Tanganku gemetar ketika membaca namaku sendiri di halaman terakhir.
Salma Adiningrum.
Di bawahnya ada tanda tangan yang sangat mirip dengan tanda tanganku, lengkap dengan cap jempol. Bahkan nomor KTP-ku tercantum dengan benar.
Yang membuat darahku terasa berhenti mengalir adalah tanggal di sudut kanan atas.
Dua minggu sebelum aku membeli rumah itu.
Aku berdiri di ruang bawah tanah dengan napas pendek. Suara air mengalir di balik dinding beton terdengar semakin keras. Udara di sana dingin dan berbau tanah basah.

Aku membalik halaman berikutnya.
Pemohon pembongkaran tercatat atas nama sebuah perusahaan bernama PT Arunika Bumi Sejahtera.
Direkturnya adalah Reza Pratama.
Kakak Bagas.
Aku hampir menjatuhkan map itu.
Selama tiga bulan sejak suamiku meninggal, Reza adalah orang yang paling sering datang menemuiku. Dia membawakan makanan ketika aku tidak sanggup memasak, mengantarku memeriksakan kandungan, bahkan berkali-kali mengatakan bahwa aku tak perlu khawatir soal uang santunan Bagas.
“Anggap saja aku menggantikan adikku menjaga kamu sampai semuanya selesai,” katanya waktu itu.
Ternyata dia tidak sedang menjagaku.
Dia sedang menungguku masuk ke perangkap.
Aku memasukkan dokumen-dokumen itu ke dalam tas. Namun sebelum naik, mataku menangkap sebuah tabung plastik lain yang terselip di belakang pipa.
Di dalamnya terdapat peta.
Garis biru membelah tanah seluas enam ratus meter persegi yang baru kubeli.
Di pojok peta tertulis: Jalur Mata Air Panas Blok Sembungan.
Aku memang tidak mengerti soal geologi, tetapi satu hal langsung kupahami.
Air yang kudengar setiap malam bukan saluran pembuangan.
Itu mata air.
Tiba-tiba terdengar suara mobil dari halaman.
Aku mematikan senter.
Pintu rumah terbuka.
“Salma?”
Suara itu membuat seluruh tubuhku membeku.
Reza.
Aku buru-buru naik, menutup pintu baja, mengembalikan ubin biru ke tempatnya, lalu mendorong lemari sedekat mungkin.
Belum sempat aku berdiri tegak, Reza muncul di ambang dapur.
Dia mengenakan jaket hitam dan celana jins. Wajahnya tampak seperti biasanya, tenang dan penuh perhatian.
“Kamu ngapain gelap-gelapan?”
“Listrik mati.”
Dia memandang ke arah lemari yang bergeser beberapa sentimeter.
Matanya berubah.
Hanya sepersekian detik, tetapi aku melihatnya.
Kecurigaan.
“Kamu sudah lihat bagian bawah rumah?”
Aku berusaha tersenyum.
“Bagian bawah apa?”
Reza diam.
Kemudian dia ikut tersenyum.
“Tidak ada. Aku cuma dengar rumah-rumah tua di sini kadang punya gudang bawah tanah.”
Dia membuka kulkas rusak seolah sedang memeriksa sesuatu.
“Aku dengar kamu menolak tawaran Arman.”
Jadi dia tahu.
“Aku baru membeli rumah ini.”
“Sal, kamu hamil enam bulan. Tinggal sendirian di tempat begini berbahaya.”
“Lebih berbahaya daripada diusir dari kontrakan?”
Rahangnya mengeras.
“Aku bisa carikan tempat.”
“Dengan uang santunan Bagas yang belum cair itu?”
Kali ini dia tidak menjawab.
Dia hanya menatapku beberapa detik, lalu berjalan keluar.
Sebelum masuk mobil, Reza menoleh.
“Kalau malam dengar suara aneh, jangan cari tahu sendiri.”
Mobilnya menghilang di tikungan.
Aku menunggu hampir sepuluh menit sebelum lututku akhirnya kehilangan tenaga.
Aku terduduk di lantai.
Bagas pernah mengatakan sesuatu kepadaku beberapa minggu sebelum kebakaran.
“Kalau suatu hari Mas Reza menawarkan bisnis, jangan pernah tanda tangan apa pun.”
Saat itu aku tertawa.
“Kakakmu sendiri kok kamu curigai?”
Bagas hanya menjawab, “Justru karena dia kakakku, aku tahu dia seperti apa.”
Aku mengira itu pertengkaran keluarga biasa.
Sekarang aku mulai memahami.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku memotret semua dokumen menggunakan ponsel, mengunggahnya ke penyimpanan daring, lalu mengirim salinannya kepada Ratih, teman SMA-ku yang sekarang bekerja di kantor notaris di Wonosobo.
Pukul enam pagi, Ratih menelepon.
“Salma, jangan tanda tangan apa pun lagi.”
“Aku sudah tahu.”
“Bukan cuma itu. Dokumen ini aneh. Formulir relokasi yang mereka kasih kemarin kemungkinan dipakai untuk melengkapi berkas pembongkaran.”
“Tapi tanda tanganku sudah ada.”
“Bisa dipalsukan.”
“Cap jempolnya?”
Ratih terdiam.
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada dokumen palsu tersebut.
Aku teringat rumah sakit tiga bulan lalu.
Setelah Bagas dinyatakan meninggal, Reza membawakanku sejumlah dokumen asuransi.
Aku menangis begitu hebat sampai hampir tidak bisa membaca.
“Cap jempol saja kalau tanganmu gemetar,” katanya.
Aku menuruti.
Aku bahkan tidak ingat berapa lembar.
Perutku terasa mual.
“Ratih, kenapa mereka butuh aku?”
“Entahlah. Tapi perusahaan Reza tidak mungkin membeli tanah ini lewat kamu tanpa alasan.”
Jawabannya datang siang itu.
Seorang lelaki tua bernama Pak Wiryo datang membawa cangkul.
Dia mengaku pernah tinggal di rumah tersebut ketika masih muda.
Saat melihat ubin biru di dapur, wajahnya berubah.
“Kamu sudah buka?”
Aku mengangguk.
Pak Wiryo duduk perlahan.
“Tiga puluh tahun lalu, pemerintah pernah memeriksa mata air di bawah tanah ini. Debitnya besar dan suhunya stabil. Katanya bisa dikembangkan untuk pemandian atau wisata.”
“Kenapa tidak jadi?”
“Pemilik tanah dulu menolak menjual.”
“Siapa pemiliknya?”
Pak Wiryo memandangku.
“Pak Hadi Adiningrum.”
Aku tercekat.
Adiningrum adalah nama keluargaku.
“Itu nama kakek saya.”
Pak Wiryo menatap wajahku lama.
“Berarti kamu cucunya?”
Aku tidak bisa menjawab.
Kakek meninggal ketika aku masih SD. Setelah itu keluargaku pindah ke Pekalongan. Aku hanya ingat samar-samar bahwa beliau pernah memiliki tanah di Dieng, tetapi menurut ibu, tanah itu sudah lama hilang karena sengketa.
Pak Wiryo berdiri dan menunjuk halaman belakang.
“Tanah ini bukan cuma enam ratus meter.”
Dia membawa aku menembus semak sampai menemukan sebuah patok batu tua.
Di permukaannya terdapat huruf H.A.
“Dulu batas tanah keluargamu sampai sungai kecil di sana. Hampir empat hektare.”
Aku merasa dunia di sekelilingku bergeser.
Rumah murah seharga tujuh belas setengah juta itu ternyata bukan kebetulan.
Seseorang sengaja menjualnya kepadaku.
Malamnya Ratih menemukan informasi lain.
PT Arunika Bumi Sejahtera sedang mengurus kerja sama pengembangan resor dan pemandian air panas. Nilai investasinya puluhan miliar rupiah.
Namun ada masalah.
Sebagian jalur mata air berada di tanah yang status kepemilikannya pernah disengketakan keluarga Adiningrum.
Mereka membutuhkan ahli waris.
Aku.
Rencananya mulai terlihat.
Rumah itu dijual kepadaku dengan harga sangat murah agar namaku resmi tercatat sebagai pemilik. Formulir relokasi akan dipakai untuk menunjukkan bahwa aku setuju meninggalkan lokasi. Setelah rumah dibongkar, jika terjadi longsor atau kecelakaan akibat pekerjaan ilegal, seluruh tanggung jawab administratif diarahkan kepadaku.
Setelah itu perusahaan Reza bisa mengambil alih lahan melalui perjanjian lain yang sudah mereka siapkan.
Aku hanyalah nama yang dibutuhkan untuk membersihkan masalah mereka.
Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih menakutkan.
Bagaimana Reza mengetahui tanah itu berhubungan denganku?
Jawabannya datang dari orang yang paling tidak kuduga.
Darto.
Dia muncul malam berikutnya dalam keadaan panik.
“Saya mau bicara.”
Aku tidak membiarkannya masuk.
“Bicara dari sana.”
Darto menelan ludah.
“Besok alat berat datang.”
“Siapa yang menyuruh?”
Dia tidak menjawab.
“Reza?”
Wajahnya sudah memberikan jawaban.
Darto akhirnya mengaku. Dia dibayar untuk memasang iklan dengan harga sangat rendah. Syaratnya hanya satu, pembeli harus bernama Salma Adiningrum.
“Kalau orang lain yang menghubungi?”
“Saya bilang sudah terjual.”
Dadaku sesak.
“Kenapa aku?”
Darto menunduk.
“Karena suami Mbak yang menemukan dokumen lama tanah ini.”
Aku membeku.
“Bagas?”
Menurut Darto, beberapa bulan sebelum meninggal, Bagas membantu Reza mengurus proyek. Saat memeriksa arsip pertanahan, dia menemukan bahwa calon lokasi resor masih terhubung dengan keluarga istrinya.
Bagas menolak melanjutkan manipulasi dokumen.
Mereka bertengkar.
Seminggu kemudian gudang tempat Bagas bekerja terbakar.
Aku menatap Darto.
“Kebakaran itu bukan kecelakaan?”
“Saya tidak tahu.”
Dia menggeleng cepat.
“Tapi sebelum meninggal, Mas Bagas pernah menitipkan sesuatu kepada saya.”
Darto mengeluarkan sebuah flashdisk kecil.
“Katanya kalau sesuatu terjadi, kasih ke istrinya.”
Aku hampir tidak sanggup mengambilnya.
Di dalam rumah, aku membuka file satu per satu.
Ada foto dokumen tanah.
Percakapan Reza dengan beberapa orang.
Rekaman rapat.
Lalu sebuah video.
Bagas muncul di layar.
Wajahnya lelah.
“Sal, kalau kamu melihat ini, mungkin aku sudah tidak sempat menjelaskan.”
Air mataku langsung jatuh.
Aku menutup mulut agar tidak menangis keras.
“Tanah kakekmu tidak pernah benar-benar hilang. Ada pihak yang mencoba mengambilnya lewat dokumen palsu. Mas Reza terlibat. Aku sedang kumpulkan bukti.”
Bagas berhenti beberapa detik.
“Kalau terjadi sesuatu padaku, jangan percaya siapa pun hanya karena dia keluarga.”
Video berakhir.
Aku menangis sampai dadaku sakit.
Tetapi kesedihanku berubah menjadi ketakutan ketika suara mesin berat terdengar dari jalan.
Mereka datang lebih cepat.
Dua ekskavator berhenti di depan rumah bersama mobil Arman.
Reza turun dari mobil hitam.
“Salma, keluar.”
Aku berdiri di teras sambil memegang ponsel.
“Tanah ini milikku.”
Reza mendekat.
“Kamu sudah menandatangani persetujuan pembongkaran.”
“Dokumennya palsu.”
Wajahnya tetap tenang.
“Bisa kamu buktikan?”
“Aku bisa.”
Untuk pertama kalinya, ketenangannya pecah.
Dia melihat Darto yang berdiri jauh di belakangku.
“Bodoh.”
Reza memberi isyarat kepada operator.
Ekskavator bergerak.
Aku berteriak, “Kalau rumah ini dibongkar, pipa di bawahnya bisa pecah!”
Arman tertawa.
“Tidak ada pipa.”
“Ada mata air.”
Semua orang diam.
Aku mengangkat ponsel.
“Dan sekarang semua dokumennya sudah dikirim ke polisi, kantor pertanahan, dan wartawan.”
Itu gertakan setengah benar.
Ratih memang sudah membantu melaporkan dokumen palsu. Tetapi wartawan belum menerima apa pun.
Reza menatapku.
Kemudian dia tersenyum tipis.
“Kamu pikir Bagas mati karena terlalu pintar?”
Darahku terasa dingin.
Tanpa sadar dia baru saja mengatakan sesuatu yang selama ini tidak berani kukatakan.
Ponsel di tanganku merekam semuanya.
Reza menyadarinya terlambat.
Dia menerjang ke arahku.
Darto menghadangnya.
Terjadi dorong-dorongan.
Operator ekskavator panik dan menggerakkan alat mundur. Rodanya menghantam tanah lunak di sisi rumah.
Terdengar suara retakan.
Kemudian gemuruh besar.
Tanah ambles.
Air menyembur dari bawah halaman seperti pipa raksasa yang pecah.
Semua orang berlari.
Aku berdiri terpaku sampai Pak Wiryo menarik lenganku.
“Salma, menjauh!”
Beberapa meter tanah runtuh, membuka rongga bawah tanah yang selama puluhan tahun tertutup.
Di dalamnya terlihat pipa tua dan struktur beton.
Tetapi bukan itu yang membuat Reza pucat.
Di balik dinding yang runtuh terdapat kotak logam besar.
Petugas polisi tiba sekitar dua puluh menit kemudian bersama Ratih dan dua pegawai pemerintah daerah.
Ternyata Ratih tidak menunggu.
Begitu mendengar alat berat akan datang, dia langsung menghubungi pihak berwenang.
Kotak logam itu dibuka di hadapan petugas.
Isinya dokumen asli kepemilikan tanah milik kakekku, peta mata air, serta surat penolakan penjualan yang ditandatangani puluhan tahun lalu.
Ada pula catatan tangan kakek.
Tanah dan sumber air ini tidak boleh jatuh ke tangan orang yang hanya melihatnya sebagai uang. Jika suatu hari keturunanku menemukannya, gunakanlah untuk memberi kehidupan kepada orang lain.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Reza ditahan beberapa minggu kemudian setelah penyelidikan mengungkap pemalsuan dokumen, penipuan, dan manipulasi proyek. Penyelidikan kebakaran gudang Bagas juga dibuka kembali setelah rekaman dalam flashdisk menunjukkan adanya ancaman terhadapnya sebelum kejadian.
Aku tidak pernah mendapatkan Bagas kembali.
Tidak ada kemenangan yang mampu melakukan itu.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di halaman rumah yang sudah diperbaiki sederhana sambil menggendong putraku.
Aku menamainya Hadi Bagas Adiningrum.
Perusahaan besar beberapa kali menawarkan miliaran rupiah untuk membeli tanah tersebut.
Aku menolak semuanya.
Bersama warga desa, aku mengurus pemanfaatan mata air secara legal. Sebagian dialirkan untuk kebutuhan warga dan pertanian. Sebuah koperasi lokal dibentuk untuk mengembangkan pemandian kecil tanpa merusak lereng.
Pak Wiryo pernah bertanya kepadaku sambil tertawa, “Tidak menyesal? Kalau dijual, kamu bisa hidup enak.”
Aku melihat rumah tua yang dulu kubeli karena keputusasaan.
“Atap bocor ini dulu satu-satunya rumah yang mampu kubeli.”
“Sekarang?”
Aku tersenyum.
“Sekarang saya tahu rumah itu bukan murah.”
Aku menatap putraku yang tertidur di pelukanku.
“Hanya saja orang-orang yang menjualnya tidak tahu nilainya.”
Malam itu hujan turun di Dieng.
Aku duduk di ruang depan yang dulu dipenuhi ember penampung air. Atapnya kini tidak bocor lagi.
Namun suara air masih terdengar dari bawah lantai.
Dulu suara itu membuatku takut.
Sekarang aku justru sering terdiam mendengarkannya.
Karena pada akhirnya, sesuatu yang mereka sembunyikan jauh di bawah tanah justru menjadi satu-satunya hal yang tidak bisa mereka paksa untuk berbohong.
Air selalu menemukan jalan keluar.
Begitu pula kebenaran.
