Aku Menyerahkan Rumah Itu kepada Suamiku Saat Kandunganku Tinggal Sebulan Lagi. Dia Mengira Aku Sudah Menyerah… Sampai Malam Ketiga, Ponselnya Berdering Tanpa Henti.

“…dan apabila Rania Adhisty secara sah menjadi istri Arga Pradana, seluruh hak pengelolaan sementara atas rumah di Jalan Cendana Nomor 18 akan berpindah kepada Arga sampai syarat yang tercantum dalam perjanjian ini terpenuhi.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Huruf-hurufnya tidak berubah.

Namun maknanya terasa semakin mengerikan setiap kali kubaca.

Aku mengangkat wajah perlahan.

“Perjanjian apa ini?”

Dimas tidak langsung menjawab.

Dia mengambil lembar kedua dari dalam map.

“Ini bukan perjanjian perkawinan.”

“Lalu?”

“Perjanjian pengelolaan aset.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena kepalaku sudah terlalu penuh.

“Pengelolaan aset antara siapa?”

Dimas menatapku.

“Pak Arga dan almarhumah ibu Anda.”

Dunia di sekelilingku seolah kehilangan suara.

Aku hanya melihat bibir Dimas bergerak, tetapi beberapa detik aku tidak mampu mencerna apa pun.

“Ibu saya meninggal ketika saya kuliah,” kataku akhirnya. “Arga baru saya kenal hampir dua tahun setelah itu.”

“Itulah yang selama ini Anda yakini.”

Aku berdiri terlalu cepat.

Perutku langsung terasa menegang.

Aku mencengkeram sandaran sofa.

“Jangan bermain-main dengan saya.”

“Saya tidak sedang bermain-main.”

“Kalau ibu saya mengenal Arga, kenapa saya tidak pernah tahu?”

“Karena mungkin memang sengaja disembunyikan dari Anda.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada tuduhan perselingkuhan mana pun.

Aku kembali duduk.

Dimas menggeser dokumen lain ke arahku.

Di sana ada fotokopi identitas ibuku.

Ada tanda tangannya.

Dan ada tanda tangan Arga.

Tanggalnya benar-benar tiga tahun sebelum aku menikah.

Aku mengenali tanda tangan ibu.

Sedikit miring ke kanan, dengan huruf A yang selalu dibuat panjang.

Tidak mungkin salah.

“Apa hubungan rumah itu dengan ibu saya?”

Dimas mengembuskan napas.

“Rumah tersebut tidak dibeli setelah Anda menikah.”

“Apa?”

“Rumah itu sudah ada jauh sebelumnya. Kepemilikannya disamarkan melalui sebuah perusahaan pengelola properti. Secara administratif memang baru dialihkan atas nama Anda setelah pernikahan, tapi sumber kepemilikannya berasal dari keluarga ibu Anda.”

Aku menggeleng.

“Tidak mungkin. Ibu saya guru sekolah negeri. Ayah saya meninggal waktu saya SMA. Kami hidup biasa saja.”

“Karena itu juga yang saya pikirkan ketika pertama kali melihat berkas ini.”

“Lalu?”

“Nama ibu Anda bukan hanya tercatat sebagai pemilik manfaat rumah itu.”

Dimas berhenti sebentar.

“Beliau juga pemegang saham lama sebuah perusahaan bernama Adhisty Karya Sentosa.”

Nama itu terasa samar di kepalaku.

Seperti pernah kubaca di suatu tempat.

Lalu aku ingat.

Logo perusahaan itu pernah muncul di proposal proyek Arga.

Aku menatap Dimas.

“Perusahaan konstruksi?”

“Iya.”

“Perusahaan tempat Arga bekerja dulu?”

“Iya.”

Napas di dadaku terasa semakin berat.

“Jangan bilang…”

“Pak Arga mengenal keluarga Anda dari sana.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Selama lima tahun menikah, Arga selalu bercerita bahwa dia membangun kariernya dari nol.

Dia pernah bekerja di perusahaan konstruksi lama sebelum mendirikan firma konsultannya sendiri.

Tidak pernah sekali pun dia menyebut nama ibuku.

“Kenapa ibu saya membuat perjanjian dengan dia?”

Dimas mengeluarkan satu dokumen lagi.

Kali ini sebuah surat tulisan tangan yang sudah dipindai.

Tulisan ibu.

Aku langsung mengenalinya.

Untuk Arga,

Jika suatu hari Rania mengetahui semuanya, aku berharap kamu membiarkan dia memilih sendiri apa yang ingin dia lakukan. Jangan paksa dia menerima sesuatu hanya karena itu haknya. Selama dia belum siap, lindungi rumah itu. Jangan biarkan siapa pun dari keluarga Pradana mengambilnya.

Tanganku gemetar hebat.

Keluarga Pradana.

Nama belakang Arga.

Aku memandang Dimas.

“Apa maksudnya keluarga Pradana?”

Dimas terlihat ragu.

“Pak Arga bukan satu-satunya orang dari keluarganya yang pernah berhubungan dengan keluarga Anda.”

“Siapa?”

“Ayah Pak Arga.”

Aku merasa udara di ruangan habis.

“Ayah Arga?”

“Beliau pernah menjadi partner bisnis ibu Anda.”

Aku terdiam.

Ayah Arga meninggal dua tahun setelah kami menikah.

Aku mengenalnya sebagai laki-laki pendiam yang jarang bicara, tetapi selalu bersikap baik kepadaku.

Terlalu baik, jika kupikirkan sekarang.

Dia sering menatapku lama.

Pernah suatu kali dia berkata, “Kamu mirip sekali dengan ibumu.”

Saat itu aku mengira dia hanya berbasa-basi setelah melihat foto ibu di rumah.

Ternyata mungkin dia memang mengenalnya.

“Kenapa tidak ada seorang pun yang memberitahuku?”

“Karena dua puluh tahun lalu terjadi sengketa perusahaan.”

Dimas menjelaskan perlahan.

Adhisty Karya Sentosa awalnya didirikan oleh ibuku bersama ayah Arga dan seorang investor bernama Surya Mahendra.

Nama itulah yang tercantum dalam dokumen.

Nama yang disebut Dimas lewat telepon.

Surya Mahendra.

Ketika perusahaan mulai berkembang, terjadi konflik besar mengenai pengalihan kepemilikan tanah.

Ayah Arga dituduh melakukan manipulasi dokumen.

Namun sebelum kasusnya masuk pengadilan, sebagian besar berkas hilang.

Ibu menjual sebagian saham, mengundurkan diri, lalu membawa satu aset yang tidak pernah berhasil disentuh siapa pun.

Rumah di Jalan Cendana.

Rumah yang kemudian kutinggali bersama Arga.

“Jadi ibu menyuruh Arga menikahiku demi menjaga rumah itu?”

Pertanyaan itu keluar dengan suara hampir berbisik.

Dimas cepat menggeleng.

“Tidak ada klausul yang memerintahkan pernikahan.”

“Lalu kenapa tertulis jika aku menjadi istrinya?”

“Karena ketika perjanjian itu dibuat, ibu Anda sudah mengenal Arga. Mungkin beliau menganggap Arga seseorang yang bisa dipercaya. Dokumen itu mengatur kemungkinan jika hubungan kalian berkembang.”

Aku tertawa getir.

“Hubungan berkembang? Saat itu aku bahkan belum mengenalnya.”

Dimas menunduk.

“Itu yang membuat saya mencari lebih jauh.”

Dia mengeluarkan selembar foto.

Diambil di sebuah acara perusahaan.

Aku melihat ibu berdiri di tengah.

Di sampingnya ada ayah Arga yang masih jauh lebih muda.

Dan di belakang mereka…

Arga.

Wajahnya masih muda, mungkin dua puluh empat atau dua puluh lima tahun.

Aku menghitung cepat.

Saat foto itu diambil, aku masih kuliah semester awal.

Arga sudah mengenal ibuku.

Mungkin bahkan tahu tentang diriku.

“Dia mendekatiku dengan sengaja,” kataku.

Dimas diam.

“Benar, kan?”

“Saya tidak tahu motivasinya.”

Aku langsung mengambil ponsel.

Tanganku gemetar ketika mencari nama Arga.

Panggilan pertama tidak dijawab.

Kedua juga tidak.

Pada panggilan ketiga, dia mengangkat.

“Ada apa?”

Suaranya datar.

Aku hampir tidak mengenal suara itu lagi.

“Surya Mahendra.”

Di seberang sana, hening.

Sangat hening.

Aku tahu saat itu juga.

Dia mengerti.

“Rania…”

“Siapa dia?”

“Kamu dapat nama itu dari mana?”

“Jawab aku.”

“Aku akan datang.”

“Tidak usah.”

“Aku akan datang.”

Telepon terputus.

Empat puluh menit kemudian, Arga muncul di apartemen.

Begitu melihat Dimas, wajahnya langsung berubah.

“Kamu.”

Dimas berdiri.

“Saya kira Ibu Rania berhak tahu.”

Arga menatapnya tajam.

“Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan.”

Aku berdiri di antara mereka.

“Kalau begitu kamu yang jelaskan.”

Arga menatapku.

Untuk pertama kalinya sejak perceraian kami, ketenangan di wajahnya benar-benar hilang.

“Apa yang sudah dia ceritakan?”

“Semuanya yang kamu sembunyikan.”

“Tidak semuanya.”

“Bagus. Berarti masih ada yang bisa kamu katakan sendiri.”

Arga mengusap wajah.

Dia berjalan ke jendela.

Beberapa detik kemudian, dia berkata pelan, “Aku memang tahu siapa kamu sebelum kita bertemu.”

Kalimat itu lebih menyakitkan ketika keluar langsung dari mulutnya.

“Sejak kapan?”

“Sejak aku bekerja untuk ayahku.”

“Kenapa mendekatiku?”

Dia membalikkan badan.

“Awalnya karena ibumu.”

Aku memejamkan mata.

“Jadi benar.”

“Tapi bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Semua orang yang berbohong selalu mengatakan itu.”

Arga mengepalkan tangan.

“Ibumu tahu ada orang yang akan mengejar rumah itu setelah beliau meninggal. Rumah itu bukan sekadar properti. Di bawah kepemilikannya ada arsip transaksi perusahaan yang bisa membuktikan siapa yang sebenarnya menggelapkan aset puluhan tahun lalu.”

Dimas menoleh cepat.

“Arsip?”

Arga menatapnya.

“Kenapa menurutmu perjanjian itu hanya menyebut rumah, bukan nilai rumah?”

Aku menatap Arga.

“Arsipnya di mana?”

“Aku tidak tahu.”

“Bohong.”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

“Lalu kenapa menikah denganku?”

Wajah Arga mengeras.

“Karena ibumu memintaku mencari kamu setelah dia meninggal.”

Dadaku sesak.

“Untuk apa?”

“Memastikan kamu aman.”

Aku tertawa.

“Dengan menikahiku?”

“Awalnya tidak.”

Arga menatapku lama.

“Aku hanya mengawasimu dari jauh selama hampir setahun.”

Bulu kudukku berdiri.

“Apa?”

“Aku tahu tempatmu bekerja. Aku tahu kamu naik bus yang sama setiap pagi. Aku tahu kamu suka makan bubur ayam di warung dekat kantor setiap Jumat.”

“Berhenti.”

“Aku tidak mendekatimu karena rumah itu.”

“Berhenti, Arga.”

“Aku mendekatimu karena setelah setahun melihatmu, aku jatuh cinta.”

Aku menatapnya dengan mata panas.

“Cinta yang dimulai dari kebohongan tetaplah kebohongan.”

Dia tidak membantah.

Itulah yang paling menyakitkan.

“Lalu Selina?”

Arga terlihat lelah.

“Selina bukan selingkuhanku.”

Aku membeku.

“Dia auditor forensik.”

Dimas mengernyit.

“Untuk apa?”

“Karena dua bulan lalu seseorang kembali mencoba membuka sengketa atas rumah itu.”

Arga menatapku.

“Orang itu Surya Mahendra.”

Aku menahan napas.

“Dia masih hidup?”

“Masih.”

“Dan kamu tidak pernah memberitahuku?”

“Aku mencoba memastikan lebih dulu.”

“Dengan menghilang setiap malam?”

“Aku bertemu Selina untuk menelusuri transaksi lama.”

“Dua gelas kopi?”

“Satu milik Selina.”

Aku tertawa pahit.

“Hebat. Jadi ternyata aku salah karena mengira suamiku berselingkuh, padahal sebenarnya dia hanya menyembunyikan bahwa seluruh pernikahan kami dibangun di atas rahasia dua puluh tahun.”

Arga menunduk.

Aku memegang perut ketika bayi bergerak keras.

Arga refleks maju.

“Rania?”

“Jangan sentuh aku.”

Dia berhenti.

“Kalau semua ini benar,” kataku, “kenapa kamu begitu mudah menyetujui perceraian?”

Itulah pertanyaan yang sejak awal menggangguku.

Arga terdiam lama.

Kemudian dia berkata, “Karena aku pikir itu satu-satunya cara membuat Surya berhenti mengincarmu.”

Aku menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Dalam dokumen lama, aku tercatat sebagai pengelola sementara aset selama kamu menjadi istriku.”

Aku mulai memahami.

“Kalau kami bercerai…”

Dimas menyambung pelan, “…status pengelolaan kembali sepenuhnya kepada Ibu Rania.”

Arga mengangguk.

“Surya mengira aku menyimpan dokumen utama. Selama kamu istriku, dia akan terus mendekat lewat aku. Aku pikir kalau kita resmi berpisah dan rumah tetap berada di bawah kendaliku untuk sementara, perhatian mereka akan tetap tertuju kepadaku.”

“Jadi rumah itu sengaja kamu terima?”

“Iya.”

“Dan kamu membiarkanku berpikir kamu memilih perempuan lain?”

Arga tidak menjawab.

Aku bisa melihat jawabannya di wajahnya.

Kemarahanku berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.

“Kenapa kamu selalu merasa berhak menentukan apa yang sanggup kuterima?”

Arga memandangku.

“Aku sedang hamil delapan bulan, Arga. Aku kehilangan suamiku, meninggalkan rumahku, dan menghabiskan tiga malam berpikir ayah anakku sudah tidak peduli pada kami.”

“Aku minta maaf.”

“Maaf tidak mengembalikan tiga malam itu.”

Ruangan menjadi sunyi.

Tiba-tiba ponsel Arga berbunyi.

Sekali.

Lalu lagi.

Kemudian terus-menerus.

Arga melihat layar.

Wajahnya berubah.

“Apa?” tanyaku.

Dia tidak menjawab.

Ponselnya kembali berdering.

Nama yang sama muncul.

Selina.

Arga mengangkatnya.

“Ada apa?”

Aku tidak bisa mendengar jelas suara di seberang sana.

Namun ekspresi Arga semakin tegang.

“Kapan?”

Dia menatapku.

“Apa kamu yakin?”

Beberapa detik kemudian telepon selesai.

“Ada apa?” tanyaku lagi.

Arga berkata pelan, “Surya ditemukan meninggal pagi ini.”

Dimas langsung berdiri.

“Meninggal?”

“Serangan jantung, katanya.”

“Katanya?”

“Selina baru mendapat akses ke arsip rumah sakit. Surya meninggal pukul tiga lewat sepuluh dini hari.”

Aku terdiam.

Hampir satu jam setelah Dimas meneleponku.

Ada sesuatu yang terasa salah.

“Kenapa Selina mencari data rumah sakit?”

“Karena sebelum meninggal, Surya mengirim email.”

“Kepada siapa?”

Arga menatapku.

“Kepadamu.”

Aku langsung mengambil ponsel.

Tidak ada email baru.

“Tidak ada.”

“Bukan ke alamatmu sekarang.”

Selina mengirim sesuatu ke Arga.

Dia memperlihatkannya kepadaku.

Alamat email lama.

Alamat yang sudah tidak kugunakan sejak kuliah.

Subjeknya hanya dua kata.

Untuk Rania.

Email itu dikirim pukul 02.46.

Aku membukanya dengan tangan gemetar.

Isinya sangat pendek.

Rania,

Jika kamu membaca ini, berarti aku gagal memperbaiki sesuatu yang seharusnya kuselesaikan bertahun-tahun lalu.

Jangan percaya cerita siapa pun sepenuhnya, termasuk cerita Arga.

Rumah itu memang milik ibumu.

Tetapi yang tersembunyi di sana bukan bukti kejahatanku.

Itu bukti bahwa ayah kandungmu tidak pernah meninggal dalam kecelakaan seperti yang selama ini kamu percaya.

Dadaku seakan dihantam benda berat.

Aku membaca kalimat berikutnya.

Nama ayah kandungmu bukan Aditya Adhisty.

Aku berhenti bernapas.

Arga berdiri mematung.

Dimas membungkuk mendekati layar.

Aku menggulir ke bawah.

Kalimat terakhir hanya terdiri dari tujuh kata.

Ayah kandungmu adalah ayah Arga Pradana.

Ponselku jatuh ke lantai.

Tidak ada seorang pun bergerak.

Aku mendengar hujan mulai turun di luar.

Suara yang sama seperti sore ketika aku menandatangani perceraian.

Arga terlihat lebih pucat dariku.

“Tidak,” katanya.

Suaranya hampir tidak terdengar.

Aku menatapnya.

“Kamu tahu?”

“Tidak.”

“Jangan bohong lagi.”

“Aku bersumpah.”

Dimas bergerak cepat mengambil dokumen.

Dia membaca ulang beberapa halaman.

“Kalau email itu benar…”

“Tidak mungkin,” kata Arga keras. “Ayahku tidak pernah…”

Dia berhenti.

Karena tiba-tiba kami semua mengingat hal yang sama.

Tatapan ayah Arga kepadaku.

Kalimatnya.

Kamu mirip sekali dengan ibumu.

Aku merasa mual.

“Tes DNA,” kataku.

Arga menatapku.

“Kita lakukan tes DNA.”

Tiga hari kemudian, hasil pemeriksaan keluar.

Aku dan Arga duduk berseberangan di sebuah ruang konsultasi laboratorium.

Tidak ada yang berani saling melihat ketika dokter membuka amplop.

Namun ternyata ketakutan kami salah.

Kami bukan saudara.

Tidak ada hubungan biologis sebagai saudara seayah.

Aku hampir menangis karena lega.

Sampai dokter menambahkan sesuatu.

“Tapi ada indikasi hubungan keluarga antara Ibu Rania dan sampel DNA almarhum ayah Pak Arga yang diberikan keluarga.”

Aku menatapnya.

“Hubungan apa?”

Dokter menunjuk hasil.

“Kemungkinan besar beliau adalah paman biologis Anda.”

Semua potongan akhirnya mulai tersusun.

Setelah penyelidikan lanjutan, kebenaran yang sesungguhnya muncul.

Ayah kandungku adalah adik dari ayah Arga.

Seorang pria bernama Rendra Pradana.

Rendra meninggal bukan karena kecelakaan lalu lintas seperti yang diceritakan ibu kepadaku, melainkan dalam kebakaran gudang perusahaan yang diduga berkaitan dengan sengketa bisnis lama.

Ibu mengganti identitasku setelah itu.

Dia menggunakan nama keluarganya sendiri agar aku tidak tumbuh di tengah konflik keluarga Pradana.

Surya bukan ayahku.

Ayah Arga juga bukan ayahku.

Namun mereka semua mengetahui siapa aku.

Termasuk ibu.

Termasuk ayah Arga.

Dan akhirnya, bertahun-tahun kemudian, termasuk Arga.

Hanya aku yang dibiarkan hidup tanpa kebenaran.

Arsip yang tersembunyi di rumah akhirnya ditemukan dua minggu kemudian.

Bukan di brankas.

Bukan di bawah lantai.

Melainkan di dalam kotak kayu tua peninggalan ibu yang kubawa sendiri ke apartemen.

Kotak yang selama ini kukira hanya berisi surat dan foto keluarga.

Di bawah lapisan kayunya ada ruang tipis.

Di sana tersimpan sebuah flashdisk lama dan surat terakhir ibu.

Rania,

Jika kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah mengetahui lebih banyak daripada yang ingin Ibu ceritakan ketika masih hidup.

Ibu minta maaf karena melindungimu dengan cara yang mungkin terasa seperti kebohongan.

Arga tahu sebagian sejarah keluarga kita, tetapi tidak semuanya.

Ibu tidak pernah memintanya menikahimu.

Ibu hanya memintanya memastikan kamu tidak sendirian jika suatu hari masa lalu kembali datang.

Kalau dia akhirnya mencintaimu, itu bukan bagian dari rencana siapa pun.

Itu pilihannya.

Dan kalau suatu hari dia menyakitimu atas nama melindungimu, jangan maafkan dia terlalu cepat.

Cinta yang baik tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan hak untuk mengetahui kebenaran.

Aku menangis lama setelah membaca bagian itu.

Bukan karena Arga.

Bukan karena rumah.

Bukan pula karena warisan perusahaan yang ternyata nilainya jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.

Aku menangis karena akhirnya memahami ibuku.

Dia mencintaiku.

Namun seperti Arga, dia pernah membuat kesalahan yang sama.

Mereka sama-sama mengira menyembunyikan kebenaran adalah bentuk perlindungan.

Sebulan kemudian aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Arga berada di rumah sakit.

Bukan sebagai suamiku.

Proses perceraian kami tetap berjalan.

Dia tidak pernah meminta surat itu dibatalkan.

Dia hanya datang setiap hari, membawa makanan, mengganti popok, belajar menenangkan bayi kami, dan pulang ketika aku memintanya pulang.

Suatu malam, ketika putri kami tertidur di lenganku, Arga duduk di kursi dekat jendela.

“Aku tidak akan minta kamu kembali,” katanya.

Aku menatapnya.

“Bagus.”

Dia tersenyum tipis.

“Tapi aku akan tetap jadi ayahnya.”

“Aku tidak pernah melarang.”

“Aku juga akan mengembalikan rumah itu.”

“Rumah itu memang bukan milikmu.”

“Iya.”

Dia menunduk.

“Dan kalau suatu hari kamu mau memaafkanku…”

Aku memotongnya.

“Memaafkan tidak selalu berarti kembali.”

Arga mengangguk.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, dia benar-benar terdengar mengerti.

Aku menatap bayi kecil di pelukanku.

Selama berbulan-bulan aku mengira cerita ini tentang seorang suami yang meninggalkan istrinya demi perempuan lain.

Ternyata bukan.

Ini tentang sebuah keluarga yang selama bertahun-tahun diwarisi kebohongan karena semua orang merasa sedang melindungi seseorang.

Tentang seorang ibu yang menyembunyikan masa lalu.

Tentang seorang suami yang menyembunyikan bahaya.

Tentang seorang perempuan yang akhirnya memutuskan bahwa anaknya tidak akan tumbuh dengan warisan yang sama.

Aku menamai putriku Kirana.

Dan pada hari aku membawa Kirana pulang dari rumah sakit, aku tidak kembali ke rumah di Jalan Cendana.

Aku menjualnya.

Bukan karena rumah itu menyimpan terlalu banyak luka.

Namun karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin memiliki sesuatu yang tidak diwariskan oleh ketakutan siapa pun.

Dengan sebagian uangnya, aku membeli rumah kecil atas namaku sendiri.

Sebagian lain kugunakan untuk membuka kembali penyelidikan atas kematian ayah kandungku dan transaksi lama perusahaan.

Arga menyerahkan seluruh bukti yang dia punya.

Selina menjadi auditor dalam proses hukum tersebut.

Dimas membantuku menata semua dokumen.

Dan enam bulan kemudian, beberapa orang yang selama puluhan tahun hidup nyaman dari aset hasil manipulasi akhirnya harus menjawab pertanyaan yang selama ini terkubur.

Suatu sore, Arga datang menjemput Kirana.

Dia berdiri di depan rumah baruku sambil memandang papan nama kecil di pagar.

Rumah Kirana.

Dia tersenyum.

“Kamu benar-benar memulai dari awal.”

Aku menggendong Kirana dan menyerahkannya kepadanya.

“Bukan dari awal.”

Arga menatapku.

“Lalu?”

Aku melihat putri kami membuka matanya.

“Dari kebenaran.”

Arga terdiam.

Aku menutup pintu perlahan setelah mereka pergi.

Di ruang tamu, kotak kayu peninggalan ibu masih kusimpan.

Namun sekarang kotak itu kosong.

Tidak ada dokumen rahasia.

Tidak ada nama yang disembunyikan.

Tidak ada perjanjian yang menunggu ditemukan.

Aku sengaja membiarkannya seperti itu.

Sebagai pengingat bahwa keluarga tidak seharusnya dibangun dari rahasia yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Malam ketiga setelah aku menyerahkan rumah kepada Arga, sebuah telepon memang mengubah seluruh hidupku.

Tetapi bukan karena orang yang menelepon mengetahui namaku.

Melainkan karena setelah telepon itu, untuk pertama kalinya aku mulai mengetahui siapa diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang