SUAMIKU MENGUNCI PUTRA KAMI DI KAMAR MANDI SETIAP MALAM, LALU SEBUAH REKAMAN ANEH MENYEBUT NAMAKU SEBAGAI PELAKU KEKERASAN DI DEPAN PETUGAS YANG BELUM PERNAH KUTEMUI.

Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

Namun tanda tangan di halaman terakhir begitu mirip dengan milikku hingga selama beberapa detik aku sendiri hampir meragukan ingatanku.

Bagas berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Tatapannya berpindah dari Dafa yang bersembunyi di belakangku ke tripod kecil di lantai, lalu berhenti pada tanganku yang masih menggenggam kamera.

“Kamu masuk tanpa izin?” tanyanya datar.

Aku menatapnya tak percaya.

“Tanpa izin?”

Tanganku gemetar saat menunjuk Dafa.

“Kamu mengunci anak kita sendirian di sini dan memaksanya merekam kebohongan tentang aku.”

Bagas justru mengembuskan napas panjang seperti sedang menghadapi seseorang yang sulit diajak berpikir.

“Laras, turunkan suaramu. Dafa bisa takut.”

Kalimat itu membuat dadaku panas.

Dafa sudah takut.

Bukan kepadaku.

Kepada ayahnya sendiri.

Aku merasakan jemari kecilnya mencengkeram bagian belakang bajuku semakin kuat.

“Aku mau tidur sama Ibu,” bisiknya.

Wajah Bagas berubah sesaat.

Hanya sesaat.

Kemudian senyum tenangnya kembali.

“Tentu. Tapi Ayah dan Ibu harus bicara dulu.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

Aku hendak membawa Dafa keluar ketika Bagas menghalangi pintu.

Mataku jatuh pada map di tangannya.

Permohonan hak asuh tunggal.

Pengalihan kewenangan atas dana warisan Dafa sebesar tiga miliar delapan ratus juta rupiah.

Dafa mendapatkan warisan itu dari ayahku yang meninggal dua tahun lalu. Sesuai surat wasiat, uang tersebut disimpan dalam deposito dan beberapa instrumen investasi atas nama Dafa. Sampai Dafa berusia delapan belas tahun, aku menjadi wali yang berwenang mengelolanya.

Bagas tidak memiliki akses.

Setidaknya, seharusnya begitu.

“Kamu melakukan semua ini demi uang Dafa?”

Bagas tertawa kecil.

“Jangan dramatis.”

“Lalu apa?”

“Kamu terlalu sibuk bekerja. Pulang malam. Dafa lebih banyak bersama pengasuh. Kalau suatu hari ada orang mempertanyakan apakah kamu ibu yang layak, menurutmu apa yang akan terjadi?”

Aku menatap kamera di lantai.

Sekarang semuanya masuk akal.

Rekaman Dafa.

Dokumen hak asuh.

Tanda tangan palsu.

Bagas sedang membangun bukti.

Bukan untuk perceraian biasa.

Ia ingin menjadikanku seorang ibu yang dianggap melakukan kekerasan terhadap anak sehingga kendali atas harta Dafa bisa berpindah kepadanya.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Aku akan menelepon polisi.”

Bagas tidak mencoba merebutnya.

Sebaliknya, dia tersenyum.

“Silakan.”

Senyum itu membuat jariku berhenti.

Kemudian bel rumah berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Disusul ketukan keras dari lantai bawah.

“Selamat malam. Kami dari Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak.”

Tubuhku membeku.

Bagas menatap jam tangannya.

“Tepat waktu.”

Aku memandangnya.

“Kamu yang memanggil mereka?”

“Bukan aku.”

Ia menatap Dafa.

“Sekolahnya.”

Aku merasa seperti baru saja jatuh ke dalam lubang yang telah digali berminggu-minggu.

Beberapa menit kemudian, dua petugas perempuan dan seorang pria berdiri di ruang tamu kami.

Salah seorang memperkenalkan diri sebagai Bu Ratih.

“Kami menerima laporan mengenai dugaan kekerasan terhadap anak.”

Aku langsung berkata, “Ada kesalahpahaman. Saya baru saja menemukan suami saya memaksa anak kami membuat rekaman palsu.”

Bu Ratih belum sempat menjawab ketika Bagas menyerahkan ponselnya.

“Maaf, Bu. Istri saya sedang tidak stabil.”

“Apa?”

“Beberapa bulan terakhir emosinya sulit dikendalikan.”

Bagas membuka sebuah video.

Suara Dafa memenuhi ruang tamu.

“Ibu sering mengunci aku. Ibu memukulku kalau aku tidak mau menyerahkan uang Kakek.”

Lututku hampir kehilangan tenaga.

Video itu bukan rekaman yang baru saja kulihat.

Dafa mengenakan pakaian berbeda.

Artinya mereka telah membuat rekaman lain sebelumnya.

“Dafa dipaksa mengatakan itu,” kataku.

Bagas menggeleng pelan.

“Laras, cukup.”

Kemudian ia mengeluarkan beberapa lembar foto.

Lenganku mendingin.

Foto-foto itu memperlihatkan memar di lengan dan paha Dafa.

Aku bahkan mengenali piyamanya.

“Dafa jatuh dari sepeda dua minggu lalu.”

“Benar,” jawab Bagas. “Itu yang kamu katakan kepada saya.”

Dia telah mempersiapkan jawaban untuk semuanya.

Bu Ratih berjongkok di depan Dafa.

“Dafa boleh bicara sama Tante?”

Dafa tidak menjawab.

Ia hanya memeluk pinggangku.

Bagas berkata lembut, “Tidak apa-apa, Nak. Ceritakan yang sebenarnya.”

Tubuh Dafa langsung menegang.

Aku merasakan perubahan itu.

Bu Ratih juga melihatnya.

Dia berdiri.

“Sebaiknya kami berbicara dengan anak tanpa kedua orang tua.”

Bagas langsung setuju.

Aku tidak.

Namun Bu Ratih menjelaskan bahwa itu prosedur agar Dafa tidak merasa tertekan.

Aku akhirnya mengangguk.

Seorang petugas membawa Dafa ke ruang makan.

Aku duduk di sofa sambil menggenggam kartu memori di saku.

Itulah satu-satunya hal yang Bagas belum tahu masih kumiliki.

Saat itulah petugas pria berkata, “Bu Laras, apakah Ibu mengenal seseorang bernama Rendra Mahesa?”

Aku mengernyit.

“Tidak.”

Ia menunjukkan sebuah dokumen.

Nama Rendra tercantum sebagai saksi.

Dalam pernyataannya, Rendra mengaku pernah melihatku menampar Dafa di area parkir sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

“Aku tidak kenal orang ini.”

Bagas menundukkan kepala.

Namun aku melihat sudut bibirnya bergerak.

Aku mengeluarkan kartu memori.

“Kalau begitu lihat ini.”

Wajah Bagas akhirnya berubah.

Aku menyerahkan kartu itu kepada Bu Ratih.

“Kamera lorong rumah merekam semuanya malam ini.”

Bagas berdiri.

“Itu rekaman ilegal.”

“Di rumah saya sendiri?”

“Rumah kita.”

Bu Ratih meminta kami tenang.

Rekaman diputar melalui laptop petugas.

Pukul 19.58, Bagas masuk bersama Dafa.

Pukul 20.06, Bagas keluar sendirian.

Ia membawa laptopku.

Kemudian rekaman memperlihatkan Bagas memasuki ruang kerjaku.

Aku menunjuk layar.

“Laptop itu milik saya.”

Bagas mencoba menjelaskan bahwa ia hendak mencetak dokumen keluarga.

Namun beberapa menit kemudian kamera menangkap sesuatu yang tidak kami sadari sebelumnya.

Bagas keluar dari ruang kerja sambil menelepon.

Suara kamera tidak terlalu jelas, tetapi satu kalimat terdengar.

“Rekaman terakhir selesai malam ini. Besok kita ajukan.”

Ruangan menjadi sunyi.

Wajah Bagas pucat.

Bu Ratih menatapnya.

“Kita siapa, Pak?”

Bagas tidak menjawab.

Aku tiba-tiba teringat sesuatu.

Laptopku.

Aku berlari menuju ruang kerja.

Bagas mencoba mengikutiku, tetapi petugas menghentikannya.

Laptop masih terbuka.

Di layar terdapat folder bernama DOKUMEN PAJAK.

Aku tidak pernah membuat folder itu.

Saat kubuka, ada puluhan berkas.

Foto tanda tanganku.

Salinan KTP.

Surat wasiat ayahku.

Dokumen pengadilan.

Rekaman suara.

Bahkan foto memar Dafa yang diberi nama berdasarkan tanggal.

Lalu aku menemukan sebuah spreadsheet.

Di sana tertulis beberapa pembayaran.

Rendra Mahesa, dua puluh juta rupiah.

Konsultan dokumen, tiga puluh lima juta.

Biaya pengurusan, lima belas juta.

Di baris paling bawah ada nama yang membuatku terdiam.

Maya Pradana.

Aku mengenal nama itu.

Kakak kandung Bagas.

Perempuan yang selama setahun terakhir tinggal di Surabaya dan hampir tidak pernah menghubungi kami.

Di samping namanya tertulis tiga ratus juta rupiah.

Aku membuka folder berikutnya.

Ada rekaman percakapan Bagas dan Maya.

Aku menekan putar.

Suara Maya terdengar lebih dulu.

“Kalau Laras kehilangan hak asuh, kamu otomatis jadi wali?”

“Belum tentu otomatis,” jawab Bagas. “Tapi dengan bukti kekerasan, peluangnya besar.”

“Terus uangnya?”

“Begitu pengadilan menetapkan aku sebagai wali pengelola, deposito bisa direstrukturisasi.”

“Bagian aku jangan lupa.”

Aku menutup mulut.

Bagas berteriak dari luar.

“Itu bukan percakapan lengkap!”

Bu Ratih menatapnya tajam.

Petugas pria segera menelepon seseorang.

Malam itu berubah dari kunjungan pemeriksaan menjadi dugaan pemalsuan dokumen, manipulasi anak, dan kemungkinan persekongkolan untuk menguasai aset.

Namun kejutan terbesar datang dari Dafa.

Setelah hampir empat puluh menit berbicara dengan petugas, ia keluar sambil membawa bebek mandi kuning.

Bu Ratih duduk di sampingku.

“Bu Laras, ada sesuatu yang perlu Ibu dengar langsung dari Dafa.”

Dafa naik ke pangkuanku.

“Ayah bilang kalau aku pintar, Ibu pergi.”

Aku memeluknya.

“Kenapa Ibu pergi?”

“Katanya polisi bawa Ibu.”

Aku menahan air mata.

“Terus Ayah bilang apa?”

Dafa memandang Bagas.

Untuk pertama kalinya malam itu, Bagas terlihat takut kepada anak berusia lima tahun.

Dafa mengangkat bebek kuningnya.

“Ayah bilang jangan hilangkan ini.”

Bu Ratih mengambil mainan itu.

Bagian bawah bebek ternyata bisa dibuka.

Di dalamnya terdapat sebuah kartu memori kecil.

Aku menatap Dafa.

“Kamu tahu ini apa?”

Ia menggeleng.

“Ayah selalu masukin benda kecil itu setelah aku ngomong.”

Bagas tiba-tiba bergerak maju.

Petugas langsung menahannya.

Kartu itu berisi puluhan rekaman.

Bukan hanya Dafa.

Ada suara Bagas memberikan instruksi.

“Ulangi.”

“Jangan bilang Ayah.”

“Kalau kamu bilang Ibu yang memukul, nanti Ayah belikan mobil remote.”

“Kalau kamu tidak mau, Ibu akan dibawa polisi lebih lama.”

Setiap kalimat seperti pisau.

Tetapi ada satu rekaman yang membuat semuanya semakin buruk.

Suara seorang perempuan terdengar sedang berbicara dengan Bagas.

Maya.

“Kamu yakin tanda tangan Laras lolos?”

“Sudah aku latih berbulan-bulan.”

“Kalau ketahuan?”

“Yang diperiksa nanti kondisi mental Laras, bukan tanda tangannya. Aku sudah punya rekaman dia marah.”

Aku langsung teringat pertengkaran kami beberapa bulan terakhir.

Bagas sering sengaja memancingku.

Menghilangkan dokumen.

Mengubah jadwal sekolah Dafa tanpa memberitahuku.

Mengambil uang dari rekening rumah tangga lalu menuduhku lupa.

Setiap kali aku marah, ponselnya selalu berada di meja.

Dia bukan sekadar merekam kebohongan.

Dia sedang membangun versi diriku yang bisa dipercaya orang lain.

Malam itu Bagas dibawa untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Proses hukum tidak selesai dalam semalam. Pemeriksaan dokumen, rekaman, transaksi, dan keterangan saksi berlangsung berbulan-bulan.

Rendra akhirnya mengaku tidak pernah melihatku memukul Dafa. Ia mengenal Bagas melalui seorang perantara dan dibayar untuk menandatangani pernyataan yang telah disiapkan.

Pemeriksaan forensik dokumen juga menunjukkan tanda tanganku dipalsukan.

Maya sempat menyangkal keterlibatannya sampai penyidik menemukan transfer uang dan percakapan yang sudah dihapus dari ponselnya.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa kulupakan.

Bukan uang tiga miliar delapan ratus juta itu.

Bukan tanda tanganku yang dipalsukan.

Bukan pula orang asing yang bersedia menuduhku demi uang.

Melainkan cara Bagas menggunakan ketakutan seorang anak sebagai alat.

Beberapa bulan kemudian, aku dan Dafa pindah ke rumah yang lebih kecil.

Tidak ada kamar mandi mewah.

Tidak ada ruang kerja besar.

Tidak ada tangga marmer seperti rumah lama kami.

Namun setiap malam sebelum tidur, Dafa berlari dari kamar mandi dengan rambut masih basah dan berteriak, “Bu, handuk!”

Aku selalu berpura-pura kesal.

“Dafa, sudah berapa kali Ibu bilang bawa handuk sebelum mandi?”

Dia akan tertawa.

Suara itu menjadi suara favoritku di dunia.

Suatu malam, saat aku sedang merapikan lemari, Dafa datang membawa gambar.

Ada seorang perempuan dan seorang anak berdiri di depan rumah kecil.

Tidak ada kotak.

Tidak ada pria membawa ponsel.

Aku menunjuk gambar perempuan itu.

“Ini Ibu?”

Dafa mengangguk.

“Kalau ini Dafa?”

“Iya.”

“Kenapa rumahnya kecil?”

Ia berpikir sebentar.

“Biar Ibu gampang cari aku.”

Aku tak mampu menjawab.

Aku hanya memeluknya.

Kemudian Dafa berbisik di telingaku.

“Aku dulu sengaja salah terus waktu Ayah suruh ngomong.”

“Ibu tahu.”

“Bukan karena aku takut.”

Aku melepaskan pelukan dan menatapnya.

“Terus kenapa?”

Dafa tersenyum kecil.

“Karena Kakek pernah bilang, kalau ada orang suruh Dafa bohong tentang Ibu, jangan pernah bikin bohongnya jadi bagus.”

Aku membeku.

Ayahku meninggal ketika Dafa baru berusia tiga tahun.

Aku tidak pernah tahu ia pernah mengatakan kalimat itu.

“Dafa masih ingat Kakek bilang begitu?”

Dafa mengangguk.

“Kakek bilang uang bisa hilang. Rumah bisa diambil. Tapi kalau Dafa tahu siapa yang sayang sama Dafa, jangan kasih siapa pun ambil itu.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Selama berbulan-bulan aku mengira akulah yang menyelamatkan anakku malam ketika membuka pintu kamar mandi itu.

Ternyata aku salah.

Di balik pintu terkunci, suara pancuran, kamera, dan ancaman seorang ayah yang seharusnya melindunginya, seorang anak berusia lima tahun telah melakukan satu-satunya perlawanan yang mampu ia lakukan.

Ia terus membuat rekaman yang buruk.

Ia terus salah mengucapkan kalimat.

Ia menyembunyikan kartu memori tanpa memahami nilainya.

Dan tanpa kusadari, Dafa bukan hanya sedang berusaha menyelamatkan rumah peninggalan kakeknya.

Ia sedang menyelamatkanku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang