KELUARGANYA MENAWARIKANKU RUMAH SENILAI RP12 MILIAR UNTUK MENIKAHI PRIA “LUMPUH” ITU, LALU AKU MENEMUKAN ANGKA-ANGKA ANEH DI BEKAS LUKANYA.

Perawat itu masih berdiri di ambang pintu ketika Bagas mengatakan kalimat yang membuat tengkukku terasa dingin.

“Itu bukan obat. Itu yang membuatku tidak bisa berdiri.”

Aku menatap vial kecil di dalam kotak pendingin. Cairannya bening, nyaris tak berbeda dari obat suntik biasa. Perawat bernama Siska itu tersenyum kaku.

“Pak Bagas sedang bingung karena efek obat penenang. Bu Miranti sudah memberi instruksi.”

Tanganku langsung menahan pintu.

“Kalau begitu tunjukkan resep dokternya.”

Senyumnya menghilang.

“Resepnya dipegang keluarga.”

“Nama obatnya?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengambil ponsel dan mengarahkannya ke vial.

“Aku hanya perlu memotret labelnya.”

Siska spontan menutup kotak pendingin.

Gerakannya terlalu cepat untuk seseorang yang tidak menyembunyikan apa pun.

“Tidak perlu, Bu. Saya kembali besok setelah bicara dengan Bu Miranti.”

Dia berbalik dan pergi.

Aku mengunci pintu, lalu memasang rantai pengaman. Ketika kembali ke kamar mandi, Bagas masih duduk di lantai. Keringat membasahi dahinya.

“Apa sebenarnya yang terjadi?”

Bagas menatapku lama.

“Kalau aku cerita, kamu akan menyesal menikah denganku.”

“Aku sudah menikah dengan laki-laki yang keluarganya membayar utangku enam ratus delapan puluh juta dan menjanjikan rumah dua belas miliar. Standar penyesalanku sudah cukup tinggi.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya bergerak seperti hendak tersenyum.

Lalu wajahnya kembali serius.

“Tolong bantu aku ke tempat tidur.”

Saat membantunya berdiri, aku kembali merasakan sesuatu yang aneh. Kakinya memang lemah dan bergetar, tetapi bukan seperti kaki yang sama sekali tidak berfungsi. Bagas mampu menahan sebagian berat tubuhnya selama beberapa detik.

“Kamu bisa berdiri.”

“Dulu aku bisa berlari sepuluh kilometer.”

“Apa yang terjadi?”

Dia menatap bekas luka di pahanya.

“Tujuh belas April.”

Aku teringat angka yang kulihat di dekat lututnya.

17-04.

“Itu bukan tanggal kecelakaan?”

“Bukan.”

Bagas menarik napas panjang.

“Itu tanggal pertama mereka menyuntikku.”

Dua tahun sebelumnya, Bagas bekerja sebagai direktur operasional perusahaan keluarganya, Mahardika Medika, distributor alat kesehatan yang memiliki jaringan gudang di beberapa kota besar. Ayahnya meninggal mendadak akibat serangan jantung, membuat Bu Miranti mengambil alih posisi komisaris utama.

Bagas mulai menemukan kejanggalan.

Ada pembayaran ke perusahaan-perusahaan kecil yang alamatnya tidak jelas. Ada pembelian alat kesehatan dengan harga tiga sampai empat kali lipat dari nilai pasar. Yang paling mencurigakan, beberapa transaksi menggunakan nomor proyek yang sama berulang kali.

“Aku kira Rendy yang bermain,” katanya.

“Adikmu?”

Bagas mengangguk.

“Aku mulai mengumpulkan dokumen. Tiga hari sebelum rapat direksi, mobilku kecelakaan di Jalan Bypass Ngurah Rai.”

Menurut berita yang beredar saat itu, Bagas mengalami cedera tulang belakang dan kehilangan kemampuan berjalan.

“Tapi kamu tidak lumpuh karena kecelakaan?”

“Cedera punggungku tidak separah yang mereka katakan.”

Setelah operasi, Bagas sebenarnya masih bisa menggerakkan kedua kaki. Namun selama masa rehabilitasi, dokter pribadi keluarga mulai memberinya suntikan rutin.

Setiap kali disuntik, tubuhnya terasa semakin berat. Ototnya melemah. Tangannya gemetar. Penglihatannya kadang kabur.

Ketika Bagas menolak, Bu Miranti mengatakan semua itu bagian dari terapi saraf.

“Sampai suatu malam aku mendengar dokter dan ibuku berbicara.”

Bagas berhenti.

“Apa yang mereka katakan?”

“Kalau dosisnya harus dijaga supaya aku tetap terlihat lumpuh.”

Aku merasa udara kamar mendadak terlalu tipis.

“Kenapa ibumu melakukan itu?”

“Karena selama aku dianggap tidak kompeten secara medis, hak suaraku dalam perusahaan diwakili wali.”

“Ibumu.”

Bagas mengangguk.

Aku langsung memahami alasan pernikahan kami.

“Lalu kenapa mereka memaksamu menikah?”

“Itulah yang belum kupahami.”

Pagi berikutnya, Bu Miranti datang membawa sarapan seolah tidak terjadi apa-apa.

Dia mengenakan blus putih dan kacamata hitam besar. Siska berjalan di belakangnya.

“Bagaimana malam pertama kalian?”

Aku memaksakan senyum.

“Bagas tidur nyenyak.”

Tatapan Bu Miranti beralih kepada putranya.

“Obatnya?”

“Saya sudah berikan,” jawabku.

Bagas menatapku sekilas.

Bu Miranti tersenyum puas.

“Bagus. Kamu ternyata lebih mudah diajak bekerja sama daripada yang saya kira.”

Sebelum pergi, dia menyentuh lenganku.

“Dua tahun itu tidak lama. Jangan membuat keadaan menjadi rumit dan rumah ini benar-benar akan menjadi milikmu.”

Begitu mobilnya keluar dari halaman, aku menunjukkan vial kosong yang semalam kutemukan di tempat sampah kamar Bagas. Labelnya masih utuh.

Aku membawanya ke seorang teman lama bernama Ratih yang bekerja sebagai apoteker di Denpasar.

Sore harinya Ratih menelepon.

“Kamu dapat ini dari mana?”

“Kenapa?”

“Ini obat pelemas otot dengan efek yang sangat kuat jika diberikan terus-menerus. Tapi ada sesuatu yang lebih aneh.”

“Apa?”

“Konsentrasinya sudah dimodifikasi. Ini bukan sediaan standar yang seharusnya digunakan di rumah.”

Aku menutup telepon dengan tangan dingin.

Malam itu aku dan Bagas membuat kesepakatan.

Aku akan berpura-pura tetap memberikan suntikan. Sementara Bagas perlahan menjalani latihan otot sederhana setiap malam.

Hari pertama dia hanya mampu berdiri empat detik.

Hari ketujuh, sebelas detik.

Dua minggu kemudian, dia bisa berjalan tiga langkah sambil berpegangan pada meja.

Setiap kali jatuh, dia mengumpat.

Setiap kali berhasil berdiri lagi, aku tertawa.

Entah kapan hubungan yang awalnya hanya transaksi mulai berubah.

Aku mulai mengenal Bagas yang sebenarnya.

Dia keras kepala, sinis, dan sangat buruk dalam mengucapkan terima kasih. Tetapi diam-diam dia memesan bahan makanan untuk dapur kateringku ketika tahu pegawaiku kesulitan mendapatkan pemasok murah. Dia bahkan mengingat nama ibuku setelah hanya sekali bertemu.

Suatu malam setelah latihan, Bagas duduk di lantai sambil terengah-engah.

“Kalau semua ini selesai, kamu bebas pergi.”

Aku menyerahkan handuk kepadanya.

“Rumahnya belum menjadi milikku.”

“Aku akan memberikan rumah lain.”

Aku tertawa kecil.

“Kamu pikir semua masalah bisa diselesaikan dengan properti?”

“Di keluargaku, biasanya begitu.”

Aku hendak menjawab ketika terdengar suara mobil.

Rendy datang tanpa pemberitahuan.

Aku cepat-cepat mendorong kursi roda ke dekat Bagas.

Saat Rendy masuk, kakaknya sudah duduk lemah seperti biasa.

“Aku hanya mau melihat pengantin baru.”

Rendy tersenyum ramah, tetapi matanya memeriksa seluruh ruangan.

Sebelum pulang, dia berhenti di dekatku.

“Hati-hati dengan Kak Bagas.”

“Maksudmu?”

“Dia pandai membuat orang percaya bahwa dirinya korban.”

Kalimat itu terus menggangguku.

Dua hari kemudian aku menemukan sesuatu.

Saat membersihkan lemari kerja Bagas, aku melihat bagian belakang salah satu laci lebih pendek daripada seharusnya. Ketika kutekan, papan tipis itu terbuka.

Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk.

Bagas langsung pucat ketika melihatnya.

“Aku pikir mereka sudah mengambilnya.”

Flashdisk itu berisi ratusan dokumen transaksi Mahardika Medika.

Namun bukan jumlah uangnya yang membuatku terdiam.

Di setiap transaksi mencurigakan terdapat kode empat digit.

Tanggal yang sama dengan angka di kaki Bagas.

Aku membuka dokumen lain.

Lalu dokumen berikutnya.

“Ini bukan tanggal,” kataku.

Bagas mendekati layar.

Kami menemukan file spreadsheet lama milik ayahnya.

Kode 1704 merujuk pada rekening penampung internal yang digunakan untuk memindahkan uang ke empat perusahaan cangkang.

Nilainya mencapai lebih dari Rp190 miliar.

“Jadi seseorang menulis kode rekening itu di tubuhmu?” tanyaku.

Bagas menggeleng perlahan.

“Aku sendiri yang menulisnya.”

Aku menatapnya.

Sebelum kecelakaan, Bagas sadar laptop dan dokumennya mungkin akan disita. Dia menuliskan kode penting dengan tinta medis permanen di dekat bekas luka operasi agar tidak lupa jika akses ke semua datanya diambil.

“Tapi kenapa ada bekas suntikan di sekitar angka itu?”

“Karena setelah mereka melihatnya, suntikan selalu diberikan di tempat yang sama.”

Seolah mereka mencoba merusak kulit dan menghapus petunjuk itu.

Kami memutuskan menyerahkan semua bukti kepada pengacara independen.

Namun keesokan paginya, Bagas menghilang.

Kursi rodanya masih berada di kamar.

Di meja hanya ada ponselku dan secarik kertas.

Jangan percaya Rendy.

Aku langsung menuju rumah Bu Miranti.

Pintu dibuka Rendy.

“Di mana Bagas?”

Dia terlihat terkejut.

“Aku justru mau bertanya kepadamu.”

Aku menunjukkan pesan itu.

Wajah Rendy berubah.

“Masuk.”

Untuk pertama kalinya dia menceritakan sesuatu yang tidak pernah diketahui Bagas.

Rendy memang pernah terlibat dalam transaksi perusahaan. Namun dia melakukannya karena diperintah ibunya. Selama hampir dua tahun dia diam-diam mengumpulkan bukti.

“Kenapa kamu tidak membantu kakakmu?”

“Karena Ibu mengancam akan menghancurkan semua orang yang dekat dengannya.”

Termasuk aku.

Aku akhirnya mengerti alasan Bu Miranti memilihku.

Keluargaku memiliki utang besar. Bisnisku berada di ambang kehancuran. Dalam pandangannya, aku adalah perempuan yang mudah dikendalikan dengan uang.

Tetapi masih ada satu pertanyaan.

“Kenapa Bagas harus menikah?”

Rendy membuka salinan wasiat ayah mereka.

Aku membaca satu klausul dan tubuhku membeku.

Jika Bagas meninggal tanpa pasangan sah, seluruh saham pribadinya akan dialihkan ke yayasan keluarga yang dikendalikan Bu Miranti.

Tetapi jika Bagas meninggal setelah menikah, saham itu menjadi hak istrinya.

Aku menatap Rendy.

“Ini tidak masuk akal. Kalau begitu ibumu justru kehilangan kendali.”

“Tidak kalau istrinya sudah menandatangani dokumen lain.”

Dia menunjukkan perjanjian yang kutandatangani sebelum pernikahan.

Di antara puluhan halaman terdapat klausul kuasa pengelolaan aset.

Jika Bagas meninggal sebelum dua tahun pernikahan, aku memberikan kuasa penuh pengelolaan warisan kepada Bu Miranti sebagai imbalan atas rumah Sanur dan pelunasan utang.

Darahku terasa membeku.

Pernikahan ini bukan dibuat untuk mengendalikan Bagas.

Pernikahan ini dibuat untuk mempersiapkan kematiannya.

Kami menemukan Bagas malam itu di vila keluarga di Ubud.

Bu Miranti membawanya ke sana dengan alasan pemeriksaan medis darurat.

Ketika aku dan Rendy tiba bersama pengacara dan dua petugas kepolisian, Siska sedang menyiapkan suntikan.

Bu Miranti berdiri di dekat jendela.

Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak tenang.

“Kamu seharusnya mengambil rumah itu dan diam,” katanya kepadaku.

“Dan membiarkan anak Ibu mati?”

“Jangan berpura-pura suci. Kamu menikahinya karena uang.”

Kalimat itu menghantam tepat pada bagian yang paling menyakitkan karena memang benar.

Aku menikahi Bagas demi menyelamatkan rumah ibu dan dua belas pegawaiku.

Aku menatap laki-laki di kursi roda itu.

“Tadinya iya.”

Lalu aku mengambil dokumen perjanjian dari tas.

“Tapi sekarang saya memilih suami saya.”

Aku merobek salinan perjanjian itu.

Bu Miranti tertawa.

“Merobek kertas tidak mengubah apa pun.”

“Benar.”

Rendy mengangkat ponselnya.

“Tapi rekaman pengakuan Ibu barusan mungkin mengubah banyak hal.”

Wajah Bu Miranti langsung kehilangan warna.

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.

Audit menemukan aliran dana ke sejumlah perusahaan cangkang. Dokter pribadi keluarga dan Siska akhirnya memberikan keterangan mengenai pemberian obat kepada Bagas tanpa indikasi medis yang sah. Perjanjian pernikahanku pun disengketakan karena dibuat berdasarkan manipulasi dan penyembunyian fakta.

Rumah Sanur tidak pernah menjadi milikku.

Anehnya, aku tidak kecewa.

Utang katering ayah ternyata telah dibayar menggunakan dana perusahaan yang kemudian masuk dalam pemeriksaan. Aku menjual sebagian peralatan, memindahkan dapur ke tempat lebih kecil, dan memulai semuanya kembali dari nol bersama dua belas pegawai yang memilih tetap bertahan.

Bagas menjalani rehabilitasi sebenarnya.

Enam bulan kemudian, dia sudah mampu berjalan menggunakan tongkat.

Setahun kemudian, kami kembali ke Ubud.

Bukan ke vila keluarganya.

Kami menginap di penginapan kecil yang menghadap sawah.

Pagi itu Bagas berdiri di teras tanpa tongkat untuk pertama kalinya.

Hanya beberapa detik.

Kemudian dia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh.

Aku menangkap lengannya.

“Jangan sok kuat.”

“Aku sedang mencoba terlihat romantis.”

“Gagal.”

Dia tertawa.

Setelah beberapa saat, Bagas mengeluarkan sebuah amplop.

Aku langsung menggeleng.

“Kalau isinya sertifikat rumah, aku pulang.”

“Bukan.”

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

Permohonan pembatalan perjanjian perkawinan lama dan formulir pencatatan ulang kesepakatan harta yang dibuat secara terbuka.

Tidak ada rumah.

Tidak ada saham.

Tidak ada imbalan.

Bagas menatapku.

“Dulu kamu menikah denganku karena terpaksa. Aku juga menikah denganmu karena terpaksa.”

Dia meletakkan sebuah cincin sederhana di atas meja.

“Jadi aku ingin bertanya sekali lagi, saat kita sama-sama punya pilihan.”

Mataku panas.

“Kalau aku bilang tidak?”

“Aku akan tetap membayar kopi.”

Aku tertawa sambil menghapus air mata.

“Dan kalau aku bilang iya?”

“Kita pulang bersama.”

Aku memandang bekas luka yang masih terlihat di kakinya.

Angka 17-04 sudah hampir hilang.

Dulu aku mengira angka itu adalah petunjuk menuju rahasia keluarga senilai ratusan miliar.

Ternyata angka itu membawaku pada sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Pilihan.

Aku mengambil cincin itu.

“Kalau begitu, kali ini aku bilang iya.”

Bagas tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, dia berdiri di hadapanku bukan sebagai pewaris kaya, bukan sebagai pria lumpuh, bukan sebagai korban keluarganya.

Hanya sebagai seorang laki-laki yang akhirnya memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Begitu juga aku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang