AKU DIUSIR SAAT HAMIL 17 TAHUN, LALU 21 TAHUN KEMUDIAN SEORANG GADIS DI RUMAH ORANG TUAKU MENUNJUKKAN AKTA LAHIR DENGAN NAMAKU SEBAGAI IBUNYA.**

Foto Bu Sulastri di layar ponsel itu membuat suara di sekelilingku seolah lenyap.

Perempuan yang selama dua puluh satu tahun hidup dalam ingatanku sebagai orang terakhir yang melihat bayi keduaku ternyata masih hidup. Lebih buruk lagi, dia berdiri tersenyum di samping Naya.

Aku menatap Alya.

“Kapan foto ini diambil?”

“Tiga minggu lalu.”

“Di mana?”

“Yogyakarta.”

Ibu menangis semakin keras. Ayah berdiri kaku di dekat meja, tetapi untuk pertama kalinya sejak aku datang, keberaniannya seperti menguap.

Aku menoleh kepadanya.

“Jelaskan.”

Ayah menggeleng. “Bukan di sini.”

“Dua puluh satu tahun aku percaya anakku mati. Jangan bilang bukan di sini.”

Alya menggenggam gelang bayi itu erat.

“Mbah Kakung dan Mbah Putri bukan orang tua kandung saya,” katanya pelan. “Mereka membesarkan saya sebagai cucu.”

Aku merasa dadaku diremas.

“Cucu siapa?”

Alya menatap ibu.

Ibu terduduk di kursi.

“Cucumu, Mira.”

Aku hampir tertawa karena kalimat itu terdengar begitu kejam.

“Tentu saja dia cucumu kalau dia anakku.”

Ibu mengangkat wajah yang basah oleh air mata.

“Kami mengambilnya.”

Dua kata itu lebih menyakitkan daripada bentakan ayah dua puluh satu tahun lalu.

Aku mendekati ibu.

“Dari klinik?”

Ibu mengangguk.

Ayah langsung membentak, “Sudah, jangan bicara sembarangan!”

“Diam!” teriakku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ayah terdiam karena suaraku.

Ibu mulai bercerita dengan napas tersendat.

Setelah mengusirku, katanya, dia diam-diam mencari keberadaanku. Bukan karena ayah berubah pikiran, melainkan karena rasa bersalah membuatnya tidak bisa tidur.

Dari teman sekolahku, ibu mengetahui aku berada di Yogyakarta.

Ketika mendengar aku akan melahirkan, ibu datang ke klinik tanpa sepengetahuanku.

“Aku hanya ingin melihatmu,” katanya. “Aku tidak berani masuk.”

Malam itu persalinanku mengalami komplikasi. Aku melahirkan bayi kembar perempuan. Keduanya hidup.

“Jadi tidak ada bayi yang meninggal?”

Ibu menggeleng sambil menangis.

Dunia di bawah kakiku seperti runtuh.

Bu Sulastri memberi tahu ibu bahwa kondisiku kritis dan aku mungkin tidak mampu merawat dua bayi sendirian.

Lalu ayah datang.

Ternyata ibu telah meneleponnya.

Ayah membuat keputusan.

Satu bayi akan dibawa pulang.

“Kenapa?” tanyaku.

Ayah menatap lantai.

Aku mendekatinya.

“Kenapa kalian mengambil anakku?”

“Karena kamu tujuh belas tahun!” bentaknya tiba-tiba. “Kamu tidak punya uang, tidak punya suami, bahkan belum lulus sekolah. Bagaimana kamu akan membesarkan dua bayi?”

“Dengan cara yang sama seperti aku membesarkan Naya!”

“Kami tidak tahu kamu akan berhasil.”

Aku tertawa getir.

“Jadi kalian mencuri anakku demi kebaikanku?”

Ayah tidak menjawab.

Ibu melanjutkan.

Mereka memberikan uang kepada Bu Sulastri agar mencatat bayi kedua sebagai meninggal. Tidak ada sertifikat kematian karena administrasi klinik saat itu berantakan. Ayah membawa bayi itu pulang dan mendaftarkannya beberapa minggu kemudian.

Tetapi ada masalah.

Mereka tidak bisa mencantumkan diri sebagai orang tua kandung tanpa dokumen tambahan.

Maka namaku tetap dicantumkan sebagai ibu.

“Lalu ayahnya?” tanyaku.

Alya menjawab.

“Dikosongkan.”

Aku memejamkan mata.

Selama dua puluh satu tahun, anakku tumbuh hanya beberapa jam perjalanan dari tempatku tinggal tanpa pernah tahu aku masih hidup.

“Kenapa tidak pernah mengembalikannya?”

Ibu menangis.

“Awalnya kami pikir setelah keadaanmu membaik, kami akan memberitahumu.”

“Awalnya?”

“Ayahmu melarang.”

Aku menatap lelaki yang dulu kutakuti lebih daripada siapa pun.

Ayah tidak terlihat menyesal.

“Kamu pergi,” katanya. “Tidak pernah pulang.”

Aku menahan napas.

“Kalian yang mengusirku.”

“Kamu bisa pulang.”

“Dengan bayi di tangan setelah kalian mengatakan aku mempermalukan keluarga?”

Ayah tidak menjawab.

Alya berdiri di antara kami dengan mata merah.

“Cukup.”

Semua menoleh kepadanya.

“Saya juga ingin tahu satu hal.”

Dia memandang kakek dan nenek yang selama ini membesarkannya.

“Kenapa baru sekarang rumah ini dijual?”

Ayah langsung berubah tegang.

Aku menangkap perubahan itu.

“Apa hubungannya dengan Alya?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengambil kembali dokumen dari meja.

Rumah itu memang sederhana, tetapi tanahnya luas dan berada dekat jalan utama yang berkembang pesat. Nilainya sekarang jauh lebih tinggi daripada dua puluh tahun lalu.

Aku membaca berkas penjualan sekali lagi.

Barulah aku melihat sesuatu yang sebelumnya kulewatkan.

Pembelinya bukan individu.

Sebuah perusahaan properti.

Nilai transaksi hampir tiga miliar rupiah.

“Ayah punya utang?”

Ibu menunduk.

Ayah memalingkan wajah.

Alya menjawab, “Banyak.”

Ternyata usaha toko bahan bangunan ayah bangkrut dua tahun sebelumnya. Dia meminjam uang dari beberapa orang dan menjadikan sertifikat rumah sebagai jaminan informal.

Karena status dokumen keluarga lama masih mencantumkan namaku dalam salah satu berkas waris tanah dari almarhum kakek, penjualan membutuhkan persetujuanku.

Maka tanda tanganku dipalsukan.

Aku seharusnya marah tentang uang itu.

Namun dibandingkan kehilangan seorang anak selama dua puluh satu tahun, tiga miliar terasa tidak berarti.

Aku menatap Alya.

“Kenapa Naya menemukanmu?”

Alya menarik napas.

“Karena dia menemukan gelang yang satunya.”

Aku membeku.

Gelang Naya.

Aku menyimpannya bertahun-tahun dalam kotak dokumen di apartemen.

“Dia mengambilnya?”

“Bukan. Dia melihat tulisan angka satu di gelangnya. BAYI I.”

Aku tidak pernah memperhatikan angka kecil itu.

Naya memperhatikannya.

Enam bulan lalu, saat mencari dokumen untuk keperluan kampus, dia menemukan catatan kelahirannya. Dia mulai bertanya mengapa gelang itu bertuliskan Bayi I jika dia anak tunggal.

Aku tidak pernah menceritakan tentang bayi keduaku karena kenangan itu terlalu menyakitkan.

Jadi Naya mencari sendiri.

Dia menghubungi klinik lama yang kini sudah tutup. Dari bekas pegawai klinik, dia mendapat alamat Bu Sulastri.

“Kenapa dia tidak bertanya kepadaku?”

Alya tersenyum pahit.

“Karena dia takut kalau ternyata benar ada bayi yang meninggal, dia hanya akan membuka luka Ibu.”

Naya pergi ke Yogyakarta.

Bu Sulastri awalnya menolak bicara.

Sampai Naya menunjukkan gelangnya.

Perempuan tua itu akhirnya menangis dan mengakui semuanya.

Dia menyimpan salinan buku kelahiran lama.

Dua bayi perempuan.

Keduanya lahir hidup.

Dari sanalah Naya menemukan Alya.

Aku mengambil ponselku dan menelepon putriku.

Sekali.

Tidak diangkat.

Dua kali.

Tetap tidak diangkat.

Ketiga kalinya, Naya menjawab.

“Bu.”

“Datang ke Purworejo.”

Sunyi.

“Aku tahu semuanya.”

Suara Naya pecah.

“Maaf.”

“Datang.”

“Aku sudah di Purworejo.”

Aku menatap pintu.

Beberapa detik kemudian terdengar suara mobil berhenti.

Naya masuk.

Saat melihatku, matanya langsung penuh air.

Aku ingin marah.

Aku ingin bertanya kenapa anak yang selalu terbuka kepadaku bisa menyimpan rahasia sebesar ini.

Tetapi ketika dia berdiri di samping Alya, kemarahanku hilang.

Mereka benar-benar seperti pantulan satu sama lain.

Tidak identik sepenuhnya. Rambut Alya lebih pendek. Naya sedikit lebih tinggi.

Namun caranya menundukkan kepala ketika gugup sama.

Cara mereka menggigit bibir juga sama.

Anak-anakku.

Dua-duanya hidup.

Aku memeluk mereka.

Entah siapa yang mulai menangis lebih dulu.

Yang kuingat hanya tubuh kami bertiga gemetar di ruang tamu tempat dua puluh satu tahun lalu aku pernah berdiri dengan tas sekolah sebelum diusir.

“Aku minta maaf, Bu,” bisik Naya. “Aku ingin memastikan semuanya sebelum memberitahu Ibu.”

Aku mencium rambutnya.

“Kamu seharusnya bilang.”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Naya menatap Alya.

“Takut Ibu mengambil Alya lalu membenci Eyang.”

Aku menatap orang tuaku.

Aku memang marah.

Mungkin sebagian kemarahan itu tidak akan pernah hilang.

Namun sebelum aku sempat bicara, Alya mengatakan sesuatu yang mengejutkanku.

“Saya tidak mau meninggalkan mereka.”

Aku menatapnya.

Alya menangis.

“Mereka melakukan kesalahan besar. Saya tahu. Tapi mereka yang menjaga saya waktu sakit, mengantar sekolah, menunggu saya pulang malam. Mbah Putri menjual gelangnya supaya saya bisa masuk kuliah.”

Ibu menutup mulut sambil menangis.

Aku memahami sesuatu saat itu.

Kebenaran tidak selalu datang membawa pilihan yang sederhana.

Orang yang mencuri putriku juga orang yang membesarkannya dengan kasih sayang.

Aku tidak harus memaafkan kejahatan mereka untuk mengakui cinta yang mereka berikan kepada Alya.

“Aku tidak datang untuk mengambilmu,” kataku.

Alya menatapku.

“Aku cuma ingin kesempatan mengenalmu.”

Dia berjalan mendekat.

Untuk pertama kalinya, dia memanggilku dengan suara yang hampir berbisik.

“Ibu?”

Satu kata itu menghancurkan pertahanan yang kubangun selama dua puluh satu tahun.

Aku memeluknya lagi.

Beberapa hari kemudian, kami pergi menemui Bu Sulastri.

Dia tinggal sendirian di rumah kecil di Bantul.

Begitu melihatku, perempuan itu langsung berlutut.

“Mira, maafkan saya.”

Aku tidak memintanya berdiri.

Aku juga tidak membentaknya.

Aku hanya bertanya satu hal.

“Berapa harga anak saya waktu itu?”

Wajahnya hancur.

“Bukan begitu.”

“Berapa?”

“Lima juta.”

Aku menelan ludah.

Lima juta rupiah.

Itulah harga sebuah kebohongan yang mengambil dua puluh satu tahun hidupku bersama Alya.

Bu Sulastri kemudian menyerahkan buku catatan lama dan kuitansi pembayaran yang selama ini disimpannya karena rasa bersalah.

Aku membawa semuanya kepada pengacara.

Ayah bisa diproses karena pemalsuan dokumen penjualan rumah. Bukti tentang kejadian dua puluh satu tahun lalu juga kami serahkan untuk dikaji secara hukum.

Namun aku menghentikan penjualan rumah.

Bukan karena ingin memilikinya.

Aku melunasi utang yang menggunakan rumah itu sebagai tekanan, lalu mengubah kepemilikan sesuai proses hukum yang sah.

Ayah menatapku tak percaya ketika aku menyerahkan dokumen baru.

“Kenapa kamu menolong kami?”

“Aku tidak menolong Ayah.”

Aku menunjuk nama di dokumen.

Rumah itu akan menjadi hak Alya setelah seluruh administrasinya selesai.

“Ini untuk anakku.”

Ayah terdiam.

Aku kemudian menatapnya.

“Dan jangan pernah memakai namaku lagi tanpa izinku.”

Untuk pertama kalinya, lelaki yang mengusirku saat aku berusia tujuh belas tahun menundukkan kepala.

Enam bulan kemudian, hidup kami belum sempurna.

Aku tidak tiba-tiba memanggil orang tuaku setiap hari.

Aku juga belum mampu memaafkan semuanya.

Tetapi aku mulai pulang ke Purworejo.

Bukan untuk mereka.

Untuk Alya.

Kadang Naya ikut.

Mereka sering bertengkar tentang pakaian, makanan, bahkan siapa yang lebih mirip denganku. Setelah dua puluh satu tahun terpisah, anehnya mereka bisa menjadi saudara hanya dalam hitungan bulan.

Suatu malam, kami bertiga duduk di teras rumah.

Alya membawa kotak gelang bayi.

Dia meletakkan gelang bertuliskan BAYI II di samping gelang Naya yang bertuliskan BAYI I.

“Bu,” katanya, “saya pernah bertanya kepada Mbah Putri kenapa nama saya Alya.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Katanya itu nama yang Ibu tulis di belakang buku sekolah sebelum melahirkan.”

Aku terdiam.

Ingatan lama muncul.

Ketika hamil, aku memang pernah menulis dua nama di halaman belakang buku akuntansi sekolah.

Naya.

Dan Alya.

Aku pikir buku itu hilang ketika aku diusir.

Ibu ternyata menyimpannya.

Alya masuk ke rumah dan kembali membawa sebuah buku kusam.

Buku pelajaranku.

Di halaman terakhir masih ada tulisan tangan seorang gadis tujuh belas tahun yang ketakutan tetapi diam-diam berharap kedua bayinya lahir selamat.

Jika perempuan, Naya dan Alya.

Air mataku jatuh.

Ternyata bahkan nama yang kupikir tidak pernah sempat kuberikan telah sampai kepadanya.

Naya menyandarkan kepala ke bahuku.

Alya melakukan hal yang sama di sisi lain.

Aku memandang halaman rumah yang basah setelah hujan.

Dua puluh satu tahun lalu, aku meninggalkan tempat itu sendirian, hamil, membawa tas sekolah dan uang Rp47.000.

Aku mengira malam itu keluargaku berakhir.

Aku salah.

Keluargaku hanya terpecah menjadi dua jalan yang sangat panjang.

Dan setelah dua puluh satu tahun, kedua jalan itu akhirnya bertemu kembali.

Namun sebelum aku menutup buku itu, sebuah amplop tipis jatuh dari sela halaman.

Di bagian depannya tertulis namaku.

Tulisan tangan ibu.

Tanggalnya hanya tiga hari setelah aku diusir.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada surat yang tidak pernah dikirim.

Mira, kalau suatu hari kamu membaca ini, ketahuilah bahwa Ibu ingin mengejarmu malam itu. Ibu sudah mengemas pakaian dan berniat pergi bersamamu. Tapi Ibu takut kepada ayahmu dan memilih diam. Sampai kapan pun, diam itu akan menjadi dosa terbesar Ibu.

Aku membaca kalimat terakhir dua kali.

Lalu kulihat ibu berdiri di balik pintu, menangis tanpa suara.

Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah memaafkannya.

Belum.

Aku hanya menggeser tubuh dan menyisakan tempat kosong di kursi teras.

Ibu memahami maksudku.

Dia duduk di sana.

Untuk beberapa saat, tidak seorang pun berbicara.

Kadang sebuah keluarga tidak bisa kembali menjadi seperti dulu.

Beberapa luka memang tidak hilang hanya karena kebenaran akhirnya terbuka.

Tetapi malam itu aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kupahami.

Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa apa yang terjadi tidak salah.

Memaafkan adalah berhenti membiarkan kesalahan masa lalu menentukan seluruh sisa hidup kita.

Aku menggenggam tangan Naya.

Di sisi lain, Alya menggenggam tanganku.

Dan untuk pertama kalinya sejak usia tujuh belas tahun, rumah itu tidak lagi terasa seperti tempat aku pernah diusir.

Rumah itu akhirnya menjadi tempat kedua anakku pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang