“Yang membawa KTP, menandatangani sebagai saksi, sekaligus tercatat sebagai penerima manfaat utama adalah Arga Pratama.”
Suara agen asuransi itu masih terdengar dari ponsel ketika aku menatap Ibu.
Wajah Ibu langsung kehilangan warna.
“Dewi, tutup teleponnya.”
Aku tidak bergerak.
“Bu, Ibu tahu soal ini?”

Ibu menunduk.
Saat itulah aku tahu ada sesuatu yang jauh lebih buruk daripada yang selama ini kubayangkan.
Aku mengakhiri panggilan lalu mengunci pintu kamar.
“Ibu jelaskan semuanya sekarang.”
Ibu duduk perlahan di tepi tempat tidur. Kedua tangannya gemetar di atas perutnya yang membesar.
“Arga bilang asuransi itu untuk biaya pengobatan Ibu.”
“Dengan dia sebagai penerima dua miliar?”
Ibu terdiam.
“Kenapa Ibu tidak pernah cerita soal hasil USG?”
Air mata mulai memenuhi matanya.
“Karena Arga bilang kamu sedang banyak utang.”
Aku membeku.
“Aku tidak punya utang.”
“Ibu tahu sekarang.”
“Sekarang?”
Ibu menarik napas pendek.
Tiga bulan lalu, ketika aku sedang dinas ke Surabaya, Arga membawa Ibu ke sebuah klinik. Awalnya hanya untuk memeriksa tekanan darah. Dokter menemukan pembengkakan pada perut dan menyarankan pemeriksaan lanjutan.
Beberapa minggu kemudian, hasil USG menunjukkan adanya massa besar di rongga perut.
“Arga bilang kemungkinan kanker stadium akhir,” ujar Ibu lirih. “Dia bilang dokter sudah menjelaskan bahwa operasi hampir tidak ada gunanya.”
“Itu bohong.”
“Ibu juga mulai curiga.”
Ternyata Arga mengatakan biaya pengobatan bisa membuat kami kehilangan rumah. Dia menunjukkan kepada Ibu lembar rekening dan tagihan yang seolah membuktikan bahwa aku memiliki pinjaman ratusan juta.
Kemudian dia menawarkan satu jalan keluar.
Asuransi.
Katanya, jika sesuatu terjadi pada Ibu, uang pertanggungan akan diberikan kepadaku dan Rafi.
“Tapi penerimanya dia.”
Ibu mengangguk sambil menangis.
“Ibu baru tahu dua minggu lalu.”
Dadaku terasa sesak.
“Kenapa Ibu tetap diam?”
Ibu menatap pintu.
“Karena dia mengancam akan membawa Rafi pergi.”
Aku berdiri begitu cepat hingga kursi kecil di dekat meja rias tersenggol.
“Apa?”
“Dia bilang kalau Ibu bicara, dia akan membuat kamu kehilangan anakmu. Dia bilang punya bukti bahwa kamu ibu yang tidak pernah ada di rumah.”
Aku menahan napas.
Pekerjaanku memang membuatku sering pulang malam. Kadang aku harus pergi ke luar kota. Selama ini aku selalu merasa bersalah karena tidak punya cukup waktu bersama keluarga.
Arga rupanya menggunakan rasa bersalah itu sebagai senjata.
Aku memegang tangan Ibu.
“Kita ke rumah sakit sekarang.”
“Kalau Arga pulang?”
“Biarkan.”
Aku memasukkan pakaian Ibu dan dokumennya ke tas. Rafi kutitipkan sementara kepada Bu Ningsih, tetangga yang sudah kukenal bertahun-tahun.
Kami baru hendak masuk mobil ketika sebuah motor berhenti di depan pagar.
Arga turun.
Dia melihat tas di tanganku.
“Kalian mau ke mana?”
“Rumah sakit.”
Wajahnya menegang.
“Dewi, kita sudah bicara.”
“Belum. Selama ini cuma kamu yang bicara.”
Aku membuka pintu mobil.
Arga menarik lenganku.
“Jangan bikin masalah.”
Aku menatap tangannya.
“Lepaskan.”
Untuk pertama kalinya selama delapan tahun pernikahan kami, aku melihat sesuatu di wajah suamiku yang sebelumnya selalu gagal kubaca.
Bukan marah.
Panik.
Aku mengangkat ponsel.
“Aku sudah menyimpan rekaman CCTV.”
Tangannya langsung terlepas.
“Aku juga sudah tahu soal asuransi dua miliar.”
Arga terdiam.
Aku membawa Ibu pergi.
Di rumah sakit, pemeriksaan dilakukan sore itu juga.
Dokter penyakit dalam yang menangani Ibu terlihat serius setelah membaca hasil laboratorium dan CT scan.
“Kami menemukan massa besar, tetapi belum bisa menentukan sifatnya sebelum pemeriksaan lebih lanjut.”
“Apakah terlambat?” tanyaku.
Dokter menggeleng.
“Belum tentu. Justru itu sebabnya pasien seharusnya diperiksa sejak awal.”
Aku mengeluarkan kapsul yang kutemukan.
“Dok, Ibu saya beberapa minggu minum ini.”
Dokter meminta petugas farmasi memeriksanya.
Hasil awal baru keluar malam hari.
Obat itu bukan obat tekanan darah milik Ibu.
Kapsul tersebut berisi obat yang memiliki efek diuretik kuat dan tidak seharusnya dikonsumsi tanpa pengawasan dokter, terlebih dengan kondisi ginjal Ibu yang mulai terganggu.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Apakah obat ini membuat kondisi Ibu memburuk?”
“Bisa memperburuk dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Tetapi kami perlu pemeriksaan toksikologi dan riwayat lengkap sebelum menyimpulkan.”
Aku langsung menyerahkan salinan rekaman CCTV.
Malam itu aku tidak pulang.
Arga menelepon dua puluh tujuh kali.
Aku tidak menjawab satu pun.
Sekitar pukul sebelas malam, sebuah pesan masuk.
Pulang. Kita selesaikan baik-baik.
Kemudian pesan kedua.
Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pesan ketiga membuatku merinding.
Tanya ibumu siapa yang pertama kali menyuruhku membeli asuransi itu.
Aku menatap Ibu yang sedang tertidur.
Untuk pertama kalinya, keraguan kecil muncul.
Pagi harinya aku menunjukkan pesan tersebut.
Ibu membaca lama.
“Dia mencoba mengadu kita.”
“Bu, aku cuma ingin tahu kebenarannya.”
Ibu memalingkan wajah.
Aku tahu ada sesuatu yang belum diceritakannya.
“Siapa yang menyuruh membeli asuransi?”
“Ibu.”
Jawabannya membuatku kehilangan kata-kata.
Ibu kemudian menjelaskan bahwa empat bulan lalu dia memang pernah meminta Arga mencarikan asuransi kesehatan karena khawatir akan membebani keluarga. Arga mengatakan ada produk yang sekaligus memberi perlindungan jiwa.
“Tapi Ibu tidak pernah setuju dia menjadi penerima manfaat.”
“Kenapa tanda tangan formulirnya ada?”
“Ibu menandatangani beberapa kertas kosong. Dia bilang formulirnya akan diisi agen.”
Kesalahan kecil karena terlalu percaya.
Kesalahan yang hampir merenggut nyawa.
Aku menghubungi agen asuransi lagi dan meminta seluruh dokumen pengajuan.
Ternyata ada kejanggalan lain.
Pada formulir kesehatan tertulis bahwa Ibu tidak memiliki penyakit serius.
Padahal polis diajukan hanya beberapa hari setelah pemeriksaan awal menemukan pembesaran perut.
Ada dokumen yang sengaja disembunyikan.
Aku membuat laporan polisi sore itu.
Pihak rumah sakit juga menyimpan sampel obat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Namun ketika polisi mendatangi rumah kami, Arga sudah pergi.
Percetakannya tutup.
Ponselnya mati.
Mobilnya ditinggalkan di sebuah minimarket sekitar lima kilometer dari rumah.
Tiga hari berlalu tanpa kabar.
Sementara itu, kondisi Ibu perlahan stabil.
Dokter kemudian melakukan biopsi.
Aku hampir tidak tidur menunggu hasilnya.
Ketika dokter memanggilku, aku sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
Tetapi kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru membuatku menangis.
“Massanya bukan keganasan.”
Aku menutup mulut.
Dokter menjelaskan bahwa massa besar tersebut berasal dari tumor jinak ovarium yang telah tumbuh cukup lama dan menekan organ di sekitarnya.
Tetap berbahaya karena ukurannya.
Tetap membutuhkan operasi.
Tetapi peluang pemulihannya sangat baik.
Aku menangis sambil memeluk Ibu.
Selama berminggu-minggu, dia dibuat percaya bahwa dirinya sedang menunggu kematian.
Operasi dilakukan lima hari kemudian.
Berjalan hampir empat jam.
Berhasil.
Namun misteri tentang Arga belum selesai.
Dua hari setelah operasi, aku mendapat telepon dari nomor asing.
“Bu Dewi?”
“Iya.”
“Saya Fikri. Saya kerja di percetakan Mas Arga.”
Aku langsung duduk tegak.
“Mas Arga pernah menitipkan flashdisk kepada saya. Katanya kalau ada masalah, jangan kasih siapa-siapa.”
“Kenapa kamu menelepon saya?”
“Karena saya lihat berita soal polisi mencari dia.”
Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat rumah sakit.
Fikri menyerahkan flashdisk hitam.
Di dalamnya terdapat puluhan dokumen.
Pinjaman online.
Rekening bank.
Percakapan dengan penagih utang.
Arga ternyata memiliki utang hampir sembilan ratus juta rupiah.
Usaha percetakannya sudah nyaris bangkrut selama setahun.
Dia menggunakan nama beberapa orang untuk meminjam uang.
Termasuk namaku.
Tetapi file terakhir adalah yang paling mengerikan.
Sebuah tangkapan layar percakapan Arga dengan seseorang bernama Dimas.
Kalau ibu mertua gue meninggal setelah polis lewat masa tunggu, uangnya cair?
Pesan balasannya singkat.
Kalau kematian alami dan tidak ada pelanggaran polis, mestinya diproses. Tapi jangan main-main, Ga.
Kemudian Arga membalas.
Gue cuma nanya.
Tanganku gemetar.
Aku menyerahkan flashdisk itu kepada polisi.
Arga ditemukan dua hari kemudian di sebuah rumah kontrakan di Cikarang.
Dia tidak melawan ketika ditangkap.
Aku melihatnya lagi tiga minggu kemudian saat pemeriksaan lanjutan.
Tubuhnya terlihat lebih kurus.
“Kenapa?” hanya itu yang mampu kutanyakan.
Arga menatap meja.
“Awalnya aku tidak berniat mencelakai Ibu.”
Aku tertawa pahit.
“Semua orang jahat selalu bilang awalnya tidak berniat.”
Dia mengaku utangnya bermula dari pinjaman modal usaha. Setelah bisnis menurun, dia mengambil pinjaman lain untuk menutup pinjaman sebelumnya.
Sampai jumlahnya tidak terkendali.
Ketika Ibu meminta dicarikan asuransi, sesuatu muncul di kepalanya.
Dua miliar.
Jumlah yang cukup untuk melunasi semuanya.
“Tapi aku tidak pernah kasih racun,” katanya cepat. “Obat itu cuma untuk membuat kondisinya terlihat lebih parah.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Dan kamu pikir itu membuatmu lebih baik?”
Dia menunduk.
“Aku cuma butuh waktu.”
“Waktu untuk apa? Menunggu Ibu meninggal?”
Dia tidak menjawab.
Itulah jawabannya.
Proses hukum berjalan berbulan-bulan.
Polis asuransi akhirnya dibatalkan setelah investigasi menemukan manipulasi dalam pengajuan.
Pemeriksaan forensik digital, rekaman CCTV, dokumen medis, serta obat yang ditukar menjadi bagian penting penyelidikan terhadap Arga.
Aku mengajukan perceraian.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada permohonan agar aku kembali.
Pada titik tertentu, cinta memang bisa habis bukan karena satu pengkhianatan besar, melainkan karena kita akhirnya menyadari bahwa orang yang tidur di sebelah kita selama bertahun-tahun sebenarnya mampu menghitung harga nyawa keluarga kita.
Enam bulan kemudian, Ibu sudah bisa berjalan pagi setiap hari.
Berat badannya mulai kembali.
Wajahnya tidak lagi pucat.
Aku pindah ke rumah yang lebih kecil bersama Ibu dan Rafi.
Kupikir semuanya telah selesai.
Sampai suatu sore, ketika sedang membereskan dokumen lama, aku menemukan amplop dari perusahaan asuransi.
Bukan polis Ibu.
Namaku tertulis di sana.
Aku membukanya.
Polis asuransi jiwa.
Tanggal pengajuan tujuh bulan sebelum Ibu pindah ke rumah kami.
Nilai pertanggungan tiga miliar rupiah.
Tanganku gemetar saat membaca bagian penerima manfaat.
Arga Pratama.
Aku langsung menghubungi perusahaan asuransi.
Setelah melalui proses verifikasi, petugas mengatakan sesuatu yang membuat tengkukku dingin.
“Polis Ibu masih aktif.”
“Apa?”
“Premi terakhir dibayarkan otomatis bulan lalu.”
Aku merasa sulit bernapas.
“Siapa yang mengajukannya?”
Petugas memeriksa data.
“Pengajuan dilakukan melalui aplikasi. Dokumen identitas dan tanda tangan elektronik atas nama Ibu Dewi.”
“Aku tidak pernah mengajukan.”
Aku meminta seluruh dokumennya dikirimkan.
Malam itu aku duduk di meja makan bersama Ibu.
Kami membaca setiap halaman.
Arga ternyata tidak mulai merencanakan semuanya ketika mengetahui penyakit Ibu.
Jauh sebelumnya, dia sudah mempersiapkan sesuatu terhadapku.
Mungkin utang telah mengubahnya perlahan.
Mungkin sifat itu memang selalu ada dan aku terlalu percaya untuk melihatnya.
Aku tidak tahu.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku memahami kenapa dia begitu mudah melakukan hal yang sama kepada Ibu.
Ibu menggenggam tanganku.
“Dewi.”
Aku menatapnya.
“Jangan menyalahkan dirimu karena pernah percaya.”
Air mataku jatuh.
Ibu tersenyum tipis.
“Orang baik bukan bodoh karena percaya. Tapi setelah tahu kebenaran, kita harus cukup berani untuk pergi.”
Keesokan harinya aku membawa polis itu kepada penyidik.
Dokumen tersebut membuka penyelidikan baru mengenai pemalsuan identitasku dan sejumlah transaksi lain yang dilakukan Arga.
Sebelum meninggalkan kantor polisi, aku berdiri beberapa saat di bawah matahari pagi.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari rumah sakit.
Hasil kontrol Ibu baik.
Tidak ada tanda pertumbuhan massa baru.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Kemudian tersenyum.
Beberapa bulan sebelumnya, aku mengira rekaman CCTV pukul satu dini hari telah menghancurkan keluargaku.
Ternyata aku salah.
Rekaman itu justru menyelamatkannya.
Karena keluarga bukan selalu tentang mempertahankan orang yang sudah lama tinggal bersama kita.
Kadang keluarga adalah mereka yang nyawanya kita pilih untuk lindungi, bahkan ketika untuk melakukannya kita harus berani menutup pintu bagi seseorang yang pernah kita cintai.
