Seminggu Setelah Operasi, Suamiku Memberiku Sebuah Map. Kukira Isinya Ucapan Terima Kasih, Ternyata Aku Salah Besar.

Pagi setelah menemukan kuitansi itu, aku bangun dengan kepala berat dan dada yang terasa sesak.

Bayu masih tidur di sampingku. Wajahnya tampak tenang, seolah tidak ada rahasia apa pun yang sedang bersembunyi di antara kami.

Aku menatapnya lama.

Selama hampir delapan tahun menikah, aku mengenal setiap kebiasaannya. Cara ia mengerutkan dahi ketika berpikir, cara ia mendengkur pelan ketika terlalu lelah, bahkan cara tangannya bergerak mencari tanganku dalam tidur.

Namun pagi itu, untuk pertama kalinya aku bertanya dalam hati.

Siapa sebenarnya laki-laki yang tidur di sebelahku ini?

Kuitansi yang kutemukan semalam kusimpan di dalam dompet.

Nama yang tercetak di bagian bawahnya adalah Arman Prasetyo.

Pamanku sendiri.

Adik kandung ayah.

Aku tidak pernah memanggilnya Paman Arman lagi sejak dua belas tahun lalu.

Setelah ayah meninggal, Arman pernah datang membawa beberapa dokumen dan mengatakan bahwa toko ayah sebenarnya berdiri di atas tanah keluarga. Ia meminta ibu menyerahkan sebagian kepemilikan.

Ibu menolak.

Pertengkaran besar terjadi.

Belakangan kami mengetahui bahwa beberapa dokumen yang dibawanya telah dimanipulasi. Ayah bahkan pernah meninggalkan surat yang menegaskan toko itu diberikan sepenuhnya kepadaku.

Sejak saat itu hubungan kami terputus.

Jadi ketika melihat nama Arman pada kuitansi milik Bayu, aku tahu ini bukan kebetulan.

Jumat berikutnya, Bayu kembali bersiap keluar.

“Mau ke rumah sakit?” tanyaku sambil menuangkan teh.

“Iya. Ada dokumen yang belum selesai.”

Aku mengangguk seolah percaya.

Begitu motornya meninggalkan gang, aku mengambil jaket dan memesan ojek online.

Aku mengikutinya dari jarak aman.

Bayu tidak pergi ke rumah sakit.

Ia menuju sebuah kawasan ruko baru sekitar dua puluh menit dari rumah kami.

Aku meminta pengemudi berhenti di seberang jalan.

Bayu masuk ke sebuah kedai kopi kecil.

Melalui kaca depan, aku melihat seseorang sudah menunggunya.

Seorang perempuan.

Usianya mungkin sekitar empat puluh tahun. Rambutnya sebahu, mengenakan blazer krem dan membawa tas kerja hitam.

Aku mengenal wajah itu.

Perempuan yang namanya berkali-kali muncul di layar ponsel Bayu.

Mereka berbicara serius.

Perempuan itu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

Bayu membacanya, kemudian menandatangani sesuatu.

Aku merasa telapak tanganku berkeringat.

Lalu seorang laki-laki datang.

Tubuhku langsung kaku.

Arman.

Dua belas tahun tidak bertemu ternyata tidak cukup untuk membuatku lupa wajahnya.

Rambutnya sudah lebih putih. Tubuhnya sedikit membungkuk. Namun cara berjalan dan tatapan matanya masih sama.

Bayu berdiri dan menjabat tangannya.

Mereka duduk bertiga.

Aku hampir menyeberang saat itu juga.

Aku ingin masuk, melempar kuitansi ke meja mereka, lalu meminta penjelasan.

Tetapi nasihat ayah tiba-tiba muncul dalam pikiranku.

Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah. Orang yang marah biasanya menunjukkan semua kartunya terlalu cepat.

Aku menahan diri.

Sekitar empat puluh menit kemudian, Arman keluar lebih dulu.

Perempuan itu menyusul.

Bayu pergi terakhir.

Aku menunggu beberapa menit sebelum memasuki kedai.

Pelayan sedang membersihkan meja yang baru mereka gunakan.

“Maaf, Mbak,” kataku, “tiga orang yang tadi duduk di sini sering datang?”

Pelayan itu berpikir sebentar.

“Bapak yang habis operasi itu?”

Jantungku serasa berhenti.

“Kamu tahu dia habis operasi?”

“Pernah dengar mereka ngomong.”

“Sering datang?”

“Mungkin empat atau lima kali.”

Aku mencoba tersenyum.

“Perempuan tadi siapa?”

“Kurang tahu. Kayaknya notaris atau pengacara. Mereka sering bawa dokumen.”

Aku pulang dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Malam itu Bayu pulang membawa martabak.

Dulu aku pasti tersenyum karena ia masih ingat makanan kesukaanku.

Sekarang aku hanya melihat kotak itu dan bertanya-tanya apakah rasa bersalah bisa dibungkus dengan makanan.

“Urusannya selesai?” tanyaku.

“Hampir.”

Ia bahkan tidak menatap mataku ketika menjawab.

Tiga hari kemudian, tepat seminggu setelah kontrol pascaoperasinya yang terakhir, Bayu memanggilku ke ruang makan.

Ada sebuah map cokelat di tangannya.

Jantungku langsung berdegup keras.

“Aku mau kasih sesuatu,” katanya.

Aku duduk.

Entah kenapa aku teringat semua malam di rumah sakit. Tangannya yang kugenggam. Toko ayah yang kulepaskan. Uang yang kukumpulkan sedikit demi sedikit lalu habis untuk biaya operasi.

Untuk beberapa detik, bagian bodoh dalam diriku masih berharap map itu berisi sesuatu yang baik.

Mungkin surat terima kasih.

Mungkin rencana baru untuk hidup kami.

Bayu mendorong map itu ke arahku.

“Baca dulu.”

Aku membukanya.

Lembar pertama adalah dokumen legal.

Aku membaca paragraf demi paragraf.

Semakin jauh kubaca, semakin dingin tubuhku.

Dokumen itu berkaitan dengan toko ayah.

Lebih tepatnya, tanah tempat toko itu berdiri.

Nama pembeli yang tercantum dalam transaksi penjualan ternyata sebuah perusahaan bernama PT Cakra Sentosa Properti.

Aku tidak pernah memperhatikan nama itu sebelumnya. Ketika menjual toko, pikiranku hanya tertuju pada operasi Bayu.

Namun di dokumen yang diberikan Bayu, tercantum struktur kepemilikan perusahaan tersebut.

Salah satu pemegang sahamnya adalah Arman Prasetyo.

Aku mengangkat kepala.

“Kamu tahu?”

Bayu tidak menjawab.

“Kamu tahu siapa yang membeli toko itu?”

“Rina, dengarkan dulu.”

“Sejak kapan?”

Suaraku mulai bergetar.

“Sejak sebelum operasi?”

Bayu memejamkan mata.

Dan diamnya menjadi jawaban yang lebih menyakitkan daripada kata apa pun.

Aku berdiri.

“Kamu sakit sungguhan?”

Bayu langsung menatapku.

“Tentu.”

“Operasinya sungguhan?”

“Iya.”

“Biayanya?”

Ia kembali diam.

Aku merasakan sesuatu runtuh dalam diriku.

“Berapa sebenarnya biaya operasimu?”

“Rina…”

“Berapa?”

Bayu menarik napas panjang.

“Sebagian ditanggung asuransi kantor.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena kalau aku tidak tertawa, mungkin aku akan berteriak.

“Sebagian?”

“Sebagian besar.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi uang hasil penjualan toko itu?”

“Aku tidak mengambilnya.”

“Tapi kamu membiarkan aku menjual toko.”

“Aku tidak punya pilihan waktu itu.”

Aku mengambil gelas di meja dan meletakkannya kembali sebelum tanganku benar-benar melemparkannya.

“Jangan bilang kamu tidak punya pilihan. Kamu melihat aku menjual perhiasan. Kamu melihat aku meminjam uang. Kamu melihat aku menangis malam sebelum toko dijual.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

Suaraku pecah.

“Kalau begitu kenapa kamu diam?”

Bayu menunduk.

“Karena Arman menghubungiku beberapa bulan sebelum aku sakit.”

Dadaku semakin sesak.

Ia menjelaskan bahwa kawasan pasar tempat toko ayah berada akan masuk proyek pembangunan komersial besar.

Nilai tanah di sana diperkirakan melonjak berkali-kali lipat.

Arman mengetahui hal itu lebih awal melalui rekannya.

Masalahnya, ia tidak bisa mendapatkan toko kami secara langsung karena tahu aku tidak akan pernah menjual kepadanya.

Maka ia mendekati Bayu.

“Dia menawarkan uang?” tanyaku.

Bayu mengangguk pelan.

“Berapa?”

“Dua ratus juta.”

Aku hampir tidak percaya.

“Kamu menjual kenangan ayahku seharga dua ratus juta?”

“Aku belum menerima semuanya.”

Kalimat itu justru membuatku semakin muak.

“Jadi memang ada kesepakatan.”

Bayu berdiri.

“Aku sedang terlilit utang, Rin.”

Aku membeku.

Utang?

Bayu mengaku bahwa selama hampir setahun ia diam-diam bermain investasi daring berisiko tinggi. Awalnya untung. Kemudian ia mulai meminjam uang untuk menambah modal.

Ketika pasar berbalik, semuanya habis.

Utangnya mencapai ratusan juta.

Aku tidak pernah tahu.

Ia menyembunyikan semuanya karena malu.

Kemudian Arman datang menawarkan jalan keluar.

Yang perlu Bayu lakukan hanyalah membuatku percaya bahwa kami membutuhkan uang tunai dalam jumlah besar.

Lalu Bayu benar-benar jatuh sakit.

Diagnosisnya nyata.

Operasinya memang diperlukan.

Tetapi biaya yang ia katakan kepadaku tidak pernah sebesar itu.

Ia menggunakan penyakitnya sebagai alasan agar aku bersedia menjual toko.

Aku terduduk.

Ada rasa sakit yang bahkan sulit dijelaskan.

Perselingkuhan mungkin masih bisa membuatku marah.

Tapi ini berbeda.

Bayu menggunakan ketakutanku kehilangan dirinya untuk mengambil sesuatu yang diwariskan ayah kepadaku.

“Aku mau pergi,” kataku.

“Tunggu.”

Bayu menunjuk map.

“Belum selesai.”

Aku hampir merobek dokumen itu.

Namun sebuah halaman terakhir membuatku berhenti.

Itu adalah surat pembatalan transaksi.

Aku membaca ulang.

Kemudian melihat Bayu.

“Apa ini?”

“Alasan aku bertemu perempuan itu setiap Jumat.”

Perempuan bernama Laras itu ternyata pengacara.

Bukan selingkuhan.

Setelah operasi, Bayu mengetahui sesuatu yang tidak pernah diberitahukan Arman.

Perusahaan pembeli toko belum menyelesaikan seluruh pembayaran sesuai perjanjian.

Selain itu, ada klausul yang menyatakan transaksi dapat dibatalkan jika terbukti terdapat konflik kepentingan dan informasi material mengenai rencana pembangunan yang sengaja disembunyikan oleh pembeli.

Laras adalah pengacara yang membantu Bayu mengumpulkan bukti.

“Kuitansi yang kamu temukan?” katanya.

Aku terdiam.

Jadi ia tahu.

“Itu pembayaran dari Arman kepadaku. Aku sengaja menyimpannya.”

“Kenapa?”

“Bukti.”

Bayu membuka halaman lain.

Ada rekaman percakapan, bukti transfer, salinan pesan, dan surat pernyataan.

Semua menunjukkan bahwa Arman memang merencanakan pembelian toko melalui perusahaan perantara.

“Pesan Laras yang kulihat?”

Bayu menatapku.

“Dia bilang kalau kamu sudah pulang, aku harus melakukan seperti yang kami bicarakan.”

“Apa?”

“Memberitahumu semuanya.”

Aku menatap map itu.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena aku pengecut.”

Jawabannya sederhana.

Tidak ada pembelaan.

“Aku memang mengkhianatimu, Rin. Jangan salah paham. Apa yang kulakukan sebelum operasi tidak bisa dibenarkan.”

Matanya memerah.

“Aku hampir menghancurkan hidupmu demi menutupi kesalahanku sendiri.”

Ia kemudian mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

Setelah operasi, ketika ia sadar di ruang pemulihan, ia melihatku tertidur di kursi dengan kepala bersandar di ranjangnya.

Perawat mengatakan aku hampir tidak pernah meninggalkannya.

Saat itulah rasa bersalah yang selama ini ia tekan mulai menghantamnya.

Ia menghubungi Laras, teman kuliahnya yang kini menjadi pengacara.

Bukan untuk menyelamatkan pernikahan kami.

Tetapi untuk mengembalikan toko.

“Besok ada mediasi terakhir,” katanya. “Kalau Arman menolak, Laras akan membawa kasus ini ke pengadilan.”

Aku menatapnya lama.

“Dan kamu pikir setelah mengembalikan toko semuanya selesai?”

Bayu menggeleng.

“Tidak.”

“Bagus.”

Aku menutup map.

“Aku akan ikut mediasi. Tapi bukan untuk menyelamatkan pernikahan kita.”

Wajahnya berubah.

“Rina…”

“Aku mau mengambil kembali apa yang ayah tinggalkan untukku. Setelah itu, kita bicara soal perceraian.”

Bayu tidak memohon.

Mungkin ia tahu tidak punya hak.

Keesokan harinya aku bertemu Arman setelah dua belas tahun.

Ia mencoba tersenyum ketika melihatku.

“Rina, kita keluarga.”

Aku menatapnya.

“Justru karena kita keluarga, Paman tahu persis nilai toko itu bagiku.”

Laras meletakkan bukti-bukti di meja.

Arman menyangkal pada awalnya.

Namun ketika rekaman suara Bayu diputar, wajahnya berubah.

Dalam rekaman itu terdengar jelas Arman mengatakan bahwa aku tidak akan pernah menjual toko kecuali berada dalam keadaan terdesak.

Dua minggu kemudian, transaksi dibatalkan melalui kesepakatan hukum.

Aku mendapatkan kembali kepemilikan toko.

Tetapi kejutan terbesar datang ketika Laras memeriksa dokumen lama milik ayah.

Ternyata ayah pernah menolak tawaran pengembang bertahun-tahun lalu karena mengetahui kawasan itu suatu hari akan berkembang.

Di bagian belakang salah satu dokumen, ada tulisan tangan ayah.

Tulisan yang hampir pudar.

Jika suatu hari Rina membaca ini, jangan pertahankan toko hanya karena kenangan. Pertahankan hakmu untuk menentukan sendiri kapan harus melepaskannya.

Aku menangis saat membacanya.

Selama ini kupikir pesan ayah adalah tentang mempertahankan harta.

Ternyata bukan.

Itu tentang mempertahankan pilihan.

Tiga bulan kemudian, aku dan Bayu resmi berpisah.

Aku tidak membencinya.

Tetapi memaafkan seseorang tidak selalu berarti memberikan kembali tempat yang sama dalam hidup kita.

Bayu menjual motornya, mencairkan tabungan pensiun yang bisa diambil, dan bekerja tambahan untuk menyelesaikan utang yang dibuatnya sendiri.

Aku tidak lagi ikut campur.

Sedangkan toko ayah?

Aku juga tidak mempertahankannya.

Setelah status tanah benar-benar kembali bersih, sebuah perusahaan lain datang memberikan penawaran hampir empat kali lipat dari harga sebelumnya.

Kali ini aku menjualnya.

Bukan karena takut kehilangan seseorang.

Bukan karena ditipu.

Bukan karena dipaksa keadaan.

Aku menjualnya karena aku sendiri yang memilih.

Dengan sebagian uang itu, aku membuka toko baru di lokasi yang lebih strategis.

Aku membawa meja kayu tua milik ayah yang selama ini kusimpan di gudang.

Pada hari pertama toko baru dibuka, aku duduk di belakang meja itu sambil mengusap bekas goresan di permukaannya.

Aku akhirnya memahami kalimat ayah bertahun-tahun lalu.

Perempuan harus punya sesuatu yang bisa dia pertahankan sendiri.

Yang dimaksud ayah ternyata bukan toko.

Bukan tanah.

Bukan uang.

Melainkan dirinya sendiri.

Dan setelah kehilangan begitu banyak hal, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa akhirnya berhasil mempertahankan itu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang