Istriku Meneleponku Tengah Malam. Namun, Suaranya Mendadak Berubah Saat Menyebut Namaku. Beberapa Detik Kemudian, Sebuah Foto Masuk ke Ponselku dan Membuat Napasku Seakan Berhenti

Aku masih menatap tulisan itu ketika suara ketukan terdengar dari pintu kamar hotel.

Tiga kali.

Pelan.

Tok.

Tok.

Tok.

Tubuhku langsung menegang.

Untuk beberapa detik, aku hanya berdiri sambil menggenggam ponsel, menatap pintu kamar seperti seseorang mungkin akan menerobos masuk kapan saja.

“Pak Arga?”

Suara laki-laki dari luar.

“Mobilnya sudah siap, Pak.”

Aku mengembuskan napas panjang.

Resepsionis.

Aku membuka pintu dan mendapati seorang petugas hotel berdiri di lorong.

“Pengemudinya menunggu di depan. Katanya kalau berangkat sekarang, mungkin bisa sampai menjelang pagi.”

Aku hanya mengangguk.

“Terima kasih.”

Aku turun secepat mungkin.

Di dalam mobil, aku duduk di kursi belakang sambil terus menatap ponsel. Jarak Semarang ke rumah kami di Yogyakarta biasanya bisa ditempuh sekitar tiga jam, tergantung kondisi jalan. Malam itu jalanan relatif kosong, tetapi rasanya setiap kilometer berlangsung jauh lebih lama.

Aku mengirim puluhan pesan kepada Maya.

Maya, kamu di mana?

Kunci pintu kamar.

Jangan turun ke bawah.

Kalau bisa keluar lewat balkon belakang, keluar sekarang.

Jawab aku.

Tidak ada satu pun yang dibaca.

Aku menelepon Pak Darto lagi.

Kali ini akhirnya tersambung.

“Mas Arga?”

Suara lelaki tua itu terdengar berat karena baru bangun.

“Pak, maaf mengganggu. Bisa tolong lihat rumah saya dari luar?”

“Ada apa?”

“Jangan masuk. Tolong lihat saja. Ada orang mencurigakan atau tidak.”

Pak Darto terdiam.

“Sebentar.”

Aku mendengar pintu dibuka, suara sandal, lalu suara angin malam.

Beberapa detik kemudian ia berkata, “Lampu ruang tamu rumahmu menyala.”

Dadaku semakin sesak.

“Mobil Maya ada?”

“Ada.”

“Pintu depan?”

“Kelihatannya tertutup.”

“Pak, ada orang di dalam?”

Pak Darto tidak langsung menjawab.

Kemudian suaranya berubah pelan.

“Mas…”

“Iya?”

“Barusan ada orang berdiri di balik tirai.”

Aku mencengkeram sandaran kursi.

“Siapa?”

“Tidak tahu. Tapi…”

Ia berhenti.

“Tapi apa?”

“Sepertinya laki-laki.”

“Jangan mendekat, Pak. Tolong telepon keamanan kompleks. Saya sedang perjalanan pulang.”

“Baik.”

Aku menutup telepon.

Kemudian aku menelepon polisi.

Kali ini aku tidak lagi memikirkan apakah aku berlebihan atau tidak.

Aku menjelaskan bahwa istriku mungkin dalam bahaya dan ada orang asing di rumah.

Petugas meminta alamat dan mengatakan akan mengirim patroli terdekat.

Setelah telepon selesai, aku kembali membuka rekaman kamera.

Namun layar aplikasi berubah hitam.

Kamera offline.

Seseorang telah mematikannya.

Pengemudi di depan melirikku melalui kaca spion.

“Tidak apa-apa, Pak?”

Aku ingin menjawab tidak.

Namun yang keluar hanya, “Tolong lebih cepat.”

Sekitar dua puluh menit kemudian, ponselku bergetar.

Nomor Maya.

Aku langsung mengangkat.

“Maya!”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara langkah kaki.

Pelan.

Seperti seseorang berjalan di atas lantai keramik.

“Maya, kamu dengar aku?”

Terdengar napas.

Kemudian suara laki-laki.

“Mas Arga.”

Seluruh tubuhku kaku.

Suara itu membuat darahku seolah membeku.

Bukan karena aku mengenal orang yang berbicara.

Tetapi karena suara itu terdengar seperti suaraku sendiri.

Nada yang sama.

Cara mengucapkan huruf R yang sama.

Bahkan sedikit serak di ujung kalimat.

“Siapa kamu?”

Aku berteriak.

Laki-laki itu tertawa kecil.

Suara tawanya juga seperti tawaku.

“Mas sudah lupa?”

“Jangan sentuh istri saya.”

“Dia bukan urusanmu.”

“Siapa kamu?”

Beberapa detik sunyi.

Lalu ia menjawab.

“Aku yang seharusnya bertanya begitu.”

Telepon terputus.

Aku mencoba menelepon lagi.

Nomor Maya kembali tidak aktif.

Pikiranku berputar liar.

Peniruan suara.

Seseorang bisa saja merekam suaraku.

Seseorang mungkin sengaja menyamar.

Semua itu masih mungkin.

Tetapi tulisan di kaca?

Cara berjalan?

Jam tangan?

Kaus?

Siapa yang mengenalku sedetail itu?

Aku menatap refleksiku di kaca mobil.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, wajahku sendiri terasa asing.

Sekitar pukul empat lewat sedikit, mobil akhirnya memasuki kompleks rumah kami.

Dari kejauhan, aku sudah melihat beberapa lampu berkedip.

Dua mobil polisi berhenti di depan rumah.

Pak Darto dan beberapa tetangga berdiri di luar pagar.

Aku langsung turun bahkan sebelum mobil berhenti sempurna.

Seorang polisi menahanku.

“Pak Arga?”

“Iya. Istri saya di mana?”

“Kami sudah masuk.”

“Terus?”

Petugas itu terlihat ragu.

“Ada sesuatu yang perlu Bapak lihat.”

Aku menerobos masuk.

Ruang tamu berantakan.

Satu kursi terbalik.

Bantal sofa jatuh ke lantai.

Ada gelas pecah di dekat meja.

Namun tidak ada darah.

Tidak ada Maya.

Tidak ada laki-laki yang kulihat di kamera.

“Di mana istri saya?”

“Rumah sudah kami periksa. Tidak ada siapa-siapa.”

“Tidak mungkin.”

Aku berlari ke lantai dua.

Kamar kami kosong.

Kamar mandi kosong.

Balkon kosong.

Lemari terbuka.

Sebagian pakaian Maya berserakan.

Namun tas tangannya masih ada.

Dompetnya masih ada.

Sandal rumahnya ada di samping tempat tidur.

Aku turun lagi.

“Dia tidak mungkin pergi tanpa barang-barangnya.”

Seorang polisi menunjukkan sesuatu kepadaku.

Ponsel Maya.

Ditemukan di bawah meja makan.

Layarnya retak.

Aku mengambilnya.

“Foto yang dikirim kepada saya dari ponsel ini.”

Polisi mengangguk.

“Bisa dibuka?”

Aku tahu pola kuncinya.

Setelah terbuka, aku langsung masuk ke galeri.

Foto laki-laki yang mirip denganku masih ada.

Dikirim pukul 01.58.

Namun sebelum foto itu, ada beberapa gambar lain.

Aku membuka yang pertama.

Foto ruang tamu kosong.

Kedua.

Foto tangga.

Ketiga.

Sebuah foto buram seperti diambil diam-diam dari balik pintu kamar.

Di ujung lorong berdiri laki-laki berkemeja hitam.

Wajahnya terlihat sedikit.

Aku memperbesar.

Jantungku nyaris berhenti.

Itu wajahku.

Bukan sekadar mirip.

Matanya.

Hidungnya.

Bentuk rahangnya.

Bahkan bekas luka kecil di bawah dagu.

Bekas luka yang kudapat ketika jatuh dari sepeda saat berumur sebelas tahun.

“Ya Tuhan…”

Salah satu polisi bertanya, “Bapak mengenali orang itu?”

Aku menatapnya.

“Itu saya.”

Polisi itu mengernyit.

“Tapi Bapak tadi berada di Semarang.”

“Saya tahu.”

Aku membuka gambar berikutnya.

Kali ini laki-laki itu menghadap kamera lebih jelas.

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Ada sesuatu yang berbeda.

Di pelipis kanannya terdapat bekas luka panjang.

Aku tidak punya bekas luka itu.

Aku memikirkan semua anggota keluargaku.

Sepupu.

Paman.

Kerabat jauh.

Tidak ada yang memiliki wajah sepertiku.

Ayahku sudah meninggal lima tahun lalu.

Ibuku tinggal bersama adikku di Surabaya.

Aku anak pertama dari dua bersaudara.

Tidak pernah ada saudara kembar.

Setidaknya itulah yang selalu kuketahui.

Aku menelusuri galeri lebih jauh.

Ada satu video pendek.

Durasi sebelas detik.

Tanganku gemetar saat menekannya.

Gambar pertama memperlihatkan Maya bersembunyi di dalam kamar.

Kamera mengarah ke celah pintu.

Terdengar langkah mendekat.

Lalu suara laki-laki itu.

“Maya.”

Maya tidak menjawab.

“Maya, buka.”

Ia menangis pelan.

“Siapa kamu?”

Laki-laki itu berhenti di depan pintu.

Kemudian berkata,

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

Sunyi.

Lalu kalimat terakhir.

“Aku suamimu.”

Video selesai.

Aku merasakan mual.

Polisi membawa ponsel itu sebagai barang bukti.

Mereka memeriksa pintu dan jendela.

Tidak ada tanda pembobolan.

Kunci depan utuh.

Jendela tidak rusak.

Artinya orang itu mungkin memiliki kunci.

Atau Maya sendiri yang membukakan pintu.

Polisi menemukan satu jejak sepatu di halaman belakang, tetapi hujan ringan membuat sebagian besar jejak hilang.

Pencarian dilakukan hingga pagi.

Tidak ada hasil.

Sekitar pukul delapan, aku duduk sendirian di ruang tamu ketika ibuku menelepon.

Aku sebenarnya tidak ingin membuatnya panik.

Namun akhirnya aku menceritakan semuanya.

Saat aku menyebutkan laki-laki yang wajahnya sama denganku, ibuku tiba-tiba diam.

“Ibu?”

Tidak ada jawaban.

“Ibu?”

Aku mendengar napasnya berubah.

“Bekas lukanya di mana?”

Aku langsung berdiri.

“Apa?”

“Laki-laki itu. Ada bekas luka?”

Aku terdiam.

“Di pelipis kanan.”

Telepon menjadi sunyi.

Lalu ibuku menangis.

Bukan tangisan kebingungan.

Tangisan orang yang baru menyadari sesuatu yang selama bertahun-tahun ia takutkan akhirnya terjadi.

“Ibu tahu siapa dia?”

“Arga…”

“Ibu tahu?”

“Pulanglah ke Surabaya.”

“Tidak. Maya hilang. Saya tidak bisa pergi ke mana-mana.”

“Kalau begitu Ibu yang datang.”

“Siapa dia?”

Ibuku terisak.

Kemudian mengucapkan satu nama.

“Raka.”

Aku tidak pernah mendengar nama itu.

“Siapa Raka?”

“Saudaramu.”

Dunia seolah berhenti.

“Apa?”

“Saudara kembarmu.”

Aku tertawa pendek karena refleks.

Bukan karena lucu.

Karena otakku menolak.

“Saya tidak punya saudara kembar.”

“Kamu punya.”

Aku tidak bisa bicara.

Ibuku melanjutkan dengan suara patah-patah.

“Kalian lahir selisih sembilan menit.”

Aku duduk perlahan.

“Kenapa saya tidak pernah tahu?”

“Karena saat kalian masih bayi, Raka dibawa pergi.”

“Dibawa siapa?”

Ibuku menjawab pelan.

“Ayahmu.”

Semakin ia bercerita, semakin hidupku terasa seperti dibangun di atas kebohongan.

Ayahku dan ibuku menikah sangat muda.

Saat aku dan Raka lahir, hubungan mereka sudah buruk.

Ayah memiliki masalah perjudian dan utang.

Beberapa bulan setelah kami lahir, mereka bertengkar hebat.

Ayah pergi membawa Raka.

Ibuku melapor.

Keluarga ikut mencari.

Namun ayah menghilang.

Beberapa tahun kemudian, ibuku mendengar kabar bahwa ayah tinggal di luar Jawa bersama seorang perempuan.

Ia mencoba mencari Raka, tetapi selalu gagal.

Ketika aku berumur enam tahun, ayah akhirnya kembali sendirian.

Ia berkata Raka meninggal karena sakit.

Tidak ada jenazah.

Tidak ada makam yang jelas.

Namun ia membawa surat kematian.

Keluarga percaya.

Ibuku memilih menyembunyikan keberadaan Raka dariku.

“Aku takut kamu akan terus bertanya,” katanya. “Aku takut kamu merasa ada bagian dari dirimu yang hilang.”

“Jadi selama tiga puluh tahun saya tidak tahu saya punya saudara?”

“Maafkan Ibu.”

Aku menutup mata.

Tiba-tiba semua menjadi masuk akal sekaligus menjadi jauh lebih mengerikan.

Wajah yang sama.

Cara berjalan yang sama.

Bentuk tulisan yang hampir sama.

Tetapi satu hal masih menggangguku.

“Bagaimana tulisan tangan kami bisa sama?”

Ibuku terdiam.

“Ayahmu dulu punya kebiasaan aneh,” katanya. “Dia mengajari kalian memegang pensil sejak sangat kecil. Katanya anak kembar harus tumbuh seperti bayangan satu sama lain.”

Aku menatap tulisan di kaca.

ARGA SUDAH PULANG.

Mungkin tulisan itu bukan benar-benar sama.

Mungkin hanya cukup mirip sehingga dalam keadaan panik aku menganggapnya identik.

Namun jika Raka masih hidup, mengapa datang sekarang?

Mengapa membawa Maya?

Jawabannya datang siang itu.

Polisi menemukan sebuah mobil kosong sekitar dua puluh kilometer dari kompleks kami.

Di dalamnya ada rambut Maya, satu anting miliknya, dan sebuah amplop.

Namaku ditulis di bagian depan.

Aku membuka amplop itu dengan sarung tangan yang diberikan polisi.

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

Aku tahu kamu akan bertanya mengapa.

Datang ke tempat Ayah mengubur hidupku.

Sendiri.

Di bagian bawah terdapat koordinat.

Polisi melarangku pergi sendirian.

Tentu saja aku tidak menurut sepenuhnya.

Kami menyusun rencana.

Aku akan datang, sementara polisi mengikuti dari jarak tertentu.

Koordinat itu mengarah ke sebuah rumah tua di pinggiran Kulon Progo.

Rumah kosong yang sebagian dindingnya sudah ditumbuhi lumut.

Aku langsung mengenalinya.

Itu rumah yang pernah kami tinggali sebentar ketika aku masih kecil.

Kupikir rumah itu milik teman ayah.

Ternyata tidak.

Aku masuk.

“Raka?”

Tidak ada jawaban.

“Kalau kamu dengar saya, saya datang.”

Suara langkah terdengar dari lantai atas.

Kemudian ia muncul.

Aku melihat wajahku sendiri menuruni tangga.

Rasanya tidak bisa dijelaskan.

Seolah cermin tiba-tiba hidup dan membawa semua kemungkinan kehidupan yang tidak pernah kaujalani.

Raka lebih kurus.

Rambutnya sedikit lebih panjang.

Bekas luka di pelipisnya jelas.

Matanya berbeda.

Lebih dingin.

Lebih tua daripada usianya.

“Masih sama,” katanya.

“Apa?”

“Cara kamu berdiri kalau takut.”

“Di mana Maya?”

“Aman.”

“Saya mau lihat dia.”

“Semua yang kamu punya selalu aman, ya?”

Aku menatapnya.

“Saya tidak tahu kamu ada.”

“Itu bukan jawaban.”

“Saya benar-benar tidak tahu.”

Ia tertawa pahit.

“Rumah. Ibu. Sekolah. Ulang tahun. Foto keluarga.”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Aku dapat apa?”

Aku diam.

“Ayah bilang Ibu memilihmu.”

“Itu bohong.”

“Ayah bilang ketika kami lahir, Ibu cuma ingin satu anak.”

“Itu bohong!”

Raka menatapku.

Untuk pertama kali, wajahnya goyah.

“Ayah bilang kamu bahkan tidak pernah mencari aku.”

“Saya baru tahu kamu ada pagi ini.”

Sunyi panjang.

Raka menelan ludah.

Lalu berkata, “Dia bilang kalau aku pulang, kalian akan mengusirku.”

Aku mulai memahami sesuatu.

Raka bukan datang hanya untuk balas dendam.

Ia datang membawa luka yang dibentuk selama puluhan tahun oleh satu orang.

Ayah.

“Di mana Maya?”

Aku mengulang.

Raka menunjuk pintu di samping tangga.

Aku membukanya.

Maya duduk di lantai dengan tangan terikat longgar di depan.

Ia menangis ketika melihatku.

“Mas.”

Aku langsung memeluknya.

“Kamu terluka?”

Ia menggeleng.

“Dia tidak menyakitiku.”

Aku menoleh kepada Raka.

“Kenapa lakukan semua ini?”

Raka berdiri diam.

“Aku ingin tahu rasanya menjadi kamu.”

Aku tidak mengerti.

Ia menunjuk kaus dan jam tangan yang dipakainya.

“Aku masuk ke rumahmu. Duduk di sofamu. Lihat foto pernikahanmu. Lihat kulkasmu penuh makanan. Lihat pesan dari ibumu di meja.”

Ia tertawa kecil.

“Aku ingin tahu kenapa hidup kita bisa sangat berbeda hanya karena sembilan menit.”

Aku tidak bisa menjawab.

Kemudian Maya berkata pelan, “Mas, ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Aku menatapnya.

“Tadi malam dia tidak masuk paksa.”

Aku membeku.

“Apa?”

Maya menatap Raka.

“Dia mengetuk pintu.”

“Dan kamu buka?”

“Aku lihat dari kamera depan.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku pikir itu kamu.”

Tentu saja.

Wajah kami sama.

“Begitu masuk, dia juga tidak langsung mengancamku,” lanjut Maya. “Dia cuma bilang ingin bicara.”

“Lalu kenapa kamu menelepon saya ketakutan?”

“Karena dia tahu semuanya tentang kita.”

Raka menunduk.

Maya melanjutkan.

“Dia tahu tanggal pernikahan. Nama mantan bosmu. Kebiasaanmu tidur. Bahkan tahu kita pernah kehilangan calon bayi dua tahun lalu.”

Aku menatap Raka.

“Dari mana kamu tahu?”

Ia tidak menjawab.

Kemudian ia mengambil sesuatu dari saku.

Sebuah ponsel lama.

Ia melemparkannya ke lantai di depanku.

“Ayah meninggalkan ini sebelum mati.”

Aku mengambilnya.

Di dalam ponsel itu terdapat ratusan foto.

Foto rumah kami.

Foto aku dan Maya.

Foto ibuku.

Foto kantorku.

Bahkan foto kami saat makan di restoran.

Beberapa diambil bertahun-tahun lalu.

Ayah mengawasi hidupku.

Diam-diam.

Dan kemungkinan mengirim semua itu kepada Raka.

“Ayah membuatku percaya kamu mencuri hidupku,” kata Raka.

“Saya tidak mencuri apa pun.”

“Aku tahu sekarang.”

Ia menatap Maya.

“Dia yang bilang.”

Maya ternyata menghabiskan berjam-jam berbicara dengan Raka.

Bukan sebagai sandera.

Melainkan sebagai seseorang yang perlahan menyadari bahwa lelaki di hadapannya tidak sepenuhnya ingin menyakiti kami.

Ia hanya tidak tahu cara meminta jawaban tanpa menakut-nakuti semua orang.

Dari luar terdengar suara sirene.

Raka menoleh ke jendela.

“Kamu bawa polisi.”

“Saya tidak punya pilihan.”

Ia tersenyum tipis.

“Bagus.”

“Apa maksudmu?”

“Aku capek lari.”

Polisi masuk beberapa menit kemudian.

Raka tidak melawan.

Saat tangannya diborgol, ia menatapku sekali lagi.

“Ada satu hal yang Ayah benar.”

“Apa?”

“Kita memang mirip.”

Aku menatapnya.

“Tapi dia salah soal satu hal.”

Raka mengangkat alis.

“Kamu tidak mengambil hidupku.”

Ia dibawa pergi.

Maya selamat.

Raka kemudian diproses hukum atas penyekapan, ancaman, dan beberapa pelanggaran lain.

Namun karena ia tidak melukai Maya dan akhirnya bekerja sama, proses hukumnya tidak seberat yang awalnya kukhawatirkan.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku mengunjunginya.

Kami duduk berhadapan dipisahkan meja kecil.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.

Kemudian Raka tersenyum.

“Aneh.”

“Apanya?”

“Seumur hidup aku membayangkan kalau bertemu kamu, aku akan membencimu.”

“Sekarang?”

Ia mengangkat bahu.

“Masih menyebalkan lihat wajah sendiri di orang lain.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kali, kami tertawa bersama.

Sebelum aku pulang, ia berkata,

“Arga.”

Aku berhenti.

“Waktu malam itu aku tulis di kaca, aku sebenarnya tidak sedang mengancammu.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

Ia menarik napas.

“Aku sedang bicara tentang diriku sendiri.”

Aku mengernyit.

Raka tersenyum kecil.

“Arga sudah pulang.”

Baru saat itu aku mengerti.

Seumur hidup, ayah memanggilnya Arga ketika sedang marah.

Memaksanya memakai namaku.

Membandingkannya denganku.

Membuatnya percaya bahwa untuk dicintai, ia harus menjadi aku.

Malam ia datang ke rumahku, ia tidak hanya sedang mencoba mengambil hidupku.

Ia sedang mencoba mengembalikan identitas yang selama puluhan tahun dirampas darinya.

Aku pulang menemui Maya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Malam itu mengubah banyak hal.

Aku kehilangan keyakinan bahwa keluarga selalu berarti orang-orang yang tumbuh bersama kita.

Kadang keluarga adalah seseorang yang terlambat datang tiga puluh tahun.

Datang dengan wajah yang sama.

Membawa luka yang tidak kita buat.

Dan menuntut jawaban atas kesalahan yang bahkan tidak pernah kita ketahui.

Sampai hari ini, foto malam itu masih tersimpan di ponselku.

Foto seorang laki-laki berdiri di ruang tamu rumah kami.

Dari belakang, siapa pun akan mengira itu aku.

Namun sekarang aku tahu.

Itu bukan bayanganku.

Itu saudara yang selama ini hidup di balik bayangan hidupku.

Dan mungkin hal paling menakutkan dari malam itu bukan ketika aku melihat seseorang yang memiliki wajahku.

Melainkan ketika akhirnya aku sadar bahwa selama puluhan tahun, ada seseorang di dunia ini yang dipaksa hidup tanpa memiliki wajahnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang