SUAMIKU MEMAKSA JENAZAH ISTRINYA SEGERA DIKUBUR TANPA AUTOPSI, TAPI SAAT AKU MEMBUKA KAIN KAFAN, PERUTNYA BERGERAK DAN PONSELNYA TIBA-TIBA BERBUNYI.

“Kalau kamu tetap menolak menandatangani surat itu, kami akan memastikan Raka tidak pernah tahu siapa ayah sebenarnya dari bayi ini.”

Suara dari rekaman CCTV itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Aku menatap layar laptop tanpa berkedip. Dokter yang semalam menyatakan Nadine meninggal berdiri hanya beberapa langkah dari istriku. Namanya dr. Arman Prasetyo. Aku masih ingat wajahnya ketika menyerahkan surat kematian kepadaku. Tenang. Datar. Seolah tidak ada sesuatu yang perlu dipertanyakan.

Dalam rekaman, Nadine berdiri di dekat meja kerjanya sambil memegangi perut.

“Aku tidak akan menandatangani apa pun,” katanya.

Arman menutup pintu.

“Kamu seharusnya memikirkan bayimu.”

“Aku justru sedang memikirkannya.”

Rekaman bergoyang sebentar, lalu gambar berhenti.

Pak Fajar menekan tombol putar beberapa kali.

“Itu saja?”

Aku memeriksa durasi file.

“Tidak. Seharusnya masih ada tujuh menit.”

Seseorang telah menghapus bagian akhirnya.

Pak Fajar langsung menelepon timnya.

Aku hampir tidak mendengar percakapan mereka. Satu kalimat terus berputar di kepalaku.

Siapa ayah sebenarnya dari bayi ini.

Tujuh bulan terakhir, tidak pernah sekalipun aku meragukan Nadine. Kami sudah menikah lima tahun. Ketika dua garis muncul di alat tes kehamilan, Nadine menangis di kamar mandi dan memelukku begitu erat sampai kami berdua tertawa.

Aku masih ingat dia berkata, “Akhirnya rumah kita bakal berisik.”

Aku tidak percaya dia berselingkuh.

Namun mengapa Arman mengatakan itu?

Pintu ruang tindakan terbuka.

Seorang dokter perempuan keluar dengan masker tergantung di lehernya.

Aku langsung berdiri.

“Bagaimana?”

“Kondisi janin sementara stabil, tapi sangat lemah.”

“Dan Nadine?”

Tatapannya berubah.

“Kami menemukan sesuatu dalam darah istri Bapak. Obat sedatif dalam konsentrasi sangat tinggi.”

Aku menahan napas.

“Jadi dia diracun?”

“Kami belum bisa menyimpulkan sebelum pemeriksaan lengkap. Tapi zat itu dapat menekan pernapasan dan denyut jantung sampai sangat sulit terdeteksi bila pemeriksaannya tidak dilakukan dengan benar.”

Aku menatap Pak Fajar.

“Artinya dia mungkin belum meninggal saat dibawa ke rumah duka?”

Dokter itu diam beberapa detik.

“Ada kemungkinan.”

Lututku hampir kehilangan tenaga.

Mereka hampir mengubur Nadine hidup-hidup.

Aku berbalik mencari Dimas, tetapi dia sudah tidak ada.

Pak Fajar juga menyadarinya.

“Sejak kapan kakaknya pergi?”

Seorang polisi di ujung lorong menggeleng.

“Sekitar sepuluh menit lalu.”

Pak Fajar segera memberi perintah untuk mencarinya.

Aku duduk di kursi sambil menggenggam ponsel Nadine.

Tiba-tiba layar menyala.

Nomor yang kemarin mengirim pesan kembali menghubungi.

Aku menjawab.

“Halo?”

Tidak ada suara.

“Halo?”

Kemudian terdengar napas seseorang.

“Kalau kamu ingin tahu apa yang terjadi pada Nadine, datang ke butik. Sendiri.”

Sambungan terputus.

Pak Fajar menatapku.

“Siapa?”

Aku menunjukkan layar.

“Kita ke butik.”

“Dia bilang sendiri.”

Pak Fajar mengambil jaketnya.

“Dan kamu berniat menurut?”

Dua puluh lima menit kemudian kami tiba di butik Nadine di kawasan Surabaya Barat. Polisi tidak masuk bersamaku. Mereka menunggu di sekitar bangunan.

Pintu butik tidak terkunci.

Lampu depan mati.

Aku berjalan menuju ruang belakang sambil menyalakan senter ponsel.

“Siapa di sana?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara dari sudut ruangan.

“Raka.”

Aku berbalik.

Seorang perempuan keluar dari balik rak pakaian.

Aku mengenalnya.

Maya.

Akuntan butik Nadine.

Wajahnya pucat dan matanya bengkak.

“Kamu yang mengirim pesan?”

Dia mengangguk.

“Kenapa tidak bicara dari awal?”

“Karena mereka mengancam keluargaku.”

“Mereka siapa?”

Maya mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Dimas dan Arman.”

Aku merasakan tengkukku dingin.

“Kenapa?”

“Nadine menemukan sesuatu enam bulan lalu.”

Maya menyalakan komputer dan membuka beberapa dokumen.

Laporan transaksi.

Transfer bank.

Tagihan fiktif.

Selama hampir tiga tahun, Dimas ternyata mengambil uang dari perusahaan milik keluarga mereka melalui sejumlah vendor palsu.

Jumlahnya lebih dari enam miliar rupiah.

“Tapi butik itu milik Nadine.”

“Bukan cuma butik.” Maya menggeleng. “Setelah ayah mereka meninggal, sebagian besar aset keluarga atas nama Nadine karena beliau tidak percaya pada Dimas.”

Aku mulai memahami.

“Jadi Dimas butuh tanda tangannya.”

“Benar.”

“Arman terlibat bagaimana?”

Maya menelan ludah.

“Dia punya utang besar. Dimas membayarnya.”

Aku mengepalkan tangan.

“Dan bayi Nadine?”

Maya menatapku lama.

“Ada hal lain yang harus kamu tahu.”

Dia membuka sebuah folder.

Di dalamnya ada hasil pemeriksaan laboratorium.

Tes DNA prenatal.

Namaku tercantum di sana.

Aku membaca hasilnya.

Probabilitas paternitas 99,99 persen.

Aku terdiam.

“Anak itu anakku.”

Maya mengangguk.

“Jadi kalimat Arman di CCTV hanya ancaman?”

“Bukan sepenuhnya.”

“Apa maksudmu?”

“Nadine sengaja melakukan tes itu karena Dimas mulai menyebarkan cerita bahwa bayinya bukan anakmu. Dia ingin punya bukti sebelum bicara kepadamu.”

Aku memejamkan mata.

Mereka tidak hanya ingin mengambil hartanya.

Mereka ingin menghancurkan kepercayaanku kepada Nadine.

Tiba-tiba terdengar suara pintu belakang dibanting.

Maya langsung pucat.

“Dia datang.”

Seseorang berjalan masuk.

Dimas.

Dia menatap kami, lalu flashdisk di tanganku.

“Kamu memang tidak pernah bisa berhenti ikut campur, Raka.”

Aku berdiri di depan Maya.

“Kamu mencoba membunuh adikmu sendiri?”

“Aku tidak pernah ingin dia mati.”

“Lalu apa namanya menyuntik orang sampai jantungnya hampir tidak terdeteksi?”

“Itu bukan rencanaku!”

Suara Dimas meninggi.

“Arman bilang efeknya cuma beberapa jam. Nadine akan terlihat tidak sadar. Kami cuma butuh sidik jarinya dan tanda tangan.”

“Lalu kenapa dia dibawa ke rumah duka?”

Dimas terdiam.

Aku menatapnya.

“Kamu bahkan menghalangi ambulans.”

Wajahnya berubah.

“Karena semuanya sudah terlanjur.”

Kalimat itu terasa lebih kejam daripada pengakuan apa pun.

“Dia adikmu.”

Dimas tertawa pendek, tetapi matanya berair.

“Kamu tidak tahu rasanya hidup sebagai anak yang selalu dianggap gagal. Semua diberikan kepada Nadine. Rumah. Tanah. Perusahaan. Bahkan setelah Ayah meninggal, aku masih harus meminta uang kepada adikku sendiri.”

“Jadi kamu pikir itu alasan untuk menguburnya hidup-hidup?”

Dimas maju.

“Kamu tidak mengerti.”

“Tidak. Aku memang tidak akan pernah mengerti.”

Suara sirene terdengar dari kejauhan.

Dimas langsung menatap pintu.

“Kamu bawa polisi?”

Dia menerjangku.

Kami jatuh menabrak meja.

Flashdisk terlepas.

Dimas mencoba mengambilnya, tetapi Maya lebih cepat menendangnya ke bawah lemari.

Aku menahan tubuh Dimas sampai beberapa polisi masuk.

Pak Fajar memborgolnya.

Saat dibawa keluar, Dimas menoleh kepadaku.

“Kamu pikir semuanya selesai?”

Aku tidak menjawab.

“Arman bukan orang yang membuat rencana ini.”

Aku membeku.

“Apa maksudmu?”

Dimas tersenyum pahit.

“Tanya istrimu kalau dia bangun.”

Malam itu Arman ditangkap di sebuah hotel dekat Bandara Juanda sebelum sempat meninggalkan Surabaya.

Dari pemeriksaan awal, polisi menemukan obat yang sama dengan zat dalam darah Nadine.

Namun satu pertanyaan tetap menggantung.

Siapa sebenarnya yang merencanakan semuanya?

Dua hari kemudian, kondisi bayi kami menurun.

Dokter memutuskan melakukan operasi darurat.

Aku berdiri di depan ruang operasi dengan tangan gemetar.

Aku sudah siap kehilangan segalanya.

Tiga puluh delapan menit kemudian, dokter keluar.

“Bayinya berhasil kami lahirkan.”

Aku hampir jatuh karena lega.

“Laki-laki atau perempuan?”

“Perempuan.”

Aku menangis untuk pertama kalinya sejak malam Nadine ditemukan.

“Tapi dia harus dirawat intensif.”

Aku mengangguk berkali-kali.

“Bagaimana Nadine?”

Dokter tersenyum tipis.

“Dia menunjukkan respons.”

Aku masuk beberapa jam kemudian.

Nadine masih terbaring dengan berbagai alat terpasang.

Aku menggenggam tangannya.

“Nadine.”

Tidak ada jawaban.

Aku mendekat.

“Anak kita sudah lahir. Perempuan.”

Jarinya bergerak.

Aku menahan napas.

“Nadine?”

Kelopak matanya perlahan terbuka.

Air mataku langsung jatuh.

Dia menatapku seolah membutuhkan waktu untuk mengenali wajahku.

Kemudian bibirnya bergerak.

“Raka.”

Aku mencium tangannya.

“Aku di sini.”

Hal pertama yang dia tanyakan bukan tentang dirinya.

“Bayi kita?”

“Hidup.”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

Kami diam lama.

Kemudian aku teringat ucapan Dimas.

“Nadine, ada sesuatu yang harus kutanyakan.”

Tatapannya berubah ketika kusebut nama Arman dan Dimas.

“Aku sudah tahu soal penggelapan uang.”

“Aku juga sudah tahu.”

“Bukan itu.”

Dia mencoba bangun sedikit.

“Raka, orang yang mereka takuti bukan Dimas.”

“Siapa?”

Nadine menatap pintu kamar.

“Pengacara ayahku.”

Aku terdiam.

Namanya Surya Mahendra.

Pria berusia hampir enam puluh tahun yang selama ini mengurus seluruh aset keluarga Nadine.

Dia bahkan hadir di rumah duka.

Aku masih ingat dia berdiri paling belakang dan tidak banyak bicara.

“Kenapa dia?”

“Karena Dimas bukan orang pertama yang mengambil uang.”

Nadine menjelaskan bahwa tiga tahun lalu ia mulai menemukan transaksi mencurigakan. Awalnya ia mengira Dimas pelakunya. Namun setelah diperiksa, penggelapan sudah terjadi jauh sebelum Dimas mendapat akses ke rekening perusahaan.

Surya telah memindahkan aset keluarga sedikit demi sedikit selama lebih dari satu dekade.

Dimas mengetahuinya.

Bukannya melapor, dia ikut mengambil bagian.

“Surya tahu aku punya bukti,” kata Nadine.

“Buktinya di mana?”

Nadine menatapku.

“Di tempat yang tidak akan mereka cari.”

Keesokan paginya, polisi mendatangi rumah kami.

Aku membuka lemari kamar bayi seperti petunjuk Nadine.

Di balik papan belakang terdapat sebuah amplop.

Isinya salinan rekening, surat tanah, rekaman percakapan, dan satu dokumen yang membuat Pak Fajar langsung menelepon atasannya.

Surya ternyata telah mengalihkan aset senilai puluhan miliar rupiah melalui perusahaan-perusahaan fiktif.

Lebih buruk lagi, ada bukti bahwa dialah yang memerintahkan Dimas mendapatkan tanda tangan Nadine sebelum kondisi keuangan keluarga diperiksa auditor.

Surya ditangkap sore itu.

Namun kejutan terakhir datang dari rekaman suara di dalam amplop.

Suara Dimas terdengar.

“Aku tidak mau Nadine mati.”

Lalu suara Surya menjawab.

“Tidak ada yang meminta dia mati. Setelah dokumen ditandatangani, dokter akan membangunkannya.”

“Kalau gagal?”

“Kalau gagal, kita pastikan pemakamannya dilakukan sebelum ada yang sempat bertanya.”

Aku menghentikan rekaman.

Baru saat itulah aku memahami semuanya.

Dimas memang bersalah.

Arman juga.

Tetapi kepanikan mereka setelah Nadine dinyatakan meninggal bukan karena rencana berjalan sempurna.

Justru karena rencana mereka gagal.

Obat yang seharusnya membuat Nadine tidak sadar membuat kondisinya jatuh jauh lebih parah.

Dan ketika Arman salah menyatakan kematian, Surya memilih menghapus satu-satunya saksi yang bisa menghancurkan mereka.

Hampir tiga minggu kemudian, aku berdiri di depan inkubator.

Putriku sangat kecil.

Nadine duduk di kursi roda di sampingku.

“Kita belum kasih nama,” kataku.

Nadine tersenyum lemah.

“Sudah.”

“Apa?”

“Kayla.”

Aku menatapnya.

“Kenapa Kayla?”

“Karena aku pernah baca artinya sesuatu yang dijaga dan dicintai.”

Aku menggenggam tangannya.

“Cocok.”

Nadine menatap putri kami lama.

Lalu dia berkata pelan, “Aku mendengar suaramu.”

Aku menoleh.

“Kapan?”

“Di rumah duka.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku tidak bisa membuka mata. Tidak bisa menggerakkan tangan. Tapi aku mendengar orang-orang bicara. Aku dengar Dimas menyuruh mereka menutup peti.”

Air mata memenuhi matanya.

“Lalu aku dengar kamu bilang jangan ditutup dulu.”

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Aku berusaha bergerak,” katanya. “Tapi tubuhku tidak bisa.”

Aku menatap perutnya yang kini sudah tidak lagi membesar.

“Gerakan yang kulihat waktu itu…”

Nadine menggeleng.

“Itu bukan aku.”

Kami berdua menoleh kepada Kayla.

Aku baru mengerti.

Gerakan kecil dari dalam kandungan itulah yang menghentikan pemakaman.

Putri kami yang bahkan belum pernah melihat dunia telah menyelamatkan ibunya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, Nadine menutup butik lamanya dan membuka usaha baru. Bukan karena takut pada tempat itu, tetapi karena dia tidak ingin hidupnya terus ditentukan oleh malam ketika seseorang mencoba merampas semuanya darinya.

Dimas, Arman, dan Surya menjalani proses hukum.

Aku tidak pernah datang ke persidangan Dimas setelah sidang pertama.

Bukan karena sudah memaafkannya.

Ada luka yang mungkin membutuhkan waktu sangat panjang sebelum bisa disebut sembuh.

Namun aku belajar sesuatu dari Nadine.

Bahwa bertahan hidup tidak selalu berarti memenangkan pertarungan besar.

Kadang hidup berubah hanya karena satu orang menolak diam.

Satu pesan yang tidak sempat dihapus.

Satu kartu memori yang disembunyikan.

Satu suami yang menolak membiarkan peti ditutup.

Dan satu gerakan kecil dari seorang bayi yang belum lahir.

Pada malam Kayla akhirnya diperbolehkan pulang, aku menggendongnya melewati pintu rumah.

Nadine berdiri di belakangku.

Aku menatap putri kami yang tertidur.

Beberapa bulan sebelumnya, aku pernah membayangkan akan membawa pulang istri dan anakku setelah persalinan dengan bunga dan balon.

Kenyataannya jauh berbeda.

Kami pulang membawa luka, ketakutan, dan masa lalu yang tidak mungkin dihapus.

Tetapi kami pulang bertiga.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam di rumah duka itu, aku merasa tidak perlu mencari jawaban apa pun lagi.

Karena jawaban paling penting sedang tertidur di pelukanku.

Kayla bergerak kecil.

Persis seperti hari ketika perut Nadine bergerak di balik kain kafan.

Aku memandang istriku.

Nadine tersenyum sambil menangis.

Kali ini aku tidak merasa takut.

Karena gerakan kecil itu tidak lagi menjadi tanda bahwa seseorang hampir kehilangan nyawanya.

Itu adalah tanda bahwa kehidupan kami akhirnya benar-benar dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang