Seorang pemulung masuk ke sebuah bank besar di pusat Jakarta dengan pakaian lusuh dan karung tua di pundaknya. Beberapa orang langsung menjauh. Ada yang menahan tawa, ada yang berbisik, bahkan ada pegawai yang menduga ia hanya ingin menumpang duduk di ruangan berpendingin udara.
Namun dua puluh menit kemudian, ketika teller membuka data rekeningnya, suasana yang semula ramai berubah menjadi sunyi.
Angka di layar komputer itu terlalu besar untuk dianggap biasa.
Dan ketika identitas sebenarnya Pak Darma akhirnya terungkap, orang-orang yang tadi meremehkannya hanya mampu menundukkan kepala.
Pagi itu, panas Jakarta sudah terasa menyengat sejak matahari baru naik.
Di antara gedung-gedung tinggi kawasan pusat bisnis, Pak Darma berjalan perlahan sambil membawa karung bekas di pundaknya. Usianya lima puluh delapan tahun. Rambutnya sudah banyak memutih, kulit wajahnya gelap terbakar matahari, dan telapak tangannya kasar seperti milik seseorang yang telah bekerja keras sepanjang hidup.
Kemeja yang dikenakannya sudah pudar. Ada jahitan kecil di bagian siku. Celananya memiliki tambalan di lutut, sedangkan sandal karetnya terlihat sangat tua.
Dari penampilannya, siapa pun akan dengan mudah mengira ia seorang pemulung.
Dan memang, hampir setiap pagi Pak Darma terlihat mendorong gerobak kecil, mengumpulkan botol plastik, kardus, kaleng, dan barang bekas di beberapa kawasan Jakarta.
Ketika ia memasuki sebuah bank besar, pintu otomatis terbuka dan udara dingin langsung menyambutnya.
Beberapa nasabah menoleh.
Seorang perempuan yang sedang duduk dekat pintu refleks menarik tasnya lebih dekat ke tubuh.
Petugas keamanan bernama Anton memandang Pak Darma dari kepala sampai kaki.
“Bapak ada keperluan apa?” tanyanya.
“Saya mau menabung,” jawab Pak Darma ramah.
Anton mengernyit.
“Sudah punya rekening di sini?”
“Sudah.”
Anton tampak tidak yakin, tetapi tetap menunjuk mesin antrean.
“Ambil nomor dulu, Pak.”
Pak Darma mengangguk.
Saat berjalan menuju mesin antrean, ia mendengar dua pegawai muda berbicara pelan di balik meja pelayanan.
“Mungkin salah masuk.”
Temannya terkekeh.
“Atau mau numpang dingin. Di luar panas banget.”
Pak Darma jelas mendengarnya.
Namun ia tidak menoleh.
Ia mengambil nomor antrean, lalu duduk di kursi paling belakang. Karung tuanya diletakkan di samping kaki, sementara sebuah tas cokelat yang sejak tadi dibawanya ia taruh di pangkuan.
Dua puluh menit kemudian, nomornya muncul di layar.
Pak Darma berdiri dan menghampiri teller bernama Rani.
“Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa dibantu?”
“Saya ingin melakukan setoran.”
Rani melihat karung di samping Pak Darma, lalu menatap pakaiannya.
“Bapak sudah punya rekening?”
“Sudah cukup lama.”
“Boleh kartu atau nomor rekeningnya?”
Pak Darma mengangguk, tetapi sebelum mengeluarkan kartu, ia meletakkan tas cokelat di meja dan membuka ritsletingnya.
Rani langsung terdiam.
Di dalamnya terdapat beberapa bundel uang rupiah yang tersusun rapi.
Bukan dua atau tiga juta.
Setelah dihitung sekilas, jumlahnya hampir seratus lima puluh juta rupiah.
Rani terkejut.
“Semua ini mau disetor, Pak?”
“Iya.”
“Kalau boleh tahu, uangnya dari mana?”
Nada Rani terdengar lebih berhati-hati sekarang.
Pak Darma tidak marah.
“Dari hasil kerja.”
Rani sempat melirik karung tua di sampingnya.
Pak Darma tersenyum tipis.
“Barang bekas juga bisa bernilai kalau tahu cara mengelolanya, Mbak.”
Rani menerima kartu rekening yang dikeluarkan Pak Darma dari dompet tuanya.
Ia mengetik nomor rekening.
Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.
Matanya membesar.
Ia menatap layar, lalu melihat kartu di tangannya.
Setelah itu ia mengulangi prosesnya.
Hasilnya tetap sama.
Saldo rekening Pak Darma tercatat lebih dari seratus delapan puluh tujuh miliar rupiah.
Rani merasa tenggorokannya mendadak kering.
Ia bahkan sempat berpikir ada kesalahan sistem.
“Pak, mohon tunggu sebentar.”
Pak Darma mengangguk tenang.
Rani segera menemui kepala cabang.
Beberapa menit kemudian Bima keluar dari ruangannya.
“Yang mana nasabahnya?”
Rani menunjuk Pak Darma.
Bima sempat ragu.
Namun setelah melihat data di layar, ekspresinya langsung berubah.
Ia memeriksa nama lengkap.
Darma Santoso.
Tanggal lahir.
Nomor identitas.
Seluruhnya cocok.
Kemudian ia melihat kategori nasabah.
Priority Legacy.
Bima langsung berdiri lebih tegak.
“Mohon maaf, Pak. Apakah benar Bapak Darma Santoso?”
“Benar.”
“Bapak pemilik rekening ini?”
Pak Darma tersenyum.

“Kalau nama dan KTP-nya cocok, seharusnya begitu.”
Beberapa pegawai mulai mendekat.
Nasabah yang tadi sibuk dengan urusan masing-masing ikut memperhatikan.
Bima terlihat seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.
Nama Darma Santoso terasa familiar.
Ia membuka data hubungan nasabah, kemudian meminta staf mencari arsip lama.
Tak sampai sepuluh menit, seorang pegawai membawa sebuah map tebal dari ruang penyimpanan dokumen.
Bima membuka halaman demi halaman.
Lalu tangannya berhenti.
Wajahnya seketika pucat.
Pada halaman itu tertulis sebuah nama perusahaan.
PT Santoso Daur Mandiri.
Di bawahnya terdapat nama pendiri.
Darma Santoso.
Bima menatap Pak Darma.
“Bapak pendiri Santoso Daur Mandiri?”
Ruangan mendadak senyap.
Pak Darma mengangguk.
“Dulu.”
Salah satu pegawai menutup mulut karena terkejut.
Santoso Daur Mandiri bukan perusahaan kecil.
Perusahaan itu pernah menjadi salah satu perusahaan pengolahan limbah dan daur ulang terbesar di Jabodetabek, dengan kontrak pengelolaan sampah dari pabrik, mal, hotel, dan kawasan industri.
Belasan tahun lalu perusahaan itu dijual kepada sebuah grup investasi.
Nilai transaksinya sempat diberitakan media bisnis.
Bima masih belum percaya.
“Kalau Bapak benar pendirinya, kenapa sekarang…”
Ia menghentikan kalimatnya.
Tatapannya tanpa sadar jatuh pada karung tua di samping Pak Darma.
Pak Darma memahami maksudnya.
“Kenapa sekarang saya memulung?”
Bima tampak malu.
“Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud…”
“Tidak apa-apa.”
Pak Darma menarik napas pelan.
“Memang banyak orang menganggap memulung berarti tidak punya apa-apa.”
Ia melihat sekeliling.
Semua orang diam.
Pak Darma kemudian menceritakan sesuatu yang tidak pernah diketahui banyak orang.
Tiga puluh lima tahun sebelumnya, ia datang ke Jakarta hanya dengan uang dua puluh ribu rupiah.
Ia tidur di emperan toko.
Beberapa bulan pertama, pekerjaan yang paling mudah didapat adalah mengumpulkan kardus dan botol bekas.
“Waktu itu saya benar-benar pemulung,” katanya.
Setiap hari ia berjalan belasan kilometer.
Kadang ia hanya makan sekali sehari.
Namun Pak Darma memiliki kebiasaan aneh.
Ia selalu memisahkan barang bekas berdasarkan jenis.
Plastik bening.
Plastik keras.
Aluminium.
Kardus.
Tembaga.
Ia mencatat harga jual setiap jenis barang di sebuah buku kecil.
Sedikit demi sedikit, ia memahami cara kerja bisnis barang bekas.
Dua tahun kemudian ia memiliki gerobak sendiri.
Lima tahun kemudian ia menyewa gudang kecil.
Sepuluh tahun kemudian ia mendirikan perusahaan daur ulang.
Perusahaannya terus berkembang.
Ia menikah, membeli rumah, dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Reno.
Saat bisnis sedang berada di puncak, Pak Darma mulai jarang turun ke lapangan.
Ia duduk di ruang ber-AC, menghadiri rapat, dan menggunakan mobil mewah.
Hidupnya berubah sepenuhnya.
Sampai suatu malam terjadi kecelakaan.
Istrinya meninggal setelah mobil yang ditumpanginya ditabrak pengemudi mabuk.
Sejak hari itu Pak Darma berubah.
“Saya baru sadar saya punya banyak uang, tapi tidak punya waktu untuk orang yang paling penting.”
Beberapa tahun kemudian, Reno melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Setelah lulus, ia memilih menetap di sana.
Pak Darma akhirnya menjual sebagian besar saham perusahaannya.
Namun ia tidak berhenti bekerja.
Ia kembali melakukan sesuatu yang membuat banyak orang menganggapnya aneh.
Ia kembali memulung.
Bukan karena membutuhkan uang.
Melainkan karena ingin melihat sendiri kehidupan orang-orang yang dulu pernah menjadi bagian dari dunianya.
Setiap pagi ia mengenakan pakaian sederhana, mengambil karung, lalu berjalan di kawasan yang berbeda.
Barang-barang yang dikumpulkannya dijual.
Tetapi seluruh hasil penjualan tidak pernah digunakan untuk kebutuhan pribadi.
Uang itu dikumpulkan dalam rekening khusus.
“Rekening yang tadi Mbak Rani buka itu bukan rekening utama saya,” ujar Pak Darma.
Rani membeku.
Bima mengernyit.
“Bukan?”
“Bukan.”
Pak Darma menunjuk saldo di layar.
“Itu rekening yayasan.”
Bima kembali membaca data.
Baru saat itulah ia melihat nama lengkap akun tersebut.
Yayasan Langkah Kedua.
Pak Darma menjelaskan bahwa yayasan itu selama bertahun-tahun membiayai sekolah anak pemulung, memberikan modal usaha kepada pengepul kecil, serta menyediakan rumah singgah bagi lansia yang hidup di jalan.
Uang seratus lima puluh juta yang dibawanya pagi itu merupakan hasil penjualan barang bekas dari beberapa kelompok binaan selama beberapa bulan.
“Saldo yang besar itu bukan untuk saya,” katanya. “Itu untuk mereka.”
Ruangan semakin sunyi.
Dua pegawai yang sebelumnya menertawakannya terlihat sangat tidak nyaman.
Salah satunya bernama Dinda.
Wajahnya memerah.
Setelah beberapa saat, ia memberanikan diri mendekat.
“Pak…”
Pak Darma menoleh.
“Saya minta maaf.”
Semua orang memandangnya.
Dinda menundukkan kepala.
“Tadi saya yang bilang Bapak mungkin cuma mau numpang berteduh.”
Temannya ikut mendekat.
“Saya juga, Pak. Maaf.”
Pak Darma menatap mereka beberapa detik.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
“Kenapa minta maaf?”
Dinda terlihat bingung.
“Karena kami meremehkan Bapak.”
Pak Darma tersenyum.
“Kalau ternyata saldo saya cuma lima puluh ribu rupiah, apakah kalian tetap akan merasa bersalah?”
Pertanyaan itu membuat keduanya terdiam.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Pak Darma melanjutkan.
“Jangan hormati saya karena uang saya banyak.”
Suaranya tenang, tetapi terdengar jelas di seluruh ruangan.
“Hormati orang lain karena mereka manusia.”
Anton, petugas keamanan yang tadi memandangnya dengan curiga, perlahan menundukkan kepala.
Pak Darma lalu menoleh kepada Bima.
“Saya boleh lanjut setor?”
Bima seperti baru tersadar.
“Tentu, Pak. Bahkan kami bisa melayani Bapak di ruang khusus.”
Pak Darma menggeleng.
“Di sini saja.”
“Tapi, Pak…”
“Saya sudah ambil nomor antrean. Saya ingin dilayani seperti nasabah lain.”
Bima akhirnya mengangguk.
Rani mulai memproses setoran.
Namun sebelum transaksi selesai, pintu bank tiba-tiba terbuka.
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun masuk dengan langkah cepat.
Ia mengenakan kemeja sederhana dan membawa map.
Begitu melihat Pak Darma, ia langsung menghampirinya.
“Bapak!”
Pak Darma tersenyum.
“Kamu sudah datang, Maya.”
Perempuan itu ternyata direktur Yayasan Langkah Kedua.
Maya menyerahkan beberapa dokumen.
“Semua sudah selesai. Tiga anak yang kemarin kita bahas sudah diterima di universitas.”
Mata Pak Darma berbinar.
“Yang anaknya Pak Joko juga?”
“Diterima di teknik lingkungan.”
Pak Darma terdiam sesaat.
Kemudian ia tersenyum lebar.
“Bagus.”
Maya kemudian membuka map.
“Dan ini surat dari mereka.”
Pak Darma menerima tiga lembar surat.
Tangannya yang kasar sedikit bergetar ketika membacanya.
Salah satu surat berasal dari seorang gadis bernama Lestari.
Ayahnya bekerja sebagai pemulung di kawasan Cilincing.
Lestari menulis bahwa ia akhirnya diterima di universitas negeri dan bercita-cita menjadi insinyur pengolahan limbah.
Pak Darma membaca kalimat terakhir dengan perlahan.
Suatu hari nanti saya ingin membuat sistem pengelolaan sampah yang membuat pekerjaan seperti Ayah tidak lagi dipandang rendah.
Pak Darma terdiam.
Matanya berkaca-kaca.
Rani yang berdiri di depannya ikut menahan air mata.
Dinda mengusap wajah.
Beberapa nasabah bahkan mulai saling berpandangan dengan ekspresi berbeda.
Namun kejutan terbesar justru belum terjadi.
Bima tiba-tiba memandang nama yayasan di dokumen.
“Pak, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu.”
“Yayasan Langkah Kedua… apakah pernah memberikan beasiswa sekolah sekitar dua puluh tahun lalu?”
Pak Darma mengangguk.
“Sudah sejak lama.”
Wajah Bima berubah.
Ia kembali membuka dokumen, lalu tertawa kecil seperti tidak percaya.
“Nama penerimanya dulu dicatat?”
“Seharusnya.”
Bima mengambil ponselnya, membuka sebuah foto lama, lalu menunjukkannya kepada Pak Darma.
Foto itu memperlihatkan seorang anak laki-laki berseragam SMP berdiri bersama ibunya di depan sebuah rumah kontrakan sederhana.
“Anak ini saya.”
Pak Darma menatap foto itu.
Bima melanjutkan dengan suara bergetar.
“Ayah saya meninggal waktu saya kelas enam. Ibu saya jual gorengan. Saya hampir berhenti sekolah karena tidak ada biaya.”
Ia menelan ludah.
“Lalu ada yayasan yang membayar sekolah saya sampai SMA.”
Ruangan kembali sunyi.
“Nama yayasannya Langkah Kedua.”
Pak Darma terdiam cukup lama.
Bima mulai menangis.
“Saya tidak pernah tahu siapa pendirinya.”
Ia mengusap matanya.
“Kalau bukan karena beasiswa itu, saya mungkin tidak pernah kuliah. Saya tidak akan bekerja di bank ini.”
Pak Darma tersenyum.
“Berarti uangnya tidak sia-sia.”
Bima menunduk dalam-dalam.
“Justru tadi saya hampir ikut menilai Bapak dari penampilan.”
Pak Darma menepuk bahunya.
“Itulah alasan saya kadang datang seperti ini.”
Semua orang memandangnya.
“Saya ingin melihat apakah dunia sudah berubah.”
Ia tersenyum getir.
“Ternyata belum banyak.”
Tidak ada yang mampu menjawab.
Setelah transaksi selesai, Pak Darma memasukkan kartu rekening ke dompetnya.
Ia mengangkat kembali karung tua dari lantai.
Bima segera berkata, “Pak, biar kami bawakan.”
Pak Darma tertawa kecil.
“Tidak usah. Saya masih kuat.”
Ketika ia berjalan menuju pintu keluar, orang-orang yang sebelumnya menjauh kini justru memberi jalan dengan penuh hormat.
Namun tepat sebelum meninggalkan bank, Pak Darma berhenti.
Ia menoleh kepada seluruh pegawai.
“Besok mungkin ada orang lain datang ke sini dengan sandal putus, baju bau matahari, dan uang hanya seratus ribu rupiah.”
Ia memandang Dinda, Rani, Anton, lalu Bima.
“Perlakukan dia sama seperti kalian memperlakukan orang yang punya seratus miliar.”
Setelah mengatakan itu, Pak Darma keluar.
Pintu otomatis menutup di belakangnya.
Dari balik kaca, mereka melihat pria itu berjalan di bawah panas matahari Jakarta sambil membawa karung tua di pundaknya.
Tak ada mobil mewah yang menunggu.
Tak ada sopir.
Pak Darma berjalan menuju gang kecil di samping gedung, tempat sebuah gerobak barang bekas terparkir.
Bima berdiri lama di dekat pintu.
Kemudian ia menoleh kepada para pegawainya.
“Hari ini kita belajar sesuatu.”
Sejak hari itu, cabang bank tersebut membuat kebijakan baru.
Tak ada pegawai yang boleh menilai kebutuhan pelayanan berdasarkan penampilan nasabah.
Namun bagi Rani, Dinda, Anton, dan Bima, perubahan terbesar bukanlah aturan tertulis.
Melainkan cara mereka memandang manusia.
Beberapa bulan kemudian, sebuah foto dipasang di ruang istirahat pegawai.
Bukan foto Pak Darma mengenakan jas.
Bukan pula foto saat ia menjadi pengusaha sukses.
Foto itu memperlihatkan seorang lelaki tua dengan kemeja kusam sedang memungut botol plastik di pinggir jalan.
Di bawah foto hanya ada satu kalimat.
Harga pakaian bisa menunjukkan kemampuan seseorang membeli sesuatu.
Tetapi tidak pernah mampu menunjukkan nilai manusia yang mengenakannya.
