Tiga hari sebelum keberangkatan, ibu mertua saya masih sibuk membicarakan pakaian apa yang akan dibawanya ke Bali.
“Hani, nanti di hotel ada kolam renang, kan?” tanyanya sambil memeriksa sebuah gaun baru di depan cermin ruang tengah.
“Ada, Bu.”
“Bagus. Ibu juga mau foto di pantai. Kamu sudah atur mobil yang besar, kan? Soalnya kita banyak.”
Saya sedang menuang air ke dalam gelas ketika mendengar kalimat itu. Tangan saya sempat berhenti, tetapi hanya sepersekian detik.
“Sudah saya atur,” jawab saya tenang.
Saya tidak berbohong.
Saya memang sudah mengatur mobil.
Hanya saja mobil itu cukup untuk tiga orang.
Suami saya, Dimas, yang duduk di sofa sambil menatap layar ponsel, bahkan tidak mengangkat kepala. Sejak malam ibu melarang orang tua saya ikut, dia tidak pernah menyinggung masalah itu lagi. Seolah keputusan tersebut sudah final dan saya pasti akan menurut seperti biasanya.
Malam sebelum keberangkatan, saya mengemas satu koper besar dan satu tas kecil.
Dimas melihatnya dari tempat tidur.
“Barangmu sedikit banget.”
“Saya cuma bawa yang perlu.”
“Besok kita berangkat jam berapa?”
Saya menoleh kepadanya.
Untuk beberapa detik, saya benar-benar mempertimbangkan apakah harus mengatakan semuanya malam itu.
Namun kemudian ponselnya berbunyi.
Dimas buru-buru meraih benda itu, membaca sebuah pesan, lalu membalik layar menghadap kasur.
Gerakannya terlalu cepat.
Saya sudah beberapa kali melihat kebiasaan itu dalam beberapa bulan terakhir.
Dulu saya menganggapnya urusan pekerjaan.
Malam itu, entah kenapa, saya memperhatikannya lebih lama.
“Kenapa?” tanyanya.
“Tidak apa-apa.”
Saya mematikan lampu.
Pukul empat pagi, saya bangun lebih dulu.
Dimas masih tertidur.
Saya membawa koper keluar, memesan taksi, lalu pergi tanpa membangunkannya.
Tujuan saya bukan bandara terlebih dahulu.
Saya menuju sebuah hotel kecil dekat stasiun tempat ayah dan ibu menginap sejak malam sebelumnya.
Ketika saya sampai, ibu sudah menunggu di lobi dengan kerudung sederhana dan sebuah tas kain tua yang selalu dibawanya kalau bepergian.
Ayah berdiri di sebelahnya sambil memegang koper kecil.
Begitu melihat saya, ayah tersenyum lebar.
“Jadi benar kita ke Bali?”
Saya tertawa kecil.
“Benar, Pak.”
Ibu menggenggam tangan saya.
“Tapi keluarga Dimas bagaimana? Mereka tidak keberatan?”
Pertanyaan itu membuat dada saya sesak.
Selama ini bahkan ketika mereka disakiti, yang mereka pikirkan tetap perasaan orang lain.
Saya memeluk ibu.
“Kali ini jangan pikirkan siapa-siapa. Ibu sama Bapak ikut Hani saja.”
Ayah menepuk bahu saya.
“Kalau begitu, ayo. Bapak sudah latihan naik pesawat dari YouTube.”
Saya langsung tertawa, sementara ibu memukul pelan lengan ayah.
Perjalanan menuju bandara terasa seperti sesuatu yang selama ini saya lewatkan dalam hidup.
Ayah terus melihat keluar jendela.
Ibu berkali-kali memastikan tiketnya tidak hilang.
Ketika pesawat akhirnya lepas landas, ayah menempelkan wajah ke jendela seperti anak kecil.
“Hani, lihat. Awan dari atas ternyata begini.”
Saya memalingkan wajah sebentar karena mata saya mulai panas.
Ponsel saya bergetar tepat ketika pesawat akan mengudara.
Nama Dimas muncul di layar.
Lalu satu pesan.
“Kamu di mana?”
Beberapa detik kemudian pesan lain datang.
“Hani, tiket saya kenapa tidak bisa check-in?”
Lalu satu lagi.
“Tiket Mama juga dibatalkan?”
Saya mengaktifkan mode pesawat.
Untuk pertama kali dalam enam tahun, saya tidak merasa wajib menjawabnya.
Setibanya di Bali, kami dijemput seorang sopir dan dibawa ke sebuah vila kecil di kawasan Sanur.
Ketika ayah melihat halaman dengan kolam pribadi, dia langsung berhenti di depan pintu.
“Kita salah tempat?”
“Tidak.”
“Ini mahal.”
“Saya tahu.”
Ibu menarik tangan saya.
“Hani, jangan buang-buang uang begini.”
Saya tersenyum.
“Selama bertahun-tahun Ibu sama Bapak menghabiskan uang supaya saya sekolah. Sekarang biarkan saya sekali saja menghabiskan uang untuk kalian.”
Ibu tidak menjawab.
Dia hanya memeluk saya.
Hari pertama kami habiskan dengan berjalan santai di pantai.
Ayah melepas sandal dan membiarkan kakinya terkena air laut.
Saya mengambil foto diam-diam saat dia berdiri memandang cakrawala.
Wajahnya sederhana, pakaiannya juga sederhana, tetapi saya tidak pernah melihatnya sebahagia itu.
Sore harinya, ketika kami sedang makan, saya akhirnya membuka ponsel.
Ada tiga puluh tujuh panggilan tak terjawab.
Sebagian besar dari Dimas.
Beberapa dari ibu mertua.
Pesan terakhir ibu mertua berbunyi panjang.
“Kamu keterlaluan. Semua orang sudah siap. Ibu sudah bilang orang tua kamu jangan ikut, bukan berarti kamu boleh membatalkan perjalanan keluarga kami.”
Saya membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian membalas singkat.
“Bu, sejak awal perjalanan itu saya yang bayar. Karena Ibu mengatakan orang tua saya bukan bagian dari keluarga Ibu, saya pikir paling adil kalau masing-masing liburan bersama keluarga masing-masing.”
Balasannya datang hampir seketika.
“Kamu berani sekali sekarang.”
Saya tidak membalas lagi.
Dimas kemudian menelepon.
Kali ini saya angkat.
“Apa maksud kamu, Hani?”
Nada suaranya tinggi.
“Saya pergi bersama orang tua saya.”
“Saya tahu. Yang saya tanya, kenapa tiket kami dibatalkan?”
“Karena Mama kamu tidak mau orang tua saya ikut.”
“Itu kan cuma omongan Mama.”
“Dan kamu diam.”
Dimas terdiam.
Saya melanjutkan, “Enam tahun, Mas. Setiap kali orang tua saya direndahkan, kamu diam. Ayah saya sakit, kamu diam. Mama kamu mengatakan keluarga saya bukan prioritas, kamu diam. Sekarang saya juga memilih diam dan mengambil keputusan sendiri.”
“Kamu bikin malu saya di depan keluarga.”
Saya tertawa kecil.
“Lucu. Yang kamu pikirkan masih rasa malu kamu.”
“Hani…”
“Sudah. Saya mau makan sama Bapak dan Ibu.”
Saya menutup telepon.
Ayah yang duduk di depan saya menatap dengan khawatir.
“Kalian bertengkar?”
“Sedikit.”
Ayah menghela napas.
“Jangan gara-gara Bapak sama Ibu rumah tanggamu rusak.”
Saya menatapnya.

“Pak, kalau sebuah rumah tangga bisa rusak hanya karena saya ingin menghormati orang tua sendiri, mungkin sejak awal rumah tangga itu memang tidak sehat.”
Ayah diam.
Dia tidak membantah lagi.
Namun kejutan terbesar perjalanan itu sebenarnya belum terjadi.
Keesokan paginya saya mengajak ayah dan ibu pergi ke sebuah kantor notaris di Denpasar.
Mereka kebingungan.
“Kita mau apa?” tanya ibu.
Saya tidak langsung menjawab.
Di dalam ruangan, seorang notaris bernama Pak Adrian sudah menunggu bersama seorang agen properti.
Di atas meja terdapat beberapa berkas.
Saya mengambil satu map dan menyerahkannya kepada ayah.
“Buka.”
Ayah membaca halaman pertama.
Wajahnya berubah.
“Hani… ini apa?”
“Rumah.”
“Rumah siapa?”
“Rumah Bapak dan Ibu.”
Ibu langsung berdiri.
“Kamu bercanda?”
Saya menggeleng.
Beberapa bulan sebelumnya, diam-diam saya sudah mencari sebuah rumah kecil di pinggiran Yogyakarta, tidak terlalu jauh dari desa mereka. Rumah satu lantai dengan dua kamar tidur, halaman kecil, dan akses mudah ke rumah sakit.
Saya tahu usia ayah dan ibu semakin bertambah.
Saya tidak ingin mereka terus tinggal di rumah lama yang atapnya bocor setiap musim hujan.
Bonus yang awalnya saya gunakan untuk membiayai liburan keluarga sebenarnya masih menyisakan cukup banyak tabungan. Setelah membatalkan tiket keluarga Dimas dan hotel besar, saya menambahkan deposito pribadi saya dan membayar uang muka rumah tersebut.
“Kenapa di Bali tanda tangannya?” tanya ayah dengan suara bergetar.
“Karena saya ingin perjalanan ini menjadi awal baru.”
Ibu menutup mulut dengan kedua tangan.
“Simpan uangmu buat masa depanmu, Nak.”
Saya menggenggam tangannya.
“Kalian adalah bagian dari masa depan saya.”
Ayah menunduk.
Bahu lelaki yang selama hidup saya hampir tidak pernah saya lihat menangis itu bergetar.
Saya kira itulah puncak emosi perjalanan kami.
Ternyata saya salah.
Malam ketiga di Bali, Dimas kembali menelepon.
Suara di ujung sana berbeda.
Tidak marah.
Justru panik.
“Hani, kamu kenal perempuan bernama Rara?”
Saya mengerutkan kening.
“Siapa?”
“Jangan bohong. Kamu kenal dia?”
“Tidak.”
Dimas mengembuskan napas kasar.
Kemudian sambungan terputus.
Beberapa menit kemudian, sebuah nomor tidak dikenal mengirim pesan kepada saya.
“Mbak Hani, saya minta maaf menghubungi seperti ini. Nama saya Rara. Saya rasa Mbak berhak tahu sesuatu tentang suami Mbak.”
Saya membaca pesan itu dengan tubuh mendadak dingin.
Saya hampir mengabaikannya.
Tetapi beberapa detik kemudian muncul sebuah foto.
Dimas sedang duduk bersama seorang perempuan di sebuah kafe.
Foto itu jelas diambil beberapa bulan lalu.
Kemudian muncul foto kedua.
Dimas sedang memegang tangan perempuan itu.
Pesan berikutnya membuat kepala saya berdenging.
“Saya tidak tahu Mas Dimas sudah menikah ketika kami pertama kenal.”
Saya berdiri dari kursi balkon.
Dari dalam vila terdengar suara televisi yang ditonton ayah dan ibu.
Saya menutup pintu kaca agar mereka tidak mendengar.
Saya menelepon nomor tersebut.
Seorang perempuan mengangkat.
Suaranya gemetar.
“Mbak Hani?”
“Jelaskan.”
Rara menarik napas.
Dia bekerja di sebuah perusahaan logistik yang beberapa kali berhubungan dengan kantor Dimas. Mereka mulai dekat hampir setahun sebelumnya.
Menurut Dimas, pernikahannya sedang berada di ambang perceraian.
Dia bahkan mengatakan istrinya sudah lama meninggalkan rumah.
Saya hampir tertawa mendengar kebohongan itu.
Rara baru mengetahui keberadaan saya tiga hari sebelumnya.
“Bagaimana?”
“Mas Dimas panik karena kartu kreditnya tidak bisa dipakai untuk membeli tiket ke Bali. Dia cerita soal Mbak. Dari situ saya mulai curiga. Saya cari media sosial keluarga dia. Saya menemukan foto pernikahan kalian.”
Saya menutup mata.
Ternyata selama saya sibuk memastikan keluarganya nyaman, suami saya sedang membangun hubungan lain di belakang saya.
Namun Rara belum selesai.
“Ada satu hal lagi, Mbak.”
“Apa?”
“Mas Dimas pernah pinjam uang dari saya.”
Saya terdiam.
“Berapa?”
“Seratus dua puluh juta.”
Jantung saya serasa berhenti.
“Untuk apa?”
“Katanya untuk modal usaha. Tapi minggu lalu saya tahu bukan cuma saya yang dia pinjami uang.”
Rara mengirim beberapa bukti transfer dan tangkapan layar percakapan.
Nama Dimas terlihat jelas.
Malam itu saya hampir tidak tidur.
Pagi harinya, saya mengecek rekening bersama yang selama ini jarang saya buka karena Dimas yang mengurus pembayaran rumah tangga.
Saldo di dalamnya jauh lebih sedikit daripada seharusnya.
Saya kemudian menghubungi bank.
Ada beberapa penarikan dan transfer rutin ke rekening yang tidak saya kenal.
Selama hampir dua tahun.
Jumlah totalnya membuat saya gemetar.
Lebih dari tiga ratus juta rupiah.
Sebagian uang itu berasal dari pendapatan saya yang setiap bulan saya transfer untuk kebutuhan rumah.
Saat itulah saya sadar.
Masalah saya ternyata bukan hanya ibu mertua yang merendahkan keluarga saya.
Saya hidup bersama seorang suami yang memanfaatkan diam saya.
Sore itu Dimas kembali menelepon.
Kali ini saya langsung bertanya.
“Siapa Rara?”
Dia diam terlalu lama.
“Hani, saya bisa jelaskan.”
“Uang tiga ratus juta ke mana?”
“Hani…”
“Jawab.”
“Itu investasi.”
“Investasi apa?”
“Bisnis teman.”
“Nama perusahaannya?”
Diam lagi.
Saya tertawa, tetapi air mata akhirnya jatuh.
Bukan karena saya masih ingin mempertahankannya.
Melainkan karena saya merasa begitu bodoh.
“Selama ini kamu bukan diam karena takut sama ibumu, ya?”
“Hani, jangan campur masalah Mama.”
“Justru sekarang saya paham. Kamu membiarkan Mama memperlakukan saya seperti orang luar karena itu menguntungkan buat kamu. Selama saya sibuk membuktikan diri sebagai menantu yang baik, saya tidak pernah memperhatikan apa yang kamu lakukan.”
“Hani, pulang dulu. Kita bicara.”
“Saya akan pulang.”
Dimas terdengar lega.
Tetapi saya melanjutkan, “Bukan untuk berdamai.”
Saat kami kembali dari Bali empat hari kemudian, rumah terasa berbeda.
Ibu mertua menunggu di ruang tengah dengan wajah keras.
Begitu saya masuk, dia langsung berdiri.
“Sekarang kamu puas mempermalukan keluarga?”
Saya meletakkan koper.
“Saya justru baru sadar selama ini siapa yang paling dipermalukan.”
Dimas berdiri beberapa langkah di belakang ibunya.
Wajahnya pucat.
Saya mengeluarkan sebuah map.
Di dalamnya ada cetakan bukti transfer, percakapan dengan Rara, riwayat rekening, dan dokumen konsultasi awal dengan pengacara.
Saya meletakkannya di meja.
Ibu mertua membuka beberapa lembar.
Ekspresinya perlahan berubah.
“Apa ini?”
Saya menatap Dimas.
“Tanya anak Ibu.”
Dimas mencoba mendekat.
“Hani, dengar dulu.”
“Enam tahun saya mendengar.”
Saya mundur satu langkah.
“Sekarang giliran kamu yang mendengar.”
Ruangan itu sunyi.
“Saya sudah memisahkan rekening pribadi saya. Saya juga sudah menghubungi pengacara. Semua transaksi dari dana bersama akan diperiksa. Soal hubunganmu dengan Rara, dia bersedia memberikan pernyataan.”
Ibu mertua menatap anaknya tidak percaya.
“Dimas?”
Dimas memijat wajah.
“Mama jangan ikut campur.”
Saya hampir tersenyum mendengar kalimat itu.
Kalimat yang selama enam tahun tidak pernah dia ucapkan ketika ibunya ikut campur dalam urusan saya.
Saya memandang ibu mertua.
“Lucu ya, Bu. Baru sekarang dia bilang Ibu jangan ikut campur.”
Wajah beliau memerah.
Namun tidak ada lagi suara tinggi.
Tidak ada lagi kalimat tentang prioritas keluarga.
Semua orang akhirnya mengerti mengapa Dimas selama ini selalu membutuhkan saya tetap menurut.
Karena penghasilan saya yang stabil menutupi banyak kekacauan keuangannya.
Dua bulan kemudian, saya keluar dari rumah itu.
Proses perceraian kami tidak sederhana, tetapi saya tidak lagi takut.
Rara juga memutuskan hubungan dengan Dimas dan menempuh jalur hukum untuk uang yang dipinjamkannya.
Beberapa utang lain akhirnya ikut terbongkar.
Dimas ternyata mencoba bisnis spekulatif bersama seorang temannya, gagal, lalu menutup kerugiannya dengan meminjam dari berbagai pihak.
Hubungannya dengan Rara dimulai ketika dia sedang mencari orang lain yang bisa memberinya uang.
Saya tidak pernah tahu apakah dia benar-benar mencintai perempuan itu.
Pada akhirnya, itu juga tidak penting.
Enam bulan setelah perjalanan ke Bali, ayah dan ibu pindah ke rumah baru mereka.
Hari pertama saya datang berkunjung, ayah sedang menyiram tanaman di halaman.
Ibu memasak di dapur.
Di ruang tamu terpajang sebuah foto yang kami ambil di Sanur.
Foto bertiga.
Ayah berdiri di tengah dengan celana digulung sampai betis, ibu tertawa sambil memegang sandal, dan saya memeluk keduanya dari belakang.
Tidak ada foto keluarga suami di sana.
Anehnya, saya tidak merasa kehilangan.
Ayah melihat saya memperhatikan foto itu.
“Kalau waktu itu besanmu mengizinkan kami ikut, mungkin semua ini tidak terjadi.”
Saya tersenyum.
“Mungkin.”
Ayah duduk di kursi teras.
“Berarti kamu menyesal?”
Saya menggeleng.
“Tidak.”
Karena sekarang saya mengerti sesuatu.
Kadang sebuah penolakan tidak datang untuk menghancurkan kita.
Kadang penolakan justru memaksa kita berhenti mengetuk pintu yang sejak awal tidak pernah benar-benar dibuka untuk kita.
Selama enam tahun saya mengira mempertahankan keluarga berarti menahan sakit, mengalah, dan terus membuktikan diri.
Ternyata keluarga yang sebenarnya tidak pernah meminta saya melakukan semua itu.
Mereka hanya menunggu saya pulang.
Dan perjalanan ke Bali yang awalnya saya rancang untuk menyatukan dua keluarga justru mengajarkan saya hal sebaliknya.
Tidak semua orang harus disatukan.
Ada orang-orang yang memang harus kita lepaskan agar kita akhirnya tahu siapa yang sejak awal pantas kita pertahankan.
