MALAM AKU MELAHIRKAN, KAMERA RUMAH SAKIT MEREKAM SESEORANG MASUK KE KAMARKU… TAPI TAK SEORANG PUN MAU MENGAKU TAHU SIAPA DIA

Aku mengenali suara itu bahkan sebelum pintu kamar nomor 12 terbuka sepenuhnya.

“Nadia…”

Lututku hampir kehilangan tenaga.

Suara itu milik ibuku.

Ibuku yang menurut Minh sedang berada hampir enam ratus kilometer dari Jakarta karena sakit dan tidak mungkin datang menemaniku melahirkan.

Aku mendorong pintu perlahan.

Ruangan di baliknya gelap dan pengap. Hanya ada cahaya tipis dari lampu lorong yang masuk melalui celah pintu. Bau antiseptik bercampur dengan aroma obat yang menusuk hidung.

Di sudut ruangan, seseorang duduk di kursi roda.

“Ibu?”

Wanita itu mengangkat wajah.

Aku tercekat.

Benar-benar ibuku.

Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan. Ada bekas selotip infus di punggung tangannya. Bibirnya kering dan matanya merah seperti sudah menangis berjam-jam.

“Nadia…”

Aku berlari memeluknya.

“Ibu kenapa ada di sini? Minh bilang Ibu di Bandung.”

Ibuku menggenggam lenganku kuat-kuat.

“Jangan percaya siapa pun.”

Suara langkah kaki terdengar dari lorong.

Aku menoleh.

Minh berdiri di ambang pintu bersama ibunya dan Dokter Phak.

Wajah Minh langsung berubah ketika melihat ibuku.

“Kalian seharusnya tidak masuk ke sini.”

Aku berdiri di depan kursi roda ibuku.

“Seharusnya?”

Dadaku naik turun menahan marah.

“Kenapa ibuku dikurung di kamar kosong?”

Minh mengusap wajahnya.

“Nadia, keadaan tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

Ia tidak menjawab.

Ibuku menarik ujung bajuku.

“Bayimu masih hidup.”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.

Aku berbalik.

“Di mana?”

Ibuku menatap ibu mertuaku.

“Dia yang membawanya.”

Ibu mertuaku langsung membantah.

“Jangan dengarkan perempuan itu. Dia tidak sehat.”

Ibuku tertawa getir.

“Kalau aku tidak sehat, kenapa kalian harus menyuntikku?”

Dokter Phak menunduk.

Aku menatapnya.

“Apa maksudnya?”

Tak ada jawaban.

Aku merogoh ponsel.

“Aku telepon polisi sekarang.”

Minh bergerak cepat hendak merebut ponselku.

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

“Nadia, dengarkan dulu.”

“Anakku hilang, rekam medis kehamilanku dihapus, ibuku disekap di rumah sakit, dan kalian masih menyuruhku tenang?”

Tanganku menekan nomor darurat.

Namun sebelum panggilan tersambung, Dokter Phak berkata, “Bayi Anda ada di lantai tujuh.”

Aku berhenti.

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

Wajah ibu mertuaku menegang.

“Dokter!”

Dokter Phak melepas kacamatanya.

“Saya tidak sanggup lagi.”

“Di lantai tujuh mana?”

“Ruang VIP 703.”

Aku langsung berlari.

Tubuhku belum pulih. Setiap langkah membuat perutku terasa ditarik dari dalam. Namun rasa sakit itu tidak berarti apa pun dibanding bayangan anakku berada entah di tangan siapa.

Minh mengejarku.

“Nadia!”

Aku terus berlari menuju lift.

Ibu mertuaku berteriak memanggil petugas keamanan.

Saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan menahannya.

Seorang perawat muda masuk.

Aku mengenalinya samar-samar.

Dia perawat yang masuk ke kamarku saat aku pertama kali sadar.

Tanpa berkata apa pun, ia menekan tombol lantai tujuh.

“Kamu yang mengirim pesan?” tanyaku.

Ia mengangguk.

“Nama saya Rani.”

“Kenapa?”

Matanya berkaca-kaca.

“Karena tadi malam saya melihat apa yang mereka lakukan.”

Pintu lift tertutup.

Rani menarik napas.

“Bu Nadia memang melahirkan pukul 02.13. Saya yang membantu membersihkan bayi setelah persalinan.”

Jantungku seperti ditusuk.

“Lalu kenapa semua orang bilang aku tidak melahirkan?”

“Sekitar setengah jam setelah bayi lahir, Dokter Phak dipanggil keluar. Tidak lama kemudian, suami Ibu datang bersama ibunya dan seorang perempuan lain.”

“Perempuan siapa?”

Rani menatapku beberapa detik.

“Saya tidak tahu namanya. Tapi dia datang memakai masker dan topi. Mereka membawa bayi ke lantai tujuh.”

“Kenapa?”

Rani menggeleng.

“Saya hanya mendengar ibu mertua Ibu berkata bahwa semua dokumen harus diubah sebelum pagi.”

Lift berhenti.

Pintu terbuka.

Aku langsung keluar.

Lorong lantai tujuh jauh lebih mewah dibanding lantai tempatku dirawat. Pintu-pintunya besar, dindingnya dilapisi panel kayu, dan hampir tidak ada pasien berlalu-lalang.

Nomor 703 berada di ujung lorong.

Ketika aku mendekat, terdengar tangisan bayi.

Tubuhku gemetar.

Tangisan itu.

Aku mengenalinya.

Aku yakin seorang ibu bisa mengenali tangisan anaknya meski hanya pernah mendengarnya sekali.

Aku membuka pintu tanpa mengetuk.

Di dalam kamar, seorang perempuan berdiri membelakangiku.

Ia sedang menggendong bayi dengan selimut merah muda.

“Berikan anakku.”

Perempuan itu menoleh.

Dunia seolah berhenti.

Aku mengenalnya.

Namanya Maya.

Adik perempuan Minh.

Orang yang selama sembilan bulan kehamilanku nyaris tidak pernah datang ke rumah kami.

Namun yang membuatku terkejut bukan keberadaannya.

Perut Maya tampak besar.

Seperti perempuan yang baru saja melahirkan.

Aku menatap perutnya, lalu bayi di lengannya.

“Apa yang kalian lakukan?”

Maya mulai menangis.

“Nadia…”

“Jangan panggil namaku. Berikan bayiku.”

Aku maju.

Maya mundur.

“Aku tidak bisa.”

Aku merasa darah naik ke kepala.

“Dia anakku.”

“Secara biologis… iya.”

Aku terdiam.

Kalimat itu terasa aneh.

“Secara biologis?”

Saat itulah Minh masuk ke kamar.

Ibunya berada tepat di belakangnya.

“Nadia, cukup.”

Aku berbalik.

“Apa maksud semua ini?”

Minh terlihat seperti seseorang yang akhirnya menyadari tak ada jalan keluar.

Ia menutup pintu.

“Ibu sudah lama ingin punya cucu.”

Aku hampir tertawa.

“Aku baru saja melahirkan cucunya.”

“Bukan seperti itu.”

Ibu mertuaku maju.

“Maya tidak bisa punya anak.”

Aku menatap Maya.

Ia menangis sambil memeluk bayi itu.

“Dua tahun lalu rahim Maya harus diangkat karena tumor,” lanjut ibu mertuaku. “Sejak itu dia depresi.”

“Apa hubungannya denganku?”

Tak ada yang langsung menjawab.

Kemudian Rani berkata dari belakangku, “Karena mereka ingin membuat seolah-olah Bu Maya yang melahirkan bayi itu.”

Aku menatap Minh.

Ia tidak menyangkal.

Aku merasa mual.

“Kalian mencuri anakku… untuk diberikan kepada Maya?”

“Nadia, dengarkan.”

“Tidak ada yang perlu didengar.”

“Aku terpaksa.”

Aku menatap laki-laki yang sudah menjadi suamiku selama lima tahun.

“Terpaksa?”

Minh menghela napas panjang.

“Ibu mengancam akan mencabut semua kepemilikan sahamku di perusahaan keluarga kalau aku tidak membantu Maya.”

Aku tidak percaya apa yang kudengar.

“Jadi anak kita ditukar dengan saham?”

“Bukan begitu.”

“Lalu apa?”

Suara Minh meninggi.

“Semua orang akan tetap mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Maya mendapatkan kesempatan menjadi ibu. Kita masih bisa punya anak lagi.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan.

“Kita masih bisa punya anak lagi?”

Aku bahkan tidak sadar tanganku sudah terangkat sampai telapak tanganku mengenai wajah Minh.

Plak.

Ruangan menjadi hening.

Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

“Dia bukan barang yang bisa diganti.”

Minh memegang pipinya.

Ibu mertuaku mendesis marah.

“Kamu tidak tahu apa yang sudah keluarga ini lakukan untukmu.”

Aku menatapnya.

“Dan Ibu tidak tahu apa yang baru saja Ibu lakukan kepada seorang ibu.”

Maya tiba-tiba terisak keras.

“Cukup!”

Semua orang menoleh kepadanya.

Ia memandang bayi dalam pelukannya.

“Aku tidak mau seperti ini.”

Ibu mertuaku segera mendekat.

“Maya.”

“Aku bilang aku tidak mau.”

Tangisan Maya semakin hebat.

“Memang aku ingin punya anak. Memang aku iri melihat Nadia hamil. Tapi aku tidak pernah meminta Ibu mencuri bayinya.”

Ibu mertuaku membeku.

“Apa?”

Maya menatapku.

“Semalam mereka bilang bayimu meninggal setelah dilahirkan. Mereka bilang ada kesempatan untuk mencatat bayi itu sebagai anakku karena rumah sakit bisa mengubah dokumen.”

Aku terdiam.

“Jadi kamu tidak tahu?”

Maya menggeleng cepat.

“Aku baru tahu bayi ini sehat dan kamu masih hidup ketika mendengar perawat bicara di luar kamar.”

Ibu mertuaku meraih lengannya.

“Kamu terlalu emosional.”

Maya menepis tangan ibunya.

“Yang gila itu Ibu.”

Lalu ia berjalan ke arahku.

Tangannya bergetar ketika menyerahkan bayi itu.

Begitu tubuh mungil itu masuk ke pelukanku, seluruh kekuatan yang sejak tadi membuatku berdiri mendadak runtuh.

Aku menangis.

Wajah kecilnya memerah. Matanya masih tertutup. Bibirnya bergerak pelan mencari sesuatu.

“Sayang…”

Aku mencium keningnya berkali-kali.

“Ada Mama di sini.”

Untuk beberapa detik, aku lupa seluruh ruangan.

Lupa Minh.

Lupa ibu mertuaku.

Lupa bahwa orang-orang yang selama ini kuanggap keluarga baru saja berusaha menghapus keberadaan anakku.

Kemudian suara sirene terdengar dari luar gedung.

Rani tersenyum tipis.

“Saya sudah menghubungi polisi sebelum naik ke sini.”

Wajah Minh berubah pucat.

Ibunya menatap Rani tajam.

“Kamu akan kehilangan pekerjaan.”

Rani menjawab tenang, “Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan hati nurani.”

Tak sampai sepuluh menit kemudian, polisi memasuki kamar.

Pihak rumah sakit mencoba mengatakan bahwa terjadi kesalahan administrasi.

Namun terlalu banyak bukti yang tersisa.

Rekaman CCTV.

Video yang sempat kurekam.

Pesan dari Rani.

Rekam medis cadangan yang disimpan Dokter Phak secara pribadi.

Dan yang paling mengejutkan, ternyata ibuku datang ke rumah sakit sekitar pukul satu dini hari karena curiga setelah Minh melarangnya menjengukku.

Ia melihat ibu mertuaku membawa pakaian bayi dan dokumen palsu menuju ruang administrasi.

Ketika mencoba menanyai mereka, ia justru ditahan di kamar nomor 12 dengan alasan mengalami serangan panik.

Dokter Phak akhirnya mengakui semuanya.

Ia menerima uang dalam jumlah besar dari keluarga Minh untuk mengubah catatan persalinan dan membuat dokumen seolah-olah Maya menjalani persalinan secara tertutup.

“Apa tidak ada yang berpikir aku akan mencari anakku?” tanyaku saat polisi membawa ibu mertuaku keluar.

Ia menoleh kepadaku.

Wajahnya tetap keras.

“Kami akan mengatakan bayimu tidak pernah lahir.”

Aku menggigil mendengarnya.

“Dan kalian pikir aku akan percaya?”

“Dengan obat penenang yang cukup, seseorang bisa dibuat meragukan ingatannya sendiri.”

Kalimat itu membuatku memahami semuanya.

Demam tinggi.

Pingsan.

Ingatan kabur.

Kesunyian di kamar tanpa jendela.

Mereka bukan hanya ingin mengambil bayiku.

Mereka ingin membuatku percaya bahwa aku sedang mengalami delusi.

Minh berdiri di depan pintu ketika petugas hendak membawanya.

“Nadia.”

Aku tidak menjawab.

“Aku tahu aku salah.”

Aku memeluk anakku lebih erat.

“Aku takut kehilangan semuanya.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Dan karena ketakutanmu kehilangan uang, kamu kehilangan istri dan anakmu.”

Ia menunduk.

Aku tidak merasakan kepuasan.

Hanya kehampaan.

Beberapa minggu berikutnya terasa seperti hidup di dalam mimpi panjang.

Aku menjalani pemeriksaan medis ulang. Anak perempuanku sehat. Aku memberinya nama Alya, yang berarti mulia.

Kasus itu menjadi penyelidikan besar.

Dokter Phak kehilangan izin praktik dan menghadapi proses pidana. Beberapa petugas administrasi rumah sakit ikut diperiksa karena membantu memanipulasi data.

Minh dan ibunya dijerat dengan beberapa tuduhan, termasuk penculikan bayi, pemalsuan dokumen, dan penyekapan.

Aku menggugat cerai.

Maya datang menemuiku satu bulan kemudian.

Kami duduk berhadapan di sebuah kafe kecil dekat rumah ibuku.

Ia tampak jauh lebih kurus.

“Aku tidak meminta kamu memaafkanku,” katanya.

Aku diam.

“Tapi aku ingin kamu tahu sesuatu.”

Ia mengeluarkan sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat fotokopi dokumen.

Aku membaca beberapa baris pertama dan merasa dada kembali sesak.

Itu adalah surat perjanjian yang ditandatangani Minh enam bulan sebelum aku melahirkan.

Isinya menyatakan bahwa jika Maya memperoleh anak, kepemilikan saham keluarga yang selama ini dipegang ibu mereka akan dialihkan kepada Minh sebagai pengelola utama.

Aku menatap Maya.

“Dia merencanakan ini selama enam bulan?”

Maya mengangguk.

“Bahkan mungkin lebih lama.”

Aku menutup mata.

Selama kehamilanku, Minh selalu terlihat perhatian.

Ia membelikan vitamin.

Mengantar kontrol.

Mengusap perutku setiap malam.

Berbicara kepada bayi kami.

Ternyata di balik semua itu, ia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah aku melahirkan.

Aku hampir muntah.

Maya menunduk.

“Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Gelang bunga milik Ibu…”

Aku menatapnya.

“Itu bukan kebetulan.”

“Maksudmu?”

“Malam itu Ibu sengaja tidak melepasnya karena dia yakin kamera rumah sakit sudah dimatikan.”

Aku terdiam.

“Tapi ternyata kamera lorong menggunakan sistem cadangan.”

Aku memandangi jalan di luar jendela.

Untuk pertama kalinya aku menyadari betapa tipisnya jarak antara hidup yang kita percaya dan kenyataan yang sebenarnya.

Kadang bukan orang asing yang menghancurkan hidup kita.

Kadang orang itu tidur di samping kita setiap malam.

Sebelum pulang, Maya berkata, “Aku sudah memutuskan menjadi saksi.”

Aku menatapnya.

“Ibu tidak akan pernah memaafkanku.”

“Bagaimana dengan Minh?”

“Dia juga tidak.”

Aku mengangguk.

“Kamu yakin?”

Maya tersenyum pahit.

“Aku kehilangan rahimku dua tahun lalu. Aku kira itu adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang perempuan.”

Ia menatap Alya yang tertidur di gendonganku.

“Ternyata yang lebih buruk adalah mengambil hak seorang perempuan untuk menjadi ibu hanya karena kita sendiri tidak bisa memilikinya.”

Setahun kemudian, pada ulang tahun pertama Alya, aku menerima surat keputusan pengadilan.

Minh dan ibunya dinyatakan bersalah.

Rumah sakit diwajibkan membayar ganti rugi dan memperbaiki seluruh sistem keamanan serta pencatatan pasien.

Aku tidak merayakan vonis itu.

Aku hanya memeluk Alya di kamar kecil kami saat matahari sore masuk melalui jendela.

Ibuku sedang membuat teh di dapur.

Rumah itu sederhana.

Jauh dari rumah besar keluarga Minh.

Namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa aman.

Alya tiba-tiba menggenggam ujung jariku.

Gerakannya membuatku terdiam.

Aku teringat malam ketika ia baru lahir.

Jemari kecil yang sama.

Genggaman yang sama.

Aku menangis pelan.

Setahun lalu, banyak orang berusaha meyakinkanku bahwa momen itu tidak pernah terjadi.

Bahwa tangisannya hanya ada dalam pikiranku.

Bahwa aku tidak pernah melahirkan.

Bahwa anakku tidak pernah ada.

Namun tubuh seorang ibu mengingat sesuatu yang tidak bisa dihapus oleh rekam medis, uang, obat, atau kebohongan.

Aku mencium tangan kecil Alya.

Dan saat itu aku memahami satu hal.

Kadang kebenaran tidak datang dengan suara keras.

Kadang ia hanya berbentuk sebuah tangisan bayi dari ujung lorong, sebuah gelang kecil yang tertangkap kamera, atau bisikan seseorang dari balik pintu gelap.

Hal-hal kecil yang tampak tidak berarti.

Namun cukup untuk menghancurkan kebohongan yang dibangun oleh banyak orang.

Aku hampir kehilangan anakku karena orang-orang di sekitarku yakin bahwa seorang perempuan yang baru melahirkan terlalu lemah untuk melawan.

Mereka salah.

Karena malam itu, mereka bukan sedang berhadapan dengan seorang pasien.

Mereka sedang berhadapan dengan seorang ibu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang