Hari Itu Aku Dipanggil ke Kantor Notaris, Tapi Bukan untuk Menerima Warisan. Paman Malah Menyuruhku Mengosongkan Rumah Kakek Sebelum Matahari Terbenam.

Notaris itu tidak langsung membuka amplop.

Ia menunggu sampai Paman Arman kembali duduk, meski kali ini dua orang di sampingnya menjaga jarak seolah takut ia akan mencoba merebutnya lagi.

Ruangan yang tadi dipenuhi bisik-bisik tentang harga tanah mendadak menjadi sunyi.

Aku bisa mendengar bunyi pendingin udara.

Bisa mendengar detak jam dinding.

Bahkan bisa mendengar napasku sendiri.

Notaris menatap jam tangan di telapak tanganku.

“Boleh saya melihatnya?”

Aku mengangguk dan menyerahkannya.

Ia membalik jam tua itu.

Di bagian belakang terdapat goresan-goresan kecil yang selama ini kukira hanya bekas usia.

Notaris mengambil kaca pembesar dari kopernya.

Kemudian ia menunjuk bagian di dekat pengait tali.

“Ada angka di sini.”

Aku mendekat.

Baru saat itulah aku melihatnya.

Tujuh digit kecil terukir di belakang jam.

Paman Arman memalingkan wajah.

“Apa itu?” tanyaku.

Notaris mengeluarkan selembar dokumen.

“Nomor penyimpanan.”

Bibi Rina mengernyit.

“Penyimpanan apa?”

“Safe deposit box.”

Ruangan kembali gaduh.

Aku justru semakin bingung.

Kakek hidup sederhana. Dia bahkan pernah menunda membeli obat karena uang pensiunnya terlambat masuk.

Bagaimana mungkin dia memiliki safe deposit box?

Notaris mengangkat tangannya meminta semua orang tenang.

“Almarhum membuka kotak penyimpanan itu lebih dari dua puluh tahun lalu. Beliau memberikan instruksi tertulis bahwa kotak tersebut hanya boleh dibuka setelah beliau meninggal dan hanya jika Nona Nadia membawa jam ini.”

Aku menatap Paman Arman.

“Paman tahu?”

Dia tidak menjawab.

“Paman tahu tentang ini?”

Rahangnya mengeras.

“Orang tua kadang menyimpan barang tidak penting.”

“Kalau tidak penting, kenapa Paman tadi mencoba merebut amplop?”

Wajahnya langsung berubah.

“Nadia, jaga bicaramu.”

Biasanya nada seperti itu cukup membuatku diam.

Sejak kecil aku terbiasa mengalah pada orang-orang yang lebih tua.

Namun entah kenapa, hari itu aku tidak ingin menunduk lagi.

“Tidak,” kataku pelan. “Hari ini Paman yang harus bicara.”

Notaris membuka amplop.

Di dalamnya terdapat sebuah surat dan kartu akses bank lama.

Ia membaca kalimat pertama.

“Untuk Nadia. Kalau kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada, dan mereka akhirnya duduk bersama dalam satu ruangan karena sesuatu yang selama ini mereka anggap lebih penting daripada keluarga, yaitu harta.”

Tidak ada yang bergerak.

Aku menunduk.

Itu benar-benar cara Kakek berbicara.

Tajam, singkat, dan tidak pernah berputar-putar.

Notaris melanjutkan.

“Aku tidak meninggalkan surat ini untuk membuatmu kaya. Aku meninggalkannya supaya hidupmu tidak lagi dibangun di atas kebohongan orang lain.”

Tanganku mulai dingin.

“Jam yang berhenti pada pukul 02.17 bukan rusak. Aku sengaja menghentikannya pada jam ketika ibumu dibawa ke rumah sakit dua puluh empat tahun lalu.”

Aku refleks mengangkat wajah.

Ibuku meninggal ketika aku masih kecil.

Yang selalu diceritakan keluarga adalah penyakit mendadak.

Demam tinggi.

Komplikasi.

Tidak ada yang pernah membicarakan pukul 02.17.

Notaris berhenti sejenak.

Paman Arman tampak ingin bangkit lagi, tetapi suami Bibi Rina memegang lengannya.

Aku berkata, “Lanjutkan.”

“Pada malam itu,” baca notaris, “ibumu tidak jatuh sakit seperti yang selama ini dikatakan kepadamu.”

Dunia seperti berhenti.

Aku menatap wajah-wajah di sekitarku.

Bibi Rina sudah pucat.

Sepupuku menurunkan ponselnya.

Aku memandang Paman Arman.

“Jadi apa yang terjadi pada Ibu?”

Tak ada jawaban.

Notaris kembali membaca.

“Ibumu, Laras, mengalami kecelakaan.”

Aku menarik napas.

“Kecelakaan apa?”

Kalimat selanjutnya menjawab pertanyaanku.

“Kecelakaan mobil.”

Aku merasa kursiku seperti bergeser meski sebenarnya tidak.

“Mobil siapa?”

Notaris tidak langsung menjawab.

Ia melihat surat itu, lalu menatap Paman Arman.

“Mobil Bapak Arman.”

Bibi Rina menutup mulut.

Aku berdiri.

Kedua lututku lemas, tetapi aku memaksa tubuhku tetap tegak.

“Paman?”

Arman menatap meja.

“Dengar dulu.”

“Apa yang harus kudengar?”

“Nadia, kejadian itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Aku bahkan belum tahu harus berpikir apa.”

Suara Paman terdengar serak.

“Malam itu aku masih muda.”

Aku tertawa pendek.

Aneh sekali, karena aku sama sekali tidak merasa ingin tertawa.

“Dan itu membuat apa?”

Dia diam.

Notaris menyela.

“Suratnya belum selesai.”

Aku kembali duduk.

Tanganku gemetar.

“Lanjutkan.”

“Arman mengemudi setelah minum. Laras menolak membiarkannya membawa mobil sendiri. Mereka bertengkar. Laras akhirnya ikut karena ingin memastikan adiknya pulang dengan selamat.”

Aku menutup mata.

Ibuku.

Bahkan pada malam yang merenggut nyawanya, ternyata dia sedang mencoba menolong orang lain.

“Dalam perjalanan,” lanjut notaris, “mobil keluar jalur dan menabrak pembatas.”

Aku menatap Paman.

“Paman yang mengemudi?”

Dia mengusap wajah.

“Iya.”

Satu kata itu menghantamku lebih keras daripada semua dugaan.

Bibi Rina berbisik, “Kenapa kami tidak pernah tahu?”

Paman Arman membentak, “Karena Ayah menyuruh semua orang diam!”

Aku membeku.

“Apa?”

Dia memukul meja.

“Ayah yang mengurus semuanya! Bukan aku sendiri!”

Notaris menurunkan surat.

Paman Arman kini berdiri.

Matanya merah.

“Polisi datang ke rumah sakit. Ayah bicara dengan mereka. Dia bilang Laras yang mengemudi.”

Aku seperti kehilangan udara.

“Kakek berbohong?”

“Iya!”

“Untuk melindungi Paman?”

Wajah Arman hancur.

“Dia bilang aku masih punya masa depan.”

Aku tidak tahu perasaan apa yang paling kuat di dalam diriku.

Marah.

Muak.

Atau kecewa.

Selama ini aku menganggap Kakek sebagai satu-satunya orang di keluarga yang tidak pernah meninggalkanku.

Tapi rupanya dia juga menyimpan kebohongan terbesar dalam hidupku.

Aku bangkit.

“Aku mau pulang.”

Notaris segera berkata, “Nona Nadia, masih ada bagian penting.”

“Apa lagi?”

Suara yang keluar dari mulutku terdengar seperti milik orang lain.

“Safe deposit box.”

Aku hampir tertawa.

“Kalau isinya uang, saya tidak mau.”

“Bukan uang.”

Aku berhenti.

Paman Arman mendadak terlihat panik lagi.

“Nadia, cukup.”

Aku menoleh kepadanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak takut sedikit pun.

“Justru sekarang aku ingin tahu semuanya.”

Notaris meminta kami menuju sebuah bank yang berjarak sekitar lima belas menit.

Tidak semua ikut.

Sepupuku memilih pulang.

Bibi Rina ikut karena menurutnya dia berhak mengetahui apa yang disembunyikan ayah mereka.

Paman Arman ikut tanpa berkata apa-apa.

Di sepanjang perjalanan, aku memegang jam Kakek.

02.17.

Tiba-tiba angka itu bukan lagi waktu.

Itu adalah batas.

Sebelum pukul itu, aku memiliki seorang ibu.

Setelah pukul itu, hidupku berubah selamanya.

Di bank, kami dibawa ke ruangan khusus.

Petugas mengeluarkan sebuah kotak logam panjang.

Kunci pertama dipegang bank.

Kunci kedua berada di dalam koper notaris.

Kotak dibuka.

Isinya jauh lebih sedikit dari yang kubayangkan.

Sebuah kaset rekaman lama.

Satu map plastik.

Beberapa foto.

Dan buku tabungan atas nama ibuku.

Aku menyentuh map itu.

Di dalamnya ada salinan laporan polisi.

Laporan asli menyatakan Paman Arman sebagai pengemudi.

Di halaman berikutnya, ada laporan berbeda yang menyatakan ibuku mengemudi.

Tanggalnya sama.

Jamnya berbeda.

Aku menoleh pada Paman.

Dia tidak sanggup menatapku.

“Kenapa Kakek menyimpan ini?”

Notaris menjawab, “Karena rupanya beliau menyesal.”

Aku membuka surat kedua.

Tulisan tangan Kakek.

Lebih goyah dibandingkan surat sebelumnya.

“Nadia, selama hidup aku melakukan dua hal yang paling memalukan. Pertama, aku membiarkan anakku yang tidak bersalah menanggung kesalahan setelah dia meninggal. Kedua, aku membiarkan anak yang bersalah hidup seolah tidak pernah terjadi apa-apa.”

Air mataku jatuh sebelum sempat kutahan.

“Aku pikir aku sedang menyelamatkan Arman. Padahal aku sedang menghancurkan banyak orang sekaligus.”

Aku berhenti membaca.

Bibi Rina menangis tanpa suara.

Paman Arman duduk sambil menutup wajah.

Aku melanjutkan.

“Setelah ibumu meninggal, aku membesarkanmu karena aku mencintaimu. Tapi aku juga melakukannya karena setiap kali melihat wajahmu, aku teringat dosa yang tidak pernah berani kuperbaiki.”

Aku menggigit bibir.

Selama bertahun-tahun aku pikir Kakek menungguku di teras karena dia kesepian.

Sekarang aku menyadari mungkin ada rasa bersalah dalam setiap penantiannya.

Surat itu belum selesai.

“Aku tidak meminta kamu memaafkanku. Orang mati tidak berhak meminta kemudahan dari orang yang masih hidup. Aku hanya ingin kamu punya kebenaran.”

Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat.

“Dan rumah itu bukan warisan terbesar yang kutinggalkan.”

Aku mengangkat kepala.

Notaris mengambil satu dokumen lain dari dalam map.

Sertifikat tanah.

Nama pemiliknya membuat Bibi Rina langsung berdiri.

“Nadia?”

Aku pun terkejut.

Namaku tercantum di sana.

“Apa ini?”

Notaris menjelaskan, “Rumah tersebut sudah dialihkan kepada Anda tiga tahun lalu melalui akta hibah.”

Paman Arman mengangkat wajah.

“Tidak mungkin.”

“Dokumennya sah.”

“Tidak mungkin! Ayah bilang rumah itu tetap atas namanya!”

Notaris menatapnya.

“Bapak Pradana memang tidak memberitahukan hal tersebut kepada keluarga.”

Aku masih belum mampu memahami semuanya.

“Jadi rumah itu…”

“Milik Anda.”

Aku teringat telepon kemarin.

Sebelum matahari terbenam, barang-barangmu sebaiknya sudah keluar.

Aku menatap Paman Arman.

Dia juga mengingat kalimat itu.

Wajahnya berubah merah.

“Nadia, rumah itu rumah keluarga.”

Aku menjawab pelan, “Kemarin Paman bilang itu bukan urusanku.”

Dia terdiam.

Namun notaris mengangkat satu dokumen lagi.

“Masih ada sesuatu.”

Paman Arman mendadak bangkit.

“Tidak ada lagi!”

Notaris tetap tenang.

“Justru ini berkaitan dengan alasan Anda ingin rumah tersebut segera direnovasi.”

Aku mengernyit.

“Apa maksudnya?”

Notaris membuka dokumen.

Ternyata beberapa bulan sebelum meninggal, Kakek meminta pemeriksaan sertifikat dan batas tanah.

Hasilnya menunjukkan bahwa Paman Arman telah menandatangani perjanjian awal dengan sebuah pengembang.

Dia berencana menjual rumah itu.

Padahal rumah tersebut sudah bukan milik Kakek.

Dan jelas bukan miliknya.

Bibi Rina menatap kakaknya dengan jijik.

“Kamu bahkan sudah mau jual rumah Ayah sebelum dia meninggal?”

Arman membalas, “Aku butuh uang.”

“Untuk apa?”

Paman tidak menjawab.

Notaris menyodorkan beberapa lembar rekening.

Aku membaca nama perusahaan.

Kemudian jumlah utang.

Angkanya membuatku terpaku.

Paman Arman ternyata terlilit utang bisnis miliaran rupiah.

Rumah Kakek adalah jalan keluar terakhirnya.

Sekarang aku memahami semuanya.

Mengapa dia begitu rajin datang.

Mengapa dia mengukur halaman.

Mengapa dia menyuruhku pergi secepat mungkin.

Bukan karena dia yakin akan mendapat warisan.

Dia membutuhkan rumah itu kosong sebelum ada yang mengetahui bahwa dia sudah menjanjikannya kepada pengembang.

Aku menatapnya.

“Kalau tadi surat itu tidak dibuka, apa yang akan Paman lakukan?”

Dia menelan ludah.

“Nadia…”

“Paman akan menjual rumah itu?”

“Aku akan menggantinya.”

“Dengan apa?”

Dia tidak punya jawaban.

Aku merasa marah.

Tetapi anehnya, kemarahan itu tidak lagi meledak.

Rasanya justru seperti sesuatu yang dingin.

Sesuatu yang membuatku akhirnya melihat keluargaku tanpa ilusi.

Mereka bukan monster.

Mereka hanya manusia yang berkali-kali memilih kepentingan sendiri, lalu menyebutnya keadaan.

Aku memasukkan kembali dokumen ke dalam map.

“Apa sekarang polisi akan menangkap Paman karena kecelakaan Ibu?”

Notaris menjawab hati-hati.

“Kasusnya sudah sangat lama dan aspek hukumnya perlu ditelaah lebih lanjut. Tetapi dokumen pemalsuan dan perjanjian penjualan rumah ini merupakan persoalan terpisah.”

Aku mengangguk.

Paman Arman menatapku.

“Nadia.”

Aku tidak menjawab.

“Aku tidak pernah ingin membunuh ibumu.”

Aku menatap matanya.

Untuk pertama kalinya, dia tidak terlihat seperti paman yang selalu mendominasi ruangan.

Dia terlihat tua.

Lelah.

Dan ketakutan.

“Aku percaya Paman tidak berniat membunuh Ibu,” kataku.

Dia seperti sedikit lega.

Kemudian aku melanjutkan.

“Tapi setelah Ibu meninggal, Paman punya dua puluh empat tahun untuk mengatakan yang sebenarnya.”

Kepalanya menunduk.

“Itulah yang tidak bisa Paman sebut kecelakaan.”

Aku meninggalkan bank tanpa membawa uang.

Karena memang tidak ada uang di kotak itu.

Yang kubawa hanya jam tua, dokumen, beberapa foto ibuku, dan kebenaran yang jauh lebih berat daripada koper mana pun.

Sore itu aku kembali ke rumah Kakek.

Matahari belum terbenam.

Ironisnya, aku memang mengosongkan rumah.

Tetapi bukan barang-barangku yang kukeluarkan.

Aku mengeluarkan semua map milik Paman.

Brosur pengembang.

Meteran.

Dokumen renovasi.

Dan kotak-kotak yang dibawa keluargaku beberapa minggu terakhir.

Semuanya kutaruh di teras.

Saat aku sedang mengangkat kotak terakhir, Bibi Rina datang.

Dia tidak membawa apa-apa.

Hanya berdiri di pagar.

“Kamu akan tetap tinggal di sini?”

Aku memandang rumah tua itu.

Catnya kusam.

Atapnya masih sedikit bocor.

Terasnya sempit.

Tetapi rumah itu menyimpan hampir seluruh hidupku.

“Aku belum tahu.”

Dia mengangguk.

Lalu sebelum pergi, dia berkata, “Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab bahwa aku memaafkannya.

Karena aku belum tahu apakah aku bisa.

Namun aku juga tidak menutup pintu di wajahnya.

Malamnya aku duduk di kamar Kakek.

Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, aku mencoba memutar knop kecil di sisi jam tangannya.

Jarumnya bergerak.

Aku terkejut.

Jam itu ternyata tidak rusak.

Kakek memang sengaja menghentikannya.

Aku memutar jarum perlahan melewati pukul 02.17.

02.18.

02.19.

02.20.

Kemudian kubiarkan jam itu kembali berjalan.

Tik.

Tik.

Tik.

Suara kecil itu memenuhi kamar.

Aku tiba-tiba menangis.

Bukan hanya untuk Ibu.

Bukan hanya untuk Kakek.

Aku menangisi diriku sendiri yang selama bertahun-tahun hidup di sebuah keluarga dan terus berusaha mendapatkan kursi di meja mereka.

Padahal mungkin masalahnya bukan karena kursiku tidak tersedia.

Mungkin aku memang harus membangun meja sendiri.

Beberapa bulan kemudian, aku memutuskan tidak menjual rumah itu.

Aku juga tidak merenovasinya menjadi rumah mewah seperti rencana Paman.

Aku memperbaiki atap.

Mengecat ulang dinding.

Mengganti instalasi listrik.

Kamar Kakek tetap kupetahankan hampir seperti semula.

Namun ruang depan kuubah menjadi tempat konsultasi gratis sederhana untuk warga sekitar yang membutuhkan bantuan mengurus dokumen kependudukan, surat tanah, dan administrasi hukum dasar.

Aku menamainya Rumah Laras.

Nama ibuku.

Setiap Minggu sore, aku tetap duduk di teras.

Kadang sendirian.

Kadang ditemani warga yang datang membawa map kusut dan pertanyaan yang membingungkan.

Di dinding ruang depan, kugantung jam tangan Kakek di dalam bingkai kaca.

Bukan pada pukul 02.17.

Jam itu terus berjalan.

Karena akhirnya aku memahami maksud ucapan Kakek bertahun-tahun lalu.

Memang ada benda yang sengaja dibiarkan berhenti supaya seseorang tidak melupakan sesuatu.

Tetapi manusia tidak boleh ikut berhenti bersamanya.

Dan hari ketika keluargaku mengira aku akan pulang dari kantor notaris dengan tangan kosong, ternyata menjadi hari pertama dalam hidupku ketika aku pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada warisan.

Aku pulang membawa kebenaran.

Dan untuk pertama kalinya, aku tahu persis rumah mana yang menjadi milikku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang