SELAMA TIGA TAHUN AKU MENUTUP WAJAH DENGAN MASKER DAN DIANGGAP GADIS PALING JELEK DI SEKOLAH, SATU-SATUNYA LELAKI YANG “MELINDUNGIKU” TERNYATA HANYA MENJALANKAN TARUHAN—MALAM WISUDA ITU, MEREKA MENUNGGU AKU MEMBUKA MASKER UNTUK DITERTAWAKAN, TANPA TAHU AKU SUDAH MENYIAPKAN LAYAR RAKSASA UNTUK MEREKA BAGIAN 1

Malam wisuda itu, Raka datang dengan senyum yang sama seperti ketika pertama kali ia membuka pintu gudang olahraga dan berdiri di depanku.

Dulu, senyum itu membuatku merasa aman.

Malam itu, aku akhirnya tahu betapa berbahayanya rasa aman yang diberikan oleh orang yang salah.

Aula SMA Bina Karya Bandung sudah penuh ketika aku tiba bersama Ibu. Lampu-lampu dekorasi menggantung di langit-langit, musik terdengar dari pengeras suara, dan hampir semua orang sibuk mengambil foto.

Aku mengenakan gaun biru tua sederhana dengan masker hitam seperti biasa.

Begitu masuk, beberapa kepala langsung menoleh.

Aku mendengar bisikan.

“Itu Alya.”

“Malam ini katanya dia bakal buka masker.”

“Serius?”

“Gue dengar Raka mau nembak dia.”

Aku menggenggam tangan Ibu lebih erat.

Ibu menatapku.

“Kita bisa pulang.”

Aku menggeleng.

“Tiga tahun aku terus pulang setiap kali takut, Bu.”

Aku menarik napas.

“Malam ini enggak.”

Di sisi lain aula, aku melihat Keisha bersama teman-temannya.

Mereka tampak terlalu bersemangat.

Salah seorang dari mereka bahkan memegang ponsel dengan power bank terpasang, seolah takut baterainya habis sebelum pertunjukan utama dimulai.

Ketika Keisha melihatku, bibirnya membentuk senyum.

Bukan senyum ramah.

Senyum seseorang yang merasa sudah mengetahui akhir sebuah cerita.

Dia tidak tahu aku telah mengganti akhirnya.

“Alya.”

Aku menoleh.

Raka berjalan mendekat dengan setelan hitam. Rambutnya ditata lebih rapi daripada biasanya.

“Kamu datang.”

“Aku bilang aku akan datang.”

Matanya turun ke maskerku.

“Masih ingat janji kita?”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Ingat.”

Dia tersenyum lega.

“Bagus.”

Tangannya hampir menyentuh bahuku, tetapi aku mundur setengah langkah.

Gerakanku begitu kecil hingga mungkin tidak terlihat aneh.

Namun Raka menyadarinya.

“Kamu gugup?”

“Sedikit.”

“Jangan mikirin mereka.”

Dia menunjuk kerumunan.

“Lihat aku aja nanti.”

Kalimat yang sama.

Aku hampir ingin bertanya bagaimana seseorang bisa berbohong sambil menatap mata orang lain dengan begitu tenang.

Namun aku hanya berkata, “Oke.”

Acara dimulai.

Pidato kepala sekolah.

Penyerahan penghargaan.

Video kenangan angkatan.

Penampilan musik.

Semakin malam, semakin sulit mengendalikan detak jantungku.

Bukan karena aku takut membuka masker.

Aneh sekali.

Setelah mengetahui semuanya, wajahku justru menjadi hal yang paling sedikit kutakuti.

Yang membuat tanganku dingin adalah kenyataan bahwa beberapa meter dariku duduk orang-orang yang selama hampir setahun mempermainkan kecemasanku hanya demi hiburan.

Nama Raka akhirnya dipanggil.

Ia naik ke panggung membawa gitar.

Tepuk tangan langsung memenuhi aula.

Raka memang populer. Dalam waktu kurang dari setahun, dia berhasil menjadi salah satu siswa yang paling dikenal.

Setelah menyelesaikan sebuah lagu, ia tidak langsung turun.

Sebaliknya, dia mengambil mikrofon.

“Sebentar.”

Sorakan terdengar.

Teman-temannya mulai bersiul.

Aku melihat Keisha mengangkat ponsel.

Raka tersenyum.

“Ada seseorang yang pengin gue panggil ke sini.”

Suasana semakin riuh.

“Alya.”

Ratusan kepala berbalik kepadaku.

Dulu, situasi seperti itu cukup untuk membuat kakiku lemas.

Malam itu aku berdiri.

Bu Ratih, yang sengaja datang karena permintaanku, duduk tidak jauh dari Ibu.

Tatapan kami bertemu.

Tarik napas.

Empat hitungan.

Tahan.

Buang perlahan.

Aku berjalan menuju panggung.

Suara bisikan semakin keras.

Ketika aku berdiri di samping Raka, lampu panggung membuat aula di depanku terlihat seperti lautan wajah.

Raka menatapku.

“Siap?”

Aku mengangguk.

Dia menghadap penonton.

“Kalian semua kenal Alya.”

Beberapa orang tertawa.

Raka melanjutkan.

“Tiga tahun dia selalu pakai masker. Dan malam ini, katanya dia mau melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan di depan kita.”

Sorakan langsung terdengar.

“Buka!”

“Buka maskernya!”

Aku melihat wajah Raka.

Ada kilatan kegembiraan yang selama ini tidak pernah kusadari.

Ia menyerahkan mikrofon kepadaku.

“Silakan.”

Tanganku menerima mikrofon itu.

Tetapi aku tidak menyentuh masker.

Aku justru bertanya, “Sebelum itu, aku boleh ngomong sesuatu?”

Raka terlihat sedikit bingung.

“Tentu.”

Aku menghadap para siswa.

“Selama tiga tahun, banyak orang mengira aku memakai masker karena aku malu pada wajahku.”

Aula perlahan hening.

“Padahal aku tidak pernah malu pada wajahku.”

Aku menelan ludah.

“Aku takut pada cara orang melihatku.”

Beberapa guru mulai memperhatikan lebih serius.

“Tiga tahun lalu, saat aku mengalami serangan panik, orang-orang memilih merekam daripada menolong. Video paling buruk dalam hidupku menjadi hiburan untuk jutaan orang.”

Keisha menurunkan ponselnya sedikit.

Aku melanjutkan.

“Sejak itu aku pikir satu-satunya cara supaya aman adalah menyembunyikan diri.”

Aku menoleh kepada Raka.

“Sampai seseorang datang dan membuatku percaya bahwa tidak semua orang seperti itu.”

Wajah Raka melunak.

Mungkin dia mengira aku sedang menjalankan skenario yang dia inginkan.

“Aku bahkan jatuh cinta kepadanya.”

Sorakan kecil terdengar.

Raka tersenyum.

Lalu aku berkata,

“Sayangnya, tadi malam aku tahu semuanya bohong.”

Senyumnya menghilang.

Aula mendadak senyap.

Keisha membeku.

Raka menatapku.

“Alya…”

Aku mengangkat tangan.

“Layar, Pak.”

Lampu aula meredup.

Layar LED besar di belakang panggung menyala.

Namun bukan video wajahku yang muncul.

Yang pertama muncul adalah tangkapan layar sebuah grup percakapan.

Nama grupnya sederhana.

MASKER PROJECT.

Suasana berubah seketika.

Di layar terlihat pesan dari hampir satu tahun lalu.

Keisha menulis,

“Gue bikin Alya masuk gudang. Raka masuk tiga menit kemudian. Jangan telat.”

Pesan Raka muncul di bawahnya.

“Santai. Kalau berhasil bikin dia percaya sampai wisuda, taruhan gue menang.”

Terdengar suara gaduh.

Wajah Raka kehilangan warna.

“Alya, itu…”

Aku tidak menatapnya.

Slide berikutnya muncul.

Tangkapan layar lain.

Teman Raka menulis,

“Target akhir: bikin dia buka masker di depan satu angkatan.”

Keisha membalas,

“Kalau jelek kita menang dua kali.”

Beberapa siswa mulai berseru marah.

Raka meraih mikrofon lain.

“Dengar dulu. Itu cuma…”

Aku memandangnya.

“Cuma bercanda?”

Dia terdiam.

Kalimat yang sama persis dengan yang kudengar tadi malam.

Aku berkata, “Aku juga berharap begitu.”

Lalu rekaman suara diputar.

Suara Keisha memenuhi aula.

“Besok taruhan kita selesai.”

Kemudian suara Raka.

“Yang penting besok dia buka masker. Setelah itu gue bilang kalau dari awal semuanya taruhan.”

Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.

Raka berdiri kaku.

Aku melihat orang tuanya di antara tamu undangan.

Ayahnya menundukkan kepala.

Ibunya menutup mulut.

Keisha bangkit dari kursinya.

“Ini pelanggaran privasi!”

Aku hampir tersenyum karena ironi kalimat itu.

Aku menatapnya.

“Menarik mendengar kata privasi dari orang yang selama tiga tahun berusaha menarik masker orang lain.”

Beberapa guru segera mendekati kelompok Keisha.

Wakil kepala sekolah mengambil mikrofon.

“Semua materi ini sudah diserahkan kepada pihak sekolah sejak pagi. Kami akan menindaklanjuti sesuai prosedur.”

Keisha langsung panik.

“Pak, itu cuma taruhan!”

“Taruhan yang melibatkan perundungan sistematis terhadap kondisi psikologis siswa,” jawab beliau tegas.

Aku kembali menatap Raka.

Dia tidak terlihat seperti pahlawan lagi.

Hanya seorang anak laki-laki berusia delapan belas tahun yang akhirnya menyadari bahwa permainan punya konsekuensi.

“Alya,” katanya pelan.

Matanya memerah.

“Gue memang mulai karena taruhan.”

Aku diam.

“Tapi lama-lama enggak.”

Aula sunyi.

Dia mendekat satu langkah.

“Beberapa bulan terakhir gue benar-benar…”

“Jangan.”

Suaraku tidak keras.

Namun dia berhenti.

“Jangan ubah perasaanku jadi alasan untuk membersihkan kesalahanmu.”

Raka menatapku seperti baru saja ditampar.

“Gue sayang sama lo.”

Aku mengangguk perlahan.

“Mungkin.”

Aku tidak tahu apakah itu benar.

Dan malam itu aku sadar aku tidak perlu tahu.

“Tapi seseorang bisa punya perasaan dan tetap melakukan sesuatu yang kejam.”

Matanya jatuh.

“Gue mau minta maaf.”

“Silakan.”

Dia menatapku lagi, mungkin tidak menyangka jawabanku.

Aku berkata, “Minta maaflah karena kamu memang menyesal. Bukan supaya aku memaafkanmu.”

Untuk pertama kalinya, Raka tidak punya jawaban.

Aku berbalik menuju layar.

“Pak, sekarang videonya.”

Tampilan berubah.

Layar menjadi hitam selama dua detik.

Kemudian wajah seorang gadis muncul.

Rambut panjang tergerai sederhana.

Mata besar.

Hidung tegas.

Tanpa masker.

Seluruh aula terdiam.

Gadis itu adalah aku.

Versi diriku dari rekaman beberapa minggu sebelumnya duduk di sebuah ruangan kosong.

Dalam video, aku tersenyum gugup.

“Halo. Aku Alya.”

Suara bisik-bisik terdengar di seluruh aula.

Aku tahu apa yang mereka pikirkan.

Mereka telah menghabiskan tiga tahun membayangkan sesuatu yang mengerikan di balik masker.

Tidak ada.

Hanya wajah biasa yang selama ini kubawa sejak lahir.

Wajah yang dulu pernah dipuji terlalu banyak sampai akhirnya dicuri oleh jutaan tatapan asing.

Dalam video, aku berkata,

“Kalau kalian melihat rekaman ini, berarti suatu hari aku akhirnya cukup berani untuk berhenti menganggap tatapan orang sebagai ancaman.”

Air mataku mulai turun.

Bukan karena Raka.

Bukan karena Keisha.

Aku menangis untuk diriku sendiri yang berusia lima belas tahun.

Gadis yang terduduk di lantai mal sementara orang-orang mengarahkan kamera kepadanya.

Aku berharap bisa kembali ke hari itu dan berkata bahwa suatu saat nanti dia akan berdiri di depan ratusan orang tanpa ingin menghilang.

Video berakhir.

Lampu panggung kembali menyala.

Aku menyentuh tali masker.

Aula menjadi sangat sunyi.

Raka menatapku.

Keisha menatapku.

Semua orang menunggu.

Namun kali ini, mereka tidak menentukan apa yang akan kulakukan.

Aku sendiri yang menentukan.

Perlahan, kulepaskan masker itu.

Udara dingin menyentuh seluruh wajahku.

Seseorang di barisan depan menarik napas.

Kemudian tepuk tangan terdengar.

Satu orang.

Lalu beberapa.

Kemudian hampir seluruh aula.

Aku sempat ingin memasang masker kembali.

Bu Ratih berdiri dari kursinya.

Ia tidak bertepuk tangan.

Ia hanya tersenyum sambil meletakkan tangan di dada.

Bernapas.

Aku mengikuti.

Tarik.

Tahan.

Buang.

Aku berhasil.

Raka menangis.

Keisha tidak mengatakan apa-apa.

Tetapi hal yang paling mengejutkan terjadi beberapa menit kemudian.

Seorang siswi kelas sebelas yang membantu panitia mendatangiku di belakang panggung.

Namanya Nisa.

Tangannya gemetar.

“Kak Alya…”

Aku menoleh.

Dia menunjukkan ponselnya.

“Aku sebenarnya sudah tahu soal grup itu dari dua bulan lalu.”

Aku terdiam.

Nisa menjelaskan bahwa kakaknya adalah teman salah satu anggota kelompok Raka. Suatu malam, ia tidak sengaja melihat tangkapan layar percakapan mereka.

“Kenapa kamu enggak bilang?”

Air matanya jatuh.

“Aku takut.”

Jawaban itu membuatku tidak bisa marah.

Aku terlalu mengenal kata itu.

Nisa menyerahkan sebuah flashdisk.

“Masih ada banyak bukti lain.”

Aku menatap benda kecil di telapak tangannya.

“Lalu kenapa sekarang kamu kasih?”

Nisa memandang wajahku yang tidak lagi tertutup.

“Karena tadi Kakak berani.”

Aku terdiam lama.

Saat itulah aku mengerti sesuatu.

Keberanian ternyata tidak selalu berarti kita tidak takut.

Kadang keberanian hanya berarti ketakutan berhenti menentukan keputusan berikutnya.

Sekolah akhirnya membentuk tim investigasi. Beberapa siswa mendapat sanksi berat. Keisha dicopot dari seluruh posisi organisasi dan diwajibkan mengikuti program konseling serta kegiatan pemulihan. Raka menerima konsekuensi akademik dan sosial yang tidak ringan.

Aku tidak meminta mereka dikeluarkan.

Bukan karena aku memaafkan.

Aku hanya tidak ingin hidupku selanjutnya tetap berputar di sekitar hukuman mereka.

Raka mencoba menghubungiku beberapa kali setelah kelulusan.

Pesan terakhirnya berbunyi,

“Gue enggak berharap lo balas. Gue cuma mau bilang satu hal. Hari pertama memang taruhan. Tapi hari-hari setelahnya adalah bagian hidup gue yang paling gue sesali karena gue tahu lo percaya sama orang yang sebenarnya enggak pantas dipercaya.”

Aku membaca pesan itu sekali.

Kemudian menghapusnya.

Tidak membalas juga merupakan sebuah jawaban.

Tiga bulan kemudian, aku mulai kuliah di Jakarta.

Pada hari pertama orientasi, aku berdiri di depan cermin kamar kos.

Di meja ada masker hitam.

Kebiasaan lama membuat tanganku hampir mengambilnya.

Aku berhenti.

Menatap wajahku sendiri.

Bekas ketakutan itu masih ada.

Kadang aku masih tidak nyaman ketika seseorang mengangkat kamera tiba-tiba.

Kadang kerumunan masih membuat napasku pendek.

Kadang aku masih membawa masker di tas hanya untuk merasa aman.

Pemulihan ternyata tidak seperti film.

Tidak selesai hanya karena satu malam dramatis.

Tetapi pagi itu aku keluar tanpa menutupi wajah.

Di depan gedung kampus, seorang mahasiswi menghampiriku.

“Maaf, kamu Alya?”

Tubuhku refleks menegang.

Dia buru-buru berkata, “Aku pernah lihat video wisuda kamu.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

Tiga tahun lalu, kalimat seperti itu akan membuatku lari.

Namun gadis itu tersenyum.

“Aku cuma mau bilang terima kasih.”

“Untuk apa?”

Dia terdiam sebentar.

“Aku juga pernah jadi bahan lelucon satu sekolah.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Dia tersenyum lagi lalu pergi.

Aku berdiri di bawah matahari Jakarta, dikelilingi ratusan wajah asing.

Untuk pertama kalinya, aku tidak bertanya-tanya apa yang mereka pikirkan tentang wajahku.

Aku hanya berjalan.

Saat itu ponselku berbunyi.

Pesan dari Bu Ratih.

“Bagaimana hari pertama?”

Aku mengambil foto langit di atas kampus.

Bukan selfie.

Belum.

Aku mengirimkannya.

“Lumayan menakutkan.”

Tiga titik muncul.

“Lalu?”

Aku tersenyum.

Jariku mengetik pelan.

“Tapi aku tetap masuk.”

Aku memasukkan ponsel ke tas dan melanjutkan langkah.

Masker hitam itu masih ada di dalam sana.

Aku tidak membuangnya.

Karena akhirnya aku memahami bahwa masker itu tidak pernah menjadi simbol kelemahanku.

Dulu ia menyelamatkanku ketika aku belum tahu cara menghadapi dunia.

Hanya saja sekarang aku tidak lagi membutuhkannya untuk bersembunyi.

Selama tiga tahun aku mengira kemenangan terbesar dalam hidupku adalah berani menunjukkan wajah.

Ternyata aku salah.

Kemenangan terbesarku adalah menyadari bahwa bahkan ketika seluruh dunia melihatku, menilai, menertawakan, atau salah memahami diriku, wajah ini tetap milikku.

Hidup ini juga tetap milikku.

Dan tidak seorang pun berhak menjadikannya taruhan lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang