Aku baru membuka separuh gerbang utama ketika tutup saluran di trotoar melonjak seperti dipukul dari bawah.
Semua mundur teriakku.
Puluhan siswa yang sudah bergerombol di depan gerbang langsung berhenti. Beberapa mengeluh karena ojek dan angkot mereka sudah menunggu. Ada yang mengangkat ponsel, ada yang memanggil teman, sementara guru piket menatapku seolah aku baru saja membuat keputusan paling berlebihan sore itu.
Namaku Wahyu Prasetyo. Aku kepala keamanan SMA Cakrawala di Semarang. Sebelum bekerja di sekolah, delapan belas tahun aku menjadi teknisi pompa dan saluran banjir kota.
Aku mungkin tidak punya gelar teknik. Tapi aku hafal suara air yang terjebak di bawah tekanan.
Dan suara dari bawah jalan itu salah.

Dentuman pendek terdengar dari dalam pipa. Air cokelat menyembur melalui celah aspal, padahal hujan sudah berhenti sejak siang. Beberapa detik kemudian, sebuah retakan tipis muncul tepat di depan zebra cross sekolah.
Aku menarik gerbang sampai tertutup.
Klik.
Gembok besar kukunci.
Pak Wahyu saya harus pulang protes seorang siswa.
Masuk ke halaman belakang. Sekarang.
Wakil kepala sekolah bidang sarana, Rendi Kurniawan, berlari dari gedung administrasi.
Kenapa gerbang dikunci
Tanah di depan sekolah bergerak. Ada tekanan dari saluran bawah.
Dia melihat jalan sebentar, lalu mendecakkan lidah.
Cuma genangan. Buka gerbang. Orang tua sudah menunggu.
Tidak.
Wajahnya berubah.
Saya atasan Anda.
Kalau saya salah, saya siap menerima sanksi. Tapi gerbang tetap tertutup.
Aku meniup peluit kuningan peninggalan ayahku. Guru piket segera membawa siswa menjauh dari pagar depan.
Belum satu menit berlalu ketika suara panjang terdengar.
Krek.
Aspal di depan gerbang tiba tiba turun.
Sebuah angkot kosong yang sedang parkir miring, lalu bagian depannya jatuh ke lubang hampir tiga meter. Pagar beton sekolah retak dan roboh ke arah jalan.
Jeritan pecah dari halaman.
Aku sendiri tidak mampu bergerak selama beberapa detik.
Kalau gerbang tadi kubuka, puluhan anak sedang berdiri tepat di atas titik yang sekarang berubah menjadi lubang menganga.
Petugas kepolisian dan dinas terkait datang tidak lama kemudian. Jalan ditutup. Orang tua diarahkan menjemput anak melalui gerbang belakang.
Ketika petugas memeriksa lubang, aku melihat sesuatu yang membuat tengkukku dingin.
Saluran beton utama di bawah jalan ternyata ditutup oleh dinding cor yang tampak masih baru.
Air dari arah hulu menghantam sumbatan tersebut, tidak punya jalur keluar, lalu menekan tanah sampai akhirnya permukaan jalan runtuh.
Aku mengeluarkan ponsel dan memperbesar kamera.
Di dinding beton itu ada tulisan cat semprot merah.
LB-07.
Aku mengenali kode tersebut.
Tiga malam sebelumnya, sebuah truk proyek memasuki gerbang servis sekolah membawa tanda yang sama.
Pak Rendi mengatakan mereka hanya memperbaiki taman.
Aku segera menuju pos keamanan.
Buku jaga malam masih tersimpan di laci. Kubuka halaman tiga hari lalu.
Kolom izin vendor kosong.
Tidak ada nama perusahaan.
Tidak ada surat kerja.
Tidak ada nama penanggung jawab.
Aku memotret halaman tersebut.
Lalu kubuka rekaman CCTV.
Pukul 02.13 dini hari, truk itu muncul.
Pak Rendi berdiri sendiri di gerbang servis.
Dia menyerahkan sesuatu kepada seorang pekerja.
Aku memperbesar gambar.
Kunci akses bawah tanah.
Beberapa pekerja kemudian menurunkan peralatan dan mixer beton menuju pintu inspeksi saluran di belakang gedung olahraga.
Sebelum meninggalkan lokasi, Pak Rendi mendongak ke kamera.
Dia menunjuk lensa CCTV.
Beberapa detik kemudian layar menjadi hitam.
Rekaman hilang selama empat puluh tujuh menit.
Tanganku terasa dingin.
Aku menyalin rekaman itu ke flashdisk.
Saat hendak mencabutnya, pintu pos terbuka.
Pak Rendi berdiri di sana.
Sedang apa Anda
Aku menutup layar komputer.
Memeriksa rekaman kecelakaan.
Dia masuk dan menutup pintu.
Saya dengar Anda mengambil foto di lokasi.
Untuk laporan keamanan.
Hapus.
Aku menatapnya.
Kenapa
Karena itu bukan urusan Anda.
Untuk pertama kalinya selama enam tahun bekerja dengannya, aku melihat sesuatu yang berbeda di wajah Pak Rendi. Bukan kemarahan.
Ketakutan.
Dia mendekat.
Pak Wahyu, Anda punya keluarga, kan
Dadaku langsung mengeras.
Jangan bawa keluarga saya.
Saya cuma mengingatkan. Kadang orang kehilangan pekerjaan karena terlalu ingin tahu.
Aku memasukkan flashdisk ke saku.
Kadang orang kehilangan lebih banyak karena menganggap keselamatan anak anak bisa dibeli.
Aku meninggalkannya.
Malam itu aku tidak langsung pulang.
Aku menemui Sari, petugas administrasi sekolah yang mengurus dokumen pengadaan. Aku meminta daftar proyek perbaikan fasilitas tiga bulan terakhir.
Dia tampak ragu.
Pak Wahyu, kenapa
Ada pekerjaan saluran malam hari. Saya perlu tahu vendornya.
Wajah Sari berubah.
Saluran
Iya.
Dia menatap pintu, lalu membuka folder di komputernya.
Tidak ada proyek saluran.
Yang ada hanya renovasi taman belakang senilai dua ratus delapan puluh juta rupiah.
Vendornya
Lestari Bumi Konstruksi.
Jantungku berdetak lebih cepat.
LB.
Aku meminta dokumen kontraknya.
Sari mencetak beberapa lembar. Ketika membaca rincian pekerjaan, aku langsung tahu ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Penggantian tanah taman, pembuatan drainase dekoratif, dan pembangunan area duduk.
Namun nilai pembelian beton hampir tiga kali lipat dari kebutuhan normal.
Aku menunjuk tanda tangan persetujuan.
Ini tanda tangan siapa
Pak Rendi.
Siapa pemilik vendor
Sari menggeleng.
Tapi saya pernah mengirim dokumen pajak mereka. Tunggu.
Dia membuka arsip digital.
Nama direktur perusahaan muncul.
Dimas Kurniawan.
Aku terdiam.
Kurniawan.
Nama belakang yang sama dengan Pak Rendi.
Besok paginya aku menyerahkan salinan rekaman, foto, dan dokumen kepada kepala sekolah, Bu Ratna.
Beliau membaca semuanya tanpa bicara.
Setelah hampir sepuluh menit, ia melepas kacamatanya.
Saya akan panggil Pak Rendi.
Jangan dulu, Bu.
Kenapa
Kalau dia tahu bukti ini sudah ditemukan, dokumen lain bisa hilang.
Bu Ratna menatapku lama.
Apa yang Anda curigai
Saya belum tahu. Tapi orang tidak menutup saluran aktif dengan beton tanpa alasan.
Siang harinya, tim teknis pemerintah melakukan pemeriksaan lebih jauh.
Hasil awal membuat keadaan semakin aneh.
Dinding beton itu bukan sekadar kesalahan konstruksi.
Seseorang sengaja membuatnya.
Saluran lama diblokir agar aliran air dialihkan menuju saluran baru di sisi timur sekolah.
Masalahnya, saluran baru itu belum selesai.
Aku melihat peta drainase bersama salah satu teknisi.
Kalau air dialihkan ke sini, akhirnya ke mana
Teknisi itu menunjuk sebidang tanah kosong di belakang kompleks sekolah.
Ke kawasan ini.
Aku mengenal tempat itu.
Tanah tersebut baru dibeli pengembang untuk pembangunan pusat komersial.
Malamnya aku mencari nama perusahaan pengembang dari papan proyek.
PT Bumi Sentosa Properti.
Nama komisarisnya membuat napasku tertahan.
Dimas Kurniawan.
Saudara kandung Pak Rendi.
Sekarang semuanya mulai terlihat.
Proyek taman sekolah hanyalah kedok.
Dengan mengubah saluran bawah tanah, aliran air yang selama bertahun tahun melewati lahan calon pusat komersial akan dialihkan. Tanah itu kemudian bisa dinyatakan bebas dari jalur drainase utama dan nilainya meningkat drastis.
Mereka hanya perlu menutup jalur lama.
Tapi mereka melakukannya sebelum jalur baru benar benar siap.
Akibatnya tekanan air menumpuk tepat di depan sekolah.
Aku menghubungi Bu Ratna.
Namun sebelum telepon tersambung, terdengar suara pecahan kaca dari belakang rumahku.
Aku berlari ke ruang tengah.
Sebuah batu tergeletak di lantai bersama secarik kertas.
Berhenti sebelum ada yang benar benar terluka.
Istriku, Lilis, keluar dari kamar dengan wajah pucat.
Mas, ini soal sekolah
Aku tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, aku takut.
Bukan untuk diriku sendiri.
Aku membawa Lilis menginap di rumah kakaknya malam itu. Setelah memastikan dia aman, aku kembali ke sekolah karena teringat satu hal.
Server CCTV.
Kalau Pak Rendi sadar aku sudah menyalin rekaman, dia pasti mencoba menghapus semuanya.
Benar saja.
Sekitar pukul sebelas malam, sebuah mobil memasuki halaman sekolah.
Aku mengawasi dari ruang penjaga belakang.
Pak Rendi turun bersama dua pria.
Mereka menuju ruang server.
Aku menghubungi polisi yang sebelumnya menerima laporan kerusakan jalan, lalu mengikuti mereka dari kejauhan.
Dari balik pintu aku mendengar suara Pak Rendi.
Hapus semuanya dari tanggal itu.
Bagaimana kalau backup otomatisnya masih ada
Cari dan hapus.
Aku mengaktifkan perekam suara di ponsel.
Lalu salah satu pria berkata sesuatu yang membuatku terpaku.
Kalau Wahyu sudah lihat rekamannya bagaimana
Pak Rendi menjawab pelan.
Dia cuma satpam.
Besok saya pecat. Setelah itu tidak ada yang akan percaya omongannya.
Aku mendorong pintu.
Mereka bertiga menoleh.
Saya percaya.
Pak Rendi pucat.
Anda gila datang ke sini
Mungkin.
Aku mengangkat ponsel.
Tapi polisi sebentar lagi sampai.
Salah satu pria bergerak ke arahku.
Jangan.
Suara lain muncul dari lorong.
Bu Ratna berdiri di sana bersama dua petugas kepolisian.
Wajah Pak Rendi seketika kehilangan warna.
Pemeriksaan berlangsung berbulan bulan.
Pak Rendi akhirnya diberhentikan. Penyidik menemukan hubungan antara proyek sekolah, perusahaan vendor, dan pengembang milik adiknya. Dokumen keuangan menunjukkan adanya penggelembungan biaya proyek serta pembayaran yang dialirkan ke beberapa rekening.
Tetapi ada satu hal yang baru kuketahui jauh setelah kasus itu masuk pengadilan.
Pak Rendi ternyata bukan orang yang pertama merencanakan pengalihan saluran.
Ide awalnya berasal dari konsultan proyek pengembang.
Pak Rendi hanya orang dalam yang mereka butuhkan untuk mendapatkan akses ke saluran sekolah.
Namun keserakahannya membuat rencana itu jauh lebih berbahaya. Demi mengejar tenggat izin pembangunan, ia memerintahkan kontraktor menutup saluran lama sebelum jalur baru selesai.
Satu keputusan itu hampir merenggut puluhan nyawa.
Enam bulan kemudian, gerbang utama SMA Cakrawala dibuka kembali setelah seluruh sistem drainase diperbaiki.
Aku berdiri di tempat yang sama pada sore pertama gerbang digunakan.
Siswa siswa keluar sambil bercanda. Ojek berjejer. Angkot berhenti sebentar lalu berjalan lagi.
Seorang siswa kelas dua belas menghampiriku.
Pak Wahyu.
Aku menoleh.
Namanya Arga. Dia termasuk siswa yang hari itu berdiri paling depan dan sempat marah karena gerbang kukunci.
Ada apa
Dia tersenyum canggung.
Saya mau minta maaf.
Untuk apa
Waktu itu saya ngomel karena Bapak enggak buka gerbang.
Aku tersenyum.
Sudah lupa.
Tapi saya belum.
Dia menatap jalan yang sekarang sudah diperbaiki.
Kalau waktu itu Bapak nurut sama Pak Rendi mungkin saya yang jatuh ke lubang itu.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Arga kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah kotak kecil.
Teman teman seangkatan patungan.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada peluit kuningan baru dengan ukiran kecil.
Untuk Pak Wahyu, orang yang berani berkata tidak.
Dadaku terasa sesak.
Aku menggenggam peluit lama peninggalan ayahku yang masih tergantung di leher.
Dulu ayahku pernah mengatakan sesuatu ketika pertama kali mengajariku bekerja di saluran air.
Air selalu mencari jalan.
Kebenaran juga begitu.
Kita boleh menutupnya dengan beton, jabatan, uang, atau ancaman.
Tapi tekanan akan terus bertambah sampai akhirnya sesuatu retak.
Aku baru benar benar memahami perkataannya sore itu.
Namun sebelum Arga pergi, dia berhenti dan menoleh.
Oh iya, Pak. Ada satu hal lagi.
Apa
Yang kasih tahu kami untuk bikin tulisan di peluit itu Bu Ratna.
Aku tertawa kecil.
Arga lalu berlari menyusul teman temannya.
Aku memandang gedung sekolah.
Di lantai dua, Bu Ratna berdiri di balik jendela ruang kepala sekolah.
Dia mengangguk kepadaku.
Aku hendak membalas ketika tiba tiba teringat rekaman CCTV malam kejadian.
Ada sesuatu yang selama ini menggangguku.
Mengapa kamera kembali menyala setelah empat puluh tujuh menit jika para pekerja sengaja mematikannya
Aku membuka arsip rekaman lama sekali lagi malam itu.
Kali ini aku memperhatikan menit pertama setelah kamera kembali aktif.
Pukul 03.01.
Seseorang terlihat keluar dari ruang server.
Bukan Pak Rendi.
Bukan pekerja proyek.
Bu Ratna.
Aku membeku.
Keesokan paginya aku membawa rekaman itu ke ruangannya.
Bu Ratna tidak terlihat terkejut.
Ibu ada di sekolah malam itu.
Iya.
Ibu tahu tentang pekerjaan mereka
Saya curiga sejak dua minggu sebelumnya.
Lalu kenapa tidak menghentikannya
Dia menarik napas panjang.
Karena saya tidak punya bukti. Pak Rendi mengendalikan seluruh dokumen sarana. Kalau saya menuduh tanpa bukti, dia bisa mengatakan saya menghambat proyek resmi.
Lalu malam itu
Saya melihat truk masuk dari kamera yang terhubung ke ponsel saya. Saya datang diam diam. Ketika tahu CCTV dimatikan, saya masuk ke server dan menyalakannya kembali.
Aku menatapnya.
Kenapa Ibu tidak pernah bilang
Karena setelah jalan ambles, saya ingin tahu siapa yang masih bisa dipercaya.
Kalimat itu membuat ruangan terasa sunyi.
Bu Ratna membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada surat.
Surat pengunduran dirinya.
Saya akan menyerahkannya akhir semester.
Kenapa
Karena saya juga melakukan kesalahan, Pak Wahyu. Saya curiga ada sesuatu yang berbahaya, tapi terlalu lama menunggu bukti. Kalau hari itu Anda tidak mengunci gerbang, keterlambatan saya mungkin dibayar dengan nyawa anak anak.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Saat itulah aku memahami bahwa keberanian tidak selalu berarti mengetahui seluruh kebenaran.
Kadang keberanian hanya berarti mengambil keputusan ketika semua orang menyuruh kita melakukan sebaliknya.
Aku keluar dari ruang kepala sekolah dan kembali ke gerbang.
Bel pulang berbunyi.
Ratusan siswa mulai berjalan ke arahku.
Tanganku menyentuh peluit kuningan di dada.
Enam bulan lalu aku mengunci gerbang karena mendengar suara yang salah dari bawah tanah.
Hari itu aku membukanya sambil menyadari sesuatu yang jauh lebih penting.
Bencana terbesar sering kali tidak dimulai ketika tanah runtuh.
Ia dimulai jauh sebelumnya, ketika seseorang melihat tanda pertama, mengetahui ada yang tidak beres, tetapi memilih diam karena orang yang menyuruhnya diam memiliki jabatan lebih tinggi.
Aku membuka kedua daun gerbang lebar lebar.
Anak anak keluar menuju jalan yang telah diperbaiki.
Dan untuk pertama kalinya, suara langkah mereka di atas aspal terdengar seperti suara paling indah yang pernah kudengar.
