SUAMIKU MENINGGALKANKU DENGAN BAYI KEMBAR DEMI “MENENANGKAN PIKIRAN”, LALU AKU MENEMUKAN BERKAS BANK DENGAN TANDA TANGANKU DAN SATU DIAGNOSIS MISTERIUS.

Malam ketika aku menemukan surat yang menyebutku tidak cakap mengelola harta karena gangguan emosional pascamelahirkan, Nara dan Nino justru tidur lebih nyenyak daripada biasanya.

Aku tidak.

Aku duduk di lantai ruang kerja sampai hampir pukul tiga pagi, menatap layar laptop Bima dengan tangan dingin.

Di bagian bawah draft itu ada nama seorang dokter.

dr. Rendra Mahardika, Sp.KJ.

Di bawahnya tertulis sebuah klinik swasta di Surabaya.

Yang membuat napasku tercekat bukan nama kliniknya.

Melainkan tanggal pemeriksaan.

Dua minggu setelah aku melahirkan.

Aku tidak pernah bertemu dokter itu.

Aku bahkan hampir tidak pernah keluar rumah selama dua minggu pertama karena luka operasi masih sakit.

Namun dalam dokumen tersebut tertulis bahwa aku mengalami episode depresi berat, ketidakstabilan emosi, kecenderungan mengambil keputusan impulsif, dan membutuhkan pendamping dalam pengelolaan aset.

Aku membaca kalimat terakhir berkali-kali.

Pasien disarankan tidak mengambil keputusan finansial bernilai besar tanpa persetujuan keluarga terdekat.

Keluarga terdekat.

Bima.

Aku langsung memotret semua dokumen, mengirimkannya kepada kakakku, Dimas, lalu menyimpan salinannya di penyimpanan daring.

Pukul tujuh pagi aku menelepon klinik.

Petugas administrasi terdengar ragu ketika aku menyebutkan nomor dokumen.

“Sebentar, Bu.”

Aku menunggu sambil menyusui Nino.

Beberapa menit kemudian ia kembali.

“Nama Ibu memang ada di sistem.”

Jantungku seperti jatuh.

“Siapa yang mendaftarkan?”

“Maaf, informasi itu tidak bisa kami berikan melalui telepon.”

“Apakah saya pernah datang ke sana?”

Hening.

“Lebih baik Ibu datang langsung membawa KTP.”

Siang itu ibu menjaga bayi sementara aku pergi bersama Dimas.

Begitu tiba, seorang manajer klinik membawa kami ke ruangan kecil. Wajahnya berubah ketika melihat KTP-ku.

“Bu Siska, kami harus memeriksa ini secara internal.”

Aku meletakkan salinan diagnosis di meja.

“Saya tidak pernah diperiksa di sini.”

Ia menelan ludah.

“Dokumen ini bukan format final yang biasa kami keluarkan.”

“Jadi palsu?”

“Kopnya benar. Nomor registrasinya juga ada. Tapi tanda tangan dokter belum terverifikasi.”

Aku merasa mual.

Setelah hampir satu jam, dr. Rendra datang.

Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu membaca dokumen tersebut, lalu langsung menggeleng.

“Saya tidak pernah menulis ini.”

“Nama saya ada di sistem Dok.”

Ia membuka komputer.

Lalu wajahnya berubah.

“Ada pendaftaran konsultasi daring atas nama Ibu.”

“Siapa yang ikut konsultasi?”

Ia memandangku lama.

“Seorang laki-laki.”

Ruangan terasa sunyi.

“Dia mengaku suami Ibu. Katanya Ibu baru melahirkan, sulit diajak bicara, sering menangis, paranoid soal uang, dan menolak menemui dokter.”

Aku mengepalkan tangan.

“Dokter mendiagnosis saya hanya berdasarkan cerita dia?”

“Tidak. Saya justru menolak memberikan diagnosis karena pasien tidak hadir. Saya hanya menyarankan agar Ibu diperiksa langsung.”

“Lalu dokumen ini?”

“Bukan dari saya.”

Dimas yang sejak tadi diam akhirnya bertanya, “Apakah catatan konsultasinya masih ada?”

Dokter mengangguk.

“Ada.”

Aku meminta semuanya diamankan.

Hari itu juga aku menemui pengacara keluarga yang dulu membantu mengurus warisan ayahku.

Namanya Bu Ratih.

Setelah mendengar ceritaku, ia hanya bertanya satu hal.

“Apakah Bima tahu bahwa sertifikat rumah tidak bisa dijadikan jaminan tanpa persetujuanmu?”

“Tahu.”

“Berarti pemalsuan tanda tangan itu bukan tindakan spontan.”

Ia membuka dokumen satu per satu.

“Ini direncanakan.”

Aku ingin menyangkalnya.

Bagaimanapun, Bima adalah lelaki yang menemaniku selama tujuh tahun.

Lelaki yang dulu menunggu di depan ruang operasi ketika aku melahirkan.

Lelaki yang menangis saat mendengar tangisan pertama Nara.

Setidaknya, itulah yang kuingat.

Namun semakin banyak berkas yang kubuka, semakin terasa bahwa pria yang kukenal mungkin sudah lama hilang.

Bu Ratih menemukan sesuatu pada formulir kredit.

Dana Rp850 juta itu bukan untuk usaha.

Tujuannya tertulis sebagai restrukturisasi kewajiban pribadi.

“Kewajiban apa?” tanyaku.

Kami memeriksa mutasi rekening.

Ternyata selama hampir setahun, Bima rutin mentransfer uang ke beberapa rekening yang tidak kukenal.

Jumlahnya kecil pada awalnya.

Lima juta.

Delapan juta.

Lalu dua puluh juta.

Totalnya lebih dari Rp300 juta.

Aku menelepon salah satu nomor yang tercantum di bukti transfer.

Seorang pria menjawab.

“Pak Bima?”

“Bukan. Saya istrinya.”

Hening cukup lama.

Kemudian ia berkata, “Bu, sebaiknya bicara langsung dengan suami Ibu.”

“Ini soal utang?”

Ia menghela napas.

“Pak Bima ikut investasi properti vila di Bali. Proyeknya bermasalah. Dia punya kewajiban cukup besar.”

Sekarang semuanya masuk akal.

Retreat.

Bali.

Kredit.

Rumah.

Aku menutup telepon sambil gemetar.

Bima bukan pergi untuk menenangkan pikiran.

Ia pergi untuk menyelamatkan dirinya.

Hari kesepuluh, Bima akhirnya menelepon.

Aku membiarkannya berdering dua kali sebelum mengangkat.

“Kamu ngapain blokir rekening?”

Tidak ada salam.

Tidak ada pertanyaan tentang bayi.

Aku memandang Nara yang sedang tertidur di pelukan ibu.

“Aku sedang melindungi uangku.”

“Itu rekening kita.”

“Rumah itu juga rumahku. Kenapa tanda tanganku ada di pengajuan kredit?”

Hening.

Hanya dua detik.

Namun dua detik itu cukup.

“Siska, kamu habis melahirkan. Jangan bikin kesimpulan macam-macam.”

Aku hampir tertawa.

Kalimatnya persis seperti dokumen palsu itu.

“Aku sudah bicara dengan bank.”

“Siska.”

“Aku juga sudah bicara dengan dr. Rendra.”

Suara Bima berubah.

“Kamu ke klinik?”

“Ya.”

Ia tidak menjawab.

“Pulanglah, Bim.”

“Buat apa?”

“Supaya kita bicara langsung.”

“Aku masih butuh waktu.”

Aku menatap layar laptop di depanku.

Di sana ada seluruh bukti yang sudah kususun berdasarkan tanggal.

“Aku rasa waktumu sudah habis.”

Aku menutup telepon.

Dua hari kemudian Bima pulang.

Bukan karena rindu.

Bank memberitahunya pengajuan kredit dibatalkan.

Ketika mobilnya berhenti di depan rumah, aku sudah melihat dari kamera.

Ia masuk dengan wajah marah.

“Kamu ganti kode pintu?”

“Aku yang punya rumah.”

Bima menatap ibu dan Dimas yang duduk di ruang tamu.

“Kita perlu bicara berdua.”

“Tidak.”

“Siska, jangan dramatis.”

Aku hampir tidak mengenali lelaki di depanku.

Wajahnya masih sama, tetapi cara ia memandangku berbeda.

Seolah aku bukan istrinya.

Aku adalah masalah yang gagal ia kendalikan.

Aku meletakkan salinan pengajuan kredit di meja.

“Kamu memalsukan tanda tanganku.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Kamu membuat catatan medis palsu.”

“Itu bukan begitu.”

“Kamu berencana mengosongkan rumah setelah kredit cair.”

Wajahnya memucat.

“Dari mana kamu dapat itu?”

“Laptopmu.”

Ia bergerak hendak mengambil laptop yang berada di meja.

Dimas langsung berdiri.

“Jangan.”

Bima berhenti.

Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di wajahnya.

Bukan rasa bersalah.

Ketakutan.

“Aku terdesak,” katanya akhirnya.

Aku menunggu.

“Investasi di Bali gagal. Aku pinjam uang dari beberapa orang. Bunganya jalan terus.”

“Jadi kamu mau menjaminkan rumah anak-anakmu?”

“Aku mau menyelamatkan keluarga kita.”

“Keluarga mana?”

Ia terdiam.

Aku menatap koper yang masih ada di dekat pintu.

“Karena selama enam minggu terakhir, keluarga ini cuma terdiri dari aku, dua bayi, dan orang-orang yang datang membantuku saat kamu pergi.”

Bima mengusap wajah.

“Aku tahu aku salah.”

“Kenapa perlu diagnosis palsu?”

Pertanyaan itu membuatnya diam.

Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.

“Karena kalau kamu menolak tanda tangan, pengacara investorku bilang ada cara lain.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Cara lain?”

“Mereka bilang kalau ada bukti kamu tidak stabil setelah melahirkan, bisa diajukan pendampingan pengelolaan aset.”

Bu Ratih yang sejak tadi duduk di ruang makan akhirnya muncul.

Bima membeku.

“Kebetulan saya ingin mendengar bagian itu langsung,” katanya.

Wajah Bima kehilangan warna.

Ternyata Bu Ratih sengaja datang lebih awal dan menunggu.

Ia meletakkan ponselnya di meja.

Percakapan kami direkam dengan sepengetahuanku untuk dokumentasi hukum.

Bima langsung marah.

“Kalian menjebak saya?”

Aku menatapnya.

“Tidak. Kamu datang ke rumahku dan menjelaskan sendiri apa yang kamu lakukan.”

Bima berteriak.

Nino terbangun dan menangis.

Refleks aku berbalik.

Namun sebelum aku sempat bergerak, Bima berkata, “Lihat? Kamu bahkan nggak bisa berpikir jernih kalau anak-anak menangis!”

Aku berhenti.

Kalimat itu menghantam sesuatu dalam diriku.

Bukan karena menyakitkan.

Karena akhirnya aku memahami pola yang selama ini tidak kulihat.

Setiap kali aku lelah, Bima menyebutku emosional.

Setiap kali aku mempertanyakan pengeluaran, ia menyebutku terlalu curiga.

Setiap kali aku meminta bantuan, ia mengatakan aku tidak mampu mengatur waktu.

Semua kelemahanku setelah melahirkan sedang dikumpulkan menjadi narasi.

Bukan untuk menolongku.

Untuk membuatku meragukan diriku sendiri.

Aku menggendong Nino.

Tangisnya perlahan berhenti.

“Keluar dari rumahku, Bim.”

Ia menatapku tak percaya.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Aku ayah mereka.”

“Dan kamu tetap bisa bertanggung jawab sebagai ayah melalui proses yang benar. Tapi malam ini kamu tidak tinggal di sini.”

Ia mengambil koper sambil mengumpat.

Sebelum keluar, ia menoleh.

“Kamu bakal menyesal.”

Aku tidak menjawab.

Tiga minggu kemudian, proses hukum dimulai.

Bank menyerahkan dokumen pemalsuan untuk pemeriksaan. Klinik memberikan catatan bahwa tidak pernah ada diagnosis resmi terhadapku. Notaris memastikan tidak ada kuasa pemanfaatan aset yang pernah kuberikan kepada Bima.

Namun kejutan terbesar datang dari pemeriksaan keuangan.

Investasi vila yang diceritakan Bima ternyata hanya sebagian masalah.

Ada sebuah perusahaan atas namanya.

Dan salah satu pemegang sahamnya adalah agen properti yang berbicara dengannya tentang rumahku.

Mereka bukan sekadar ingin menutup utang.

Mereka berencana menggunakan kredit rumahku sebagai modal untuk proyek baru.

Dengan kata lain, Bima mempertaruhkan satu-satunya aset besar milik anak-anaknya untuk menutupi kegagalan bisnisnya sekaligus mencoba berjudi sekali lagi.

Ketika bukti itu ditemukan, aku berhenti merasa marah.

Yang tersisa hanya kejelasan.

Aku mengajukan gugatan cerai.

Bima beberapa kali meminta bertemu.

Aku menolak sampai akhirnya kami bertemu di kantor mediator.

Ia terlihat jauh lebih kurus.

“Aku kehilangan semuanya, Sis.”

Aku memandangnya.

Dulu kalimat itu mungkin membuatku memegang tangannya.

Sekarang aku hanya bertanya, “Semuanya itu apa?”

“Bisnis. Teman-teman. Reputasi.”

Aku menunggu.

Ia tidak menyebut Nara.

Tidak menyebut Nino.

Tidak menyebut aku.

Saat itulah aku tahu keputusanku benar.

Enam bulan kemudian, rumah itu masih berdiri.

Sertifikatnya aman.

Nara dan Nino sudah mulai belajar duduk.

Aku kembali bekerja dari rumah beberapa jam sehari. Ibu tidak lagi tinggal bersamaku, tetapi datang hampir setiap sore membawa makanan yang selalu terlalu banyak.

Suatu pagi, sebuah amplop tiba dari bank.

Aku sempat takut membukanya.

Namun isinya bukan tagihan.

Bank memberitahukan bahwa pemeriksaan internal terhadap pengajuan kredit Bima telah selesai. Seorang pegawai terbukti meloloskan dokumen tanpa prosedur verifikasi yang semestinya.

Di halaman terakhir terdapat salinan formulir pertama yang pernah diajukan.

Aku hampir melewatkan satu detail kecil.

Tanggalnya.

Pengajuan awal ternyata dibuat sebelas hari sebelum aku melahirkan.

Aku membaca tanggal itu berulang kali.

Artinya Bima sudah merencanakan semuanya bahkan sebelum Nara dan Nino lahir.

Tanganku gemetar, tetapi kali ini aku tidak menangis.

Aku berjalan ke kamar.

Dua anakku sedang tidur berdampingan.

Untuk waktu yang lama aku pernah percaya bahwa malam ketika Bima membawa koper ke Bali adalah hari keluargaku hancur.

Ternyata aku salah.

Keluargaku tidak hancur malam itu.

Yang hancur hanyalah kebohongan yang selama ini kusebut keluarga.

Aku duduk di antara kedua boks dan menyentuh tangan kecil Nara.

Nino bergerak dalam tidurnya, lalu jemarinya menggenggam telunjukku.

Enam bulan sebelumnya, aku adalah perempuan dengan luka operasi yang bahkan kesulitan berdiri sambil menggendong bayi.

Bima mengira kelelahan membuatku lemah.

Ia mengira tangisanku bisa dijadikan bukti bahwa aku tidak waras.

Ia mengira menjadi ibu baru berarti aku terlalu rapuh untuk melawan.

Padahal justru karena menjadi ibu, untuk pertama kalinya aku memahami bahwa bertahan tidak selalu berarti mempertahankan pernikahan.

Kadang bertahan berarti berani mengakhiri sesuatu sebelum sesuatu itu menghancurkanmu.

Aku mencium dahi kedua anakku.

Di luar, matahari pagi masuk melalui jendela rumah yang hampir dirampas dariku.

Rumah itu tidak lagi terasa seperti peninggalan ayahku.

Tidak juga seperti rumah pernikahanku dengan Bima.

Rumah itu akhirnya terasa seperti milikku.

Dan untuk pertama kalinya sejak kedua anakku lahir, aku bisa bernapas tanpa meminta izin kepada siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang