Orang tua membesarkan anak dengan kasih sayang seluas lautan, tetapi ketika tiba giliran anak merawat orang tua, pengorbanan itu justru mulai dihitung hari demi hari…

Telepon hampir terlepas dari tangan Rian.

“Katanya… dia harus pulang karena anaknya sedang menunggu di rumah.”

Kalimat petugas panti itu terus berdengung di kepalanya. Rian bahkan tidak sempat mengganti pakaian. Ia mengambil kunci mobil, memasukkan dompet ke saku, lalu berlari keluar.

Dina menyusul sampai ke teras.

“Mas, tunggu. Aku ikut.”

“Tidak usah.”

Nada suara Rian begitu dingin hingga Dina berhenti melangkah.

“Aku akan mencari Ibu.”

Rian menyalakan mobil dan pergi meninggalkan rumah.

Sepanjang perjalanan menuju panti, tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat. Berbagai kemungkinan buruk memenuhi pikirannya. Ibunya bisa tersesat di jalan raya. Bisa jatuh. Bisa tertabrak kendaraan. Bisa saja tidak tahu bagaimana meminta pertolongan.

Yang paling menyakitkan adalah satu kenyataan sederhana.

Bu Siti pergi karena ingin mencarinya.

Setibanya di panti, beberapa petugas sudah menunggu. Polisi juga telah menerima laporan orang hilang.

Seorang perawat bernama Mira segera menghampirinya.

“Pak Rian, kami benar-benar minta maaf.”

“Kapan terakhir Ibu terlihat?”

“Sekitar pukul sebelas malam. Beliau masih berada di kamarnya. Menjelang pergantian sif, pintu samping ternyata tidak tertutup sempurna. Dari rekaman kamera, Ibu keluar sekitar pukul dua lewat.”

“Sendirian?”

Mira mengangguk.

Rian menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Apakah Ibu membawa sesuatu?”

“Hanya tas kain kecil.”

“Isinya?”

“Kami belum tahu. Tapi sejak sore beliau terus mengatakan ingin pulang.”

Rian mengangkat wajah.

“Pulang ke mana?”

Mira terdiam sejenak.

“Katanya anaknya sedang sakit dan tidak ada yang menjaganya.”

Dada Rian terasa sesak.

Mira kemudian membawanya ke kamar Bu Siti.

Kamar itu sederhana. Sebuah tempat tidur, lemari kecil, meja, dan jendela yang menghadap halaman. Di atas meja terdapat gelas plastik, beberapa obat, serta sebuah foto lama.

Rian mengambil foto itu.

Itu foto dirinya ketika masih berusia sekitar tujuh tahun.

Ia sedang tertidur di pangkuan Bu Siti.

Di belakang foto, ada tulisan tangan yang nyaris pudar.

Rian demam. Jangan ditinggal sendirian.

Rian menunduk.

Air matanya jatuh tepat di atas foto tersebut.

“Beberapa hari terakhir, Ibu sering memegang foto itu,” kata Mira pelan. “Kadang beliau lupa nama Bapak. Tapi anehnya, beliau selalu ingat bahwa anak di foto itu adalah anaknya.”

Rian menggigit bibir.

“Kenapa tidak ada yang menelepon saya?”

“Kami pernah mencoba, Pak. Dua kali.”

Rian menoleh cepat.

“Kapan?”

“Sekitar seminggu setelah Ibu masuk.”

Rian mengeluarkan ponselnya dan memeriksa riwayat panggilan lama. Tidak ada nomor panti.

“Nomor siapa yang kalian hubungi?”

Mira membuka catatan.

“Nomor kontak keluarga yang terdaftar atas nama Ibu Dina.”

Tubuh Rian mendadak kaku.

“Istri saya?”

“Iya.”

“Dan apa katanya?”

Mira terlihat ragu.

“Ibu Dina mengatakan Bapak sedang sangat sibuk dan meminta kami tidak mengganggu Bapak kecuali keadaan darurat.”

Rian tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia berbalik dan keluar.

Pencarian dimulai dari jalan-jalan di sekitar panti. Polisi menyebarkan foto Bu Siti ke beberapa pos. Rian mendatangi terminal, pasar, masjid, minimarket, hingga rumah sakit.

Tidak ada hasil.

Menjelang siang, seorang pengemudi ojek daring mengaku melihat perempuan tua dengan ciri-ciri serupa berjalan menuju jalan utama sekitar pukul empat pagi.

“Dia kelihatan bingung,” katanya. “Saya sempat tanya mau ke mana. Katanya mau pulang ke rumah anaknya.”

“Bapak tahu dia pergi ke arah mana?”

Pria itu menunjuk jalan menuju pusat kota.

Rian kembali masuk ke mobil.

Hujan mulai turun ketika ia menyusuri Bandung.

Ia mencoba membayangkan cara berpikir ibunya.

Bu Siti mungkin sudah melupakan alamat rumah mereka. Mungkin juga tidak tahu nama jalan. Tetapi Alzheimer tidak selalu menghapus kenangan secara berurutan. Kadang kenangan baru hilang lebih dulu, sementara sesuatu dari puluhan tahun lalu justru bertahan.

Tiba-tiba Rian teringat sesuatu.

Rumah lama.

Rumah tempat ia dibesarkan.

Sebelum pindah ke rumah mereka sekarang, Bu Siti dan almarhum suaminya pernah tinggal hampir tiga puluh tahun di sebuah kampung di kawasan selatan Bandung.

Rumah itu telah dijual setelah ayahnya meninggal.

Rian langsung memutar arah.

Empat puluh menit kemudian, mobilnya memasuki gang sempit yang terasa begitu akrab sekaligus asing.

Banyak rumah telah direnovasi. Warung kecil tempat ia membeli es ketika SD sudah berubah menjadi toko pulsa.

Namun, rumah lama mereka masih ada.

Cat dindingnya kini berbeda. Pagar kayunya sudah diganti besi.

Rian menghentikan mobil.

Di teras rumah itu berdiri seorang perempuan muda.

“Permisi,” kata Rian terburu-buru. “Apakah tadi ada seorang ibu tua datang ke sini?”

Perempuan itu terdiam.

“Ibu yang pakai kardigan cokelat?”

Jantung Rian melonjak.

“Iya!”

“Tadi pagi datang. Dia bilang ini rumahnya.”

“Sekarang di mana?”

“Sudah pergi.”

Harapan yang baru muncul langsung runtuh.

“Pergi ke mana?”

“Saya tidak tahu. Tapi dia sempat duduk di teras lama sekali. Terus dia bertanya apakah Rian sudah pulang sekolah.”

Rian menahan napas.

Perempuan itu melanjutkan, “Saya bilang tidak ada Rian di sini. Lalu dia kelihatan sedih. Sebelum pergi, dia bilang mau menjemput anaknya.”

Menjemput anaknya.

Rian memejamkan mata.

Sekolah dasar.

Ia berlari kembali ke mobil.

Hujan semakin deras ketika ia tiba di SD tempatnya dahulu belajar.

Gerbang sekolah sudah berubah, tetapi bangunan utama masih berada di tempat yang sama.

Rian turun tanpa payung.

Satpam menghentikannya.

“Pak, mau ke mana?”

“Saya mencari ibu saya. Perempuan tua, sekitar tujuh puluh tahun.”

Satpam itu langsung mengernyit.

“Tadi ada ibu tua di sini.”

“Di mana?”

“Tadi duduk dekat gerbang. Tapi setelah hujan turun, saya suruh berteduh. Dia bilang sedang menunggu anaknya keluar sekolah.”

Rian hampir kehilangan keseimbangan.

“Sekarang?”

“Sudah tidak ada. Mungkin pergi sekitar setengah jam lalu.”

Rian berdiri di tengah hujan.

Setiap kali ia hampir menemukan ibunya, perempuan itu kembali menghilang.

Seolah Rian sedang mengejar masa kecilnya sendiri.

Ponselnya berdering.

Dina.

Ia tidak mengangkat.

Telepon berdering lagi.

Rian akhirnya menjawab.

“Mas, sudah ketemu?”

“Belum.”

“Aku khawatir.”

Rian tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun kegembiraan dalam suara itu.

“Khawatir?”

“Mas…”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang pihak panti menelepon?”

Dina terdiam.

“Apa?”

“Mereka menghubungimu. Kamu bilang aku sibuk dan meminta mereka tidak menggangguku.”

“Itu… karena waktu itu memang tidak ada masalah serius.”

“Ibu menangis setiap malam.”

“Mas, dengarkan dulu.”

“Ibu meminta bertemu aku.”

Dina kembali diam.

“Kenapa, Din?”

“Aku hanya ingin kita bisa hidup normal.”

Jawaban itu membuat sesuatu dalam diri Rian berubah.

Bukan kemarahan.

Melainkan kekecewaan yang jauh lebih dalam.

“Aku juga ingin hidup normal,” katanya pelan. “Tapi Ibu tidak memilih untuk sakit.”

Dina mulai menangis.

“Aku capek, Mas.”

“Aku tahu.”

“Kamu tidak tahu bagaimana rasanya mengurus orang yang bahkan tidak mengenalmu.”

Rian memejamkan mata.

“Aku tahu sekarang.”

Ia memutus telepon.

Hujan perlahan mereda.

Rian duduk di mobil, mencoba mengingat semua tempat yang pernah penting bagi Bu Siti.

Rumah lama.

Sekolah.

Pasar.

Masjid.

Lalu satu kenangan muncul.

Ketika masih kecil, setiap kali Rian sakit, Bu Siti selalu membawanya ke sebuah klinik kecil dekat rumah lama mereka. Setelah berobat, mereka biasanya duduk di taman kota yang tidak jauh dari sana sambil makan bubur ayam.

Bu Siti pernah berkata kepadanya, “Kalau Rian besar nanti, Ibu tidak minta apa-apa. Ibu cuma ingin kamu tetap tahu jalan pulang.”

Rian menyalakan mesin.

Taman itu kini jauh lebih ramai. Ada pedagang kaki lima, orang berolahraga, dan beberapa anak muda duduk di bangku.

Rian turun sambil membawa foto ibunya.

Ia bertanya kepada satu orang, lalu orang berikutnya.

Tidak ada yang melihat.

Sampai seorang penjual bubur menatap foto itu cukup lama.

“Sepertinya saya lihat ibu ini.”

“Kapan?”

“Pagi tadi.”

“Di mana?”

Penjual itu menunjuk ke sisi belakang taman.

“Duduk dekat pohon besar. Saya kasih bubur karena dia bilang tidak punya uang.”

“Sekarang masih di sana?”

“Entahlah.”

Rian berlari.

Sepatunya menginjak genangan air. Napasnya terengah-engah.

Di balik deretan pohon, terdapat beberapa bangku tua.

Kosong.

Rian memanggil.

“Ibu!”

Tidak ada jawaban.

“Ibu!”

Hanya suara kendaraan dari jalan raya.

Rian terus berjalan sampai akhirnya melihat sesuatu di bawah sebuah pohon besar.

Seorang perempuan tua duduk di tanah, bersandar pada batang pohon.

Kardigan cokelatnya basah.

Di pangkuannya terdapat sebuah tas kain kecil.

“Ibu!”

Rian berlari menghampiri.

Bu Siti mengangkat wajah perlahan.

Wajahnya pucat. Bibirnya sedikit gemetar karena dingin.

Rian langsung berlutut dan memeluknya.

“Maaf, Bu.”

Tubuhnya bergetar hebat.

“Maafkan Rian.”

Bu Siti diam beberapa saat.

Kemudian tangannya menyentuh kepala Rian.

“Kenapa menangis?”

Rian tidak mampu menjawab.

“Ibu pulang saja. Kita pulang.”

Bu Siti memandang wajahnya cukup lama.

“Kamu siapa?”

Pertanyaan itu kembali menghancurkan hati Rian.

Namun kali ini ia tidak merasa marah.

Ia menggenggam tangan ibunya dan menjawab sambil tersenyum di antara air mata.

“Aku Rian, Bu.”

Bu Siti mengernyit.

“Rian?”

“Iya.”

“Anakku?”

Rian mengangguk.

Untuk beberapa detik, mata Bu Siti tampak lebih jernih.

Ia menyentuh pipi Rian.

“Kamu sudah besar.”

Rian menangis semakin keras.

Bu Siti membuka tas kainnya.

Di dalamnya terdapat sepotong roti, botol air mineral, foto masa kecil Rian, dan sebuah baju anak-anak berwarna biru yang sudah sangat usang.

Rian mengenal baju itu.

Baju yang dipakainya ketika kelas satu SD.

“Kenapa Ibu membawa ini?”

Bu Siti memeluk baju kecil tersebut.

“Rian sakit.”

Rian membeku.

“Ibu harus pulang. Anak Ibu sedang demam.”

Dalam pikirannya yang semakin rapuh, Bu Siti ternyata tidak sedang melarikan diri dari panti.

Ia sedang pulang untuk merawat anaknya.

Anak yang dalam ingatannya masih berusia tujuh tahun.

Rian menunduk sampai dahinya menyentuh tangan ibunya.

Perempuan yang bahkan telah kehilangan sebagian besar ingatannya masih menyimpan satu naluri yang tidak berhasil direnggut penyakit.

Menjadi seorang ibu.

Setelah diperiksa di rumah sakit, Bu Siti hanya mengalami dehidrasi ringan dan kelelahan. Tidak ada cedera serius.

Malam itu, Rian duduk di samping ranjangnya.

Dina datang sekitar pukul sembilan.

Matanya sembap.

“Aku minta maaf, Mas.”

Rian tidak menjawab.

Dina memandang Bu Siti yang sedang tidur.

“Aku salah.”

Rian akhirnya menoleh.

“Kenapa kamu melakukan semua itu?”

Dina menunduk.

“Aku benar-benar kelelahan. Aku takut suatu hari sesuatu terjadi dan semua orang menyalahkanku. Aku mulai membenci rumah sendiri. Aku merasa hidupku hanya berputar mengurus Ibu.”

“Itu bukan alasan untuk menjauhkan aku dari Ibu.”

“Aku tahu.”

Rian terdiam cukup lama sebelum berkata, “Kompor itu… benar Ibu yang menyalakan?”

Wajah Dina langsung berubah.

Pertanyaan itu muncul karena sejak pencarian tadi, Rian terus memikirkan kejadian tersebut. Ibunya memang pelupa, tetapi hari itu Bu Siti bahkan tidak berdiri dekat kompor ketika ia tiba.

Dina mulai menangis.

“Jawab.”

“Aku yang menyalakannya.”

Rian menatap istrinya tanpa berkedip.

“Aku cuma ingin kamu sadar bahwa kita sudah tidak sanggup.”

“Kamu membuatku membentak Ibu.”

“Aku tidak menyangka kamu akan semarah itu.”

“Kamu membuatku percaya Ibu membahayakan kita.”

Dina menutup wajah.

“Maaf.”

Rian berdiri.

“Aku tidak bisa membicarakan ini sekarang.”

Dina pergi malam itu tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Beberapa hari kemudian, Bu Siti pulang.

Bukan karena Rian berpikir cinta seorang anak cukup untuk menggantikan perawatan medis. Ia justru mulai memahami bahwa merawat penderita Alzheimer membutuhkan sistem, pengetahuan, dan bantuan profesional.

Ia memasang sensor pada pintu, mengamankan kompor, menyimpan benda berbahaya, dan menyewa pendamping lansia untuk beberapa jam setiap hari ketika ia bekerja. Dokter juga membantu menyusun rutinitas yang lebih aman untuk Bu Siti.

Rian tidak lagi mencoba menjadi anak yang mampu melakukan semuanya sendirian.

Ia hanya berusaha menjadi anak yang tidak meninggalkan ibunya sendirian menghadapi penyakit.

Hubungannya dengan Dina tidak langsung pulih.

Dina tinggal sementara bersama kakaknya.

Beberapa minggu kemudian, ia mulai menemui konselor bersama Rian. Tidak ada jaminan pernikahan mereka akan kembali seperti semula. Rian bisa memahami kelelahan Dina, tetapi memahami tidak berarti membenarkan apa yang telah dilakukannya.

Sementara itu, ingatan Bu Siti terus menurun.

Ada hari ketika ia mengenali Rian.

Ada hari ketika ia memanggilnya dengan nama suaminya.

Ada pula hari ketika ia bertanya mengapa ada laki-laki asing tinggal di rumahnya.

Setiap kali itu terjadi, Rian tidak lagi memaksa ibunya mengingat.

Ia hanya menjawab dengan lembut.

“Aku orang yang akan menemani Ibu hari ini.”

Beberapa bulan kemudian, saat membersihkan kamar ibunya, Rian menemukan buku catatan lama yang pernah membuatnya menangis.

Ia membalik halaman terakhir.

Di sana terdapat tulisan yang berbeda dari halaman-halaman sebelumnya. Hurufnya berantakan, seolah ditulis ketika tangan Bu Siti sudah mulai sulit dikendalikan.

Kalau suatu hari Ibu lupa Rian, jangan marah.

Rian membaca kalimat berikutnya.

Ibu mungkin lupa namamu, tapi mudah-mudahan hati Ibu tidak lupa bahwa Ibu menyayangimu.

Rian duduk lama sambil memegang buku itu.

Dari teras terdengar suara Bu Siti memanggil.

“Nak!”

Rian segera keluar.

Bu Siti duduk di kursi tua, memandang langit sore.

Ketika melihat Rian, ia tersenyum.

“Kamu tahu rumah Rian?”

Rian duduk di sebelahnya.

“Tahu, Bu.”

“Antarkan Ibu ke sana.”

Rian menahan air mata.

“Untuk apa?”

Bu Siti menatap matahari yang perlahan turun di balik atap rumah.

“Anak Ibu pasti sedang menunggu.”

Rian menggenggam tangannya.

Ia kemudian menyandarkan kepala ke bahu perempuan tua itu, seperti puluhan tahun lalu ketika ia masih kecil.

“Tidak perlu pergi ke mana-mana, Bu.”

Bu Siti menoleh.

“Kenapa?”

Rian tersenyum.

“Karena Rian sudah pulang.”

Bu Siti mungkin tidak memahami sepenuhnya.

Namun, tangannya perlahan mengusap rambut Rian.

Gerakan yang sama.

Gerakan yang telah dilakukannya ribuan kali sejak anak itu lahir.

Dan sore itu Rian akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam buku catatan mana pun.

Seorang ibu bisa kehilangan nama anaknya, lupa alamat rumahnya, bahkan kehilangan sebagian besar masa lalunya.

Tetapi kasih sayang yang telah diberikan sepanjang hidup tidak pernah bisa dihitung dengan jumlah malam tanpa tidur, jumlah piring yang dipecahkan, atau jumlah hari seseorang harus merawatnya kembali.

Sebab ketika Rian masih kecil dan tidak mampu melakukan apa pun sendiri, Bu Siti tidak pernah bertanya sampai kapan ia harus merawat anaknya.

Kini ketika ibunya perlahan kembali seperti seorang anak kecil, Rian akhirnya tahu jawabannya.

Selama masih ada jalan untuk pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang