“Aku tahu siapa perempuan ini.”
Kalimat itu keluar dari mulutku dengan suara yang hampir tak terdengar.
Ibu menatapku bingung, sementara Ayah yang masih terbaring di atas tikar berusaha mengangkat kepala. Di tanganku, lembar terakhir surat pengadilan itu bergetar. Foto perempuan yang mengaku sebagai diriku terpampang jelas di sana.
Wajahnya memang sangat mirip denganku.
Namun aku tidak mungkin salah mengenali kalung berbentuk bunga kecil yang melingkar di lehernya.
Kalung itu milikku.
Dan hanya ada satu perempuan yang pernah kuketahui memakainya setelah kalung tersebut dinyatakan hilang.
“Namanya Ratri,” kataku.

Ibu memucat.
“Ratri yang dulu sering datang ke rumah?”
Aku mengangguk.
Ratri adalah sepupu jauh Bagas. Setidaknya, begitu suamiku memperkenalkannya kepadaku tiga tahun lalu. Dia pernah beberapa kali membantu Bagas mengurus administrasi bengkel batik milik Ayah ketika aku masih bekerja di Kalimantan.
Aku bahkan pernah berterima kasih kepadanya karena mau menemani Ibu ke rumah sakit.
Saat itu aku tidak pernah menyadari bahwa bentuk wajah kami memang serupa.
Hidung kami hampir sama. Rambut kami sama-sama lurus. Jika dilihat melalui kamera dengan pencahayaan buruk, seseorang yang tidak mengenalku dekat mungkin bisa tertipu.
Aku segera membawa Ayah dan Ibu ke klinik sepupuku, Dimas, di Solo.
Hasil pemeriksaan awal membuat amarahku berubah menjadi ketakutan.
“Ayahmu mengalami dehidrasi, tekanan darahnya tidak stabil, dan ada tanda penggunaan obat penenang dalam jangka waktu cukup lama,” kata Dimas setelah menarikku ke luar ruang perawatan.
“Bisa dibuktikan?”
“Kalau maksudmu untuk kepentingan hukum, kita perlu pemeriksaan laboratorium lengkap. Simpan semua obat yang kamu temukan. Jangan buang apa pun.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan orang tuaku, aku memikirkan Bagas dengan kepala dingin.
Jika aku langsung mendatanginya, dia akan menghapus bukti.
Jika aku menelepon polisi tanpa memahami permainan yang sedang dia lakukan, mungkin aku hanya akan mendapatkan satu bagian kecil dari kejahatannya.
Bagas bukan orang bodoh.
Selama empat tahun, dia berhasil membuatku percaya bahwa uang hampir Rp1,8 miliar yang kukirim benar-benar digunakan untuk rumah orang tuaku.
Artinya, kebohongan ini sudah dirancang sejak lama.
Aku meminta Ibu dan Ayah tidak menghubungi siapa pun.
Lalu malam itu aku masuk ke hotel kecil di Solo dan mengirim pesan kepada Bagas.
“Aku mungkin bisa mendapatkan kontrak baru di Balikpapan. Kalau berhasil, aku bisa kirim uang lagi bulan depan.”
Balasannya datang kurang dari dua menit.
“Alhamdulillah. Aku tahu kamu pasti bisa bangkit.”
Aku menatap layar sambil tersenyum pahit.
Dua minggu sebelumnya, ketika kukatakan aku kehilangan pekerjaan dan tabungan, dia menyuruhku jangan pulang.
Sekarang, ketika ada kemungkinan uang kembali mengalir, aku kembali menjadi istri yang dicintainya.
Aku kemudian mengetik pesan lain.
“Aku butuh lihat Ayah dan Ibu. Bisa video call besok?”
Bagas lama tidak menjawab.
Akhirnya dia menulis, “Ayah sedang kurang sehat. Ibu juga banyak istirahat. Nanti kalau kondisinya bagus.”
Aku meletakkan ponsel.
Besok paginya, aku menemui seorang pengacara bernama Ratna yang direkomendasikan Dimas.
Setelah melihat surat pengampuan, pesan ancaman, foto gudang, obat-obatan, serta bukti transfer, Ratna terdiam cukup lama.
“Ini lebih besar daripada sekadar penelantaran orang tua,” katanya.
Dia menunjukkan beberapa halaman dokumen.
“Kalau tanda tangan dan persetujuanmu dipalsukan, ada dugaan pemalsuan dokumen. Kalau ayahmu sengaja dibuat tampak tidak cakap hukum agar asetnya bisa dikuasai, itu juga serius.”
“Sidangnya kapan?”
Ratna menunjuk tanggal.
“Lusa.”
Dadaku menegang.
“Jadi mereka sedang terburu-buru.”
“Sepertinya begitu.”
Kami memutuskan tidak memberi tahu Bagas bahwa aku sudah berada di Jawa.
Ratna mengurus langkah hukum awal, sementara aku melakukan sesuatu yang jauh lebih berisiko.
Aku mendatangi rumah baru yang selama ini Bagas tunjukkan dalam video.
Rumah itu berada di sebuah kompleks kecil di daerah Kartasura. Dindingnya putih, halamannya rapi, persis seperti video yang sering dikirim kepadaku.
Namun ketika aku berdiri di seberang jalan, kulihat sebuah mobil keluar dari garasi.
Ratri mengemudikannya.
Di kursi penumpang duduk Bagas.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
Mereka tidak terlihat seperti sepupu.
Sebelum mobil bergerak, Bagas mencondongkan tubuh dan mencium kening Ratri.
Aku merekam semuanya dari dalam mobil sewaan.
Anehnya, aku tidak menangis.
Pengkhianatan itu terasa kecil dibandingkan apa yang mereka lakukan kepada orang tuaku.
Aku menunggu sampai mereka pergi, lalu mendekati rumah.
Seorang tetangga sedang menyiram tanaman.
“Permisi, Bu. Yang tinggal di sini Pak Bagas, ya?”
Wanita itu mengangguk.
“Iya. Sama istrinya.”
Aku tersenyum kaku.
“Istrinya?”
“Iya, Bu Ratri. Mereka sudah lama tinggal di sini.”
Jantungku berdegup keras.
“Orang tua yang dulu tinggal di sini?”
“Oh, Bapak dan Ibu tua itu? Katanya cuma keluarga dari kampung. Beberapa hari saja di sini. Waktu itu ramai sekali, ada orang merekam video segala macam.”
Aku mengucapkan terima kasih lalu kembali ke mobil.
Jadi rumah yang kubayar dengan uang hasil kerja bertahun-tahun ternyata menjadi rumah Bagas dan Ratri.
Tetapi masih ada satu pertanyaan.
Untuk apa tanah bengkel batik Ayah?
Jawabannya kutemukan malam itu dari seorang mantan pegawai bengkel bernama Pak Harno.
“Tanah itu sekarang mahal, Mbak Laras,” katanya setelah aku menemuinya diam-diam.
“Beberapa bulan lalu ada perusahaan pengembang yang ingin membeli seluruh deretan tanah di sana. Nilai tanah milik Bapak bisa lebih dari tiga miliar.”
Aku akhirnya mengerti.
Rp1,8 miliar milikku belum cukup.
Bagas menginginkan tanah Ayah juga.
Keesokan harinya, Ratna mendapatkan salinan tambahan berkas dari pengadilan.
Ada satu dokumen medis yang menyatakan Ayah mengalami gangguan kognitif berat.
Nama dokter yang menandatanganinya adalah dr. Surya Pradana.
Ketika kutunjukkan kepada Dimas, wajahnya berubah.
“Aku kenal dokter ini.”
“Dia spesialis?”
Dimas menggeleng.
“Dokter umum. Dan kliniknya sudah tutup hampir setahun karena masalah izin.”
Lebih aneh lagi, hasil pemeriksaan kognitif Ayah dalam dokumen dilakukan pada tanggal ketika Ayah sebenarnya berada di rumah sakit di Solo untuk pemeriksaan jantung.
Kami memiliki rekam medis yang membuktikannya.
Malam sebelum sidang, Bagas akhirnya meneleponku.
Suara suamiku terdengar lembut seperti biasanya.
“Kamu baik-baik saja di Kalimantan?”
Aku menatap lampu kota Solo dari jendela hotel.
“Baik.”
“Kamu jangan terlalu memikirkan keadaan di rumah. Aku urus semuanya.”
Aku hampir tertawa.
“Termasuk Ayah dan Ibu?”
“Tentu.”
“Bagas.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku tidak punya uang lagi, kamu masih akan menganggapku istrimu?”
Telepon mendadak sunyi.
Lalu dia tertawa kecil.
“Kok ngomong begitu?”
“Cuma ingin tahu.”
“Kita sudah menikah delapan tahun, Laras.”
Dia menghindari jawabannya.
Sebelum menutup telepon, aku mengatakan satu kalimat.
“Besok jaga kesehatan, ya.”
“Ada apa besok?”
“Tidak ada.”
Pagi berikutnya, Bagas datang ke pengadilan dengan kemeja biru tua.
Ratri berjalan di sampingnya.
Aku mengamati mereka dari ujung lorong bersama Ratna.
Bagas belum melihatku.
Dia tampak tenang.
Ratri bahkan sempat tersenyum ketika berbicara dengan petugas.
Kemudian Ayah datang menggunakan kursi roda yang didorong Dimas.
Ibu berjalan di belakangnya.
Wajah Bagas langsung kehilangan warna.
Dia berdiri kaku.
Tatapannya berpindah dari Ayah ke Ibu, lalu akhirnya menemukan aku.
“Laras?”
Aku mendekatinya.
“Kamu bilang rumah belum siap menerima masalah baru.”
Bagas membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Ratri mundur satu langkah.
“Aku bisa jelaskan.”
Aku menatap kalung di lehernya.
Hari itu dia masih memakainya.
“Kalungku cocok sekali di lehermu.”
Tangannya refleks menyentuh liontin.
Petugas pengadilan mulai memperhatikan kami.
Bagas segera menarik lenganku.
“Jangan bikin keributan.”
Aku melepaskan tangannya.
“Aku tidak datang untuk membuat keributan. Aku datang untuk menghadiri sidang yang katanya sudah kusetujui.”
Bagas memucat.
Dalam persidangan, Ratna menyerahkan bukti bahwa pada tanggal persetujuan video tersebut dibuat, aku sedang dirawat setelah kecelakaan kerja. Ada rekam medis, laporan perusahaan, foto, serta catatan bahwa aku tidak sadar selama hampir dua hari.
Kemudian kami menyerahkan video asli yang tersimpan di ponsel Ibu.
Ancaman Bagas terdengar jelas.
Setelah itu, Dimas menjelaskan kondisi Ayah dan kemungkinan efek obat penenang dosis tinggi.
Rekam medis rumah sakit juga membuktikan bahwa pemeriksaan yang dijadikan dasar pengampuan tidak mungkin dilakukan pada tanggal yang tercantum.
Permohonan itu akhirnya ditangguhkan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Namun kejutan terbesar justru muncul setelah sidang.
Saat kami keluar, Ratri tiba-tiba mengejarku.
“Laras.”
Aku berhenti.
Bagas langsung menarik lengannya.
“Diam.”
Ratri menepis tangan Bagas.
Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di wajahnya.
“Aku tidak mau masuk penjara karena semua ini.”
Bagas membentak, “Kamu juga ikut!”
Ratri menangis.
Kemudian dia mengeluarkan ponselnya.
“Aku punya semua rekamannya.”
Bagas membeku.
Ternyata selama berbulan-bulan Ratri diam-diam merekam percakapannya dengan Bagas.
Bukan karena merasa bersalah.
Karena dia takut Bagas suatu hari akan membuangnya setelah seluruh aset berhasil dikuasai.
Dalam salah satu rekaman, suara Bagas terdengar jelas.
“Kalau tanah itu sudah dijual, kita pindah ke Jakarta. Laras tidak akan dapat apa-apa. Ratri juga nanti gampang diurus.”
Ratri menatapnya.
Wajahnya berubah.
“Jadi bahkan aku juga mau kamu singkirkan?”
Bagas mencoba merebut ponselnya.
Petugas keamanan segera menahannya.
Beberapa minggu berikutnya menjadi rangkaian pemeriksaan yang melelahkan.
Pemalsuan identitas mulai diselidiki. Dokter yang menandatangani dokumen Ayah diperiksa. Transaksi rekening Bagas ditelusuri.
Dari sanalah aku menemukan kenyataan yang paling menyakitkan.
Dari hampir Rp1,8 miliar yang kukirim, kurang dari seperempat digunakan untuk kebutuhan Ayah dan Ibu.
Sebagian besar masuk ke pembangunan rumah atas nama orang lain, pembelian mobil, investasi pribadi, dan rekening yang dikendalikan Bagas bersama Ratri.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Bagas berkali-kali meminta bertemu.
Aku menolak.
Sampai suatu hari dia mengirim surat melalui Ratna.
Isinya hanya satu halaman.
Dia mengatakan semuanya bermula karena dia merasa hidupnya selalu berada di bawah bayang-bayang penghasilanku.
Dia malu dikenal sebagai suami yang hidup dari uang istri.
Dia ingin membuktikan bahwa dia mampu memiliki sesuatu sendiri.
Maka dia mulai berbohong.
Satu kebohongan membutuhkan kebohongan lain.
Dan akhirnya dia menganggap semua orang di sekitarnya hanyalah aset yang bisa digunakan.
Aku membaca surat itu sekali, lalu melipatnya.
Aku tidak membencinya lagi.
Kebencian membutuhkan terlalu banyak tenaga.
Enam bulan kemudian, kondisi Ayah membaik.
Dia tidak pikun.
Setelah dosis obat dikurangi di bawah pengawasan dokter, pikirannya kembali jernih seperti dulu.
Suatu sore, aku mengantarnya ke bengkel batik.
Bangunannya sederhana, tetapi suara para pekerja dan aroma malam panas membuat mata Ayah berkaca-kaca.
“Kita jual saja tanah ini kalau kamu butuh uang,” katanya.
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Tapi kamu sudah kehilangan banyak.”
Aku tersenyum.
“Aku kehilangan uang, Yah. Bukan hidupku.”
Ayah menggenggam tanganku.
Beberapa bulan setelah perceraian selesai, aku memutuskan tidak kembali ke Kalimantan.
Dengan sisa tabunganku, aku memperbaiki bengkel batik dan membangun sebuah rumah sederhana di bagian belakang tanah.
Tidak semewah rumah yang pernah Bagas tunjukkan melalui video.
Namun kamar mandi memiliki pegangan untuk Ayah.
Pintu kamar cukup lebar.
Dan di halaman kecil, Ibu benar-benar menanam bunga.
Suatu pagi, ketika kami sedang sarapan, Ibu keluar dari kamar membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Ada yang mau Ibu kembalikan.”
Dia membukanya.
Di dalamnya terdapat kalung berbentuk bunga milikku.
Aku tertegun.
“Bukankah kalung itu disita sebagai barang bukti?”
Ibu tersenyum tipis.
“Itu bukan kalungmu.”
Aku menatapnya.
Ibu membuka laci lain dan menunjukkan sebuah foto lama.
Dalam foto itu, dia masih muda, berdiri bersama saudara perempuannya.
Keduanya mengenakan kalung yang sama.
“Dulu Nenek membuat dua kalung,” kata Ibu. “Satu untuk Ibu, satu untuk adik Ibu.”
Aku mulai memahami sesuatu.
“Ratri…”
Ibu mengangguk.
“Dia bukan sepupu jauh Bagas.”
Napas seakan berhenti di tenggorokanku.
“Dia anak dari adik Ibu. Sepupumu sendiri.”
Selama bertahun-tahun hubungan keluarga kami terputus setelah terjadi perselisihan warisan. Aku masih terlalu kecil untuk mengingatnya.
Ratri rupanya mendekati Bagas lebih dulu karena ingin mendapatkan bagian dari tanah bengkel yang menurut ibunya seharusnya menjadi milik keluarga mereka.
Namun kemudian hubungan mereka berubah menjadi perselingkuhan.
Kalung itu bukan dicuri dariku.
Itu warisan dari ibunya.
Itulah alasan wajah kami sangat mirip.
Aku duduk lama tanpa berkata apa-apa.
Ternyata selama ini aku mengira seluruh bencana itu bermula dari seorang suami yang serakah.
Padahal akarnya jauh lebih tua.
Dendam keluarga yang diwariskan.
Rasa iri.
Keserakahan.
Dan orang-orang yang menganggap luka masa lalu memberi mereka hak untuk melukai generasi berikutnya.
Aku menutup kotak kayu itu perlahan.
“Apa Ibu marah sama Ratri?”
Ibu menatap halaman tempat bunga-bunganya mulai bermekaran.
“Marah.”
Kemudian dia menarik napas.
“Tapi kalau kita terus mewariskan kemarahan, nanti siapa yang mengakhirinya?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya melihat Ayah sedang duduk di teras, memeriksa motif batik baru sambil mengomel karena salah satu garisnya tidak simetris.
Aku tertawa kecil.
Rumah kami tidak besar.
Tidak bernilai miliaran.
Tidak dibuat untuk dipamerkan lewat video.
Namun setiap pintunya bisa dibuka dari dalam.
Dan setelah semua yang terjadi, aku akhirnya memahami satu hal.
Rumah bukan tempat yang dibangun dari uang paling banyak.
Rumah adalah tempat di mana tidak ada seorang pun yang harus takut dikunci, dibungkam, atau kehilangan dirinya sendiri demi bisa tinggal di dalamnya.
