

Namun setelah bayiku lahir, ia membawa bayi itu ke rumah sakit lain dan menghubungi seorang pengacara.

Pesawat ke Jakarta hanyalah umpan.

“Kenapa kamu tidak langsung membawanya kepadaku?”

“Karena kondisi bayimu sempat menurun setelah dipindahkan. Dokter meminta observasi.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Bawa aku kepadanya.”

Kami pergi ke sebuah rumah sakit swasta di Malang.

Polisi sudah menunggu di sana.

Bagas ternyata membuat laporan beberapa jam sebelumnya.

Saat aku masuk ke ruang perawatan bayi, seluruh dunia seperti menghilang.

Di balik kaca, ada tubuh kecil terbungkus selimut putih.

Perawat membawanya kepadaku.

Begitu tubuh kecil itu diletakkan di dadaku, ia bergerak pelan.

Aku menangis tanpa suara.

Aku mengenali kehangatan itu.

Inilah yang sempat ditempelkan ke pipiku sebelum aku kehilangan kesadaran.

“Anakku…”

Tangannya yang kecil menggenggam ujung jariku.

Rendy berdiri di pintu.

Ia menangis.

Namun aku tidak memanggilnya mendekat.

Beberapa minggu berikutnya, penyelidikan membuka semuanya.

Dokter yang membantu persalinan ilegal itu ditahan. Beberapa dokumen klinik disita. Bu Mirna diperiksa atas dugaan pemalsuan dokumen, perampasan kemerdekaan, dan keterlibatan dalam upaya pengalihan identitas bayi.

Rendy memberikan kesaksian.

Tetapi kesaksiannya tidak menghapus pilihannya.

Ia tahu rencana itu sejak sebelum aku melahirkan.

Ia hanya tidak tahu bahwa anak kami tidak pernah direncanakan untuk dikembalikan.

Aku mengajukan gugatan cerai.

Enam bulan kemudian, aku tinggal di sebuah rumah kecil di Malang bersama anakku.

Aku menamainya Aruna.

Bukan nama yang disiapkan keluarga Rendy.

Bukan nama yang tertulis dalam dokumen palsu.

Nama yang kupilih sendiri.

Suatu sore, Bagas datang membawa sebuah kotak.

“Aku menemukan ini saat polisi mengosongkan ruang kerja Ibu.”

Di dalamnya terdapat buku harian Melati.

Halaman terakhir ditulis beberapa hari sebelum kecelakaannya.

Aku membaca perlahan.

Tanganku berhenti pada satu kalimat.

Jika suatu hari aku tidak ada, jangan biarkan Ibu menjadikan anak siapa pun sebagai pengganti anakku. Kehilangan tidak memberi kita hak untuk mencuri kehidupan orang lain.

Aku menatap Bagas.

“Dia tahu?”

Bagas mengangguk.

“Melati sudah tahu rencana Ibu bahkan sebelum kecelakaan.”

Aku menutup buku itu.

Di halaman berikutnya terdapat sebuah amplop kecil.

Di dalamnya ada hasil pemeriksaan kandungan Melati.

Aku membaca tanggalnya.

Lalu diagnosisnya.

Janin tidak berkembang.

Kehamilan itu sebenarnya telah berakhir hampir dua minggu sebelum kecelakaan.

Berarti selama tiga tahun, Bu Mirna bukan berusaha memenuhi wasiat demi cucu Melati.

Ia tahu sejak awal tidak pernah ada cucu yang bisa lahir.

Semua kebohongan itu hanya dibuat untuk menguasai warisan.

Aku memandang Aruna yang sedang tertidur.

Untuk pertama kalinya aku memahami betapa berbahayanya sebuah keluarga ketika cinta berubah menjadi kepemilikan.

Mereka pernah mencoba menghapus namaku dari kelahiran anakku.

Mereka mengunci tubuhku, memalsukan ingatanku, bahkan memberi ASI-ku nama seorang perempuan yang telah meninggal.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa mereka palsukan.

Saat Aruna terbangun dan mulai menangis, aku menggendongnya.

Begitu mendengar suaraku, tangisnya perlahan berhenti.

Matanya menatapku.

Tangannya meraih bajuku.

Dan saat itu aku tahu.

Dokumen bisa diganti.

Nama bisa dipalsukan.

Sebuah keluarga bahkan bisa membangun hidupnya di atas kebohongan selama puluhan tahun.

Tetapi tubuh seorang ibu mengingat anaknya.

Dan ternyata, anak itu juga mengingat jalan pulang kepada ibunya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang