AKU MEMAKI PETUGAS BANK DARAH KARENA TERLAMBAT MEMBAWA DARAH UNTUK ANAKKU, SAMPAI AKU MELIHAT PERBAN BASAH DI LENGANNYA DAN SEBUAH KODE ANEH.

Pintu ruang operasi baru saja tertutup ketika aku menghantam meja bank darah dengan telapak tangan.

“Mana darah untuk anak saya?”

Perawat Sari menelan ludah. “Bu Laras, dua kantong masih menunggu verifikasi petugas.”

“Menunggu apa? Dito kehilangan darah di dalam perut!”

Anakku yang baru berusia delapan tahun sedang terbaring di meja operasi setelah mobil yang ditumpanginya ditabrak truk di Jalan Kaligawe, Semarang. Dokter mengatakan limpanya pecah. Operasi harus dilakukan saat itu juga, tetapi golongan darah Dito AB negatif, sangat langka, dan dokter tak mau mengambil risiko tanpa persediaan darah yang cukup.

Suamiku, Bima, berdiri di belakangku sambil menelepon seseorang.

“Aku sudah bayar deposit empat puluh juta,” katanya keras. “Jangan sampai rumah sakit ini main-main.”

Lima belas menit berlalu.

Lalu tiga puluh.

Seorang manajer bernama Hendra hanya mengatakan petugas bank darah belum datang dari luar dan memintaku bersabar.

Aku hampir berteriak mendengarnya.

Kemudian seorang pria berseragam laboratorium muncul dari ujung lorong. Namanya Raka. Kemejanya kusut, napasnya berat, wajahnya pucat, dan ada perban putih di lipatan siku kirinya.

Aku langsung menghadangnya.

“Kamu petugas bank darah?”

Raka mengangguk.

“Anak saya hampir mati karena kamu terlambat!”

“Bu, saya sebenarnya…”

“Jangan cari alasan!”

Bima ikut maju. “Kalau sampai anak saya kenapa-kenapa, saya tuntut kamu.”

Raka tidak membalas. Ia hanya memeluk kotak pendingin kecil di dadanya.

“Darahnya harus segera masuk sekarang,” katanya.

Tangannya gemetar saat menyerahkan kotak itu kepada Perawat Sari.

Aku sempat memotret label pada kantong darah sebelum dibawa masuk. Ada kode donor, waktu pengambilan, dan nama pendonor.

Beberapa menit kemudian, adikku yang bekerja di sebuah klinik membalas pesan yang kukirimkan.

Darah itu baru diambil empat puluh dua menit lalu.

Aku menatap perban di lengan Raka.

“Ini darah siapa?”

Raka menunduk.

Saat itulah layar komputer bank darah di belakang Perawat Sari menyala.

STOK AB NEGATIF: 3 UNIT.

Namun tepat di bawahnya terdapat tulisan merah.

STOK FISIK TERSEDIA: 0.

Aku mendekat.

“Kalau stok fisiknya nol, kenapa sejak tadi sistem mengatakan ada tiga?”

Perawat Sari mulai menangis.

Raka akhirnya mengeluarkan kartu donor dari sakunya.

Nama pada kartu itu sama persis dengan nama yang tercetak pada kantong darah.

Raka Pradana.

Dan di bawah kode donor tertulis:

DONASI DARURAT ATAS PERMINTAAN SENDIRI.

Untuk beberapa detik aku tak mampu berkata apa-apa.

Kemarahanku yang sejak tadi meledak seperti kehilangan tempat untuk berpijak.

“Kamu… mendonorkan darah untuk Dito?”

Raka mengangguk pelan.

“Dua kantong yang masuk tadi salah satunya dari saya. Satu lagi dari donor yang saya jemput dari Ungaran.”

Aku memandangnya tak percaya.

“Kalau begitu kenapa kamu tidak bilang dari awal?”

Raka tersenyum tipis, tetapi wajahnya semakin pucat.

“Karena yang penting darahnya masuk dulu, Bu.”

Tubuhnya tiba-tiba limbung.

Perawat Sari berteriak ketika Raka hampir jatuh. Seorang petugas keamanan membantu mendudukkannya di kursi.

Aku melihat perban di lengannya. Noda merah semakin lebar.

“Kenapa perbannya seperti itu?”

“Dia seharusnya tidak boleh donor hari ini,” kata Perawat Sari sambil menangis.

Raka menoleh tajam kepadanya.

“Mbak Sari…”

“Cukup, Mas.”

Perawat Sari menatapku.

“Tiga hari lalu Mas Raka juga donor darah.”

Aku tercekat.

“Untuk siapa?”

Sari tidak langsung menjawab.

Raka memejamkan mata.

“Untuk pasien lain.”

“Kamu donor lagi setelah tiga hari?”

“Bukan satu kantong penuh,” katanya lemah. “Dokter donor sudah melarang. Saya tahu risikonya.”

“Kalau tahu, kenapa dilakukan?”

Raka membuka mata dan menatap pintu ruang operasi.

“Karena anak Ibu tidak punya waktu.”

Jawaban itu membuat tenggorokanku terasa sesak.

Namun Bima justru mendengus.

“Jangan dramatis. Ini rumah sakit besar. Seharusnya ada stok.”

Raka perlahan menoleh kepadanya.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah.

Bukan takut.

Bukan malu.

Melainkan marah.

“Memang seharusnya ada.”

Lorong mendadak sunyi.

Aku menatap layar komputer lagi.

Tiga unit tercatat.

Nol tersedia secara fisik.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

Raka tak menjawab.

Bima segera menyela. “Sudahlah. Yang penting Dito selamat.”

Aneh.

Sejak tadi Bima paling keras memaki rumah sakit, tetapi sekarang dia justru ingin menghentikan pembicaraan.

Aku mengenal suamiku hampir sebelas tahun.

Dan aku tahu persis ekspresi itu.

Bima sedang ketakutan.

Bukan takut kehilangan Dito.

Takut sesuatu terbongkar.

Aku menatap Raka.

“Tiga kantong darah itu ke mana?”

Raka melihat Bima.

Gerakannya sangat kecil.

Namun cukup.

Aku berbalik.

“Bima?”

“Kenapa lihat aku?”

“Kamu tahu sesuatu?”

“Jangan gila, Laras.”

Aku mengambil ponsel.

“Aku telepon polisi.”

Bima langsung meraih tanganku.

“Jangan bikin keributan di rumah sakit!”

Aku menarik tanganku.

“Kenapa kamu takut?”

“Aku tidak takut!”

Suara Bima terlalu keras.

Beberapa orang di lorong mulai melihat ke arah kami.

Raka akhirnya berdiri meski tubuhnya masih lemah.

“Bu Laras, saya akan jelaskan.”

Sebelum ia melanjutkan, pintu lift terbuka.

Hendra, manajer yang tadi meneleponku, keluar bersama dua staf administrasi.

Begitu melihat Raka berdiri di depan komputer, wajahnya berubah.

“Raka, kamu ngapain di sini?”

“Menyelamatkan pasien.”

“Bukan itu tugasmu.”

“Kalau saya tidak pergi mencari donor, anak itu mungkin sudah kehabisan darah.”

Hendra mendekat lalu berbisik, “Kamu mau kehilangan pekerjaan?”

Aku berdiri di antara mereka.

“Saya justru ingin tahu kenapa sistem mengatakan ada tiga kantong darah sementara lemari kosong.”

Hendra membeku.

“Itu mungkin kesalahan pencatatan.”

“Kesalahan pencatatan tiga kantong?”

“Kami akan audit.”

“Sekarang.”

“Bu Laras, prosedurnya bukan begitu.”

Aku menunjukkan foto label kantong di ponselku.

“Saya punya bukti waktu pengambilan. Kalau perlu saya kirim semuanya ke polisi.”

Hendra menatap Bima.

Lagi-lagi.

Tatapan yang hanya berlangsung satu detik.

Namun aku melihatnya.

Dan dunia di sekelilingku seolah menjadi sangat pelan.

“Kenapa kamu lihat suami saya?”

Tak ada jawaban.

Aku menatap Bima.

Wajahnya pucat.

“Bima.”

“Laras…”

“Apa yang kamu lakukan?”

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

Raka tiba-tiba berkata, “Pak Bima datang ke sini dua minggu lalu.”

Aku merasa lantai bergerak di bawah kakiku.

“Untuk apa?”

Bima membentak, “Diam!”

Tetapi Raka tidak berhenti.

“Dia bertemu Pak Hendra.”

Hendra maju. “Raka, cukup!”

“Saya lihat sendiri.”

“Apa yang mereka lakukan?”

Raka menarik napas panjang.

“Memindahkan stok darah langka dari penyimpanan rumah sakit.”

Kepalaku berdenging.

“Tiga kantong?”

Raka mengangguk.

Aku menatap Bima.

“Untuk siapa?”

Bima diam.

Aku mencengkeram kerah bajunya.

“Untuk siapa darah anak kita diberikan?”

“Bukan darah Dito!”

“AB negatif itu disimpan untuk keadaan darurat rumah sakit!”

“Laras, dengar dulu.”

“Untuk siapa?”

Akhirnya Bima berteriak.

“Untuk Pak Surya!”

Nama itu kukenal.

Surya Wijaya adalah pemilik perusahaan logistik tempat Bima bekerja sebagai direktur operasional.

Pria yang selama bertahun-tahun disebut Bima sebagai orang yang “mengubah hidup kami.”

Dua minggu sebelumnya Surya memang menjalani operasi jantung di rumah sakit swasta Jakarta.

Aku melepaskan kerah Bima.

“Kamu mengambil darah dari rumah sakit ini untuk bosmu?”

“Dia membutuhkan darah langka.”

“Dan bagaimana kalau pasien di sini membutuhkan?”

Bima mengusap wajah.

“Aku sudah minta stok pengganti dikirim.”

“Kapan?”

Ia terdiam.

“Kapan, Bima?”

“Seharusnya kemarin.”

Aku hampir tertawa.

Namun tak ada sedikit pun yang lucu.

“Jadi anak kita hampir mati karena kamu?”

“Tidak sesederhana itu!”

“Sesederhana itu!”

Suara tangisku pecah.

“Dito berada di ruang operasi sementara darah yang seharusnya ada di sini kamu berikan kepada orang lain demi jabatanmu!”

“Aku melakukan itu demi keluarga kita!”

“Jangan bawa keluarga dalam kebusukanmu!”

Bima menatapku dengan mata merah.

“Pak Surya berjanji memberikan saham perusahaan. Kalau operasi dia berhasil, hidup Dito juga akan terjamin!”

Aku menatap pria yang selama sebelas tahun kupanggil suami.

Saat itu aku baru menyadari bahwa ada orang yang begitu sibuk mempersiapkan masa depan anaknya sampai tega mempertaruhkan hidup anak itu sendiri.

Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka.

Seorang dokter keluar.

Semua suara berhenti.

Aku berlari.

“Dok, anak saya?”

Dokter melepas masker.

“Operasinya berhasil.”

Kakiku langsung lemas.

Aku menutup mulut dan menangis.

“Perdarahan sudah terkontrol. Kondisinya masih harus diawasi ketat di ICU, tapi untuk saat ini dia stabil.”

Aku hampir memeluk dokter itu.

Kemudian dokter menoleh ke Raka.

“Kami menggunakan darah yang Anda bawa.”

Raka hanya mengangguk.

Beberapa detik kemudian tubuhnya jatuh.

Kali ini benar-benar jatuh.

Aku menjerit.

Petugas medis langsung membawanya ke ruang observasi.

Aku mengikuti sampai depan pintu, tetapi seorang perawat melarangku masuk.

Sementara itu, keamanan rumah sakit membawa Hendra ke kantor direksi.

Aku meminta salinan rekaman CCTV dan menghubungi polisi.

Bima berusaha menahanku.

“Laras, pikirkan Dito.”

“Aku sedang memikirkan Dito.”

“Kamu mau ayahnya masuk penjara?”

Aku menatapnya.

“Aku ingin Dito tumbuh dan tahu bahwa nyawa manusia tidak bisa ditukar dengan saham.”

Bima tidak lagi berkata apa-apa.

Malam itu polisi datang.

Penyelidikan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar dari perkiraanku.

Ternyata tiga unit AB negatif bukan pertama kalinya stok darah dipindahkan secara ilegal.

Selama hampir setahun, Hendra bekerja sama dengan beberapa pihak untuk memprioritaskan pasien kaya yang bersedia membayar mahal. Data komputer tetap mencatat darah seolah tersedia agar audit internal tidak langsung menemukan kekurangan.

Raka sudah mengetahuinya selama dua bulan.

Dia bahkan pernah melaporkannya.

Namun laporannya menghilang.

Sebagai balasan, jam kerjanya dikurangi dan ia diancam dipindahkan.

Hari kecelakaan Dito, Raka sedang tidak bertugas.

Perawat Sari diam-diam meneleponnya ketika menemukan lemari darah kosong.

Raka langsung datang.

Ia menelepon daftar donor AB negatif satu per satu.

Dua orang tidak bisa datang.

Satu sedang berada di luar kota.

Satu-satunya donor yang bersedia berada di Ungaran.

Raka menjemputnya dengan sepeda motor karena lalu lintas Semarang macet akibat hujan dan kecelakaan.

Namun donor tersebut hanya bisa memberikan satu unit.

Dito membutuhkan lebih.

Karena itulah Raka melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.

Ia menawarkan darahnya sendiri.

Saat aku mengetahui seluruh cerita itu, aku duduk sendirian di samping tempat tidur Dito di ICU.

Tubuh kecil anakku dipenuhi selang.

Aku menggenggam tangannya.

Di dalam pembuluh darahnya mengalir darah seorang pria yang beberapa jam sebelumnya telah kumaki sebagai orang tak bertanggung jawab.

Aku menangis dalam diam.

Keesokan paginya, aku pergi mencari Raka.

Dia masih dirawat.

Wajahnya pucat, tetapi ketika melihatku masuk, dia tersenyum.

“Dito bagaimana?”

“Stabil.”

“Syukurlah.”

Aku berdiri di samping tempat tidurnya.

Beberapa detik aku tak mampu bicara.

Kemudian aku menundukkan kepala.

“Maaf.”

Raka terlihat bingung.

“Apa?”

“Aku menghina kamu. Menuduh kamu. Bahkan menarik tanganmu saat kamu baru saja memberikan darah untuk anakku.”

Raka tersenyum kecil.

“Kalau saya jadi Ibu, mungkin saya juga marah.”

“Tapi kamu bisa membela diri.”

“Saya tidak punya waktu menjelaskan.”

“Kenapa?”

“Karena kalau saya sibuk membuktikan saya orang baik, darahnya terlambat masuk.”

Aku menangis lagi.

Kalimat itu sederhana.

Namun menusuk jauh lebih dalam daripada semua kemarahan malam sebelumnya.

Beberapa hari kemudian Dito sadar.

Hal pertama yang dia tanyakan adalah kenapa ayahnya tidak ada.

Aku tidak sanggup mengatakan semuanya.

Aku hanya menjawab bahwa ayahnya sedang menyelesaikan masalah.

Bima akhirnya ditetapkan sebagai tersangka bersama Hendra atas manipulasi distribusi persediaan medis dan sejumlah pelanggaran lain yang ditemukan penyidik.

Sebelum dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut, Bima memintaku datang.

“Aku tidak pernah ingin Dito terluka,” katanya.

“Aku tahu.”

“Aku cuma ingin hidup kita lebih baik.”

Aku menatapnya lama.

“Masalahnya, Bima, kamu selalu mengira cinta berarti memberikan anak kita segala sesuatu yang mahal.”

Aku menarik napas.

“Padahal malam itu, orang yang bahkan tidak mengenalnya memberikan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang.”

Bima menunduk.

Aku pergi tanpa menoleh lagi.

Tiga bulan kemudian Dito sudah bisa kembali sekolah.

Suatu sore aku mengajaknya ke unit donor darah.

Raka sudah bekerja kembali setelah penyelidikan membersihkan namanya. Bahkan rumah sakit membentuk sistem audit baru dan menjadikannya salah satu anggota tim pengawasan.

Begitu melihat Raka, Dito berlari kecil menghampirinya.

“Om Raka?”

Raka berjongkok.

“Iya?”

Dito memegang lengannya.

“Mama bilang darah Om ada di badan aku.”

Raka tertawa.

“Sedikit.”

Dito terlihat berpikir serius.

“Berarti sekarang kita saudara?”

Aku dan Raka sama-sama terdiam.

Kemudian Raka tertawa sambil mengusap kepala Dito.

“Kalau begitu kamu harus jadi anak baik. Jangan bikin darah Om malu.”

Dito tertawa.

Aku ikut tersenyum.

Sebelum pulang, aku melihat sebuah papan baru di dinding ruang donor.

Di sana tertulis nama-nama pendonor sukarela yang telah membantu pasien dalam keadaan darurat.

Nama Raka ada di urutan pertama.

Namun tepat di bawahnya terdapat satu nama yang membuatku berhenti.

Bima Prasetya.

Aku menatap Raka.

“Ini apa?”

Raka diam sesaat.

“Suami Ibu datang seminggu sebelum ditahan.”

Aku tercengang.

“Dia donor?”

Raka mengangguk.

“Golongan darahnya bukan AB negatif. Jadi tidak bisa diberikan kepada Dito. Tapi dia bilang darah itu boleh digunakan siapa saja yang membutuhkan.”

Aku tak mampu berkata-kata.

Raka kemudian menyerahkan sebuah amplop.

“Dia menitipkan ini. Katanya berikan kalau Ibu suatu hari datang bersama Dito.”

Di dalamnya hanya ada secarik kertas.

Tulisan tangan Bima terlihat berantakan.

Laras, selama ini aku selalu menghitung berapa banyak uang yang harus kukumpulkan supaya bisa menjadi ayah yang baik. Malam ketika Dito hampir meninggal, seorang laki-laki yang tidak punya apa-apa justru mengajariku bahwa menjadi ayah bukan soal berapa banyak yang bisa kita simpan untuk anak kita, tetapi apa yang rela kita lepaskan agar orang lain tetap hidup.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Aku belum tahu apakah suatu hari aku bisa memaafkan Bima.

Beberapa kesalahan terlalu besar untuk diselesaikan hanya dengan penyesalan.

Namun ketika aku melihat Dito berdiri di depan papan pendonor sambil membaca nama ayahnya, aku memahami sesuatu.

Darah tidak pernah bertanya apakah seseorang kaya atau miskin.

Tidak bertanya jabatan, dosa masa lalu, atau siapa yang pantas diselamatkan.

Ia hanya mengalir dari satu manusia kepada manusia lain.

Dan malam ketika anakku hampir kehilangan hidupnya, aku datang ke bank darah dengan keyakinan bahwa uang bisa menuntut segalanya.

Aku pulang dengan sebuah pelajaran yang tidak pernah bisa dibeli oleh empat puluh juta rupiah.

Kadang orang yang paling keras kita salahkan justru sedang mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkan kita.

Dan kadang orang yang paling kita percaya adalah orang yang harus kita berani hentikan sebelum kesalahannya merenggut sesuatu yang tak mungkin dikembalikan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang