Suami Memaksa Istrinya yang Sedang Sakit Parah Menandatangani Surat Cerai di Depan Selingkuhannya — Namun Kedatangan Sang Ibu Mertua Mengubah Segalanya…

Bu Ratna tidak langsung memarahi siapa pun.

Ia hanya menatap surat perceraian di tangannya selama beberapa detik, lalu melipatnya perlahan.

Setelah itu, tanpa ragu, ia merobek dokumen tersebut menjadi dua bagian.

Sekali.

Dua kali.

Lalu berkali-kali sampai lembaran yang tadi hendak mengakhiri rumah tangga Sari berubah menjadi potongan-potongan kecil di tangannya.

Ardi membelalak.

“Ibu!”

Bu Ratna menjatuhkan potongan kertas itu ke meja.

“Kalau kamu ingin menghancurkan hidupmu sendiri, silakan,” katanya dengan suara rendah. “Tapi jangan pernah memaksa perempuan yang sedang berjuang hidup untuk menandatangani apa pun.”

Rina tampak pucat.

Ardi maju selangkah.

“Itu urusanku dengan Sari, Bu.”

Bu Ratna menoleh cepat.

“Urusanmu?”

Tatapannya menusuk.

“Perempuan yang kamu nikahi di depan saya, yang merawatmu ketika usaha pertamamu bangkrut, yang menjual perhiasannya supaya kamu bisa bangkit, sekarang kamu sebut sekadar urusanmu?”

Ardi terdiam.

Sari memejamkan mata.

Kenangan lama tiba-tiba memenuhi pikirannya.

Delapan tahun lalu, sebelum Ardi menjadi pengusaha properti yang cukup sukses di Jakarta, lelaki itu hanyalah karyawan biasa yang mencoba membuka usaha kecil bersama temannya.

Usahanya gagal.

Utang menumpuk.

Bahkan mobil mereka hampir ditarik leasing.

Saat itu Sari yang menyerahkan gelang emas peninggalan ibunya.

“Jual saja,” katanya waktu itu. “Kalau kita mulai lagi dari nol, ya kita mulai sama-sama.”

Ardi menangis ketika menerima gelang tersebut.

Ia memeluk Sari dan berjanji tidak akan pernah melupakan pengorbanannya.

Namun rupanya manusia memang mudah lupa ketika hidup mulai terasa nyaman.

Bu Ratna menatap Rina.

“Dan kamu.”

Rina langsung menundukkan kepala.

“Saya tidak tahu apa yang Ardi janjikan kepadamu. Rumah? Mobil? Pernikahan?”

Rina tidak menjawab.

Bu Ratna tertawa pendek tanpa rasa humor.

“Kamu mungkin berpikir setelah Sari keluar dari kehidupan Ardi, semuanya akan menjadi milik kalian.”

“Bu, jangan salahkan Rina,” potong Ardi.

Bu Ratna mengangkat alis.

“Bagus. Kamu membelanya.”

Ia kemudian membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah map cokelat.

“Kalau begitu, mungkin ini saat yang tepat kamu membaca sesuatu.”

Bu Ratna melempar map tersebut ke atas meja.

Ardi menatapnya bingung.

“Apa ini?”

“Buka.”

Ardi mengambil map itu dengan kesal.

Namun beberapa detik setelah membaca halaman pertama, wajahnya langsung berubah.

Rina mendekat.

“Ada apa?”

Ardi tidak menjawab.

Tangannya mulai gemetar.

Dokumen tersebut berisi salinan kepemilikan saham perusahaan keluarga mereka.

Nama Bu Ratna tercantum sebagai pemilik mayoritas.

Selama ini Ardi memang menjabat sebagai direktur utama dan sering memperkenalkan perusahaan itu sebagai bisnis miliknya.

Tetapi secara hukum, lebih dari separuh kepemilikan masih berada di tangan Bu Ratna.

Ardi menatap ibunya.

“Kenapa Ibu membawa ini?”

“Karena mulai besok kamu bukan lagi direktur utama.”

Rina menahan napas.

Sari membuka mata.

Ardi tertawa kecil karena tidak percaya.

“Ibu bercanda?”

“Saya sudah berbicara dengan komisaris dan pengacara perusahaan.”

“Bu!”

“Selama bertahun-tahun saya membiarkanmu memimpin karena saya percaya kamu sudah dewasa.”

Bu Ratna mendekat.

“Tapi laki-laki yang membawa selingkuhannya ke rumah sakit lalu memaksa istrinya yang sakit menandatangani surat cerai tidak pantas memimpin ratusan orang.”

Wajah Ardi memerah.

“Masalah rumah tangga tidak ada hubungannya dengan perusahaan.”

“Karakter seseorang selalu punya hubungan dengan cara dia memimpin.”

Ardi mengepalkan tangan.

“Ibu tidak bisa melakukan ini.”

“Saya bisa.”

Bu Ratna menjawab tanpa meninggikan suara.

“Dan saya sudah melakukannya.”

Rina perlahan mundur satu langkah.

Ardi menoleh kepadanya.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya hari itu, ketenangan di wajah Rina menghilang.

Bu Ratna melanjutkan.

“Selain itu, rumah di Pondok Indah yang kalian tempati sekarang bukan atas namamu.”

Ardi terdiam.

“Rumah itu milik saya.”

Rina langsung menatap Ardi.

“Mas?”

Ardi tidak berkata apa-apa.

“Mobil yang kamu pakai juga kendaraan perusahaan,” lanjut Bu Ratna. “Kartu perusahaan yang selama ini kamu gunakan akan diblokir malam ini.”

Rina semakin pucat.

Sari memperhatikan semuanya tanpa rasa puas sedikit pun.

Aneh.

Seharusnya ia merasa lega melihat Ardi mulai kehilangan kesombongannya.

Namun yang ada dalam hatinya justru kelelahan.

Ia sudah terlalu lama menderita untuk menikmati kehancuran orang lain.

Ardi menatap ibunya dengan marah.

“Jadi Ibu datang ke sini cuma untuk mempermalukanku?”

Bu Ratna menggeleng.

“Tidak.”

Kemudian ia duduk di sisi ranjang Sari.

Tangannya menggenggam tangan menantunya dengan hati-hati.

“Saya datang untuk meminta maaf.”

Sari terkejut.

“Bu…”

Air mata memenuhi mata Bu Ratna.

“Saya seharusnya datang lebih cepat.”

Suaranya mulai bergetar.

“Saya tahu Ardi berubah sejak beberapa bulan terakhir. Saya dengar ada perempuan lain. Tapi saya pikir mereka hanya bertengkar seperti pasangan biasa.”

Ia menatap Sari penuh penyesalan.

“Saya tidak pernah membayangkan anak yang saya besarkan bisa setega ini.”

Sari menunduk.

Bu Ratna menggenggam tangannya lebih erat.

“Kamu tidak perlu takut soal biaya pengobatan.”

Ardi mengangkat kepala.

Bu Ratna berkata tegas, “Semua biaya rumah sakit akan saya tanggung. Sampai kamu sembuh.”

“Bu, tidak perlu…”

“Perlu.”

Bu Ratna tersenyum tipis.

“Dulu ketika Ardi jatuh, kamu yang menjaga keluarga ini. Sekarang ketika kamu sedang jatuh, kami yang seharusnya menjagamu.”

Sari tidak mampu menahan tangis.

Selama berbulan-bulan ia merasa sendirian.

Setelah didiagnosis mengidap penyakit serius, hidupnya berubah drastis.

Ia berhenti bekerja.

Tubuhnya melemah.

Rambutnya mulai rontok.

Setiap minggu ada pemeriksaan baru, obat baru, rasa sakit baru.

Namun yang paling menyakitkan ternyata bukan penyakit itu.

Melainkan mengetahui bahwa Ardi mulai pulang semakin malam, sering menghindari percakapan, lalu akhirnya berhenti menemaninya berobat.

Beberapa minggu kemudian, Sari menemukan pesan antara Ardi dan Rina.

Saat itulah ia mengetahui hubungan mereka.

Ardi sempat meminta maaf.

Ia berjanji menghentikan semuanya.

Namun janji itu hanya bertahan beberapa hari.

Sari tetap bertahan karena Alya.

Ia tidak ingin putrinya kehilangan keluarga.

Sekarang ia baru menyadari bahwa keluarga bukan sekadar tinggal di rumah yang sama.

Keluarga adalah orang-orang yang memilih tetap tinggal ketika keadaan menjadi sulit.

Ardi tiba-tiba mengambil dokumen perusahaan di meja.

“Saya tidak menerima keputusan ini.”

Bu Ratna menatapnya.

“Kamu tidak perlu menerima.”

“Aku bisa menggugat.”

“Silakan.”

Bu Ratna tidak terlihat takut.

“Pengacara perusahaan sudah menyiapkan semuanya.”

Rina menarik lengan Ardi perlahan.

“Mas, sebaiknya kita pergi dulu.”

Ardi menoleh tajam.

Tapi Rina sudah terlihat tidak nyaman.

“Kita bicara di luar saja.”

Bu Ratna tersenyum tipis.

“Kenapa terburu-buru?”

Rina berhenti.

Bu Ratna menatapnya.

“Bukankah tadi kamu mengatakan Ardi juga berhak bahagia?”

Rina tidak menjawab.

“Sekarang kebahagiaan itu tidak lagi datang dengan jabatan, rumah mewah, dan fasilitas perusahaan. Saya harap perasaanmu tetap sama.”

Pipi Rina memerah.

Ardi membentak, “Cukup, Bu!”

Suara itu membuat Sari sedikit terkejut.

Bu Ratna bangkit.

“Jangan membentak saya di kamar orang sakit.”

Ardi mengepalkan tangan, lalu berjalan keluar.

Rina segera mengikutinya.

Namun sebelum keluar, perempuan itu sempat menoleh ke arah Sari.

Tatapannya tidak lagi penuh kemenangan.

Yang tersisa hanyalah kegelisahan.

Pintu tertutup.

Kamar kembali sunyi.

Sari mengembuskan napas panjang.

Tubuhnya gemetar.

Bu Ratna segera memanggil perawat karena melihat wajah Sari semakin pucat.

Setelah kondisi Sari stabil, Bu Ratna duduk kembali.

“Alya ada sama saya,” katanya.

Sari langsung menoleh.

“Alya?”

“Iya. Saya tidak membawanya ke sini karena saya takut dia melihat keributan.”

Air mata Sari kembali jatuh.

“Dia menanyakan kamu terus.”

Bu Ratna mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto Alya sedang menggambar di meja makan.

Di kertas tersebut ada gambar tiga orang perempuan bergandengan tangan.

Sari mengenali dirinya, Alya, dan Bu Ratna.

Di atas gambar itu terdapat tulisan kecil yang dibuat dengan pensil warna.

Mama harus sembuh.

Sari menutup mulutnya.

Tangisnya pecah.

Bu Ratna memeluknya perlahan.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Sari tidur tanpa memikirkan apakah Ardi akan datang atau tidak.

Hari-hari berikutnya membawa banyak perubahan.

Ardi benar-benar diberhentikan dari jabatan direktur utama.

Ia masih memiliki sebagian kecil saham pribadi, tetapi tidak lagi mengendalikan perusahaan.

Rumah yang selama ini ditempatinya harus dikosongkan karena Bu Ratna memutuskan menjualnya.

Mobil perusahaan dikembalikan.

Semua fasilitas dihentikan.

Tiga minggu kemudian, kabar lain datang.

Rina meninggalkan Ardi.

Sari mengetahui hal itu bukan dari Ardi, melainkan dari Bu Ratna.

Rina rupanya baru mengetahui bahwa sebagian besar kemewahan yang selama ini dipamerkan Ardi bukan benar-benar miliknya.

Setelah kehilangan jabatan dan fasilitas, hubungan mereka mulai dipenuhi pertengkaran.

Pada akhirnya Rina pergi.

Bu Ratna menceritakan semuanya dengan nada datar.

Namun Sari tidak tertawa.

Ia hanya berkata, “Semoga mereka masing-masing bisa belajar sesuatu.”

Bu Ratna menatapnya cukup lama.

“Kamu masih terlalu baik.”

Sari menggeleng.

“Bukan baik, Bu. Saya cuma capek menyimpan marah.”

Beberapa bulan berlalu.

Pengobatan Sari menunjukkan perkembangan positif.

Dokter mengatakan respons tubuhnya lebih baik dari perkiraan awal.

Ia masih harus menjalani terapi lanjutan, tetapi kondisi fisiknya perlahan membaik.

Rambutnya mulai tumbuh kembali.

Ia sudah bisa berjalan lebih lama.

Bahkan beberapa kali ia mengantar Alya ke sekolah.

Pagi pertama ketika Sari kembali berdiri di depan gerbang sekolah bersama putrinya, Alya memeluk pinggangnya erat.

“Mama jangan sakit lagi.”

Sari membungkuk dan mencium keningnya.

“Mama akan berusaha.”

Suatu sore, hampir delapan bulan setelah kejadian di rumah sakit, Ardi datang ke rumah kecil yang disewa Sari.

Tubuhnya terlihat lebih kurus.

Kemejanya sederhana.

Tidak ada mobil mewah di depan rumah.

Ia datang menggunakan taksi daring.

Sari membukakan pintu.

Mereka berdiri saling menatap.

“Aku boleh bicara?”

Sari mengangguk.

Mereka duduk di ruang tamu.

Ardi melihat foto Alya di dinding.

Lama sekali ia tidak berkata apa-apa.

“Aku dengar kondisi kamu sudah jauh lebih baik.”

“Iya.”

“Syukurlah.”

Sari mengangguk.

Ardi mengusap wajahnya.

“Aku datang bukan untuk minta balik.”

Sari menatapnya.

“Surat cerai sudah saya ajukan sendiri dua bulan lalu,” lanjut Sari.

Ardi tersenyum pahit.

“Aku tahu.”

Hening beberapa detik.

“Aku cuma ingin minta maaf.”

Sari tidak langsung menjawab.

“Aku kehilangan banyak hal setelah kejadian itu,” kata Ardi. “Pekerjaan, rumah, Rina.”

Ia berhenti.

“Tapi ternyata yang paling berat bukan kehilangan itu.”

Matanya memerah.

“Yang paling berat adalah menyadari aku menjadi orang yang dulu paling kubenci.”

Sari menatap lelaki yang pernah dicintainya selama bertahun-tahun.

Ada masa ketika ia mungkin akan luluh mendengar pengakuan itu.

Tetapi Sari yang sekarang berbeda.

“Aku memaafkan kamu,” katanya.

Ardi menatapnya kaget.

“Tapi memaafkan bukan berarti kita harus kembali.”

Ardi menunduk.

“Saya ingin Alya tetap punya ayah. Kamu boleh menemuinya sesuai kesepakatan kita.”

Sari menarik napas.

“Tapi hidup saya tidak lagi menunggu kamu berubah.”

Ardi mengangguk perlahan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah.

Sebelum pergi, Ardi berdiri di depan pintu.

“Sari.”

Sari menoleh.

“Terima kasih karena dulu pernah percaya sama aku.”

Sari tersenyum kecil.

“Semoga suatu hari kamu bisa menjadi orang yang layak dipercaya lagi.”

Ardi pergi.

Sari menutup pintu.

Anehnya, tidak ada rasa hancur.

Tidak ada keinginan mengejarnya.

Yang ada hanya ketenangan.

Setahun kemudian, Sari dinyatakan memasuki fase remisi.

Ia menangis ketika dokter menyampaikan kabar tersebut.

Bu Ratna yang ikut menemaninya langsung memeluk Sari.

Alya yang sudah berusia delapan tahun ikut menangis meski tidak sepenuhnya memahami istilah medis yang diucapkan dokter.

Yang ia tahu hanya satu.

Mamanya akan pulang bersamanya.

Beberapa minggu kemudian, Sari membuka usaha kecil sebagai konsultan desain interior dari rumah.

Keahliannya yang dulu terhenti karena sakit perlahan kembali ia gunakan.

Bu Ratna bahkan menjadi klien pertamanya.

Suatu malam, mereka bertiga makan bersama di rumah Sari.

Alya tiba-tiba bertanya, “Nenek, waktu Mama sakit dulu, kenapa Nenek marah banget sama Papa?”

Bu Ratna dan Sari saling pandang.

Bu Ratna tersenyum.

“Karena kadang orang dewasa juga perlu diingatkan kalau mereka salah.”

Alya mengangguk seperti memahami.

Kemudian ia berkata polos, “Kalau aku salah, Nenek juga marah?”

“Tentu.”

Alya langsung memeluk Sari.

“Kalau begitu aku di sini saja sama Mama.”

Mereka tertawa.

Sari memandang putrinya, kemudian menatap Bu Ratna.

Pada akhirnya, hidupnya memang tidak kembali seperti dulu.

Pernikahannya berakhir.

Rumah tangganya hancur.

Banyak hal yang dahulu ia yakini ternyata tidak bertahan.

Namun anehnya, justru setelah kehilangan semua itu, Sari menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.

Harga dirinya.

Keberaniannya.

Dan orang-orang yang mencintainya bukan karena tubuhnya sehat, bukan karena hidupnya mudah, melainkan karena mereka benar-benar ingin berada di sisinya.

Sari akhirnya memahami bahwa sakit tidak selalu menjadi akhir dari kehidupan.

Kadang-kadang, rasa sakit justru membuka mata seseorang tentang siapa yang pantas dipertahankan dan siapa yang seharusnya dilepaskan.

Dan hari ketika Bu Ratna merobek surat perceraian di kamar rumah sakit itu ternyata bukanlah hari ketika hidup Sari hancur.

Justru hari itulah hidupnya mulai kembali menjadi miliknya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang