DI MALAM PERNIKAHANKU, SUAMIKU MEMBAWAKU KE SEBUAH KLINIK RAHASIA—DAN NAMA DI GELANG PASIEN ITU MEMBUAT DARAHKU SERASA MEMBEKU SEBELUM PINTUNYA DIKUNCI.

Pintu baja itu mengeluarkan bunyi klik yang pendek, tetapi di telingaku terdengar seperti palu yang dijatuhkan ke peti mati.

“Ginjalmu bukan untukku,” bisik Nabila. “Setelah operasi, mereka akan membunuh kita berdua.”

Aku menatapnya tanpa mampu bergerak.

Rendra berdiri beberapa meter dariku dengan wajah yang terlalu tenang untuk seorang suami yang baru saja mendengar istrinya menuduhnya merencanakan pembunuhan. Dokter Seno justru menunduk, pura-pura sibuk merapikan alat suntik.

“Dia mengigau,” kata Rendra. “Obatnya membuat dia tidak sadar.”

“Kalau dia mengigau, kenapa kamu menguncinya di bawah rumah selama empat tahun?”

Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Rendra menghilang.

Aku mundur menuju meja instrumen. Tidak ada benda yang cukup aman untuk kujadikan senjata. Hanya gunting bedah, beberapa pinset, dan baki logam.

Rendra mengulurkan tangan.

“Intan, dengarkan aku.”

“Jangan mendekat.”

“Aku tidak ingin menyakitimu.”

Aku tertawa pendek, nyaris histeris.

“Lalu surat persetujuan operasi palsu itu apa?”

“Itu hanya prosedur.”

“Prosedur untuk mengambil ginjalku tanpa izin?”

Rendra menatap Dokter Seno.

Tatapan singkat itu cukup membuatku mengerti bahwa tidak satu pun dari mereka menganggapku sebagai manusia yang perlu diberi penjelasan.

Aku hanyalah sesuatu yang sudah mereka pilih.

Sesuatu yang memiliki golongan darah, ukuran organ, dan harga.

Dokter Seno akhirnya berbicara.

“Kalau Anda tenang, semuanya akan jauh lebih mudah.”

Aku memandangnya.

“Lebih mudah untuk siapa?”

Ia tidak menjawab.

Tanganku diam-diam masuk ke saku gaun. Ponselku masih ada.

Jantungku melonjak.

Sebelum meninggalkan vila bagian atas, Rendra menyuruhku meninggalkan tas, tetapi aku sempat memasukkan ponsel ke saku karena ingin mengambil foto hadiah yang katanya telah ia siapkan.

Aku tidak berani mengeluarkannya.

Aku hanya menekan tombol samping beberapa kali.

Tidak tahu apakah sinyal tersedia di ruang bawah tanah. Tidak tahu apakah panggilan darurat bisa tersambung. Aku bahkan tidak yakin tombol yang kutekan benar.

Yang bisa kulakukan hanyalah berharap.

Rendra mulai berjalan ke arahku.

“Nabila seharusnya tidak mengatakan apa pun.”

“Jadi perkataannya benar?”

Ia berhenti.

Keheningan itu adalah jawaban.

Nabila bergerak lemah di ranjang.

“Pendinginnya,” katanya.

Aku melirik kotak organ di bawah meja.

X-17.

Rp12 miliar.

Aku tiba-tiba teringat sesuatu.

Selama setahun mengenal Rendra, aku beberapa kali menghadiri acara rumah sakitnya. Dalam laporan tahunan, jaringan rumah sakit Rendra selalu membanggakan program transplantasi sebagai bentuk pelayanan kemanusiaan.

Tetapi rumah sakitnya tidak pernah memiliki izin transplantasi ginjal.

Aku tahu karena seorang dokter tempatku bekerja pernah membicarakannya.

Lalu untuk apa klinik ini?

“Siapa X-17?” tanyaku.

Rendra menghela napas.

“Orang yang tidak perlu kamu kenal.”

“Orang yang membayar dua belas miliar?”

Dokter Seno terlihat gelisah.

“Pak, kita tidak punya waktu.”

Rendra menatap jam tangannya.

“Berapa lama?”

“Tim akan tiba sekitar tiga puluh menit lagi.”

Darahku terasa turun ke kaki.

Tim.

Berarti ada lebih banyak orang yang terlibat.

Aku menoleh kepada Nabila.

“Kenapa kamu masih di sini?”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku pernah berada di posisimu.”

Rendra tiba-tiba membentak, “Diam!”

Nabila tersenyum pahit.

Empat tahun lalu, katanya, ia juga menjalani pemeriksaan kesehatan karena Rendra mengatakan dirinya membutuhkan program kesuburan. Beberapa minggu kemudian ia dibius.

Saat sadar, satu ginjalnya telah hilang.

Rendra mengatakan terjadi komplikasi darurat.

Nabila mempercayainya.

Sampai beberapa bulan kemudian ia menemukan pembayaran sebesar Rp9,5 miliar dari sebuah perusahaan luar negeri ke rekening salah satu yayasan milik Rendra.

Ia menyelidiki sendiri.

Ginjalnya telah diberikan kepada seorang pengusaha asing.

Nabila mengancam melapor ke polisi.

Tiga hari kemudian, berita kematiannya diumumkan.

Kecelakaan mobil.

Pemakaman dilakukan dengan peti tertutup.

“Aku tidak pernah ada di dalam peti itu,” katanya.

Aku menatap Rendra.

“Ya Tuhan.”

“Aku menyelamatkan hidupnya,” jawab Rendra dingin.

“Kamu menculik istrimu sendiri.”

“Kalau kubiarkan dia pergi, dia akan menghancurkan semuanya.”

Nabila terkekeh lemah.

“Dan sekarang ginjalku rusak karena obat yang mereka berikan selama bertahun-tahun.”

Aku menatap selang infusnya.

Tiba-tiba semua masuk akal.

Nabila bukan pasien yang mereka selamatkan.

Ia adalah tahanan.

“Jadi aku bukan donor untuk Nabila,” kataku.

Rendra tidak menyangkal lagi.

“Siapa X-17?”

“Seorang pria yang membutuhkan transplantasi segera.”

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku melihat sebuah map lain di meja Dokter Seno.

Aku menerjangnya.

Seno mencoba menangkap tanganku, tetapi aku mendorong baki logam hingga jatuh. Suara benturannya memekakkan ruangan.

Aku berhasil meraih map.

Di halaman depan tertulis nama pasien.

Hendra Kusuma.

Aku mengenal nama itu.

Semua orang Indonesia mengenalnya.

Seorang konglomerat berusia enam puluh dua tahun yang beberapa bulan terakhir diberitakan menjalani perawatan di Singapura.

Tetapi di bawah namanya terdapat hal yang lebih mengejutkan.

Usia penerima: 62 tahun.

Golongan darah: B.

Golongan darahku O.

Aku membaca lagi.

Itu tidak mungkin.

“Ini bukan hasil kecocokan denganku.”

Dokter Seno membeku.

Rendra merebut map dari tanganku.

Namun sudah terlambat.

Aku telah melihat nomor donor.

D-28.

Bukan namaku.

“Kalau ginjalku bukan untuk pasien itu, lalu ginjalku untuk siapa?”

Tidak ada yang menjawab.

Kemudian Nabila berkata pelan, “Mereka mengambil lebih dari satu organ.”

Aku merasa mual.

Aku menoleh pada pendingin organ lain yang tersusun di lemari kaca.

Ada tiga.

Aku baru menyadarinya.

Dokter Seno memaki pelan.

Rendra mendekat dan mencengkeram bahuku.

“Cukup.”

Aku berusaha melepaskan diri.

“Kalian mau mengambil apa dariku?”

“Rendra!” Nabila berteriak.

Rendra mendorongku ke ranjang kosong.

“Pegang dia.”

Dokter Seno mendekat membawa suntikan.

Aku menendang kakinya.

Suntikan terlepas dan jatuh.

Aku mencoba berlari menuju pintu, tetapi Rendra menangkap rambutku dari belakang. Sakitnya membuat mataku berair.

Ia menarikku kembali.

Pria yang selama setahun selalu membukakan pintu mobil untukku, menggenggam tanganku di rumah sakit, dan memeluk ibuku sambil memanggilnya Mama kini menyeretku di lantai seperti barang.

“Kenapa aku?” teriakku.

Rendra terengah-engah.

“Karena kamu sempurna.”

Kalimat itu membuatku berhenti melawan selama sesaat.

“Apa?”

“Darahmu. Pemeriksaanmu. Riwayat kesehatan keluargamu. Semua bagus.”

Mataku melebar.

Ia tidak bertemu denganku secara kebetulan saat Ibu dirawat.

Ia memilihku.

“Operasi Ibu…”

Rendra tidak menjawab.

Aku teringat bagaimana ia tiba-tiba muncul ketika administrasi rumah sakit mengatakan operasi Ibu harus segera dilakukan.

Rp380 juta.

Aku mengira itu kebaikan yang mengubah hidupku.

Ternyata itu investasi.

“Kamu mendekatiku karena organ tubuhku?”

“Awalnya.”

Satu kata itu terasa lebih kejam daripada pukulan.

“Lalu aku mengenalmu,” lanjutnya. “Aku benar-benar menyukaimu.”

“Jangan sebut itu cinta.”

“Aku bisa memberimu kehidupan yang tidak pernah kamu bayangkan.”

“Dengan satu ginjal?”

Rendra menatapku.

“Tidak hanya ginjal.”

Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.

Dokter Seno mengambil suntikan baru.

“Cukup bicara. Tim segera datang.”

Aku melihat ponselku terjatuh dari saku ketika Rendra menyeretku.

Layarnya menyala beberapa meter di belakangnya.

Panggilan tidak tersambung.

Tidak ada sinyal.

Harapanku runtuh.

Kemudian layar berubah.

Satu pesan keluar.

Pesan suara terkirim.

Kepada Mama.

Aku tidak tahu bagaimana.

Mungkin jariku menekan aplikasi percakapan sebelum masuk ke lorong dan tombol rekam tetap aktif beberapa menit.

Aku tidak berani melihat lagi.

Rendra belum menyadarinya.

“Intan,” katanya lebih lembut. “Aku akan membiusmu. Ketika bangun, semuanya selesai.”

“Dan kalau aku tidak bangun?”

Ia diam.

Itulah jawaban kedua malam itu.

Dokter Seno semakin dekat.

Tiba-tiba lampu berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu mati.

Ruangan tenggelam dalam gelap.

Terdengar suara benturan.

Nabila berteriak, “Sekarang!”

Seseorang menarik tanganku.

Aku mengira Rendra, tetapi suara Nabila terdengar tepat di telingaku.

“Ke kiri. Ada pintu servis.”

Aku meraba dinding.

“Bukankah kamu tidak bisa berdiri?”

“Aku pura-pura lebih lemah daripada yang sebenarnya.”

Di belakang kami terdengar Rendra memaki.

Lampu darurat merah menyala.

Aku melihat Nabila berdiri dengan tubuh gemetar, selang infus sudah tercabut dari tangannya.

Darah mengalir sedikit dari bekas jarum, tetapi ia terus berjalan.

Ia menekan sebuah panel kecil di balik lemari obat.

Pintu sempit terbuka.

Kami masuk.

Rendra melihat kami.

“Nabila!”

Ia mengejar.

Nabila menarik sebuah tuas di dinding.

Pintu servis menutup tepat sebelum Rendra sampai.

Bunyi pukulan terdengar dari sisi lain.

“Kamu tahu jalan keluarnya?”

“Aku menghabiskan empat tahun mempelajari tempat ini.”

Lorong itu sangat sempit.

Kami berjalan sambil berpegangan pada dinding.

“Kenapa kamu tidak kabur sebelumnya?”

“Karena pintu luar membutuhkan listrik cadangan yang hanya dimatikan saat sistem utama dibuka.”

“Siapa yang mematikan lampu?”

Nabila menatapku.

“Aku.”

Ia mengeluarkan benda kecil dari balik bajunya.

Sebuah modul elektronik.

“Aku mencurinya dari teknisi tiga bulan lalu.”

Aku hampir tertawa karena tidak percaya.

“Kenapa malam ini?”

“Karena aku tahu mereka akan membawa korban baru.”

Kami sampai di tangga besi.

Di atasnya terdapat pintu kecil.

Ketika dibuka, udara dingin Batu menghantam wajahku.

Kami keluar di belakang vila, dekat taman yang dipenuhi pepohonan.

“Mobil,” kataku.

“Jangan. Semua mobil punya pelacak.”

Kami berlari menuju jalan kebun.

Nabila hanya mampu beberapa puluh meter sebelum jatuh.

Aku menopangnya.

Dari vila terdengar suara alarm.

Lampu-lampu menyala.

“Mereka akan menemukan kita.”

Nabila meraih tanganku.

“Pergi.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Kamu tidak mengerti. Mereka tidak cuma bekerja untuk Rendra.”

Dari kejauhan terdengar suara kendaraan.

Aku berharap polisi.

Namun dua SUV hitam muncul dari tikungan.

Nabila pucat.

“Itu mereka.”

Aku menariknya ke balik semak.

SUV berhenti di depan vila.

Empat pria turun.

Salah satunya mengenakan jas dan membawa koper.

Aku mengenal wajahnya dari televisi.

Bukan Hendra Kusuma.

Melainkan wakil direktur salah satu rumah sakit terbesar milik Rendra.

Saat itulah aku menyadari bahwa jaringan ini jauh lebih besar daripada klinik rahasia di bawah vila.

Teleponku bergetar.

Mama.

Aku menjawab dengan suara berbisik.

“Ma?”

Suara ibuku terdengar panik.

“Intan, kamu di mana? Mama dengar rekamanmu. Mama sudah telepon polisi.”

Aku menutup mulut agar tidak menangis.

“Ma, kirim rekamannya ke siapa pun. Jangan cuma polisi. Kirim ke wartawan, pengacara, semua orang.”

“Intan…”

“Sekarang, Ma.”

Kami bergerak lagi.

Lima menit kemudian sirene terdengar.

Kali ini benar-benar sirene polisi.

SUV hitam mencoba meninggalkan vila, tetapi dua mobil patroli sudah menutup jalan.

Aku membawa Nabila keluar dari persembunyian sambil mengangkat kedua tangan.

“Di sini!”

Beberapa petugas berlari menuju kami.

Aku belum pernah merasa begitu lega melihat seragam polisi.

Penyelidikan yang dimulai malam itu berlangsung berbulan-bulan.

Klinik bawah tanah disegel.

Dokter Seno ditangkap bersama enam orang lainnya. Polisi menemukan dokumen transaksi, data donor ilegal, serta daftar pasien dengan kode yang sudah digunakan selama hampir sembilan tahun.

Rendra sempat menyangkal semuanya.

Ia mengatakan aku mengalami serangan panik setelah pesta pernikahan dan salah memahami fasilitas medis pribadinya.

Kebohongan itu bertahan dua hari.

Lalu rekaman suaraku tersebar.

Mama ternyata tidak hanya mengirimkannya kepada polisi.

Ia mengirimkannya kepada seorang jurnalis investigasi yang pernah menjadi pasienku.

Dalam rekaman itu terdengar jelas suara Rendra mengatakan bahwa ia memilihku karena darah dan riwayat kesehatanku.

Kasus itu meledak secara nasional.

Namun kejutan terbesar datang dari Nabila.

Ketika penyidik memeriksa identitasnya, mereka menemukan bahwa nama “Nabila” tidak pernah tercatat sebagai istri sah Rendra.

Nama aslinya adalah Maya Pradipta.

Ia seorang auditor internal rumah sakit yang menyamar empat tahun sebelumnya setelah mencurigai transaksi transplantasi ilegal.

Rendra memang pernah memiliki istri bernama Nabila.

Tetapi Nabila yang asli benar-benar meninggal.

Dalam kecelakaan mobil.

Maya sengaja menjalani operasi plastik ringan dan menggunakan identitas Nabila untuk mendekati Rendra serta mengumpulkan bukti.

Rencana itu gagal ketika Rendra mengetahui penyamarannya.

Sejak saat itu ia ditahan di bawah vila.

“Kenapa kamu tidak mengatakan siapa dirimu malam itu?” tanyaku ketika mengunjunginya di rumah sakit beberapa minggu kemudian.

Maya tersenyum.

“Karena aku tidak tahu apakah kamu bagian dari mereka.”

Aku terdiam.

Ia lalu mengeluarkan sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat foto lama.

Foto ibuku.

Di sebelahnya berdiri seorang perempuan muda.

Maya.

“Aku mengenal ibumu sebelum mengenalmu,” katanya.

Aku merasa tengkukku dingin.

“Tiga tahun lalu, ibumu pernah menjadi saksi transaksi mencurigakan di rumah sakit Rendra. Dia tidak punya bukti, jadi dia memilih diam.”

Aku menatap foto itu.

“Lalu kenapa Rendra membayar operasinya?”

Maya menatapku lama sebelum menjawab.

“Bukan Rendra yang membayar operasi ibumu.”

Aku tidak bernapas.

“Dana itu berasal dari rekening rahasia yang kubuat sebelum aku tertangkap. Aku meminta seseorang menggunakannya kalau suatu hari keluargamu membutuhkan bantuan.”

“Kenapa?”

Maya tersenyum tipis.

“Karena ibumu yang pertama kali mencoba menyelamatkanku.”

Semua yang selama setahun kukira sebagai awal kisah cintaku ternyata berakar pada sesuatu yang jauh lebih lama.

Rendra hanya mengambil kesempatan itu dan menjadikannya alat untuk mendekatiku.

Setahun setelah malam pernikahanku, pernikahan kami dibatalkan secara hukum.

Rendra dijatuhi hukuman panjang bersama sejumlah orang dalam jaringan tersebut. Beberapa dokter kehilangan izin praktik. Dua rumah sakit masuk penyelidikan khusus.

Maya menjalani transplantasi ginjal secara legal dari donor yang tidak pernah kukenal.

Aku kembali bekerja.

Tetapi aku tidak lagi sekadar menjadi ahli gizi klinis.

Aku bergabung dengan sebuah lembaga yang mendampingi pasien agar memahami hak mereka sebelum menjalani tindakan medis.

Kadang orang bertanya apakah aku masih percaya pada cinta setelah menikahi pria yang memilihku bukan karena hatiku, melainkan karena tubuhku.

Aku selalu memberikan jawaban yang sama.

Aku masih percaya.

Hanya saja sekarang aku mengerti bahwa cinta tidak pernah meminta seseorang menyerahkan tubuh, suara, atau kebebasannya sebagai bukti kesetiaan.

Beberapa bulan kemudian, aku mengunjungi Mama.

Di ruang tamu, ia masih menyimpan foto pernikahanku.

Aku hendak menurunkannya.

Mama mencegah.

“Biarkan.”

“Kenapa menyimpan foto hari terburuk dalam hidupku?”

Mama memandang gambar Rendra yang sedang tersenyum di sampingku.

“Supaya kamu ingat satu hal.”

“Apa?”

Ia membalik bingkai foto.

Di bagian belakang terdapat tulisan tangannya.

Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.

Jika seseorang menyelamatkan hidupmu, kamu tidak berutang hidupmu kepadanya.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu akhirnya aku memahami sesuatu yang tidak mampu kupahami pada malam pintu baja itu dikunci.

Rendra hampir mengambil satu bagian tubuhku.

Tetapi yang sebenarnya ia coba curi jauh lebih besar.

Hak untuk menentukan hidupku sendiri.

Dan justru pada malam pernikahanku, di ruang bawah tanah tempat ia mengira aku akan kehilangan semuanya, untuk pertama kalinya aku benar-benar mendapatkannya kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang