MENJELANG LEBARAN KETUPAT, ENAM PULUH LEPET BUATANKU LENYAP SAAT AKU MENJEMPUT PUTRIKU; MERTUAKU BILANG SEMUANYA DIBAWA MENANTU KESAYANGANNYA, LALU TERTAWA SAAT ANAKKU MENANGIS—MALAM ITU AKU MENGANTARNYA BESERTA KOPER, DAN SUAMIKU PULANG MEMBAWA ANCAMAN YANG MEMBUAT DARAHKU DINGIN

Aku tidak pernah menyangka enam puluh lepet bisa menjadi alasan terbongkarnya kebohongan yang disimpan suamiku selama bertahun-tahun.

Malam itu Arif berdiri di ruang tengah sambil menunjuk pintu, sedangkan Alya bersembunyi di belakang tubuhku.

“Kalau kamu tidak mau minta maaf, keluar,” katanya.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Keluar sendiri. Alya tetap di sini.”

Tanganku spontan menggenggam tangan putriku.

“Jangan sentuh anakku.”

Bu Ratih berdiri di samping Arif dengan wajah puas. Dimas menyilangkan tangan. Mira masih duduk sambil memakan lepet yang kubuat sejak subuh, seolah semua yang terjadi hanyalah pertengkaran kecil yang akan selesai begitu aku menyerah.

Mereka tidak tahu ponsel di sakuku baru saja menerima pesan dari bank.

Aku menarik napas.

“Rumah ini milik siapa, Rif?”

Arif mengerutkan kening.

“Apa?”

“Jawab saja.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Aku cuma ingin memastikan. Rumah yang sekarang kamu suruh aku tinggalkan ini milik siapa?”

Bu Ratih tertawa sinis.

“Ya milik anak saya. Memangnya milik siapa?”

Aku menatap Arif.

Dia tidak ikut tertawa.

Itu cukup untuk membuatku tahu bahwa dia memahami ke mana pembicaraan ini akan menuju.

Aku mengambil ponsel dan membuka pesan dari pihak bank.

“Tiga puluh menit lalu aku dihubungi bagian verifikasi kredit. Ada pengajuan pinjaman empat ratus delapan puluh juta rupiah menggunakan sertifikat rumah ini sebagai jaminan.”

Dimas langsung menurunkan tangannya.

Mira berhenti mengunyah.

Bu Ratih memandang Arif.

Aku melanjutkan.

“Pemohon utamanya atas nama Dimas Haryanto.”

Ruangan mendadak sunyi.

Dimas pucat.

“Mbak, itu…”

“Belum selesai.”

Aku memperbesar dokumen yang dikirim petugas bank.

“Di sini ada tanda tangan persetujuan pemilik rumah. Namanya Nadia Prameswari.”

Aku mengangkat wajah.

“Masalahnya, aku tidak pernah menandatangani ini.”

Alya menarik ujung bajuku.

“Mama…”

Aku menunduk dan mengusap rambutnya.

“Masuk kamar dulu, Sayang.”

“Tapi Mama…”

“Mama tidak apa-apa.”

Dia ragu, tetapi akhirnya naik ke lantai atas.

Aku menunggu sampai pintu kamarnya tertutup.

Kemudian aku kembali menatap mereka.

“Sekarang siapa yang mau menjelaskan?”

Dimas langsung menunjuk Arif.

“Mas Arif bilang Mbak sudah setuju.”

Arif berbalik cepat.

“Jangan bawa-bawa aku.”

“Lho, memang Mas yang kasih fotokopi sertifikatnya!”

Bu Ratih memukul lengan Dimas.

“Diam kamu!”

Terlambat.

Aku merasa sesuatu di dalam dadaku runtuh, tetapi anehnya bukan sakit yang muncul.

Justru ketenangan.

Selama tiga bulan terakhir aku memang merasa ada yang janggal.

Rekening tabungan keluarga beberapa kali mengalami penarikan dalam jumlah besar. Dua puluh juta. Tiga puluh lima juta. Lima belas juta.

Setiap kutanya, Arif selalu punya alasan.

Biaya proyek.

Pinjaman sementara untuk kantor.

Dana darurat.

Aku mempercayainya sampai suatu hari menemukan mutasi transfer rutin ke rekening Dimas.

Jumlah totalnya hampir dua ratus juta rupiah dalam delapan belas bulan.

Itulah sebabnya diam-diam aku mulai mengumpulkan dokumen.

Malam itu akhirnya aku mendapatkan jawabannya.

“Kedai kopi Dimas bangkrut?” tanyaku.

Tak seorang pun menjawab.

Aku tertawa kecil.

“Berapa utangnya?”

Dimas menunduk.

“Bukan urusan Mbak.”

“Kalau sertifikat rumahku dipakai, itu jadi urusanku.”

Bu Ratih langsung menyela.

“Rumahmu, rumahmu. Dari tadi itu terus yang kamu banggakan. Arif suamimu. Apa yang kamu punya ya punya suamimu juga.”

Aku menatapnya.

“Tidak untuk rumah ini.”

Rumah dua lantai yang kami tempati bukan hasil pembelian bersama.

Rumah itu pemberian ayahku sebelum aku menikah.

Sertifikatnya sejak awal hanya atas namaku.

Arif tahu.

Bu Ratih ternyata tidak.

Wajahnya perlahan berubah.

“Arif?”

Suamiku mengusap wajah.

“Nadia, kita bisa bicara berdua.”

“Kenapa berdua? Bukankah tadi kalian datang berempat untuk mengadili aku?”

“Nadia.”

“Sekarang bicara.”

Arif menarik napas panjang.

“Dimas sedang kesulitan.”

“Jadi?”

“Aku cuma mau bantu.”

“Dengan memalsukan tanda tanganku?”

“Aku tidak memalsukan.”

Aku menoleh kepada Dimas.

Dia semakin pucat.

“Siapa yang tanda tangan?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengeluarkan ponsel dan berkata, “Baik. Besok aku laporkan ke polisi.”

Mira berdiri begitu cepat sampai wadah plastiknya jatuh.

“Jangan!”

Dua lepet berguling ke lantai.

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, kesombongannya hilang.

“Kenapa?”

Mira menelan ludah.

“Karena… aku yang tanda tangan.”

Bu Ratih terperanjat.

“Mira!”

Air mata Mira mulai turun.

“Mas Arif bilang cuma formalitas. Katanya Mbak Nadia nanti juga setuju.”

Aku memandang suamiku.

“Benar?”

“Nadia, dengarkan dulu.”

“Benar atau tidak?”

Dia tidak menjawab.

Jawaban itu sudah cukup.

Aku baru memahami sesuatu yang jauh lebih besar daripada kehilangan enam puluh lepet.

Selama ini aku mengira Arif hanya terlalu memanjakan keluarganya.

Ternyata dia telah menjadikan aku sumber daya yang bisa digunakan kapan saja.

Uangku.

Rumahku.

Tenagaku.

Bahkan anakku.

Semuanya dianggap milik keluarga mereka.

Aku mengambil koper kecil dari bawah tangga.

Sebenarnya koper itu sudah kusiapkan sejak sore.

Bukan untuk Bu Ratih.

Untukku dan Alya.

Arif menatapku.

“Kamu mau ke mana?”

“Pergi.”

Wajah Bu Ratih langsung berubah puas.

“Nah, begitu lebih baik.”

Aku tersenyum kepadanya.

“Tapi bukan karena kalian mengusirku.”

Aku mengambil sebuah map dari lemari.

“Karena mulai malam ini kalian yang tidak punya alasan berada di rumahku.”

Arif membeku.

“Apa maksudmu?”

“Aku sudah bicara dengan pengacara tiga minggu lalu.”

Aku mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Awalnya aku cuma ingin memastikan keuangan kita aman. Aku belum berencana bercerai.”

Aku berhenti.

“Sampai malam ini.”

Arif meraih lenganku.

“Kamu jangan gila.”

Aku menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

“Nadia, pikirkan Alya.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Laki-laki yang lima menit sebelumnya hendak memisahkan seorang anak enam tahun dari ibunya sekarang memintaku memikirkan anak kami.

“Aku sedang memikirkan Alya.”

Aku mengambil ponsel.

“Dan justru karena itu aku tidak akan membiarkan dia tumbuh dengan mengira bahwa seorang perempuan harus menerima penghinaan demi mempertahankan keluarga.”

Bu Ratih kembali berteriak.

“Jadi kamu mau menghancurkan rumah tangga gara-gara lepet?”

Aku menatapnya.

“Bukan.”

Aku menunjuk bungkus janur yang jatuh di lantai.

“Lepet itu cuma membuat saya akhirnya membuka mata.”

Malam itu aku membawa Alya ke rumah kakakku di Sidoarjo.

Sebelum pergi, aku menghubungi petugas keamanan kompleks dan mengatakan bahwa mulai keesokan hari akses tamu harus melalui persetujuanku.

Aku juga meminta bank membekukan seluruh proses pengajuan kredit dan mengirimkan salinan dokumennya kepada pengacaraku.

Arif meneleponku dua puluh tujuh kali.

Tidak satu pun kuangkat.

Sekitar pukul dua pagi, sebuah pesan masuk.

Kalau kamu melaporkan Dimas dan Mira, jangan harap kamu bisa membawa Alya begitu saja. Aku akan perjuangkan hak asuh. Aku punya pekerjaan tetap. Kamu cuma ibu rumah tangga.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Kemudian menyimpannya sebagai bukti.

Arif rupanya benar-benar tidak mengenalku.

Selama delapan tahun dia mengira aku tidak punya penghasilan karena tidak pergi ke kantor setiap pagi.

Dia tidak pernah bertanya secara serius tentang pekerjaan yang kulakukan setelah Alya tidur.

Sebelum menikah, aku bekerja sebagai desainer kemasan makanan. Setelah melahirkan, aku berhenti dari kantor, tetapi tetap menerima proyek dari rumah.

Lima tahun terakhir, penghasilanku bahkan hampir menyamai gaji Arif.

Sebagian besar kusimpan dalam rekening terpisah atas saran almarhum ayahku.

Ayah pernah berkata, “Menikah bukan berarti menyerahkan seluruh kunci hidupmu kepada orang lain.”

Dulu aku menganggapnya terlalu khawatir.

Sekarang aku mengerti.

Keesokan paginya aku menemui pengacara.

Aku menyerahkan rekaman CCTV, rekaman suara Bu Ratih, dokumen pinjaman, percakapan WhatsApp, bukti transfer, dan pesan ancaman Arif.

Namun kejutan terbesar datang dua hari kemudian.

Pengacaraku menelepon.

“Nadia, kami menemukan sesuatu.”

“Apa?”

“Pengajuan empat ratus delapan puluh juta itu bukan yang pertama.”

Darahku terasa turun ke kaki.

“Apa maksudnya?”

“Tahun lalu ada pengajuan lain senilai tiga ratus juta dengan dokumen rumah yang sama. Ditolak karena masalah administrasi.”

Aku memejamkan mata.

“Siapa pemohonnya?”

Pengacaraku terdiam sebentar.

“Suamimu.”

Saat itulah aku tahu pernikahanku sudah berakhir jauh sebelum enam puluh lepet itu hilang.

Proses berikutnya tidak mudah.

Arif meminta maaf.

Kemudian marah.

Lalu memohon.

Setelah itu mengancam lagi.

Bu Ratih menelepon saudara-saudaraku dan mengatakan aku menantu durhaka.

Mira bahkan membuat unggahan media sosial tentang perempuan yang memisahkan suami dari keluarganya.

Aku tidak membalas satu pun.

Aku hanya bekerja bersama pengacaraku.

Pihak bank akhirnya menyerahkan hasil pemeriksaan internal. Tanda tangan palsu itu menjadi bukti penting. Mira mengaku melakukannya atas permintaan Arif dan Dimas karena takut ikut terseret lebih jauh.

Dimas ternyata memiliki utang dari bisnis kedai kopi yang sudah hampir tutup.

Sebagian uang yang diberikan Arif selama ini berasal dari tabungan pendidikan Alya.

Itulah bagian yang paling sulit kuterima.

Bukan karena jumlahnya.

Karena rekening itu kami buka bersama ketika Alya baru berusia tiga bulan.

Arif sendiri yang pernah berkata, “Apa pun yang terjadi, uang ini untuk masa depan anak kita.”

Ternyata janji juga bisa dicuri seperti enam puluh lepet di atas meja.

Tiga bulan kemudian, aku kembali tinggal di rumahku bersama Alya.

Arif sudah pindah.

Proses perceraian berjalan.

Untuk perkara pemalsuan dokumen, aku tidak mencabut laporan meskipun berkali-kali diminta keluarga mereka.

Hubungan Alya dengan ayahnya tetap kuusahakan berjalan sesuai ketentuan yang aman dan disepakati.

Aku tidak ingin menjadikan anakku senjata.

Aku hanya tidak mau dia dijadikan sandera.

Beberapa bulan setelah semuanya bermula, Lebaran Ketupat datang.

Pukul empat pagi aku kembali berada di dapur.

Ketan sudah direndam.

Kacang tolo sudah matang.

Janur tersusun di meja.

Namun kali ini aku tidak membuat enam puluh.

Aku hanya membuat dua puluh.

Alya bangun karena mencium aromanya.

Dia berlari ke dapur masih memakai piyama.

“Mama bikin lepet?”

Aku tersenyum.

“Iya.”

Dia naik ke kursi dan memperhatikan tanganku membungkus ketan.

Setelah kukusan matang, aku mengambil satu yang paling besar.

“Ini untuk siapa?”

Alya tersenyum lebar.

“Untuk Alya.”

Aku mengangguk.

“Ambil.”

Dia justru mematahkan lepet itu menjadi dua.

Separuh diberikan kepadaku.

“Mama juga.”

Aku menatap potongan kecil di tangannya.

Entah kenapa mataku panas.

Alya mengunyah sambil mengayunkan kaki.

Kemudian dia berkata dengan polos, “Sekarang Nenek tinggal sama Om Dimas, ya?”

“Iya.”

“Papa juga tidak tinggal di sini.”

“Iya.”

Dia terdiam sebentar.

“Mama sedih?”

Aku berpikir sebelum menjawab.

“Kadang.”

“Karena rumah kita jadi sepi?”

Aku mengusap rambutnya.

“Sepi tidak selalu berarti buruk, Sayang.”

Dia menatapku.

Aku tersenyum.

“Kadang rumah harus menjadi lebih sepi supaya orang yang tinggal di dalamnya bisa hidup lebih tenang.”

Alya sepertinya belum sepenuhnya memahami.

Dia hanya mengangguk lalu melanjutkan makan.

Ponselku berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak menghubungiku.

Mira.

Aku hampir mengabaikannya.

Namun kalimat pertama membuatku berhenti.

Mbak Nadia, aku tahu Mbak mungkin tidak akan memaafkanku. Aku cuma mau bilang satu hal yang seharusnya kukatakan sejak dulu.

Aku membaca lanjutannya.

Ternyata tiga hari sebelum enam puluh lepet itu diambil, Arif sudah meminta Mira membantu memindahkan beberapa dokumen dari lemari kerjaku.

Rencananya, setelah pinjaman cair, Arif akan mengatakan bahwa sertifikat rumah hilang dan mengurus semuanya tanpa sepengetahuanku.

Mira menutup pesannya dengan satu kalimat.

Waktu itu Bu Ratih sengaja menyuruhku mengambil semua lepet supaya Mbak marah. Kata Mas Arif, kalau Mbak akhirnya bertengkar dan pergi dari rumah beberapa hari, mereka akan punya waktu mengambil dokumen yang dibutuhkan.

Tanganku membeku.

Aku menoleh ke arah Alya yang sedang makan dengan tenang.

Jadi enam puluh lepet itu memang bukan sekadar makanan.

Mereka sengaja mengambil semuanya.

Mereka sengaja membuat Alya menangis.

Mereka sengaja memancingku pergi.

Hanya saja mereka membuat satu kesalahan.

Mereka mengira perempuan yang selama bertahun-tahun memilih diam tidak akan pernah berani melawan.

Aku menyimpan pesan Mira.

Kemudian mengambil lepetku dan duduk di sebelah Alya.

Di luar, suara takbir dari masjid kecil di ujung kompleks terdengar samar.

Alya menyandarkan kepala ke lenganku.

“Mama?”

“Hm?”

“Tahun depan bikin enam puluh lagi?”

Aku tertawa kecil.

“Mungkin.”

“Banyak banget.”

“Tidak apa-apa.”

Aku mencium kepalanya.

“Tapi mulai sekarang, kita belajar satu hal.”

“Apa?”

“Kalau ingin berbagi, kita berbagi karena kita memilih.”

Aku memberikan separuh lepetku kepadanya.

“Bukan karena seseorang merasa berhak mengambil semuanya dari kita.”

Alya tersenyum dan menerima potongan itu.

Pagi itu aku akhirnya memahami sesuatu yang terlambat kupelajari.

Batas bukanlah bentuk kebencian.

Mengatakan tidak bukan berarti tidak menghormati keluarga.

Dan mempertahankan sesuatu yang menjadi hak kita bukanlah keserakahan.

Kadang yang menghancurkan sebuah keluarga bukan orang yang akhirnya berani pergi.

Melainkan orang-orang yang terlalu lama percaya bahwa kebaikan seseorang adalah izin untuk mengambil apa saja darinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang